Sinopsis Lakorn : Endless Love Episode 3 - part 1


Numpang Iklan Sejenak, All ðŸ˜Š
Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.

Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.
***

Sinopsis Lakorn : Endless Love Episode 3 - Part 1
Network : GMM 25

Day dengan lembut membangunkan Min yang tertidur di depan galeri. Namun Min tidak mau bangun, karena dia merasa sangat patah hati. Dan dengan perhatian, Day merapikan rambut Min, lalu dia menyandarkan kepala Min di bahu nya. Bahkan dia menlapkan air mata yang mengalir di pipi Min.
“Min, jangan buka matamu dulu. Aku ingin melihat wajah mu lebih lama,” pinta Day, berharap di dalam hatinya sambil memandangin wajah Min.

Day menelpon Phon, dan memberitahukan bahwa Min sedang tertidur di depan galeri, jadi bisakah Phon datang untuk menjemput Min. Dan Phon langsung menjawab tidak bisa, karena ada pasien yang harus dia urus, bahkan jika dia pergi menjemput Min sekarang, Min tidak akan mau, jadi dia ingin Day membawa Min pulang ke rumah.
“Tapi, kamu adalah pacarnya,” kata Day, menolak.
“Aku mempercayaimu,” balas Phon.

Day menjelaskan kalau tampaknya Phon salah paham, dia dan Min hanyalah teman saja. Dan Min sangat menyukai Phon. Tapi Phon tidak peduli, menurutnya yang terpenting adalah perasaan Day kepada Min. Lalu kemudian dia mematikan telpon. Dan mengirimkan lokasi rumah Min.
Phon menggelengkan kepala pelan, seperti merasa lelah. Lalu dia masuk ke dalam ruangannya.
“Apa ini?” gumam Day, heran karena Phon seperti itu.
“P’Phon tidak mencintai ku,” jawab Min yang sudah terbangun.
Day membelikan minuman, dan menyuruh Min untuk meminumnya. Dan Min pun menerima minuman itu, lalu dia menanyakan bagaimana bisa Day berada di sini.
“Singkatnya, kamu mabuk, salah telpon ke nomor yang salah, dan itu aku. Jadi aku datang menemukan kamu terbuang di depan galeri. Kemudian aku membawa mu pulang. Aku menunggu kamu untuk sedikit sadar,” jelas Day.
“Bagaimana kamu tahu aku tinggal disini?” tanya Min, curiga.
“Aku menelpon P’Phon,” jawab Day.
Min mengeluh bahwa Day tidak seharusnya melakukan itu. Dan dengan heran, Day memberitahu bahwa dia telah menceritakan semuanya kepada Phon. Mengetahui itu, Min mengeluhkan, apa yang akan Phon pikirkan tentang dirinya sekarang, Phon pasti akan berpikir dia pemabuk dan Phon tidak akan mencintai nya.

“Yang terjadi biarlah terjadi. Dengarkan, kamu lebih baik menghentikan perasaan mu unutknya. Bahkan walau aku memberitahu dia bahwa kamu benar- benar mabuk, dia tidak peduli sedikit pun,” jelas Day, menasehati.
“Hey! Kamu pikir kamu siapa? Bagaimana bisa kamu menghakimin nya seperti itu? Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk  berhenti menyukainya? Kamu tidak punya hak untuk melakukan itu. Tidak,” balas Min, membela Phon nya.

Mendengar itu, Day tampak tidak suka. Min kemudian bertanya, apakah mungkin Day menyukainya. Dan Day langsung menyangkali nya dengan gugup. Tapi Min sangat yakin kalau Day pasti beneran suka kepadanya, karena Day membutuhkan uang, dan dia memiliki uang. Jadi intinya, Day tidak perlu berharap untuk mendapatkannya, karena dia hanya merasa kasihan kepada Day.
Min kemudian mengembalikan minuman yang Day berikan, dan pamit pulang. Tapi karena masih sedikit mabuk, maka ketika Min berdiri, dia pun langsung terjatuh. Lalu dia menangis dengan keras.

Mendengar itu, Day diam tanpa mau memandang Min. Dia membiarkan Min untuk menangis dengan keras.
Mungkin karena perkataan Min barusan, maka Day tampak sangat bad mood. Dia duduk dipinggir jalan sambil meminum sekaleng minuman. Dan merenungkan kehidupannya.
Pagi hari. Theep sarapan sambil bermain pesawat kertas yang dibuatnya menggunakan brosur milik Min. Kemudian Day datang bergabung di meja makan. Melihat buah- buah diatas meja, Day pun bertanya berapa harga buah itu.
“Mereka murah. Aku mendapatkan setengah harga saat membelinya,” kata si pengasuh, membuat kebohongan.

“Kamu menemukan orang yang bersedia untuk memperbaiki rumah. Kamu juga mendapatkan makanan enak untuk Ayah ku. Terima kasih, bi. Tapi kamu tidak perlu melakukan apapun sekarang, aku merasa tidak enak merepotkanmu,” jelas Day. Dan si pengasuh pun mengiyakan dengan gugup.

Day kemudian mengingatkan Ayahnya untuk menghabiskan sarapan dulu, lalu baru bermainnya. Dan Theep mendengarkan, dia melemparkan pesawat kertas nya kepada Day, lalu memakan sarapannya.
Melihat pesawat kertas itu, si pengasuh merasa terkejut. Tapi Day sudah keburu mengambil dan melihat nya. Lalu dengan gugup, dia pun beralasan bahwa dia harus membawa masuk baju di luar, karena tampaknya sudah akan hujan.
“Bibi, aku ingin tahu apakah Min ada datang ke sini?” tanya Day, menghentikan si pengasuh agar tidak beralasan dan melarikan diri.
“Aku tidak tahu apapun! Dia hanya menyuruhku untuk tidak memberitahu mu bahwa dia ingin membantu. Dia bilang dia perbuat salah kepadamu. Jadi dia ingin melakukan sesuatu untuk membalas mu kembali. Itu saja,” teriak si pengasuh, menjelaskan semuanya dengan jujur. Karena sudah ketahuan.
“Jadi.. buah ini.. perbaikan rumah.. semuanya dari dia?” tanya Day, tegas.
“Benar. Siapa lagi yang bisa?” balas si pengasuh.
Day mengingat kembali perkataan Min semalam kepadanya.
Karena aku mempunyai uang. Sejak aku melakukan banyak hal baik kepadamu. Kamu mungkin berpikir untuk menembak ku. Mr. Rawee Liangtagoon, itu hanya karena kamu miskin, dan aku merasa kasihan padamu,” kata Min.

Day dengan kesal, meremas brosur milik Min. Lalu dia berteriak marah kepada si pengasuh yang telah membohonginnya. Kemudian dia pun pergi begitu saja.

“Mengapa dia mengambil pesawat ku?” tanya Theep sambil memakan buah- buahan yang ada di atas meja. Tapi si pengasuh tidak menjawab, karena dia merasa sangat bersalah serta terkejut dengan teriakan Day padanya barusan.
Min merasa sangat senang, ketika mendapat kabar bahwa ada seseorang yang ingin membeli lukisan nya. Dan dengan segera dia pun mengemudi ke galeri.


Sesampainya di galeri. Min terkejut, karena ternyata orang yang datang untuk membeli lukisannya adalah Day. Dia marah, tapi kemudian saat melihat wajah Day yang penuh dengan luka dan memar, dengan perhatian dia menanyakan apa yang terjadi.
“Itu bukan urusanmu. Jual lukisan mu padaku,” kata Day.
“Apa kamu punya uang? Aku tidak bermaksud menghina kamu. Dan aku minta maaf untuk apa yang aku katakan hari itu. Aku benar- benar minta maaf,” jelas Min.
Day mengabaikan Min. Dia mengeluarkan uang yang di milikinya, dan dia melemparkan uang berjumlah 100.000 baht itu ke hadapan Min.

Uang itu hasil dari pertarungan yang di lakukan nya. Hasil dari membiarkan dirinya dipukuli dan di kalahkan pada ronde ke lima.

“Berikan aku lukisan bernilai 100.000 baht sekarang,” kata Day, tegas.
“Ambil kembali uang mu. Aku tidak akan menjualnya padamu,” balas Min.
“Mengapa? Bukankah orang kaya suka menggunakan uang untuk membayar rasa bersalah mereka?” tanya Day, sedikit kasar. Dan Min pun langsung menamparnya. Kemudian Day terjatuh dan pingsan.
Min terkejut, ketika Day tiba- tiba saja pingsan di depan nya. Dia menguncang dan memanggil- manggi nama Day dengan cemas.
Di depan ruang UGD. Min menunggu dengan cemas. Lalu ketika Phon keluar, Min langsung menanyakan bagaimana keadaan Day. Dan Phon memberitahu bahwa tidak ada yang serius, tubuh Day cuma terlalu kelelahan. Jadi setelah selesai di infus, Day sudah boleh pulang. Mendengar itu, Min merasa sangat lega.
“Min, apakah Day terlibat pertarungan dengan seseorang? Luka diwajahnya jelas bukan karena satu pukulan saja,”  kata Phon, bertanya.
“Aku juga tidak tahu. Tapi ini bukan pertama kalinya, aku melihat dia seperti ini,” jawab Min, khawatir.

Phon menyadari kekhawatiran Min, jadi dia pun mencoba bercanda. Dia bertanya, apakah karena Day ketahuan selingkuh, makanya Min memukulinya. Dan Min langsung menjawab tidak, karena Day bukanlah pacarnya. Jadi Phon tidak perlu memaksa nya, cuma karena Phon tidak ingin menikahi nya.
“Jangan khawatir sekarang. Aku sudah berakhir denganmu. Benang merah kita sudah dipotong,” jelas Min, serius. Dan Phon tertawa kecil, lalu dia pergi.

“Dari sekarang, aku akan mencoba memikirkan kamu sebagai kakak ku, seperti yang kamu inginkan,” gumam Min dengan sedih, tapi berusaha untuk bersikap tegar.
Tepat disaat itu, Day secara diam- diam keluar dari ruang UGD, dan pergi melalui tangga darurat. Sehingga Min tidak menyadarinya.
Ketika Min masuk ke dalam ruangan, dan melihat Day tidak ada disana. Dia langsung bertanya kepada perawat. Dan si perawat pun juga tidak tahu. Dengan cemas, Min pun segera pergi mencari Day.
Min memanggil Day, dia mengingatkan bahwa Day tidak bisa keluar dari rumah sakit seperti ini, jika tidak maka Day akan mati. Dan Day tidak peduli, ini adalah hidupnya jadi Min tidak perlu ikut campur.

“Pikirkanlah. Jika kamu mati, bagaimana Ayahmu hidup?” kata Min, menasehati dengan kesal, karena Day begitu keras kepala.
“Aku pasti terlihat sangat menyedihkan untuk mu, kan? Ya, aku miskin. Ayahku pikun. Tapi kamu tahu apa? Bahkan walau aku tidak memilikii uang, aku  masih memiliki harga diri. Kamu diam- diam menolongku, dan menyuruh semua orang agar tidak memberitahu ku. Tapi ketika kamu kesal, kamu menertawakan aku dan mengatakan aku menginginkan uangmu,” jelas Day, menluapkan kekesalan nya.

Min menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud begitu, dan dia meminta maaf. Dia mengakui kalau dia merasa bersalah, karena telah membuat Day membayar baju nya, sehingga Ayah Day hampir mati di dalam kebakaran. Jadi dia pun ingin melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya, karena dia sadar kata maaf saja tidak cukup. Lalu hari dia mabuk, dia tidak bisa mengingat apapun, tapi dia tidak bermaksud berkata kasar dan memandang rendah Day, jadi dia pun meminta maaf untuk itu juga.
Mendengar itu, Day mengerti dan melembut.

Phon datang di saat itu, tapi karena melihat Min sedang berbicara dengan Day. Maka dia pun berhenti berjalan, dan tidak jadi mendekat.

Day meminta maaf, karena telah salah paham kepada Min. Mendengar itu, Min terdiam, tapi kemudian dia berteriak, karena dahi Day yang luka kembali mengeluarkan darah.
“Cepat kembali ke dalam dan perban luka mu,” kata Min, cemas.


Day menlap luka nya itu dengan tangan. Kemudian dia memasukan kepalanya ke dalam mobil Min untuk mengambil tissue yang tampak di samping Min.
Phon terkejut melihat itu. Dari sudut pandang nya, Day tampak seperti sedang berciuman dengan Min di dalam mobil. Dan dia mengepalkan tangannya seperti marah. Kemudian dia pun pergi darisana.

Ketika wajah Day berada tepat di depan wajah nya. Min menutup matanya dengan perasaan gugup. Namun dia kembali membuka matanya, saat Day ternyata hanya ingin meminta dan mengambil tissue yang berada di sebelahnya.
“Mengapa kamu menutup mata mu?” tanya Day, menggoda.
“Ada sesuatu masuk ke mataku,” jawab Min, berbohong.

“Benarkah? Kamu tidak berpikiran aku akan mencium mu, kan?” balas Day. Dan mendengar itu, Min langsung menaikan kaca mobil nya sambil memegang kerah kemeja Day supaya Day tidak bisa keluar, sehingga kepala Day pun terjepit.
“Aku tidak akan melepaskan mu. Sampai kamu setuju lukamu di obati. Kembalilah ke rumah sakit,” jelas Min, tegas.
“Okay. Aku akan pergi. Lepaskan aku,” balas Day, memohon. Dan Min pun langsung melepaskannya dan menurunkan kaca mobilnya sambil tersenyum manis.
“Tunggu aku disini. Aku akan memakirkan mobilku,” kata Min, memperingatkan. Dan Day pun menunggu nya disana.
Setelah Day selesai di obati, Min mengantarkan Day pulang. Day mengatakan bahwa Min tidak perlu mengantarkannya, karena dia merasa tidak enak. Dan Min membalas agar Day jangan merasa tidak enak, karena mereka adalah teman sekarang, serta Day tidak perlu memanggil nya dengan formal lagi.

“Bagaimana aku harus memanggil mu kemudian? Nona Wanvela?” tanya Day.
Min tertawa mendengar itu. “Apa kamu ingin nama terakhir ku juga?”
“Apa nama terakhirmu?” balas Day. Dan Min menjawab bahwa dia hanya bercanda.
Min kemudian memutuskan bahwa mulai sekarang dia akan memanggil Day dengan sebutan P’Day, karena Day lebih tua 2 tahun dari  nya. Jadi dia menghormati Day sebagai senior nya. Mendengar itu, Day tertawa.
“Lucu, kan?” tanya Min, tertawa juga.
“Lihat jalan. Kamu sedang menyentir,” balas Day.
Dirumah Day. Min ikut makan bersama dengan Day serta Theep. Tapi saat makan, Theep tiba- tiba berhenti makan, dengan alasan dia tidak lapar. Dengan perhatian, Day pun membujuk Ayahnya untuk makan, karena Theep baru makan beberapa suap saja, dan Theep menolak.

Min kemudian ikut membujuk Theep. “Ayolah, paman. Kamu tidak mau makan, karena sebenarnya kamu sudah makan sebelum kami datang, kan? Jadi kamu berbohong bahwa kamu tidak lapar lagi,” kata Min, memancing Theep.
“Tidak. Aku tidak berbohong. Aku tidak ada makan,” balas Theep, terpancing.
“Benarkah?” tanya Min, pura- pura tidak percaya. Lalu dia mengambil nasi Theep yang tersisa dan memberikannya kepada Day.

Tapi Theep langsung merebut piringnya kembali. Dan dengan perhatian, Min pun menaruhkan banyak lauk di piring Theep. Lalu dengan bersemangat, Theep memakan makanan nya. Melihat itu, Day tersenyum senang.

***
Numpang Iklan Sejenak, All ðŸ˜Š
Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.

1 Comments

Previous Post Next Post