Thursday, November 7, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 4 - part 5/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 4 – part 5
Network : Channel 3

Sesampainya dirumah. Ampu menerima telpon dari Unthiga, dan dia pun mengangkat nya.
Unthiga parkir di depan rumah Ampu. Dengan perhatian, dia bertanya, apakah Ampu sudah pulang ke rumah, serta apakah Ampu capek. Dan Ampu menjawab bahwa dia baru saja sampai ke rumah, dan sedikit capek. Unthiga lalu bertanya, apakah Ampu sudah ada berbicara kepada Urawee. Dan Ampu menjelaskan bahwa dia tidak bisa berbicara kepada Urawee.

“Ouh, mengapa tidak?” tanya Unthiga, berpura- pura terkejut.
“Anik datang menemui Wee. Jadi aku pergi,” jawab Ampu.
Unthiga tampak puas, dan dia bertanya, apakah menurut Ampu, kira- kira Anik dan Urawee akan balikan kembali. Dan seperti merenungkan dirinya sendiri, Ampu menjawab bahwa jika dua pihak ingin mempertahankan hubungan, maka pasti bisa, tapi jika satu pihak tidak mau, maka tidak bisa.

“Khun Pu. Apakah kamu baik- baik saja?” tanya Unthiga, karena Ampu tiba- tiba terdiam.
“Tidak apa,” jawab Ampu, tersadar.
“Barusan kamu berbicara aneh. Seperti kamu berpikir, Wee tidak akan berbalikan dengan Khun Nik,” tanya Unthiga.
Dan Ampu mengiyakan, karena dia mengenal seseorang yang sama seperti Urawee, dan pada akhir nya pasangan itu berpisah. Tapi dia harap Urawee dan Anik bisa berbaikan. Karena mereka berdua tampak saling mencintai, menurut nya. Dan Unthiga membalas bahwa dia juga berharap seperti itu, kemudian dia pun pamit dan mengucapkan selamat malam.

Ampu merenung.

Sementara Unthiga tersenyum jahat. “Tapi apa yang aku harapkan …”
Urawee merobek semua foto nya bersama dengan Anik.
“… adalah cinta mereka …”
Urawee terus merobek semua kenangan nya bersama dengan Anik.
“… berakhir dengan mereka hancur.”

Duang, Yai, dan Fae, mereka bertiga datang ke kamar Urawee. Dan berusaha untuk menenangkan Urawee yang histeris. Dan setelah akhirnya, Urawee tampak bisa mengenali mereka, Yai menangis dan memintanya untuk jangan melakukan ini.
Dengan tatapan mata penuh kekecewaan dan amarah, Urawee berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Nopamat langsung menampar Unthiga, saat dia pulang. Dan sambil terus memukulnya, Nopamat menyuruh Unthiga untuk mengaku, apa yang sudah Unthiga perbuat. Melihat itu, Arm serta Ting berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
“Apa yang kamu lakukan? Beritahu aku sekarang! Beritahu aku!” teriak Nopamat sambil menangis.
“Khun, kamu menghukum dia seperti jika dia telah melakukan kesalahan. Khun, kamu mempercayai tuduhan orang- orang itu?” tanya Ting, menghentikan Nopamat.

Nopamat menceritakan tentang Duang yang datang ke rumah ini dan mengutuknya. Duang mengatakan kalau Urawee bertengkar dengan Anik karena Unthiga. Mendengar itu, Arm menanyakan, apa yang sudah Unthiga lakukan. Sedangkan Ting yang mempercayai Unthiga, dia meminta supaya Unthiga mengatakan sejujurnya kalau Unthiga tidak ada melakukan itu.

“Ya. Aku melakukannya,” kata Unthiga, jujur. “Aku tahu apa yang ku perbuat dengan baik. Bukankah itu yang kamu inginkan, ma? Kamu tidak ingin melihat Urawee bahagia. Jadi aku melakukannya. Aku melakukan segalanya untuk membuat mu senang. Jadi mengapa kamu marah padaku?!” jelas Unthiga sambil menangis.
“Kamu tidur dengannya, benarkan? BH itu milik mu, kan?” tanya Nopamat, sedih.
“Dan jika itu milikku, apa yang akan kamu lakukan?!” balas Unthiga.

Dengan histeris, Nopamat pun langsung memukul- mukul Unthiga. Tapi Ting menahan nya. Dan dengan tegas Arm menyuruh Unthiga supaya jangan bersikap seperti itu kepada Ibu sendiri.
Nopamat mengakui kalau kesabaran nya kepada Unthiga sudah habis. Dan Unthiga membalas bahwa dia juga sama. Dengan tegas, Arm langsung menyuruh Unthiga untuk berhenti bersikap seperti itu. Tapi Unthiga tidak mau berhenti. Dan Nopamat berteriak menyuruh Arm untuk tidak ikut campur. Sehingga Arm pun diam.

“Katakan! Apa yang akan kamu lakukan, jika kamu kehilangan kesabaran mu? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Nopamat, menantang.
“Dari sekarang, jangan memerintah kan ku untuk melakukan apapun lagi. Aku akan melakukan, apa yang aku inginkan, dan apa yang membuatku bahagia. Khususnya dengan Ampu,” jawab Unthiga, tegas.
Nopamat mempertanyakan, apakah Unthiga mempercayai perkataan Ampu. Dan Unthiga menjawab bahwa Ampu adalah seorang gentleman, serta Ampu tidak pernah menyuruhnya untuk melakukan hal hina seperti apa yang Nopamat lakukan. Mendengar itu, Nopamat tidak bisa membalas.
“Kamu menghina dia! Kamu pikir dia akan menghisap ku (parasit)!” teriak Unthiga.
“Aku tidak salah dalam hal menilai pria,” balas Nopamat, merasa benar.
“Seperti kamu tidak salah tentang Ayah? Aku tidak percaya. Tidak peduli apa yang kamu katakan, aku tidak akan percaya itu. Jadi jangan menceramahi ku tentang pria. Aku tidak percaya padamu,” tegas Unthiga. Kemudian dia naik ke atas.
Dengan sedih, Nopamat pun menangis. Dan menjerit supaya Ting meninggalkan nya sendirian.

Unthiga masuk ke dalam kamar dan menangis. Lalu Ting datang, dan menghiburnya.
“Kamu tidak melakukan apapun lebih daripada itu, kan?” tanya Ting.
“Dan bagaimana jika iya?” balas Unthiga.
“Kamu tidak akan merendahkan dirimu seperti itu. Kamu sudah melihat contoh orang tua mu kan. Mencoba memenangkan yang lain, tanpa peduli apa caranya benar atau salah. Pada akhirnya, lihat akibat nya.”
“Aku lihat dia bahagia. Lebih aku menentang Wee, lebih bahagia Ibuku.”

Ting menjelaskan supaya Unthiga jangan berpikir seperti itu, karena Nopamat juga terlihat bahagia, saat melihat Unthiga bahagia juga. Sebab Nopamat sangat mencintai Unthiga. Sangat mencintai Unthiga. Mendengar itu, dengan sedih, Unthiga  bersandar di pelukan Ting.
“Bibi, itu tidak benar. Ibu hanya akan mencintaiku, jika aku menang melawan Wee. Jika aku kalah, dia akan memarahi ku seperti aku orang tidak berguna,” kata Unthiga, sedih. “Aku tidak berharga untuknya. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku harus menang. Aku tidak boleh kalah. Aku harus … harus … jadi dari sekarang, aku tidak akan peduli tentang Ibuku lagi. Aku akan melakukan apa yang aku inginkan. Aku tidak akan peduli tentang Ibuku lagi,” jelas Unthiga sambil terus menangis.
Pagi hari. Arm duduk di meja sarapan, dan meminum kopi nya. Melihat itu, Nopamat mulai menyindirnya. Dia mengatakan, Arm tidak pulang kemarin malam dan pagi ini Arm bahkan tidak melihat padanya, jika begitu, maka lebih baik Arm keluar daripada menahan diri duduk disini. Dan Arm pun berdiri.
“Aku masih berbicara!” kata Nopamat, tegas. Dan Arm berjalan pergi mengabaikannya. Tapi Nopamat tidak terima dan melemparkan roti ke Arm. “Aku bilang , aku masih bicara!” bentak nya.

“Kamu perlu aku menghancurkan barang- barang dulu, sebelum kamu berhenti? Apa pernah ada waktu, ketika kamu memperhatikan ku, dan tulus peduli pada ku?” tanya Nopamat.
“Apa yang kamu inginkan?” balas Arm. “Ketika aku berbicara, kamu memarahiku. Ketika aku diam, kamu bilang aku tidak perhatian. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Ketika Oun membuat mu marah, jangan lemparkan itu padaku. Aku suamimu. Bukan tong sampah,” balas Arm, tegas.


Nopamat mempertanyakan, apakah Arm pernah menjalankan tugas sebagai suami. Dia menyalahkan kalau Arm yang telah membuat Unthiga menjadi seperti ini. Karena Arm tidak pernah mau bertanggung jawab, tidak pernah peduli, tidak pernah mau membesarkan Unthiga, tidak pernah mau mengajari Unthiga. Semua itu, dia sendiri lah yang melakukannya.
“Kalau begitu, mengapa kamu membiarkan dirimu hamil? Aku sudah bilang, aku punya istri. Tapi kamu masih saja hamil, bahkan walaupun aku tidak menginginkannya. Jadi bertanggung jawab lah sendiri,” kata Arm dengan tegas. Lalu dia pergi.
Dengan emosi, Nopamat menjerit keras.
Unthiga tidak sengaja mendengar itu. Dan dia merasa sedih mendengar  perkataan Arm. Dia bahkan lebih sedih, ketika melihat Ibunya, Nopamat, menderita.
“Kamu belum melupakan mantan Istrimu, bukan?! Kamu hanya bersama denganku karena uang! Uang adalah alasan nya, bukan?!” teriak Nopamat sambil menangis histeris.

Unthiga tidak tega melihat itu. Tapi saat Ting menatapnya, dia langsung mengalihkan tatapan nya dan berjalan pergi.

Unthiga menahan rasa sedihnya, dan menguatkan dirinya. Dengan perhatian, Ting mendekati nya.
“Kamu takut bahwa aku akan berpikir berlebihan?” tanya Unthiga. Dan Ting membenarkan.
“Mereka berdua hanya sedang marah saja. Apa yang mereka katakan itu hanya untuk mengeluarkan emosi saja,” jelas Ting, menenangkan Unthiga.
“Tapi itu kenyataannya,” balas Unthiga. Lalu dia pun pamit dan pergi.

Duang mengetuk pintu kamar Urawee, dan memanggilnya, karena Urawee tidak biasanya bangun sesiang ini. Tapi dia heran, karena sama sekali tidak ada jawaban. Jadi dia pun masuk ke dalam kamar Urawee, tapi anehnya, Urawee tidak ada disana.
Duang lalu mengetuk pintu kamar mandi, karena berpikir Urawee ada didalamnya. Tapi Urawee tidak ada menjawab. Dan ketika dia membuka pintu kamar mandi, Urawee juga tidak ada disana.

Kemudian saat Duang tidak sengaja melihat catatan yang di tinggalkan oleh Urawee di atas meja. Dia pun langsung berteriak memanggil Yai, dan menunjukan surat itu kepadanya. Melihat surat itu, Yai langsung merasa lemas seperti akan pingsan.
Sehingga Fae dan Duang merasa panik.

No comments:

Post a Comment