Tuesday, October 29, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 3 - part 1/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 3 – part 1
Network : Channel 3
Dengan tegas, Urawee mengusir Unthiga untuk keluar dari ruangan nya, tapi Unthiga tidak mau keluar, karena dia masih tidak terima. Dan Urawee pun mengatakan bahwa dia tahu apa yang Unthiga lakukan di belakang nya, tapi dia yakin, kalau Unthiga pasti tidak akan mau mengakui nya. Lalu karena Unthiga telah memperkerjakan Ampu, maka Unthiga harusnya tahu kalau Ampu akan bekerja dengan nya juga. Mendengar itu, Unthiga merasa sangat emosi.

“Kamu baru bertemu dia beberapa kali saja, dan kamu sudah sekentara ini. Bersiaplah untuk lebih kecewa, karena dari apa yang ku sadari, dia tidak memikirkan kamu secara special lebih daripada seorang boss,” jelas Urawee, memperingati Unthiga.
Dan Unthiga tertawa, “Seseorang yang seperti mu, mengerti cinta?” tanyanya, geli.
Diluar ruangan. Ampu serta para karyawan, menontonin mereka berdua. Tapi tampaknya mereka tidak bisa mendengar terlalu jelas.

Unthiga mempertanyakan, kenapa Urawee tidak mencoba untuk menyelematkan diri sendiri dulu, sebelum Urawee mengajari orang lain. Karena apapun yang di sukainya, dan di dambakannya, itu pasti akan menjadi miliknya. Bukan milik Unthiga. Seperti Ayah mereka, Arm.
Mendengar itu, Urawee menatap Unthiga dengan emosi. Dan Unthiga tersenyum puas padanya, “Dalam drama ini, aku adalah Heroine nya. Aku harap kamu tahu itu.”
“Kamu pikir, hanya kamu yang bisa berakting?” balas Urawee. Dan Unthiga bersikap terkejut secara berlebihan, seperti mengejek. Bahkan Unthiga bertepuk tangan di depan Urawee.
“Bertingkah tegar. Kamu lebih tenang juga. Aku sepertinya perlu lebih berhati- hati pada mu, Urawee,” kata Unthiga, meremehkan.
“Ya,” balas Urawee, tegas. “Dan mari kita lihat, siapa yang akan mendapatkan piala Oscar.”

Setelah mereka berdua selesai berbicara, Unthiga pun keluar dari dalam ruangan. Melihat itu, semua karyawan langsung berhenti merekam, dan mengalihkan pandangan mereka. Begitu juga dengan Ampu. Dan melihat itu, Unthiga tersenyum geli.
Dengan sengaja, Unthiga memanggil nama Urawee dengan sikap akrab, dan dia mengatakan bahwa dia mendukung Urawee. Mendengar itu, Urawee mengerti apa yang Unthiga inginkan, jadi dengan suara keras juga, dia mengucapkan terima kasih, dan menyuruh Unthiga untuk tidak perlu mengkhawatirkan dirinya, karena lebih baik Unthiga mengkhawatirkan diri sendiri saja.


Mendengar itu, semua karyawan langsung merekam mereka lagi. Dan menontonin mereka lagi.
Unthiga merasa kesal dengan Urawee, tapi dia menahannya. Dia tersenyum kepada Urawee, dan pamit kepadanya. Lalu dia menghampiri Ampu, dan memeluk lengan nya dengan mesra. “Khun Pu, mengapa kamu berdiri disini? Mari diskusi kan pekerjaan kita,” ajaknya. Dan Ampu pun mengiyakan serta mengikuti nya.
Melihat itu, Urawee hanya tersenyum saja.

Dua orang karyawan penggosip mulai menggosipi tentang Ampu. Mereka mempertanyakan, apakah Ampu datang untuk bekerja sebagai Direktur Art atau sebagai pria Unthiga. Dan mereka menebak, kalau sepertinya Ampu sedang bermain sulit untuk di dapatkan.
Malas mendengarkan gosip mereka berdua, seorang karyawan pun berteriak bahwa Bos muncul. Dan mendengar itu, mereka berdua pun langsung membicarakan tentang pekerjaan dengan sikap yang sangat serius. Melihat itu, si karyawan tertawa diam- diam.


Lalu ketika akhirnya, mereka berdua sadar kalau itu hanyalah bohongan saja, maka mereka pun memarahi si karyawan. Kemudian mereka lanjut bergosip lagi. Dan kali ini, Arm, Bos mereka, beneran muncul. Dan melihat itu, si karyawan dan temannya langsung memberitahu mereka berdua dengan berbisik pelan, kalau boss datang. Tapi mereka berdua sudah tidak percaya lagi, dan terus bergosip.
Jadi si karyawan dan temannya pun mengabaikan mereka berdua, dan berpura- pura sedang fokus bekerja.

Mereka berdua menggosipi, kalau Unthiga pasti menggunakan posisinya untuk mendapatkan hati Ampu, makanya dia memperkerjakan Ampu. Dan Ampu sengaja bermain sulit untuk di dapatkan untuk menambah nilai dirinya. Lalu setelah puas bergosip, mereka berdua pun berdiri untuk menambahkan gula ke dalam kopi mereka.


Dan saat mereka berdua berbalik, mereka langsung menganga terkejut menatap Arm serta Sunisa yang ada di belakang mereka. Dengan takut, mereka berdua pun langsung duduk kembali di tempat sambil menangis pelan.

Ketika Arm serta Sunisa telah pergi, dua karyawan yang pura- pura bekerja barusan, mereka menyindir kedua penggosip tersebut.
“Hey, Fai, menurutmu apa yang akan terjadi kepada mereka berdua?” tanya seorang karyawan dengan sengaja, untuk menyindir dua penggosip tersebut.
“Aku pikir pemotongan gaji,” jawab temannya, ikut menyindir dua penggosip tersebut.
“Itu kurang. Jika aku adalah Khun Arm, aku akan memecat karyawan seperti ini.”
Mendengar itu, kedua penggosip tersebut memarahi mereka, karena telah begitu kejam.
Sunisa menenangkan Arm untuk tidak terlalu memikirkan gosip barusan, karena mereka belum melihat kebenaran nya itu dengan mata sendiri. Dan Arm diam, berpikir.
Ampu menanda tanganin kontrak kerja yang diberikan kepadanya. Dan Unthiga tersenyum senang melihat itu, lalu dia menanyakan, apakah Ampu ada memiliki keberatan. Dan Ampu menjawab iya. Mendengar itu, Unthiga terkejut.

“Tentang gaji nya. Aku pikir itu terlalu banyak daripada yang aku minta,” jelas Ampu. Dan Unthiga merasa lega, serta memegang tangan Ampu.
“Kamu orang yang baik,” puji Unthiga.
“Aku menginginkan kesempatan, tapi aku tidak ingin mengambil kesempatan dari bos ku.”
Ampu dengan canggung meminta maaf kepada Unthiga, lalu dia melepaskan tangan Unthiga yang memegang nya. Kemudian dia memberitahu bahwa bisakah dia meminta gaji yang di inginkan nya. Dan Unthiga mengiyakan, karena dia tidak ingin membuat Ampu merasa tidak nyaman, tapi jika memang Ampu berbakat, maka dia akan menaikan nya.
“Itu terserah padamu,” jawab Ampu.
“Hmm, kamu bicara begitu berjarak,” keluh Unthiga, manja.
“Yah, itu karena kamu adalah …”
“Boss? Aku tahu. Tapi bagaimana jika aku ingin menjadi teman mu seperti Wee? Bisakah?” pinta Unthiga. Dan Ampu diam. “Atau, kalian berdua bukan teman?” tanyanya.
“Kami teman,” jawab Ampu, cepat.
Unthiga tidak pantang menyerah. Dia meminta supaya Ampu mau menjadi temannya. Karena Ampu kelihatan tulus, dan Ampu membuatnya merasa nyaman, jadi dia mempercayai Ampu. Maka dari itu dia ingin menjadi teman dengan Ampu.

Mendengar itu, Ampu pun mengiyakan. Dia mau menjadi teman dengan Unthiga, dan dia berterima kasih atas kepercayaan Unthiga kepadanya.
Dengan senang, Unthiga pun mengulurkan tangan nya sebagai tanda awal pertemanan mereka. Dan Ampu pun menjabat tangan Unthiga yang terulur. Lalu dengan genit, Unthiga memegang erta tangan Ampu dengan kedua tangannya.

“Bisakah aku memanggil mu Khun Pu?” pinta Unthiga, lagi.
“Baiklah,” jawab Ampu, singkat. Lalu dia menarik tangannya, karena merasa tidak nyaman.
Tepat disaat itu, Sunisa masuk ke dalam ruangan.

Arm menanyakan, kenapa Ampu menerima pekerjaan ini, apakah karena gaji tinggi yang tinggi. Dan Ampu menjawab bahwa dia sadar gaji yang di tawarkan terlalu tinggi, jadi dia sudah meminta supaya itu di pertimbangkan lagi. Mendengar jawaban itu, Unthiga tersenyum menatap Ampu.
“Mengapa? Biasanya setiap orang akan langsung menerima gaji yang tinggi,” tanya Arm.
“Aku takut, aku akan di pecat. Jika pekerjaan ku tidak sebagus gaji ku,” jawab Ampu. Dan Arm tersenyum puas mendengar jawaban itu, karena Ampu sadar diri.

Arm kemudian menanyakan, apa niat asli Ampu menerima pekerjaan ini. Dan Ampu menjawab bahwa dia suka tantangan, serta dia berpikir pekerjaan yang stabil akan bagus untuk keluarganya. Mendengar kata ‘keluarga’, Arm sedikit terkejut. Dan Ampu pun menjelaskan bahwa dia benar telah berkeluarga, tapi dia sudah bercerai, namun dia masih ada seorang adik yang harus di urus. Mengetahui itu, Arm pun mengangguk, tanda mengerti.

Saat seseorang mengetok pintu kantornya, Urawee langsung bersikap serius dalam bekerja. Tapi ketika ternyata orang itu adalah Pam, dia langsung tampak kecewa, karena barusan dia mengira yang datang adalah Ampu. Dan Pam memberitahu kalau sekarang Ampu ada di kantor Arm.
Bitch ini,” umpat Urawee. Dan dengan terkejut, Pam langsung bertanya, kenapa Urawee mengumpat padanya. “Dia,” jelas Urawee. *Bitch adalah kata kasar, jadi tidak ku artikan.
“Bukankah barusan kamu tersenyum kepada nya?“ tanya Pam, heran.
“Itu palsu! Lebih dia menginginkan dan mengejar Ampu, maka lebih aku akan memprovokasi nya dan membuat nya marah!” jelas Urawee. Karena menurutnya, mata di balas mata.
Pam mengomentari kalau dia merasa kasihan kepada Ampu dan Anik, karena mereka berdua digunakan sebagai alat oleh dua orang wanita gila. Dan mendengar sindiran itu, Urawee langsung mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa dia ingin konsentrasi bekerja. Dengan malas, Pam pun membiarkan nya dan pergi.
Setelah Pam keluar dari ruangannya, Urawee diam dan memikirkan hal itu.
Suk memberitahu apa yang terjadi kepada Non, dan Non pun mengerti. Dia menghampiri Anik, dan bertanya apakah barusan Anik ada bertengkar hebat dengan Urawee. Dan Anik mengiyakan dengan ketus. Non lalu bertanya, mengapa Anik tidak berbaikan saja dengan Urawee. Dan Anik menjawab bahwa dia tidak salah.
Non merasa heran, karena sebelumnya, Anik pasti akan meminta maaf kepada Urawee walaupun tidak salah. Tapi kenapa sekarang tidak. Dan dia menebak, apakah ada sesuatu yang membuat Anik berubah, apakah itu karena ada wanita lain yang Anik sukai. Mendengar itu, Anik tampak terkejut, tapi dia tidak mau bercerita.

Non mengakui bahwa dia tidak ingin ikut campur, tapi ini adalah kewajibannya. Sebab sebelum Ibu Anik meninggal, Ibu Anik mempercayakan Anik kepadanya, dan memintanya untuk menjaga Anik, khusus nya mengenai pasangan.
“Kamu tidak mempercayai penilaian ku,” keluh Anik, ketus.
“Anik. Jangan berpikir dengan cinta. Tapi gunakan hatimu. Kamu perlu bertanya pada hatimu sendiri, siapa yang membuat mu bahagia. Dan telpon dia,” kata Non, menasehati. Lalu dia pun mengajak Suk untuk pergi meninggalkan Anik sendirian dulu.
Dan Anik pun berpikir keras.

Unthiga mempertanyakan kepada Arm, apakah interview nya sudah selesai. Karena dia ingin segera memperkenalkan Ampu kepada semua karyawan, dan siang ini, dia juga memiliki rapat dengan asisten designer. Dan Arm pun mengizinkannya.
“Oh, Khun Sa. Jangan lupa kantor Khun Ampu. Buat seperti yang ku perintahkan,” kata Unthiga kepada Sunisa dengan tegas. Dan Sunisa pun mengiyakan.

Kemudian Unthiga dengan mesra memegang tangan Ampu, dan mengajaknya untuk pergi. Namun karena merasa tidak nyaman, Ampu pun melepaskan tangan Unthiga yang memegang nya, lalu dia memberikan hormat kepada Arm, dan pergi mengikuti Unthiga.

Sunisa mengomentari bahwa sepertinya Unthiga sangat tertarik kepada Ampu. Dan Arm menyuruh Sunisa supaya jangan membiarkan hal ini sampai ke dengaran oleh Nopamat, sebab dia merasa khawatir, jika seandainya Nopamat mengetahui ini, maka Ampu akan kehilangan kesempatan untuk membuktikan dirinya sendiri. Dan juga, dia ingin menyelidiki dan menilai Ampu bukan hanya dari gosip yang beredar saja.
Mendengar itu, Sunisa pun mengiyakan.

Unthiga membawa Ampu berkeliling kantor, dan menjelaskan semua bagian kepadanya. Melihat itu, Urawee dengan sengaja menghampiri Ampu, karena ini sudah waktunya makan siang.
“Aku pikir, kita seharusnya mendiskusi kan pekerjaan setelah makan siang, jadi tidak akan menghabiskan waktu,” kata Urawee kepada Ampu.
Dan mendengar itu, awalnya Ampu merasa terkejut, tapi kemudian dia mengerti. “Baiklah.”
“Ah, tunggu aku sebentar. Aku akan mengambil tas ku,” kata Unthiga, ingin ikut bersama juga.

Tapi setelah Unthiga berjalan pergi, Urawee langsung menarik tangan Ampu untuk mengikuti nya. Dan melihat itu, Pam serta semua karyawan langsung merasa penasaran. Bahkan ada yang mulut nya gatal, karena ingin bergosip. Tapi takut di pecat , hahaha :D

Urawee berjalan dengan sangat cepat, dia beralasan bahwa dia takut mereka terlambat. Dan dengan bingung, Ampu menanyakan, kenapa sikap Urawee sangat berbeda kepada nya saat mereka sedang berada di depan Unthiga. Saat di depan Unthiga, Urawee bersikap sangat baik dan bersahabat. Tapi sekarang Urawee bersikap masam. Dan Urawee menjawab bahwa dia hanya sedang buru- buru saja, dan tidak sabaran.

Ketika pintu lift terbuka, Ampu pun menghalangin Urawee untuk masuk ke dalam nya. “Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya. “Khun Wee,” desaknya, lembut.
“Bagaimana bila begini? Dimana kamu ingin makan siang? Aku akan membiarkan kamu memilih. Dan aku akan mentraktir mu. Anggap saja sebagai terima kasih karena telah membantu pekerjaan ku,” jelas Urawee, cepat.
“Tidak. Tidak perlu mentraktirku. Aku membantu mu, karena itu tugas ku. Lalu untuk dimana kita makan, itu bisa kemanapun yang kamu suka. Tapi jangan mahal, karena aku tidak kaya,” balas Ampu. Dan Urawee pun menyuruhnya untuk minggir dari pintu lift.

Ampu tahu, kalau sebenar nya Urawee tidak sedang mencoba baik kepadanya. Tapi Urawee hanya berpura- pura saja. Urawee menggunakan nya sebagai alat untuk memprovokasi Unthiga. Dan Urawee tidak mau mengakui nya.
“Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku tidak bisa melihat trik mu?” tanya Ampu, serius.
“Oh, aku mengakui nya,” jawab Urawee, kesal. Lalu dia pun masuk ke dalam lift dan menutup pintu nya. Tapi Ampu menahan pintu lift supaya tetap terbuka.
Ampu mengakui kalau dia sangat kecewa, karena Urawee memanfaatkan pertemanan baik mereka. Dan Urawee menyuruh Ampu untuk keluar jika begitu, keluar dan jangan muncul dihadapannya. Tapi Ampu tidak mau keluar. Dia memberitahu bahwa dia akan membuktikan dirinya, dan dari sekarang jika Urawee bersikap palsu dan menggunakannya di dalam game lagi, maka dia tidak peduli dan tidak tertarik.
“Memalukan!” kata Urawee, ketus.
“Ya. Okay?” balas Ampu.


Tepat disaat itu, Urawee melihat Unthiga berjalan mendekat. Jadi dia pun langsung menarik Ampu untuk masuk ke dalam lift. Lalu tanpa sengaja bibir Ampu pun menyentuh pipi Urawee. Melihat itu, Unthiga memencet- mencet pintu lift supaya terbuka, tapi sayang nya lift sudah keburu turun. Dan dengan kesal, Unthiga pun segera turun menggunakan tangga.

Anik berada di lantai dasar, dan menunggu lift datang. Tapi dia heran, ketika melihat para karyawan sibuk merekam sesuatu. Dan ketika  pintu lift terbuka, dia merasa terkejut, karena melihat posisi Urawee dan Ampu yang berada didalam lift. Karena posisi mereka berdua sangat dekat, dan tampak seperti sedang berciuman.

“Anik,” panggil Urawee. Dia keluar dari dalam lift bersama dengan Ampu. Dan tepat disaat itu, Unthiga sampai di lantai dasar juga, dan dia menghampiri mereka.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Wee. Tapi aku tahu bahwa kemarin malam, Wee ada bersama dengan Pu sepanjang malam. Dan pagi ini, ketika mereka bertemu, mereka bersikap seolah hanya ada mereka berdua di dalam dunia ini. Aku selalu mencoba untuk berpikir, kalau mereka hanya teman. Tapi sekarang , tidak,” kata Unthiga, memanasi Anik.
“Unthiga,” tegur Urawee, tegas.
Tanpa mendengar kan penjelasan dari Urawee, Anik pun berjalan pergi begitu saja. Dan Urawee pun segera mengejar nya sambil memanggil nya.
“Kenapa kamu berjalan pergi? Apa kamu datang untuk menemuiku atau orang lain?” tanya Urawee.
“Berhenti mengubah hitam ke putih! Apa yang kamu lakukan?” teriak Anik, marah.
Melihat itu, Ampu ingin mendekati mereka berdua. Tapi Unthiga langsung menahan nya, “Mengapa kamu mengikuti mereka?” tanyanya.
“Aku akan menjelaskan apa yang terjadi. Aku tidak ingin dia salah paham seperti ini,” balas Ampu. Tapi Unthiga tetap menahannya. Namun Ampu mengabaikannya.

Dengan emosi, Unthiga pun meneriaki semua orang yang berkumpul dan menonton mereka supaya bubar, jika mereka tidak ingin di pecat. Sehingga semuanya pun bubar.
Anik salah paham, dia mengira Urawee dan Ampu barusan berciuman didalam lift. Dan Urawee menyangkalnya, karena itu memang tidak benar. Tapi Anik tidak mau percaya padanya, dan pergi.
“Wee, aku akan menjelaskannya,” kata Ampu, menenangkan Urawee. Lalu dia pergi menyusuli Anik, dan memanggil nya untuk berbicara.


Ampu menjelaskan kepada Anik bahwa semuanya adalah salah paham. Tapi Anik malah langsung memukuli Ampu. Dan dengan tegas, Urawee menyuruh Anik untuk berhenti. Lalu dengan perhatian, Unthiga menanyakan, apakah Ampu baik- baik saja. Dan Ampu pun menggelengkan kepalanya, lalu dia menarik nafas, dan kemudian memukuli Anik.


“Kamu sudah sadar?” tanya Ampu, tegas. “Wee dan aku punya kesalahpahaman. Dan kami menyelesaikan nya,” jelas Ampu.
“Bicara tentang apa?!” teriak Anik.
“Dengarkan aku. Aku minta maaf, tapi apa yang kamu lihat, itu hanyalah kecelakaan saja. Aku tergelincir. Tidak ada yang terjadi, seperti yang kamu pikirkan,” jelas Ampu.


“Aku mempercayai apa yang ku lihat,” balas Anik, tetap tidak mau percaya. “Wee, aku mencoba. Tapi kamu menghancurkannya. Suatu hari, kamu akan menyesal melakukan ini kepadaku,” jelas nya, lalu dia pergi.
Dengan sedih, Urawee  memanggilnya. Tapi Anik terus berjalan pergi. Melihat itu, Ampu tampak tidak tega. Sementara Unthiga malah tersenyum puas.


Sepulang nya ke rumah, Urawee dengan manja memeluk MD untuk menghilangkan kesedihannya, dan menghibur diri. Tanpa menyadari itu, Duang bertanya, apakah Urawee ada menemui Anik. Dan Urawee berbohong bahwa Anik sedang sibuk bekerja. Lalu dia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan, dimana Fae berada.

“Dia meminta izin untuk pergi  menemui temannya. Aku sudah memberitahunya supaya cepat pulang,” jawab Duang. Dan tanpa bertanya lebih lanjut, Urawee pamit untuk beristirahat.
Melihat itu, Duang merasa ada yang aneh dan mencurigakan.

No comments:

Post a Comment