Tuesday, October 15, 2019

Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 4 - part 1

0 comments

Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 4 – part 1
Network : iQyi Netflix

“Xie Liang Chen, apakah kamu seorang gadis?” tanya Yan Zhen, curiga.
Dengan gugup, Liang Chen langsung meneriaki Yan Zhen. Namun Yan Zhen tetap saja merasa curiga, sebab tubuh Liang Chen pendek dan kurus, kurang dalam stamina, serta pelari yang lambat. Bahkan Liang Chen menolak membuka baju di depan Dokter. Juga sepertinya, Liang Chen selalu tidur dengan mengenakan baju. Dan dia belum pernah melihat Liang Chen mandi di toilet Pria.

Liang Chen merasa gugup, dan mengatai Yan Zhen gila. Kemudian dia mengabaikan Yan Zhen. Dan Yan Zhen pun mengatakan bahwa sebaik nya Liang Chen memang bukan seorang wanita, sebab seorang wanita dengan penampilan seperti Liang Chen tidak memiliki harapan.

Mendengar itu, dengan kesal, Liang Chen pun langsung menutup pintu kamar mandi. Kemudian dia menatap dirinya sendiri di depan cermin.
Malam hari. Xie Xiang memimpikan tentang kakak nya, Liang Chen.


Liang Chen menyemangati Xie Xiang untuk berlari lebih cepat. Kemudian setelah itu, dia memainkan musik yang menyenangkan dan indah untuk Xie Xiang.
Terkadang jika ada barang yang rusak, maka Liang Chen akan membantu Xie Xiang untuk memperbaiki nya. Lalu terkadang, dia akan menangkap ikan untuk Xie Xiang.
Memimpikan itu, Xie Xiang tersenyum senang dalam tidurnya.

“Xiang, Xiang, bangunlah,” panggil Liang Chen, saat Xie Xiang sedang tertidur dengan nyenyak di halaman.
“Xiang, Xiang, cepat. Kamu akan terlambat ke sekolah. Xiang, dimana syal mu? Salju turun diluar. Dingin sekali. Xiang, makan lebih. Xiang, kamu sudah minum obat?” Itu semua yang selalu dikatakan oleh Liang Chen. Dia sangat dan amat perhatian kepada Xie Xiang.

Tengah malam. Xie Xiang menemani kakak nya yang tidak bisa tidur. Mereka mengobrol berdua. Liang Chen memberitahu bahwa dia akan berangkat besok, jadi dia ingin Xie Xiang menjadi gadis yang baik dan mendengarkan orang tua.
“Kamu beneran harus pergi?” tanya Xie Xiang, merasa tidak rela. “Ayah berkata Feng’an sedang dalam kekacauan. Hidupmu akan di pertaruhkan di tentara.”

“Bangsa kita sedang jatuh. Tidak ada tempat yang aman. Sekarang, itu adalah Feng’an. Sebentar lagi mungkin akan menjadi Beijing. Kita di lahirkan dan di besarkan disini, kemana lagi kita bisa pergi?” balas Liang Chen.
Xie Xiang tidak bisa mengerti maksud kakak nya. Dan Liang Chen membalas bahwa tidak apa bila Xie Xiang tidak mengerti, bahkan lebih baik lagi jika Xie Xiang tidak perlu tahu. Karena dia akan melindungin Xie Xiang.

Xie Xiang merasa khawatir, dan bertanya, apakah Liang Chen tidak takut, karena dalam perang akan ada tentara yang mati. Dan Liang Chen menjawab bahwa dia takut, tapi dia lebih takut negara atau bangsa mereka dalam bahaya. Dia ingin orang tahu bahwa masih ada pejuang, dan harapan.
“Kak, aku tidak ingin kamu pergi, tapi aku tahu kamu pasti punya alasan,” kata Xie Xiang sambil memeluk lengan kakak nya. “Jangan khawatir, aku akan merawat Ibu dan Ayah, serta menunggu kepulangan mu dirumah,” jelas Xie Xiang sambil tersenyum manis.
Dan mendengar itu, Liang Chen memeluk bahu Xie Xiang sambil mengelus kepala nya.
Xie Xiang mengeryit kan dahi nya.

Xieng Xiang merasa seperti mendengar suara kakak nya, Liang Chen, terus memanggil namanya. Dia pun melihat ke sekeliling dan mencari nya, tapi dia tidak menemukannya. Lalu kemudian dia melihat sebuah pintu dan membuka nya.

Dengan terkejut, Xie Xiang tersentak dan terbangun dari tidur nya. Kemudian dia mengambil kotak musik dari kakak nya, dan memeluk itu dengan penuh kerinduan.
Xie Xiang duduk di luar asrama dan merenung. Dia mengingat kembali perkataan cemas Xiao Jun kepadanya.

“Xiang, kamu adalah seorang gadis bagaimana pun. Kita kesampingkan yang lain, mari kita bicarakan tentang teman sekamar mu. Kamu akan makan dan tidur bersama setiap hari dengan nya. Akhirnya, dia akan menemukan kebenaran nya,” kata Xiao Jun, cemas.
Mendengar itu, Xie Xiang hanya diam saja. Dan Xiao Jun pun mengatakan bahwa seandainya saja Liang Chen masih hidup, Liang Chen pasti tidak ingin melihat Xie Xiang hidup seperti ini.

“Kamu pikir aku melakukan ini hanya untuk diriku sendiri? Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa lagi tetap di rumah dan tidak melakukan apapun. Aku tidak bisa,” jelas Xie Xiang dengan pelan.
“Aku tahu. Tapi kamu tidak usah memaksakan diri untuk hidup sebagai kakak mu,” balas Xiao Jun, tidak setuju.
Xie Xiang menjelaskan bahwa kakak nya selalu punya alasan dalam melakukan sesuatu. Dan mungkin Akmil Liehuo bisa mengajari nya menjadi orang seperti kakak nya.

Xie Xiang (Liang Chen), dia berhenti melamun, dan naik ke atas, dimana dia melihat Jun Shan berada. Dia menanyakan, apa yang sedang Jun Shan lakukan di sini. Dan Jun Shan menjawab bahwa dia  sedang mencari udara segar saja, lalu dia menanyakan bagaimana dengan luka Liang Chen.
“Lebih baik sekarang,” jawab Liang Chen. Kemudian dia memuji betapa bagusnya permainan musik harmonika Jun Shan.
“Kamu ingin mencoba?” tanya Jun Shan. Dan Liang Chen menolak, karena tidak bisa.


Jun Shan bercerita bahwa saat dia di luar negri, dia belajar memainkan harmonika ini dari teman sekelas nya. Lagu yang dimainkan nya barusan sama, tapi sekarang perasan itu telah berubah. Dan Liang Chen tiba- tiba mengucapkan terima kasih, karena Jun Shan sudah membantu nya saat di gym tadi.
“Kamu harus nya berterima kasih kepada Gu Yan Zhen.”
“Dia?” gumam Liang Chen, mendengus geli.
Dengan heran, Jun Shan menanyakan, apakah Liang Chen tidak menyukai Yan Zhen. Dan Liang Chen menjawab bahwa kata tidak suka itu terlalu halus, karena lebih tepat nya dia membenci Yan Zhen.
Mendengar itu, Jun Shan mengatakan bahwa dia juga sama, dia tidak menyukai Yan Zhen. Tidak ada alasan. Cuma saat melihat Yan Zhen bisa menjalani kehidupan tanpa beban, dia merasa cemburu. Sebab hidup seperti Yan Zhen bukanlah sesuatu yang sederhana.


“Ngomong- ngomong, kenapa kamu kembali? Situasi disini buruk. Ada kekacauan dimana-mana,” tanya Liang Chen, penasaran.
“Ada hal yang harus dilakukan. Sebuah benang dapat memotong batang pohon. Tetesan air lebih tahan dari batu. Satu langkah pada satu waktu, dan tujuannya ada didepan,” jawab Jun Shan. Mendengar itu, Liang Chen teringat pada kakak nya yang pernah mengatakan hal yang sama seperti itu juga.
Dengan sedih, Liang Chen pun diam dan memandangin langit malam.


Latihan menembak. Hasil Liang Chen tidak terlalu buruk. Wen Zhong serta Jun Shan lumayan baik. Yan Zhen buruk, namun dia masih merasa bangga. Dan Huang Song yang namanya di sebutkan paling akhir, dia berhasil mendapatkan hasil yang sempurna. Mendengar itu, Huang Song merasa sangat gembira sekali.
“Aku berada di pengunungan dengan pasukan aku selama 6 bulan. Tidak ada daging, jadi aku menembak kelinci,” jelas Huang Song dengan bangga kepada semuanya.

“Bahkan orang buta bisa mengenai target. Apa yang bisa di banggakan?” balas Shun Ting seperti menegur Huang Song supaya tidak terlalu bangga.
Yan Zhen dengan berani meminta Shun Ting untuk menunjukan kepada mereka, karena bicara lebih mudah daripada praktek. Dan Shun Ting pun bersedia, dia menyuruh mereka untuk melihat dan memperhatikan nya.



Shun Ting mempersiapkan peluru di dalam senapan. Kemudian dia bersiap untuk menembak papan sasaran. Dan dengan penasaran, mereka semua memperhatikan nya. Namun Shun Ting malah tidak jadi menembak.
“Sudah waktunya makan siang. Ayo,” kata Shun Ting dengan santai. Lalu dia pun pergi begitu saja meninggalkan mereka.

Xiao Jun datang mencari Liang Chen ke akademi, dan disana dia bertemu dengan Ji Jin. Mereka berdua mengobrol dengan akrab, dan tampak saling tertarik. Namun sebelum mereka sempat bersalaman tangan, Liang Chen keluar dan mememeluk Xiao Jun.

Kemudian dengan perhatian, Xiao Jun menlapi keringat Liang Chen. Namun dengan manja, Liang Chen langsung menlap keringat nya menggunakan lengan baju Xiao Jun. Melihat keakraban mereka berdua itu, Ji Jin pun salah paham.
Menyadari itu, Xiao Jun ingin menjelaskan kepada Ji Jin bahwa ini tidak seperti yang Ji Jin pikirkan. Tapi sebelum dia melakukan itu, Liang Chen merebut minumannya dan meminumnya. Sehingga Ji Jin pun semakin bertambah salah paham.

“Jadi, kamu dan Liang Chen .. kalian berdua begitu intim. Kalau begitu, aku permisi dulu,” kata Ji Jin dengan cepat. Lalu dia pun pergi.
“Selamat tinggal,” balas Liang Chen dengan santai.
Dengan sedikit kesal, Xiao Jun pun langsung mengomeli Liang Chen, yang kenapa harus keluar sekarang. Dan dengan heran, Liang Chen menanyakan, kenapa Xiao Jun menyalahkannya. Dan Xiao Jun bingung harus mengatakan apa.

Liang Chen kemudian, menanyakan kenapa Xiao Jun datang mencarinya. Dan Xiao Jun memberitahu bahwa besok Ayah Liang Chen akan datang ke kota untuk menghadiri konferensi, dan menemui Liang Chen. Dia tahu karena Liang Chen memberikan alamat telegram milik Ayah nya.
“Ayahku akan datang?” tanya Liang Chen, terkejut.
“Ya. Kamu kacau!” balas Xiao Jun.
Liang Chen dengan panik memohon supaya Xiao Jun membantu nya. Tapi Xiao Jun menolak, karena dia sendiri tidak tahu harus membantu bagaimana.
“Bagaimana kalau aku libur besok? Akhir pekan akan tiba,” tanya Liang Chen.
“Itu bagus,” balas Xiao Jun, setuju.
Malam hari. Liang Chen datang dan mengetuk ruangan Shun Ting. Tapi tidak ada jawaban. Kemudian dia mendengar suara tembakan di lapangan tembak.
Shun Ting sedang latihan menembak sasaran. Dia berlatih berkali- kali hingga peluru didalam senjatanya habis. Dan tepat disaat Liang Chen datang, dia mengabaikan nya dan berjalan pergi darisana.


Liang Chen dengan heran masuk ke dalam lapangan menembak untuk melihat hasil tembakan Shun Ting. Dan ketika dia melihat hasil nya, dia merasa bingung, sebab Shun Ting hanya menembak di tempat yang sama, yaitu di tengah sasaran.

Keesokan harinya. Xie Xiang menjemput Ayah nya yang baru sampai di stasiun kereta. Dia mengenakan seragam sekolah milik Xiao Jun supaya Ayah tidak curiga kepada nya. Dan dia bersikap manja kepada Ayahnya, serta perhatian juga.
“Kamu terlihat sedikit berbeda. Kulit mu kecoklatan, dan tubuhmu menjadi kurus,” komentar Ayah sambil tertawa. Dan Xie Xiang hanya tersenyum saja.

Xie Xiang memberitahu Ayahnya bahwa dia sudah memesankan sebuah hotel untuk Ayahnya selama tinggal disini demi kenyamanan. Daripada merepotkan tinggal di rumah Xiao Jun. Dan Ayah memuji tindakan Xie Xiang yang benar, kerena mereka tidak boleh menyusahkan keluarga Xiao Jun lagi.
Lalu Ayah menyuruh Xie Xiang untuk mengantarkan oleh-oleh yang dibawa nya ke orang tua Xiao Jun nanti. Karena siang ini dia ada konferensi, malam ada jamuan makan, dan besok harus pulang lagi. Jadi tidak sempat ke sana sendiri. Dan Xie Xiang mengiyakan.

Ayah kemudian mengajak Xie Xiang untuk ikut dalam perjamuan nanti malam bersama nya. Dan dengan waspada, Xie Xiang menanyakan, siapa tuan rumahnya. Dan Ayah menjawab bahwa itu adalah orang penting di Shunyuan yang sudah menyumbangkan kain katun ke sekolah mereka.
“Saat ini kain dalam kekurangan. Dan Jepang menduduki pasar di Utara. Shunyuan COC menjual kain katun dengan harga murah sekarang, dan itu namanya patriotik. Mereka mengundang ku dan Ibumu untuk hadir dalam upacara peresmian pabrik kapas mereka. Ibumu tidak enak badan, jadi kamu harus menggantikannya,” jelas Ayah.

Mengetahui Ibunya sedang sakit, Xie Xiang sediki cemas. Dan Ayah menjelaskan bahwa itu dikarenakan sebentar lagi adalah hari kematian Liang Chen. Mendengar itu, Xie Xiang pun mengerti, dan mengatakan bahwa dia akan mengenakan sesuatu yang elegan seperti seorang wanita dewasa. Dan Ayah tertawa.
Lalu ketika bus datang, mereka berdua pun masuk bersama.

Malam hari. Saat Man Ting sampai di tempat acara, dia disambut hangat oleh manajer Gu yang membawa nya ke ruangan peristirahatan, karena saat ini Ting Bai sedang bertemu dengan walikota.

Melihat itu, para wanita mulai bergosip. Mereka mengatakan bahwa Ting Bai sangat terpesona kepada Man Ting yang merupakan wanita panggung. Mereka menyebut Man Ting dengan sebutan wanita panggung, bukannya seorang bintang, karena Man Ting pandai merayu orang lain untuk mencari nafkah.
Kemudian kedua penggosip itu menanyakan pendapat Nona Du. Namun Nona Du tidak mau berkomentar apapun, dan hanya mengatakan tidak tahu.

“Ini adalah tempat milik Nona Du. Selain aula samping, tidak ada tempat lain disana, dimana kita bisa beristirahat dirumah ini? Apakah aku benar?” pancing si penggosip.
“Ayo, mari kita lihat,” balas Nona Du, terpancing.

Manajer membacakan jadwal Man Ting, dan menanyakan pendapat nya untuk wawancara besok. Tapi Man Ting menolak untuk melakukan wawancara.
“Kamu harus pergi,” keluh Manajer. Dan Man Ting langsung menatap tajam padanya. Sehingga dia pun langsung terdiam.

Nona Du bersama dengan dua penggosip masuk ke dalam ruangan istirahat Man Ting, dan menganggunya yang sedang beristirahat. Mereka bertiga membicarakan tentang sebuah lukisan dan puisi dengan sikap sok pintar dan berwawasan luas.
Mendengar itu, Man Ting berusaha untuk bersabar dan terus menutup matanya, berusaha untuk beristirahat. Tapi semakin dia bersabar, Nona Du serta dua penggosip itu malah mulai menyindir nya.

Ast. Manajer Man Ting kemudian meminta mereka bertiga untuk diam, sebab Man Ting sedang tidur. Namun mereka bertiga dengan berani, malah mulai mengajak Man Ting berbicara.

“Halo, Nona Qu. Lama tidak bertemu. Bukankah seharusnya kamu setidak nya menyapa? Dimana sopan santun mu?” tanya Nona Du.
“Sekarang kamu tahu bahwa kamu berisik. Kenapa kamu tidak diam saja? Apakah kamu sekawanan burung?” balas Man Ting sambil menatap mereka. Lalu dia menanyakan, apakah dia mengenal mereka.


Mendengar itu, Nona Du merasa sangat gengsi. Dan kedua penggosip, yang merupakan temannya pun terdiam juga.
“Kenapa ada begitu banyak orang yang bahkan tidak ku kenal berpura- pura dekat denganku setiap hari?” tanya Man Ting. Dan mendengar itu, kedua asistennya tertawa.
Dengan gengsi, Nona Du mengatakan bahwa Man Ting pasti sudah melupakan nya. Dan Man Ting membenarkan, karena dia memiliki memori yang buruk, sebab ada banyak hal penting untuk di ingat setiap harinya. Jadi dia tidak memiliki ruang ekstra di otak nya untuk beberapa wajah yang menganggu.


“Nona Qu, kamu sebaiknya memperhatikan bahasa mu. Kamu pikir kamu dimana? Ini bukan klub untuk gadis panggung. Tunjukkan rasa hormat mu. Tidakkah kamu takut orang lain akan menertawakan mu?” tanya Nona Du, kesal.
“Aku menghormati orang- orang yang pantas mendapatkan nya. menusukku, meludahiku, atau bertengkar, lakukan saja dengan lurus, oke? Jangan bertele- tele. Berhenti bersikap merendahkan!” balas Man Ting dengan berani.
Mendengar itu, kedua asistennya tertawa pelan lagi.

Nona Du marah, dan menanyakan apa maksud Man Ting. Dengan secara terang-terangan, Man Ting membalas bahwa dia sedang membicarakan Nona Du, lalu dia menanyakan, apakah Nona Du tuli atau apa. Lalu dia mengomentari Nona Du yang bahkan tidak mampu berbicara dengan benar, tapi bersikap seolah seperti wanita berpendidikan dan elegan. Jika Nona Du punya harga diri, seharusnya Nona Du tidak mengajak nya untuk perdebat di depan umum.
Mendengar itu, Nona Du merasa emosi, tapi dia menahannya.


“Lihat dirimu. Bubuk yang kamu kenakan tidak bisa menutupi pembuluh darah yang menggembung di leher mu. Pergi dan perbaiki,” kata Man Ting, mengingatkan.
“Kamu.. kamu brengsek!” teriak Nona Du, marah. Dan Man Ting tertawa.
Man Ting mengancam Nona Du untuk pulang sekarang, jika tidak maka dia akan memperlihatkan seperti apa orang biasa yang benar- benar mencari nafkah di panggung. Dan mendengar itu, kedua asisten Man Ting tertawa lagi.

Manajer Gu masuk ke dalam ruangan istirahat, dan merasa heran ada apa. Namun tanpa bertanya, dia memberitahu Man Ting bahwa Tuan Shen Ting Bai telah kembali.

“Lukisan di dinding itu jelek. Cabut dan bakar,” perintah Man Ting. Lalu dia dengan sengaja menabrak bahu Nona Du, dan pergi bersama kedua asistennya.

No comments:

Post a Comment