Saturday, June 1, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 6 - part 3

0 comments


Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 6 – Part 3
Network : KBS2

Yeon Seo masuk ke dalam kamar Tn. Jo yang sudah terbuka, tapi tidak ada siapapun didalamnya. Lalu Ny. Choi muncul di belakangnya sambil tersenyum. “Kamu sudah pulang, Yeon Seo,” katanya berpura- pura ramah.
Yeon Seo berbalik dan melihat tas yang dibawa oleh Ny. Choi berisikan begitu banyak dokumen. Tapi dia tidak tampak curiga sepertinya.

Ny. Choi berpura- pura bahwa dia hanya melihat- lihat. Dan lalu dia mengatai Yeon Seo menggunakan sindiran halus. “Aku dengar kamu masih membutuhkan teman untuk berjalan. Bagaimana ini?”

Diruang makan. Tn. Choi membukan botol minum, dan mengajak Yeon Seo untuk minum bersama. Tapi Yeon Seo menyuruh mereka pergi, karena dia merasa lelah.

“Yeon Seo, bisakah kamu membuka sedikit hatimu pada kami? Kami berusaha untuk merayakan pemulihanmu,” jelas Ni Na dengan ramah.
“Aku menerima kornea ini, sesudah orang itu meninggal. Apa itu sesuatu yang pantas dirayakan dengan pesta?” balas Yeon Seo dengan ketus.

Ni Na memberitahu kalau dia selalu berdoa agar Yeon Seo bisa menari bersama lagi diatas panggung. Dan dengan sinis, Yeon Seo membalas bahwa sejak kecil Ni Na memang sudah baik, tapi Ni Na ingin dikenal oleh semua orang kecuali dirinya, karena Ni Na tidak pernah bisa mengalahkannya kecuali bersikap baik.
“Aku tidak pernah bisa. Ayo kita perjelas. Aku tidak pernah bisa mengalahkanmu dimasa lalu. Tiga tahun lalu saat matamu baik2 saja,” balas Ni Na, mulai emosi.
Mendengar itu, Yeon Seo memegang erat sandaran kursi. Dan Kim Dan melihatnya.

“Kalian harus pergi. Sepertinya itu yang terbaik,” kata Kim Dan dengan tegas, membuka suara. Dan karena urusannya memang telah selesai, maka Ny. Choi pun langsung setuju dan mengajak semuanya untuk pergi. Dia pergi sambil membawa semua dokumen yang diambilnya dari kamar Tn. Jo.
Keluar dari rumah. Ni Na merasa menyesal, tapi Ny. Choi memujinya telah melakukan pekerjaan bagus sehingga dia pun merasa lega. Ny. Choi lalu ketawa dan mengajak Ni Na untuk segera pulang.
Kim Dan mempertanyakan kenapa Yeon Seo bersikap seperti itu, kepadahal mereka adalah keluarga Yeon Seo, dan mereka datang untuk merayakan kesembuhan Yeon Seo. Tapi Yeon Seo tidak mau menjawab, dan dia menyuruh Kim Dan agar diam.
“Hey, Lee Yeon Seo!”

“Inilah masalah mu. Kamu mudah puas setiap kali aku baik kepadamu. Jangan katakan apa yang harus ku lakukan. Kamu tidak berhak melakukan itu,” jelas Yeon Seo, kesal.
“Karena aku manusia dengan hati nurani yang sangat rasional. Kamu seharusnya tidak seperti itu sebagai manusia. Berapa lama kamu akan bertindak kasar semaumu? Apa usiamu 5 tahun? Bahkan anak kecil pun bisa lebih baik. Mereka datang berharap kamu bahagia. Apa kam u harus bersikap kasar kepada mereka?” bentak Kim Dan

“Bersikap kasar atau jahat, terserah aku.”
“Kaulah yang akan terluka.”
Yeon Seo mengingatkan posisi Kim Dan dirumah ini, yaitu sebagai pengganti Tn. Jo. Dan selama ini Tn. Jo selalu bilang semuanya baik2 saja, dia tidak perlu melakukan sesuatu jika dia tidak menyukai nya. Tn. Jo membuat sesuatu terjadi saat dia ingin melakukan sesuatu.

“Aku Kim Dan. Bukan Tn. Jo bodoh itu!” teriak Kim Dan. (Kurasa, kamulah yang bodoh Kim Dan T.T)
Yeon Seo menjelaskan bahwa dia menerima Kim Dan karena dia merasa kasihan. Dan Kim Dan membalas bahwa jika begitu, mengapa Yeon Seo begitu jahat pada keluarga sendiri, dan suatu saat Yeon Seo akan menyesalinya sama seperti kepada orang tua dan Tn. Jo yang telah meninggal.

Mendengar itu, Yeon Seo melemparkan kue tart pada Kim Dan. “Hentikan!” geramnya. Dan Kim Dan balas melempari Yeon Seo kue tart.
Berdua mereka lalu saling melempari satu sama lain. Kemudian Kim Dan pun meminta Yeon Seo agar mereka menghentikan ini. tapi Yeon Seo tidak mau. Dia mencambak rambut Kim Dan. Dan tidak terima, Kim Dan pun mencambak balik rambut Yeon Seo.
“Lepaskan!”
“Kamu yang lepaskan!” balas Kim Dan.
Mereka berdua kemudian sepakat untuk saling melepaskan dalam hitungan ketiga. Dan Kim Dan melakukannya. Sementara Yeon Seo dia menarik rambut Kim Dan. Lalu setelah itu, Yeon Seo memecat Kim Dan.
“Baik, aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku bodoh karena melihat harapan dalam dirimu. Kamu tidak tertolong, tidak berguna, dan tidak berdaya. Bagaimana bisa kamu begitu tidak berperasaan?” teriak Kim Dan, meluapkan emosinya. Dan lalu dia pergi.

Yeon Seo memperhatikan lengannya yang terluka. Lalu matanya mulai berair, karena perasaannya lebih sakit daripada lengannya. Tapi Yeon Seo menahan air matanya, dan berusaha untuk bersikap tegar.

Kim Dan berdoa meminta maaf, tapi kemudian dengan emosi dia menanyakan, apa kesalahan nya. Lalu sebuah daun jatuh di dekatnya, tapi daun itu tidak ada tulisan sama sekali. “Kenapa kamu meninggalkan ku?” gumam Kim Dan sambil memandang langit.

Telpon Kim Dan berbunyi, dan dengan gugup Kim Dan melihat nama si penelpon. Dan ternyata itu adalah telpon dari Ny. Jung. Melihat itu dia merasa kecewa serta tidak bersemangat.

Ny. Jung mengajak Kim Dan untuk minum2 bersama, karena itu adalah obat terbaik saat perasaan terasa panas. Dan untuk pertama kalinya, Kim Dan meminum yang namanya alkohol, sehingga dia merasa tenggorokannya sangat panas.

Ny. Jung membujuk agar Kim Dan mau sekali ini saja berlutut di depan Yeon Seo dan meminta maaf, karena menurutnya ini adalah pertama kalinya Yeon Seo merasa nyaman berada didekat seseorang dan bahkan berkelahi dengan orang itu. Serta tanpa Kim Dan, maka Yeon Seo harus berjalan menggunakan tongkat.
Tapi Kim Dan menolak, karena dia merasa tidak ada melakukan kesalahan apapun, jadi dia tidak mau berbohong  dan meminta maaf. Tidak akan pernah.

Yeon Seo yang terbiasa dilayanin, ketika dia harus membuat teh nya sendiri, dia agak kesulitan. Lalu dia mengingat tentang teh yang pernah Kim Dan berikan kepadanya, saat dia tidak bisa tidur. Dan dia pun berniat untuk menghubungin Kim Dan, tapi dia tidak ragu dan tidak jadi. Kemudian tiba2 saja terdengar suara Kim Dan yang memanggil namanya.

Kim Dan berjalan dengan gontai karena mabuk sambil berteriak memanggil Yeon Seo. Tapi karena tidak ada jawaban, maka dia pun mulai bekerja merapikan halaman. Dia merapikan selang untuk menyemprot tanaman, karena dia cemas Yeon Seo bakal tersandung dan jatuh. Lalu dia menyingkirkan tangga yang sangat dibenci oleh Yeon Seo juga. Dan menyapu halaman, karena cemas Yeon Seo bakal tergelincir saat menginjaknya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Yeon Seo.
“Ah! Ada seorang putri yang kasar!” kata Kim Dan sambil tertawa dan menunjuk Yeon Seo. Kemudian dia mendekati Yeon Seo, dan menjelaskan apa yang dilakukannya sejak ini adalah hari terakhirnya.


Yeon Seo kemudian mengulurkan tangannya, dan meminta Kim Dan untuk mengembalikan kartu akses. Tapi bukannya mengembalikan, Kim Dan malah memegang pergelangantangan Yeon Seo dan memperhatikannya. “Kamu terluka. Maafkan aku.”
“Aku bilang aku tidak suka mendengarmu bilang itu,” balas Yeon Seo. Mendorong Kim Dan agar melepaskan tangannya.

Kim Dan jatuh berlutut dihadapan Yeon Seo. Dia mengikatkan sapu tangannya pada pergelangan tangan Yeon Seo yang terluka. “Ini adalah aku. Anggaplah ini sebagai aku. Kamu baik2 saja saat bersamaku. Bahkan tanpa aku, anggaplah aku di sini bersamamu. Kamu dapat pergi ke mana pun jika memiliki ini,” jelas Kim Dan sambil tersenyum. Lalu dia membacakan mantra untuk Yeon Seo.
“Alangkah bagusnya jika kamu bisa menari lagi dengan ini, Lee Yeon Seo. Alih2 merasa seperti seseorang menargetkanmu, aku harap kamu bisa merasakan bahwa semua orang kagum dengan tarianmu,” lanjut Kim Dan, menjelaskan.

Yeon Seo teringat dengan perkataannya sendiri kepada kedua orang tuanya. Dan dengan kesal, Yeon Seo mau mendorong Kim Dan, tapi Kim Dan tidak mau melepaskan tangannya.
“Percayalah. Aku berbeda. Aku sungguh2. Aku harap kamu bisa mempercayai apa yang kukatakan. Aku harap kamu bisa merasa lebih berterima kasih pada seseorang yang lebih sayang padamu,” kata Kim Dan.

Yeon Seo teringat perkataannya sendiri kepada Kang Woo. Ternyata saat Yeon Seo berbicara begitu, Kim Dan ada disana dan mendengarkan. Tapi karena hujan, maka dia tidak keluar dan menemui Yeon Seo.
“Kita tidak harus melakukannya nanti. Lakukan dengan ku sekarang. Ayo menari,” kata Kim Dan. Lalu dia menjauhkan tongkat yang Yeong Seo pegang. Dan dia memegang kedua tangan Yeon Seo, lalu menuntun nya untuk menari bersama- sama.

“Lihat? Kamu paling cantik saat menari,” puji Kim Dan sambil tersenyum menatap Yeon Seo. Dan kemudian dia tidur di bahu Yeon Seo.
Dengan kebingungan, Yeon Seo terdiam dan berdiri terpaku di tempatnya.


No comments:

Post a Comment