Saturday, September 7, 2019

Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 29

0 comments
Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 29
Images by : SBS
Semua karakter, tempat, perusahaan dan kejadian dalam drama ini hanyalah fiksi
Yo Han terus berusaha memberikan CPR bagi Gi Seok, memohon agar Gi Seok dapat hidup. Dan di saat-saat itu, dia teringat saat Tae Kyung bertanya, “Kamu melakukan ini untuknya? Sebagai seorang dokter, apakah kamu mengikuti keputusan yang kamu ambil? Biarkan Gi Seok pergi dengan tenang.”

Dan pada akhirnya, Yo Han menghentikan CPR dan di saat dia berhenti, di saat itu juga Gi Seok pergi dengan wajah damai. Semua bisa merasakan duka yang Yo Han rasakan. Yo Han melepas tangannya dan melihat tulisan di perban tangannya yang di tulis oleh Si Young : “Jangan pernah sakit.” Yo Han terpukul. Kematian Gi Seok sangat membuat Yo Han down. Pada akhirnya, dia tidak bisa melindungi dan menyembuhkan Gi Seok, orang yang menderita penyakit yang sama dengannya : CIPA.
--

Yoo Joon dan Mi Rae menyampaikan kabar duka itu pada ibu Gi Seok. Ibu Gi Seok menangis terisak-isak, tapi dia tetap berterimakasih pada mereka. Yoo Joon mengenggam tangannya, berusaha memberikan kekuatan. Mereka akan berusaha membantu. Anak-anak yang membawa Gi Seok ke gudang dan melukainya, mereka harus bertanggung jawab secara hukum. Mereka akan membantu membuktikannya secara medis.
Ibu Gi Seok menangis semakin histeris. Anaknya, Gi Seok, telah tiada.
--

Yo Han berada sendirian di dalam ruang operasi yang telah kosong. Si Young belum pergi, dari luar ruang operasi, dia melihat Yo Han yang duduk. Si Young masuk ke dalam dan menghampiri Yo Han.
“Tanganmu baik-baik saja?” tanya Si Young. “Coba kulihat.”
Yo Han menepis tangan Si Young. Dia menyuruh Si Young berhenti bersikap seperti walinya. Meskipun tidak ada masalah sekarang, apa pun bisa terjadi. Itulah takdir bagi pasien seperti dirinya dan Gi Seok.
“Aku sudah hancur. Kondisiku mungkin hanya akan menurun mulai saat ini. Tidak ada masa depan. Jangan mengkhawatirkanku dan memimpikan masa depan yang tidak ada. Jangan menghancurkan hidupmu,” ujar Yo Han penuh kesedihan. Usai mengatakan itu, Yo Han berjalan pergi keluar dari ruang operasi.
“Gi Seok bukan kamu,” ujar Si Young, menghentikan langkah Yo Han. “Kamu bukan Gi Seok. Kamu tidak bisa menyelamatkan Gi Seok, tapi sekarang kamu hidup. Bukan hanya kamu yang masa depannya tidak diketahui. Kita semua hidup tanpa tahu kapan kita akan mati.”
Yo Han berbalik. Dia menatap Si Young dan berjalan mendekat. Di dalam tubuhnya ada bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Bam!! Apa yang bisa Si Young lakukan jika Si Young memegang bom waktu? Apa yang ingin Si Young inginkan, dia lakukan?!
“Kamu tidak pernah mengatakan itu kepada pasien. Meskipun tidak ada hari esok, katamu kamu tidak akan mempercepat kematian. Jadi, kenapa kamu tidak membiarkan dirimu memiliki harapan atau impian?” marah Si Young, balik. Melihat Yo Han yang begitu pesimis akan hidupnya sendiri. “Kamu juga ingin hidup. Jika tidak ada hari esok, hiduplah hari ini.”
“Itu yang kulakukan. Aku hidup seolah-olah tidak ada hari esok. Dengan begitu, aku bisa melakukan banyak hal meski ceroboh. Aku tidak takut hari esok,” ujar Yo Han, penuh emosi. Untuk hari ini, dia mengeluarkan semua emosinya. “Tapi sekarang, aku terus memimpikan hari esok. Aku terus memimpikan sesuatu yang mungkin tidak akan datang. Itu menghentikanku hidup di masa kini.”
“Apakah karena aku?”
“Ya, karena kamu!! Berkat kamu, aku bisa bermimpi untuk kali pertama dan itu membuatku bahagia... Tapi aku akan kembali menjadi orang yang cukup ceroboh untuk melakukan banyak hal dan tidak takut dengan hari esok,” tekan Yo Han dan pergi keluar dengan emosinya.
Dia meninggalkan Si Young di dalam ruang operasi.
Si Young menangis. Dadanya terasa sakit, mendengar apa yang Yo Han katakan.
Yo Han berjalan dengan emosi. Dia teringat semua kenangannya bersama Si Young. Dari saat mereka bertemu di penjara, dan kemudian menjadi teman kerja dan kemudian Si Young tahu penyakitnya dan selalu memperhatikan, menjaga dan peduli padanya. Menyatakan kalau dia menyukai Cha Yo Han.
Doctor John
Episode 15 : Hati Orang yang Pergi
Esok hari,
Berita mengenai mantan Menteri Lee Won Gil yang di temukan tewas di rumahnya, telah tersebar ke seluruh masyarakat.
Dua hari lalu, mantan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan, Lee Won Gil, ditemukan tewas di rumahnya. Kejaksaan akan segera memberikan kabar terbaru terkait penyelidikan. Jaksa melakukan penyelidikan setelah menerima laporan mengenai obat ilegal. Kematiannya sudah dipastikan saat penyelidikan. Karena itu, mereka juga akan membuat pengumuman mengenai obat tersebut.
“Kami memastikan ada dua korban lagi yang tewas akibat penyalahgunaan obat ilegal yang sama. Termasuk mantan menteri, Lee Won Gil, kami yakin pihak ketiga melakukan eutanasia kepada mereka atau mereka menerima semacam bantuan untuk bunuh diri. Itulah fokus penyelidikan kami. Selain itu, untuk mendapatkan bukti mengenai obat ilegal itu, kami melakukan operasi penyitaan dan penggeledahan. Kami juga mengetahui bahwa dua tersangka utama telah kabur ke luar negeri. Jadi, kami meminta bantuan Interpol dan menjadikan mereka buronan. Kami juga menyelidiki apakah Zinmu Rijund berperan dalam pembuatan dan distribusi obat ilegal itu,” jelas Seok Ki, kepada wartawan.
Yi Moon dan Tae Kyung melihat berita itu bersama. Yi Moon kaget dan tidak menyangka mengenai keterlibatan Zinmu Rijund, apalagi dia mendengar kalau kejaksaan juga menggeledah kantor Tim Hukum mereka. Tae Kyung memberitahu kalau dia juga akan di selidiki sebagai saksi. Mereka tidak habis pikir kenapa Myung Oh melakukan hal seperti itu.
Yi Moon berkata kalau sekarang semuanya jelas. Pantas saja Myung Oh rela membela dokter yang melakukan eutanasia dan tn. Lee yang membuat pil untuk melakukan eutanasia kepada pasien. Apa yang mereka inginkan?
“Mereka mungkin mau negara kita melegalkan eutanasia,” jawab Tae Kyung.
“Kamu tidak tahu apa pun? Kamu tidak mendengar apa pun dari Menteri?” tanya Yi Moon, curiga.
“Kamu pikir aku akan berpura-pura tidak tahu apa pun?” tanya Tae Kyung balik dengan sinis.
“Kurasa Dokter Cha tidak ada hubungannya dengan ini,” tebak Yi Moon.
“Kejaksaan tidak datang untuk menyelidikinya.”
"Kamu periksa saja sendiri,” perintah Yi Moon.
"Untuk apa?  Lagi pula, dia tidak akan tetap di rumah sakit kita. Jika kamu penasaran, tanyakan saja sendiri,” balas Tae Kyung.
--

Seok Ki selesai bekerja. Saat hendak berjalan ke parkiran, dia merasakan sakit di perutnya, tapi dia menahannya. Pas pula, Eun Jung menelponnya karena telah melihat berita tersebut. Seok Ki berujar itu karena Eun Jung memberitahunya mengenai pesan Bincang Kematian dan seseorang juga mengiriminya laporan penting. Eun Jung langsung bisa menebak kalau orang itu pasti Yo Han. Seok Ki membenarkan. Eun Jung langsung bertanya lagi, apa yang Yo Han katakan mengenai unggahan di web rumah sakit itu (mengenai Yo Han adalah pasien CIPA)? Seok Ki menjawab kalau Yo Han berkata hal itu tidak penting. Eun Jung tampak terkejut.
--


Eun Jung duduk sendirian di gazebo taman. Ingatannya melayang ke saat 3 tahun lalu, di saat dia baru selesai memaksa (memalsukan) Yoo Seong Kyu menandatangani uji klinis tersebut. Saat dia keluar dari kamar Seong Kyu waktu itu, dia sempat berpas-pasan dengan Yo Han. Yo Han bahkan mengambilkan formulir uji klinis yang terjatuh ke lantai karena dia terkejut dan memberikannya padanya.
--

Suster Hong terkejut mendengar dari Yoo Joon kalau Yo Han tidak akan kembali ke rumah sakit.  Mi Rae juga kaget dan bertanya, apakah itu keputusan rumah sakit atau keputusan Yo Han? Yoo Joon menjawab kalau rumah sakit akan mengikuti pendapat pasien, tapi Yo Han tidak menerimanya. Yo Han akan pergi setelah merawat beberapa pasiennya. Heo Jun dan Won Hee merasa sedih dengan keputusan Yo Han. Apa itu karena Yo Han shock atas kematian Gi Seok?
--
Si Young berjalan sendirian di koridor. Dia masih merasa sedih mengingat perkataan Yo Han kemarin malam padanya.
Yo Han juga berjalan menuju ke Pusat Pengedalian Rasa Sakit. Dia bisa saja berpas-pasan dengan Si Young, tapi saat melihat Si Young, dia berhenti dan membiarkan Si Young berjalan duluan (Si Young tidak melihatnya).
Rapat di lakukan, dan kali ini, rapat adalah salam perpisahan Yo Han pada mereka semua. Heo Jun bertanya, apakah Yo Han di pekerjakan oleh rumah sakit lain?  
“Tidak.”
“Lalu kenapa kamu pergi? Kamu mau ke mana?” tanya Won Hee.
“Ada pasien yang menunggu, jadi, mari bekerja,” alihkan Yo Han, tidak menjawab pertanyaan Won Hee. “Aku akan membereskan semuanya dalam beberapa hari. Dokter Lee, kamu bisa mengambil alih tugasku.”
Usai mengatakan itu, Yo Han keluar dari ruang rapat.
--
Seok Ki sedang dalam perjalanan. Tapi, tiba-tiba saja, dia merasakan sakit yang teramat sangat di dada-nya. Masih dalam keadaan menyetir, dia berusaha mengambil obat yang ada di tas-nya, yang di letaknya di kursi penumpang. Karena mengambil obat itu, dia tidak sadar akan polisi tidur. Obatnya terjatuh dan rasa sakitnya semakin kuat. Dia tidak fokus dan hampir tertabrak jika dia tidak membanting setir. Mobil yang berada di belakangnya jelas langsung keluar dan berteriak marah. Tapi, begitu melihat Seok Ki yang tampak kesakitan, pria itu langsung panik dan menelpon ambulans.
Ambulans tiba. Seok Ki di bawa dalam mobil ambulans. Dalam keadaan sangat kesakitan, Seok Ki meminta agar di bawa ke Pusat Medis Hanse.
--
Yo Han di panggil ke UGD karena di cari oleh Son Seok Ki. Yo Han langsung menanyakan kondisi Seok Ki.
“Aku mulai merasa sangat kesakitan saat berkemudi dan akhirnya kehilangan kesadaran. Aku diberikan pereda nyeri, jadi, sekarang rasanya lebih baik. Tapi rasa sakitnya makin memburuk, jadi, menjalani hidup normal terasa makin sulit,” jelas Seok Ki.
“Kamu harus dirawat di rumah sakit. Aku akan mencari cara,” ujar Yo Han.
Yo Han langsung memberikan perintah pada suster.
--
Heo Jun sedang berbincang dengan Yoo Joon. Dia mendengar kalau Yo Han di panggil ke UGD karena ada pasien yang mencarinya. Yoo Joon membenarkan.
Yo Han kembali saat itu. Dia langsung masuk ke ruang rawatnya untuk melihat rekam medis Son Seok Ki.
Dari komputer yang ada, Si Young bisa melihat kalau pasien yang akan di rawat oleh Yo Han selanjutnya adalah Son Seok Ki.
Yo Han melihat hasil rekam medis Seok Ki. Dia mengetukkan jari tengahnya, berpikir keras.
--
Yo Han pergi ke ruang rawat Seok Ki.
“Aku meninjau bagan medismu. Kamu sudah menerima banyak analgesik opioid, jadi, kamu harus menjalani insersi pompa intratekal. Efek sampingnya lebih sedikit daripada obat oral dan lebih efektif untuk mengendalikan rasa sakit.”
“Baiklah.”
“Aku akan menjadwalkan prosedurnya untuk besok,” beritahu Yo Han.
Setelah itu, Yo Han beranjak keluar. Tapi, Seok Ki tiba-tiba bertanya, kenapa Yo Han tidak bertanya kenapa dia memilih Yo Han padahal ada banyak rumah sakit dan dokter lainnya.
“Karena aku gigih?” tebak Yo Han, sambil tersenyum ramah.
“Ya, itu benar. Kegigihan terhadap pasien adalah yang sangat kubutuhkan. Tolong bersikap gigih kepadaku juga,” pinta Seok Ki.
Yo Han tersenyum dan menganggukan kepala. Seok Ki tersenyum. Sepertinya, dia sudah sadar kalau Yo Han berbeda dari yang di bayangkannya dulu.
--
Yo Han mengumpulkan semuanya dan menjelaskan mengenai kondisi Seok Ki. Pasien pria, 38 tahun. Kanker perut stadium tiga. Insersi pompa intratekal akan di lakukan besok.
Usai membahas itu, semua langsung bergegas keluar. Si Young tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi dia mengurungkan niatnya dan tidak mengatakan apapun.
--
Yo Han kembali ke ruangannya. Dia bersiap untuk pulang.
Dan ternyata, Si Young sudah menunggunya di depan rumah sakit. Dia langsung bertanya, apakah Yo Han apa mungkin Yo Han akan melakukan penelitian itu? Penelitian untuk menemukan zat yang bisa menahan nyeri dengan menggunakan DNA para pasien CIPA. Yo Han membenarkan.
“Aku sudah menduga bahwa sebagai pemilik gen itu dan sebagai seorang cendekiawan, kamu ingin berpartisipasi. Apakah itu pilihanmu?” tanya Si Young.
“Ya.”
“Bagaimana denganku?” tanya Si Young dengan suara bergetar. “Hidupku benar-benar berubah setelah bertemu denganmu. Apakah hidupmu tidak berubah? Kamu bilang aku membuatmu bermimpi dan bahagia. Apa yang kamu impikan dan kenapa kamu bahagia? Jawab aku. Pergilah saat kamu harus, tapi jawab aku dahulu.”
“Kang Si Young. Sadarlah! Sadarlah dan hadapi kenyataan. Aku tidak ingin membahas hal-hal ini denganmu lagi. Jangan menunggu jawabanku,” ujar Yo Han dan berjalan mendahului Si Young.
Si Young berdiri diam. Tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Jawaban Yo Han begitu jelas.
--

Yo Han seperti biasa, mengambil sampel darahnya. Tapi… kali ini, dia tampak tidak fokus. Yo Han bahkan memegang kepalanya, entah apa yang terjadi. Entah pikirannya yang memikirkan Si Young atau gejala penyakitnya kembali muncul.
--
Esok hari,
Yo Han membawa Seok Ki ke ruang operasi. Dia bersiap melakukan prosedur insersi pompa intratekal. Semua berjalan lancar.
--
Seok Ki sudah di bawa kembali ke kamar rawatnya. Yo Han melihatnya yang telah tertidur dan keluar dari ruangannya.

Di depan ruangan Seok Ki, dia berpas-pasan dengan Eun Jung. Eun Jung tampak terkejut melihatnya, tapi Yo Han melewatinya begitu saja.
Tapi, Yo Han tiba-tiba berbalik dan berdiri di depan Eun Jung.
“Lama tidak bertemu, Cha Yo Han. Kulampiaskan semua kemarahan dan kebencianku kepadamu karena membiarkan Yoon Seong Kyu mati dengan tenang. Tapi kamu terus bersikap seolah-olah semua baik-baik saja. Kamu harus sama menderitanya denganku karena kematiannya agar aku merasa lebih baik, tapi kamu tidak merespons sama sekali. Kenapa?” marah Eun Jung. “Katakan kepadaku. Kenapa kamu tidak memberi tahu semua orang bahwa itu dilakukan oleh perawat yang dendam kepada pasien?”
Flashback
Saat di persidangan 3 tahun lalu, Yo Han membuat pernyataan kalau dia tidak tahu mengenai formulir persetujuan uji klinis tersebut. Dia mengetahuinya sehari setelah Seong Kyu meninggal.



Eun Jung tampak terkejut. Dia ingat jelas saat dia memalsukan formulir itu, sehingga seolah Seong Kyu yang tanda tangan. Dan saat dia keluar, dia bertabrakan dengan Yo Han. Yo Han saat itu mengambilkan formulir yang terjatuh, dan melihat jelas kalau formulir itu di tanda tangan oleh Yoon Seong Kyu. Tapi, dia mengembalikan formulir itu pada Eun Jung.
End
“Menurutku sangat aneh bahwa dia telah menandatangani formulir persetujuan. Lalu aku sadar kamu mungkin keluarga korbannya. Setelah mengetahuinya, aku tidak berhak menyebutkan formulirnya. Kupikir sudah sewajarnya kamu marah atas perbuatanku. Kamu kehilangan anakmu. Tanpa melampiaskan kemarahanmu kepadaku, bagaimana lagi kamu bisa bertahan dari kenyataan? Aku mengerti. Serta maafkan aku karena menyebabkan rasa sakit seperti itu. Aku minta maaf. Aku berharap kini kamu bisa tenang,” ujar Yo Han tulus.
Eun Jung shock. Tidak menyangka jawaban Yo Han. Tidak menyangka atas permohonan maaf Yo Han. Setelah semua yang di lakukannya, malah Yo Han yang meminta maaf padanya. Bahkan Yo Han berharap kini dia bisa hidup tenang. Saking shock-nya, Eun Jung tidak mengatakan apapun saat Yo Han pergi.

Eun Jung masuk ke dalam ruang rawat Seok Ki. Dia melihat Seok Ki yang tertidur, tapi bahkan saat tertidurpun, wajah Seok Ki tampak kesakitan. Eun Jung menangis. Mungkin dia sudah tersadar atas segala keegoisannya. Amarahnya dan kesedihan sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya, telah membutakannya dari segalanya.
--
Esok hari,
Tae Kyung mendapa telepon dan wajahnya langsung berubah pucat.
Dokter yang merawat Yi Soo, menjelaskan pada Tae Kyung dan Yi Moon kalau tiga hari yang lalu, oksimeter serebral Yi Soo menurun. Neurologi melakukan EEG dan hasilnya menunjukkan Yi Soo hampir mati otak.

Tae Kyung dengan langkah lunglai, mendekat ke ranjang Yi Soo. Dia memandang wajah suaminya dan kesedihan menyelimutinya. Dia memegang dada Yi Soo dan menangis.
--

Mi Rae mendapat telepon dari Tae Kyung dan Si Young dari Joo Kyung. Mereka mengangkat telepon itu bersamaan. Berita mengenai Yi Soo. Si Young berkata dia akan segera ke sana. Sebelum pergi, dia mengambil kartu donor ayahnya. Mi Rae menangis, dia takut atas kemungkinan yang terjadi. Si Young mengenggam tangannya dan berkata kalau mereka harus menemui ayah.
Begitu mereka tiba, Tae Kyung memberitahu kalau Komisi Etika Rumah Sakit sudah berunding. Dan mereka memutuskan untuk melepas ventilator Yi Soo.
“Kami ingin memberi tahu kalian setelah keputusan itu dibuat. Tekanan darahnya mulai naik turun beberapa hari lalu, dan kini oksimeter serebralnya jatuh. Kemarin, EEG-nya negatif,” beritahu Joo Kyung dan Tae Kyung.
Si Young dan Mi Rae menangis. Si Young mencium wajah ayahnya. Dia berusaha memaksakan sebuah tersenyum dan berkata kalau ayahnya sudah berusaha yang terbaik. Mi Rae berkata kalau mereka akan merindukan ayah dan kini ayah bisa beristirahat dengan tenang.
--
Yoo Joon menemui Yo Han.

No comments:

Post a Comment