Sunday, October 20, 2019

Sinopsis C-Drama : Love You Like the Mountain and Ocean Episode 06

0 comments

Sinopsis C-Drama : Love You Like the Mountain and Ocean Episode 06
Images by : Youku
Bukannya Ruining yang lari pagi agar ketemu dengan Ye Lin, malah Shen Zhen yang lari. Shen Zhen bahkan berakting seolah tidak tahu kalau Ye Lin melakukan lari pagi.
--

Dimana Ruining?
Dia masih ada di kamar dan tidur dengan sangat lelap. Jam-nya menunjukkan pukul 06.15 dan alarm yang sudah di setting-nya tidak berbunyi.
--

Shen Zhen dan Ye Lin berlari bersama akhirnya. Ye Lin berkomentar kalau dia tidak menyangka kalau Shen Zhen akan lari pagi di sini. Shen Zhen malah bertanya balik, maksud Ye Lin adalah tidak menyangka dia lari pagi atau tidak menyangka kalau dia tinggal di rumah keluarga Xia?
“Senior. Aku tinggal bersama mereka sebagai putri dari pelayan mereka,” beritahu Shen Zhen.
Mendengar itu, Ye Lin tampak bingung harus menanggapi bagaimana. Shen Zhen segera mengalihkan topik dengan membahas apakah Ye Lin ingin belajar di Studio Qingrui (milik Ny. Ning Mo)? Ye Lin membenarkan. Tapi, Ny. Ning masih belum menerima-nya sebagai murid.
“Senior jangan khawatir! Dia pasti akan menerima senior,” ujar Shen Zhen yakin (iuh, sok tau banget). “Tidak sepertiku…,” lanjutnya dengan ekspresi sok sedih.
“Shen Zhen, sebenarnya tidak peduli darimana kau berasal, jika kau melakukan yang terbaik itu sudah cukup.”
“Yang terbaik? Hanya satu hal yang ku tahu, itu di sebut ‘kerja-keras’.”
“Jadi… dari sudut pandangmu, aku yang terlahir dari keluarga kaya, jadi tidak perlu bekerja keras seperti yang lainnya?” tanya Ye Lin balik.
Shen Zhen langsung membantah kalau bukan itu maksudnya dan meminta Ye Lin untuk tidak salah paham. Hanya saja, terkadang dia merasa kalau akhir dari perjuangannya ternyata hanyalah awal bagi orang lain. Tapi, walau begitu, dia akan tetap bekerja keras. Tidak peduli selelah apapun, dia akan terus berusaha.
Ye Lin tampaknya cukup tersentuh dengan tekad Shen Zhen. Shen Zhen langsung lanjut berlari. Ye Lin berteriak mengajaknya untuk sarapan bersama. Dia tidak melihat kalau Shen Zhen tersenyum sinis karena berhasil mengambil simpati Ye Lin. Shen Zhen setuju untuk sarapan bersama setelah dia berlari satu putaran lagi.
--
Jam sudah menunjukkan pukul 07.08. Dan Ruining baru bangun. Dia heran karena Shen Zhen sudah tidak ada di dalam kamar dan mengira kalau Shen Zhen bangun sangat awal.
Ruining turun dari tempat tidurnya dan melihat jam-nya. Dia sangat terkejut karena sudah jam 07.08, tapi kenapa alarm-nya tidak berbunyi?!
Dengan cepat, Ruining segera berlari ke dalam kamar mandi. Sikat gigi dan memuji wajah. Kemudian, merias wajah dengan cepat. Terakhir, dia menggulung rambutnya dengan alat hair curler.  Tapi, alat itu malah rusak dan membuat rambutnya tersangkut. Ruining berusaha untuk melepaskan sangkutan rambutnya, tapi tidak bisa dan rambutnya malah semakin terlilit di alat tersebut.
--

Ye Lin dan Shen Zhen ke kantin bersama untuk sarapan. Huahua juga sudah ada di kantin dan heran kenapa Ye Lin bersama Shen Zhen? Dimana Ruining? Shen Zhen melihat tatapan bingung Huahua tersebut.


Huahua memutuskan mengantri untuk mengambil makanan-nya. Dan dia sangat senang saat melihat kalau Chen mo ternyata juga pekerja sampingan di dapur kantin membagikan makanan. Dengan sangat bahagia, Huahua menyapa Chen Mo dan memasukkan kepala-nya ke lubang kecil yang ada di jendela, tempat dimana makanan akan di keluarkan untuk di letakkan di piring para mahasiswa yang mengantri.
Saat sedang berbincang, ponsel Huahua berbunyi. Dia ingin mengangkat telepon dan mengeluarkan kepalanya dari lubang tersebut. Tapi, kepalanya tersangkut (wkwkwkw).
--
Yang menelpon adalah Ruining. Ruining sangat kesal karena Huahua tidak mengangkat teleponnya. Dia menggerutu kalau Huahua selalu saja menghilang di saat genting seperti ini. Ruining menelpon Huahua untuk meminta tolong Huahua membantunya melepaskan rambutnya yang kusut di hair curler.
Ruining yang bingung harus bagaimana lagi, karena tidak bisa melepaskan sendiri kusutan rambutnya, memilih untuk menelpon seseorang lagi. Siapa?
--
Ye Miao sedang tidur dengan nyenyak di kamarnya. Tapi, tidurnya terganggu karena seseorang menelponnya. Ruining.
“Hey, Ye Ah! Tolong!” minta Ruining.
--
“Tolong! Aku tersangkut!” teriak Huahua menangis.

Semua yang ada di sana langsung berkumpul. Shen Zhen tertawa melihat kepala Huahua yang tersangkut. Sementara Chen Mo dan Ye Miao berusaha membantu melepaskan kepala Huahua yang tersangkut. Mahasiswa/I yang lain malah sibuk merekam moment langka tersebut.
Tapi, walau bagaimanapun kepala Huahua di tarik, tetap tidak bisa lepas. Yang ada dia malah merasa kesakitan.
--

Ye Miao sudah bangun dan berjalan ke belakang asrama wanita. Dari sebuah jendela, Ruining melemparkan turun kain seprai yang sudah di ikuat dengan kain seprai milik Shen Zhen agar panjang dan sampai ke bawah. Ruining meminta Ye Miao untuk mendaki kain seprai itu dan segera naik ke atas. Ye Miao jelas merasa ragu dengan kekuatan seprai itu. Dia kan masih mau hidup. Ruining dengan kesal menyuruh Ye Miao berhenti bicara omong kosong dan langsung naik saja, mumpung sekarang sepi.
Akhirnya, Ye Miao pun menggunakan kain seprai itu untuk naik. Sambil naik, Ye Miao menggerutu kalau mungkin di kehidupan sebelumnya, dia telah membunuh semua keluarga Ruining hingga mendapat karma seperti ini.

Ye Miao berhasil masuk ke dalam kamar asrama Ruining. Dia masih tidak tahu untuk apa Ruining memanggilnya? Untuk menolong apa? Dan tawa Ye Miao langsung pecah saat melihat alat hair curler tersangkut di belakang rambut Ruining.
Ruining kesal dan menyuruh Ye Miao untuk berhenti tertawa. Tapi, Ye Miao masih tidak bisa berhenti tertawa.
Mereka akhirnya duduk bersama. Ye Miao merasa kagum dengan Ruining karna bisa membuat rambunya menyangkut di hair curler hingga seperti ini. Tapi, kenapa Ruining bukannya menelpon Shen Zhen? Atau Huahua? Dengan ekspresi sedih, Ruining memberitahu kalau dia sudah menelpon Shen Zhen dan Huahua, tapi mereka tidak menjawab teleponnya.
“Bagaimana dengan gadis lain di asrama ini? Kenapa tidak meminta tolong mereka? Apa kau tidak punya teman lain?”
“Tidak mungkin! Ini semester baru! Aku harus menjadi gadis cantik sekolah selama 4 tahun. Aku tidak bisa membiarkan orang lain melihatku seperti ini,” tegas Ruining.
“Kau bilang tidak ingin orang lain melihatmu seperti ini? Bagaimana denganku? Apa kau tidak takut menunjukkan hal seperti ini padaku?”
“Di mataku, kau bukan orang,” jawab Ruining tanpa sadar.
“Apa?!!!”
“Maksudku… di mataku kau itu keluarga,” alasan Ruining. “Kau kan adik Ye Lin. Jadi, kau keluargaku.”
Ye Miao kesal. Dia menegaskan pada Ruining kalau dia datang kemari karena nilai kemanusiann. Karena Ruining meminta tolong padanya maka-nya dia datang kemari. Kedua, jangan mencari masalah dengannya. Ruining makin kesal dan menyuruh Ye Miao untuk segera membantunya karena sebentar lagi mereka kan harus masuk kelas.


Akhirnya, Ye Miao mulai berusaha melepaskan kusutan rambut Ruining di alat har curler tersebut. Tapi, itu membuat wajah mereka menjadi sangat dekat dan membuat keduanya jadi merasa gugup dan berdebar.
Ye Miao panik dan langsung menjauh.
--

Chen Mo ada di dapur dan berusaha meminta Huahua untuk keluar dan tidak bersembunyi. Huahua tidak mau dan terus menangis. Di kepalanya masih ada papan lubang yang masih belum lepas. Dia merasa sangat malu karena kepalanya tersangkut di papan jendela.
“Mereka semua melihat itu. Semuanya! Senior Ye Lin. Shen Zhen! Dan banyak orang yang memotretku,” tangis Huahua.
“Tidak. Mereka tidak mengambil fotomu.”
“Benarkah?” tanya Huahua, mulai tenang.
“Mereka merekam video mu tadi,” jawab Chen Mo (gubrakkk!! Hahahaha. Lebih parah daripada di foto).
Huahua menangis semakin keras. Itu sangat memalukan. Chen Mo berusaha menenangkannya dan berkata kalau baginya itu sangat imut. Mendengar itu, tangis Huahua berhenti. Dia malah bertanya, apakah di mata Chen Mo, dia adalah yang paling imut?
“Tidak,” jawab Chen Mo dengan tegas.
Mendengar jawaban itu, Huahua jadi marah. Jadi, siapa yang paling imut? Dengan polos, Chen Mo menjawab kalau Wei Wei pernah berkata kalau yang paling menggemaskan adalah para tentara sukarelawan. Tapi, sekarang bukan masa perang, maka yang paling menggemaskan adalah para pemadam kebakaran.
Huahua yang kesal, akhirnya menyuruh Chen Mo untuk segera menggergaji papan yang nyangkut di kepalanya.
--
Tidak hanya Ye Miao yang panik karena berada sangat dekat dengan Ruining tadi, tapi juga Ruining. Dia merasa heran karena merasa gugup di dekat Ye Miao.

Ye Miao seperti orang linglung, berkata pada dirinya sendiri kalau dia tidak boleh berada terlalu lama di kamar Ruining. Dia harus segera melepaskan sangkutan rambut Ruining di hair curler. Dan cara paling cepat adalah dengan mengguting rambut Ruining yang tersangkut.

Ruining masih bingung dan tidak sadar kalau Ye Miao menggunting rambutnya. Ye Miao sendiri langsung turun lewat jendela kamar Ruining lagi. Ruining tidak membantu dan malah sibuk bicara pada dirinya sendiri kalau tadi wajahnya terlalu dekat dengan Ye Miao, jadi wajar jika dia merasa gugup. Tidak ada maksud lain.

Braak! Terdengar suara jatuh. Ruining segera melihat keluar jendela, dan ternyata, Ye Miao terjatuh karena selimut yang di gunakan turun, putus. Ruining panik dan bertanya apakah Ye Miao baik-baik saja? Ye Miao dengan tenang menjawab dia baik-baik saja. Tapi, begitu Ruining tidak melihat, Ye Miao langsung memegang seluruh tubuhnya. Terasa sakit, cuy!

Ruining kemudian melihat hair curler yang terletak di meja. Dia memegang rambutnya dan sadar kalau rambutnya di potong oleh Ye Miao.
“Ye Miao! Aku sangat membencimu!” teriak Ruining marah.
--
Perkuliahan kembali di mulai, mata kuliah yang mereka ikuti masih sama seperti kemarin. Dan sama seperti kemarin, mereka kurang memperhatikan matkul itu karena di anggap tidak terlalu penting.
Dosen menjelaskan bahwa setiap dari mereka tidak hanya memiliki masa depan dan masa kini, tapi juga sejarah. Dalam kalimat sederhana, memory kita mengandung sejarah. Sebagai seseorang, kita harus mempunyai ingatan. Kita harus mengingat darimana kita berasal, anggota keluarga kita, teman kita, dan ingat apa yang sudah kita lakukan. Untuk negara, memory berarti lebih dalam. Tujuan dari kita mempelajari sejarah dan arkeologi adalah untuk mengatur dan memperkaya memori kolektif dari bangsa dan negara kita.
Ucapan dari dosen itu mengingatkan Ye Miao dengan pembicaraannya dengan paman Yan, dulu.
Flashback
Ye Miao kaget karena Paman Yan ingin menjadikannya murid, dan dia langsung menolak dengan tegas. Dia merasa kalau mempelajari cara membuat pigmen adalah hal yang membosakan dan tidak berguna. Dia tidak mau melakukannya.

Paman Yan membenarkan kalau hal itu memang sedikit membosankan. Tapi bukan berarti tidak berguna. Ye Miao malah berkata kalau sejujurnya saja ya, zaman sekarang siapa sih yang masih menggiling batu-batu itu menggunakan tangan? Semua bisa di lakukan dengan mesin dan hasilnya juga bagus.
“Apa mesin mampu membedakan perbedaan warna di dalam bebatuan itu?” tanya paman Yan, balik.
“Itu hanyalah pigmen (pewarna). Semuanya terlihat sama.”
“Terlihat sama? Tidak sama sekali. Bahan perwarna kimia yang kau beli di luar sana, jika di gunakan melukis di kertas Xuan, maka warnanya akan berubah menjadi abu-abu seiring berlalunya waktu. Tapi, pigmen yang ku buat, aku dapat menjaminnya bahwa warna-nya akan tetap sama walau sudah 1000 tahun berlalu. Warnanya tidak akan memudar. Sebaliknya, akan semakin menguat.”
“Baiklah. Anggap saja kita memperbaiki lukisan antik dengan pigmen milikmu. Jadi kenapa?”
“Lukisan adalah catatan kejadian. Para nenek moyang/leluhur mewariskannya dari 1000 tahun yang lalu. Kita tidak bisa melupakan siapa kita. Kita juga tidak bisa melupakan garis keturunan kita. Itu yang di sebut memori. Memori kolektif dari negara dan bangsa kita.”
Ye Miao sedikit merasa bersalah setelah mendengar penjelasan Paman Yan. Tapi, walau begitu, dia tetap mengeraskan hati kalau dia tidak tertarik menjadi murid paman Yan. Dia memutuskan untuk pulang saja ke camp. Ruining segera mengejarnya.
End
“Memori kolektif. Kenapa tidak bisa di lupakan?” gumam Ye Miao. “Seperti seseorang, yang lupa pertemuan pertama kami,” kesal Ye Miao dan melirik pada Ruining.
Ruining yang mengenakan topi juga sedang menatapnya dengan mata berapi-api. Dia masih kesal karena Ye Miao menggunting rambutnya. Ye Miao takut melihat tatapan Ruining dan langsung mengalihkan tatapannya ke buku sambil bergumam kalau memang lebih baik jika Ruining lupa.
Ruining sebenarnya masih kepikiran saat wajahnya sangat berdekatan dengan Ye Miao. Kenapa dia bisa merasa gugup?
--
Mata kuliah sudah selesai. Tapi, Huahua dan Ruining tidak bisa kembali ke asrama karena sedang hujan deras dan mereka berdua tidak membawa payung. Huahua menyarankan agar mereka menunggu hujan mereda saja.
Saat itu, Ye Miao keluar dari dalam gedung dengan membawa payung. Ruining yang melihat payung Ye Miao, langsung dengan sengaja bicara keras pada Huahua membahas mengenai hujan yang sangat deras. Itu kode agar Ye Miao memberikan payungnya pada mereka.
Ye Miao sudah mau memberikan payung-nya pada Ruining, tapi dia mengurungkan niatnya dan malah berjalan pergi menggunakan payung sendirian. Melihat itu, Huahua langsung menasehati Ruining untuk tidak bertengkar dengan Ye Miao lain kali lagi. Takutnya Ye Miao akan mengadu pada Ye Lin. Ruining dengan yakin berkata kalau Ye Miao tidak akan mengadu.
“Darimana kau bisa tahu?”
“Sejak awal aku bertemu dengannya, aku membuat banyak masalah untuknya. Tapi, dia tidak menceritakan apapun pada kak Ye Lin.”
“Bagaimana dengan Shen Zhen? Kau kira dia bisa tutup mulut?”
“Ada apa dengannya?”
“Kau tidak lari pagi hari ini. Tapi, aku rasa Shen Zhen ada lari pagi. Dia dan Ye Lin, bersamaan, datang ke kantin tadi.”
Pas lagi bincang, salah seorang mahasiswa, menawarkan Ruining untuk satu payung dengannya dan akan dia antarkan ke asrama. Ruining belum menjawab, tapi Huahua langsung menolak tawaran mahasiswa itu. Dia dan Ruining itu saling setia. Jadi, kalau dia tidak dapat payung, Ruining juga tidak akan meninggalkannya. Huahua malah langsung mengusir mahasiswa itu untuk pergi.
Setelah mahasiswa pergi, Chen Mo keluar sambil membuka payung. Melihat Chen Mo, Huahua langsung menyapanya dengan riang. Chen Mo yang baik hati, langsung memberikan payung-nya untuk di gunakan Huahua dan Ruining. Ruining udah nerima payung itu, tapi Huahua malah mendorongnya.
“Dia adalah wanita besi. Hujan tidak akan menyakitinya,” ujar Huahua dan mengajak Chen Mo untuk ke kantin bersamanya.
Huahua meninggalkan Ruining (hahahaha). Ruining jelas kesal karena Huahua mengkhianatinya padahal sudah bilang akan setia.

Pas sekali, payung tiba-tiba muncul. Ruining mengira kalau itu adalah Ye Miao yang kembali karena payung-nya mirip. Tapi, yang ternyata muncul adalah Ye Lin.

Ye Lin berjalan dengan Ruining dalam satu payung. Tidak lama, hujan berhenti. Walau begitu, mereka masih tetap berjalan bersama. Mereka tidak sadar kalau Ye Miao memperhatikan dari belakang dengan tersenyum.

Flashback
Ye Lin tidak membawa payung sebenarnya. Tapi, Ye Miao tiba-tiba muncul dan menawarkan payung-nya untuk Ye Lin setelah Ye Lin bilang akan ke perpustakaan. Ye Lin menolak, tapi Ye Miao memaksanya untuk menerima payung itu.
End
Ruining membahas rambutnya yang pasti terlihat jelek sekarang ini. Ye Lin tersenyum dan memuji rambut Ruining yang terlihat cantik. Hanya saja…
Ye Lin mengambil rambut Ruining, menggulungnya ke atas, dan mengikat gulungan itu dengan menusuknya menggunakan pensil miliknya. Ruining tersenyum atas yang Ye Lin lakukan.
“Kau pintar membuat masalah. Dan aku pandai menyelesaikan masalah yang kau buat,” ujar Ye Lin.

Ruining tersenyum semakin lebar dan memuji Ye Lin yang sangat hebat. Ye Lin dengan jujur memberitahu kalau dia mempelajari itu (menggulung rambut) dari Ye Miao. Waktu masih kecil, ibunya sangat ingin memiliki seorang putri. Tapi, yang lahir adalah anak laki-laki, Ye Miao. Jadi, Ye Miao saat kecil selalu di dandani seperti seorang putri kecil dengan kepangan rambut panjang. Ye Miao bahkan pernah kabur dari rumah karena hal tersebut.
Cerita Ye Lin itu membuat Ruining teringat sesuatu.

Flashback
Setelah pertemuan Ruining dengan anak lelaki itu di toko biola, mereka berbincang bersama menatap langit malam. Anak itu (Ye Miao) memberitahu kalau dia juga pernah kabur dari rumah, dulu. Itu karena ibunya. Ibunya selalu memperlakukannya seperti anak perempuan. Sangat menyebalkan.
“Tapi, aku tahu dia mencintaiku. Jadi, aku kembali ke rumah. Dan kau pun harus demikian. Ibumu pasti sangat mencintaimu. Sebelum ibumu datang, aku akan menemanimu di sini,” ujar Ye Miao.
End
Dan karna hal itu, Ruining jadi bertanya pada Ye Lin, saat terakhir kali Ye Lin datang ke rumahnya dan mendengarkan permainan piano-nya, apa kah…
Belum selesai bertanya, Ye Lin malah mendapat telepon dari Fang Yuan yang memberitahu telah menemukan file mengenai perbaikan lukisan. Jadi, karena itu, Ye Lin pamit untuk kembali dulu. Dia juga memberikan payung itu pada Ruining. Dan juga, jika lain kali, Ye Miao membully-nya lagi, beritahu padanya.
--

Chen Mo dan Huahua ada di kantin. Huahua berkata akan mentraktir Chen Mo karna sudah menolongnya tadi pagi (saat kepalanya tersangkut di jendela kecil itu). Chen Mo menolak dengan tegas karena tidak sepantasnya wanita mentraktir pria. Chen Mo berkata kalau ini adalah masalah prinsip. Dan juga, dia sudah menyiapkan sesuatu untuk Huahua. Spesial untuk Huahua. Di samping itu, mahasiswa/i lainnya juga bisa melihat hadiah yang di siapkannya. Dia meletakkan-nya di jendela.
Mendengar itu, Huahua tersenyum sangat lebar dan bahagia. Dia penasaran dengan apa yang Chen Mo siapkan untuknya. Chen Mo memberitahu kalau dia menyiapkan sebuah plat. Dia membuatnya sendiri. Huahua menjadi sangat senang.
Huahua sudah berkhayal kalau Chen Mo membuat plat dengan tulisan : “Lu Huahua adalah gadis termanis di dunia.”
Tapi, realita tidak sesuai dengan ekspetasi. Plat yang Chen Mo buat adalah : “Jauhkan kepalamu dari jendela.”
Melihat itu, Huahua menjadi sangat marah.
--

Ruining kembali ke kamar dan masih memikirkan mengenai cerita masa kecil Ye Miao dari Ye Lin. Dan karena itu, dia memutuskan untuk menelpon Ye Miao dan bertanya langsung. Ye Miao menerima teleponnya dan mengangkatnya.
Ruining menelpon Ye Miao sambil masuk ke dalam kamar. Tapi, saat dia baru masuk, Shen Zhen tiba-tiba melemparkan seprai tempat tidurnya pada Ruining.
“Xia Ruining! Kau sudah kelewat batas!” teriak Shen Zhen, dan terdengar oleh Ye Miao yang berada di seberang telepon.
Ruining sangat kaget karena di lempar seprai oleh Shen Zhen, hingga dia meletakkan ponselnya begitu saja di meja, tanpa mematikan panggilan telepon dengan Ye Miao. Jadinya, Ye Miao bisa mendengar semua pembicaraan Ruining dan Shen Zhen.
Ruining meminta maaf pada Shen Zhen dan mengakui kalau dia sudah meminjam seprai Shen Zhen tadi pagi, sebentar. Tapi, Shen Zhen tidak mau mendengarkan penjelasannya. Dia malah menuduh Ruining yang sudah menyerah bersikap seperti bangsawan hah? Ruining hanya bisa meminta maaf dan berkata akan mencuci seprai itu dan mengembalikannya lagi pada Shen Zhen. Atau, dia akan membelikan seprai baru.
“Mencuci? Apa kau tahu caranya mencuci barang? Kau hanya akan membawa seprai ini ke rumah dan menyuruh ibuku untuk mencucinya untukmu,” sinis Shen Zhen. “Betul. Kau punya uang. Uangmu jauh lebih banyak daripada harga seprai ini. Seprai-ku kau koyak tidak masalah. Dan dimana uang yang ada di bawah sepraiku?! Itu adalah biaya hidupku selama sebulan. Xia Ruining. Jika kau punya masalah apapun, katakan langsung padaku! Bukankah kau pintar? Bukankah kau selalu tidak menyukaiku? Aku tidak sangka kau akan bermain licik. Kau telat lari pagi, apa hubungannya denganku? Hair curler-mu rusak, tapi itu bukan salahku!”
Ruining mendengarkan semua amarah Shen Zhen padanya. Dia dengan tulus meminta maaf karena dia benar-benar tidak tahu ada uang di bawah seprai Shen Zhen. Dia mungkin saja tanpa sengaja menjatuhkan uang itu ke bawah asrama saat menggunakan seprai itu tadi pagi tanpa sengaja. Dia akan pergi dan mencarinya sekarang. Dan jika tidak ketemu, Shen Zhen bisa memberitahu nominal uangnya, dan dia akan menggantinya berapa pun nominalnya, termasuk seprai Shen Zhen.
“Dan aku minta maaf, secara tulus,” ujar Ruining. “Tapi… bagaimana kau bisa tahu kalau aku terlambat lari pagi ini? Bagaimana kau bisa tahu kalau hair curler ku rusak?”
“Jadi, kau kira aku yang melakukannya? (ya iyalah, toh Ruining tak ada cerita, tapi kau tahu. Ya pasti pelakunya lah.). Kau punya bukti?”
“Aku tidak butuh bukti. Aku tidak akan menuntutmu ke pengadilan. Aku hanya menyadari orang seperti apa kau ini. Dan hal seperti apa yang bisa kau lakukan. Itu sudah cukup.”
“Xia Ruining. Jangan sok polos.  Kau bilang kau mencintai Ye Lin. Tapi kau selau berkeliaran di sekitar Ye Miao. Untuk mempermalukanku, kau tidak memberitahu kalau kau mengundang orang ke rumah.  Kau tampil dengan pakaian indah seperti putri. Tapi, aku seperti pelayan bagimu. Aku membawa buah dan sayuran untuk seluruh keluargamu dan minuman yang kau inginkan. Perbedaannya hanyalah aku tidak harus berlutut padamu dan berkata : Silahkan nikmati makananmu, nona! Apa kau sangat senang melihatku di permalukan? Apa kau merasa bahagia? Puas? Kau membully-ku dan juga ibuku! Haruskah aku menghitung semua-nya dan memberitahumu dari awal?” marah Shen Zhen (astagaaaaaaaaa!!!!!! Pemikiran sakit).
Ruining menatapnya dengan pandangan seolah tidak menyangka.
“Aku tidak tahu kalau kau berpikir demikian.  Tapi Shen Zhen, Aku, XIA RUINING, jika ingin membully-mu, kau kira aku akan menjebakmu? Uang? Uang sekolahmu adalah keluargaku yang membayar-nya. Hormat? Aku menghormati ibumu, bukan kau. Siapa kau? Kenapa aku harus berpura-pura polos di depanmu? Kau bilang aku merusak seprai-mu? Aku minta maaf padamu dengan sikap yang tulus. Kau bilang uangmu hilang, aku bilang akan menggantinya. Berapa banyak pun akan ku ganti. Kau kira aku membully-mu? Tapi sampai dengan sekarang, aku selalu melakukan apa yang selalu ku lakukan. Aku tidak akan secara buta menyerahkan diri (menerima semua tuduhan Shen Zhen) hanya karna kau merasa kau yang patut di kasihani. Ini sikapku. Kau dapat menerimanya. Ataupun tidak. Kau selalu bilang merasa bersalah pada bibi Cai (ibu Shen Zhen), untuk ibumu. Tapi, apa yang sudah kau lakukan untuk meringankan beban-nya? Jika kau benar-benar tidak suka tinggal di rumah Xia, bilang sama ibumu untuk pergi dari rumahku. Kalian berdua bisa hidup dengan baik. Bergantung pada dirimu sendiri! Jangan datang dan melayani nona Xia ini!” tegas Ruining, tidak merasa takut pada Shen Zhen.
Ye Miao mendengar semuanya dari awal dan akhir. Dan dia memutuskan untuk mengakhiri telepon. (Aku merasa kalau Ye Miao pasti memihak pada Ruining, karna apa yang Ruining katakan adalah masuk akal).
--

Malam hari, Hujan turun dengan deras.
Ruining baru kembali dari luar. Dia meletakkan payungnya di pojok kamar. Di kamar, Shen Zhen tidak ada. Jadinya Ruining meletakkan sejumlah uang di meja belajar Shen Zhen.

Petir menggelegar. Ruining melihat jendela kamar yang terbuka, dan menutupnya. Saat itulah, dia melihat Shen Zhen berada di luar dalam keadaan basah kuyup, mencari uang-nya.
“Shen Zhen! Berhenti mencari! Aku akan mengganti-nya,” teriak Ruining, berulang kali.
Shen Zhen menatapnya dengan tatapan menyeramkan bersamaan dengan guntur yang menggelegar. Ruining sampai terkesiap kaget dan takut. (Serem euy).


No comments:

Post a Comment