Tuesday, August 27, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 20

6 comments

Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 20
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Xiaomi pun dengan sedih bercerita kalau selama beberapa tahun ini, dia hanya berada di rumah. Xiaomi sebenarnya merasa malu karena berbeda dengan Shangyan yang telah menjadi sukses, dia masihlah bukan apa-apa. Yaya yang dapat merasa kalau Xiaomi merasa minder, menyemangati dengan berkata kalau Xiaomi masih bisa bertanding dan masih mempunyai kemampuan.

Xiaomi memberitahu kalau dia dulu mempunyai pendapat yang sama. Kalau Team SOLO di bubarkan, maka tidak ada gunanya untuk bertahan. Dan karena itu, dia juga menghilang.
“Kalau gitu, alasan kenapa kau kembali adalah untuk Team Solo kan?”
“Aku tahu selama ini Solo merasa bersalah. Ketika aku kembali, perasaannya mungkin bisa lebih tenang. Dan di saat yang sama, ini juga demi diriku sendiri. Aku merasa ini seperti tanda untukku.”
Dan Xiaomi menyuruh agar mereka tidak berbicara seolah dia sedang di interview. Yaya dengan gugup berkata kalau sebenarnya, sekarang ini, dia sedang merasa sangat gugup bicara berdua dengan Xiaomi. Dia menyukai Xiaomi. Maksudnya, suka sebagai fans.

Dan karena Xiaomi masih ragu kalau dia adalah fans Xiaomi, maka Yaya menunjukkan komunitas fans Xiaomi. Dan juga para fans yang sangat loyal pada Xiaomi, walaupun mereka tidak sebanyak fans Shangyan. Mendengar semua itu, Xiaomi merasa lebih tenang di saat yang sama juga senang.
--

Shangyan dkk beserta Tong Nian dan Yaya menghabiskan waktu dengan bermain game bersama di ruang tamu. Mereka benar-benar bersenang-senang.

Selesai bermain game, mereka pergi piknik ke taman. Dan ternyata ini adalah pertama kalinya Shangyan melakukan piknik. Dan di piknik tersebut, Tong Nian bicara dari hati ke hati dengan Shangyan. Dia memulainya dengan bertanya, apa Shangyan tahu apa mimpinya? Shangyan tidak tahu. Tapi, Tong Nian tahu apa mimpi Shangyan.
“Sebenarnya, aku ingin bilang padamu untuk membuka hatimu. Dan sisakan beberapa tempat untuk dirimu sendiri… dan aku. Sebenarnya, apa yang paling ingin kulakukan adalah berada di sini, sekarang. Coba pikirkan. Hanya kita berdua yang berdiri di sini. Menikmati sore yang santai, menikmati angin yang bertiup,” ujar Tong Nian.


Tong Nian memenjamkan mata dan menggandeng tangan Shangyan. Shangyan mengikuti apa yang Tong Nian lakukan. Menikmati alam dan menikmati waktu mereka berdua. Tong Nian tersenyum manis saat melihat Shangyan melakukan apa yang di lakukannya.
--
Acara selesai.
Shangyan mengantarkan Tong Nian dan Yaya kembali ke kampus mereka. Sebelum masuk ke dalam kampus, Tong Nian mengingatkan Shangyan agar mencarinya jika punya waktu. Shangyan malah membalas dengan menyuruh Tong Nian belajar baik-baik dan jangan terus memikirkan cinta.

Tong Nian mengabaikan ucapan Shangyan. Sebaliknya, dia malah memamerkan kalung hadiah Shangyan yang di pakainya menjadi gelang. Dia akan selalu memakainnya. Shangyan tersenyum, apalagi saat Tong Nian berkata kalau dia menyukai kalung itu. Shangyan menasehati Tong Nian agar menjaga kalung itu baik-baik dan jangan sampai  menghilangkannya. Tong Nian jadi khawatir, apakah kalung ini mahal.
“Tidak. Aku membelinya dari toko pinggir jalan,” bohong Shangyan.
“Tidak apa. Aku tetap menyukainya walaupun ini di beli dari toko pinggir jalan,” ujar Tong Nian dengan riang.
Yaya juga pamit pada Xiaomi. Jika Xiaomi memerlukan apapun, Xiaomi bisa menghubunginya.
--
Tong Nian dan Yaya berjalan menuju asrama dengan hati riang. Apalagi Yaya, yang telah berteman dengan Xiaomi di WeChat. Mereka benar-benar senang hari ini.
--
Shangyan mengantarkan Ou Qiang dan Xiaomi ke kantor SP. Setelah sampai, Ou Qiang menyuruh Shangyan turun dan ikut masuk ke dalam. Shangyan jelas menolak. Ou Qiang tidak memaksa dan hanya menyuruh Shangyan agar tidak menjadi penyendiri, dan hubungilah mereka sesering mungkin.
--

Esok hari,
Zheng Hui sudah menunggu Tong Nian di depan kelas Tong Nian. Dia tampak panik. Dan begitu kelas Tong Nian selesai, Zheng Hui langsung bicara pada Tong Nian. Dia mendengar kalau ayah Tong Nian adalah dokter di rumah sakit hati. Ibu Zheng Hui membutuhkan transplantasi hati.
Tong Nian langsung menenankan Zheng Hui. Dia menyuruh Zheng Hui membawa ibunya ke Shanghai untuk di periksa. Dan dia akan mengirim pesan pada ayahnya dulu. Mungkin ayahnya lagi melakukan operasi sekarang dan tidak melihat pesannya. Tapi, kalau ayahnya sudah melihat pesannya, ayahnya pasti langsung membalas.
Zheng Hui benar-benar berterimakasih atas bantuan Tong Nian. Tong Nian menyuruhnya untuk tidak sungkan begitu.
--

Bibi Tong Nian datang ke rumah Tong Nian dan berbincang dengan ibu. Dia membahas mengenai cucu tertua keluarga Han (Han Shangyan) yang pasti di manja oleh ibu tirinya. Ibu Tong Nian sebenarnya tidak mau membicarakan orang. Tapi, bibi Tong Nian tidak mau mengerti dan terus membicarakan Shangyan secara negatif. Dia juga memberitahu kalau ibu Shangyan sudah meninggal sejak Shangyan masih muda, kemudian ayahnya menikah lagi sehingga dia mendapatkan ibu tiri. Tapi, tidak lama kemudian, ayahnya pun meninggal dunia. Bukankah Shangyan sangat kasihan? Untungnya, ibu tirinya memperlakukan Shangyan dengan sangat baik. Ibu tirinya sangat memanjakan Shangyan. Tapi Shangyan, sejak masih muda hingga sekarang sangat pelawan. Semakin kau tidak ingin dia melakukan sesuatu, semakin dia ingin melakukan sesuatu. Tidak ada yang bisa mengaturnya. Setelah wisuda, Shangyan memulai perusahaan, bilang ingin memulai bisnis. Dan karena itu, dia menasehati ibu agar menyuruh Tong Nian membuat keputusan bijak untuk pacaran atau tidak dengan Shangyan.
“Tidak perlu. Mereka sudah putus,” beritahu ibu. Ibu belum tahu kalau Shangyan dan Tong Nian sudah kembali rujuk. “Oh ya. Masalah ini… Nian Nian sangat terluka. Jadi, jangan pernah menyebutkan mengenai Shangyan di hadapan Nian Nian.”
Eh, bibi malah semakin menggosip. Dia malah menduga kalau Shangyan selingkuh dari Tong Nian. Dan dia juga kepo, bertanya, haruskah dia membicarakan hal ini pada kakek? Ibu jelas melarang.
--
Tong Nian membawa Zheng Hui ke rumahnya untuk bertemu ayahnya. Begitu masuk, Tong Nian memperkenalkan Zheng Hui pada ibu dan bibinya. Ibu sudah mengenal Zheng Hui dengan akrab dan menyuruh Zheng Hui untuk duduk di sebelahnya. Tong Nian langsung memberitahu kalau dia ingin membawa Zheng Hui bertemu ayah. Ayah kebetulan ada di ruang kerja.
Setelah Zheng Hui dan Tong Nian pergi, ibu langsung memuji Zheng Hui di depan bibi.  Walaupun keluarga Zheng Hui miskin, tapi Zheng Hui adalah anak yang sangat sopan dan juga bertemperamen baik. Yang lebih penting, Zheng Hui sangat termotivasi. Bibi langsung menggoda ibu yang tampak seperti sedang memuji calon menantu.
--
Ayah sudah mendengar mengenai sakit ibu Zheng Hui. Dan karena itu, ayah menyuruh Zheng Hui membawa ibunya ke Shanghai, ke rumah sakit mereka untuk di periksa lebih lanjut. Dan karena mereka dekat, dia akan membantu mengurus segala sesuatunya.
Diam-diam, Tong Nian mengirim pesan memberitahu kondisi keluarga Zheng Hui. Keluarga Zheng Hui cukup susah. Ibunya hanya tinggal sendirian. Dan untuk kuliah, Zheng Hui harus melakukan pinjaman. Untuk datang ke Shanghai dan melakukan pemeriksaan, pasti akan butuh waktu lebih dari sehari. Tinggal di hotel, biayanya pasti akan sangat berat.

Ayah yang membaca pesan Tong Nian, jadi mengerti. Dia berkata pada Zheng Hui, kalau ibu Zheng Hui ke Shanghai, ibu Zheng Hui bisa datang dan tinggal di rumah mereka.
Zheng Hui jelas merasa tidak enak. Dia menolak. Ayah berkata kalau Zheng Hui dan Tong Nian adalah teman kuliah dan juga pernah pergi bersama untuk mengikuti kompetisi. Dan ketika ibu Zheng Hui datang ke Shanghai, tentu pasti akan merasa tidak familiar, dan tentu saja mereka harus membantu. Tong Nian membenarkan.

Ayah lanjut berkata, kalau ini juga bisa di anggap balas jasa karena saat kompetisi di luar kota dulu, Zheng Hui sudah mau membantu menjaga Tong Nian. Jadi, giliran mereka membantu menjaga ibu Zheng Hui yang datang ke Shanghai.
Hati Zheng Hui menjadi lebih lega. Dia berterimakasih atas bantuan keluarga Tong Nian.
--

Shangyan sedang teleponan dengan Nan Wei. Sepertinya, Su Cheng harus kembali lebih cepat ke Norway. Karena di telepon, Shangyan meminta Nan Wei memberikannya waktu setidaknya 6 bulan untuk serah terima pekerjaan. Nan Wei setuju.
Nan Wei malah membahas mengenai ibu tiri Shangyan yang akan segera menikah. Apa Shangyan berencana membawa pacar Shangyan ke sana? Shangyan menyuruh Nan Wei untuk tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Nan Wei meminta agar Shangyan membawa pacarnya ke Norway karena mereka semua penasaran dengan pacar Shangyan.
Shangyan jujur kalau dia belum lama pacaran dan belum terbiasa memperkenalkan pacarnya. Setelah semua matang, dia pasti akan membawa pacarnya ke sana. Dia janji.
Dan teleponpun akhirnya selesai.
--
Entah beberapa hari sudah berlalu.
Ibu Zheng Hui akhirnya tiba di Shanghai dan langsung di bawa ke rumah Tong Nian. ibu Tong Nian sangat menyambut ibu Zheng Hui. Ibu Zheng Hui yang merasa sungkan harus menginap di rumah mereka dan pasti hal itu merepotkan. Ibu berkata kalau semua itu tidak masalah. Anak mereka kan adalah teman baik.
Setelah memperkenalkan ibu Zheng Hui pada ibu, Tong Nian menunjukkan kamar tamu dimana ibu Zheng Hui akan tinggal.

Setelah itu, Tong Nian sibuk mengangkat baju jemuran. Ibunya segera menemui dan berbasa basi bertanya, bukankah Zheng Hui pandai sekarang? Setelah berkata seperti itu, ibu berkata kalau Zheng Hui tidak buruk. Dan dia ingin mengundang Zheng Hui untuk lebih sering datang ke rumah mereka. Tong Nian langsung berkata kalau hal seperti itu tidaklah pantas karena bagaimanapun Zheng Hui adalah pria.
Ibu malah berkata kalau ini hanya interaksi sosial. Tong Nian tetap menolak. Bagaimana jika nantinya orang-orang malah salah paham?  Ibu langsung beralasa kalau dia kan bekerja sebagai guru, dan dia menyukai tipe anak seperti Zheng Hui yang adalah tipe murid baik.
“Kalau gitu, ibu suka pada Han Shangyan?” tanya Tong Nian, tiba-tiba.
“Apa kalian masih berhubungan?!” tanya ibu dengan ketus. “Lihat, kalian sudah putus. Berhenti saling menghubungi satu sama lain. Dan juga, sedikitpun aku tidak menyukainya!”
“Kenapa? Kenapa ibu tidak menyukainya?”
“Kenapa?! Dia selalu bertingkah seperti itu. Seperti orang-orang berhutang padanya. dan melihat orang lain tanpa tersenyum. Dan juga, aku merasa dia tidak bisa di percaya.”
“Ibu sudah salah paham padanya. Dia sebenarnya orang yang sangat baik. Terhadap saudaranya, dia sangat loyal dan tulus.”
Ibu tetap pada pendapatnya mengenai Shangyan. Dia malah menilai Tong Nian yang masih anak-anak dan tidak mempunyai pengalaman hidup. Tong Nian melihat sesuatu terlalu positif. Baginya Shangyan tidak baik. contohnya saja saat makan malam tahun baru, setelah di paksa, Shangyan baru bilang kalau Tong Nian adalah pacarnya. Hari selanjutnya, ketika Shangyan datang berkunjung untuk pertama kali, Shangyan tidak menyiapkan apapun dan secara asal hanya membeli buah di toko ujung jalan. Apa itu yang di sebut tulus? Itu namanya acuh!
“Ibu, cukup!” marah Tong Nian.
“Untunglah kau putus dengannya. Dia itu tidak akan mendapat restu dari ayahmu dan…”
“Cukup! Aku kan sudah bilang cukup,” ulang Tong Nian.
“Dia sudah hampir 30 tahun. Apa yang belum di lihatnya? Tong Nian, kau terlau naif. Jangan percaya apapun yang di katakannya. Nantinya, kau pasti akan bertemu lebih banyak orang dan orang-orang yang lebih baik. Jangan khawatir, okay? Kau pikirkan apa yang ibu katakan. Okay?”
Dan setelah ceramah panjang itu, ibu baru pergi. Tong Nian pun menghela nafas panjang.
--
Saat kembali ke asrama, Tong Nian bicara dengan Yaya. Dia merasa kalau Shangyan sangat kasihan. Semua orang tidak suka padanya. Dan dia merasa bersalah akan hal itu. kakeknya, bibi dan orang tua Tong Nian. Ibunya terus bicara hal buruk mengenai Shangyan.
“Aku akan memperlakukannya dengan baik. Aku ingin memberikan seluruh dunia padanya. dia sangat suka pekerjaannya dan dia seorang gila kerja. Bagaimana caranya membuatnya bahagia? Aku tidak tahu cara membuatnya bahagia,” ujar Tong Nian.
Dan Yaya pun ikut membantu Tong Nian berpikir.
--
Solo bicara pada Xiaomi. Dia meminta Xiaomi menunggu selama 6 bulan, dan dia pasti bisa membawa Xiaomi kembali ke dalam team. Tapi, untuk kompetisi tahun ini, Xiaomi tidak bisa ikut. Xiaomi mengerti akan hal itu. Itu sudah putusan atasan juga, tidak ada yang bisa di katakannya.
Solo benar-benar menyesal dan meminta maaf karena membuat Xiaomi seperti ini. Xiaomi menyuruhnya untuk tidak minta maaf. Dia malah meminta Solo bicara serius padanya, kapan perubahan team-nya akan di lakukan?
Solo berkata setelah kompetisi selanjutnya. Tapi, selama peringkat Xiaomi di tahun depan bisa masuk dalam 30 besar, dia pasti akan memindahkan Xiaomi kembali ke team satu. Xiaomi menjawab, dia mengerti.
“Dapatkah aku bertanding bersama dengan Ou Qiang terakhir kalinya?” tanya Xiaomi.
Solo mengangguk. Xiaomi berterimakasih. Xiaomi kemudian meminta Solo tidak memberitahukan pada siapapun mengenai dia yang di keluarkan dari team satu sampai waktunya tiba, terutama pada Ou Qiang. Dia takut kalau hal ini akan mempengaruhi Ou Qiang dalam kompetisi. Walaupun Ou Qiang tampak ceria dan suka bermain-main, tapi hati Ou Qiang sebenarnya sangat rapuh. Solo setuju. dan Xiaomi berkata kalau dia pasti akan bermain dengan sangat bagus di pertandingan nanti.
 Selesai bicara dengan Solo, Xiaomi mendapat pesan dari Yaya : Idol, apa kau tahu Han Shangyan suka apa?
Tong Nian mengejek Yaya yang memanggil Xiaomi, “idol.” Tidak lama, Xiaomi membalas kalau dia akan mencari tahu.
Xiaomi langsung tanya ke Ou Qiang. Apa yang Shangyan sukai? Ou Qiang langsung berpikir dan menjawab kalau Shangyan suka memarahi orang. Hahahha.

Dan entah apa jawaban Xiaomi pada Yaya karena Yaya mengucapkan terimakasih dan berjanji akan mentraktir Xiaomi makan nanti.
--

Di K&K.
Grunt dan Shangyan bertanding. Pemenangnya? Tentu saja, Han Shangyan! Shangyan langsung menyuruh Grunt untuk mengurus semua kamar dan ruangan di K&K selama seminggu (dia yang membersihkan). Grunt jelas tidak bisa melawan karena dia yang nantangin Shangyan.
Demo datang dengan terburu-buru dan memberitahu Shangyan kalau ada orang yang mencari Shangyan di depan.
“Siapa?”
“Kakak ipar,” bisik Demo.
“Katakan dengan suara keras!”
“KAKAK IPAR!”
Shangyan yang jadi malu.

Tong Nian menemui Shangyan dengan membawa sebuah kotak kardus. Shangyang menghampirinya dan bertanya, kenapa Tong Nian tidak masuk? Dengan riang, Tong Nian menjawab kalau dia menunggu Shangyan dan menyiapkan sebuah hadiah. Tapi, dia baru akan membiarkan Shangyan melihat hadiahnya, setelah dia ke kamar Shangyan.

Mereka sudah tiba di kamar Shangyan. Dan Tong Nian membuka kotak kardus tersebut. Ternyata, hadiahnya adalah kucing. Dia mengadopsi kucing tersebut. Dia belum pernah merawat kucing, dan pemilik toko membuat banyak catatan untuknya. Dia akan mengirimkan catatan itu pada Shangyan.
“Tidak perlu. Aku… pernah merawat kucing,” ujar Shangyan.
Shangyan tidak tampak bahagia. Dan bahkan menyuruh Tong Nian meletakkan kembali kucing itu ke dalam boks. Tong Nian jelas bingung dengan sikap Shangyan. Apa Shangyan tidak suka dengan kucingnya?
“Kucing itu terlihat seperti kucing yang ku pelihara dulu.”
“Benarkah? Aku sudah tanya ke Mi Shaofei.”
“Mi Shaofei? Apa yang dia katakan padamu?”

Tong Nian tidak menjawab. Dan malah meletakkan kucing ke pangkuan Shangyan dan langsung kabur. Udah lari keluar, Tong Nian malah lari masuk lagi dan memeluk Shangyan dengan erat. Para anggota K&K yang lewat, jadi kepo.

Tong Nian langsung tampak malu. Dia pamit pulang, tapi sebelum pulang, Tong Nian memberitahu Shangyan kalau ada surat di dalam boks. Shangyan harus membacanya. Dan juga, ingat, untuk selalu merindukannya. Dan kemudian, secara tiba-tiba, Tong Nian mengecup bibir Shangyan. Shangyan kaget dengan ciuman tersebut, tapi juga menyukainya.


Dia masuk ke dalam kamar nya dan langsung memeluk kucing itu serta membelainya. Dan dia membaca surat yang Tong Nian tinggalkan di dalam boks : Masa lalu sudah berlalu. Di masa depan, semuanya ada. Aku juga ada. Tong Nian.
Dan ada juga foto-foto team SOLO dulu bersama kucing yang dulu Shangyan besarkan.
Itulah alasan wajah Shangyan tidak bersemangat tadi. Dia teringat saat kucing yang di besarkannya meninggal. Dan kini, Tong Nian memberikan kucing yang mirip dengan kucing-nya dulu.
--
Xiaomi datang ke kampus Yaya. Dia menunggu di tempat parkir sepeda. Dan secara kebetulan, Yaya melihatnya. Tapi, saat dia mau menyapa Xiaomi, Yaya langsung tersadar kalau penampilannya berantakan. Dia tidak boleh bertemu idolanya dengan penampilan seperti ini. Dengan kencang, Yaya berlari ke dalam asrama dan memakai make-up.
Xiaomi juga sudah mengirim pesan, memberitau kalau dia ada di kampus Yaya. Yaya segera membalas, menyuruh Xiaomi untuk menunggu sebentar dan jangan kemanapun. Dia akan mencari dan menemukan Xiaomi.

Setelah selesai berias dan bertukar baju, Yaya segera keluar. Dia berpura-pura baru selesai kuliah dan berhasil menemukan dimana Xiaomi berada. Tanpa sadar, Xiaomi tampaknya baru menyadari kecantikan Yaya dan dia tampak terpesona. Dia bahkan dengan jujur kalau Yaya tampak berbeda dari saat mereka bertemu terakhir kali. Yaya senang mendengarnya.

Yaya membawa Xiaomi ke kantin kampus. Dan dia memasan banyak sekali makanan, seolah mereka akan melakukan perjamuan. Xiaomi berkata kalau semua itu sudah cukup, tapi Yaya malah mau berlari memesan lebih banyak makanan. Xiaomi jelas langsung menarik tangannya agar tidak pergi lagi. Yaya malah terpesona.
“Sudah cukup. Ini semua sudah cukup untuk makan 10 orang. Ayo kita mulai makan,” ujar Xiaomi.
“Kau blang belum pernah makan di kantin, jadi aku ingin kau mencoba semuanya,” jawab Yaya dan terrsenyum manis.
Xiaomi mengerti niat Yaya dan mulai makan. Kalau tidak habis, mereka bisa membungkusnya dan membawanya pulang.
--
Selesai makan, mereka berjalan-jalan di sekitar kampus. Dan Yaya diam-diam memotretnya. Mereka mulai berbincang santai, seperti tidak ada jarak.
Dan Xiaomi memberikan Yaya tiket pertandingan CTF selanjunya di Shanghai. Dia meminta Yaya untuk datang. Yaya sangat senang menerima tiket itu, karna sebelumnya, dia sudah mencari tiket itu tapi selalu kehabisan.
“Kau harus datang,” ujar Xiaomi.
“Ya. Aku harus datang. Untuk menemukanmu.”
Xiaomi tersenyum mendengarnya.
--
Bibi Tong Nian menemui kakek. Entah ngapain sih. Bibi bercerita mengenai Zheng Hui dan ibu Zheng Hui yang tinggal sementara di rumah Tong Nian. Kakek awalnya tidak mengerti arah pembicaraan. Tapi, bibi malah terus bercerita memuji Zheng Hui dan juga mengenai ibu Zheng Hui yang suka dengan Zheng Hui (maksudnya, suka kalau Zheng Hui jadi pacar Tong Nian). 

6 comments: