Saturday, November 9, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 5 - part 1/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 5 – part 1
Network : Channel 3
“Khun Mae!!” teriak Duang.
Mendengar itu, Yai serta Fae pun langsung menghampirinya. Dan Duang memperlihatkan kertas yang di tinggalkan oleh Urawee. Lalu setelah selesai membaca surat itu, Yai hampir saja akan pingsan. Dengan khawatir, Fae serta Duang langsung berteriak dan menahannya.

Nenek, Bibi Duang.  Aku akan pergi jauh, tapi aku minta untuk tidak memberitahu siapapun kemana aku pergi. Tolong jangan khawatirkan aku. Aku akan menghubungin kalian, ketika aku sudah siap. Dan aku akan menjaga diriku sendiri dengan baik. Kecuali sekarang, aku merasa  sangat lemah, aku tidak ingin bertemu siapapun. Khususnya Nik. Jika Nik masih datang mencariku, tolong minta dia berhenti. Beritahu dia jangan ganggu lagi. Ketika aku merasa kuat. Aku akan kembali menjadi Wee yang sama untuk setiap orang. Itu tidak akan lama. Aku janji.
Wee menaiki kendaraan pertanian, menuju ke arah perkabungan.
Pagi hari. Tom sarapan dengan tenang. Dan Ampu menanyakan, berapa banyak biaya perbaikan nya. Tapi Tom diam. Dan Ampu pun memberikan beberapa lembar uang kepadanya. Namun Tom menolak, karena dia tidak menginginkan uang dari …

“Dari apa?” tanya Ampu.
“Dari sekarang, kamu tidak perlu memberiku uang lagi. Aku bisa menghasilkan nya sendir, dan aku akan pindah keluar juga. Jadi aku tidak akan membebaninmu lagi,” jawab Tom. Kemudian dia pun pergi.
Dengan heran, Ampu memperhatikannya.

Ketika Ampu telah keluar dari rumah, dan pergi. Mantan pacar Fae yang mengawasi rumah dari jauh, dia merasa heran, kenapa Fae tidak keluar juga. Lalu dia pun menghubungin kawannya, dan bertanya apakah Tom ada ke sekolah. Kemudian setelah itu, dia pun menyalakan motornya dan melaju pergi.
Ting memberikan obat kepada Nopamat. Dan Nopamat meminumnya. Lalu dia menyuruh Ting untuk jangan memberitahu siapapun tentang ini, karena dia tidak ingin dikasihanin. Dan Ting menjawab bahwa tidak seorang pun yang akan berpikir begitu.
“Jangan berbohong. Aku bukan anak kecil,” keluh Nopamat. Dan Ting pun mengiyakan. Kemudian Nopamat meminta dibawakan wine. Dan Ting pun terpaksa mengiyakan.

Dikantor. Arm menelpon Ting, dan menanyakan keadaan Nopamat. Dan Nopamat menjelaskan bahwa Nopamat telah meminum obat, dan sedang beristirahat sekarang. Namun dia minta supaya Arm tidak memberitahu Nopamat, kalau dia yang memberitahu.
“Aku tahu. Dia tidak ingin siapapun untuk tahu bahwa sayapnya rusak sekarang. Baiklah. Kamu jaga dia,” kata Arm,mengerti.

Sunisa dengan terburu- buru masuk ke dalam kantor Arm, dan mengabarkan tentang Urawee yang pergi dari rumah ntah kemana. Dan bahkan Urawee juga tidak bisa di hubungin sekarang. Lalu setelah di telpon, Pam juga tidak tahu.
“Dan dimana Pam sekarang?” tanya Arm.
“Aku akan mencoba menelpon dia,” jawab Sunisa.

Pam sedang menemanin Ibunya dirumah sakit, karena Ayahnya baru keluar dari ruang ICU. Lalu ketika Ampu menelpon, dia pun mengangkat nya dan menceritakan tentang keadaan Ayah nya. Dan Ampu mengucapkan semoga Ayah Pam bisa segera sembuh. Kemudian dia menanyakan, apakah Pam tahu kemana Urawee, atau tempat yang mungkin di kunjungin Urawee.
“Sekarang, aku tidak bisa memikirkan apapun. Aku sangat stress. Dan pikiran ku tidak karuan,” jawab Pam, tidak tahu.
“Tolong pikirkan. Jika kamu tahu, bisakah kamu menelpon dan memberitahu ku?” pinta Ampu.
Pam bertanya, bukankan lebih baik bila mereka menunggu hingga Urawee baikan dan pulang dengan sendirinya. Dan Ampu mengerti, hanya saja dia merasa cemas. Serta ini sudah hampir waktunya untuk presentasi seragam penerbangan, jadi Urawee harus membuat keputusan. Jika tidak, reputasi Urawee akan berada dalam bahaya.
Unthiga tidak sengaja mendengar obrolan tersebut, dan dia pun mulai memikirkan sebuah ide.

Duang serta Fae merasa khawatir, kemana Urawee pergi. Namun dengan tenang, Yai menyuruh mereka untuk menunggu saja, karena dia percaya kepada Urawee. Tapi Duang tidak bisa percaya kepada seseorang yang sedang sedih dan terluka, karena orang itu bisa saja melakukan sesuatu yang tidak mereka sangka. Dan Fae setuju dengan Duang, sebab dirinya juga seperti itu.
“Mom,” kata Duang, gelisah. Dan Yai memegang tangan nya supaya tidak berpikir buruk.
Ampu memberitahukan kepada Fai, dan anggota tim nya, bahwa dia harus pergi, jadi jika ada apa- apa, maka mereka bisa menelpon nya.
Lalu sesudah Ampu pergi, gosip pun di mulai. Si penggosip senior memberitahukan kepada semua nya kalau Anik dan Urawee sudah putus, lalu Urawee menjadi sangat sedih dan kabur dari rumah. Dan sekarang tidak ada yang tahu dimana Urawee.

Unthiga kemudian datang menghampiri mereka. Dengan sikap sok peduli kepada Urawee, dia memberitahu semuanya bahwa gosip tersebut benar. Jika dirinya menjadi Urawee, dia pasti juga akan seperti itu, jadi dia sangat mengerti Urawee. Sehingga dia meminta bantuan mereka semua, jika ada yang tahu dimana Urawee berada, harap memberitahunya.
Mendengar itu, mereka semua pun mengiyakan. Dan merasa betapa baiknya Unthiga.

Setelah memperhatikan seluruh ruangan, Unthiga pun baru tersadar kalau Ampu tidak ada disana. Dan dia bertanya kemana Ampu. Dan mereka pun memberitahu bahwa sepertinya Ampu pergi untuk mencari dimana Urawee.
Mengetahui itu, Unthiga pun langsung buru- buru pergi.
Setibanya dirumah Yai. Sunisa merasa cemas, dan mengingatkan Arm. Dan Arm menjelaskan bahwa Urawee menjadi seperti ini karena Unthiga, jadi dia harus menunjukan beberapa tanggung jawab. Ini lebih baik daripada tidak ada melakukan apapun.
 
Melihat kedatangan nya, dengan sinis Duang bertanya kenapa Arm datang. Dan Yai menenangkan nya untuk membiarkan Arm. Lalu dia bertanya, apakah Arm sudah mendengar. Dan Arm mengiyakan, lalu menanyakan dimana Urawee berada.
“Jangan khawatir. Wee bisa menjaga dirinya sendiri. Dia tidak lemah seperti Ibunya, yang mati bunuh diri,” kata Duang dengan ketus, menyindir Arm.
“Apa kamu ingin melihat ku mati sekarang? Sama seperti Ibu Wee?” tegur Yai. Dan dengan kesal, Duang pun pergi meninggalkan mereka.

Arm memberikan salam kepada Yai, dan meminta maaf. Dengan heran, Yai bertanya maaf untuk apa, jika itu tentang Mariwan (Ibu Urawee), maka itu sudah berlalu lama, dan dia sudah tidak marah lagi. Lalu kemudian dia menebak, apakah mungkin itu karena Unthiga.
“Semua ini karena aku. Jika …” jelas Arm, kesulitan. Dia tampak sangat menyesal.
“Jangan minta maaf atas putrimu. Permintaan maaf mu tidak menyelesaikan masalah. Tapi kamu perlu membuat putri mu berhenti. Bisakah kamu melakukan itu sekali saja?” balas Yai, tegas.
Duang memeluk foto kakak nya, Mariwan, sambil menangis. “Malee, tolong lindungin putri mu ya. Jaga dia supaya selamat dan sehat. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang. Di masa lalu, itu karena aku tidak cukup melindungin mu. Tapi hari ini, aku akan melindungin Wee sampai akhir. Aku akan mati duluan,” kata Duang, penuh tekad.

Saat melewati kamar Mariwan, dan melihat itu, Yai pun berhenti. Menyadari itu, Duang segera menyimpan foto Mariwan, lalu mendekati Yai.

Duang menanyakan, apa yang Arm katakan. Dan Yai menjelaskan bahwa Arm meminta mereka untuk mengabari nya jika Urawee menelpon.
“Itu saja?!” tanya Duang, terkejut.
“Apa yang kamu inginkan?” balas Yai. Dan Duang menjawab tidak ada, lalu dia pamit untuk pergi mengurus toko. Sementara Yai, tetap duduk di sana.

Yai mengingat saat Mariwan meninggal bunuh diri di dalam kamar itu.  Saat itu dia merasa sangat sedih, karena walaupun dia terus memanggil- manggil, tapi Mariwan tidak bisa menjawab lagi untuk selamanya- lama nya.

No comments:

Post a Comment