Friday, June 7, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 11 - part 1

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 11 – Part 1
Network : KBS2
Kang Woo melihat sosok Yeon Seo yang sedang menari tampak sama seperti sosok Wanita-nya yang sedang menari. Karena wajah Yeon Seo memang tampak sama dengan wajah Wanita-nya.
Orang bilang, hidup ini tidak bisa diprediksi. Siapa yang menyangka? Gadis desa yang polos, Giselle, akan jatuh cinta, dikhianati, dan lalu menjadi gila.
Si Wanita cantik menarikan sebuah tarian balet, yang berjudul Gissele. Dan sambil menari, dia menceritakan kisah dari Giselle kepada Kang Woo.

Sama seperti bagaimana aku tidak tahu akan bertemu, menemukan, dan jatuh cinta padamu. Sama seperti bagaimana kita tidak akan tahu seperti apa akhir cerita kita.
Seperti dalam tariannya, dimana Giselle meninggal. Seperti itu jugalah hidup si Wanita berakhir, dia meninggal didepan Kang Woo.

Tarian Yeon Seo mengingatkan Kang Woo pada sosok Wanita-nya. Karena itulah dia memeluk Yeon Seo, dan menepuk2 pelan punggungnya.

Ketika Yeon Seo melepaskan pelukannya, barulah Kang Woo tersadar. “Kerja bagus. Sungguh,” puji Kang Woo sambil meneteskan setetes air mata. “Butuh waktu lama bagiku… aku… tersesat diterowongan yang gelap dan panjang untuk waktu yang lama. Begitu lama tanpa akhir. Aku pikir tidak akan pernah bisa keluar. Aku akhirnya menemukan jalan keluar. Saat ini.”

Kang Woo berlutut dihadapan Yeon Seo dan memegang tangannya. “Lee Yeon Seo. Jadilah Giselleku,” pintanya.
“Giselle?” gumam Yeon Seo, bingung.

Tepat disaat itu, Kim Dan tanpa sengaja keluar dari persembunyiannya. Karena kayu tempatnya bersandar didalam gubuk ternyata rapuh, sehingga itu patah dan membuat Kim Dan jatuh keluar. Mengganggu moment Kang Woo. (Yes! Bagus Kim Dan >.<)
“Kamu menemukanku,” kata Kim Dan sambil cengegesan.

Kang Woo memberikan waktu untuk Yeon Seo memarahi Kim Dan yang bersalah. Dia berdiri sedikit jauh dari mereka berdua. Memandangin pantai.
“Kamu ingin berguling2 dipantai berpasir pada hari liburmu?” tanya Yeon Seo, sinis.
“Aku akan tetap diam, tapi kayu itu terlalu tua,” jawab Kim Dan, sambil tersenyum.
“Jangan tersenyum. Kamu membuatku kesal,” balas Yeon Seo. Dan Kim Dan pun berhenti tersenyum serta menundukan kepalanya.

Yeon Seo kemudian menanyakan, apakah Kim Dan senang melihatnya secara diam2, dia pasti terlihat seperti orang bodoh yang begitu mudah tertipu dan menari dimata Kim Dan.
“Cantik,” sela Kim Dan. “Sungguh cantik. Bagian tubuhku terasa gelisah, sedih, dan gembira,” jelas Kim Dan, jujur. Sambil memegang dadanya.

“Jangan sok tahu. Apa yang kamu tahu tentang tarian?” bentak Yeon Seo, karena merasa malu mendengar pujian Kim Dan.
Kim Dan dengan sedih mengakui bahwa dia memang tidak mengetahui apapun. Tapi karena itulah, makanya dia membuat panggung ini untuk Yeon Seo. Karena dia ingin melakukan sesuatu.
Dan Yeon Seo pun menyarankan agar Kim Dan diam saja, karena Kim Dan tidak berguna. Kim Dan tidak bisa mengemudi, tidak bisa bermain judo, tapi Kim Dan malah berniat untuk membuatnya gugup. Jadi lebih baik Kim Dan jangan mengikutinya.
Dalam perjalanan. Didalam mobil. Kim Dan mendengarkan, dan mencoba menyimak pembicaraan Kang Woo serta Yeon Seo mengenai Fantasia Night. Kang Woo mengajak Yeon Seo untuk datang ke Fantasia Night. Untuk menunjukan kepada para sponsor siapa Balerina Utama di Fantasia.
Dengan sarkastik Yeon Seo menanyakan apa yang harus dipersiapkannya, sebuah gaun yang mencolok atau senyum. Dan Kang Woo membalas agar Yeon Seo tidak perlu sarkastik begitu, karena tidak semua sponsor itu buruk. Serta dia tidak akan pernah membuat balerinanya berdiri sebagai bunga, tidak sekali pun.


“Tidak!” teriak Kim Dan, saat dia akhirnya mengerti pembicaraan antara Kang Woo serta Yeon Seo. Dan teriakannya itu mengejutkan mereka berdua.
“Ada pepatah, ‘Tidak boleh ada sedikitpun amoralitas, atau segala jenis kenajisan, atau keserakahan’,” kata Kim Dan. Mendengar itu, Yeon Seo mengatainya penceramah dan menanyakan maksudnya. “Jangan pergi. Tarianmu lebih dari cukup. Tidak ada alasan untuk membuktikan dirimu lebih jauh,” jelas Kim Dan pada Yeon Seo.

Dan kepada Kang Woo dia mengatakan, “Ini tidak diperlukan. Apa menurutmu ini sebabnya aku…” perkataan Kim Dan terputus, karena Kang Woo tiba2 mengebut.
“Benar. Bisa saja itu kotor dan tidak nyaman, dan bisa lebih buruk. Tapi walau begitu, kita seharusnya tidak menghindari ini, Yeon Seo. Aku akan bertarung denganmu. Aku ingin melihatmu menjadi center dari Fantasia,” jelas Kang Woo, menyakinin Yeon Seo.
“Aku akan mengurusnya. Urus saja urusanmu. Kalian berdua,” balas Yeon Seo.
***

Dihari hujan. Seorang anak Pria (yang bersama Yeon Seo), dia berlari dengan cepat sambil sekali- kali melihat ke belakang, seperti ada yang mengejarnya. Dan kemudian dia melompat ke dekat tebing untuk bersembunyi disana.
Tapi karena dia tidak kuat saat berpegangan pada batu2 ditebing, dia pun terjatuh ke dalam laut.
***

Kim Dan terbangun dengan kaget. “Apa ini yang mereka sebut mimpi?” gumamnya. Lalu tiba2 saja alarm ayamnya berbunyi, dan mengejutkannya.

Yeon Seo menanyakan, bagaimana Kim Dan bisa mengetahui tentang pulau itu, karena dia sendiri bahkan tidak ingat. Dan Kim Dan pun memberikan foto Yeon Seo yang ditemukannya, dia memuji di foto itu Yeon Seo tersenyum cerah dan cantik.

Mendengar kata ‘cantik’ Yeon Seo merasa kesal, dan menyuruh Kim Dan untuk berhenti mengatakan itu. Karena dia takut berharap atau salah sangka lagi bahwa Kim Dan sedang mencoba menggodanya.

“Dia bilang seorang pelayan yang tidak berguna harus melakukan apa yang dia bisa. Aku mungkin tidak berguna, tapi aku akan memanggil ‘cantik’ jika kamu cantik. Karena aku bisa melakukan itu,” jelas Kim Dan. Lalu dia meminta maaf, dan pergi.

“Kamu bilang benci aku. Kenapa kamu melakukan itu?” keluh Yeon Seo, kesal. Lalu dia memperhatikan foto dirinya sendiri.

Dini hari. Seperti biasa, Yeon Seo pergi ke ruang latihan. Namun sebelum dia mulai menari, dia menempelkan foto dirinya ke dinding.

Pagi hari. Kim Dan mendaftarkan diri untuk latihan mengemudi. Dan ternyata orang yang mengajarinya adalah Hoo. Awalnya Kim Dan tidak menyadarinya, tapi kemudian saat dia melihat laporan pribadinya dipegang oleh si Pelatih, barulah dia sadar. Dan dia mengeluh kenapa Hoo selalu mengawasinya.

“Kamu tidak lihat aku bekerja keras untuk membantumu mengemudi?” bentak Hoo. “Aku berusaha keras untuk membantumu.”
“Harusnya kamu beritahu aku. Terima kasih, karenamu aku sudah didiskualifikasi!” balas Kim Dan membentak, karena dia telah melanggar garis pembatas, yang berarti dia gagal dalam mengemudi.

Dengan santai, Hoo menjentikan jarinya dan memundurkan waktu ke saat sebelum Kim Dan melanggar garis pembatas. Lalu dia menyuruh Kim Dan untuk segera mulai mengemudi lagi. Dan Kim Dan pun mengeluhkan, bagaimana mungkin malaikat seperti Hoo menipu orang dengan memakai berbagai cara.
“Berangkat,” tegas Hoo, dengan geram.
“Baiklah,” balas Kim Dan. Lalu dia menginjak gas, dan melewati garis pembatas lagi.

Hoo kembali menjentikan jarinya, dan menyuruh Kim Dan untuk mengulangnya lagi. Lalu kali ini secara perlahan, Kim Dan mengemudikan mobilnya. Dan Hoo berteriak menyemangatinya. “Bagus, bagus! Berhenti!”
“Mana rem?” teriak Kim Dan, panik. Dan lagi2 dia gagal.

Kejadian tersebut terus diulang2, berkali2, karena Kim Dan selalu melewati garis pembatas, berbelok dengan tidak baik, melanggar lalu lintas, dan gagal. Hingga akhirnya, setelah berkali2 mengulang, Kim Dan pun berhasil mengemudikan dan memakirkan mobilnya dengan benar. Dan dia pun berhasil.

Namun hal itu membuat mereka berdua sama2 merasa kelelahan. Dan Hoo pun mengomentarinya, “Tidak heran, kamu selalu menyebabkan masalah. Kepalamu buruk! Kepalamu,” omelnya.
“Aku tidak akan pernah belajar apapun darimu!” protes Kim Dan, kesal. Lalu dia keluar dari dalam mobil, dan pergi.
Hoo mengikuti Kim Dan, dan dia mengomentari Kim Dan yang mulai mirip seperti manusia sekarang, karena Kim Dan benar2 marah. Dengan kesal, Kim Dan pun menjelaskan bahwa alasan dia marah, karena Hoo terlalu keras kepadanya yang masih pemula, kepadahal dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tapi Hoo malah berteriak dan mengkritiknya terus.

“Aku tidak senang dengan apa yang kamu lakukan, aku ingin kamu sadar. Hewan adalah satu-satunya klienmu. Aku khawatir, kamu tidak akan tahu ke arah mana untuk memimpin klien manusianmu, dan gagal,” jelas Hoo.
“Apa masalahnya?” balas Kim Dan, bertanya.

Dengan perhatian, Hoo menjelaskan bahwa dia mengerti kalau ini pertama kalinya Kim Dan menjadi manusia dan berada didalam tubuh manusia, tapi walaupun begitu Kim Dan terlalu berlebihan menurutnya. Hoo lalu membacakan laporan yang Kim Dan kirimkan kepadanya.
“Lee Yeon Seo menari. dia sangat cantik. Itu hal paling cantik yang kulihat didunia ini,” baca Hoo.

“Dia bekerja terlalu keras. Aku takut, dia menderita dan tidak bahagia. Tapi, saat menari wajahnya bersinar. Dia benar- benar bahagia,” pikir Kim Dan sambil tersenyum memikirkan tentang Yeon Seo. Dan dia menulis itu didalam laporannya.

“Berapa kali kamu menulisnya ini? Ada 20 baris tentang dia. Pada akhirnya, kamu menulis ‘Dia memeluk Tulang Rusuk’, hanya satu kalimat itu. Laporan macam apa ini?” tanya Hoo, menyelidik.
“Itu kebenaran!” protes Kim Dan. Lalu dia merebut kertas laporannya kembali.

Kim Dan kemudian meminta Hoo untuk menolongnya menyelidiki tentang Kang Woo, karena dia mengingikan seorang Tulang Rusuk yang kuat untuk Yeon Seo. Agar Yeon Seo bisa bahagia nantinya.

No comments:

Post a Comment