Monday, September 9, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 14-1

4 comments
Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 14-1
Images by : TvN
Part 3 : Arth, The Prelude to All Legends
Usai mengatakan titah-nya, Karika memerintahkan semua anggota sukunya untuk mulai mencari pria berbibir ungu (Eunseom) tersebut di Gunung Hasi. Dia yakin Eunseom masih belum pergi terlalu jauh.
Arthdal Chronicles

Yeonbal dan anak buahnya menemukan bekas Ipsaeng menyalakan api sebelumnya. Karena masih terasa hangat, mereka yakin kalau Eunseom belum terlalu jauh. Yeonbal juga ternyata sempat mencuri dengar saat Karika memberikan titahnya kepada semua anggota sukunya. Karika sedang mencari pria berbibir ungu, dan Yeonbal yakin kalau pria itu adalah budak dari Doldambul. Salah satu budak itu adalah Igutu, dan tidak mungkin ada dua Igutu di tengah gunung begini.
Yeonbal dan para anggotanya mulai melanjutkan pencarian.
--
Di tengah kota Arthdal, para rakyat berkumpul dengan gembira untuk mengambil milet dan sorgum yang di bagikan sampai gohamsani selesai. Chae-eun, Haerim dan Nunbyeol juga pergi mengambil milet dan sorgum yang di bagikan.

Sementara Dotti, dia sibuk merias para rakyat Arthdal dengan lukisan wajah suku Wahan dan klan Asa asli. Tidak hanya itu, Dotti mendapatkan banyak sekali bahan makanan dari rakyat yang di riasnya. Tampaknya, Dotti sudah mulai beradaptasi karena dia meminta upah untuk pekerjaan merias wajah yang di lakukannya. Kan tidak ada yang gratis di Arthdal.

Saat itu, sebuah banteng mengamuk, tiba-tiba muncul di tengah kota. Banteng itu hampir menyerunduk Dotti jika Chae-eun tidak segera menarik Dotti ke pinggir. Suasana sangat kacau. Di saat itu, banteng tersebut tiba-tiba menuju Haerim. Melihat ayahnya dalam bahaya, Nunbyeol segera berekasi. Dia menahan kepala banteng tersebut dan mematahkan leher banteng. Semua kaget melihat kekuatan Nunbyeol. Dan usai melakukan hal tersebut, Nunbyeol langsung jatuh pingsan.
--
Haerim dan Chae-eun membawa Nunbyeol pulang. Nunbyeol masih belum sadarkan diri. Haerim memeriksa denyut nadi Nunbyeol. Chaeeun khawatir karena kan seharusnya Nunbyeol sudah tidak punya kekuatan Neanthal dan lebih lemah dari Saram karena Haerim sudah memutus silsilahnya. Haerim yang telah memeriksa, memberitahu kalau semua sudah tersambung kembali karena Nunbyeol masih terus bertumbuh. Mungkin blokade-nya terbuka karena merasa sangat cemas tadi. Dia juga tidak menyangka akan hal itu.

Chae-eun cemas. Semua sudah melihat yang Nunbyeol lakukan. Nunbyeol bahkan menguasai seni bela diri Saram. Haerim berkata kalau mereka harus memutuskannya lagi.
--

Tagon menerima para Kepala Suku yang datang untuk mendukung Tagon. Mereka bahkan memanggil Tagon sebagai “Dewa yang Hidup, Aramun.” Dan yang terakhir datang menghadap Tagon adalah Mihol. Sama seperti yang lain, dia memanggil Tagon dengan panggilan “Aramun.”
Tanpa malu, Mihol berkata kalau mereka sudah menang. Dia bicara seolah-olah dari awal telah memihak Tagon dan tidak berkhianat sama sekali. Tagon tertawa mendengar ucapan Mihol. Dengan sinis dia bertanya, apa Mihol pikir bisa menipunya? Atau berlagak bodoh?
Mihol membantah kalau dia tidak menipu ataupun berlagak bodoh. Hanya dengan dia berlutut saja, Tagon sudah akan menerima keuntungan. Tanya bisa menggantikan Asa Ron dengan kemampuan sucinya, tapi dia tidak tergantikan selama hanya dia yang tahu rahasia mengenai perunggu. Tagon membenarkan dan menyuruh Mihol untuk berlutut sekarang juga di hadapannya.
Mihol berlutut dan berkata kalau itu cara mereka menyambut raja di Remus. Dia tahu kalau Tagon mau jadi raja. Tagon akhirnya akan menjadi raja dan Arthdal akan menjadi kerajaan. Sebanyak apa yang Tagon tahu mengenai kebiasaan raja? Dia lahir di negeri yang di pimpin seorang Raja dan tumbuh besar dalam kerajaan tersebut, karena itu, Tagon pasti akan membutuhkannya. Dia yakin kalau dia akan berguna bagi Tagon.
“Aku selalu memihak orang yang paling berkuasa, itu saja. Selama kau paling berkuasa di Arthdal, aku tidak akan mengkhianatimu,” ujar Mihol.
Tagon dengan sinis berkata kalau dia tahu bahwa Mihol akan menjadi orang pertama yang berkhianat padanya saat posisinya terancam. Mihol tersenyum, membenarkan. Dia juga memberikan pendapatnya kalau Asa Ron bukanlah orang yang gampang menyerah dan pasti merencanakan sesuatu.
--

Asa Ron dan Asa Yon berada di Gunung Puncak Putih. Asa Yon merasa cemas dan bertanya apakah Asa Ron akan membiarkan mereka merebut Kuil Agung? Ini bukan masalah kehilangan jabatan, tapi jika klan Asa kehilangan hak istimewanya karena ini, maka mereka tidak bisa memimpin Suku Gunung Putih. Gohamsani akan di lakukan di sini dan hanya itu peluang mereka.
Akan tetapi, hal itupun tampaknya sulit karena para pasukan kerajaan dan Daekan sudah berjaga di depan gua Gunung Puncak Putih.
--

Tagon masih sinis pada Mihol. Dia menerima nasihat Mihol, tapi nasihat itu sudah terlambat. Dia sudah memikirkannya duluan sampai di sana.
--
Mubaek menghadap pada Asa Ron dan memberitahu kalau Tagon memerintahkannya untuk membatu dalam persiapan Gohamsani. Asa Ron tampak marah karena Tagon tidak memberi celah padanya untuk merencanakan apapun.

Asa Sakan muncul dan menyuruh Asa Ron untuk bicara dengannya. Seluruh sudut gua dan gunung sudah berjaga. Mereka telah tiba di sini sebelum mereka kembali dari Kuil Agung. Mereka ingin memastikan kalau mereka tidak merencanakan muslihat apapun. 
--

Para pasukan Daekan berkumpul untuk memberi hormat pada Tagon. Tagon berterimakasih pada mereka karena telah mempercayainya selama ini dan bertahan dari segala kesulitan. Dari kejadian “Darah Atturad” (penyerangan terhadap suku Neanthal) dan sedekade Perburuan Besar Neanthal, lalu mereka di suruh untuk memandamkan pemberontakan Suku Ago, membuat tangga di Tebing Hitam Besar, dan membawa budak dari Iark. Selama semua kejadian itu, semua pasukan Daekan tetap percaya penuh pada Tagon dan menahan segala kesulitan.
Mereka telah berhasil sejauh ini tanpa menumpahkan darah sama sekali. Kini, hanya gohamsani yang menjadi rintangan terakhir untuk di atasi. Dia sudah mengirimkan Mubaek untuk menjaga Gunung Puncak Putih. Dia meminta bantuan agar gohamsani bisa di lakukan tanpa halangan. Semua pasukan berlutut menerima perintah Tagon.
 “Sejujurnya, aku punya rahasia,” ujar Tagon.
“Apa itu, Niruha?”
“Sejujurnya, aku benci membunuh orang,” jawab Tagon.
Semua kaget dan bingung dengan jawaban Tagon. Mugwang langsung bangkit berdiri dan tertawa, sambil mengatakan kalau sebenarnya dia juga sangat benci membunuh orang. Semua langsung ikutan berdiri dan membenarkan kalau mereka sama seperti Tagon. Mereka lebih suka menyelamatkan nyawa.
Kitoha tiba-tiba karena penasaran mulai menanyakan mengenai putra Tagon. Tagon membenarkan kalau dia memang punya putra. Semua penasaran, siapa ibunya? Tagon menjawab, “Taealha.”
Semua langsung kaget.
--

Haetuak menemui Taealha yang sedang sibuk menggambar di atas kulit yang terbentang luas di lantai. Haetuak datang untuk melapor kalau gaun Taealha untuk gohamsani sudah siap, sangat mewah. Taealha tidak peduli karena bukan itu tujuannya hingga mau melalui segala kesulitan.
“Apa rencana ayahku?” tanya Taealha.
“Seperti dugaanmu, dia kunjungi Tagon Niruha dan membungkuk di depannya.”
“Lalu bagaimana?”
“Tagon Niruha menyuruhnya berlutut lebih dahulu. Lalu Mihol…”
“Pasti langsung berlutut,” sambung Taealha, bisa menduga.
--

Saya berada di kuil Agung. Dia memperkenalkan diriya kepada semua klan Asa yang ada di Kuil Agung dan juga suku Wahan bahwa dia adalah anak tunggal dari Tagon dan mulai dari sekarang akan membantu Tanya. Salah seorang suku Wahan sangat terkejut karena Saya sangat mirip seperti Eunseom, sama seperti yang Yeolson katakan pada mereka.
Saya juga menegaskan kalau mulia dari sekarang Tanya adalah pendeta tinggil baru Kuil Agung dan akan memimpin Kuil Agung sesuai ajaran Asa Sin.
“Pertama, aku mau semua pendeta mengukir ajaran Jiwa Gunung Puncak Putih di tiap pilar kuil. Momyeongjin, kau yang memimpin,” arahkan Saya.
Usai itu, Saya berlutut di hadapan Saya dan mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh Saya. Dia berbisik kalau itu adalah etika-nya. Salah seorang suku Wahan bertanya pada salah satu klan Asa, dan ternyata sebelumnya tidak pernah ada etika seperti itu.
Saya memegang tangan Tanya dan terus berkata kalau itu adalah etika dan Tanya harus membiasakan diri. Tanya tampak tidak nyaman. Tapi, karena Saya terus berkata bahwa itu adalah ‘etika’ maka Tanya tidak bisa melawan.
Tanya menanyakan kapan warga Wahan yang menjadi budak akan kembali ke Arthdal? Saya menjawab sebentar lagi Akan tetapi dia heran kenapa Tanya peduli pada warga Wahan padahal mereka bukanlah keluarga Tanya. Tanya dengan tegas berkata kalau mereka semua adalah keluarga dan bersaudara.
“Hei, kau tak mau tahu tentang orang tua dan saudara kandung aslimu?” tanya Tanya.
“Saudara kandung? Orang tua, mungkin. Saudara kandung? Itu aneh.”
“Aku hanya penasaran. Jika kau punya saudara? Jika kau bertemu dia…”
“Walau punya saudara, dia tak berarti apa pun karena kami tak pernah jumpa.”
Ekspresi Tanya tampak aneh dan Saya melihat ekspersinya tersebut.
--
Para pasukan Daekan yang mendengar kalau Taealha adalah ibu Saya tampak tidak percaya. Kalau di lihat dari segi umur, hal itu mustahil. Mugwang mengejek Kitoha yang tidak tahu apapun. Tidak penting siapa yang melahirkan, yang penting adalah fakta bahwa Taealha adalah ibu sah Saya.
Saat itu, Tanya dan Saya lewat di hadapan mereka. Pasukan Daekan dan Arthdal langsung berlutut memberikan hormat pada Tanya. Mugwang yang tampak tidak senang harus berlutut pada Tanya. Tanya menanyakan dimana Mubaek? Mugwang langsung menatapnya dan memberitahu kalau Mubaek ada di Puncak Gunung Putih.
Setelah Tanya dan Saya pergi, Mugwang langsung meludah karena kesal harus memanggil Tanya dengan sebutan ‘Niruha.’ Yang lain sampai kaget melihat reaksi Mugwang tersebut.
--
Asa Sakan memberitahu Asa Ron kalau dia sudah menerima tanggal untuk gohamsani dari Isodunyong (dewa klan Asa). Maka mereka harus memberitahunya pada Tanya dan Tagon. Setelah itu, baru mereka pikirkan harus apa selama gohamsani.
“Ibu, Tagon akan disembah sebagai dewa yang hidup setelah gohamsani.”
“Lalu kenapa? Kau sudah lupa? Sudah Ibu katakan, Tagon bukan masalah. Bencana lebih besar akan menimpa Arthdal, dan Tagon akan menghentikannya,” ujar Asa Sakan penuh marah pada Asa Ron.
“Ibu, Ibu bisa menemui para dewa?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tak bisa lagi bertemu para dewa tanpa Asap Suci. Artinya, aku tak lagi bisa melihat tempat yang jauh dan dalam yang bisa Ibu lihat.”
“Asa Ron!” teriak Asa Sakan, marah.
--

Selesai dengan Asa Sakan, Asa Yon langsung bertanya pada Asa Ron apa yang Asa Sakan katakan? Asa Ron tampak muram dan tidak mau menjawab. Saat itu, seseorang memanggil Asa Ron dari belakang. Dan Asa Ron langsung memberikan perintah agar mengirim utusan kepada Anak-anak Shahati. Asa Yon tampak ragu dan menentang perintah tersebut.
“Suruh Lidah Hitam datang,” perintah Asa Ron.
Pria yang muncul tiba-tiba mengiyakan dan langsung pergi melakukan perintah Asa Ron.
Asa Ron sendiri sudah bertekad akan menghadapi Tagon.
--

Tagon datang menemui Taealha. Dan Taealha menunjukan pada Tagon gambar yang di buatnya di atas kulit yang luas di lantai. Gambar itu akan menjadi bendera mereka. Peta penaklukan mereka. Dia akan berdiri di barisan depan dengan Tagon dan akan memegang pedangnya lagi. sekarang, mereka akan menyatukan seluruh benua di Arth. Bendera dengan lambang ini akan terlihat di seluruh Arth. Mereka akan menamai negeri ini Tagon dan Taealha. Nama yang akan melambangkan wilayah dan negara.
Tagon tampak senang dengan yang Taealha ucapkan. Negara dengan nama mereka.
“Kita akan menjadi lagu. Orang menyanyikan lagu tentang kita, alih-alih Risan dan Asa Sin. Aku percaya padamu, tapi tak tahu ini akan jadi nyata. Aku percaya padamu, juga cemas,” ujar Taealha.
“Soal apa?”
“Kau pikir apa? Satu-satunya yang tak kusuka darimu. Kepribadianmu. Kau menjadi orang terkuat di Arthdal sejak lama, artinya kau bisa berbuat semaumu. Namun, kau selalu tak yakin dan ragu. Kau ingin disukai semua orang di Serikat. Apa cintaku tak cukup bagimu?”
“Hanya tragedi yang menunggu pemimpin yang tak disukai rakyatnya. Aku paham alasan bekas pemimpin Serikat, Ahiru, yang mengaku Aramun Haesulla, melakukan hal-hal gila 80 tahun lalu. Jika tak disukai oleh rakyat, hanya ada satu pilihan. Tirani. Aku tak inginkan itu. Jadi, warga Serikat harus menyukaiku jika ingin bahagia dan damai.”
“Ya, kau benar. Kau melakukannya dengan cinta dan dukungan rakyat. Kau sukses tanpa pertumpahan darah di Serikat,” puji Taealha.
“Itu karena kau tak mengkhianatiku. Kita tak saling berkorban nyawa, juga tak mengkhianati karena egois. Taealha. Kita…”
“Kita bebas dari cangkang yang mengurung kita.”
“Ya, tepat.”
“Kini, kita bisa jadi kupu-kupu,” ujar Taealha.
Dia dan Tagon saling menggenggam tangan dan bertatapan dengan dalam.

4 comments:

  1. Hello guys 😄😄😄
    Sinopsis part selanjutnya besok baru update ya. Karena durasi Arthdal per episodenya lebih dari 1 jam (episode 13: 1jam 24 menit & episode 14: 1jam 17menit. Mohon maaf ya kalau agak lama. Soalnya kalau pagi, aku kerja dan hanya bisa nulis dr jam 6 sore s.d 9 malam, kalau tidak ada acara/urusan/kendala.
    Untuk sinopsis terakhir DOCTOR JOHN aku tulis, siap tulis episode 14 Arthdal ya. Baru kemudian sinopsis GO GO SQUID. Hari Sabtu nulis WALK INTO YOUR MEMORY.
    Thanks ☺☺❤

    ReplyDelete
  2. Semangatt kakk..ndak pp..pntg apdet ampek slese kakk...😁😁

    ReplyDelete