Friday, December 27, 2019

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 4 - part 2

0 comments

Network : tvN Netflix

Sesampainya dirumah. Se Ri heran, karena anggota tim Jung Hyuk masih belum pulang juga. Dan Ju Meok menjelaskan bahwa Jung Hyuk sudah mengizinkan mereka. Lalu Eun Dong menjelaskan tentang kerang yang Jung Hyuk beli di pasar. Dan Se Ri pun memperhatikan kerang- kerang besar yang di taruh di tanah itu. Tiba- tiba saja Sersan Pyon menaruh korek diatas kerang- kerang itu, sehingga semuanya terbakar besar. Dan itu membuat Se Ri terkejut. Sementara yang lain nya tertawa senang.

“Ini seperti api unggun,” komentar Se Ri, kagum.
“Ini namanya kerang bulgogi,” jelas Ju Meok dengan bangga. Lalu Eun Dong memberikan sapu tangan kepada Se Ri, karena kerang nya sangat panas.
Sersan Pyo kemudian mengambil satu kerang dan mencontohkan cara memakan nya. Kerang nya dimakan langsung dari cangkang nya, kemudian tuang soju di dalam cangkang nya dan minum. Enak.

“Astaga, apa itu?” komentar Se Ri, sedikit ketus. Lalu saat Ju Meok memberikan satu kerang kepadanya, dia menolak dengan raut wajah tidak suka. “Begini. Jika hidangan dengan kerang, aku hanya makan bouillabaisse,” kata Se Ri. Dan Ju Meok memaksa nya untuk mencoba dulu. “Yakin sudah matang?” tanya Se Ri, ragu. Dan Ju Meok mengiyakan.
Se Ri pun kemudian memakan kerang itu, dan setelah memakan nya, dia diam dan terus mengunyah. Melihat itu, Ju Meok mengerti bahwa Se Ri pasti menyukai nya. Jadi dia pun menuangkan sedikit soju ke dalam kerang Se Ri.

“Bagaimana ini? Aku hanya minum Sauvignon Blanc saat menyantap hidangan laut,” jelas Se Ri sambil menghela nafas seolah terpaksa. Lalu dia pun meminum nya.

Setelah merasakan betapa manis nya soju itu, Se Ri langsung merebut milik Eun Dong dengan alasan bahwa anak 17 tahun belum boleh minum. Dan melihat betapa senang nya Se Ri menikmati semua itu, Jung Hyuk tersenyum senang.



Setelah babak pertama selesai. Eun Dong kembali menebarkan kerang di lantai. Lalu Sersan Pyo menaruh minyak dan korek api. Jreng.. jreng.. api unggun pun menyala dengan indah nya. Dan dengan gembira mereka semua makan dan minum. Menikmati semua itu.

Jung Hyuk tersenyum sambil secara diam- diam terus memperhatikan Se Ri yang tertawa lebar. Dan saat mata mereka berdua bertemu, mereka saling bersikap canggung satu sama lain.
Dirumah. Pimpinan Yoon dan keluarga makan dengan suasana yang sangat hening dan tegang. Lalu setelah cukup lama saling diam, Pimpinan Yoon pun mulai berbicara, dia memanggil Se Hyung. Dan dengan segera Se Hyung berdiri di dekat Pimpinan Yoon.

“Kamu harus ambil alih perusahaan,” kata Pimpinan Yoon. Dan Se Jun serta Hye Ji langsung berteriak protes. Sementara Sang Ah tersenyum kecil.
“Terima kasih. Akan kulakukan yang terbaik!” kata Se Hyung dengan senang.

“Tidak perlu berikan yang terbaik. Lakukan dengan baik,” balas Pimpinan Yoon, puas. Dan Se Hyung mengiyakan dengan bersermangat, lalu dia kembali duduk di tempat nya dan menepuk pelan punggung Sang Ah dengan senang.
Se Jun dan Hye Ji jelas tidak terima. Dengan sikap seolah terluka, Hye Ji menjelaskan bahwa saat Pimpinan Yoon berada di penjara, Se Jun lah yang diam- diam menjalankan perusahaan, melakukan pekerjaan kotor dan keras demi perusahaan.

“Itu juga bukan diam- diam. Dia masuk berita saat orang mulai melupakan ulah terakhir nya,” komentar Sang Ah. Dan dengan ketus, Hye Ji menyuruh nya untuk diam. Dan Sang Ah pun tersenyum sambil memberikan tanda bahwa dia mengunci mulut nya.
“Hentikan. Ayah tidak tahan dengan kalian,” kata Pimpinan Yoon, tegas.

Se Jun tetap tidak bisa menerima keputusan Pimpinan Yoon dan protes. Sebab dia adalah putra sulung di dalam keluarga. Dan dengan sinis, Se Hyung menjelaskan bahwa warisan tidak sama seperti mengantri direstoran. Jadi dia meminta Se Jun untuk menerima saja kekalahan ini.
Dan tentu saja, Se Jun tetap tidak bisa terima. Dia pun mulai mengadukan tentang komentar yang Se Hyung tulis saat pertama kali Pimpinan Yoon memilih Se Ri untuk mengambil alih perusahaan. Se Hyung melibatkan tabloid dan mau mengumumkan kepada publik bahwa Se Ri adalah anak haram. Se Hyun ingin mempermalukan Pimpinan Yoon dan Se Ri. Seperti biasa Hye Ji mendukung Se Jun dan memanasi situasi yang ada.


Se Hyung dengan sopan meminta Hye Ji untuk diam saja. Dan Se Jun memarahi nya. Namun Se Hyung tidak peduli dan dia balas mengadukan Se Jun. Saat pertama kali Se Ri menghilang, Se Jun mengatakan bahwa selalu ada sisi baik dalam tiap kejadian. Dan Se Jun sangat senang sekali saat itu.
Dengan tidak senang, Se Jun meminta Yoon Hee untuk berbicara juga. “Mari kita jujur. Adakah orang dimeja ini yang menganggap Se Ri anggota keluarga kita?” tanya nya dengan keras. “Kalian semua memperlakukannya seolah- olah dia anjing liar. Ibu, saat Ayah membawanya kemari. Ibu pasti ingin mencampakkan nya jika tidak ada yang lihat, kan,” jelas nya dengan emosi.



Pimpinan Yoon memukul meja dengan keras dan berteriak supaya Se Jun diam. Yoon Hee pun kemudian berdiri, dan Se Jun merasa senang, karena mengira Yoon Hee mendukung nya.
“Sembilan puluh enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan. Satu, dua, tiga, empat, …” kata Se Ri remaja di tepi pantai. Seperti menunggu seseorang.


Mengingat itu, Yoon Hee tersenyum sedih. “Kalian mau dengar pendapat Ibu?” tanyanya pelan. Dan Se Jun mengiyakan. “Ibu rasa kamu salah mengambil keputusan,” jelas nya.
Se Jun serta Hye Ji merasa senang. Sementara Se Jun dan Sang Ah mengeluh. Dan Pimpinan Yoon diam.

“Kita masih belum tahu nasib Se Ri. Jadi, mencari pengganti Se Ri, itu terlalu terburu- buru,” kata Yoon Hee. Dan Se Jun serta Se Hyun sama- sama protes, karena bukan itu yang mereka sedang bahas. “Itulah pendapat Ibu. Kita masih belum tahu pasti. Ibu yakin, Se Ri bisa kembali,” kata Yoon Hee dengan tegas dan penuh keyakinan.

Se Ri bermain sambung kata dengan Sersan Pyo. Dan setiap kali Sersan Pyo mengatakan sesuatu, Se Ri selalu tidak mengerti apa itu. Lalu seperti biasa Sersan Pyo akan mengejek Se Ri dengan mengatakan, apakah Se Ri tidak memiliki itu di Korea Selatan. Dan semuanya tertawa. Lalu Ju Meok yang akan menjelaskan apa itu kepada Se Ri.
Untuk kata selanjut nya, Se Ri berpikir sedikit lama. Dan Sersan Pyo tertawa sambil menghitung dari angka lima sampai satu.

Diruang penyadap. Pria penyadap mendengar itu dan ikut berpikir apa kata selanjut nya. Lalu dia pun menjawab. Tapi tentu saja tidak ada yang tahu kalau dia ikut bermain.


Se Ri menyebutkan kata yang sulit. Dan Sersan Pyo tidak bisa berpikir apa kata selanjut nya yang cocok dengan kata sebelum nya. Dan Jung Hyuk pun menjawab.
“Hye, Chi Su. Tidak perlu picik. Terima saja kekalahan mu,” kata Se Ri sambil meniup- niup jarinya dan bersiap untuk menjentik dahi Sersan Pyo. Dan karena takut, Sersan Pyo pun memilih untuk minum saja.

Diruang penyadap. Pria penyadap mengetuk- ngetukan kakinya ke lantai, saat mendengarkan mereka bernyanyi, “Minum, minum yang banyak. Cepatlah minum. Beranikan diri dan minum. Atau kamu jadi pengecut.”



Pagi hari. Jung Hyuk mengambil alat penyaring kopi milik nya yang ada di gudang. Lalu dia pergi ke halaman dan mulai memasak biji kopi yang masih putih di dalam wajan panas sampai biji kopi nya menjadi kecoklatan dengan warna yang cantik.

Se Ri terbangun dan merasa bingung, kenapa dia bisa berada ditempat tidur. Lalu dia mencium aroma kopi yang sangat harum.
Jung Hyuk menggiling biji kopi menjadi harus dan memasuk kan nya ke dalam penyaring. Lalu dia menuangkan air panas secara perlahan. Dengan kagum, Se Ri mendekat. Dan Jung Hyuk menjelaskan bahwa dia mempelajari ini saat belajar di luar negri.

“Di Swiss?” tebak Se Ri, bersemangat. “Kamu jurusan apa?” tanyanya, penasaran. Namun Jung Hyuk tidak menjawab dan menuangkan kopi yang sudah jadi ke dalam gelas. Kemudian dia menyodor kan  nya kepada Se Ri untuk di coba.
Dan dengan senang, Se Ri pun mencoba nya. Lalu dia merasa sangat kagum kepada Jung Hyuk. Sebab kopi buatan Jung Hyuk sangat nikmat dan membuat pengar nya jadi mendingan.
“Aku sudah buat sup taoge yang akan memulihkan mu,” kata Jung Hyuk sambil menunjuk dengan dagu nya. Lalu dia pun bersiap untuk berangkat bekerja.


“Jung Hyuk- ssi,” panggil Se Ri dengan cepat, sebelum Jung Hyuk pergi. “Aku berterima kasih atas banyak hal dan juga kopi nya, aku punya sesuatu untuk mu. Sebentar ya,” jelas nya. Lalu dia memasuk kan jari nya ke dalam saku dan secara perlahan mengeluarkan jari nya. Kemudian dia membentuk sebuah hati kecil yang sangat manis sambil tersenyum.
Dengan bingung, Jung Hyuk diam dan memperhatikan dua jari Se Ri.


Dikantor. Jung Hyuk dengan serius menanyakan arti dua jari tersebut kepada Ju Meok. Dan sebelum Ju Meok menjawab, Sersan Pyo sudah menjawab duluan. Menurut nya dua jari itu arti nya ‘Sama seperti aku melumatkan serangga kecil dan membunuh nya, cuma butuh dua jari untuk menghancurkan mu. Semacam itu?” tebak Sersan Pyo.

“Bukan,” jawab Ju Meok, cepat. “Itu bentuk hati. Pertama- tama, kalian tahu hati itu melambangkan apa, ‘kan?” jelas Ju Meok, bertanya. Dan Jung Hyuk merasa bingung ada apa dengan hati nya. “Aku mau memberikan hatiku kepada mu. Itulah artinya,” jelas Ju Meok dengan bersemangat.
Namun sayang nya, Jung Hyuk dan Sersan Pyo sama- sama tidak mengerti. Sersan Pyo menanyakan, kenapa Se Ri tiba- tiba mau mendonorkan organ kepada Jung Hyuk.

“Astaga,” keluh Ju Meok. “Hati itu berarti cinta. Di korea Selatan, artinya dia menyukai mu,” jelas Ju Meok dengan lebih detail. Dan Jung Hyuk tampak tidak percaya.
“Hei, jangan melantur hanya karena kami tidak tahu negara itu. Omong kosong,” bentak Sersan Pyo.
Ju Meok menjelaskan dengan lebih mendetail lagi kepada mereka berdua. Dia menanyakan, apakah setelah Jung Hyuk memperkenalkan Se Ri sebagai tunangan, tidak ada terjadi apapun sama sekali. Dan mendengar pertanyaan itu, Jung Hyuk pun teringat pada ciuman nya dengan Se Ri saat mereka berdua berada di dalam kapal. Dan mengingat itu, dia pun terdiam dan tidak bisa menjawab.

“Kapten mungkin melakukan nya untuk menyelamatkan dia, tapi dia mungkin punya perasaan. Saat jantung mu berdebar- debar,” jelas Ju Meok dengan tegas dan sangat yakin. Dan Jung Hyuk semakin terdiam, seolah terkejut.
Dengan heran, Ju Meok tertawa, dan menanyakan kenapa Jung Hyuk tampak sangat terkejut, kepadahal dia yakin bahwa sudah ada banyak wanita yang mengungkapkan perasaan kepada Jung Hyuk. Dan Sersan Pyo menyela, seolah dia adalah alih nya, dia menjelaskan bahwa Ju Meok sama sekali tidak mengerti, tidak peduli berapa kalipun kita merasakan nya kita tidak akan pernah terbiasa.
“Kamu juga pasti tidak salah paham,” komentar Ju Meok dengan jujur. Dan Sersan Pyo langsung menatap nya dengan tajam, sehingga dia pun diam.

“Wanita itu juga akan segera pergi. Kapten Ri bukan pria bejat yang melakukan ini, sementara dia sudah bertunangan atau menikahi orang lain,” kata Sersan Pyo, membela Jung Hyuk. Dan mendengar itu, Jung Hyuk langsung memandangin nya tanpa mengatakan apapun.
Dan Sersan Pyo serta Ju Meok yang awalnya tertawa langsung merasa terkejut. “Sungguh?!”
Seo Dan datang bersama kedua orang tua nya ke mall untuk berbelanja. Disana semua orang menuntut dengan hormat saat mereka lewat.
“Ibu begitu kesal. Ibu menguliahkan mu ke Rusia. Kamu pasti tidak suka makanan nya. Kamu jadi kurus sekali,” kata Ibu dengan perhatian.
“Aku sengaja menurunkan berat badan. Jika aku makan apapun, mereka menyebutku babi,” balas Seo Dan, menjelaskan.
Tepat disaat itu, seorang bule lewat dan dia menyapa Ibu dengan ramah. Dia berterima kasih sebab dia sangat senang sekali dapat berbelanja di sini. Dan dengan fasih, Ibu menjawab nya dalam bahasa Inggris. Kemudian saat bule tersebut sudah pergi, dengan heran Seo Dan bertanya, apakah Ibu belajar bahassa Inggris, kepadahal dia mengira Ibu benci sekali bahasa Amerika Serikat.
Dan Ibu beralasan bahwa dia bukanlah warga negara yang berbakti jika tahu bahasa musuh. Makanya dia mengatakan bahwa dia membenci bahasa itu.


“Kali terakhir, Ibumu ikut rapat dan di permalukan karena tidak bisa bahasa nya, sejak itu dia belajar,” kata Jenderal, menjelaskan dengan jujur. Dan mendengar itu, Seo Dan tersenyum geli. Dengan kesal, Ibu pun langsung memandangin Jenderal dengan tajam serta mengusir nya untuk pergi saja. (Jenderal (Myeong Seok) Paman Seo Dan).
“Tentu saja, aku harus pergi. Tapi bukankah kamu yang meminta ku untuk mengantar mu?” balas Myeong Seok sambil tertawa. Dan dengan kesal, Ibu semakin mendesak nya untuk pergi.
Seo Dan dan Ibu kemudian mulai berbelanja dan mencoba pakaian. “Bukankah itu terlalu mencolok? Sudah lama kamu tidak bertemu tunangan mu. Bukankah ini agak berlebihan?” tanya Ibu, saat Seo Dan mencoba baju kemeja merah putih yang cukup mencolok.

Tepat disaat itu, seorang Ibu datang dan menyapa mereka berdua dengan bersamangat. Dan dengan ramah, Seo Dan balas menyapa nya.
“Astaga, lihat dirimu. Kamu tampak kurus. Kamu tampak menyedihkan,” kata Ibu hijau mengomentari Seo Dan. Ibu Seo merasa tidak senang.
“Apa Jin Sook baik- baik saja?” tanya Seo Dan dengan ramah.

“Tentu saja. Tahun lalu dia melahirkan putra yang sehat. Dia hamil lagi tahun ini. Mertuanya begitu senang dan terus mengatakan betapa di berkatinya dirinya,” kata Ibu hijau dengan bangga. Dan itu membuat Ibu Seo menjadi semakin tidak senang. Dan Seo Dan menyadari itu.
“Syukurlah,” balas Seo Dan. Lalu dia pun pamit dan berjalan pergi.

“Dan, tunggu sebentar,” panggil Ibu Seo dengan bahasa inggris. Lalu dia mendekati Seo Dan dan membuka kancing atas nya. “Pergilah dan permalukan dia. Buat mereka sadar,” gumam nya.
“Ayolah, Bu. Aku bisa lakukan dengan pakaian apapun,” balas Seo Dan dengan percaya diri. Dan Ibu Seo merasa senang.
“Dia sudah menua, dan juga semakin kurus. Dia pasti melalui banyak hal,” komentar Ibu hijau.
“Dia sengaja menguruskan badan untuk menyesuaikan tren global. Akhir- akhir ini, jika kamu makan apapun, orang- orang akan menyebut mu babi. Kamu tahu soal itu?” balas Ibu Seo dengan kesal. Dan dia menekankan kata ‘babi’ sambil menatap tajam Ibu hijau.
Ibu hijau menjelaskan bahwa dia cuma mengkhawatirkan Seo Dan saja. Dan Ibu Seo menyuruhnya untuk jangan cemas, karena tunangan Seo Dan adalah putra Direktur Biro Politik Umum.
“Kabarnya dia tidak berminat menikah, dan mengajukan diri untuk ditempatkan di pos perbatasan,” komentar Ibu hijau lagi. Sehingga Ibu Seo semakin kesal.
“Hei! Mereka akan menikah tahun ini,” katanya dengan penuh penekanan. Lalu dia pun pergi.

Se Ri mengikuti Young Ae dan yang lainnya berjalan- jalan di pasar. Dengan sikap akrab, dia memeluk lengan Young Ae dan berjalan disamping nya. Melihat itu, Ibu lain juga mau memeluk lengan Young Ae yang lain, tapi tidak bisa karena Young Ae sedang memegang tas di lengan nya yang lain.

Saat mereka berempat lewat, seorang pedagang memanggil Young Ae dan memperkenalkan produk- produk kecantikan yang dia dapatkan dari Selatan. Dan Se Ri mengenali barang- barang yang di jual disana, karena itu adalah merk produk milik nya. Melihat itu, Se Ri merasa sangat senang dan bangga sekali, tapi ternyata si penjual malah tidak bisa mempromosikan produk nya dengan baik. Sehingga Se Ri pun merasa sangat kesal dan menggantikan nya untuk menjelaskan.


“Ada kadungan lada Korea, bunga pasque, dan ekstrak ginseng putih di dalam nya. Sudah pasti memutihkan wajah, mengencangkan kulit, memberikan kesan ringan seperti udara dan tidak lengket,” jelas Se Ri, memperkenalkan produk nya.
“Kamu begitu paham soal kecantikan. Pantas saja kamu cantik,” puji Young Ae dengan senang.
Si Penjual merasa bingung, dan bertanya siapa Se Ri. Dan Ibu lain menjelaskan dengan suara pelan bahwa Se Ri memiliki misi rahasia di Selatan. Mendengar itu, si Penjual langsung memuji Se Ri yang pantas saja tahu banyak produk dari selatan. Dan Se Ri mengiyakan.


Dengan senang dan puas, Young Ae mau membeli produk itu. Dan Ibu lain serta Ibu bermake up tebal langsung berebutan untuk membayar kan itu.
“Produk ini dikenal karena efek melembapkan dan kilau nya, tekan kan itu saat menjual,” jelas Se Ri, sebelum dia pergi. “Sebagai penjual, bukankah seharusnya kamu menghafalkan bahan- bahan nya?” keluh Se Ri.
“Maaf,” kata si penjual. Dan Se Ri terus mengingatkannya lagi.

Su Chan menemui Chang Sik lagi dan memperlihatkan tentang berita paralayang lain yang berhasil selamat. Serta kemungkinan dimana Se Ri mungkin saja terjatuh. Dan dengan tegas, Chang Sik memintanya untuk menghentikan ini. Tapi Su Chan terus saja bersikeras.
“Pastikan untuk mandi. Kamu sangat bau,” keluh Chang Sik.

Tepat disaat itu, Sang Ah dan Se Hyung datang. Jadi Chang Sik serta Su Chan pun langsung terdiam.

Didalam kantor. Chang Sik memberikan kartu nama nya sebagai petugas asuransi kepada Se Hyung dan juga Sang Ah.
Su Chan menjelaskan rencana nya dalam mencari Se Ri. Dan Sang Ah serta Se Hyung mendengus seolah merasa ide itu lucu. Chang Sik pun kemudian berbicara, dia memberitahu tentang apa yang Se Ri katakan pada hari itu.


“Aku sedang buru- buru karena harus mendaki. Tempat yang tinggi,” kata Se Ri.
Mendengar itu, Sang Ah mengepalkan tangannya dengan ekspresi kesal. Dan tanpa menyadari itu, Chang Sik terus lanjur berbicara. “Saat itu, aku tidak paham maksud nya. Tapi setelah memikirkan perkataan nya, mungkin ‘tinggi’ itu …”
“Korea Utara,” sela Su Chan. “Kenapa tidak bilang lebih awal?” keluh Su Chan pada Chang Sik. “Semua jadi masuk akal.”

“Maksudmu, dia kabur ke Utara?” tanya Se Hyung, kesal. Dan Chang Sik menjelaskan bahwa itu cumalah firasat Su Chan saja.
Se Hyung kemudian menanyakan, berapa besar biaya asuransi yang membuat Su Chan dalam di lema besar. Dengan alasan sebagai kakak Se Ri, dia menjelaskan bahwa tidak suka bila Su Chan menyebarkan rumor yang tidak berdasar. Jadi dia mengancam bila Su Chan meneruskan ini, maka pengacara perusahaan nya akan menyambut Su Chan. Jika itu terjadi, maka Su Chan bukan hanya akan di pecat saja. Mendengar ancaman itu, Su Chan merasa sangat kaget dan takut.

“Suamiku dan aku datang kemari mewakili keluarga kami. Kami harus bersiap akan kemungkinan yang ada. Aku ingin melihat laporan keuangan Se Ri Choice,” jelas Sang Ah. “Ada dimana?”

Seung Jung berhasil menembak satu burung diudara. Dan Cheon pun memuji nya. Lalu Seung Jung menyebutkan tentang pengalaman nya di Korea Selatan. Mendengar itu, Cheon langsung mengingatkan nya supaya jangan menyebutkan tentang Korea Selatan. Tapi Seung Jung tidak mau mendengar kan dan malah mengancam, apakah Cheon mau memberikan 10.000 dolar kepadanya.

“Kamu memang memakai paspor diplomat, tapi ini masih Korea Utara. Jika sampai ketahuan, banyak orang yang akan tertangkap,” jelas Cheon dengan kesal. Dia merasa waspada pada dua orang yang berjaga di belakang mereka.
“Astaga, aku paham,” balas Seung Jung tanpa sikap menyesal.

Seung Jung kemudian melepaskan anjing nya. Dan menyuruh Cheon untuk membuat kan nya naengmyon dengan ayam pegar buruan nya. Dan sebelum Cheon sempat membalas, Seung Jung langsung menghentikan nya berbicara dan pergi.


Stasiun Kaesong. Seo Dan turun dari kereta dan langsung mencari taksi untuk pergi ke tempat Jung Hyuk. Namun supir taksi menolak untuk mengantarkannya, karena tempat itu sangat jauh sekali. Bahkan walaupun Seo Dan menawarkan banyak uang padanya, dia tetap tidak mau, karena jalan ke sana sangat berbatu. Dan Seo Dan pun semakin memperbanyak uang yang akan diberikannya. Melihat itu, supir taksi pun merasa tergoda dan malahan dia meminta tambahan lagi. Jadi Seo Dan pun memberikan semuanya kepada nya.
“Silahkan masuk,” kata supir taksi dengan hormat dan ramah. Lau dimulailah perjalanan mereka.

Dalam perjalanan. Seo Dan memandangin fotonya bersama dengan Jung Hyuk sambil tersenyum senang.

Dipertengahan jalan. Didekat hutan yang sepi. Taksi mogok. Dan Seo Dan pun menawarkan hp nya supaya si supir dapat menghubungin bantuan. Tapi sial nya tidak ada sinyal disana.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Seo Dan, cemas.
Si supir mengembalikan hp Seo Dan. “Ada desa sekitar 10 li dari sini. Aku harus minta bantuan mereka. Tunggu disini,” kata si supir, lalu dia pun pergi. Namun sebelum pergi, dia mengambil kunci mobil nya dahulu. Dan dengan kesal, Seo Dan pun terpaksa menunggu.

Tepat disaat itu, Seung Jung lewat. Dan melihat Seo Dan didalam taksi, dia pun langsung menyuruh supirnya untuk berhenti. Dia berniat untuk menawarkan tumpangan pada Seo Dan. Tapi Cheon tidak peduli dan menyarankan supaya mereka pergi saja.

“Kenapa kalian tidak manusiawi?” keluh Seung Jung. “Mundurlah. Mundur.”

Didalam mobil. Cheon menanyakan tujuan Seo Dan, lalu saat Seo Dan memberitahu, dia langsung mengeluhkan bahwa tujuan mereka tidak sama, jadi dia akan menurun kan Seo Dan di tengah jalan. Namun karena Seung Jung menyukai Seo Dan, maka dia pun meminta Cheon untuk berjalan- jalan sedikit dan  mengantarkan Seo Dan.
“Jangan cemas. Kami pastikan kamu sampai dengan selamat,” kata Seung Jung dengan sangat ramah kepada Seo Dan. Dan Cheon merasa malas mendengar itu.
“Terima kasih,” balas Seo Dan, cuek.

Seung Jung mencoba untuk membuka pembicaraan. Dia menanyakan, apakah Seo Dan ingat bahwa mereka berdua pernah bertemu. Dan Seo Dan menjawab tidak. Seung Jung kemudian menanyakan, kenapa Seo Dan ingin ke desa itu. Dan Seo Dan tidak mau memberitahu.

Mendengar itu, Cheon dan si supir menahan tawa mereka. Dan dengan kesal Seung Jung langsung menatap mereka berdua.
Dipasar. Hari sudah malam dan sama sekali tidak ada lampu penerangan disana. Sehingga Se Ri sulit untuk melihat jalan. Lalu saat dia menyadari bahwa Young Ae dan yang lainnya tidak ada, dia pun merasa panik.
Dikantor. Cheol Gang menerima telpon dari sepupu teman nya.
“Aku sudah cari. Tidak tahun terakhir, tidak ada wanita berusia 30-an di Divisi 11. Baru- baru ini, ada satu orang. Tapi usianya 50-an dan aku kenal dia. Selain dia, tidak ada lagi,” kata sepupu.
“Begitu. Terima kasih. Akan kubalas jasamu lewat Pak Choe. Sampai jumpa,” balas Cheol Gang.
Cheol Gang memakai topinya dan menyeringai.

Ibu lain dan Ibu bermake up tebal menghampiri Jung Hyuk yang baru pulang dengan raut wajah panik. Mereka melaporkan tentang Se Ri yang menghilang di pasar. Dan mendengar itu, Jung Hyuk langsung berlari pergi ke pasar.
Dan kedua Ibu itu merasa kagum pada Jung Hyuk yang begitu perhatian kepada Sam Suk (Se Ri).

Se Ri berdiam di tempat dan berhitung di dalam hati nya. Sama seperti saat dia remaja dulu. “Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh. Sebelas.”

Jung Hyuk berlari secepat mungkin, dan akhirnya dia pun sampai di pasar. Namun karena disana begitu ramai dan gelap, dia pun jadi kesulitan dalam mencari Se Ri. Lalu disaat itu, dia melihat lilin kecil dijual didekat nya.

Saat Seo Dan melihat mobil Ayahnya, dia tahu bahwa dia datang ke tempat yang benar.



Se Ri masih berdiri diam di tempat nya. Dia tampak putus asa sekali. Dan tiba- tiba saja disaat itu, sebuah cahaya muncul. Dengan perlahan dia pun berjalan mendekati cahaya itu.
Jung Hyuk terus berjalan sambil mengangkat lilin yang menyala tinggi- tinggi.


Lalu akhirnya mereka berdua pun bertemu. Dan mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan tatapan lega.
“Kali ini bukan cuma lilin, tapi yang wangi. Benar kan?” tany Jung Hyuk sambil menunjukan lilin yang dipegang nya. Dan Se Ri tersenyum senang.
“Benar,” jawab Se Ri. Dan Jung Hyuk balas tersenyum padanya.

Saat mengambil pembuat kopi digudang :

Jung Hyuk tersenyum senang saat menemukan apa yang di cari nya. Yaitu pembuat kopi. Lalu dia mengambil kamera milik nya yang dibungkus dengan kain dan disimpan dengan baik di lemari.


Dijembatan Swiss. Jung Hyuk memotret pemandanan indah disana menggunakan kamera itu.
“Aku berada diatas jembatan di Sigriswil. Aku tidak punya penyesalan. Ayah, Kak Se Jun, Kak Se Hyung, dan Ibu. Aku akan pergi jauh. Jangan hidup terlalu bahagia. Sesekali cobalah untuk memikirkan ku,” kata Se Ri sambil menangis di alat perekamnya.
Mendengar itu, Jung Hyuk memandangi Se Ri dan ingin memotret nya. Tapi disaat itu, Seo Dan datang dan menghalangi kamera nya.
“Kamu akan terus mengambil foto pemandangan?” tanya Seo Dan.
Alat perekam Se Ri terjatuh ke bawah. Dan Se Ri pun merasa bingung.
Seo Dan : “Ayahmu bilang padaku selama perjalanan ini, kita sebaiknya mengakrabkan diri.”
Jung Hyuk : “Benar. Aku dengar soal itu juga. Sulit melakukannya setelah bertemu sekali.”

Dengan alasan demi Ayah Jung Hyuk, Seo Dan pun mengajak Jung Hyuk untuk berfoto bersama. Dan Jung Hyuk pun mengiyakan. Lalu dia mendekati Se Ri untuk meminta bantuannya.
Se Ri terkejut karena Jung Hyuk mendekati nya tiba- tiba. Dan memintanya untuk tolong memotret dia dan Seo Dan. Se Ri pun mengiyakan sampai mengeluh bahwa tempat ini sangat tinggi. Lalu dia pun mengikuti mereka berdua ke tempat pemotretan dengan latar belakang gunung yang cantik.

“Dia (Pria) pantas dapat yang lebih baik,” gumam Se Ri, sebelum mulai menfoto mereka berdua.
Jung Hyuk tersenyum menatap ke arah Se Ri. Sementara Seo Dan menatap ke arah Jung Hyuk.

No comments:

Post a Comment