Wednesday, September 4, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 24

3 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 24
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Dengan perasaan sedih, Tong Nian pergi dari resto. Saat dia jalan keluar, dia berpas-pasan dengan Yaya yang sedang membombong Xiaomi. Wajah Tong Nian seperti habis menangis, dan hal itu membuat Yaya khawatir. Xiaomi dalam keadaan masih setengah mabuk, meminta Tong Nian untuk mengabaikan apa yang Shangyan ucapkan. Mood-nya Shangyan sedang tidak bagus hari ini karena dia yang pensiun, jadi jangan pikirkan apa yang Shangyan katakan.

Tong Nian tidak bisa menahan kesedihannya lagi dan menangis. Dari dalam resto, Shangyan memperhatikannya. Tong Nian menyuruh Yaya untuk menjaga Xiaomi sementara dia akan kembali ke asrama. Yaya tentu lebih memilih Tong Nian, dia mengejar Tong Nian.


Yaya bertanya pada Tong Nian, apa yang Shangyan katakan? Tong Nian menangis terisak-isak dan memberitahu kalau Shangyan bilang ke Norway untuk perjodohan. Yaya memeluk untuk menenangkan Tong Nian dan berkata kalau Shangyan pasti hanya berbicara omong kosong karena mabuk.

Shangyan sendiri mengurus Xiaomi yang masih muntah di kamar mandi. Xiaomi keluar dengan sedikit lebih lega, karena sudah muntah setelah menahan setengah jam. Dia dari tadi menahan untuk muntah di depan Yaya.
Xiaomi kemudian menegur Shangyan yang membuat Tong Nian menangis. Walaupun mood Shangyan sedang tidak bagus, jangan melampiaskannya pada wanita. Shangyan berkata kalau itu tidak seperti yang Xiaomi pikirkan. Xiaomi jadi penasaran dan menyuruh Shangyan untuk bercerita.
“Orang tuanya tidak menyukaiku,” beritahu Shangyan. “Hubungan keluarga kami cukup baik. Mengenai masa laluku yang buruk, mereka tahu semuanya sejak aku kecil. Aku sudah memikirkannya, dan memang terlalu banyak hal buruk. Aku tidak bisa menyalahkan mereka jika memandang rendah aku.”
Xiaomi tersenyum, menyadari kalau Shangyan merasa minder. Shangyan berkata kalau keluarga Tong Nian adalah keluarga yang bahagia, dan dia tidak boleh membuat keluarga bahagia itu menjadi tidak bahagia hanya karena dirinya. Dirinya tidak begitu layak.
Xiaomi langsung berkata kalau Shangyan layak. Layak untuk mendapatkan teman terbaik dan istri terbaik. Shangyan mengabaikannya dan lebih memilih untuk menelpon supir pengganti.
--
Yaya masih menemani Tong Nian. Dia bersedia untuk pulang ke asrama bersama Tong Nian. Tapi, Tong Nian merasa ragu. Shangyan dan Xiaomi tadi minum begitu banyak, bagaimana kalau nanti mereka mengemudi dan melanggar peraturan? Yaya mengerti. dan pada akhirnya, mereka menunggu di depan mobil Shangyan
Shangyan muncul tidak lama kemudian dengan memegang Xiaomi agar tidak limbung. Begitu mereka berjumpa, Xiaomi langsung berkata agar Shangyan bicara baik-baik dengan Tong Nian.
Xiaomi masuk ke dalam mobil dan Yaya ikut masuk ke dalam mobil. Mereka memberikan waktu pada Tong Nian dan Shangyan untuk bicara.
Shangyan bertanya, kenapa Tong Nian dan Yaya masih ada di sini? Dia dan Xiaomi mabuk dan tidak bisa mengantar Tong Nian serta Yaya. Tong Nian berkata kalau mereka tidak perlu di antar. Mereka hanya takut kalau Shangyan akan mengemudi dalam keadaan mabuk, karna itu mereka menunggu. Shangyan dengan dingin berkata kalau itu bukan urusan Tong Nian.

Tong Nian yang daritadi berusaha tidak menangis, menjadi sangat sedih. Hatinya merasa sakit dengan sikap dingin Shangyan. Pas saat itu, supir pengganti tiba. Tong Niang langsung pergi. Yaya langsung keluar mengejar Tong Nian. Terlalu jauh bagi mereka kalau berjalan keluar menuju jalan raya dan tidak akan mudah mendapatkan taksi, lebih baik pulang dengan mereka. Tong Nian menolak.
Yaya berusaha membujuk. Tapi, Tong Nian tetap tidak ingin ikut. Yaya terus membujuk dan pada akhirnya, Tong Nian mau naik ke dalam mobil. Begitu Tong Nian masuk, Yaya langsung mendorong agar Shangyan duduk di kursi belakang bersama Tong Nian, sementara dia duduk di kursi penumpang depan.
Dalam perjalanan, suasana terasa begitu dingin dan canggung.

Eh, pas lagi perjalanan, Xiaomi yang mabuk ketiduran dan kepalanya menyender ke bahu Tong Nian. Shangyan yang melihat hal itu, langsung mendorong kepala Xiaomi dengan keras, hingga membuat Xiaomi terbangun. (wkwk, dia masih benar-benar peduli pada Tong Nian).
Akhirnya, mereka tiba di kampus Tong Nian dan Yaya. Begitu keluar mobil, Shangyan menyuruh Tong Nian untuk tidak bersedih. Dia tidak begitu layak untuk di tangisi oleh Tong Nian. Pria sepertinya, yang mempunyai temperamen buruk dan suka memarahi orang lain, tidak romantis dan tidak punya waktu untuk Tong Nian, serta pergi kencan buta di belakang Tong Nian, tidak perlu di kenang. Usai mengatakan semua itu, Shangyan masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil pun pergi.
Tong Nian hanya bisa melihat mobil Shangyan yang pergi menjauh.
--
Untuk menghilangkan kesedihannya, Tong Nian memaksakan diri untuk bekerja membuat software untuk bank. Yaya dan Chunchun khawatir padanya, tapi Tong Nian terus berkata dia baik-baik saja. Selesai bekerja, dia pasti akan lebih baik.
--
Shangyan juga sama sedihnya seperti Tong Nian. Begitu kembali ke camp, dia menyuruh Grunt dan 97 untuk tidak menganggunya, dia ingin tidur. 97 dan Grunt dengan takut memberitahu kalau ada masalah penting. Ibu Demo sudah datang berulang kali dan kali ini tidak mau pulang sebelum bertemu Shangyan.
Dan juga, Demo yang sudah cemas sepanjang hari, sekarang berada di kamar Shangyan. Dia bilang untuk meminta mereka membantu memohon pada Shangyan ketika Shangyan pulang.
Shangyan tidak mengatakan apapun dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam ada Demo yang menangis dan sedang di tenangkan oleh bibi Zhao. Begitu melihat Shangyan masuk, bibi Zhao langsung bicara dengan suara kecil, meminta Shangyan untuk menenangkan Demo yang telah menangis sedari tadi.
 Setelah bibi Zhao keluar, Shangyan langsung memarahi Demo yang menangis padahal seorang pria. Demo protes kalau dia sudah sanga memprihatinkan dan Shangyan masih juga memarahinya. Shangyan langsung menarik Demo untuk berdiri dan berkata kalau ada orang yang lebih kasihan daripada Demo, tapi tidak menangis. Demo malah balik tanya, siapa pria itu?
“Seorang pria yang lebih tua yang membuang seluruh waktunya dan akhirnya kembali ke CTF. Karena peringkatnya tidak baik, mereka memaksanya untuk menyerah. Coba katakan, bukankah itu memprihatinkan?”
Demo mengangguk. Dia akhirnya berkata kalau dia benar-benar stress. Peringkatnya tidak bisa naik dan dia khawatir hanya akan membuat team kalah. Orang tuanya bercerai dan ibunya tidak ingin mendukungnya. Dia datang hari ini dan bersumpah akan membawaku pulang. Juga, ibunya bilang kalau tetap di sini, tidak akan ada masa depan. Shangyan sedikit melunak dan menyemangati Demo untuk terus bertahan.
--

97 dan Grunt mencoba bicara dengan ibu Demo. Tapi, Ibu Demo mengabaikan mereka. Mereka terus mencoba bicara, tapi ibu malah berkata kalau Demo berbeda dengan mereka. Demo hanya lulusan sekolah biasa, dan jika dia tidak mulai bekerja sekarang dan mencari pengalaman kerja, maka hidup Demo akan hancur. Grunt dan 97 berusaha menjelaskan kalau Demo di sini bukan untuk bermain. Mereka di sini adalah profesional dan bekerja serta menghasilkan uang. Mereka semua sama seperti perenang yang berlatih setiap hari untuk berlomba. Mereka juga mendapatkan gaji bulanan. Ibu Demo semakin keras dan menganggap kalau mereka hanya berusaha menipunya. 
--

Shangyan sendiri sedang sakit. Bibi Zhao khawatir dan menawarkan diri untuk bicara pada ibu Demo, menyuruhnya kembali besok. Shangyan tanpa di duga, menyuruh bibi Zhao untuk menyiapkan jas-nya. Dia akan menemui ibu Demo.   
--

Shangyan bertemu dengan ibu Demo.  Shangyan bahkan mengajak ibu Demo untuk makan bersama dengannya di restoran, sebagai bentuk formalitas. Mereka bisa bicara sambil makan.
Mereka tiba di restoran. Makanan yang di hidangkan adalah makanan mewah. Ibu langsung to the point memberitahu kedatangannya adalah untuk membawa Demo pulang. Shangyan menghadapi dengan tenang dan bahkan meminta izin ibu untuk menjelaskan.
“AKu juga adalah kontestan CTF. Aku sudah ada di industri ini selama 10 tahun. Aku menyaksikan industri ini dari awal hingga sekarang.”
“Kau juga bermain komputer ketika masih muda juga?”
“Kata yang benar adalah Kompetisi Cybersecurity. Kami juga adalah kontestan  cybersecurity perwakilan China. Ini profesi kami,” ujar Shangyan.
Ibu tertarik dan mulai mendengarkan penjelasan Shangyan dengan seksama. Walau begitu, ibu masih meragukan masa depan Demo nantinya dan dia juga tahu kemamuan Demo. Shangyan langsung berkata kalau Demo mempunyai kemampuan. Ibu tidak percaya, karena dia tahu kalau peringkat Demo ada di 70-an. Shangyan langsung meluruskan kalau peringkat itu adalah peringkat international. Walaupun Demo adalah anggota termuda, tapi Demo mempunyai banyak kemampuan. Dia mengakui kemampuan Demo dan yakin Demo akan mampu menjadi juara.
Shangyan tahu kalau ibu Demo masih merasa ragu, jadi dia membuat penawaran. Dia menyuruh ibu Demo untuk memperkirakan Demo yang lulusan dari sekolah biasa, mulai bekerja dari sekarang hingga 30 sampai 50 tahun, kira-kira berapa gaji yang akan Demo dapatkan pada akhirnya? Dia akan membuat perjanjian, sebelum Demo mencapai umur 30 tahun, di samping gaji, uang hadiah dan bonus sponsor, jika Demo tidak bisa mencapai angka yang Ibu sebutkan, dia yang akan membayar sisanya.
Demo jelas menolak. Bahkan Wu Bai yang adalah kaptem team, tidak mendapat perlakuan seperti itu. Shangyan hanya menyuruh Demo untuk berusaha keras karena dia sudah memberikan Demo perlakuan berbeda. Dan bahkan Shangyan berkata akan menyuruh manager-nya membuat kontrak resmi atas yang sudah di tawarkannya tadi.
Ibu ragu, apa Shangyan bisa menghasilkan uang sebanyak itu dari anak-anak ini? bahkan anaknya bukan yang terbaik. Tidak ada gunanya mempertahankan Demo. Shangyan berkata bahwa selama 2 tahun ini, China mengalami defisit, tapi dia menganggap Demo berarti. Dia ingin membantu mereka mewujudkan mimpi mereka, menjadi juara dunia. Dan dia yakin, mereka akan mampu mencapainya.
--

Shangyan pulang. Dan begitu, masuk ke dalam kamar, dia malah terjatuh. 97 dan One yang ada di depan kamar Shangyan langsung masuk dengan panik dan ingin menelpon dokter. Tapi, Shangyan melarang dan menyuruh mereka untuk latihan saja. Dia baik-baik saja. 97 dan One khawatir, tapi Shangyan tetap bersikeras menyuruh mereka untuk latihan.
--

Esok hari,
Demo khawatir dengan keadaan Shangyan. Dia membawakan minyak angin untuk Shangyan. Shangyan terus berkata kalau dia baik-baik saja.
“Boss, terimakasih. Aku tidak menyangka, walaupun sakit, kau tetap menemui ibuku,” ujar Demo, tulus.
Shangyan menyuruh Demo untuk tidak berbicara omong kosong dan pergi latihan saja.
Tidak lama, Su Cheng masuk dan menunjukkan kontrak yang sudah di tanda tangani oleh ibu Demo. Dia juga memberitahu jadwal Shangyan. Setelah itu, dia keluar karena Shangyan berkata dia baik-baik saja dan menyuruh Su Cheng keluar.

Begitu Su Cheng keluar, entah kenapa, Shangyan menelpon suami Lan Mei. Suami Lan Mei yang menerima telepon dari Shangyan, tentu sangat senang.
--
Entah apa yang Shangyan katakan pada suami Lan Mei, karena begitu suami Lan Mei menyampaikannya pada Lan Mei, Lan Mei langsung tempat emosi. Suaminya meminta La Mei untuk tenang dan berkata dia bertemu Shangyan hanya untuk membicarakan beberapa hal. Lan Mei jangan ikut masuk, karena itu akan membuatnya malu. Lan Mei dengan kesal memberitahu kalau Shangyan sudah mencampakkan Tong Nian.
Pada akhirnya, Suami Lan Mei membawa Lan Mei juga untuk bertemu dengan Shangyan. Shangyan menyambut dengan ramah.
“Gun God, tadi di telepon kau bilang ada yang kau ingin aku lakukan?”
“Aku dan Tong Nian… kalian pasti sudah tahu. Aku ingin meminta kalian untuk menjaganya dan menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.”
Lan Mei dengan sinis berkata kalau dia adalah sahabat Tong Nian, jadi tidak perlu Shangyan suruh juga dia pasti akan menghabiskan waktu dengan Tong Nian. Jika Shangyan merasa bersalah pada Tong Nian, maka cari cara sendiri untuk memperbaikinya.

Shangyan malah mengeluarkan kantong berisi uang. Dia meminta tolong pada mereka untuk menghabiskan uang itu menemani Tong Nian. Lan Mei dengan sinis berkata, apa ini uang putus? Kecil sekali nilainya. Suami Lan Mei berusaha menenangkan Lan Mei. Tapi, Lan Mei tetap sinis. Dan akhirnya, setelah di pancing oleh Lan Mei, Shangyan berkata kalau dia tidak pernah punya pacar lain selain Tong Nian.
“Kau hanya punya satu pacar? Lalu kenapa kau memutuskannya?” tanya suami Lan Mei. “Putus itu bisa mempengaruhi hubungan. Atau, kau punya alasan lain yang sulit untuk di katakan?”
“Atau… kau menyesal dan ingin berbaikan kembali?” tanya Lan Mei.
“Tidak,” jawab Shangyan dan tampak merenung.
Dan setelah Shangyan pergi, Lan Mei dan suaminya masih bingung. Sebenarnya ada apa antara Shangyan dan Tong Nian? kenapa malah tampaknya seperti Shangyan yang di campakkan?
--
Lan Mei pergi menemui Tong Nian ke rumahnya. Dia menanyakan mengenai putusnya Shangyan dan Tong Nian. Tapi, Tong Nian tidak mau membahasnya. Lan Mei malah memberitahu kalau Shangyan memberikannya uang. Fee putus. Tong Nian jelas marah karena Lan Mei menerima uang Shangyan. Lan Mei membela diri, dia menerimanya untuk menunjukkannya pada Tong Nian, kalau tidak, Tong Nian nanti tidak percaya.
Tong Nian berkata akan mengembalikan uang itu. Lan Mei langsung melarang. Dia sudah janji sebelumnya pada Shangyan, tidak akan memberitahu Tong Nian mengenai uang itu. Tong Nian tetap pergi.
--

Tong Nian di dalam taksi menuju ke camp K&K. Dia menelpon 97 dan bertanya, apakah Shangyan ada di camp? 97 kaget, karena mereka semua ada di bandara sekarang. Apa Shangyan tidak memberitahu kalau mereka akan ke Beijing sore ini untuk berkompetisi? Tong Nian langsung bertanya mereka ada di bandara mana?
--

Tong Nian tiba di bandara. Dia segera berlari masuk mencari Shangyan. Shangyan jelas kaget karena Tong Nian datang ke bandara. Tong Nian meminta waktu untuk bicara berdua dengan Shangyan. Para anggota K&K merasa sangat tegang dengan suasana Shangyan dan Tong Nian yang tampak aneh.
Diluar ruang tunggu bandara, Tong Nian langsung bertanya kenapa Shangyan memberikan uang untuk Lan Mei dan mengatakan itu uang fee putus?
“Jika kau ingin berpikir seperti itu, tidak masalah,” ujar Shangyan.
“Bukankah kau yang bilang? Kita hanya saling mengenal satu sama lain.”
“Aku adalah pria yang bermoral. Jika aku harus membayar kompensasi atas sesuatu, aku akan membayarnya.”
“Lalu, kenapa kau tidak memberikannya langsung padaku? Dan meminta Lan Mei merahasiakannya dariku.”
“Aku rasa, Lan Mei sudah salah paham. Aku sebenarnya, ingin dia memberikannya padamu. Itu kan fee putus, kenapa kau tidak harus tahu?”
“Aku juga merasa itu aneh.”
“Aku rasa, Lan Mei berbohong seperti itu untuk membuatmu senang,” bohong Shangyan. “Atau mungking dia salah paham atas niatku sedari awal.”
Tong Nian tambah terluka. Shangyan menyuruh Tong Nian untuk pulang saja karena salah paham sudah terselesaikan.
“Ada yang ingin ku katakan! Han Shangyan, meskipun waktu kita bersama pendek, tapi beberapa minggu ini, aku sangat bahagia. Kau adalah pacar pertamaku. Meskipun kau bilang kalau kita tidak sesuai, meskipun kau tidak bisa menunjukkan emosimu dengan benar, tapi aku rasa perilakumu terkait hubungan sangat tidak pantas. Tapi, di lihat dari sisi lain, aku tahu kau adalah orang baik. Jadi, aku akan terus mendukungmu. Mendukungmu dan K&K hingga kalian menang di final. Juga, aku tidak mau ini (uang Shangyan), ku kembalikan padamu.”
Shangyan menerima uang itu dan tanpa berkata apapun, kembali masuk ke dalam ruang tunggu. Meninggalkan Tong Nian.
Dan mood Shangyan menjadi tidak baik. Dia berteriak menyuruh semuanya untuk check-in. Walau begitu, dia tetap khawatir, dan menyuruh 97 untuk mencarikan kendaraan pulang untuk Tong Nian. 97 melakukan perintah Shangyan, dia memesankan mobil rental untuk Tong Nian. Tong Nian menyuruh 97 kembali saja ke dalam bandara dan dia akan menunggu mobil rental sendirian.

Yang tidak Tong Nian ketahui adalah, Shangyan memperhatikannya dari jauh.
--
Beijing, Ronde perempat final regional China
Dir. Xiang menemui Shangyan dan meminta tolong. Dia ingin mengundang Shangyan dan pacar Shangyan untuk merekam sebuah video untuknya. Atau hanya lakukan siaran langsung saja untuk membantunya publikasi. Shangyan menolak. Tapi, dir. Xiang malah senyum-senyum.
“Kau juga tidak boleh menemuinya!” peringati Shangyan.
Dir. Xiang menggerutu kalau Shangyan baru saja pacaran dengan Tong Nian, tapi malah sudah merampas kebebasan Tong Nian. Shangyan dengan berat berkata kalau dia tidak pacaran dengan Tong Nian.
“Benarkah? Jika kau tidak tertarik dengannya, maka aku akan mengejarnya,” ujar dir. Xiang.

Shangyan langsung melotot padanya. “Baru saja, kau bilang mau mengejar siapa?”
Dir. Xiang ketakutan dan berkata kalau dia hanya bercanda. Dan untunglah dia terselamatkan dengan kedatangan 97 yang memberitahu kalau pertandiang sudah mau di mulai.


3 comments: