Saturday, June 29, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 21 - part 1

0 comments


Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 21 – Part 1
Network : KBS2

Ru Na : “Menarik, bukan? Tragedi berubah jadi komedi.”
Didalam kamar. Ni Na memperhatikan foto seseorang. Kemudian dengan marah, dia melemparkan foto itu hingga bingkainya pecah berantakan. Dan dengan tangan kosong, dia menyentuh pecahan kaca tersebut.
“Lalu, hal yang kamu anggap adalah komedi berubah jadi tragedi.”
Kim Dan mencari kesekeliling taman, tapi Yeon Seo tidak ada. Dia mencoba menghubungin Yeon Seo, tapi tidak diangkat.
“Yeon Seo. Jika kamu terus buta, akan lebih bagus.”
Hujan mulai turun. Melihat itu Kim Dan pun merasa bingung.
“Menerima kornea itu untuk mendapatkan visimu kembali. Keberuntungan itu sebenarnya adalah tragedimu.”
Kang Woo kaget melihat pesan yang diterimanya.
“Jika kamu hidup layaknya boneka cantik, yang menjalanin hidupnya seperti orang mati, kamu tidak harus mati begitu cepat.”
Ikatan Yeon Seo dilepaskan. Kemudian dia didorong jatuh dari atas gedung.
Yeon Seo mengingat perkataan Kim Dan yang mengatakan cinta padanya. Lalu dia mengingat pertanyaan Kim Dan tentang mau kemanakah dia, sungai, laut, hutan, atau ladang. Dan Yeon Seo menjawab bahwa dia ingin melihat semua itu bersama.
“Dan,” panggil Yeon Seo dalam hatinya. Dan kemudian Kim Dan muncul dihadapannya, melihat itu Yeon Seo pun mengulurkan tangannya.
Yeon Seo menatap heran pada sayap Kim Dan.

“Kamu baik- baik saja? Lihat aku, Yeon Seo-ah. Ini aku,” kata Kim Dan dengan lembut dan perhatian.
“Kim Dan,” kata Yeon Seo, bingung.
“Benar, ini aku. Oleh karena itu tenang. Saat ini baik- baik saja.”

Yeon Seo dengan masih bingung, dia bertanya apakah ini adalah benar Kim Dan. Serta apakah benar Kim Dan memiliki saat, dan baru saja terbang. Dan tanpa mengatakan apapun, Kim Dan menganggukan kepalanya.
“Kamu … kamu … sungguh … ini adalah kamu?” tanya Yeon Seo sekali lagi. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh Kim Dan, tapi sebelum dia berhasil, dia kehilangan kesadarannya.

Kang Woo datang tepat disaat itu. Dan melihat kejadian tersebut dengan perasaan lega, karena Kim Dan berhasil menyelamatkan Yeon Seo.

Si Pria hitam ingin melarikan diri, tapi dia merasa sangat kebingungan karena Yeon Seo tidak ditemukan terjatuh sama sekali. Bahkan para petugas yang dipanggil oleh Kang Woo, mereka mengatakan bahwa mereka tidak melihat siapapun yang jatuh.
Di telpon. Kang Woo meminta maaf kepada para petugas, karena hujan mungkin saja dia menjadi salah lihat.

Para petugas pergi meninggalkan lokasi. Dan dengan heran, si Pria hitam memandang ke atas atap dengan perasaan bingung.
Kang Woo membaca kembali pesan yang dikirimkan kepadanya. Lalu dengan marah, dia memukul- mukul setir mobil. Kemudian dia menghubungin seseorang, dan mengajak orang tersebut untuk bertemu.

Kim Dan membaringkan Yeon Seo diatas tempat tidur. Dia memandangin wajah Yeon Seo, dan ingin membelai wajahnya, tapi dia merasa ragu dan tidak jadi melakukannya.
“Maaf, karena terlambat. Kamu harus mengalami ini,” kata Kim Dan, pelan.

Yeon Seo mengeryitkan keningnya, dan mengigau memanggil kedua orang tua nya dengan nada sedih. “Ibu? Ayah? Dimana kalian? Dan,” gumam Yeon Seo dalam tidurnya dengan sedih.
Melihat itu dengan erat, Kim Dan memegang tangan Yeon Seo. Untuk menenangkannya, dan Yeon Seo pun berhenti mengigau.
Didalam café. Ketika mendapatkan telpon dari si Pria hitam, Ru Na tampak senang. Dan dia bertanya, apakah sudah selesai.
Ditaman yang gelap. Si Pria hitam menelpon Ru Na, dan memberitahu tentang Yeon Seo yang telah didorongnya dari atas atap, tapi anehnya Yeon Seo menghilang. Tidak ada tanda orang jatuh, atau jejak orang yang memindahkannya.
“Omong kosong macam apa ini?” tanya Ru Na, bingung .
“Aku juga tidak yakin,” jawab si Pria hitam.
“Kemudian segera lah. Katakan langsung.”
“Tidak, aku akan mengurus ini sebelum kembali,” balas si Pria hitam.
Setelah telpon dimatikan. Ru Na bergumam heran sendiri dan berpikir keras. “Dia menjatuhkannya, tapi tidak ada?”


Kim Dan berbaring disebelah Yeon Seo sambil masih memegang erat tangan Yeon Seo. Dan memang benar Yeon Seo sudah tidak mengigau, tapi dia masih saja mengeryitkan keningnya. Melihat itu, dengan lembut Kim Dan pun mengelus bahu Yeon Seo agar rileks. Lalu dia mencium tangan Yeon Seo.
Kemudian, tiba- tiba saja lampu padam. Dan Kim Dan merasa sangat heran.

Si Pria hitam mematikan saklar listrik, lalu secara perlahan dia berjalan memasuki rumah dan menaiki tangga, menuju ke arah kamar Yeon Seo.
Kim Dan merasakan ada sesuatu yang aneh, jadi dengan sikap waspada dia pun bangun meninggalkan Yeon Seo untuk pergi memeriksa.

Si Pria hitam sampai didepan pintu kamar Yeon Seo. Bersiap untuk membuka.
Kim Dan berdiri didepan pintu. Bersiap untuk membuka juga.

Si Pria hitam dan Kim Dan, mereka berdua sama- sama merasa kan ada sesuatu. Jadi si Pria hitam dengan segera pun bersembunyi. Dan Kim Dan segera membuka pintu kamar, dan hasilnya kosong, tidak ada siapapun didepan pintu.

Kim Dan melihat ke arah Yeon Seo yang masih tertidur, lalu dia menutup pintu kamar. Dan dia pergi untuk menyalakan kembali saklar listrik.

Listrik diseluruh rumah kembali menyala. Dan si Pria hitam memperhatikan hal tersebut dari halaman. Lalu sebuah sms masuk dari Ru Na. Datanglah ke sini sekarang juga.

Kang Woo menemui Ru Na yang berada didalam café. Dan dengan santai, Ru Na menawarkan Kang Woo untuk duduk, lalu dia menanyakan apakah Kang Woo ingin minum.

“Apa ini hari yang special? Kamu tidak memperdulikan adikmu? Kamu terlihat sangat santai. Jika bukan, sesuatu yang istimewa terjadi?” tanya Kang Woo, langsung.
“Gandok- nim. Hari ini, Ni Na sangat bagus, ‘kan? Bayangkan betapa hancur hatinya padahal dia sudah kerahkan semuanya. Itu sebabnya aku minum. Apa aku salah?” tanya Ru Na dengan raut wajah yang di buat sedih.
Kang Woo memperlihatkan pesan yang dikirimkan kepadanya. Dan membaca pesan tersebut, Ru Na berpura- pura bersikap bodoh serta cemas pada Yeon Seo.
“Ini pasti perintah Ny. Choi. Dia selalu membenci Yeon Seo, dan terlepas dari semua suap, Yeon Seo memenangkan audisi. Apa dia memilih untuk menyingkirkannya untuk selamanya?” jelas Kang Woo, menuduh langsung.

Ru Na berpura- pura tersinggung. Dan Kang Woo tidak peduli, karena menurutnya  cuma keluarga Ny. Choi yang akan melakukan sesuatu seperti itu. Mendengar itu, Ru Na tersenyum dengan sinis.

“Apa kamu baru saja tersenyum?” tanya Kang Woo, kaget.
“Gandok-nim. Dunia ini tak sesederhana itu. Kebencian dan pemanis tidak hilang dalam sesaat. Bahkan ada beberapa manusia yang melakukan pembunuhan hanya karena mereka tidak suka mereka dipandang hina,” jelas Ru Na. Sambil memandangi gelas nya yang masih berisikan wine. 
Kemudian dengan sikap biasa, Ru Na menanyakan apakah Yeon Seo masih hidup, atau apakah Yeon Seo terluka parah.

“Kamu ingin tahu apa dia hidup atau tidak? Aku bahkan tidak memberitahumu apa yang terjadi,” kata Kang Woo dengan tajam.
“Kamu menunjukkan kepadaku pesannya. Perasaannya terlalu tertekan, dia ingin mengakhirinya,” balas Ru Na, beralasan.
“Ini peringatan terakhirku. Jangan menyentuhnya lagi,” kata Kang Woo dengan serius. Lalu dia pergi dari sana.
“Kamu masih hidup?” tanya Ru Na, sambil tersenyum kesal.

Ditepi sungai. Ru Na menegur si Pria hitam. Selama ini mereka telah berusaha untuk membuat segala yang terjadi pada Yeon Seo seperti sebuah kecelakaan. Jadi jika sekarang si Pria hitam bertindak gegabah, dan membunuh Yeon Seo secara langsung menggunakan kedua tangan sendiri. Maka mereka berdua akan ketahuan.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin …”

“Tidak butuh alasan. Berbohonglah untuk saat ini. Jangan gegabah. Jangan membuat kesalahan. Apa kamu mengerti?” sela Ru Na, tegas.
“Ya,” jawab si Pria hitam dengan patuh. Lalu dia pergi.
Sosok Ru Na berubah menjadi Hoo. Dan dia tampak sangat kelelahan.

Hoo masuk ke dalam gereja, dan berlutut didepan altar. “Kenapa kamu sekejam ini? Kumohon kasihanilah mereka,” kata Hoo berdoa untuk Kim Dan serta Yeon Seo.

No comments:

Post a Comment