Wednesday, October 23, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 2 - part 1/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 2 – part 1
Network : Channel 3
Urawee menghalangin mobil Unthiga, dan menyuruh nya untuk keluar serta berbicara mengenai masalah Anik barusan. Tapi Unthiga tidak mau, karena dia sedang sibuk dan ingin pergi menemui seseorang sekarang.
“Tapi aku punya waktu. Waktu untuk berdebat panjang dengan mu,” kata Urawee, emosi.
“Tapi aku tidak. Cepat pindahkan mobil mu,” balas Unthiga.


Urawee tidak mau memindahkan mobilnya, dan dia pun merebut kunci mobil Unthiga supaya mereka bisa bicara. Dengan kesal, Unthiga pun keluar dari mobilnya, kemudian dia masuk ke dalam mobil Urawee.
“Keluar sekarang! Ini mobilku!” teriak Urawee.
“Kita sama. Mobilmu adalah mobil ku. Tidak apa jika kita berbagi itu,” balas Unthiga.
“Tapi aku tidak suka berbagi dengan siapapun. Keluar sekarang!”


“Ini sudah telat. Aku sudah bilang aku buru- buru. Oh ya, besok, kembalikan mobilku kepadaku,” balas Unthiga. Lalu dia membuang tas Urawee dari dalam mobil, dan pergi membawa mobil tersebut.
Dengan emosi, Urawee berteriak. Dan setiap orang di sekitarnya memandanginnya. Menyadari itu, dengan ketus, dia menanyakan, apa yang sedang mereka lihat. Dan mereka semua pun langsung bubar darisana.

Uthiga memegang tangan Ampu dengan mesra, dan mengajaknya untuk berjalan bersama, sebab dia ingin merasakan rasanya menjadi putri hari ini. Dan Ampu pun mengiyakan, serta mempersilahkan nya.
Melihat itu dari jauh, Urawee tersenyum dengan sinis. “Kamu mungkin sering keluar untuk menemukan klien baru. Terima kasih banyak, karena klien barumu adalah Oun (Unthiga),”kata Urawee dengan senang.
Unthiga menawarkan kepada Ampu posisi untuk menjadi direktur kreatif, karena mereka belum mempunyai orang untuk diposisi itu di perusahaan, yang ada hanya orang- orang tidak berpengalaman. Jadi dia ingin seorang profesional seperti Ampu untuk bisa membantunya didalam pekerjaan.


Ampu menjawab bahwa dia ingin mendengar dulu, bagaimana pekerjaan itu, karena dia ragu kalau dia mungkin cukup berbakat atau tidak untuk posisi tersebut. Dan Unthiga pun menjelaskan alasan nya tertarik kepada Ampu, serta bagaimana pekerjaan sebagai direktur kreatif itu. Alasannya karena dia percaya kepada Ampu serta Kong yang telah melakukan pekerjaan dengan baik. Serta sebagai fotografer profesional, Ampu bisa memberikan pendapat pada nya didalam dunia modeling.
“Terima kasih sudah mempercayai ku. Ng, aku setuju untuk mengambil pekerjaan ini,” kata Ampu, memberikan jawaban untuk penawaran dari Unthiga.
“Aku sangat bahagia! Kita akan memulainya bersama- sama ya,” balas Unthiga dengan senang sambil memegang tangan Ampu. Dan Ampu tersenyum sopan pada nya.

Melihat Unthiga memegang tangan Ampu, serta bersikap genit kepadanya. Urawee pun mengomentari nya dengan sinis. Mendengar itu, Ampu langsung melepaskan tangan Unthiga yang memegang tangannya. Dan dengan kesal, Unthiga menatap Urawee.


Arm berterima kasih, karena Sunisa sudah membawanya ke restoran yang enak. Dan Sunisa menyarankan supaya Arm sekali- kali menikmati hidup, dengan makan makanan enak, minum- minum setelah kerja, dan bersosialisai dengan beberapa teman, sehingga stress Arm bisa berkurang.
“Aku seseorang yang tidak punya teman. Dalam hidupku, hanya ada pekerjaan, putriku, dan Nopamat. Selain dari itu, tidak ada lagi yang lain. Bagaimana bisa aku tidak stress?” tanya Arm dengan wajah pasrah pada kehidupan.
Sunisa kemudian menanyakan, bagaimana jika Nopamat tahu kalau Arm membuat Urawee serta Unthiga bekerja bersama, bukankah itu akan membuat Nopamat marah dan stress Arm bertambah lagi. Dan Arm menjawab bahwa dia sudah siap, karena dia ingin Urawee serta Unthiga bisa dekat dan saling mengerti satu sama lain. Namun dia sendiri tidak tahu, apakah ini kesalahan atau tidak.
Unthiga menyuruh Urawee untuk pergi, karena dia sedang bersama dengan tamu nya. Dan Urawee membalas bahwa tamu Unthiga adalah tamunya. Kemudian Urawee bersikap sangat dekat kepada Ampu untuk menunjukan kepada Unthiga kalau dirinya dan Ampu sudah lama saling mengenal duluan sebelum Unthiga.

Urawee membahas tentang email yang di kirimnya, dan menanyakan pendapat Ampu. Dengan heran, Ampu bertanya, apakah Urawee sudah ada mengirimkan email terbaru kepadanya, karena dia tidak tahu. Dan Urawee mengiyakan, lalu dia menanyakan tentang keadaan Tom, adik Ampu. Dengan heran, Ampu pun menatap bingung kepada sikap Urawee yang tiba- tiba saja menjadi sangat perhatian. Sementara Unthiga, dia menatap tidak senang kepada Urawee yang tampak dekat sekali dengan Ampu.

“Dia adik Pu. Kamu mungkin tidak kenal dia. Ada kecelakaan kecil kemarin malam, jadi aku membantunya untuk mengurus itu. Waktu aku pulang, itu sudah sangat malam,” kata Urawee dengan sengaja kepada Unthiga.
“Wee, aku masih mendiskusikan masalah pekerjaan dengan Khun Ampu,” balas Unthiga, kesal, tapi dia berusaha untuk menahan emosinya.
“Kamu mengusirku?” tanya Urawee, halus. “Aku tidak akan pergi. Karena kamu tidak akan berbicara kepadaku juga.”
Unthiga memperingatkan supaya Urawee tidak bersikap kasar lebih daripada ini, dan dia meminta Urawee untuk memikirkan tentang Ampu juga yang sedang ada disini. Dan Urawee menjawab bahwa itu tidak perlu, karena dia sangat dekat dengan Ampu lebih daripada yang Unthiga pikirkan, bahkan sebelum Unthiga mendekat dan bersikap genit kepada Ampu seperti ini.
“Khun Wee, apa yang kamu lakukan?” tanya Ampu, bingung dan cemas.

“Wee bertindak tidak masuk akal. Aku minta maaf ya, kamu harus melihat ini,” jawab Unthiga, sengaja membuat Urawee terlihat buruk. Dan mendengar itu, Urawee hanya tersenyum sinis saja kepadanya.
Ampu merasa bingung dengan situasi mereka berdua saat ini, jadi dia pun pamit kepada Unthiga. Dan Unthiga mengiyakan dengan lembut. Lalu Ampu mengatakan kepada Urawee bahwa mereka harus memperjelas tentang ini nanti, kemudian dia pun berdiri untuk pergi darisana. Tapi Urawee ikut berdiri juga.
“Tidak perlu. Karena masalah mu sekarang, bagiku itu sudah jelas,” kata Urawee dengan sedikit ketus. Dan Ampu pun pergi.

Unthiga ingin pergi mengikuti Ampu, tapi Urawee menghalanginnya dan bertanya, apakah mereka sudah bicara sekarang. Namun Unthiga tidak mau, karena menurutnya tidak ada yang perlu di bicarakan nya kepada seseorang yang tidak masuk akal seperti Urawee. Kemudian dia merebut tas Urawee, dan mengambil kunci mobil nya kembali, lalu setelah itu, dia melemparkan tas Urawee ke lantai begitu saja.
“Aku hanya ingin mengambil kunci mobil ku kembali,” jelas Unthiga. Lalu dia melemparkan kunci mobil milik Urawee ke lantai juga. Dan tentu saja, Urawee merasa sangat kesal.

Diparkiran. Urawee berdiri didepan mobil Unthiga yang mau pergi. Dan dengan kesal, Unthiga meneriaki Urawee supaya minggir. Tapi Urawee tidak mau, dan dia tidak akan membiarkan Unthiga kabur lagi, karena mereka berdua perlu bicara sekarang.
Mendengar itu, Unthiga pun tidak mau peduli. Dia memundurkan mobilnya sedikit, lalu dengan cepat dia melaju lurus ke arah Urawee. Untuk menabraknya. Dan tepat disaat itu, Ampu datang menyelamatkan Urawee.

Melihat itu, dari kaca spion mobilnya, Unthiga merasa sangat cemburu dan marah. Jadi dia pun menjerit dengan keras.
Urawee menyuruh Ampu untuk melepaskan nya, tapi Ampu tidak mau dan dia membantu Urawee untuk berdiri. Lalu setelah itu, Urawee dengan kasar menepis tangan Ampu yang memegang nya, dan berjalan mendekati Unthiga yang sudah keluar dari dalam mobil.

Urawee dengan marah menampar pipi Unthiga. Dan tiadk terima, Unthiga balas menampar pipi Urawee. Lalu sebelum mereka berdua mulai bertengkar, Ampu pun langsung menarik Urawee untuk menjauh dari Unthiga.
“Aku bisa bahkan lebih gila daripada yang kamu duga, Unthiga!” jerit Urawee.

“Silahkan. Aku bilang aku tidak akan berbicara kepada seseorang yang tidak masuk akal. Apa kamu gila karena terlalu possessive dengan pacarmu? Apa bagusnya pacarmu? Mengapa aku harus merendahkan diriku sendiri untuk terlibat dengannya?!”
“Itulah sikap mu! Kamu mencuri apa yang bukan milik mu!”
Unthiga bersikap seolah- olah dia tidak ada niatan untuk merebut Anik, serta ini hanyalah kesalahpahaman Urawee saja. Bahkan dengan tegas dia mengatakan bahwa Anik lah yang mendekatinya duluan. Mendengar itu, Urawee ingin memukul Unthiga, tapi Ampu langsung menahannya.
“Wee hanya tidak masuk akal. Tolong jaga teman mu ini, Khun Ampu. Aku akan menghubunginmu nanti,” kata Unthiga dengan puas. Lalu dia pun pergi.
“Kamu tidak boleh pergi! Kamu perlu bicara padaku, Unthiga!” teriak Urawee.
“Khun Wee,” kata Ampu, menghentikan Urawee.
Urawee memberontak dari Ampu dan terus berteriak. Lalu dia masuk ke dalam mobil. Dan melihat itu, Ampu pun ikut masuk ke dalam mobil nya, karena dia merasa cemas kalau Urawee akan melakuakn sesuatu yang berbahaya.
“Oh, kamu mencoba menjadi malaikat?” tanya Urawee, sarkatis. “Datang kepadaku, ketika aku sedang kesal. Apa kamu melakukan ini untuk setiap wanita di dunia ini? Untuk dia? Biar kuberitahu, metode ini tidak akan bekerja padaku.”
“Aku terlalu malas untuk menjelaskan padamu. Kamu bisa memikirkan apapun sesukamu. Tapi aku akan duduk disini, dan pergi denganmu sampai kamu tenang,” balas Ampu.

Urawee kemudian memutuskan untuk keluar saja dari dalam mobil. Tapi Ampu menahan nya untuk tidak perlu melakukan itu. Dengan tegas, dia menatap Urawee dan mengatakan bahwa dia tidak akan melepaskan Urawee.
Ampu memperingatkan, jika Urawee terus tidak sabaran seperti ini, maka Urawee bisa menghancurkan hal baik di dalam hidup Urawee sendiri. Dan Urawee membalas bahwa jika dia terus tenang saja, maka semua hal baik yang dimilikinya akan dihancurkan oleh Unthiga.
“Tapi apa yang ku lihat, orang yang menghancurkan nya adalah kamu. Bukan Khun Oun,” tegas Ampu.
“Kamu tidak tahu apapun, jadi jangan bicara. Jika kamu pikir aku buruk dan dia baik, maka kita tidak perlu bicara,” balas Urawee.
Ampu mempertanyakan, apakah Urawee menganggapnya sebagai musuh. Dan Urawee membenarkan, bahkan dari sekarang Ampu bukan lagi temannya. Mendengar itu, Ampu melepaskan Urawee.

“Jika kamu tidak ingin bicara, maka dengarkan saja. Aku datang ke sini hari ini bukan untuk melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan. Aku disni untuk mendiskusikan pekerjaan dengan Khun Oun, dan aku menerima tawarannya,” jelas Ampu.
“Hari ini dia menawarkanmu pekerjaan. Kemudian tubuh nya,” balas Urawee, ketus.
“Kamu menghinaku,” tunjuk Ampu.
“Tidak bisakah kamu membedakan? Atau kamu berpura- pura? Kamu tidak lihat bagaimana dia menatap mu?  Aku bukan menghina mu, tapi aku percaya bahwa aku benar,”jelas Urawee, tegas.

Ampu berusaha tenang dan mengerti. Dia menjelaskan bahwa Urawee perlu belajar cara menggunakan akal, bukan hanya emosi saja. Jika tidak, maka Urawee akan benar- benar hancur. Khususnya kecemburuan Urawee. Karena Urawee sudah dewasa. Setelah mengatakan itu, Ampu pun langsung keluar dari mobil.
“Ampu!” jerit Urawee, saat Ampu pergi. Dan kemudian Ampu kembali ke mobil nya lagi.

“Bahkan jika kamu menganggap ku sebagai musuh, tapi untukku, kamu masih temanku,” jelas Ampu. Lalu dia pun beneran pergi darisana.

Urawee mengingat perdebatan nya dengan Unthiga barusan. Serta perkataan Unthiga tentang Anik yang mendekati Unthiga duluan. Mengingat itu, Urawee merasa sedih dan meneteskan air mata nya. Dia menangis.

Ampu tersenyum melihat- lihat hasil design Urawee. Kemudian dia mengingat saat bertatapan dengan Urawee di dalam mobil. Dan lalu dia pun menuliskan serta mengirim kan email kepada Urawee.
Design kain mu sangat cantik. Sangat lembut. Sehingga aku bisa merasakan dan mencium aroma bunga- bunga. Itu menunjukan padaku bahwa kamu memiliki sisi lain yang manis dan lembut. Pada waktu bersamaan, itu membuatku tidak mengerti untuk alasan apa kamu perlu menyembunyikan sisi cantikmu dan menunjukan sisi amarah mu? Namun, tidak peduli seperti apa kamu, aku percaya bahwa kamu adalah orang yang baik.
I m Pu

Setelah selesai membaca email tersebut, Urawee ingin sekali membalas. Tapi karena bingung harus membalas bagaimana, maka dia pun tidak jadi untuk membalas email dari Ampu. Dan dia menutup laptopnya.
Ampu masih duduk diam di depan meja komputernya, menantikan balasan email dari Urawee.
Pagi hari. Anik mengangkat telpon masuk dari Unthiga. Ntah apa yang Unthiga katakan kepada nya, tapi raut wajah Anik tampak seperti terkejut.
Urawee cemberut, karena Anik tidak mengangkat telpon darinya. Dia menceritakan kepada Pam bahwa dia telah menelpon Anik dari kemarin malam, tapi Anik tidak mengangkatnya, bahkan Anik tidak balas menelpon nya juga. Lalu sekarang, nomor Anik sibuk, ketika dia menelpon.
“Duh, kamu begitu cemburu ya, hingga wajah mu memerah. Dia bukan pacar mu, kan?” sindir Pam.
“Berhenti menyindir,” balas Uraweee, tidak senang.

Pam dengan serius menasehati sikap Urawee, yang sering suka- suka. Contohnya menelpon Anik ketika mau,  mengusir Anik pergi ketika tidak mau, bahkan tidak membiarkan Anik untuk menggunakan kata pacar. Sehingga karena itu, menurutnya, pantas saja bila Anik tidak mengangkat telpon Urawee, sebab Anik sudah bosan.
Mendengar itu, Urawee ingin membela diri. Tapi Pam sudah mengerti, dan langsung menyela. Dia mengerti bahwa tanpa status ‘pacar’, Anik seharusnya sudah tahu kalau Urawee mencintai nya. Namun tindakan Urawee tidak menunjukan cinta, malahan itu mendorong Anik menjauh.
“Aku takut. Aku takut bahwa aku akan menjadi seperti Ibuku,” cerita Urawee, sedih. Dan dengan perhatian, Pam memeluk bahunya.
“Aku mengerti. Tapi kamu perlu untuk mengingatkan dirimu sendiri bahwa Khun Anik bukanlah Ayahmu. Itu tidak akan pernah menjadi seperti itu. Kamu pantas menerima cinta dari orang baik seperti Khun Anik,” jelas Pam, menghibur serta menasehati Urawee.
“Aku ingin dia mencintaiku seperti ini sejak lama,” gumam Urawee, pelan.
“Kemudian berjuangkan dia,” balas Pam.
Pam memberikan saran kepada Urawee. Pertama, Urawee perlu memberikan Anik kepercayaan bahwa Urawee juga mencintai Anik, sehingga Anik tidak akan berpikir kalau ini hanyalah hubungan satu sisi saja. Urawee harus memberitahu Anik, kalau Urawee mencintai Anik.
Mendengar itu, Urawee pun bersedia untuk mencoba. Dan Pam merasa senang untuk nya. Tapi kemudian tepat disaat itu, Unthiga lewat di dekat ruangan nya, dan berbicara dengan keras kepada seseorang ditelpon. Dan orang itu adalah Anik.


“Tolong aku menanganin nya ya, Khun Anik. Tapi tetaplah tenang. Berbicara lah dengan lembut kepada Wee. Aku tidak ingin kamu dan Wee bertengkar, karena aku,” kata Unthiga dengan sengaja.
Mendengar itu, Urawee jelas merasa salah paham dan kesal, sehingga dia ingin menghajar Unthiga. Namun Pam menahan tangannya, dan memintanya untuk tetap tenang.

Para karyawan lain yang mendengar pembicaraan itu juga, mereka langsung bergosip di grup chat. Sebagian memilih untuk berpihak kepada Urawee, karena dia menyukai heroine. Dan sebagian memilih untuk berpihak kepada Unthiga, karena menurutnya Villain lah yang paling berkuasa. Cuma karena hal sepele seperti itu, menyebabkan pertemanan mereka berakhir, dan mereka menjadi musuh.
*Dalam manga/ manhwa/ manhua, Heroine itu adalah pemeran utama wanita yang baik. Sementara Villain adalah pemeran jahat yang menganggu Heroine.


Pam menjelaskan jika barusan Urawee menghampiri Unthiga dan mengamuk padanya, lalu kalah didepan banyak orang, maka itu akan menjadi seperti yang Unthiga inginkan. Serta Urawee juga akan kehilangan Anik, bila terlalu emosi. Jadi dia menyarankan supaya Urawee berpikir dengan tenang, jangan sampai jatuh kedalam jebakan. Lalu konfirmasi dulu kepada Anik, serta jujur kepada Anik bahwa Urawee juga menyukai Anik. Dengan begitu, hubungan cinta Urawee akan menjadi stabil. Dan rencana Unthiga tidak akan bekerja.
Mendengar itu, Urawee pun mengerti, dan diam.


Anik datang telat untuk menjemput paman serta bibi nya. Dia menjelaskan kepada mereka berdua bahwa barusan dia terlalu lama bertelponan dengan seseorang, jadi dia pun telat. Dan Bibi menggoda betapa mesra nya Anik dan Urawee, lalu dia menanyakan kapan Anik dan Urawee akan menikah, karena dia mengira orang yang bertelponan dengan Anik adalah Urawee. Dan mendengar itu, Anik hanya diam saja.

Melihat raut wajah Anik yang tampak sedikit cemberut, Paman pun menanyakan, apakah Urawee tidak mau menikah dengan Anik. Karena jika memang benar begitu, maka dia menyarankan supaya Anik mencari wanita lain saja, wanita yang siap untuk membangun sebuah keluarga bersama dengan Anik. Sebab dia tidak mau Anik terus menunggu Urawee sampai tua. Dia ingin Anik bisa segera menikah. Dan Anik tidak menjawab.

“Jadi kali ini, berapa lama kalian berencana tinggal?” tanya Anik, mengalihkan pembicaraan.
“Satu minggu. Setelah pekerjaan ku selesai, aku akan membawa Suk ke Ayutthaya untuk berdoa sebelum kami pulang,” jelas Paman, menjawab.
“Undanglah Khun Wee untuk makan malam bersama ya. Aku akan membuatkannya mie kari kesukaan nya,” kata Bibi, ramah. Dan Anik mengiyakan, itu jika Urawee tidak sibuk, kemudian setelah itu dia pun pamit dan pergi.
Anik mengingat tentang pembicaraan panjang nya dengan Unthiga di telpon tadi pagi.

Flash back
Unthiga memberitahu Anik bahwa Urawee datang dan mempermalukannya di depan temannya. Urawee memperingatkan nya untuk tidak mendekati Anik. Dan dia pun meminta Urawee untuk jangan bersikap cemburu buta, tapi Urawee malah menjawab kalau dirinya tidak sedang cemburu. Jadi menurutnya, kalau Urawee hanya menanggap Anik sebagai barang, dan bukan nya kekasih.

Anik pun menanyakan, apakah itu yang Urawee katakan. Dan Unthiga menjelaskan kalau dia tidak bisa mengingat apa tepatnya yang Urawee katakan, tapi kalau Anik tidak percaya, maka Anik bisa bertanya langsung kepada Urawee.
“Aku minta maaf atas Khun Wee ya,” kata Anik.

“Tidak. Akulah yang harus nya minta maaf kepada  mu. Aku marah kepada Wee, dan tidak sengaja bilang kalau kamu yang mendekati ku duluan. Aku sangat minta maaf. Aku memberitahumu, mana tahu nanti Wee bertanya tentang ini,” jelas Unthiga. Dan Anik pun mengerti.
Namun sebelum Anik mematikan telpon, Unthiga langsung mengatakan bahwa ada satu hal lagi yang ingin di beritahukannya kepada Anik. Tapi dia takut Anik akan kecewa kepada Urawee. Dan dengan tegas, Anik menyuruhnya untuk berbicara saja, dan dia akan mendengarkan.
Flash back end

Mendengar hp nya berbunyi, maka Anik pun melihat. Tapi saat dia melihat kalau yang menelpon ternyata adalah Urawee, dan sudah cukup banyak. Dia merasa malas untuk mengangkat nya.

Dikantor. Unthiga memuji betapa bersinar nya wajah Sunisa, kepadahal kemarin malam Sunisa mengikuti Ayahnya untuk rapat. Dan Sunisa menjawab bahwa dia langsung tidur ketika pulang. Namun Unthiga tidak percaya. Dan Sunisa menjawab bahwa tidak sulit untuk langsung tertidur, setelah bekerja sepanjang hari.
“Aku tidak berpikir, kalau hanya pekerjaan yang membuat mu capek,” sindir Unthiga dengan halus. Dan Sunisa hanya tersenyum saja, dengan sikap tenang, tanpa menjawab.
Unthiga kemudian memberitahu alasannya memanggil Sunisa, itu adalah karena dia ingin memperkerjakan seseorang untuk menjadi Direktur Kreatif yang baru. Jadi dia ingin melihat contoh kontrak di perusahaan mereka. Dan Sunisa pun memberikan nya, lalu dia menanyakan apakah Unthiga sudah memberitahu Nopamat.
“Aku tidak pernah harus meminta izin kepada siapapun,” jawab Unthiga. Dan Sunisa pun mengiyakan. Lalu Unthiga membahas kontrak yang sudah di bacanya.
Unthiga ingin di dalam kontrak ditambahkan syarat, kalau tidak boleh keluar atau berhenti sampai 1 tahun. Dan Sunisa menjawab apakah Direktur Kreatif yang baru itu akan setuju. Dengan yakin, Unthiga menjelaskan bahwa dia sudah memberikan penawaran yang sangat bagus, jadi orang baru itu tidak akan bisa menolak. Lalu dia yakin kalau dalam 1 tahun proyek nya akan meningkat. Dan orang baru  itu akan menjadi pendukung yang penting. Jadi dia tidak mau orang baru itu keluar ditengah- tengah.

“Sepertinya dia sangat berbakat, ya?” tanya Sunisa.
“Benar. Aku tidak ingin kehilangan dia kepada siapapun,” jawab Unthiga, dengan pandangan yang membara. Dan melihat itu, Sunisa pun tersenyum, dan pamit.

No comments:

Post a Comment