Sunday, October 20, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 1 - 1/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 1 – part 1
Network : Channel 3


Didepan para wartawan dan banyak orang ramai. Dengan percaya diri, Unthiga mengatakan bahwa dia berniat untuk memiliki merk pakaian nya sendiri. Dia memiliki gelar dalam bidang fashion design, dan dia telah bekerja dengan banyak brand ternama di dunia selama bertahun- tahun ini.
“Sebagai senior di perusahaan, menurutku dia butuh belajar lebih, karena dia baru saja datang. Dan pasar luar negri serta pasar Thai, itu tidak sama,” kata Urawee dengan halus, tapi tatapan nya tajam kepada Unthiga.

Mendengar itu, Unthiga merasa marah, dengan erat dia memegang erat pakaiannya untuk menahan emosi. Tapi kemudian saat para wartawan mulai bertanya, apakah Urawee yang mendesign pakaian nya di kenakan olehnya sekarang. Unthiga pun menjadi tidak tahan lagi, dan langsung pergi darisana.
Melihat itu, Urawee mendengus geli.

Unthiga melepaskan mahkota yang dikenakan nya, dan melemparnya. Lalu dia mengambil gunting dan menghancurkan gaun yang dikenakan nya dengan marah. “Ini adalah design mu?!” teriaknya, marah.
Para karyawan meminta Unthiga untuk menghentikan tindakan tersebut. Tapi Unthiga sama sekali tidak mau berhenti, dan tidak bisa di hentikan. Karena saat seseorang mencoba untuk menghentikan dia, maka dia akan membuang barang- barang yang ada di dekat nya ke orang tersebut.

Dengan percaya diri, Urawee berjalan mendekati nya dan menghentikannya. Dia menampar pipi Unthiga dua kali, dan meneriakinya supaya sadar. Tapi Unthiga tidak terima dan balas menampar Urawee, lalu dia menjambak rambut Urawee.
“Aku akan membuat kamu melihat bahwa dimana pun kamu berada, kamu ada dibawah kaki ku! Jangan tunjuk kan wajahmu disini, dan bertingkah seperti berada dilevel yang sama denganku. Jika kamu melakukan nya, aku akan menghancurkan segalanya milikmu!” ancam Unthiga.
Urawee tidak terima, dan melepaskan dirinya dari cengkraman Unthiga. “Kamu pikir aku akan membiarkannya?!”
Unthiga dan Urawee kemudian saling bertarung lagi. Dan melihat kelakukan mereka berdua yang sangat ganas, dua orang pria mendekat dan menahan mereka serta memisahkan mereka supaya tidak saling menyakiti serta membuat keributan lagi. Salah satu dari pria itu, yang menahan Unthiga, dia adalah Ayah mereka berdua. Dan satunya lagi, yang menahan Urawee, dia adalah Anik.

Urawee dan Unthiga melakukan wawancara secara terpisah. Mereka berdua terdengar saling membenci satu sama lain. Sangat membenci.
Urawee : “Jadi tidak ada yang bertanya- tanya, mengapa aku sangat membenci wanita ini? Jika kamu terpaksa mengalami kerugian yang paling berharga dalam hidupmu …”
Unthiga : “Posisi nomor 1, itu berarti menginjak dan mencapai target mu.”

Urawee : “Dalam hidupku segalanya berjalan baik. Baik dalam pekerjaan dan cinta.”
Unthiga : “Ibuku selalu mengingatkan ku bahwa aku tidak boleh kalah, dan menjadi yang kedua dari wanita bernama Urawee.”
Urawee : “Tapi segalanya hancur. Karena wanita yang ada didekat ku, dan seumuran denganku. Orang yang harus aku panggil ‘saudaraku’. Tidak, aku tidak akan pernah memanggil dia itu, dan aku tidak pernah berpikir untuk menganggap nya sebagai kerabat  ku juga. Itu sangat sulit.”
Unthiga : “Aku lebih berbakat, lebih baik daripada dia, dan berada diatas, jadi tidak peduli apa cara nya, aku akan menang dan memiliki segala miliknya.”
Urawee : “Dan jika kamu melihat ku menampar dan bertengkar dengannya. Jangan ikut campur.”
Urawee dan Unthiga : “Karena antara kami, itu adalah kompetisi, game, dan balas dendam!” kata mereka berdua sambil tersenyum penuh percaya diri.

2 jam yang lalu
Urawee dengan fokus memeriksa pakaian hasil designnya. Dia bekerja didalam bidang fashion design adalah karena dia menyukainya. Ketika dia mendesign, itu terasa seperti seluruh dunia adalah miliknya. Dan tidak seorang pun yang bisa mengacaukan ataupun ikut campur. Inilah waktu paling damai menurutnya.
Setelah selesai memeriksa hasil pakaian yang didesign nya, Urawee mengirimkan itu kepada seseorang untuk meminta saran dari orang tersebut seperti biasa.
Seorang wanita berambut pendek yang merupakan teman Urawee, namanya Pam. Dia datang dan mengajak Urawee untuk buru- buru berangkat, karena takutnya mereka terkena macet nanti. Dan Urawee mengerti, namun sebelum itu, dia menekan enter untuk mengirimkan emailnya barusan.

“Kamu berbicara kepada teman online mu lagi di website pertemanan? Apa nama websitenya? Dan siapa namanya?” tanya Pam.
“We Are Creative. Namanya Pu,” jawab Urawee.
Mendengar nama Pu, Pam merasa heran, karena nama itu terdengar seperti Poo atau Pue yang berarti kakek tua. Dan Urawee tertawa, dia menjelaskan bahwa itu bukan nama, tapi dia memanggil teman online nya dengan panggilan Pu.

Didalam perjalanan menaiki mobil. Ampu bertelponan dengan seseorang, dia tampak tidak senang dan malas. Dia menyuruh orang di telpon untuk memberitahu ‘wanita itu’ terserah mau melakukan apa, jika ‘wanita itu’ mau rumah disana, maka dia tidak masalah, karena lagian dia tidak membutuh kan rumah disana juga, dan yang paling penting, dia ingin hubungan mereka berarkhir.
Setelah selesai bertelponan, dengan kesal Ampu memukul stan mobil.

Ampu melakukan wawancara di ruangan kantornya. Dia berbicara dengan tenang, namun tegas dan penuh pelajaran berharga.
Ampu : “Aku ingin memiliki keluarga yang langgeng dengan kekasihku. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Itu karena tempramen ku dan ketidak sabaran ku. Yang mana membuatku ... harus bercerai dengan mantan istriku. Tapi aku masih sangat beruntung, untuk tidak tinggal dimasa lalu dan kesalahanku. Aku memilih untuk move on. Berjalan maju. Aku berniat untuk membuat masa sekarang menjadi sebaik yang aku bisa. Untuk masa depan, aku tidak akan mengulangin kesalahanku. Jika kamu sama seperti ku, jangan biarkan masa lalu menghancurkan mu lagi.”
Pam menanyakan nama asli Pu, tapi Urawee tidak tahu dan tidak pernah bertanya juga. Pam bertanya lagi, bagaimana rupa Pu. Tapi Urawee juga tidak tahu, karena Pu tidak ada memasang foto profil.
“Kamu harus berhati- hati, atau kamu akan ditipu. Dan kamu menunjukan hasil kerja mu juga, kan? Tidakkah kamu takut itu dicuri?” tanya Pam, khawatir.
“Aku sudah 30 thn. Bukan 13 thn lagi. Aku telah menunjuk kan nya hasil kerja ku, tapi itu tidak pernah dibocorkan. Jadi itu tandanya, dia bisa di percaya,” balas Urawee, membela Pu.

Namun Pam tetap saja merasa khawatir. Tapi dengan yakin Urawee meminta Pam untuk tenang saja, karena dia bisa mengurus dirinya sendiri.
Pam kemudian menanyakan, apakah adik Urawee akan menghadiri acara ini juga. Dan mendengar itu, Urawee langsung tampak bad mood, dia menjawab bahwa dia tidak mempunyai adik.
Mendengar itu, Pam pun mengeluhkan mulutnya yang sudah salah bicara. Lalu dia mengikuti Urawee yang telah berjalan duluan.

Lampu merah telah berubah menjadi hijau. Dan Ampu tidak menyadari itu, namun kemudian suara klakson dari mobil dibelakang nya, membuatnya tersadar. Dengan buru- buru Ampu menyalakan mobilnya, tapi sialnya mobilnya sama sekali tidak mau menyala, karena kehabisan bensin.
Jadi Ampu pun turun, dan meminta maaf kepada mobil di belakang nya.

Unthiga tidak sabaran dan terus menekan tombol klakson dimobilnya. Tapi saat kemudian Ampu keluar dari mobil dan meminta maaf padanya, dia pun merasa tertarik pada Ampu. Dan dia memotret Ampu menggunakan handphone nya.
Ampu mengambil cadangan bensin dibagasi mobil, dan mengisi mobilnya. Tanpa menyadari kalau dibelakang nya, Unthiga sedang memotretnya.


Unthiga menjalankan mobil nya ke dekat Ampu, dan menekan klakson sekali untuk menarik perhatian Ampu. Dan melihat dia, Ampu pun meminta maaf. Lalu Unthiga melaju pergi darisana.
Sesampainya di gedung acara. Unthiga berpose dengan percaya diri didepan para wartawan yang memotret nya.

Kemudian setelah itu, Unthiga menjawab telpon dari Mama nya Dia memberitahu bahwa dia sudah sampai tepat waktu di gedung acara.
“Benarkah? Itu bagus. Acara ini akan menjadi debut untuk putriku yang paling megah dan elegan. Dan setiap orang akan membicarakan tentang mu,” kata Nopama (Mama Unthiga), mengingatkan.
“Jangan khawatir, ma. Aku tidak akan merusak namamu,” jawab Unthiga.

Bibi Duang terkejut saat mengetahui bahwa Unthiga juga menghadiri acara tersebut. Dan Urawee memberitahu bahwa malam ini Unthiga akan berjalan di catwalk. Duang lalu menanyakan, pakaian apa yang Urawee kenakan. Dan dengan heran, Urawee menjawab bahwa dia menggunakan setelan kantor Bibi Duang. Mengetahui itu, Duang memuji bahwa apapun yang Urawee kenakan, semuanya akan terlihat cantik. Lalu Duang bertanya lagi, apakah akan ada wartawan juga disana. Dan Urawee mengiyakan.

“Jangan lupa, ketika wartawan mewawancari kamu, jawablah dengan jelas dan pintar. Buat mereka terlihat bodoh. Aku benci pada orang yang bersinar di luar, tapi busuk didalam,” jelas Duang, menasehati.
Mendengar itu, Urawee hanya tersenyum saja. Dan Pam yang juga mendengar itu, dia ikut tersenyum sendiri.

Nopama memberitahu Unthiga bahwa saat ini dirinya sedang menunggu Arm (Ayah Unthiga dan Urawee) untuk menjemput nya, karena Arm baru saja selesai rapat dengan klien dari luar negri, dan masih dalam perjalanan.
Mendengar itu, Unthiga dengan curiga bertanya, apakah benar Arm sedang rapat. Dan Nopama langsung memarahinya supaya tidak berbicara seperti itu, karena dia adalah istri terakhir dan istri satu- satunya dari Arm sekarang.

“Ma, laki- laki buaya darat, mereka tidak akan pernah berubah,” komentar Unthiga.
“Tapi Ayah mu adalah pengecualian. Aku tahu dia dengan baik,” balas Nopama.
“Baiklah. Aku tahu kamu punya mata- mata yang mengikuti nya. Dan aku tidak ingin berdebat dengan mu. Sampai jumpa. Bye,” balas Unthiga. Lalu dia pun mematikan telpon nya.
Arm sampai, dan pelayan memberitahu MU. Mendengar itu, Nopama pun keluar dari rumah dan berjalan mendekati mobil Arm.

Duang menceritakan keburukan Nopama. Saat pagi, Nopama berpura- pura sebagai orang biasa. Tapi saat malam, Nopama berubah menjadi jiwa kotor yang memakan segala yang dia bisa makan. Lalu Duang berhenti bercerita, karena itu hanya merusak mood nya saja. Dan Urawee mengerti.
Saat Nopama masuk ke dalam mobil, Arm menanyakan, apakah Nopama sudah menunggu lama. Dan Nopama menjawab bahwa saat Arm sampai, dia baru saja siap. Kemudian pintu mobil pun ditutup, dan mereka berangkat.

“Jangan biarkan mereka mencuri cahaya yang menyorot mu. Ingat bahwa kita adalah ratu! Sedangkan mereka hanya bisa menjadi gagak hitam,” jelas Duang.
“Ya, Bibi Duang. Terima kasih ya,” balas Urawee. Kemudian dia pamit, karena dia harus fokus menyetir. Dan Duang mengerti.
Setelah selesai bertelponan, Duang merasa terkejut melihat Mama nya berada disana. MD (Mama Duang), dia mengomentari bahwa dia telah mendengar semua pembicaraan antara Duang dengan Urawee barusan. Dan dia meminta Duang untuk berhenti bersikap seperti itu.
“Jangan ajari keponakan mu menjadi pendendam dan ingin menang melawan mereka,” jelas MD, menasehati.
“Ma, apakah kamu menguping?” keluh Duang.

“Aku tidak menguping, tapi kamu yang tidak sadar kalau aku duduk disini. Aku beritahu kamu, jangan sembuhkan luka dengan balas dendam. Akhiri lah. Jangan tumbuh tua tanpa kebijaksanaan,” tegas MD.
“Baiklah,” balas Duang, tidak senang.

Pam melihat- lihat akun IG yang berisikan foto- foto tubuh kekar Ampu. Melihat itu, Urawee merasa jijik, dan bertanya kenapa Pam melihat foto seperti itu di depan publik. Dan Pam menjawab bahwa ini bukan di depan publik, karena hanya ada mereka berdua di dalam mobil.
Dengan bersemangat, Pam menjelaskan bahwa Ampu adalah fotografer paling hot di New York saat ini. Dan bahkan Urawee juga ada menfollow akun IG Ampu.

“Benarkah?” tanya Urawee, terkejut. “Itu fotografer yang aku ikuti? Mengapa dia menjadi model? Atau dia mau pamer?”
“Khun, era apa sekarang ini? Ini era kesetaraan. Jika wanita bisa pamer, maka pria bisa pamer lebih baik. Lihat komentar  menyenangkan ini, semua tipe wanita, LGBT, dan lainnya, mereka menyukainya, bahkan ada yang komentar bahwa ia rela untuk menjual rumah, mobil atau apapun untuk bisa merasakan Ampu,” jelas Pam sambil tertawa penuh semangat.

Urawee tidak menyukai Ampu yang pamer tubuh seperti itu, dan dia berpikiran negatif tentang nya. Namun Pam tidak setuju.
“Sulit untuk hidup akhir- akhir ini. Ada banyak orang yang menjual tubuh mereka sendiri. Aku pikir dia bukan tipe ku lagi. Aku akan men-unfollow dia,” jelas Urawee.
“Silahkan. No comment. Tapi bisakah aku meminjam uang mu? Untuk membeli dia,” balas Pam, melucu. Dan Urawee tertawa.
Ampu makan siang bersama dengan dua teman baiknya, Ploy dan suaminya. Mereka makan di gedung tinggi, karena sebagai seorang fotografer, Ampu suka melihat pemandangan. Dia menceritakan kepada mereka berdua bahwa karena Ayahnya meninggal, maka dia pulang untuk menjaga adik nya, Tom. Dan dia ingin Ploy membantu nya mengurus Tom.
“Jangan khawatir. Sebagai guru, aku akan mengurus setiap murid dengan sebaiknya dan semampuku,” jawab Ploy.
“Terima kasih,” balas Ampu.

SP (Suami Ploy) kemudian menanyakan tentang perceraian Ampu. Dan mendengar itu, Ampu tampak muram. Ploy pun memukuli SP dengan pelan, dan mengingatkan nya supaya tidak menanyakan itu. Tapi Ampu tidak masalah, dan bercerita bahwa sebenarnya dia tidak bisa menerima perceraian itu, tapi walaupun dia merasa sakit, akhirnya dia tetap bercerai.
“Jika kamu ingin cepat sembuh, kamu perlu mencari wanita baru,” kata SP, menyarankan dengan perhatian. Dan Ampu tersenyum.
“Mengapa buru- buru? Ketidak sabaran hanya akan menuntun ke luka yang lebih,” kata Ploy, tidak setuju. Dan Ampu langsung berwajah muram lagi.


Menyadari kalau dirinya telah salah berbicara, Ploy pun meminta maaf kepada Ampu. Lalu dia meminta SP untuk membantunya. Tapi SP tidak bisa membantunya dan hanya tersenyum saja.
“Mendengar itu mengingatkan ku, kalau apa yang terjadi adalah kesalahan kami berdua. Keras bertemu keras. Tidak ada yang bersedia untuk mengalah. Seperti api bertemu api. Pertemuan itu hanya membawa luka, dan ketidakbahagian,” kata Ampu, menyadari kesalahan nya sendiri dengan baik.
“Benar. Jika kamu ingin mencari pacar. Carilah seseorang yang seperti air,” balas Ploy, memberikan saran. Dan Ampu pun berpikir.
“Atau aku hanya harus merubah diriku dan menjadi air?”
“Itu juga bagus,” puji Ploy. Dan Ampu berterima kasih padanya. Lalu mereka bertiga pun saling tertawa, dan melanjutkan makan mereka.
Sesampainya di gedung acara. Urawee tidak langsung masuk ke tempat acara, melainkan dia duduk di loby dulu, karena dia mau menunggu seseorang. Dengan heran, Pam menanyakan, siapa itu. Dan Urawee tidak mau memberitahu.


Lalu kemudian tepat disaat itu, Anik datang, dan menyapa Urawee. Melihat itu, Pam menebak kalau Anik pasti adalah orang yang di ceritakan oleh Urawee kepadanya, yaitu seorang teman yang baru pindah dari Phuket dan bekerja sebagai manajer di tempat ini.
“Kamu begitu pelupa ya,” komentar Urawee, karena Pam salah besar.
“Aku sudah menggunakan semua otak ku untuk bekerja,” balas Pam, beralasan.
Anik menjelaskan bahwa dia datang untuk mengikuti fashion show, dan ini adalah pertama kalinya dia bisa melihat design Urawee di atas panggung. Urawee menambahkan bahwa pemilik brand (merek) yang telah mengundang Anik.
“Kamu berbicara seperti kamu tidak ingin mengundang nya,” komentar Pam.
“Yah, seseorang telah mengundang nya duluan sebelum aku,” balas Urawee.
“Dia tidak menjawab pertanyaan. Mulut bandel,” balas Pam. Dan Urawee menatap nya dengan tatapan memperingatkan. Tapi Pam tidak peduli dan dengan berani menatap balik Urawee.
Anik menyela mereka berdua, dan mengajak mereka untuk segera masuk bersama. Karena para tamu dan media pasti sudah tiba sekarang. Dan Urawee pun mengiyakan. Melihat itu, Pam tersenyum senang untuknya.


Setelah selesai makan siang. Ploy menanyakan, apakah saat ini Tom ada dirumah. Dan Ampu menjawab bahwa karena Tom baru mau pindah untuk tinggal bersama dengannya, maka Tom belum selesai berkemas dan masih berada di rumah, itulah yang dikatakan Tom padanya.
Mendengar itu, Ploy menatap SP. Dan Ampu pun merasa heran, ada masalah apa.
Tom menyimpan helm nya di lemari. Melalui telpon, Tom memberitahu temannya bahwa hari ini dia tidak akan pergi, karena dia belum selesai berkemas.

Ampu memikirkan perkataan Ploy barusan. Ploy mendengar dari temannya bahwa saat ini Tom sedang balapan dijalan. Menurut infonya, Tom bergabung dalam sebuah geng balapan, dan sering balapan di jalan serta menantang polisi. Namun mereka tidak pernah ke tangkap, karena para fans mereka akan mengirimkan pesan dan memperingatkan mereka. Jadi mereka selalu bubar tepat waktu, sebelum para polisi sampai.

“Apa kamu memberitahu ku bahwa Tom mungkin berbohong bahwa dia sedang di rumah?” tanya Ampu.
“Dia mungkin tidak berbohong. Tapi aku ingin kamu untuk dekat dan menjaga Tom. Usia remaja adalah tahap paling penting. Jika mereka memiliki teman yang buruk, itu bisa menuntun mereka ke masalah. Hanya orang dewasa yang bisa menarik mereka kembali,” jelas Ploy, memberikan nasihat.
“Ploy benar,” kata SP, setuju.
Ampu memikirkan nasihat dari Ploy dan SP. Lalu dia menelpon Tom.

Melihat Ampu menelponnya, Tom malas untuk mengangkatnya. Tapi karena Ampu menelponnya lagi, jadi dia pun mengangkat nya, dan menanyakan ada apa.
Ampu menanyakan, apa yang sedang Tom lakukan, dan kenapa Tom tidak mengangkat telponnya. Dan Tom menjawab bahwa barusan dia sedang bertelponan dengan temannya. Ampu bertanya lagi, teman siapa, dan mengapa Tom tidak menelponnya kembali.
“Aku belum selesai berkemas,” kata Tom, malas.
“Dimana kamu? Aku tanya dimana kamu?” balas Ampu, tidak percaya.
“Dimana lagi aku? Aku sedang dirumah. Apa kamu pikir aku berbohong padamu?” tanya Tom, kesal.

“Kamu tidak bisa marah padaku. Dengarkan aku. Kamu tidak bisa bertingkah seperti bagaimana kamu dengan Ayah sebelumnya. Aku menjadi lebih berhati- hati untuk masa depanmu. Mengerti?” tegas Ampu, tidak mau di tentang.
“Itu saja? Aku belum selesai berkemas,” balas Tom, kesal. Lalu dia mematikan telpon.

Malas dan kesal dengan sikap Ampu yang tidak percaya sama sekali dengannya. Maka Tom pun memasuk kan buku- bukunya ke dalam tas, lalu dia membawa gitar nya juga, dan pergi dari rumah menaiki motor.
“Apa masalah nya? Berbicara omong kosong. Kita hanya saudara tiri, apa hak mu?” keluh nya, kesal kepada foto Ampu.
Pam menasehati sikap Uwaree yang sedikit dingin kepada Anik dengan bersikap seperti Anik bukanlah orang yang penting, dan bukan orang yang special. Dan Uwaree membalas bahwa Anik sudah mengerti, kalau dirinya adalah special untuknya., serta jika Anik ada keluhan, maka Anik bisa memberitahunya.

“Jika dia memberitahumu, kamu tidak akan okay. Benar kan?” tanya Pam. Dan Uwaree diam. “Jadi dia tidak mengatakan nya.”
“Kemudian tunggu sampai dia mengatakan nya,” balas Uwaree, lalu dia mengalihkan pembicaraan, dan mengajak Pam untuk cepat jalan.

Tepat disaat itu, Pam melihat Ampu, dan dia pun merasa seperti familiar dengannya, tapi dia tidak ingat siapa Ampu. Dan dia pun memberitahu Uwaree, tapi Uwaree dengan cuek menyarankan supaya Pam mengambil cuti dan beristirahat.

Owner memperkenalkan Ampu kepada beberapa orang tamu, serta kepada orang- orang di ruang rias. Dan melihat nya, Unthiga merasa terpesona kepada Ampu.



“Oun Unthiga, anak dari Khun Arm, pemilik perusahaan kain yang aku gunakan. Oun baru pulang dari luar negri, dan dia model terhormat ku,” jelas Owner, memperkenal kan mereka berdua.
Dan dengan ramah, Unthiga mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu. Kamu bisa memanggilku Oun saja. Khun Phu.”
“Ampu,” balas Ampu singkat, sambil menyalamin tangan Unthiga.
Owner kemudian menjelaskan tentang Ampu yang adalah seorang fotografer yang sangat berbakat. Ampu belajar di Inggris, dan bekerja disana setelah tamat, serta menikah juga disana, tapi saat ini sudah bercerai. Mendengar itu, Unthiga merasa semakin tertarik kepada Ampun, tapi dia pamit kepada mereka karena harus berganti pakaian.

Setelah Unthiga pamit dan berjalan pergi, Owner langsung memberitahu Ampu bahwa ada satu orang lagi yang ingin di perkenalkan nya kepada Ampu. Yaitu designer mereka, Urawee. Dan Ampu harus, sangat harus, berkenalan dengannya.

Mendengar nama Urawee disebut, Unthiga tampak terkejut dan sangat tidak suka.

No comments:

Post a Comment