Tuesday, October 15, 2019

Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 4 - part 2

0 comments

Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 4 – part 2
Network : iQyi Netflix
Dengan sikap santai, Man Ting membicarakan kepada dua asisten nya bahwa tiga orang barusan hanyalah seperti ayam. Mengalahkan mereka sangat mudah. Dan Ast. Manajer memuji Man Ting menakjubkan. Man Ting kemudian menyuruhnya untuk mencari siapa pelukis lukisan tadi, dan minta si pelukis untuk menuliskan lagu untuk nya.
“Man Ting,” panggil manajer.

“Apa? Apakah harganya mahal?” balas Man Ting.
“Dia sudah meninggal,” jawab manajer. Mendengar itu, Man Ting terkejut.
“Kapan dia meninggal?!”
“Ratusan tahun yang lalu,” jawab menajer.
Mengetahui itu, Man Ting menebak, apakah itu pada zaman Dinasti Qin. Dan jawabannya salah. Manajer Gu kemudian ikut menebak, menurutnya pasti pada zaman Dinasti Han. Tapi jawabannya juga salah. Yang benar adalah Dinasti Song.

Mendengar itu, Man Ting tidak peduli. Namun kemudian dia menyuruh Manajer Gu untuk tetap menyimpan lukisan tersebut, karena itu lukisan antik. Jadi suatu saat bila keluarga Shen bangkrut, maka mereka bisa menjual itu demi uang. Dan mereka semua pun mengiyakan. Lalu Man Ting menyuruh kedua manajer nya untuk bisa pergi duluan.


Dengan cepat, tanpa menolak, kedua menajer Man Ting pun langsung berlari pergi. Dan melihat itu, Man Ting berusaha menahan rasa kesal nya. Lalu dia memberitahu pada Manajer Gu bahwa dia baik- baik saja, jadi tidak perlu mengikutinya. Dan Manajer Gu mengiyakan, lalu pergi juga.
“Tidak ada yang normal disini,” gumam Man Ting, capek.

Xie Xiang datang menemanin Ayah nya ke pesta. Disana dia masih tidak tahu kalau pesta tersebut di adakan oleh Ting Bai, yang dia tahu hanyalah pesta tersebut di adakan oleh keluarga bermarga Shen.
Sehingga dengan tenang, Xie Xiang pun menikmati makanan dan minuman yang di sediakan. Sementara Ayahnya sibuk mengobrol bersama orang lain.
Yan Zhen juga hadir ke pesta tersebut, dan dia tampak sangat bosan sekali.



Zuo Teng Yi Fu, dia datang bersama dengan para anak buah nya ke pesta. Dan ketika dia melihat wakil menteri Gu Zong Tang, yaitu Ayah Yan Zhen. Maka dia pun memanggil nya. Namun Zong Tan langsung beralasan bahwa dia mau berbicara dengan orang lain dahulu, jadi dia pun permisi dan berjalan menjauhi Yi Fu.
Didalam ruangan kerja. Ting Bai memberitahu Jun Shan bahwa semua tamu yang hadir disini adalah tokoh kuat di Shunyuan. Jadi Jun Shan harus mengambil kesempatan ini untuk bergaul dengan semuanya.
“Kakak, kamu bau. Acara seperti ini, aku tidak suka,” kata Jun Shan.
“Omong kosong. Cepat atau lambat, kamu harus melakukan ini. Bisnis adalah tentang membangun koneksi. Jika kamu tidak belajar, siapa yang akan mengambil alih bisnis keluarga kita?” balas Ting Bai.

“Tentu saja. Kamu yang akan melakukannya,” jawab Jun Shan dengan santai.
Ting Bai mengerti kalau Jun Shan memiliki ambisi dan impian, tapi dalam kondisi yang sedang kacau ini, menurutnya bergabung dengan tentara bukanlah pilihan yang bijaksana. Mengembangkan industri adalah solusi utama. Namun Jun Shan malah tidak mau melakukannya, dan menurutnya itu bodoh.
“Aku tidak akan berdebat dengan mu,” balas Jun Shan, malas.
“Pokoknya, kamu harus ikut aku nanti. Berteman tidak akan membahayakan mu,” tegas Ting Bai. Dan Jun Shan pun mengiyakan dengan patuh.
Manajer Gu mengetok pintu dan masuk ke dalam ruangan. Dia memberitahu kepada Ting Bai bahwa ketua COC Jepang, Tuan Kazuo Sato, sudah tiba. Dan Ting Bai mengerti.

“Kakak, itu adalah berita buruk,” kata Jun Shan, mengingatkan.
“Mari kita lihat apa yang dia lakukan,” balas Ting Bai dengan tenang.
Xie Xiang menikmati kue dengan nikmat sambil memperhatikan ke sekeliling nya.
Ting Bai serta Jun Shan turun, dan menyapa para tamu dengan ramah, termaksud juga dengan Xie Yipei, Ayah Xie Xiang.


“Atas nama sekolah kami, aku datang untuk mengucapkan terima kasih. Terima kasih, Tuan Shen untuk sumbangan mu ke sekolah kami,” kata Yipei, dengan tulus.
“Kamu adalah Tuan Xie dari Peking?” tebak Ting Bai. Dan Yipei mengiyakan. “Ini bukan apa-apa. Setidaknya itulah yang bisa aku lakukan,” jelas Ting Bai, ramah.

Mendengar pembicaraan antara Ayah nya dan Ting Bai, Xie Xiang pun memperhatikan mereka. Kemudian saat dia melihat Jun Shan berada disana juga, dia langsung merasa terkejut, dan mengatai dirinya sendiri bodoh, karena Xiao Jun sudah menceritakan tentang keluarga Shen, tapi dia malah tidak sadar juga bahwa itu adalah Ting Bai dan Jun Shan yang disebutkan oleh Ayahnya.
“Aku seperti sedang menggali kuburan ku sendiri. Benar- benar kacau!” pikir Xie Xiang, kebingungan dan panik.

Yipei memanggil Xie Xiang untuk memperkenalkan nya kepada Ting Bai. Mendengar itu, dengan sengaja Xie Xiang langsung mencelupkan mukanya sendiri ke atas krim kue. Lalu dia melihat ke arah Ayahnya, dan memberitahu bahwa barusan ada seseorang yang menabrak nya, sehingga wajah nya jadi mengenai kue.

Mendengar itu, Ting Bai menjawab tidak apa- apa. Lalu dia memanggil Jun Shan untuk menemanin Xie Xiang. Tapi dengan cepat, Xie Xiang memberitahu bahwa dia bisa sendiri, dan dia pun berlari pergi. Namun Ting Bai tetap ingin Jun Shan menemani, jadi Jun Shan pun menyusul Xie Xiang.
Man Ting duduk sendirian. Dan melihat itu, Ting Bai pun mendekati nya. “Siapa wanita cantik ini? Kenapa kamu ada di tempatku? Cantik sekali, aku tidak bisa mempercayai mataku,” puji Ting Bai.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu gila ya? Dengarkan, jangan pernah mengundangku ke perjamuan yang membosankan lagi,” keluh Man Ting, pelan.
“Aku khawatir, aku tidak bisa. Dengan kamu disini, seluruh ruangan terlihat lebih cerah. Aku menikmati nya karena kamu menemanin. Tidak membosan kan sama sekali,” balas Ting Bai, menggombal.


Mendengar itu, Man Ting tertawa, dan menanyakan siapa yang mengajarkan Ting Bai berbicara seperti itu. Dan Ting Bai menjawab bahwa dia telah mencoba sejak lama untuk mendapatkan hati Man Ting, tapi dia belum berhasil, jadi dia pikir mungkin dia harus mengubah strategi nya.
“Tampaknya kamu sedang dalam suasana hati yang baik,” komentar Man Ting, menyindir. Dan Ting Bai tersenyum padanya, lalu dia mengajak Man Ting untuk berdansa bersama. Namun Man Ting menolak, dan memukul tangan nya.
Ting Bai dengan sengaja kemudian berbicara dengan keras, memuji- muji Man Ting. Sehingga membuat Man Ting merasa sangat malu, dan menunduk kan kepala nya.
Tepat disaat itu, Yi Fu (Kazuo Sato) datang menghampiri Ting Bai, dan mengajak nya berbicara. Dan dengan terpaksa, Ting Bai pun meladenin nya.


Sato mengatakan bahwa dirinya adalah seseorang yang menyukai tantangan, terutama yang dibawa oleh pria muda yang ambisius seperti Ting Bai. Dan Ting Bai membalas bahwa dia ada mendengar gosip, kalau Sato ada menyimpan dendam terhadap dirinya, dan ingin mencoba untuk membunuh dirinya.
Mendengar itu, Man Ting tertawa pelan.

“Bisnis adalah bisnis. Aku pengusaha, bukan pembunuh,” kata Sato.
“Aku senang untuk mendengar kamu mengatakan itu,” balas Ting Bai sambil menepuk pelan bahu Sato, lalu dia menarik Sato untuk mendekat, “Dulu aku berpikir, semua orang jepang punya kebiasaan membunuh,” bisiknya.

Dan mendengar itu, Man Ting tertawa lagi. Lalu dia memberikan tanda supaya Ting Bai menghentikan sikap seperti itu.

Sato berusaha untuk membersihkan nama baiknya. Dia menjelaskan bahwa bisnis itu seperti perang. Lalu untuk orang jepang lain nya mungkin tidak taat hukum seperti diri nya. Dan Ting Bai membalas bahwa ada sebuah pepatah lama di Tiongkok, Dimana ada masalah disana ada solusi.
“Apakah itu bisnis atau perang, aku akan menunggu kamu dan itu, penjahat untuk berkelahi habis- habisan,” kata Ting Bai dengan berani.
“Kamu pria yang pemberani. Aku menghargai mu,” balas Sato, tidak senang.
“Terima kasih pada mu, Tuan Sato,” balas Ting Bai dengan ramah.


Sato kemudian memperhatikan Man Ting. Dia memuji betapa beruntung nya Ting Bai, karena memiliki wanita yang cantik dan perusahaan yang hebat. Kemudian dia membahas mengenai insiden dimana Man Ting hampir saja di culik di Palimo. Dan dia menyarankan supaya Man Ting lebih berhati- hati saat pergi keluar.
Mendengar saran dari Sato yang terdengar seperti ancaman tersebut, Ting Bai menatap tidak suka kepada Sato.

No comments:

Post a Comment