Sinopsis C-Drama : Unique Lady Episode 23 - part 3



Network : iQiyi iQiyi

Malam hari. Wu Mei menepati janjinya dan membawa Luo Jing ke pasar malam. Dia membelikan permen buah yang di inginkan oleh Luo Jing, dan beberapa bunga. Lalu dia memberikan semuanya itu kepada Luo Jing.
“Bukankah kamu tidak suka bunga sebelumnya?” tanya Wu Mei.
“Siapa yang bilang? Bukankah itu karena aku takut seseorang akan cemburu mendengar kata ‘Bunga (Hua)’. Raja pencemburu,” jawab Luo Jing.

Dengan kesal, Wu Mei memberikan perintah bahwa mulai dari sekarang, Luo Jing tidak boleh memanggil namanya seperti itu lagi. Nama sebutan ‘Raja pencemburu’. Dan mendengar itu, Luo Jing tertawa. Lalu karena Luo Jing bersikap seperti itu, maka Wu Mei pun ngambek dan menghentikan kudanya.
Menyadari itu, Luo Jing tersenyum. Lalu untuk menenangkan Wu Mei, maka dia pun mencium bibir Wu Mei. Dan Wu Mei membalas ciuman tersebut dengan lembut.

Wu Mei serta Luo Jing kemudian membeli satu lentera cahaya untuk diterbangkan ke langit dan membuat satu permintaan. Karena Luo Jing sempat mendengar bahwa Lentera cahaya akan bisa membuat satu permintaan menjadi kenyataan. Tapi Wu Mei menolak untuk melakukan sesuatu yang kekanakan seperti itu.
“Kamu masih begitu sombong,” gerutu Luo Jing sambil tertawa.

Luo Jing kemudian mulai menulis kan harapannya di lentera cahaya tersebut, tapi dia tidak mengizinkan Wu Mei untuk mengintip. Sehingga Wu Mei pun berbalik dan berdiri sedikit menjauh dari Luo Jing.

“Ingin membantuku?” tanya Luo Jing, setelah selesai menulis.
Dan Wu Mei pun membantu Luo Jing untuk menerbangkan Lentera cahaya tersebut. Kemudian Luo Jing menutup matanya, dan mulai berdoa. Secara diam- diam, Wu Mei pun ikut menutup matanya dan berdoa juga.
Wu Mei : “Aku berharap Xiao Jing akan terus berada disisiku selamanya.”

Setelah selesai, Wu Mei menanyakan apa yang Luo Jing harapkan. Dan Luo Jing tidak mau memberitahu, karena sebuah harapan tidak akan menajdi kenyataan jika mereka menceritakannya kepada yang lain.

“Kemudian aku tidak akan bertanya lagi. Bahkan jika Lentera cahaya tidak mengabulkan keinginan itu, maka aku akan mengabulkannya untuk mu,” kata Wu Mei, berjanji. Dan Luo Jing tersenyum bahagia.

Wu Mei serta Luo Jing kemudian masuk ke dalam pondok dan duduk sambil memandangin semua Lentera cahaya yang diterbangkan ke langit.
“Setiap Lentera memiliki cerita. Lihat betapa banyaknya Lentera di Sheng Jing sekarang. Begitu banyak cerita,” kata Luo Jing.
“Kemudian apa cerita kita?” tanya Wu Mei.
“Cerita kita adalah disini,” jawab Luo Jing.

Wu Mei kemudian mulai memainkan seruling. Dan Luo Jing pun diam mendengarkan sambil menatap Wu Mei dengan pandangan sedih. Lalu Luo Jing mengingat kembali pembicaraannya bersama dengan Kaisar.

Flash back
“Xiao Jing, aku berharap kamu bisa meninggalkan Wu Mei,” pinta Kaisar. Dan mendengar permintaan itu, Luo Jing merasa terkejut dan bertanya mengapa.

Kaisar menjelaskan bahwa dia tahu kalau ini sulit untuk diterima oleh Luo Jing, namun dia memiliki alasan melakukan ini. Beberapa hari lalu, dadanya mulai terasa sakit, begitupun dengan kepalanya, dan pandangan mulai kabur, jadi mungkin waktunya telah tiba. Dan sekarang, satu- satunya orang yang bisa mengambil alih tahta, adalah Wu Mei. Jika Wu Mei menjadi Raja, maka Wu Mei harus menikahi Ru Yu dan membuat hubungan dengan negara Bei Yu.
Mendengar semua penjelasan tersebut, Luo Jing ingin membantah, karena dia tidak bisa menerima hal itu.

“Xiao Jing. Kamu adalah wanita muda yang pintar. Kamu pasti mengerti apa maksud ku, bukan?” tanya Kaisar.
“Karena tanah dan negara, kamu mengorbankan perasaan kami untuk memperkuat kekuasaan, kah?” balas Luo Jing.

“Tanah dan negara, atau kecantikan?” tanya Kaisar, memberikan pilihan. “Sejak dahulu kala ini telah menjadi pertanyaan yang sulit. Terlebih lagi, bagaimana bisa ada rumah tanpa sebuah negara? Xiao Jing, aku harap kamu akan bisa melepaskan hubungan antara Pria dan Wanita ini, dan mengizinkan Wu Mei untuk menjadi Raja. Aku mohon kepada mu,” pinta Kaisar, tulus.
Mendengar itu, Luo Jing merasa sangat bimbang serta sedih.
Flash back end

“Akan bagus, jika bisa seperti ini selamanya,” kata Luo Jing, ketika Wu Mei telah selesai memainkan serulingnya. Lalu Luo Jing mencium kening Wu Mei dengan lembut.

Senang dengan sikap Luo Jing, maka Wu Mei pun tersenyum bahagia. Lalu dia memeluk bahu Luo Jing, dan membiarkan nya bersandar kepada dirinya. Dan sambil bersandar didada Wu Mei, Luo Jing meneteskan air mata kesedihannya.
Luo Jing : “Aku tahu kamu memiliki kesalahpahaman dan juga kesedihan. Tapi cerita yang kita alamin hany bisa berakhir sampai disini.”

“Betapa aku tidak berharap bahwa kamu akan melihat surat ini. Jika begitu kasusnya, kemudian itu berarti aku tidak akan meninggalkan kamu. Sayangnya, aku tidak bisa egois membiarkan kamu hanya menjadi Zhong Wu Mei. Kamu masih memiliki tanggung jawab yang lebih penting. Jadi aku berharap bahwa kamu akan menjadi Raja yang baik.”
Tengah malam. Luo Jing secara diam- diam menaruh surat yang telah di tulisnya tepat di tempat tidur Wu Mei, dimana Wu Mei sedang tertidur. Luo Jing tampak sangat sedih, ketika dia harus menaruh surat tersebut.

“Sebenarnya, aku masih memiliki sesuatu yang aku sembunyikan darimu. Aku bukan orang dari dunia ini. Karena kebetulan, aku bisa bertemu dengan mu, tapi kita tidak bisa bersama- sama. Ditakdirkan bahwa cinta kita sangat dalam, tapi takdir kita dangkal. Aku akan mengubah segala sesuatu yang telah terjadi didalam dunia ini, menjadi mimpi indah dalam hidupku. Aku berharap kamu akan melakukan hal yang sama. Jangan cari aku. Aku berharap kamu bahagia.”
Pagi hari. Ketika membaca surat tersebut, Wu Mei menangis. Dan dia mengingat kembali semua kenangannya bersama dengan Luo Jing selama ini.













***

Jiang mengunjungin Wu Mei, dan memintanya agar berhenti minum- minum. Tapi Wu Mei tidak mau, dan terus minum sampai mabuk.

Post a Comment

Previous Post Next Post