Sunday, October 20, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 1 - 2/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 1 – part 2
Network : Channel 3
Owner menjelaskan bahwa jika bukan karena dia sudah lama mengenal Ampu, maka dia akan mengira gosip tentang Ampu yang berkencan dengan wanita untuk uang adalah benar. Karena Ampu mengambil foto telanjang. Lalu dia menanyakan, apakah Ampu membutuh kan uang untuk bercerai.

“Aku hanya berfoto untuk bersenang- senang saja,” jawab Ampu.
“Dan kamu tidak akan membersihkan gosip itu?” balas Owner.
“Kenyataan adalah kenyataan. Jika aku menghabiskan waktu untuk membersihkan berita itu, aku tidak akan punya waktu untuk hidup,” jelas Ampu. Dan Owner membalas, terserah.
Pam berpikir keras untuk mengingat siapa Ampu, kemudian akhirnya dia pun ingat. Dan dia memberitahu Uwaree. Lalu Uwaree pun teringat pada foto telanjang itu. Namun Anik tidak kenal siapa Ampun, jadi dia pun bertanya.
“Khun Ampu adalah fotografer yang kami following IG nya, karena kami sangat menyukainya,” jelas Pam.

Mendengar itu, Anik memandang Uwaree penuh arti. Dan Uwaree pun menjelaskan bahwa dia tidak sebanyak itu menyukai Ampu, yang dia sukai hanya foto yang diambil oleh Ampu, serta dia juga akan segera meng-unfollow Ampu.
Owner melihat mereka, dan memanggil Urawee. Lalu dia membawa Ampu untuk mendekati mereka, karena dia mau memperkenalkan mereka. Tapi sebelum dia melakukan itu, Pam langsung menyapa Ampu duluan. Dengan heran, Owner menanyakan, apakah mereka sudah saling mengenal.
“Oh, kami mengenal Khun Ampu satu sisi,” jelas Pam, cepat.


Owner pun kemudian memperkenalkan mereka. Pertama, dia memperkenalkan Pam. Kedua, dia memperkenalkan Uwaree yang telah disebutkan nya barusan diruang rias. Dan mendengar itu, Ampu pun mengulurkan tangannya kepada Uwaree. Tapi Anik langsung menjabat tangan Ampu menggantikan Uwaree, dan dia memperkenalkan dirinya sendiri.

Owner memuji betapa berbakat nya Ampu. Mendengar itu, dengan sedikit ketus, Uwaree mengomentari bahwa Ampu tidak normal, walaupun sangat berbakat. Dan Pam pun langsung menyela, dia memuji betapa mereka sangat menyukai hasil pekerjaan Ampu. Dan Ampu pun berterima kasih.
“Aku juga sangat senang bisa bertemu dengan Khun Wee langsung. Aku sangat menyukai pekerjaan mu. Termaksud print-an yang baru saja kamu emailkan kepada ku pagi ini,” jelas Ampu. Dan itu mengejutkan Uwaree. “Aku Pu.”
“Khun Pue? Benarkah?” tanya Uwaree, tidak menyangka.
“Namaku Pu. Bukan Pue,” jawab Ampu, membenarkan.

Owner menyela, karena dia merasa bingung dan tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka berdua. Begitu juga dengan Anik, dia tidak mengerti ada apa.
“Aku sangat bahagia bahwa Khun Wee adalah orang yang sama yang ada di email,” kata Ampu menjelaskan. Sambil tersenyum sopan pada Urawee.
“Aku pikir, dunia begitu kecil,” balas Urawee, tidak menyangka.
Anik menarik tangan Urawee menjauh dari semuanya, dan dengan sikap posesif, dia menanyakan sejak kapan Urawee mengenal Ampu dan kenapa dia tidak tahu. Dengan cuek, Urawee menanyakan, mengapa Anik mau tahu segala tentang nya.
“Ini bukan segalanya. Tapi kamu harusnya memberitahu ku tentang ini. Jika tidak itu berarti ..” kata Anik, tanpa  menyelesaikan kata- katanya.
“Aku tidak setia?” tebak Uwaree, dan dia benar. “Jangan meremehkan ku.”
“Aku minta maaf. Kamu tahu aku cemburu,” balas Anik.
“Tapi kita telah berjanji bahwa kita tidak akan saling melukai. Seperti menjadi tidak setia. Aku mengerti kamu. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan membicarakan tentang dia lagi,” jelas Uwaree, menenangkan.
Anik menjelaskan bahwa Uwaree boleh berbicara dengan Ampun, tapi sebagai teman, dan dia tidak masalah dengan itu. Tapi Uwaree tidak mau, karena dia telah memutuskan untuk tidak berbicara dengan Ampu. Bahkan dia tidak akan menjadi teman dengan seseorang seperti Ampu.
Mendengar itu, Anik pun tersenyum senang.

Lalu tepat disaat itu, Ayahnya, Arm, berserta dengan Ibu Tirinya, Nopama, datang dan berjalan mendekatinya. Dengan malas, Uwaree pun menyapa mereka untuk kesopanan. Dan dengan sopan, Anik menyapa mereka berdua juga, dan lalu memperkenalkan dirinya sebagai manajer di tempat ini.

“Kapan kalian akan menikah?” tanya Nopama. Dan Uwaree menjawab singkat, kalau dia belum menentukan tanggal nya. “Atau kamu menginginkan yang lebih tinggi daripada seorang manajer? Aku pikir ini sudah terlalu bagus untuk mu,” komentar Nopama dengan sikap halus, tapi juga sinis.
Mendengar itu, Arm memandangin Nopama. Dan Nopama beralasan bahwa dia hanya bermaksud baik saja, dia tidak ingin Uwaree kehilangan kesempatan ini, dan bermain sulit untuk di dapatkan.


“Jangan khawatir kan aku. Aku akan berhenti bermain sulit di dapatkan, ketika aku telah yakin bahwa pria mempunyai satu hati,” kata Uwaree, menyindir. “Jadi ketika wanita memalukan menggoda nya, dia tidak akan dibutakan dan kehilangan moralitas. Seperti wanita Iblis dan pria Buruk,” jelas Uwaree, menyindir lebih tajam.
Mendengar itu, Arm serta Nopama tidak bisa membalas, dan mereka memandangin Uwaree dengan tatapan tajam. Namun Uwaree tidak peduli, dan dengan sikap polos, dia semakin menyindir mereka berdua.

“Cerita ini sangat familiar. Apakah ini mengingatkan kamu?” tanya Uwaree. Dan Nopama dengan kesal ingin memberinya pelajaran, tapi Arm menahannya supaya tidak melakukan itu dan bersabar.
Sekretaris Arm kemudian menengahi situasi. Dia mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam bersama- sama, karena acara sudah akan dimulai. Dan Uwaree dengan ketus berterima kasih pada SA (Sekretaris Arm), karena sudah ikut campur, jika tidak seseorang akan kehilangan darah karena mulut nya.

“Hormati aku. Aku adalah istri ayahmu,” kata Nopama, memperingatkan.
“Dia bukan ayahku. Dia hanya pria yang tidak pernah puas. Dan untukmu, kamu tidak cukup layak untuk aku hormati,” balas Uwaree dengan tajam, dan tatapan mata yang penuh luka.
Mendengar itu, Nopama semakin kesal. Tapi Arm menahannya lagi supaya tidak membuat keributan.


Fashion dimulai. Unthiga yang merupakan seorang model, dia tampil dengan sangat baik dan cantik, hingga membuat Anik terpesona kepadanya. Menyadari itu, Urawee pun menyikut nya dengan pelan, dan Anik berpura- pura bertanya, apakah itu adik Urawee. Dan dengan ketus, Urawee menjawab tidak.

Pam yang duduk disebelah Ampu bertanya padanya, apakah Ampu mengenal Unthiga, karena Ampu tersenyum kepada Unthiga, dan Unthiga balas tersenyum kepada Ampu. Dan Ampu menjawab bahwa sebelum acara, Owner (Kong) memperkenalkan nya dengan Unthiga.
“Oh. Unthiga adalah adik Uwaree, tapi beda Ibu,” kata Pam, memberitahu. Mengetahui itu, Ampu menatap Urawee dan tersenyum kepadanya. Tapi dengan cuek, Urawee mengabaikannya.

Unthiga yang berada di atas panggung, dia dengan sengaja mengibaskan ekor gaun nya mengenai Urawee yang duduk di samping panggung. Sehingga itu membuat Urawee merasa kesal, tapi Anik menahan nya.

“Mereka tidak dekat. Aku tidak bisa cerita. Karena itu cerita yang sangat panjang,” jelas Pam, kepada Ampu lagi.
“Kemudian jangan beritahu dia,” kata Urawee, ketus.


Setelah acara fashion show selesai, Unthiga berjalan dengan bangga bersama Kong ke depan panggung. Melihat itu, Nopama merasa bangga kepada putrinya itu. Sementara Arm tampak biasa saja.
Tepat disaat itu, Ampu menerima panggilan telpon, jadi dia pun permisi dan pergi sebentar darisana.


Ploy memberitahu Ampu bahwa barusan dia melihat Tom melakukan balap motor secara live di internet. Jadi dia menyuruh Ampu untuk segera kesana, karena dia khawatir kepada Tom. Dan Ampu mengerti.

Dijalanan. Tom melakukan trek- trekan motor. Dan seorang pembalap liar juga, dia menantang Tom untuk membalap satu ronde dengannya. Jika Tom bisa mengalahkan nya, maka Tom bisa mengambil gadis nya.
Mendengar itu, Gadis tersebut langsung memukul kepala Si Pembalap dan turun dari motornya. Dengan marah, dia menanyakan, ada apa dengan si Pembalap.
“Itu gadis mu atau Ibumu?” ejek teman Tom pada si Pembalap. Dan semua orang langsung menertawai si Pembalap.

Dengan marah, si Pembalap ingin menghajarnya, tapi Tom menahannya. “Aku akan mengalahkan dia bagaimana pun juga. Jangan jadi pengecut,” jelas si Pembalap pada gadis nya.
“Bagaimana jika kamu kalah?” keluh si Gadis.
“Jangan bicara sial!” balas Si Pembalap.
Dengan sikap yang menantang, Si Gadis kemudian menanyakan, kenapa Tom memperhatikan wajah nya. Dan mendengar itu, Tom hanya tertawa, tanpa menanggapin nya.
“Baiklah. Jika aku menang, pacarmu menjadi milikku,” kata Tom, menerima tantangan dari si Pembalap.
“Tapi jika kamu kalah, bersiaplah untuk keluar dari grup. Dan jangan tunjuk kan wajahmu disini lagi. Atau jika tidak, aku akan menginjak mu sampai mati dengan kaki ku,” balas si Pembalap, mengancam.


Dan Tom setuju dengan itu. Lalu dia memperingatkan si Gadis bahwa jika dia menang, maka si Gadis harus bersiap untuk menjadi miliknya dan melakukan itu. Mendengar itu, si Gadis merasa kesal. Dan si Pembalap menendang motor Tom.

Tentu saja, Tom tidak terima, dan mau memukuli si Pembalap. Tapi tepat disaat itu, terdengar bunyi sirine mobil polisi. Dan dengan segera semua orang pun melarikan diri darisana. Begitu juga dengan si Pembalap, tapi sebelum kabur, dengan sengaja dia memukuli wajah Tom sekali. Lalu ketika mobil polisi sampai, si Pembalap meninggalkan Gadis nya sendirian disana.
Dengan buru- buru, Tom pun meninggalkan motor nya, dan kabur darisana juga. Dan si Gadis beserta seorang temannya langsung mengikuti Tom yang melarikan diri. Sementara yang lain, yang terlambat untuk kabur, mereka di tahan oleh polisi.
Para wartawan, menanyakan, apakah ini pertama kalinya Unthiga berjalan di catwalk setelah pulang dari luar negri. Dan Unthiga mengiyakan, serta dengan sikap rendah hati, dia menanyakan apakah penampilan nya bagus.
“Tentu saja. Bergaya dan sempurna,” puji Kong. Dan mendengar itu, Unthiga tersenyum lebar, karena sangat senang.

Para wartawan kemudian menanyakan, apa ada proyek lain yang Unthiga miliki. Dan Unthiga menjawab bahwa dia akan bekerja di perusahaan Ayahnya. Mendengar itu, Nopama merasa sangat bangga kepada Putrinya.
“Urawee harusnya mencontoh Unthiga, bagaimana berperilaku baik untuk mendapat kan kekaguman. Bukannya bersikap kasar dan dimarahi orang nanti. Sepertinya orang tuanya dan leluhurnya tidak mendisiplinkan nya dengan baik,” kata Nopama kepada Arm, menjelek- jelekkan Urawee.
“Khun. Wee adalah ahli dibidang nya, jika tidak Khun Kong tidak akan menjadi klien tetap nya,” balas Arm, membela putrinya, Urawee. Dan Nopawa tidak senang.

Unthiga memberitahu para wartawan bahwa dia berniat memiliki merek/ brand fashion nya sendiri. Dan menjadi berharga untuk Arm Tekstil. Mendengar itu, Pam mengomentari, apakah itu berarti Unthiga berniat memasuki bidang yang sama dengan Urawee. Dan Urawee hanya diam saja, sambil tersenyum sinis.

Unthiga membanggakan dirinya sendiri. Dan juga memamerkan Ayahnya yang memiliki perusahaan sendiri.
Kong memuji betapa luar biasa nya Unthiga. Lalu dia memanggil Urawee untuk naik ke atas panggung, dan dia secara resmi memperkenalkan Urawee sebagai designer yang mendesign koleksi pakaian ini kepada para wartawan.
Mendengar pujian dari Kong, awalnya Unthiga tersenyum senang. Tapi saat Kong memanggil Urawee, dia langsung cemberut.

Urawee sebenarnya enggan untuk naik ke atas panggung, tapi Pam mendorong nya untuk maju saja. Bahkan Kong turun dari panggung, dan menarik tangannya untuk naik ke atas panggung. Jadi dia pun naik ke atas panggung.
“Ini Urawee. Designer untuk koleksi ku yang sekarang, dan koleksi ku yang sebelum nya juga. Mari beri tepuk tangan untuk nya,” kata Kong, memuji Urawee di depan para wartawan. Dan mereka pun langsung bertepuk tangan. “Dia biasanya tidak suka disorot, tapi kali ini aku memintanya,” jelas Kong, jelas membanggakan Urawee. 
Mendengar itu, Unthiga merasa tidak senang. Apalagi ketika para wartawan, bertanya apakah pakaian yang di kenakan nya sekarang di design oleh Urawee. Dan mereka memuji betapa cantiknya design Urawee. Serta mereka mengatakan kalau Arm pasti bangga mempunyai, putri seperti Urawee.
Dengan kesal, Unthiga meremas gaun yang dipakainya untuk menahan emosi.
“Sebagai senior di perusahaan, menurutku dia butuh belajar lebih, karena dia baru saja datang. Dan pasar luar negri serta pasar Thai, itu tidak sama,” kata Urawee dengan halus, tapi tatapan nya tajam kepada Unthiga.
Mendengar itu, Unthiga merasa sangat, sangat, marah dan kesal.
Nopama merasa marah juga, dia mengadu pada Arm bahwa Urawee secara terang- terangan merendahkan anak nya. Dan Arm membalas, kalau Nopama hanya berpikir terlalu berlebihan saja, karena menurutnya perkataan Urawee adalah benar.
“Wee sangat berbakat. Aku selalu mendesaknya untuk membuat brand nya sendiri. Jadi Thailand akan memiliki brand yang cantik dan berkualitas. Dan itu bisa menjadi salah satu brand terbaik di dunia,” kata Kong, memuji- muji Urawee yang memang berbakat dalam fashion design.
Mendengar itu, para wartawan menanyakan, apakah Urawee mempunyai rencana untuk itu. Dan Urawee menjawab bahwa dia masih memikirkannya.
“Apa itu projek yang sama seperti Khun Oun? Karena kalian bekerja di perusahaan yang sama,” tanya wartawan.
“Tidak. Kami bekerja secara terpisah. Kompentisi didalam perusahaan yang sama akan membantu perusahaan bertumbuh,” jawab Urawee dengan tegas dan cerdas. Sehingga para wartawan kagum padanya.
Mendengar itu semua, Unthiga merasa tidak tahan lagi, dan turun dari panggung. Dan Nopama pun langsung mengikuti nya.
Melihat itu, Urawee tersenyum penuh kepuasan.

Diruangan rias. Unthiga merusak semua gaun yang di design oleh Urawee menggunakan gunting. “Kamu yang mendesign ini?!” teriak nya dengan marah. Bahkan dia membuka gaun yang dipakainya, dan merobek nya serta menghancurkan gaun itu dengan sangat ganas.
Melihat itu, Kong marah dan mencoba menarik Unthiga untuk berhenti. Tapi Unthiga tidak mau berhenti, dan malahan dia melemparkan kotak alat rias yang berada di dekatnya kepada Kong. Untung saja, Kong berhasil menghindar.

Arm, Urawee, serta Anik, datang ke ruang rias. Dengan tegas, Urawee menapar pipi Unthiga dua kali, dan berteriak menyuruh nya untuk sadar. Sadar!


Tapi Unthiga tidak terima, dan balas menampar Urawee. Bahkan dia juga mencampak rambut Urawee dengan kasar, dan menahannya di atas meja. Dengan kesal, Urawee pun membalas dengan cara menendang Unthiga.
Lalu Arm serta Anik pun menarik mereka berdua untuk berpisah dan saling menjauh supaya mereka berhenti. Tapi Unthiga sama sekali sulit  untuk dihentikan, sehinga Arm pun meneriakinya. “Apa kamu dengar aku?! Berhenti!” bentaknya.

Mendengar itu, Unthiga menatap Arm dengan syok dan tersadar. Dia menatap semua orang dengan takut dan menangis. Dia menanyakan, apa yang telah di lakukannya, dan dia meminta maaf juga.
“Maaf?! Palsu!” teriak Urawee, tidak percaya.

“Semuanya mungkin tidak tahu. Tapi aku menderita bipolar (gangguan mental). Aku pikir, aku sudah sembuh. Jadi aku tidak minum obat. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku minta maaf. Aku minta maaf, Wee, Ayah, P’Kong. Aku akan membayar semua kerugiannya,” jelas Unthiga sambil menangis tersedu- sedu dan memeluk tubuhnya yang hanya memakai pakaian minim.
Mendengar itu, semua orang terdiam dan menatap aneh Unthiga. Kong sebenarnya masih syok, tapi dia mau memaafkan Unthiga.
Nopama meminta SA untuk membawakan pakaian untuk Unthiga. Dan SA pun melakukannya. Lalu mereka mengajak Unthiga untuk pulang.
“Aku minta maaf, Wee. Aku melakukannya, karena aku sakit. Tolong maafkan aku, ya,” kata Unthiga sambil mau memegang tangan Urawee.
Tapi Urawee langsung menepis tangan Unthiga. Dan SA pun kemudian membawa Unthiga untuk pergi darisana.

Anik tampaknya percaya kepada kebohongan Unthiga, jadi dia merasa seperti nya Urawee sedikit kasar. Menyadari itu, Urawee pun merasa kesal, dan pergi darisana. Dengan segera, Pam serta Anik mengikutinya.
“Wee, dengarkan aku,” panggil Anik.

Nopama memberitahu Kong bahwa dia akan membayarkan semua kerugiannya. Dan dia meminta Kong untuk jangan membiarkan foto apapun dari ruangan ini tersebar keluar. Jika tidak, maka dia akan menuntut setiap orang. Dan Kong mengerti, serta memberikan tanda kepada karyawan nya untuk berhenti merekam.
Kemudian setelah itu, Nopama pun mengajak Arm untuk pulang.

Anik ingin mengantarkan Urawee pulang, tapi Urawee langsung berteriak, “Tidak perlu!” teriak nya. Dan Pam pun meminta Urawee untuk tenang. “Ok. Aku minta maaf, tapi sekarang, aku ingin sendirian, aku tidak ingin di ganggu siapapun. Maaf,” jelas Urawee, lalu dia pun pergi.
Anik ingin menyusulnya, tapi Pam langsung menahannya. “Tolong biarkan dia pergi. kamu harusnya lebih tahu daripada siapapun bahwa ketika Wee marah, dia butuh jarak. Jadi biarkan dia untuk tenang dulu. Kemudian telpon dia.”
“Tapi Wee harusnya mengerti. Khun Oun itu sakit. Aku pikir Khun Oun tidak bermaksud seperti tadi,” balas Anik.
“Dia bisa saja berpura- pura sakit. Keluarga Ayahnya tidak menyukainya. Kamu harus nya tahu,” balas Pam.


Tapi Anik malah mengatai, kenapa Pam begitu berlebihan dengan Unthiga. Begitu juga dengan Urawee, padahal mereka berdua saudara. Dan Pam menjelaskan bahwa Urawee dan Unthiga adalah saudara terburuk, mereka saling membenci dan iri dibandingkan dengan orang luar. Bahkan mereka berdua bisa saling membunuh.
Anik tetap tidak mengerti. Dan Pam mengomentari, kalau Anik memiliki saudara yang saling mengasihi, jadi Anik tidak akan mengerti. Lalu dia pun pergi.

No comments:

Post a Comment