Tuesday, June 25, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 08-3

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 08-3

Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land
Saya, Tanya dan Haetuak dalam perjalanan pulang dan Tanya yang bertugas untuk memegang obor penerang. Saat itu, Tanya tiba-tiba tertawa hingga membuat Saya bingung. Apa Tanya tertawa karena bahagia bertemu ayahnya?
“Ya, tentu. Terimakasih, tuan Saya,” jawab Tanya, tapi ekspresinya terlihat aneh.
“Kalau begitu, bersikap baiklah padaku mulai sekarang,” ujar Saya.
“Tentu.”
Sementara Haetuak, dia menatap Tanya dengan pandangan bingung dan juga ngeri. Apa Tanya itu gila?
Kenapa Haetuak bisa berpikiran seperti itu?

Flashback
Yeolson tadi sempat berlutut pada Haetuak dan memohon agar Haetuak menjaga Tanya dengan baik. Tanya baru saja kehilangan teman yang paling Tanya sukai, dan dia takut kalau Tanya akan berbuat hal bodoh. Yeolson bahkan menyebut dirinya sendiri bodoh karena memberitahukan Tanya hal tersebut. Teman Tanya itu adalah Eunseom.
End
“Dia baru tahu teman yang dia suka meninggal. Lihat. Dia terus tertawa. Dia pasti gila,” pikir Haetuak menatap Tanya.
--
Esok pagi,
Mungtae dan Teodae akan di jual sebagai budak. Mungtae ketakutan karena dia sempat mendengar kalau mereka mungkin akan menjadi cacat nantinya. Dia tidak mau hal tersebut terjadi.

Moogwang menyerahkan Mungtae dan Teodae pada Gilseon dan memperingatkan Gilseon agar tidak menipunya mengenai harga jual Mungtae dan Teodae padanya nanti. Gilseon mengiyakan.



Dan berangkatlah rombongan Gilseon bersama para budak ke suku yang akan mereka jual belikan. Saat itu, ada seseorang yang diam-diam melempar batu ke arah Teodae dan Mungtae di saat mereka sedang berisitrahat di tengah hutan. Batu itu mengenai Teodae, jadi Teodae mencari siapa yang melemparkannya. Dia terkejut karena yang melemparkan adalah Dalsae, Eunseom dan Buksoe. Teodae segera memberitahukan hal tersebut pada Mungtae. Dalsae, Eunseom dan Buksoe memberitanda agar Teodae dan Mungtae tetap diam dan tenang.
Perjalanan di lanjutkan dan Eunseom serta yang lain langsung bersembunyi. Saat itu, Mungtae tiba-tiba berteriak kesakitan. Para penjaga langsung kesal dan segera menyeret Mungtae menjauh dari rombongan.
--

Tanya sedang mengelap barang-barang di ruangan Saya. Saat itu, dia menemukan cermin dan mengelapnya dengan sangat kuat. Saya yang melihatnya tersenyum.
--
Eunseom dan Dalsae bersembunyi di semak-semak dan berencana diam-diam menyerang. Tapi, mereka bingung karena Mungtae tidak ada padahal tadi Mungtae ada di sebelah Teodae. Mereka jadi galau. Apakah mereka harus menyerah? Atau menyelamatkan Teodae saja?
“Buksoe akan buat kebakaran. Ini sudah di mulai,” ujar Eunseom. Artinya mereka akan tetap menyerang.

Tapi, saat itu, tiba-tiba saja, sebuah jaring di lemparkan ke arah mereka dari belakang. Para penjaga menyadari keberadaan mereka dan memukuli mereka. Eunseom dan Dalsae walaupun kesakitan, berteriak : “BUKSOE, LARI!”
Buksoe yang sedang membuat api, mendengar teriakan mereka dan segera kabur.
Dalsae dan Eunseom tertangkap dan di bawa ke depan Gilseon. Gilseon mengejek mereka yang sangat setia hingga mau menyelamatkan teman.
“Mungkin mau tahu bagaimana kami tahu dan menyergap kalian?” tanya Gilseon.

Dan keluarlah Mungtae. Dia yang melaporkan keberadaan Eunseom dan Dalsae serta Buksoe pada para penjaga. Penjaga melapor pada Gilseon kalau ada satu yang berhasil kabur (Buksoe), haruskah mereka mengejarnya? Gilseon mengatakan tidak perlu karena mereka sudah mendapatkan lebih 2 budak.

Dalsae kecewa mengetahui Mungtae yang menjebak mereka di saat mereka hendak menyelamatkannya. Mungtae tahu kekecewaan Dalsae dan karena itu, dia berteriak kalau saat di benteng api itu, dia terus berteriak memanggil Dalsae tapi Dalsae memilih pergi dengan Buksoe. Dalsae pasti tidak mau membawanya karena dia menyusahkan bukan?
Dalsae terdiam. Merasa marah sekaligus terluka. Teodae juga tampak marah.
“Kau mengkhianatiku,” ujar Mungtae. (arrgh)
“Karena itu… Karena itu aku datang menyelamatkanmu,” ujar Dalsae.
“Percuma. Tak akan berhasil. Kau juga (Eunseom). Karena coba selamatkan kami, akhirnya kami… Urumi mati, bahkan Doldol dan Oryuk kehilangan nyawanya. Kita tak bisa… kabur dari hal ini,” ujar Mungtae.
Dan penjaga kemudian membawa mereka. Tapi, Mungtae di bawa ke arah lain. Mungtae menangis dan berkata di dalam hatinya : Aku tidak menyesal. Aku tidak menyesal.
Buksoe ada di sana, dan dia menangis tidak berdaya. Tidak mampu menolong siapapun.

Gilseon menjual Teodae, Eunseom dan Dalsae pada seseorang. Mereka tawar menawar dan Gilseon berhasil menjualnya dengan harga tinggi.

Sementara Mungtae sedang memohon pada para penjaga untuk tidak menjualnya. Bukankah mereka sudah berjanji tidak akan menjualnya dan akan mengampuni nyawanya?! Penjaga mah tidak peduli karena siapa yang akan menepati janji dengan dujeumsaeng. Mereka memaksa Mungtae berdiri, tapi Mungtae tidak mau walaupun 3 orang penjaga menariknya. Mungtae sangat marah karena dia mengkhianati temannya demi janji itu.
Dan pada akhirnya, mereka bertarung. Mungtae bisa saja menang, tapi dia kalah karena para penjaga itu memiliki senjata. Dan Gilseon melihat hal tersebut.
“Berhenti. Cukup,” perintah Gilseon. “Kau begitu marah? Kau mengkhianati teman yang mau menyelamatkanmu. Kenapa marah?”
“Aku mau hidup. Aku begitu karena mau hidup.”
“Apa pun kau lakukan agar hidup?”
“Ya, apa pun. Akan kulakukan apa pun agar hidup,” ujar Mungtae.
“Kau mirip denganku,” ujar Gilseon. “Kau juga sangat kuat. Jika kubiarkan hidup, mau kerja sama denganku?”
“Ya, akan kulakukan apa pun,” setuju Mungtae dan menatap Gilseon.
--

Teodae masih sulit mempercayai kalau Mungtae benar-benar melakukan itu. dalsae bertanya pada Eunseom, apa Eunseom bisa memutuskan ini? Eunseom mencoba tapi tidak bisa. Dan hal itu, membuat Eunseom heran sendiri. Waktu itu, dia bisa mematahkan rantai. Bagaimana caranya? Dan karena itu dia terus berusaha mematahkan ikatan tali di tangannya.
“Mungtae… Aku bisa memahami dia. Aku paham alasannya berkhianat,” ujar Teodae tiba-tiba. “Kau lakukan itu padaku juga,” ujarnya dan teringat saat dia menjerit memanggil nama Dalsae saat di benteng api, tapi Dalsae pergi meninggalkannya.
“Dia benar. Kutinggalkan mereka. Saat kami kabur dari sana, dia dan Mungtae tersesat dalam gelap. Aku berlagak tak lihat dan kabur,” ujar Dalsae, merasa sangat sangat sangat bersalah.
“Benarkah? Saat berburu, kau lindungi Mungtae dari beruang hitam,” ujar Eunseom, mengingati apa yang pernah Dalsae lakukan untuk Mungtae.
“Kupikir tak bisa melindungi mereka. Aku percaya diri melawan beruang, tapi tidak saat di sana. Aku tak yakin bisa melindunginya.”
“Jangan cari alasan,” potong Teodae. “Mungtae pengecut dan aku lemah. Pikirmu kami akan menyusahkan,” tangis Teodae.
Dan hal itu membuat Dalsae merasa marah hingga dia berkelahi dengan Teodae dan membuat semua yang terikat bersama mereka terjatuh. Para penjaga langsung mencabuk mereka karena sudah memuat onar. Dan karena cambukan itu, mereka jadi menyadari kalau Eunseom adalah Igutu, darahnya berwarna ungu.

Sial! Mengetahui kalau Eunseom adalah Igutu mereka menjadi semakin marah! Mereka telah membeli Eunseom dengan harga mahal dan ternyata dia adalah Igutu. Dalsae panik. Dan karena marahnya, mereka memukuli Eunseom terus dan terus menerus.
Bantu ada tidak jauh dari sana dan melihat itu.
“Dia yang lemah,” itu isi pikiran Bantu dan berbalik pergi.
--
Haetuak sedang menjahit tapi terus memikirkan mengenai Tanya. Dia terus bergumam apakah Tanya benar-benar gila? Apa iya?
Saya mendengar gumamamnya dan bertanya, siapa yang gila?
“Itu… Gadis itu, Tanya,” jawab  Haetuak.
“Kenapa?”
--

Saya pergi menemui Tanya dengan terburu-buru. Tanya masih tampak tenang dan bertanya ada apa? Apa membutuhkan bantuannya?
“Apa yang kau tunggu?” tanya Saya, langsung. “Aku tahu kau tunggu sesuatu sebelum bunuh diri. Aku juga sama saat Saenarae tewas. Serasa tak terjadi apa pun, aku tertawa sambil menunggu Taealha untuk bunuh diri di depannya. Apa yang kau tunggu?”
“Tuanku. Aku sungguh tak mengerti,” ujar Tanya, berpura-pura tidak mengerti.
“Lalu apa? Teman yang kau sukai meninggal. Bagaimana kau…”
“Siapa yang meninggal?” potong Tanya. “Maksudmu, Eunseom? Dia tak tewas,” jawab Tanya, tenang. “Eunseom… akan datang menyelamatkan aku. Kuminta dia datang menyelamatkanku.”
“Dia sudah tewas.”
“Belum,” ujar Tanya dan kini dengan suara sedikit bergetar.
“Sudah tewas,” ulang Saya.
“Kataku, dia belum tewas!” teriak Tanya.
“Aku melihatnya. Tidak. Semua anggota Serikat lihat kematiannya. Lidah dicabut, suaranya aneh. Dia menjerit. Lalu dimasukkan air mendidih hidup-hidup dan mati. Semua orang bertepuk tangan dan berteriak senang. "Kita sudah balas dendam! Kita sudah balaskan dendam Sanung Niruha! Kita rebus dujeumsaeng yang keji, hina dan menjijikkan sampai mati!"”
“Itu tak benar! Eunseom tak mati. Aku tahu itu tak benar,” teriak Tanya, menangis frustasi dan menyerang Saya. “Eunseom belum mati. Dia belum mati. Jangan bohongi aku!”

Tanya mulai memukuli Saya dan Haetuak mendengar keributan tersebut. Dia segera masuk dan memukuli Tanya karena sangat berani memukuli Saya.
--
Para budak lanjut berjalan. Semua sudah sangat kelelahan karena berjalan jauh. Sementara, Eunseom di seret dengan kuda. Dia tampak sangat tidak berdaya.
--
Tanya di ikat dan di kurung di dalam gudang. Dia menangis dan memukuli dadanya sendiri. Tanya merasa semua adalah salahnya hingga Eunseom terbunuh.



Flashback
Eunseom kecil hanya bisa berdiri di pinggir melihat Dalsae dan teman-teman yang lain bermain dengan riang. Tanya yang melihat Eunseom sendiri, segera merebut salah satu mainan dan memberikannya pada Eunseom, agar Eunseom bisa ikut bermain. Eunseom pun menerimanya dan memainkannya sekali kemudian mengembalikannya lagi. Tapi, pada akhirnya, mereka saling meminjamkan mainan itu dan bermain bersama dengan riang.
End
“Kau seharusnya terbang bebas. Namun, aku… mengikatmu di bawah mantra seperti orang bodoh,” sesal Tanya.


Flashback
Eunseom duduk sendirian dan menangis mengingat ibunya. Saat itu, Tanya datang dan memakaikan Eunseom mahkota bunga yang di buatnya. Mereka duduk bersama menatap bunga kamperfuli.
Dan mulai dari sana, mereka menjadi semakin dekat. Eunseom bahkan mulai mengajari Tanya tarian spirit.
End
“Kematianmu begitu kejam karena kau dalam kuasa mantra perempuan terkutuk…,” tangis Tanya.
Dan Saya mendengar dari luar tangisan penuh putus asa Tanya. Dia ke sana untuk mengantarkan makanan dan minuman untuk Tanya. Tapi, mengulurkan niatnya saat melihat Tanya yang tampak sangat terpukul.
--
Tanya sudah berhenti menangis. Dan Saya baru masuk untuk memberikan Tanya makanan. Usai memberikan makanan, Saya hendak keluar. Tapi, dia tidak bisa diam saja melihat Tanya yang tidak punya semangat hidup.

“Bagi yang punya alasan untuk hidup, bagaimana mereka hidup tidaklah penting. Bocah itu, Eunseom… Apa dia alasannya?” tanya Saya.
“Kenapa hal seperti ini harus terjadi pada kami? Olmi… (yang dibunuh Moogwang pertama kali di Iark) Kenapa anak kecil itu harus mati? Kenapa Urumi (yang meninggal karena di lempari batu oleh rakyat Arthdal) harus berakhir begitu? Kenapa Eunseom harus mengalami kekejian itu… Tidak. Kenapa kalian harus menangkap kami pada awalnya?”
“Kami butuh banyak pekerja. Tabur benih, bertani. Membangun rumah besar. Butuh pakaian mewah dan perhiasan.”
“Namun, kenapa? Kenapa kalian butuh begitu banyak? Rakyatku hidup bahagia tanpa semua itu. Satu babi hutan bisa memberi makan 20 orang lebih. Saat kau tangkap babi hutan, apa satu orang memakan semuanya? Atau apa kalian makan sepuluh kali dalam sehari?”
“Kami makan untuk puaskan pikiran, bukan lapar. Bahkan berton-ton emas atau seribu kuda putih, tak bisa memuaskan keserakahan warga di sini. Karena itu pikiran mereka selalu lapar.”
“Aku sungguh… tak bisa mengerti semua itu. Sungguh tak bisa,” ujar Tanya.
“Kau pasti tak mengerti. Sebelum merasa berkuasa dan merasa tak pernah puas, kau tak akan paham. Ya. Kau akan mati tanpa tahu jawabannya. "Kenapa sukuku menderita tragedi ini? Kenapa aku harus mati? Kenapa temanku, alasan hidupku, direbus sampai mati?"  Kau akan mati tanpa tahu jawabnya,” ujar Saya penuh penekanan dan kemudian keluar, meninggalkan Tanya.
Tapi, ketika di luar, Saya menjadi tambah khawatir. Bagaimana jika Tanya benar-benar bunuh diri?
Di dalam, Tanya merenungkan semua perkataan Saya. “Merasa… berkuasa?” pikir Tanya dan terus memikirkan Eunseom.
--

Para budak melewati jalanan bersalju. Dan salju di penuhi dengan darah ungu Eunseom. Eunseom di seret dan sepanjang jalan di cambuki hingga dia kesulitan berjalan dan bahkan merasa sangat kesakitan.
--

Tanya merenung dan teringat sebuah kejadian di masa kecilnya. Saat itu, dia di ajari melempar batu untuk menangkap burung dan di beri tahu mana batu terbaik untuk menangkap burung dan babi. Saat itu, pengajarnya bertanya, jika sebuah harimau tiba-tiba menerkam mereka, batu mana yang harus mereka gunakan? Batu yang bisa melempar jauh (untuk menangkap burung) atau batu yang tepiannya tajam (untuk menangkap babi)?
Saya kembali ke ruangannya dan merasa sangat tidak tenang. Dia berusaha menyuruh dirinya untuk tidak memikirkan Tanya yang hanyalah seorang dujeumsaeng.
Tanya masih terus merenung.
“Eunseom. Maafkan aku. Aku putuskan untuk hidup. Aku akan mendapat kekuasaan agar bisa tahu apa yang terjadi padamu dan kenapa kita alami ini. Akan kucari jawaban hal yang tak kupahami saat ini. Dan akan kuberi tahu padamu suatu hari,” tekad Tanya.
Dan dia mengingat jawaban dari pengajarnya saat kecil. Saat harimau menerkam, mereka hanya harus mengambil batu terdekat untuk menyerang, walaupun batu itu lemah.

Saat itu, Saya masuk ke dalam gudang. Tanya menatapnya, “Batu terdekat. Baiklah, kau akan jadi batuku. Senjata pertamaku.”
Dan Tanya tiba-tiba langsung berlutut dan memohon maaf karena kesalahannya tadi. Dia pasti telah gila sesaat karena mendengar kematian temannya. Saya tentu terkejut dengan perubahan sikap mendadak Tanya.
“Tolong maafkan aku, dan ampuni nyawaku. Aku, Tanya, adalah milikmu, Tuanku,” ujar Tanya.
Saya bingung mendengar Tanya menyebut dirinya “Tuan-ku”.
“Ya. Aku, Tanya, akan melayanimu sebagai majikan tunggalku. Kau akan butuh aku. Aku akan melayanimu semampuku, Tuan,” lanjut Tanya dan diam-diam mengangkat kepalanya menatap Saya.
Aku, Tanya dari Suku Wahan, memantraimu. Majikan? Ayo lihat siapa majikannya. Apa kau bisa mengatasi mantraku, Saya.
-Bersambung-

No comments:

Post a Comment