Sunday, October 20, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 1 - part 4/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 1 – part 4
Network : Channel 3

Teman Unthiga (TU) marah, ketika mengetahui Unthiga hampir saja mau dilecehkan. Tapi Unthiga menenangkan nya, dan menjelaskan bahwa dia datang untuk bersenang- senang, dan ingin membuat teman baru, bukan membuat musuh. Unthiga mengatakan itu sambil menatap penuh arti kepada Anik yang duduk di sebelahnya.
“Untungnya, kamu tidak kenapa- napa. Terima kasih sudah menolong Oun ya,” kata TU dengan ramah, kepada Anik.
“Ya,” balas Anik.

Unthiga kemudian menanyakan kepada Anik, apakah Wee tidak apa- apa bila Anik datang keluar malam- malam begini. Dan Anik mengiyakan. Lalu Unthiga pun memuji betapa baiknya Wee, karena membiarkan pacar nya sendiri keluar di jam semalam ini.
“Wee dan aku adalah teman,” kata Anik.
“Ah. Tapi setiap orang mengenali kamu sebagai pacar Wee,” balas Unthiga.
“Wee tidak membiarkan ku menggunakan kata itu,” balas Anik.
Dengan sikap berlebihan, TU mengatakan ‘Wow’, dan menanyakan kenapa Wee tidak menghormati Anik seperti itu. Dan Anik menjawab tidak apa, lalu dia pun pamit kepada mereka berdua.


Namun Unthiga menahan Anik, dengan cara memeluk mesra lengannya supaya tidak pergi. “Aku ingin berterima kasih padamu lagi,” kata Unthiga sambil mengelus lembut lengan Anik. “Malam ini, kamu adalah pahlawan ku. Malam ini aku akan memimpikan tentang kamu sepanjang malam,” bisiknya, menggoda.
Dan mendengar itu, Anik tampak gugup serta tertarik kepada Unthiga. “Bermimpi indah ya,” balas nya. Lalu dia pun pergi, karena Unthiga melepaskan lengannya.

Setelah Anik pergi. TU menanyakan, apa rencana Unthiga. Dan Unthiga menjelaskan bahwa dia akan membalas untuk apa yang telah Wee lakukan kepada nya di depan para wartawan.
“Katakan saja. Musuhmu adalah musuhku,” kata TU, bersedia untuk membantu. Mendengar itu, Unthiga tersenyum.

Sesampainya Unthiga di rumah, si Pelayan menyapa Unthiga, dan dengan perhatian Unthiga mengatakan supaya si Pelayan tidak perlu menungguinnya. Dan si Pelayan menjawab bahwa dia hanya tidak bisa tertidur, lalu saat dia mendengar suara mobil, dia datang untuk mengecek. Kemudian dengan perhatian, si Pelayan mengajak Unthiga untuk segera beristrahat.


“Bi, aku sudah dewasa sekarang. Aku sudah tinggal sendirian di luar negri selama bertahun- tahun. Kamu tidak perlu menemani ku lagi. Ini sudah sangat malam, tidurlah,” jelas Unthiga, sangat ramah.
“Menjaga kamu membuatku merasa seperti aku sedang beristirahat. Aku senang melakukannya. Pergilah tidur,” balas si Pelayan. Lalu dia mengantarkan Unthiga ke kamar. Dan dengan senang hati, Unthiga mengikutinya.
Urawee mengunjungin rumah Neneknya, dan bersikap manja- manja dengannya. Nenek menasehati, kalau Urawee bisa menjadi tidak keras kepala, maka Urawee akan menjadi seperti pohon yang indah. Dan Urawee mengiyakan.
Duang memberikan barang- barang kepada seseorang, lalu dia pun mendapatkan bayaran untuk itu. Kemudian setelah itu, dia mendekati Urawee yang sedang mengobrol bersama dengan Nenek yang menasehati nya.

“Jangan berpikir terlalu banyak tentang kemarin malam. Biarkan saja. Biarkan mereka membuat diri mereka sendiri menggila. Tetaplah bertindak biasa, dan lakukan pekerjaan mu,” kata Nenek, menasehati Urawee.
“Sekali saja. Biarkan aku mengatakan ini,” kata Duang dengan sopan kepada MD. “Bahkan walaupun kita kuat, mereka masih berani melakukan ini. Jika kita melakukan seperti yang kamu katakan, bukankah mereka akan lebih menggila?” keluhnya, tidak setuju. Lalu di meminta maaf kepada MD.

Duang kemudian mengajak Urawee untuk sarapan bersama. serta mengingatkan MD untuk minum obat setelah sarapan nanti, jika tidak maka MD akan pingsan, terkena diabetes dan tekanan darah tinggi. Lalu MD akan menyalahkan nya dengan mengatakan dia tidak mengurus MD dengan baik, dan dia tidak mau begitu.
“Hey, jika aku terkena penyakit apapun, seperti yang barusan kamu katakan, itu semua karena omelan mu,” kata MD. Dan Uwaree tersenyum geli.


Dimeja makan. Duang memberitahu Urawee bahwa Unthiga mungkin cemburu dan terlalu iri, sehingga Unthiga melakukan itu kepada Urawee. Mendengar itu, Urawee menatap Neneknya, yang menatap tajam ke arah Duang. Dan Duang meminta MD untuk mengenali siapa yang musuh.
“Aku tidak mengatakan apapun. Tapi jangan berlebihan,” kata MD. Dan Duang pun terdiam, tidak membalas.

“Tapi sejujurnya, aku tidak memiliki apapun untuk di cemburuin oleh Oun,” kata Urawee, membuka suara.
“Dia memiliki rasa rendah diri, ditambah Ibunya selalu menghasut nya. Ibunya adalah pelakunya. Dia tidak pernah berhenti mencoba untuk menang. Seolah dia tidak cukup buruk, dia meneruskan sifat buruknya kepada putrinya juga,” jelas Duang dengan berapi- api. Dan MD langsung memperingatkannya supaya diam.

Duang pun diam, dan meminta maaf. Dia mengakui kalau dia tidak bisa berhenti berbicara, karena dia ingin mengajari keponakan nya, Urawee, untuk lebih berhati- hati. Lalu dia menyuruh Urawee untuk berkonsultasi dengannya, jika Urawee ada merasakan apapun yang tidak aman. Dan Urawee menjawab bahwa dia akan berhati- hati.
“Kamu bisa berkonsultasi dengannya, tapi jangan terlalu mempercayai segalanya,” kata MD, mengingatkan Urawee. Dan Duang tidak terima, serta protes. “Makan!” tegas MD tidak menerima protes.
Dan dengan patuh, Duang pun diam serta memakan makanan nya dengan wajah cemberut. Lalu Urawee pun ikut makan.

“Orang-orang itulah yang akan hancur berantakan. Mereka tidak bisa melakukan apapun kepada Wee. Pada akhirnya, mereka akan kehilangan diri mereka sendiri dan mati,” kata MD dengan sangat tegas.
Mendengar itu, para pelayan bertepuk tangan, dan memuji betapa hebat nya saran dari MD. Dan Duang pun mengomeli mereka, sehingga para pelayan pun pergi.

MD kemudian menasehati Urawee bahwa melepaskan kebencian dan kemarahan, itu sulit. Tapi dia percaya kalau Urawee pasti bisa melakukannya. Dan Urawee mengiyakan dengan pelan.
Nopama bertelponan dengan Kong, dia menjelaskan bahwa Unthiga benar- benar sakit, jadi dia akan membawa Unthiga ke dokter dan di obati, sehingga dia pun meminta maaf untuk apa yang telah terjadi. Dan Kong mengerti.
Nopama kemudian meminta Kong untuk menyembunyikan berita ini. Terutama mengenai rekaman dan foto yang diambil oleh karyawan Kong. Dan Kong mengiyakan, dia menjamin bahwa itu tidak akan tersebar. Mendengar itu, Nopama merasa lega dan berterima kasih, lalu dia menjanjikan akan membayar semua kerugian yang Kong alami sesuai perjanjian.


Saat melewati ruang makan, Unthiga tidak sengaja mendengar itu. Dan menyadari kedatangannya, Nopama memberitahu padanya, kalau dia sudah mengurus segalanya dan mengkonfirmasi pada setiap orang kalau Unthiga benar- benar sakit. Lalu dia mengajak Unthiga untuk duduk dan makan bersama. Tapi Unthiga menolak.
“Jangan pulang terlambat nanti. Aku akan menunggumu untuk makan malam bersama,” kata Nopama, mengingatkan.
“Aku lihat dulu. Aku mungkin ada bertemu teman nanti,” balas Unthiga.

Nopama menasehati supaya Unthiga tidak bertindak seperti gadis pesta, jika tidak maka orang akan bergosip. Namun dia merasa bersyukur juga, karena Unthiga tidak ada terlibat hubungan dengan pria, sehingga dia merasa tenang. Dan Unthiga menanyakan, bagaimana jika dia serius mencari seorang pacar.
“Itu bagus. Cari orang yang sesuai,” jawab Nopama. Dan Unthiga menebak, kalau pria itu harus lebih baik daripada pacar Uwaree. “Pacar nya itu adalah pencundang murahan. Dengan status kita, cari yang lebih baik daripada dia,” jelas Unthiga.
“Itu belum pasti. Terkadang aku ingin pria yang biasa, tapi secara tulus mencintaiku.”
“Kamu tidak bisa makan cinta. Aku sudah membuktikannya.”
Mendengar itu, Unthiga merasa malas, dan dia pun langsung pergi begitu saja. Dan Nopama mengomentari sikapnya yang tidak ada mengucapkan ‘bye’.

Unthiga mengingat tentang Ampu yang menurutnya sangat keren. Lalu dia mengeluarkan hp nya, dan menelpon Kong. Dia meminta maaf atas sikap nya semalam, dan meminta sesuatu kepada Kong.
Ampu merasa heran, ketika mendapatkan telpon dari nomor tidak di kenal, dan dia mengangkat nya. Lalu saat mengetahui yang menelponnya adalah Unthiga, dia merasa terkejut.
MD menyarankan, bila Urawee merasa tidak bahagia, maka lebih baik Urawee menjual saham di Arm Tekstil, dan berhenti bekerja disana, lalu buat bisnis sendiri seperti yang Urawee inginkan. Atau Urawee bisa membantu Duang untuk menjual dessert saja.

“Tidak! Aku tidak akan memperkerjakan karyawan bernama Urawee! Biarkan Wee tetap disana! Tusuk mata dan hati mereka,” kata Duang dengan cepat.
“Kamu masih menghasutnya?” balas MD, memarahi Duang.
Dan Duang beralasan bahwa dia bukan ingin menghasut, tapi dia hanya ingin mengajari Urawee untuk menjadi lebih kuat, karena lari dari masalah, tidak akan menyelesaikan apapun. Mendengar itu, MD pun jadi tidak bisa berkata- kata.

Pelayan kemudian datang, dan memberitahu Urawee bahwa ada tamu yang menemui datang untuk menemui  mereka.

Tamu tesebut adalah Arm. Dengan sikap tidak senang, Duang mengakui secara langsung  bahwa dia tidak menyambut Arm datang ke sini, jadi dia ingin Arm pergi. Namun MD menasehati Duang untuk tidak bersikap kasar.

“Bisakah aku bicara kepada Putriku?” pinta Arm.
“Putri? Huh! Kamu tidak pernah peduli padanya, dan membiarkan orang lain untuk membesarkan nya, sejak dia kecil. Dan kamu berani memanggil dia putrimu?! Aku tidak mengizinkan itu,” desis Duang, mengusir Arm.

MD dengan tegas menyuruh Duang untuk pergi saja. Dan Urawee pun mengatakan kepada Duang bahwa dia akan berbicara kepada Arm, supaya Arm bisa cepat pergi dari sini, jadi Duang tidak perlu khawatir.
“Buatlah cepat,” kata Duang, mengingatkan. “Jika tidak cepat. Aku akan menghancur kan kepala nya,” ancam Duang. Lalu dia pun pergi ke belakang bersama MD.

Alasan Arm datang adalah untuk meminta maaf menggantikan Unthiga. Dan dia jujur memberitahu kalau Unthiga sebenarnya tidak sakit. Dengan ketus, Urawee menjawab bahwa dia sudah tahu, dan dia tidak akan menerima perminta maaf dari Arm. Dia ingin Unthiga meminta maaf kepadanya sendiri.
Arm menjelaskan bahwa Unthiga melakukan itu, karena Unthiga sembrono, tapi Unthiga sudah berjanji padanya dari sekarang, itu tidak akan terjadi lagi. Mendengar itu, Urawee bertanya, apakah Arm mempercayai itu. Dan Arm menjawab bahwa dia mencoba untuk mempercayai Unthiga, tapi Urawee tidak perlu cemas, karena dia berjanji akan mendisiplinkan Unthiga dengan baik.

“Seseorang seperti mu, bisa menjaga janji? Pikirkan baik- baik. Kepada siapa kamu berjanji juga? Dan karena kamu, hidup Ibuku hancur,” kata Urawee dengan sedih dan tatapan mata terluka.

Flash back
Mama Urawee meninggal bunuh diri, dengan meminum banyak obat dan mengunci dirinya sendiri didalam kamar. Sehingga ketika Duang, dan MD berhasil membuka pintu kamar menggunakan kunci cadangan, mereka sudah terlambat.
Meskipun Urawee terus menangis juga, Mamanya tetap tidak akan membuka mata lagi untuk selama- lamanya.
Flash back end

Urawee menangis mengingat itu. “Dia lebih memilih mati dibanding memilih aku. Itu karena kamu,” kata Urawee, terluka.
“Wee. Aku minta maaf,” kata Arm, menyesal.

“Minta maaf kepada Ibuku! Kamu punya kesempatan untuk meminta maaf padanya dikuburannya. Tapi kamu tidak datang. Pergilah ke neraka, jadi kamu bisa meminta maaf kepada Ibuku. Kamu pasti akan bertemu dengannya di neraka, karena dia pergi ke neraka karena kamu. Dan seseorang sepertimu akan pergi ke neraka juga ketika kamu mati. Jika kamu ingin minta maaf dan merasa bersalah, maka pergilah ke neraka. Dan aku akan mengikutimu ke neraka, karena aku mengutuk mu,” kata Urawee dengan kebencian yang sangat.
Mendengar itu, Arm tampak terkejut. Tapi dia tetap diam.


Urawee kemudian menegaskan supaya Arm menyuruh Unthiga agar menjauh darinya. Dan jika Unthiga tidak berhenti menganggu nya juga, maka ketika dia kehilangan kesabarannya, jangan katakan dia tidak ada memperingatkan nya. Karena dia tidak akan menjadi korban satu sisi seperti Ibunya.
“Ingat itu!” teriak Urawee sambil terus meneteskan air mata. Lalu setelah itu, dia pun pergi meninggalkan Arm.
Dengan sedih, Arm pun diam.

Urawee keluar dari rumah dan menangis tersedu- sedu. Dia merasa sangat sakit dan sangat, sangat sakit sekali.

No comments:

Post a Comment