Thursday, August 29, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 21

4 comments

Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 21
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Bibi Tong Nian benar-benar deh. Dia malah memuji Zheng Hui, teman sekampus Tong Nian dan bahkan mengatakan kalau mereka cocok. Kakek jelas bingung sekaligus marah, kenapa bibi malah bicara begitu, padahal Tong Nian kan pacaran dengan cucunya, Shangyan. Bibi malah sok lugu dan memarahi dirinya sendiri yang sudah keceplosan. Tong Nian dan Shangyan sudah putus. Mungkin mereka tidak memberitahu kakek karena takut kakek akan marah.
Kakek sudah marah. Dia meminta bibi bicara jelas. Dan bibi memberitahu dengan lugas kalau Tong Nian dan Shangyan sudah lama putus. Dia tidak tahu detail-nya, tapi kakak iparnya (ibu Tong Nian) yang memberitahunya. Dia merasa menyesal karena sudah keceplosan di depan kakek.
Kakek masih sulit percaya. Baru beberapa hari yang lalu, Tong Nian datang dan berbincang dengannya. Bibi malah sok menjelaskan kalau mungkin mereka masih berteman. Kakek masih yakin pada apa yang dilihatnya, kalau Nian Nian jelas-jelas mempunyai perasaan pada cucu-nya. Bibi malah menasehati kakek untuk menyuruh Shangyan agar merelakan Tong Nian. Kan masih ada banyak orang lain. Cari orang yang lebih cocok untuk Shangyan.
Kakek benar-benar tampak marah.
--


97 ke kamar Shangyan, dan dia sangat terkejut saat melihat ada kucing di kamar Shangyan. Shangyan langsung menegurnya yang terkejut hanya karena melihat kucing saja. 97 langsung sadar kalau kucing itu pasti hadiah dari kakak ipar. Shangyan tidak menjawab dan bertanya tujuan 97 mencarinya.
97 baru tersadar. Dia datang untuk memberikan jadwal turnamen yang sudah keluar. Selagi Shangyan melihat jadwal, 97 bermain dengan kucing. 97 juga memuji Tong Nian yang sangat perhatian hingga memberikan kucing agar ada yang menemani Shangyan. Eh, 97 malah keasyikan bicara dan bahkan menasehati Shangyan agar jika ada waktu luang, menghabiskan lebih banyak waktu bersama Tong Nian. Para gadis itu harus sering di temani. Shangyan tidak perlu terlalu mempedulikan mereka karena mereka bisa mengurus diri sendiri.
“Kenapa kau sangat banyak bicara?” tegur Shangyan. Dia mengambil kucingnya kembali dari tangan 97.

97 sadar diri. Dia segera pamit keluar. Tapi, begitu sudah keluar, 97 langsung heboh memberitahu para anggota kalau hadiah dari Tong Nian untuk Shangyan adalah : seekor kucing. Semua kaget.
Grunt langsung ngajak taruhan. Taruhannya, tebak berapa lama kucing ini bisa bertahan? Dia bertaruh 1 minggu dan jika kalau dia akan membelikan e-reader terbaru.
--
Seminggu kemudian (tampaknya).
Shangyan masih tetap merawat kucingnya. Dan lebih daripada itu, dia bahkan sudah mengorder banyak makanan untuk kucingnya. Shangyan kan mau keluar negeri, jadi dia ingin membawa kucing itu ke rumah. Kalau di tinggal di tempat ini, tidak ada yang merawat.
Grunt tersadar. Shangyan benar-benar serius dengan kucing tersebut.
--

Para anggota diam-diam masuk ke kamar Shangyan dan melihat Shangyan yang tersenyum-senyum sambil bermain dengan kucing. Dan tentu saja, kehadiran mereka dapat di rasakan oleh Shangyan.
Karena mereka tidak ada tujuan datang, Shangyan menyuruh mereka keluar dan sekalian minta bibi Zhao menemuinya.
--
Shangyan membawa bibi Zhao ke rumahnya. Shangyan memberitahu bibi Zhao kalau dia akan keluar negeri selama 1 minggu dan tidak punya waktu untuk menutup semua jendela. Jadi, dia meminta bibi Zhao untuk berhati-hati dan tidak membuka pintu atau jendela, karena kucing berbeda dengan anjing. Kalau melihat ada jendela terbuka, kucing bisa lompat keluar jendela dan kabur. Dan juga dia sudah membeli banyak makanan dan kebutuhan kucing yang bisa bibi Zhao gunakan.
Saat itu, kakek masuk ke kamar Shangyan. Dia mengomeli Shangyan yang tidak cukup bermain komputer dan sekarang memelihara binatang! (kakek nggak tahu aja itu kucing dari Tong Nian). Shangyan mengabaikan kakek dan asyik memberi instruksi pada bibi Zhao. Dia juga sudah mencatatkan nomor telepon toko hewan untuk bibi Zhao. Jadi, bibi Zhao bisa menelpon ke sana jika ada masalah dengan kucing.


Kakek kesal karena Shangyan mengabaikannya. Shangyan tetap asyik bicara. Dia meminta bibi Zhao untuk membantu menjaga kakek-nya juga. Bibi Zhao mengerti dan menyuruh Shangyan agar tidak khawatir.
Setelah bibi Zhao keluar, Shangyan baru bicara dengan kakek. Dia memberitahu kakek kalau dia akan keluar negeri selama seminggu dan tidak ada yang akan menjaga kucingnya. Ketika dia pulang, dia yang akan menjaga kucingnya sendiri.
Kakek malah tiba-tiba menyuruh Shangyan bersiap karena mereka sekarang juga akan ke rumah Tong Nian. Shangyan kaget. Sekarang? Tong Nian ada di asrama kampus, tidak ada di rumah.
“Dia ada di rumah selama seminggu ini,” beritahu kakek. “Aku sudah tahu mengenai apa yang terjadi di antara kalian berdua.”
“Tahu apa?”
“Kau! Kau membuat seorang gadis menangis. Apa kau tidak merasa jahat?! Aku tidak peduli padamu lagi. Kau pantas untuk sendirian! Tapi, jangan pergi dan menyakiti orang lain,” omel kakek. “Ayo! Kau mau aku marah lagi?!”
“Barusan kau yang bilang kalau aku pantas untuk sendirian. Kenapa aku harus pergi?”
“Aku salah, okay,” akui kakek. Baru juga ngomong, nggak sampai semenit kakek sudah mengaku salah.
Kakek benar-benar terkadang bicara kelewatan pada kakek. Dia menyebut kalau sifat Shangyan sangat buruk hingga tidak mempunyai teman seorang pun. Shangyan tidak marah. Dia malah membenarkan perkataan kakek. Dia merasa kalau dia benar-benar pantas sendirian (single)!
Kakek membujuk Shangyan untuk segera berangkat bersamanya. Dia sudah membuat janji dengan ibu Tong Nian jam 8 malam ini. Tidak masalah jika Shangyan tidak mau masuk nantinya, tapi setidaknya pergi bersamanya.
Shangyan menghela nafas panjang dan akhirnya mengantarkan kakek ke depan rumah Tong Nian.
--
Mereka sudah tiba di depan rumah Tong Nian. Kakek menyuruh Shangyan untuk tidak turun dari mobil terlebih dahulu karena ada yang mau di bicarakannya. Dia meminta agar mereka sebagai kakek dan cucu tidak lagi bertengkar dan berdebat. Dia sudah lelah memarahi Shangyan selama bertahun-tahun. Apa Shangyan tidak bisa membuatnya untuk merasa tidak khawatir? Sebentar lagi, ibu tiri Shangyan akan menikah. Dan akhirnya, orang yang memiliki marga Han hanyalah kakek dan Shangyan.
“Aku juga tidak ingin bertengkar dengan mu,” ujar Shangyan. “Lihat lah, setiap kali kamu berteriak, aku selalu mendengarkanmu.”
Kakek menghela nafas panjang, “Tong Nian benar-benar anak yang baik. Kau harus membuka matamu.”
--
Di dalam rumah Tong Nian, ayah Tong Nian sedang berbicara dengan Zheng Hui dan ibunya. Besok ibu Zheng Hui akan menerima hasil pemeriksaannya dan kemudian mereka tinggal menunggu jadwal operasi. Zheng Hui dan ibunya benar-benar berterimakasih atas bantuan keluarga Tong Nian.
Di saat berbincang, Zheng Hui terus menatap ke arah Tong Nian yang sedang duduk di meja makan sambil memakai headphone dan sibuk dengan komputernya.
--
Shangyan dan kakek sudah mau masuk ke dalam rumah Tong Nian. Dan kebetulannya, ibu Tong Nian ternyata baru balik dari belanja dan melihat mereka di depan rumah. Dengan ramah, dia mengundang mereka untuk masuk. Tapi, ibu Tong Nian hanya ramah pada kakek, tidak pada Shangyan.
Saat kakek sudah masuk ke dalam rumah, Ibu Tong Nian mengajak Shangyan untuk bicara berdua dengannya.  


Di dalam, Tong Nian menyambut kedatangan kakek dengan ramah. Dia kaget dengan kedatangan kakek karena dia tidak di beritahu sebelumnya. Kakek juga bertemu dengan Zheng Hui dan kakek. Ayah Tong Nian tentu memperkenalkan mereka. Awalnya, kakek bersikap ramah, tapi saat tahu nama Zheng Hui dan juga kalau mereka teman sekampus. Sikap kakek langsung berubah drastis. Berubahnya itu jadi agak dingin gitu. Takut calon cucu menantu di rebut orang.
--
Di luar, ibu Tong Nian bicara dengan serius pada Shangyan. Sebagai seorang ibu, dia selalu berharap kalau putrinya bisa bertemu orang dengan pendidikan yang sama dan juga umur yang hampir imbang sebagai pacarnya. Dengan begitu, pembicaraan dan kesukaan Tong Nian dan pacarnya bisa sama.
“Aku bukan orang yang tidak bisa melupakan masa lalu. Tapi, Xiao Han, dari perspektifku, dari orang yang tahu pengalaman masa lalumu. Aku merasa, tidak akan ada orang yang tidak merasa khawatir memberikan putrinya padamu, kan,” ujar ibu Tong Nian, terdengar sadis.
“Tante, aku tidak punya apapun untuk membela masa laluku. Semua adalah kesalahanku.”
“Juga, kau jauh lebih tua dari Nian Nian. Apa kalian berdua bisa nyambung bicara? Juga, apa yang Nian Nian pelajari sekarang ini, apa yang itu sebutannya…. neural network, apa kau bisa mengerti hal itu?”
“Aku tidak mengerti mengenai bidang yang Nian Nian pelajari. Tapi, dia pernah cerita. Untuk segala keputusan yang di buat olehnya, aku akan melakukan dan menghormatinya.”
“Lalu, yang kau kerjakan?” tanya ibu Tong Nian, sinis.
“Apa maksudnya, club ku?”
“Benar. Aku adalah orang luar. Aku tidak bisa mengkritik profesimu. Aku hanya dapat menunjukkan ketidaksukaanku,” ujar ibu Tong Nian to the point. “Kenapa? Kau marah?”
“Tidak. Aku sudah terbiasa. Aku tidak pernah berharap agar orang luar dapat mengerti. Tidak di masa lalu dan tidak juga di masa depan.”
“Aku beritahu padamu, Nian Nian adalah anak yang sederhana. Ketika menyangkut hal perasaan, dia tidak pernah mengalaminya. Tapi, kau berbeda. Kau sudah berada di masyarakat cukup lama. Baik dalam pekerjaan atau cara berbicara, kau mempunyai caramu sendiri dan sangat berpengalaman. Tapi, sejujurnya saja, aku tidak suka caramu. Kau kira, aku tidak bisa melihat kelakuanmu pada Tong Nian selama makan malam tahun baru itu?” marah Ibu. “Aku tidak akan terus menyalahkanmu. Kalian berdua sudah putus kan? Di hari sebelum ulang tahun Nian Nian, kan? Dia menangis. Okay, karena sudah seperti ini, aku tidak ingin kau menggunakan perasaannya yang lembut, di saat dia tidak mampu memutuskan, untuk melanjutkan hubungan ini. Aku adalah ibunya. Dan aku tahu baik mengenainya. Semua ini harus di putuskan darimu, mengerti?!”
Shangyan tampak terpukul. Melihat ibu Tong Nian yang sangat-sangat membencinya. “Tante, seperti yang kau katakan, aku mengerti dengan jelas.”
“Aku benar-benar tidak pandai bicara. Jadi, jika ada yang salah ku katakan, maka tolong mengerti hal itu dari sudut pandang orang tua dan dari perspektif kakek. Berhenti mengganggu Nian Nian, okay?”
“Baik. Aku berjanji.”
“Karena kau sudah berjanji, aku sudah bisa lega,” ujar ibu Tong Nian.
Setelah itu, ibu baru bertanya, apakah Shangyan mau masuk ke dalam? Shangyan yang sudah melihat ketidaksukaan ibu Tong Nian padanya, tentu menolak masuk. Dia akan berjalan-jalan di sekitar saja, dan setelah kakek selesai, dia baru kembali untuk menjemput.
“Xiao Han, aku benar-benar bisa percaya padamu kan?” tanya Ibu Tong Nian, merasa ragu pada ucapan Shangyan.
“Tante. Apakah di matamu, aku benar-benar orang yang tidak bisa di percaya? Aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku janji padamu, aku tidak akan mengganggu Tong Nian lagi. Aku tidak akan mencarinya. Aku tidak akan membiarkannya memiliki perasaan cinta padaku.”
Ibu Tong Nian tidak berkata apapun, dan langsung masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Tidak mengatakan apapun! Satu katapun tidak ada!

Shangyan menghela nafas panjang. Dia membuka kotak permennya dan memakan sebuah permen. Kita tahu, itu tanda kalau perasaan Shangyan sedang kacau. Dia ingin marah, tapi entah pada siapa.
--
Di dalam, kakek dan Tong Nian bicara dengan sangat akrab. Saat ibu Tong Nian masuk, kakek langsung tanya, mana Shangyan? Tong Nian baru tahu kalau Shangyan datang dan jadi bersemangat. Ibu langsung bilang kalau Shangyan tidak mau masuk. Mungkin sedang menunggu di luar. Shangyan mungkin mengira kalau pembicaraan para orang tua akan membosankan.
Mendengar hal itu, Tong Nian langsung lari keluar. Ibu jelas menegurnya. Tapi, Tong Nian beralasan kalau dia akan mencari Shangyan, karena tidak sopan membiarkan tamu di luar.


Saat Tong Nian keluar, mobil Shangyan sudah tidak ada. Shangyan sudah pergi. Tong Nian langsung menelpon ponsel Shangyan, tapi ponsel Shangyan sudah tidak aktif. Tong Nian berjalan sampai ke ujung gang, berharap masih menemukan Shangyan, tapi nihil. Tong Nian tidak tahu kalau Shangyan ada di seberang jalan dan melihatnya.

Walau begitu, Tong Nian tidak masuk ke dalam rumahnya. Dia menunggu Shangyan kembali di depan rumahnya.
--
Xiaomi sedang berada di bar dan minum-minum sendirian. Dia mengajak berbincang bartender yang ada di sana, Louise. Dia bertanya, sudah berapa lama Louise bekerja di sini? Louise menjawab 10 tahun. Xiaomi kembal bertanya, apa selama menjadi bartender selama 10 tahun, Louise tidak pernah berpikir untuk melihat dunia dan travelling? Melakukan hal yang lebih hebat?
“Sebenarnya, menjadi bartender bukanlah hal mudah,” ujar Louise. Dia menyuruh Xiaomi mencoba minuman racikannya : campuran teh dan wine. “Rasa teh dan wine di padukan bersama. Bagaimana? Aku mengerti tapi kau tidak mengerti hal itu. Sama seperti mimpi. Setiap orang memiliki sesuatu yang mereka kejar. Hal yang lebih penting adalah menjadi bebas.”
--

Shangyan yang tidak tahu harus kemana, menelpon Xiaomi. Dia menelpon dengan ponsel yang berbeda. Xiaomi sampai mengira kalau Shangyan tukar ponsel baru. Shangyan menjawab kalau ponsel ini adalah ponsel cadangannya. Dia bertanya posisi Xiaomi dan segera menuju ke sana.
--
Shangyan tiba di bar tempat Xiaomi sedang minum-minum sendirian. Melihat Xiaomi yang sedang minum, Shangyan langsung menegur karena alkohol tidak bagus untuk pemain profesional. Xiaomi dengan santai berkata kalau sesekali tidak lah masalah. Dia sudah berada beberapa bulan di Shanghai dan belum pernah sekalipun datang ke tempat ini.
Xiaomi tampaknya sudah sedikit mabuk. Dia bercerita, membahas mengenai masa lalu. Tapi, walau dalam keadaan mabuk, dia bisa tahu kalau Shangyan sedang ada masalah. Dan Shangyan pun mulai bercerita.
“Aku tidak pernah tahu bagaimana cara mengkritik diriku. Aku selalu merasa masa lalu adalah masa lalu. Tapi, sebenarnya, semua hal absurd yang sudah kulakukan, selalu di tandai oleh orang lain. Apa kau pernah melakukan sesuatu yang buruk dan menyesalinya?” tanya Shangyan.
Awalnya Xiaomi menjawab dengan santai. Hal buruk yang sudah di lakukannya dan di sesalinya adalah mengambil uang ibunya untuk pergi ke internet café. Ibunya tidak marah padanya saat itu. Dia di besarkan dengan di manja. Tidak punya pacar. Tidak punya pekerjaan. Dan ibunya, berkata semua itu tidak masalah asalkan dia bisa tumbuh dengan sehat dan bahagia. Tapi, ada sesuatu yang di sesalinya. Yaitu saat dia pensiun. Saat itu, umur, stamina, teknik dan segala yang dimiliki berada di puncak teratas! Dan dia membiarkan emosinya mempengaruhi keputusannya. Akhirnya, semua menjadi sia-sia.
“Xiaomi. Ketika kau mengatakan ini… itu sama seperti kau menusuk pisau ke jantungku. Kau tahu itu?”
“Aku hanya bisa mengatakannya padamu. Hanya kau yang mengerti aku,” ujar Xiaomi. “Han Shangyan. Kau tahu kau sangat tidak beruntung? Lihatlah kelakuanmu dulu itu. pensiun? Banyak orang yang memiliki kemampuan di bawahmu, dan kau memilih pensiun! Kau tahu betapa banyak orang yang mendukungmu dari saat kau bukanlah apa-apa hingga menjadi Gun God. Berapa banya hati yang sudah kau kecewakan, Han Shangyan?”
“Aku tahu.”
“Kau dan aku, kita berpikir keluar saat itu adalah hal yang sangat keren, kan? Ketika kita sangat kuat, kita berhenti. itu seperi mitos! Itu bukanlah kebebasan. Kau hanya mencari mati. Terkadang, aku berpikir, apa sebenarnya tujuanku datang kembali ke Shanghai? Apa kembali adalah pilihan yang benar?” ujar Xiaomi mengucapkan semua perasaan yang sudah di pendamya selama ini.

Mendengar ucapan Xiaomi itu, membuat Shangyan merasa jengkel. Kenapa Xiaomi bicara seolah-olah depresi. Xiaomi tersulut. Terserah dia mau berkata apa, tidak ada yang boleh mengaturnya! Dia sadar kalau dia tidak cocok untuk bertanding dan itu kenyataannya!
Shangyan menghela nafas. Dia tidak tahu harus berkata. Suasana menjadi dingin dan canggung.
--

Tong Nian masih saja menunggu Shangyan di depan rumahnya. Salah seorang tetangganya yang keluar rumah, kaget melihat Tong Nian berdiri begitu di depan rumah. Tong Nian memberitahu kalau dia sedang menunggu temannya. Tetangganya menasehati Tong Nian untuk masuk ke dalam rumah karena cuaca dingin.
Tidak lama, ibu keluar. Tong Nian langsung bertanya, bukankah tadi ibunya bilang Shangyan ada di luar? Kenapa tidak ada? Ibu berpura-pura bodoh dengan bertingkah tidak tahu juga. Tadi, Shangyan memang ada di luar. Ibu berusaha membujuk Tong Nian untuk masuk karena di dalam juga ada banyak tamu. Jadi, masuk saja.
--

Ou Qiang datang dan terkejut karena ternyata Shangyan ada di sana juga. Tadi dia menelpon, dan Xiaomi tidak bilang ada Shangyan. Awalnya, Ou Qiang tidak sadar. Tapi, setelah itu, dia baru sadar kalau suasana sangat canggung. Ada masalah apa?
“Masalah emosional,” jawab Xiaomi.
Ou Qiang penasaran. Dan Xiaomi menunjuk ke Shangyan. Ou Qiang kaget, orang seperti Shangyan punya masalah emosional (hati)? Shangyan tidak menjawab dan pamit untuk pulang duluan.
--
Kakek mencoba bicara pada ibu Tong Nian di dapur. Tadikan ibu bicara dengan Shangyan, dan dia takut kalau Shangyan membuat ibu Tong Nian marah. Ibu Tong Nian menjawab tidak. Mulailah kakek memuji Shangyan di depan ibu. Ibu tampak tidak nyaman.
Kakek mulai mengatakan maksudnya. Dia berharap kalau ibu memberikan satu kesempatan lagi untuk mengenal Shangyan lebih baik. Dia sangat menyukai Nian Nian dan dia yakin kalau Shangyan akan menjaga Tong Nian dengan baik.
“Paman. Tolong berhenti menyulitkanku. Biarkan saja yang muda yang menentukan. Mari kita tidak ikut campur, ya?” ujar ibu (apa dia tidak sadar, kalau pembicaraannya pada Shangyan sama saja seperti dia sudah ikut campur dalam hubungan Shangyan dan Tong Nian. Dan apa yang kakek berusaha lakukan adalah sama dengan yang di lakukannya tadi).
Kakek mengerti. Dia tahu kalau ibu tidak menyukai Shangyan.
--
Shangyan kembali ke depan rumah Tong Nian. Dan dia sangat kaget karena Tong Nian ternyata menunggunya di depan pintu. Tong Nian tidak tahu yang terjadi dan menyapa Shangyan dengan ceria. Tong Nian berusaha keras untuk tidak peduli.
Shangyan memutuskan untuk pergi lagi. Dia memundurkan mobilnya. Tapi, Tong Nian malah berlari ke belakang mobil Shangyan dan berteria keras. Shangyan kaget dan memarahi Tong Nian karena berada di belakang mobilnya dan itu sangat berbahaya. Tong Nian tidak menjawab dan malah masuk ke kursi penumpang.
“Kenapa kau bersembunyi dariku?” tanya Tong Nian, sedih. “Semua ada di dalam. Kenapa kau tidak masuk? Atau terjadi sesuatu di club yang membuatmu tidak bahagia?”
“Katakan yang ingin kau katakan.”
“Apa ini karena Zheng Hui dan ibunya?”
“Siapa itu?”
“Pria yang kau lihat di kampusku terakhir kali.”
“Hanya orang lewat. Kenapa aku harus mengingatnya? Aku sudah lupa,” jawab Shangyan dingin.
“Meskipun kau lupa, aku tetap akan menjelaskan. Zheng Hui di besarkan oleh ibu tunggal. Ibunya sakit dan mereka tidak punya uang. Jadi, aku meminta ayahku untuk membantu mereka. Dia membawa ibunya ke Shanghai. Oh, mereka tinggal di rumahku karena tidak ada tempat di rumah sakit. Tapi, besok sudah ada. Mereka akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Penjelasan selesai.”
Walau Tong Nian sudah menjelaskan, Shangyan tetap tidak memberikan respon apapun. Tong Nian bingung sekaligus sedih. Dia mengalihkan topik dengan bertanya mengenai kucing yang di berikannya. Apakah kucing itu nurut pada Shangyan?
“Dia hampir menggigitku. Jika dia menggigitku, aku harus mendapat suntikan. Apa kau ingin menambahkan masalah?” marah Shangyan (dan sebenarnya, dia hanya berpura-pura. Itu agar Tong Nian menjauh darinya).
“Maafkan aku. Bagaimana jika kau memberikannya padaku, aku yang akan menjaganya.”
“Aku sudah membuangnya. Aku berikan pada pembantuku.”
Tong Nian sedih. Kenapa Shangyan melakukan hal begitu? Dengan ketus Shangyan menjawab kalau alasannya karena dia tidak suka kucing itu. Tong Nian dengan sedih berujar kalau saat dia memberikan kucing itu, Shangyan tidak ada bilang tidak suka. Dan juga itu binatang hidup, tapi Shangyan memberikan begitu saja pada orang lain. Bagaimana jika orang itu tidak bisa menjaga kucing itu dengan baik? Apa Shangyan bisa meminta kembali kucing itu? Dia yang akan menjaganya.
Shangyan dengan dingin menyuruh Tong Nian untuk kembali ke rumah. Tong Nian tidak menyerah. Dia berusaha membuat Shangyan tidak marah lagi. Dia akan membuatkan Shangyan game code sebagai permintaan maaf.
“Aku suka sendirian,” tegas Shangyan. “Moodku tidak baik. Aku tidak ingin bicara,” ujarnya dengan dingin dan membuka pintu mobil agar Tong Nian keluar. “Kembali!”
Hati Tong Nian terluka. Dengan kecewa, Tong Nian keluar dari mobil Shangyan. Walau begitu, sebelum masuk ke dalam rumah, Tong Nian tetap melambai dan memaksakan semburat senyum.
Sebenarnya, Shangyan juga merasa terluka melakukan hal seperti itu pada Tong Nian. Tapi, dia sudah berjanji pada ibu Tong Nian.
--
Kakek sudah pulang. Ayah dan ibu bersiap tidur. Dan ibu merasa tidak nyaman. Dia bercerita pada ayah kalau dia tadi bicara pada Shangyan. Dia sudah lama menjadi guru dan belum pernah bicara kasar pada siapapun. Walau dia merasa tidak nyaman karena sudah bicara kasar pada Shangyan, tapi dia tetap merasa kalau Shangyan tidak cocok untuk Tong Nian dari segi manapun. Entah dari pendidikan, umur, masa lalunya dan sikapnya! Tidak ada yang cocok untuk Tong Nian.

Ayah nampak tidak setuju dengan ibu. Ibu bisa merasakannya. Eh, ayah langsung memasang wajah ceria dan berkata kalau dia selalu setuju dengan ibu. Mereka ada di pihak yang sama.
“Tapi, aku merasa ketika aku bicara dengan anak itu tadi, aku sedikit kasar. Aku takut dia tidak bisa menerimanya.”
“Aiyo. Dia pria 30 tahun. Kau hanya berkata beberapa hal yang kasar dan dia tidak bisa menerimanya? Apakah dia tidak punya kesabaran psikologi? Kau hanya berpikir berlebiha saja. Berhenti khawatir. Mari tidur saja.”
--

Kakek tampak muram. Dia menonton tv di ruang tamu bersama Shangyan. Eh, nonton dengan tenang, malah membuat kakek tidak senang. Dia menyuruh Shangyan bicara sedikit dengannya. Shangyan tidak bicara dan pergi membuatkan teh untuk kakek.
Setelah meminum teh buatan Shangyan, kakek mulai mengomeli Shangyan. Harusnya, dulu dia mengunci Shangyan di kamar dan membuat Shangyan terus belajar. Akan sangat baik kalau Shangyan bisa sedikit saja mirip seperti mendiang ayah Shangyan. Ayah Shangyan sangat pintar. Dia tadi bicara dengan ibu Tong Nian. Dan dia bisa tahu kalau ibu Tong Nian tidak suka pada Shangyan.
Untung Wu Bai pulang. Kakek langsung senang dan mengajak Wu Bai nonton bersama. Shangyan memanfaatkan moment itu untuk pergi ke kamar.
“Bukankah kau menderita radang usus buntu dan ingin aku membawamu ke rumah sakit?” tanya Wu Bai, sekaligus mengingatkan (awalnya, Wu Bai nanyanya bisik. Tapi, Shangyan nggak dengar dan suruh Wu Bai bicara keras).
“Kau percaya yang ku katakan?” gumam Shangyan. “Kau lihat kakek sangat suka padamu. Temani dia. Aku pergi dulu.”
Kakek semakin kesal pada Shangyan.
--

Shangyan ternyata kembali ke K&K. Shangyan membuka aplikasi NetEase music. Dia membuka akun Tong Nian. Dia sudah benar-benar menyukai Tong Nian. Dan karena itu, dia tidak tahu harus bagaimana sekarang.



4 comments:

  1. Kasihan shangyan..Lanjut kak..smngt trus..

    ReplyDelete
  2. Kasihan shangyan..Lanjut kak..smngt trus..

    ReplyDelete
  3. lsnjt mbk semangat shangyang...yg malang

    ReplyDelete
  4. episode tersedih ... heran mama-e isah kayak getu, Gun tampak sedih banget ... kacian @__@

    ReplyDelete