Thursday, September 12, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 27

8 comments
Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 27
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Dengan di temani oleh Tong Nian, Shangyan membawa Xiao Ai ke taman. Dan tentu saja, Shangyan menyuruh Tong Nian untuk menjauh sementara dia berbicara dengan Xiao Ai. Xiao Ai memperingati Shangyan untuk tidak berbohong apapun sama sekali padanya. Dia ingin tahu bagaimana ayah dan ibunya bisa bertemu.
 Shangyan mulai bercerita. Solo dan Su Cheng bertemu karena mimpi. Su Cheng dulunya adalah pemain profesional juga. Sebelum dia datang ke China, Solo dan Su Cheng sudah saling mengenal. Jauh sebelum mereka mengenai Ai Qing. Dia dulu, datang ke China sampai dua kali (bolak balik Norway). Saat dia datang pertama kali, Solo dan Su Cheng masih berpacaran.
Xiao Ai bertanya alasan kenapa ayah dan ibunya bisa putus. Shangyan menjawab kalau banyak alasan untuk putus, mana bisa dia tahu. Mungkin hanya karena merasa tidak cocok. Bukan hal yang rumit.
“Ayahku… apa dia tidak menginginkanku? Ayahku tidak menginginkanku, tapi ibuku tetap mempertahankanku?” tanya Xiao Ai.
Shangyan diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Xiao Ai.

Flashback
13 tahun yang lalu,
Solo yang adalah pemain CTF melakukan pertandingan melawan team Su Cheng. Saat bertanding, Solo terus melirik ke Su Cheng dan tersenyum. Sementara Su Cheng, dia tampak sangat fokus dan kesulitan untuk melawan team Solo (kejadian ini jauh sebelum ada Ai Qing, Ou Qiang dan Xiaomi).
Pertandingan selesai. Dan di menangkan oleh Solo.

Su Cheng menemui Solo. Dia tampak sedih. Dia tidak marah karena Solo menang. Tapi, kenapa saat bertanding Solo selalu melindungi dan tidak melawan-nya. Saat tanding tadi, Solo jelas-jelas memiliki banyak kesempatan untuk menang lebih awal, tapi kenapa membiarkan hal itu begitu saja.
Solo menjawab dengan jujur kalau dia tidak ingin membuat Su Cheng kesulitan. Dia ingin membantu Su Cheng. Su Cheng menangis. Di bandingkan kalah melawan Solo, rasa kasihan Solo padanya membuatnya merasa lebih menyedihkan. Solo menjadi merasa bersalah. Su Cheng merasa minder karena harus tampak lemah di hadapan Solo, dia sangat menyukai Solo. Solo tersenyum mendengar alasan Su Cheng menangis.

10 tahun kemudian,
Su Cheng datang ke tempat tinggal team SOLO dengan membawa seorang anak perempuan kecil. Shangyan yang waktu itu membukakan pintu untuknya, tampak terkejut melihat Su Cheng karena sudah dua tahun mereka tidak bertemu. Tapi, dia juga curiga dengan anak yang di gendong Su Cheng.
Su Cheng menanyakan apakah Solo ada? Shangyan menjawab kalau Solo dan yang lain sedang tidak ada. Su Cheng meminta izin untuk masuk dan menunggu Solo di dalam. Shangyan memberikan izin dan membawa Su Cheng ke ruang tamu.
“Kau harusnya tahu kalau dia sudah punya pacar sekarang, kan?”
“Aku tahu.”
“Lalu, kau juga harusnya tahu siapa pacarnya kan?”
Su Cheng diam, tidak menjawab pertanyaan Shangyan. Setelah duduk, Su Cheng baru menjawab : “Pacarnya sekarang adalah Ai Qing. Appledog. Pemain wanita pertama team kalian.”
Saat itu, anak yang di bawa Su Cheng, merengek memanggil nama ibunya.
--

Solo sudah pulang dan bicara dengan Su Cheng di dalam kamar mandi. Solo merasa marah karena Su Cheng tidak memberitahunya sedari awal kalau sudah hamil. Dia kan berhak tahu. Su Cheng tampak sangat bersalah dan akhirnya berkata dengan jujur kalau dia tidak bisa membesarkan anaknya lagi, Xiao Ai.
“Membesarkan? Jika kau tidak bisa membesarkannya kenapa kau harus memilikinya?!” teriak Solo, penuh amarah. “Kau beritahu aku alasannya!”
“Dia sakit. Dia butuh pengobatan. Aku bahkan tidak bisa menghidupi diriku sendiri. Aku melakukan ini benar-benar bukan karena ingin bergantung padamu. Aku hanya tidak ingin dia tinggal denganku dan tidak memiliki kehidupan yang baik,” jelas Su Cheng sambil menangis. “Solo. Dia putrimu. Dapatkah kau menjaganya? Sekarang ini performa team-mu snagat bagus. Membesarkan seorang anak kecil tentu tidak akan masalah, kan? Aku mohon padamu. Dia benar-benar putrimu. Ak—aku punya akte lahir-nya. Apapun tes yang ingin kau lakukan, aku akan melakukannya. Aku mohon padamu, tolong rawat dia. Aku… aku tidak punya uang untuk membawanya ke dokter. Aku tidak bisa mengobatinya. Aku mohon padamu.”
Solo tampak sangat bingung dengan situasi mendadak ini. Dia tidak ragu mengenai Xiao Ai, anaknya atau bukan. Dia hanya ingin tahu, kenapa saat Su Cheng hamil, Su Cheng tidak memberitahunya sedari awal?
Su Cheng menjelaskan kalau Xiao Ai bukanlah bagian dari rencana-nya. Begitu pula dengan Solo. Di samping itu, saat itu, mereka sudah putus. Saat dia tahu dia hamil, dia sudah hamil 3 bulan. Apa yang bisa dia lakukan? Team Solo semakin baik dan baik. Dia tidak ingin dirinya dan anak-nya menjadi batu sandungan bagi Solo.
Solo benar-benar bingung. Semua ini terlalu mendadak.
Saat itu, Xiao Ai masuk ke dalam. Dia sudah mendengar dari luar sedari tadi. Solo meminta Ai Qing keluar dulu dan dia akan menjelaskan nanti marah. Ai Qing tidak mau dan menyuruh Solo menjelaskan padanya sekarang juga. Siapa anak itu?
Solo menjelaskan kalau dia dan Su Cheng sudah putus dari 2 tahun lalu, dan saat itu dia tidak tahu apapun sama sekali. Ai Qing tidak peduli pada penjelasan Solo, dia sangat marah. Ou Qiang dan Xiaomi mencoba menenangkan dengan berkata kalau bisa saja Su Cheng berbohong dan mereka harus melakukan tes DNA.
“Tidak perlu,” ujar Solo dan menggendong Xiao Ai, “Dia adalah anakku. Dia milikku, putri Solo.”
Su Cheng menangis karena Solo mau mengakui anaknya dan bahkan tidak ragu sama sekali. Dan berbanding terbalik dengan Su Cheng, Ai Qing di liputi kemarahan dan kekecewaan terhadap Solo. Mungkin, dia merasa telah di khianati.
End
Mendengar cerita Shangyan, Xiao Ai bertanya, jadi karena dirinya maka Solo menyerah terhadap teamnya? Apa Shangyan benci pada ayahnya? Shangyan mengiyakan.
Flashback
Shangyan mengajak Solo bicara berdua. Dia menyarankan agar dia yang mengambil anak itu dan Solo bisa menjelaskan pada semuanya kalau tadi dia hanya berusaha melindunginya. Anak itu adalah anaknya dan dia akan membesarkannya. Kemudian, Solo bisa menenangkan Ai Qing. Jangan sampai hal ini mempengaruhi pertandingan final mereka.
Solo menolak saran dari Shangyan. Xiao Ai adalah anaknya. Shangyan jadi emosi. Mereka sudah berusaha keras dan dia tidak mau karena masalah ini, semua usaha mereka menjadi sia-sia. Mereka bisa menang kejuaraan nasional. Bukan hanya Solo yang dia anggap sebagai saudara, tapi ada juga Ai Qing, Ou Qiang, Xiaomi dan para pemain pengganti lainnya. Team SOLO bukan hanya tentang Solo.
“Aku juga tidak menyangka hal seperti ini terjadi. Kenapa ini harus terjadi padaku?! juga, anak itu tidak bersalah,” tegas Solo.
“Ini bukan saatnya kau merasa bersalah! Jika kau dan Ai Qing berakhir, maka kami juga berakhir. Bertahun-tahun kita bekerja keras, kita menderita. Kita tidak bisa membiarkannya berakhir seperti ini. Wang Hao! Apa kau ingin menyerah seperti ini? Ini team yang kita buat dengan tangan kita,” ingati Shangyan.
Solo benar-benar dalam keadaan kacau. Dia meminta waktu untuk berpikir, tapi Shangyan tidak memberikannya waktu.
End
“Ayahku. Dia adalah ayah yang baik,” ujar Xiao Ai.
“Tapi, dia bukan kapten team yang baik.”
“Tapi dia berusaha memperbaiki semuanya selama ini! Paman Mi Shaofei dan Ou Qiang, ayahku berjuang keras untuk membawa mereka berdua kemari.”
Shangyan memberitahu Xiao Ai kalau ada yang namanya ‘golden age’ bagi para pemain profesional. Dan saat itu adalah golden age bagi mereka, yang akhirnya habis sia-sia.
Su Cheng ternyata datang ke sana juga karena menerima kabar dari Shangyan. Dia berpas-pasan dengan Tong Nian dan Tong Nian memberitahunya dimana Shangyan dan Xiao Ai.

Xiao Ai mencoba melihat dari sudut pandang Shangyan dan memang tampaknya ayahnya mengabaikan semua orang di team SOLO. Tapi, jika Shangyan berada di posisi ayahnya dan memikirkannya, bukankah saat itu dia sangat kasihan. Dia masih sangat muda dan mempunyai diabilitas juga. Ayahnya tentu tidak bisa mengabaikannya begitu saja dan tidak menjaganya. Beruntunglah ayahnya tidak memberikannya menjadi anak Shangyan. Jika dia jadi anak Shangyan, mereka pasti akan bertengkar 10 hari sekali.
Saat itu, Su Cheng tiba dan memanggil Xiao Ai. Shangyan segera memberitahu Su Cheng kalau barang-barang Xiao Ai masih ada di asrama Tong Nian. Setelah Su Cheng dan Xiao AI selesai bicara, mereka akan mengambilnya. Dan kemudian, Shangyan pergi, memberikan waktu bagi Su Cheng dan Xiao Ai.
Shangyan duduk di sebelah Tong Nian. Mereka masih sedikit canggung.
Su Cheng dan Xiao Ai bicara. Kali ini, Xiao Ai tidak sedingin sebelumnya lagi. Xiao Ai bertanya, apakah dulu Su Cheng pernah mencintai ayahnya? Su Cheng memberitahu kalau Solo adalah cinta pertama-nya.
“Kenapa kau melahirkanku? Kau tidak mencintai ayahku, kau tidak mencintaiku. Kenapa kau melahirkanku?!” marah Xiao Ai.
“Aku mencintai kalian. Xiao Ai, aku pernah sangat mencintainya dan itulah kenapa aku melahirkanmu. Itu caraku untuk mengingatnya.”
“Jadi, kau memperlakukanku seperti pengingat?!”
Su Cheng terdiam. “Aku minta maaf. Aku berpikir terlalu sederhana dulu. Aku kira aku bisa membesarkanmu seorang diri dengan baik.”
“Tapi kemudian kau tidak menyangka kalau aku akan sangat merepotkan dan bukanlah anak yang sehat, dan tidak ingin membesarkanku lagi, kan?”
“Tidak. Saat itu, team kami sangat miskin. Tapi, aku ingin memberikanmu hidup yang baik. Aku kira kau akan lebih bahagia ikut dengannya daripadaku.”
“Tapi itulah caramu menghancurkan karir-nya saat itu!” marah Xiao Ai.
“Ya. Untuk hal ini, aku sangat egois,” akui Su Cheng. “Aku tidak pernah menyangka akan membawa celaka pada semuanya. Aku juga tidak menyangka kalau team SOLO akan di bubarkan.”
Xiao Ai masih terus bertanya. Setelah melakuka itu, Su Cheng mencari pria lainnya? Su Cheng menjelaskan kalau suaminya saat ini adalah kapten team-nya sebelumnya. Dia sudah mengenalnya duluan sebelu mengenal Solo. Nan Wei selalu menyukainya dan dialah yang menolongnya saat dia sulit.  Nan Wei menemaninya saat dia sendirian.  
Xiao Ai menanyakan pertanyaan terakhir, alasan Su Cheng dan Solo putus dulu. Su Cheng menjawab kalau saat itu, team Solo baru di mulai. Setiap hari, Solo hanya memikirkan cara menjadi lebih baik. Dia sangat mengagumi Solo, dan di saat yang sama juga marah. Saat itu, dia bahkan tidak bisa meminta Solo memberikan sedikit waktunya untuk berjalan bersama. Jadi, mereka selalu bertengkar dan bertengkar. Itu salahnya. Saat itu, dia terlalu muda. Walaupun pekerjaan sangat penting, tapi dia ingin seseorang yang selalu ada untuknya.
Tong Nian mulai berbicara dengan Shangyan. Dia tahu kalau Shangyan masih peduli pada Solo hingga membantu untuk menenangkan Xiao Ai. Dia juga tahu kalau sebenarnya, Shangyan sudah memaafkan Solo sejak lama, kan? Shangyan memukul kepala Tong Nian dan membantah dugaan Tong Nian.
--
Solo tampaknya sakit. Tapi, dia lebih mencemaskan Xiao Ai yang belum pulang.

Shangyan mengantar Su Cheng dan Xiao Ai ke area rumah Solo, tidak sampai ke pintu gerbang. Sebelum turun, Xiao Ai memberitahu Tong Nian alasan Shangyan tidak mengantarkan hingga ke depan rumah adalah karena rumahnya adalah bekas tempat tinggal dan latihan team SOLO dulunya.

Saat itu huja turun dengan deras, dan Su Cheng benar-benar menjaga Xiao Ai agar tidak kebasahan terkena hujan. Dia hanya mengantarkan hingga ke depan gerbang dan tidak ikut masuk ke dalam. Xiao Ai sudah tidak terlalu marah lagi pada Su Cheng. Sebelum masuk ke dalam, Xiao Ai memeluk erat Su Cheng. Su Cheng jelas sangat senang karena Xiao Ai sudah tidak sedingin dulu padanya.
--
Solo sangat senang karena akhirnya Xiao Ai pulang. Dia bahkan membantu mengeringkan bagian bawah rambut Xiao Ai yang basah karena terkena hujan. Xiao Ai tampaknya juga merasa bersalah karena sudah melawan pada Solo tadi. Dia yang melihat Solo membeli nasi kotak, memarahi Solo untuk tidak makan makanan instan. Dia meminta Solo untuk memasak dan dia akan menemani Solo makan. Solo sangat senang mendengarnya dan bahkan bertanya Xiao Ai hendak makan apa? Xiao Ai mulai memberitahu semua makanan yang hendak di makannya. Solo sangat senang karena Xiao Ai sudah tidak marah lagi padanya.
--

Di dalam mobil, Shangyan bercerita mengenai lingkungan tempat tinggal Solo ini yang dulu sangat buruk. Kalau hujan, jalanan akan langsung berlumpur. Tapi sekarang tidak lagi. Tong Nian tertarik mendengarnya. Apalagi saat Shangyan bercerita mengenai hubungan Solo dan Ai Qing dulunya. Tong Nian jadi penasaran, bagaimana awalnya Solo dan Ai Qing bertemu? Dan ternyata, dulu mereka bertemu di internet café, dan Ai Qing jatuh cinta pada pandangan pertama pada Solo. Tong Nian tersenyum dan bergumam kalau Ai Qing sama sepertinya.
“Mana-nya yang sama? Saat itu, Solo dan Su Cheng baru putus sekitar setengah tahun. Solo masih patah hati saat itu. Kalau aku tidak begitu.”
Tong Nian tersenyum mendengar ucapan Shangyan.
--

Xiao Ai membuatkan obat untuk Solo minum. Solo tampak tersentuh. Dan Solo kemudian meminta maaf pada Xiao Ai karena dia sudah salah.

“Kau tidak boleh bilang kalau kau salah. Bahkan jika seluruh dunia salah, ayahku tidak salah,” ujar Xiao Ai. “Itu salahku. Jika aku tidak ada, kau pasti bisa memenangkan juara dunia sejak lama,” tangis Xiao Ai dan memeluk Solo. “Ayah, di hatiku kau adalah kaptem team China terhebat.”
Solo tersentuh mendengar perkataan Xiao Ai. Dia tidak pernah merasa menyesal sekalipun telah membesarkan Xiao Ai, anaknya.
--
Tong Nian dan Shangyan masih berada di dalam mobil.
Waktu sangat kejam. Jika semua orang tahu hasilnya akan menjadi seperti ini, maka dulu, mereka pasti akan membuat keputusan yang berbeda.
--
Solo baru teringat, siapa yang mengantarkan Xiao Ai pulang? Xiao Ai menjawab, “Paman Han.”
Solo langsung berlari keluar menggunakan payung dan menemukan Shangyan masih ada. Dia berterimakash karena Shangyan sudah mengantarkan Xiao Ai pulang. Dia menawarkan Shangyan untuk mampir ke rumahnya. Shangyan menolak dengan alasan masih banyak masalah klub yang harus di urusnya karena Su Cheng akan kembali ke Norway. Solo tidak memaksa dan menyuruh Shangyan untuk berhati-hati menyetir.
--
Su Cheng pergi menemui Ai Qing di café. Su Cheng yang mengajak bertemu. Tujuannya adalah karena dia ingin nminta maaf sejak dulu. Ai Qing dengan ramah berkata kalau mereka tidak perlu membaha masa lalu. Dia sudah lama melupakannya. Dia tidak seperti Shangyan yang menyimpan dendam.
“Sejujurnya, aku tidak menyalahkanmu karena membawa Xiao Ai. Aku sebaliknya, menyalahkan Solo. Aku menyalahkannya karena membawa Xiao Ai tanpa membawaku.  Saat itu, aku tidak ingin lanjut lagi di dalam team. Jadi diam-diam, dia memutuskan untuk meninggalkan teman dan membuat team jadi di bubarkan. Aku juga orang terakhir yang tahu hal itu. Jadi, setiap anggota team di team Solo adalah lebih penting daripada pacarnya,” jelas Ai Qing.
Su Cheng secara jujur berkata kalau dia senang saat itu karena Solo mau menerima Xiao Ai. Dan dia yakin hal itu hal yang sulit bagi Ai Qing. Ai Qing menjawab kalau yang harusnya melalui masa sulit adalah Solo. Seorang pria yang tidak tahu cara membesarkan anak, mulai belajar secara pelan-pelan membesarkan anak.

Flashback
Ai Qing mengunjungi Solo setelah 3 tahun. Dan dia melihat Solo yang berusaha sangat baik membesarkan Xiao Ai dengan penuh kasih sayang. Mungkin, saat itu, Ai Qing sadar kalau bagi Solo, Xiao Ai telah menjadi prioritas utamanya.
End
Dan karena hal itu juga, Ai Qing bisa melupakan Solo. Semua sudah menjadi masa lalu, jadi biarkan saja tetap menjadi masa lalu. Ai Qing meminta Su Cheng untuk langsung to the point saja, kenapa mengajaknya bertemu?
Su Cheng ternyata menemui Ai Qing untuk menanyakan pendapat Ai Qing. Jika dia membawa Xiao Ai ke Norway untuk pengobatan, dan juga untuk pendidikan Xiao Ai, apa menurut Ai Qing, Solo akan kesulitan? Walaupun Solo telah setuju, tapi, dia masih merasa khawatir.
Ai Qing dengan bijak menyuruh Su Cheng untuk menanyakan pendapat Xiao Ai. Sekarang, Xiao Ai sudah berusia 12 tahun. Tapi, jika Su Cheng ingin mendengar pendapat dari perspektif-nya, seharusnya Su Cheng juga bisa tahu siapa yang paling terikat emosional dengan Xiao Ai.
“Kau menjaganya hanya selama 2 tahun. Sementara Solo menjaganya selama 10 tahun dari dia kecil hingga besar. Jika kau ada di posisinya, menurutmu, dengan siapa kau akan merasa lebih dekat?” ujar Xiao Ai.
Su Cheng terdiam. Menyadari kebenaran perkataan Xiao Ai.
Xiao Ai menggenggam tangannya, seolah memberikan kekuatan agar Su Cheng dapat lebih bijak dalam bertindak.
--
Sebelum mengantar Tong Nian pulang, Shangyan mampir dulu di rumahnya untuk mengambil barang. Tong Nian menolak untuk ikut masuk ke dalam rumah Shangyan karena takut bertemu kakek dan nanti salah paham. Dia tidak bisa terus berbohong pada kakek. Shangyan menjawab singkat kalau Tong Nian tidak perlu berbohong.
Dan Tong Nian pada akhirnya ikut masuk ke dalam. Kakek sangat senang melihat Shangyan yang pulang dengan Tong Nian. Dia bahkan menyuruh Shangyan mengajak Tong Nian nonton film di kamar Shangyan. Shangyan awalnya tidak mau, tapi karena kakek terus mengomel, akhirnya Shangyan beranjak ke kamarnya dan mengajak Tong Nian ikut.
“Oh ya, kucing itu sudah kau bawa ke klub, tapi kenapa kau masih punya banyak makanan kucing di sini? Cepat bawa makanan itu ke klub!” omel kakek.
Mendengar omelan kakek, Tong Nian tampak kaget dan senang. Ternyata kucing pemberiannya masih di jaga oleh Shangyan.
Dia langsung menghampiri Shangyan dengan senyum lebar karena Shangyan tidak membuang kucing pemberiannya. Dia bahkan membantu Shangyan membersihkan makanan kucing yang berserak di lantai.
“Kau belum memberitahuku. Kau tidak memberikan kucing itu kepada orang lain. Kenapa kau berbohong padaku?” tanya Tong Nian.
“Aku tidak dalam mood baik saat itu. Jadi, aku bilang begitu?”
“Apa saat itu aku menyinggungmu? Atau kau mengalami masalah lain hari itu?” tanya Tong Nian lagi.
Shangyan teringat saat ibu Tong Nian menyatakan sangat jelas pertetangannya dan saat dia berjanji tidak akan pernah mendekati Tong Nian lagi.
Dan karna hal itu, Shangyan menolak menjawab pertanyaan Tong Nian. Dia tidak ingin Tong Nian tahu alasannya. Tong Nian tidak memaksa, tapi dia menanyakan mengenai Shangyan bilang ke Norway untuk perjodohan.
“Itu juga bohong. Aku kembali ke Norway untuk pertemuan di kantor pusat. Dan juga mengunjungi ibu tiriku.”
Tong Nian tersenyum semakin lebar. 

8 comments:

  1. Lanjut ka smngat terus.. akhirnya baiksn juga mereka 😊

    ReplyDelete
  2. Lnjut truuss..jngn lma2 ka updtenya

    ReplyDelete
  3. Makasih kakak ☺☺☺ untuk komentar dan dukungannya ☺☺

    Di usahakan bisa secepatnya update ya kak.

    Mohon di maklumi kalau update sedikit delay, krn kondisi lingkungan tempat tinggal skrg lg penuh asap kak (status PM10 per komentar ini di buat, sudah BERBAHAYA). Jd kesehatan menurun drpd biasanya kak dan kami tetap memprioritaskan kesehatan kak. Jd kalau udh nulis setengah dan kepala mulai pusing dan dada mulai sesak krn asap, kami nggak lanjut nulis.

    Kami akan tetap mengusahakan setidaknya untuk posting �� thank u

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saluuut....masih ttp berkarya walau lingkungan tdk bsahabat...
      Smg keadaAn cpt membaik...
      Kami tgu sinopsis selanjutny...
      Semangat & smg sehat sll

      Delete
  4. Iyha gpp kok moga sehat terus 😊

    ReplyDelete
  5. Tetap semangat!!!! Sabar menunggu

    ReplyDelete