Sunday, June 9, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 03-3

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 03-3
Images by : TvN
Part 1 : The Children of Prophecy

Berita mengenai Tagon yang melakukan Ollimsani telah sampai ke Asa Ron karena sebuah surat yang tertinggal di meja Serikat. Hal ini tentu sangat berbahaya. Asa Mot tentu ingin Tagon di hukum, tapi Asa Ron ragu. Sekarang ini, semua suku berpihak pada Tagon dan pasti akan semakin menyalahkan klan Asa jika mereka menghukum Tagon.
Dan karena hal itu, Asa Ron menyuruh agar mereka berpura-pura tidak tahu atas hal itu. Asa Ron juga bertanya siapa saja yang telah melihat surat itu? pembawa surat mengatakan tidak ada. Dia langsung membawa surat itu begitu melihatnya. Dan tanpa di duga, Asa Ron membunuh orang itu.
 Setelah itu, Asa Ron menyuruh Asa Mot untuk mencari tahu siapa yang menulis surat itu. Hanya sedikit orang yang bisa menulis surat. Dia dapat merasakan dengan jelas kalau pasti ada yang merencanakan semua ini.
--
Taealha sudah siap menemui Sanung, dan Hae Tuak yang menunggunya langsung menanyakan, apakah Taealha menuruti yang Tagon minta atau dia melaporkan Tagon?
“Kuturuti dia,” jawab Taealha.
“Apa katamu? Astaga, apa yang kau pikirkan? Ini berarti kau memilih Tagon?”
“Tidak juga. Namun, katamu dia bersenandung.”
“Ya. Memangnya kenapa? Katakan. Apa artinya itu?”
“Dia senang. Tagon sedang antusias sekarang. Seperti saat dia membakar Atturad,” jawab Taealha.
--


Tagon berada di hamparan padang rumput yang luas. Dan dia teringat sesuatu. Gambaran saat dia masih kecil dan di cekik, berusaha di bunuh.
Moogwang melihatnya sendiri dan menghampirinya. Dia sangat senang dengan Tagon dan bahkan semua orang Arthdal pun pasti bahagia saat melihat Tagon membawa para budak.
“Pesta sesungguhnya belum di mulai,” ujar Tagon.
“Apa? Pesta apa?”
Tagon tidak menjawab dan hanya bertanya mengenai para budak. Moogwang menjawab kalau para budak sedang di mandikan dan di beri makan.
--
Malam hari,
Para suku Wahan duduk bersama untuk di beri makan. Tapi, tentu saja ada beberapa di antara mereka yang dapat makan dengan lahap dan ada yang tidak. Mereka juga bertanya-tanya apa alasan para prajurit itu tidak membunuh dan merampok kita bahkan memberi mereka makan.
Tanya saja tampak sangat tidak bertenaga. Dia menyuruh wanita di belakangnya untuk berhenti menangis dan makan. Dia juga menyuruh Choseol untuk makan. Wanita itu menangis karena meninggalkan nenek-nya di sana dan bahkan putrinya (Dotti), entah masih hidup atau tidak.
“Kau harus makan agar bisa hidup. Agar bisa makan. Hanya itu cara kita menemukan Dotti,” nasehat Tanya. Tapi, wanita itu terus menangis.
Tidak jauh dari mereka, Eunseom dan Dotti tiba di sana. Dotti menangis sedih karena melihat ibunya menangis.
“Tunggulah sebentar lagi. Akan ku tangkap pemimpinnya,” janji Eunseom.
“Pemimpin yang di Arthdal?”
“Ya. Pemimpin unit, Sanung Niruha.”
Pemimpin unit? Kukira dia pemimpin serikat.”
“Bukan, dia pemimpin unit.”
“Benarkah? Pemimpin unit? Maka kau harus menangkapnya dan menyelamatkan ibuku, ya?”
“Ya, pasti,” tekad Eunseom.

Dan dari jauh, Tanya melihat Bantu. Dia tahu kalau Eunseom pasti ada di dekat sana dan akan menyelematkan mereka.
--
Asa Ron sudah tahu kalau pengirim surat itu adalah pedagang kulit Sanung Niruha. Asa Ron menyuruh Asa Mot dan pengikutnya yang lain untuk mencari pedagang kulit itu dan menyelidiki kepada siapa saja pedagang itu sudah menceritakan mengenai Tagon yang melakukan Ollimsani. Terserah mereka mau menyuap pedagang itu dengan hadiah atau membunuhnya. Pokoknya, mereka harus menguburkan fakta bahwa Tagon melakukan Ollimsani.
Asa Ron benar-benar marah karena tahu bahwa ini pasti adalah perbuatan Sanung.
Pas sekali, saat dia keluar dari kediamannya, dia bertemu dengan Sanung. Dia sudah hendak menyerang Sanung, tapi tanpa di sangka rakyat sudah berkumpul dan memohon agar Asa Ron mengampuni Tagon.
Tidak hanya itu, Sanung ikut berlutut dan memohon pengampunan untuk putranya yang telah melakukan ritual keramat yang harusnya di lakukan oleh klan Asa. Sanung berpura-pura baik di depan para rakyat dan sekaligus memberitahu apa yang Tagon telah lakukan.
Asa Ron tampak sangat-sangat marah. Dia benar-benar telah di perdaya oleh Sanung.
--

Dotti dan Eunseom sedang menunggangi Bantu, tapi Bantu tiba-tiba saja berhenti untuk makan. Eunseom langsung memarahinya karena Bantu terus saja makan. Dotti kemudian menyadari kalau tanaman yang di makan oleh Bantu di susun membentuk barisan. Itu adalah pertanian.
Dan tiba-tiba saja, petani muncul dan memarahi mereka pencuri yang ingin mencuri tanaman ini. Ini adalah tanamanya. Tanahnya! Eunseom terkejut, padahal dalam suku Wahan, tidak ada yang istilahnya ‘tanah kita’ karena itu artinya sama saja memiliki langit dan bumi.
 Tidak hanya itu, petani itu berkata kalau dia yang menanam benih dan menyuburkan tanahnya dan mencabut rumput liarnya. Eunseom semakin terkejut, menanam benih adalah hal yang tidak di lakukan suku Wahan.

Petani itu emosi karena sikap bodoh Eunseom, tapi saat dia hendak memukul Eunseom, dia melihat kalung yang Eunseom pakai (itu kalung yang di tinggalkan Asa Hon pada Eunseom). Melihat kalung itu, petani menjadi takut dan memohon di ampuni nyawanya. Dia tidak tahu kalau Eunseom berasal dari suku Asa.
“Asa? Apa itu?” bingung Eunseom.
Tapi, petani itu menyadari warna bibir Eunseom yang berwarna ungu. “Apa… Igutu?!” kaget petani itu.
“Igutu?” tanya Eunseom ulang. Dan teringat prajurit yang waktu itu mengiris lengannya juga menyebutnya Igutu. “Apa itu Igutu? Apa artinya itu?”
Tetapi bukannya menjawab, petani itu malah menjerit : “Ada Igutu!” dan berlari ketakutan. Teriakannya itu terdengar oleh seorang wanita cantik, Chae Eun, yang ada di dekat sana.
Eunseom mengejar petani itu dan memaksanya memberitahunya apa itu Igutu. Petani itu ketakutan dan memohon tidak di bunuh. Eunseom melepaskannya dan berkata tidak akan membunuhnya.
“Igutu adalah percampuran darah Saram dan Neanthal.”
“Lalu, apa itu Neanthal?”
“Mereka monster!”
Mendengar kata monster, membuat Eunseom terguncang. Dia adalah anak monster? Dia… anak monster?
Dan dalam keadaan bingung itu, petani itu malah menyerang Eunseom. Dotti langsung berteriak. Dan Eunseom refleks membela diri dan tanpa sadar membuat pria itu mati. Eunseom juga kaget dengan yang di lakukannya.

Chae-Eun berlari mendekati mereka. Dan Eunseom tentu mengeluarkan pisau kayu-nya dan mengarahkannya pada Chae-Eun agar tidak mendekati mereka.
“Aku tak akan menyakitimu. Tenanglah. Tak apa,” tenangkan Chae-Eun.
“Kau tak takut padaku? Dia bilang aku anak monster.”
“Dia salah. Neanthal bukan monster. Itu kebohongan oleh Klan Asa,” beritahu Chae-Eun. Chae-Eun kemudian mendekati petani dan melakukan ritual untuk mengantarkannya pergi (apa dia dari klan Asa?). Chae-Eun kemudian mendekat ke Eunseom dan melihat tangan Eunseom yang terluka. “Darah ungu. Kau sungguh Igutu. Aku belum pernah lihat. Jangan berkeliaran begini. Kau akan mati atau membunuh orang seperti tadi,” nasehat Chae-Eun.
“Jika Neanthal bukan monster, mereka itu apa?” tanya Eunseom.
“Spesies yang agak berbeda daripada Saram. Lebih cantik daripada kami, para Saram,” jawab Chae-Eun.
--
Asa Ron benar-benar bingung. Apa yang harus di lakukannya? Jika mereka membunuh Tagon, rakyat akan membenci dan memberontak pada mereka. Tapi, jika tidak, kekuasaan dan otoritas mereka akan terancam.
Saat itu, seorang wanita tua masuk menemui Asa Ron. Semua langsung berlutut dan Asa Ron memanggilnya dengan panggilan : “Ibu Gunung Puncak Putih.”
“Seperti ibu yang melihat anaknya menunggangi kuda menuju tebing, aku secepatnya kemari setelah mendengar berita mengerikan.”
“Ibu Gunung Puncak Putih.”
“Mengakui orang melakukan Ollimsani di luar lingkaran keramat, sama dengan memberi tahu siapa pun bisa menemui para dewa. Jika kita biarkan…”
“Ibu. Jika kami hukum Tagon sekarang…” ujar Asa Yon.
“Hanya satu dari seratus. Tidak, hanya satu dari puluhan ribu orang yang bisa menemui para dewa. Orang berkumpul di sekitar yang terpilih, membentuk klan. Seiring waktu, beberapa klan membentuk satu suku. Begitulah cara kita memiliki Serikat. Jika kekuasaan dan otoritas yang terpilih hancur, apa yang akan menyatukan orang? Jika mereka terserak, alih-alih bersatu, memilih tak memadukan kekuatan, dunia Saram akan kembali menjadi seperti saat dikuasai hewan hina. Jika semua dianggap terpilih, itu berarti tak ada yang terpilih. Pendeta Tinggi. Gagasan kesetaraan macam itu hanya akan menghancurkan Serikat. Ini bukan hanya tentang Klan Asa. Ini akan membubarkan Serikat. Pakai akal sehatmu!” ujar Asa Sakan (Ibu Gunung Puncak Putih).
--

Chae-Eun memberikan pakaian Arthdal (pakaian petani tadi) pada Eunseom. Setelah itu, Chae-Eun mengoleskan sesuatu pada bibir Eunseom untuk menyembunyikan warna ungu di bibir Eunseom.
“Kubuat ini untuk adik perempuanku, tapi ambillah,” ujar Chae-Eun, memberikan lipstick itu untuk Eunseom. “Pastikan selalu kau pakai.”
“Tampaknya, orang di sini sangat membenci Igutu. Kecuali kau? Kenapa membantuku?”
“Aku tak mau lagi. Mungkin aku akan membunuhmu jika bertemu lagi,” jawab Chae-Eun. “Sebaiknya cepat kembali ke asalmu. Kau pasti berasal dari tempat yang tak mengenal Igutu.”
“Di mana aku bisa bertemu Neanthal?”
“Tak bisa lagi. Kami bunuh mereka semua,” jawab Chae-Eun dan beranjak pergi.
--
Eunseom dan Dotti tiba di kota Arthdal. Mereka sangat takjub melihat dinding batu yang mengelilingi Arthdal dan ada para petugas di sana yang memeriksa setiap orang yang masuk ke dalam (tu daerah perbatasan).

Pas giliran mereka hendak masuk dan di periksa, Dotti tiba-tiba menangis keras hingga penjaga jadi tidak curiga dan menyuruh mereka masuk.
Saat sudah di dalam, Dotti langsung bertanya kenapa Eunseom mencubitnya? Eunseom membantah dan berkata kalau Dotti yang menangis sendiri. Dotti langsung bilang Eunseom yang mencubitnya dan rasanya sangat sakit.
Pas di dalam, mereka benar-benar kaget melihat para orang berkumpul dan melakukan transaksi perdagangan. Bahkan ada orang menjual kain. Semua adalah hal yang sangat berbeda dengan yang ada di suku Wahan!
“Tempat ini… Arthdal,” pikir Eunseom.
-Bersambung-

No comments:

Post a Comment