Monday, January 20, 2020

Sinopsis K-Drama : Chocolate Episode 16-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Chocolate Episode 16-1
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, PERUSAHAAN, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI


Cha Young berada di toko cokelat melihat-lihat cokelat. Eh, Kang juga ke toko yang sama. Cha Young jelas terkejut melihat Kang. Apalagi saat Kang bilang kalau dia ingin makan cokelat dan bahkan menanyakan rekomendasi Cha Young. Cha Young tersenyum.
Mereka memesan cokelat dan duduk di sudut café untuk memakan cokelat. Kang memakan satu dan memuji rasanya yang enak. Cha Young akhirnya bertanya karena sebelumnya Kang bilang tidak makan cokelat.
Kang menjelaskan kalau dia tidak mau makan cokelat karena jika dia memakannya dia takut akan ingin kembali ke Wando. Tapi, sekarang, dia sudah memiliki Cha Young. Dia tidak akan pernah pergi tanpa Cha Young. Cha Young jelas terkejut mendengar apa yang Kang katakan.
“Bisa beri tahu aku kenapa kau berhenti makan cokelat setelah ibumu meninggal?” tanya Cha Young, penasaran. “Katamu ibumu meninggal karena kecelakaan, 'kan? Kecelakaan seperti apa?”
Kang terdiam sebelum menjawab pertanyaan itu. “Kecelakaan mobil. Dia menyeberang jalan, dan tertabrak mobil. Dia dalam perjalanan pulang usai membelikanku cokelat. Jadi, setelah hari itu, aku berhenti makan cokelat,” bohong Kang. “Kenapa kau bertanya?”
“Aku hanya penasaran.”
“Tentang apa?”
“Kupikir wanita yang memberiku cokelat mungkin adalah ibumu.”
“Imajinasimu terlalu jauh. Aku tak percaya kau berasumsi hanya karena sebatang cokelat. Kau menulis novel saja alih-alih menjadi koki,” alihkan Kang.
“Maaf aku membahasnya lagi. Aku tahu ini masih tidak mudah bagimu.”
“Mari berjuang. Mari lakukan yang terbaik. Buat setiap saat bermakna. Mari lakukan untuk wanita yang memberimu cokelat juga. Bukankah menurutmu itu yang dia inginkan, 'kan?” semangati Kang. “Kau ada waktu besok malam?”
“Saat ini aku belum punya rencana.”
“Maukah kau ke tempatku? Kita pesta ulang tahun. Aku siapkan semua. Kau hanya perlu datang. Kau juga tak perlu memberi hadiah. Kau hadiahku,” ujar Kang menggebu-gebu.
Cha Young tersenyum padanya.
--

Tae Hyun membawa Hui Na ke tempat game simulasi pembuatan SIM. Jadi, Hui Na menaiki alat seperti main game mobil, tapi ini untuk tes SIM. Dan di akhir, memberitahu kalau Hui Na lulus dan bisa mendapatkan SIM. Hui Na langsung bersorak riang dan bahkan mengajak Tae Hyun untuk tos bersama.
Hui Na begitu bersemangat dan mengajak Tae Hyun untuk pergi membeli mobil. Tae Hyun tertawa karena ini kan hanya simulasi tes mobil untuk mendapatkan SIM, bukannya dapat SIM asli. Hui Na tetap ngotot ingin membeli mobil. Dia hanya perlu menabung sedikit lagi untuk membelinya. Tapi, mari mereka pergi melihat mobil dulu.
--

Dan karena itu, Tae Hyun membawa Hui Na ke showroom mobil. Hui Na begitu bersemangat hingga langsung naik ke kursi pengemudi untuk mencobanya. Tae Hyun juga coba menaiki mobil contoh itu.
Tae Hyun tampaknya cukup peduli pada Hui Na. Dan Hui Na juga tampaknya sudah cukup akrab dengan Tae Hyun. Hui Na bahkan berkata kalau dia tidak peduli walau akan mati. Tapi, sekarang dia masih hidup. Dia tidak ingin berbaring saja tanpa rencana. Hidupnya akan menyedihkan jika seperti itu. Dia yakin kalau dia tidak di lahirkan untuk hidup tidak bermakna.
“Sebelum aku tahu soal penyakitku, hidupku menyedihkan sama sepertimu. Aku hidup seakan punya ribuan tahun dan seakan aku tak bisa mati. Hei, Kawan. Ada tempat yang sangat ingin kukunjungi setelah mendapat mobil. Bisa ikut denganku?” tanya Hui Na.
“Ke mana?”
“Laut,” jawab Hui Na bersemangat.
--

di Pantai,
dir. Kwon membawa Seon Ae ke pantai dan Seon Ae tampak sangat bahagia bermain dengan ombak laut. Dir. Kwon tersenyum melihat tawa Seon Ae. Seon Ae bertanya, kenapa dir. Kwon tidak bekerja? dir. Kwon menjawab kalau dia mengambil cuti. Seon Ae jadi semakin khawatir kalau dir. Kwon akan semakin di bully oleh pegawai lain karena lulus dari sekolah kedokteran di luar Seoul. Dir. Kwon menenangkannya untuk tidak khawatir.
Seon Ae benar-benar bahagia bisa menghabiskan waktu seperti ini dengan suaminya. Sebelumnya, dir. Kwon selalu sibuk, tidak pernah pulang, tidak pernah libur dan bekerja siang malam. Dir. Kwon tersenyum getir dan menjawab kalau dia mengira bahwa dengan bekerja keras dia bisa membuat Seon Ae merasa bahagia. Tapi, pada akhirnya, dia malah membuat Seon Ae kesepian. Dia benar-benar minta maaf atas hal itu karena tidak tahu.

Seon Ae tertawa dan tersenyum bahagia. Dia meminta suaminya untuk menghabiskan waktu begini dengannya mulai dari sekarang. Sekali di musim semi dan musim gugur. Dia tidak akan meminta lebih lagi. Dir. Kwon tersenyum dan mengangguk.
Bersama mereka bermain di pantai. Menikmati deburan ombak. Menikmati waktu dengan bahagia.
--
Selesai bermain di pantai, dir. Kwon mengajak Yeong Sil untuk makan di restoran pinggir laut. Mereka makan dengan bahagia. Yeong Sil memberitahu kalau dia akan mulai masuk sekolah masak karena dia ingin bisa memasakan makanan enak untuk dir. Kwon. 
Saat sedang makan, dir. Kwon mendapat telepon dari wali pasien, jadi dia sedikit menjauh untuk mengangkat telepon. Yeong Sil yang di tinggal sendiri mulai makan dan tanpa sengaja menjatuhkan makanan ke bajunya. Saat dia membersihkan bajunya, dia melihat kalung tanda pengenalnya. Dan dia langsung ingat mengenai dirinya dan penyakitnya.
Mengingat itu dan melihat dir. Kwon ada bersamanya dan bahkan mau berpura-pura seolah mereka masih menikah, membuat Seon Ae sangat merasa bersalah. Dia segera pergi dari tempat itu, di saat dir. Kwon sedang menelpon dan tidak memperhatikan.

Dir. Kwon jelas panik saat kembali ke meja karena Seon Ae menghilang. Pelayan resto memberitahunya kalau Seon Ae sudah membayar semua pesanan dan pergi.
Seon Ae pulang dengan naik bus. Dan dia mengirim pesan pada dir. Kwon : Setelah bertemu denganmu, aku diberkati dengan begitu banyak kebahagiaan. Tolong pastikan aku tak pernah mengunjungimu lagi. Jangan lupa makan. Dan aku ingin kau juga bahagia mulai sekarang.
--

Kang pergi mengunjungi nenek. Nenek hari ini akan keluar dari rumah sakit dan Kang membantu mengancingkan baju nenek. Di sana ada tn. Lee, ny. Lee dan ny. Yoon. tn. Lee menggerutu kesal karena nenek membiarkan Kang mengancingkan baju, sementara ketika Jun datang tempo hari, nenek malah menepis tangan Jun dengan kasar. Dia terus menggerutu bahwa karena sikap nenek yang seperti itu, mempermalukan Jun, maka Jun yang sangat ingin datang, dia larang datang. Itu karena dia takut nenek akan mempermalukan Jun lagi.
Ny. Yoon hanya diam dengan tegang dan bahkan mencubit tn. Lee agar berhenti mengomel. tn. Lee jelas heran melihat tingkah istrinya.  Ny. Lee juga heran apalagi ny. Yoon hari ini tidak terlihat sebengis biasanya. Ada apa?
Kang sendiri mengabaikan mereka semua. Dia hanya fokus pada nenek. Dia bertanya, kapan nenek akan mulai bekerja lagi? Nenek menjawab kalau dia tidak tertarik untuk kembali bekerja. Dia ingin beristirahat. Dan karena itu, dia menyerahkan pada mereka untuk bertanggung jawab atas Geosung sekarang.
“Aku akan mempertimbangkan kata-katamu sebelumnya,” jawab Kang.
Ny. Yoon terlihat sangat tegang.
--

Dan benar saja, begitu selesai mengantarkan nenek, ny. Yoon langsung mengajak Kang untuk bertemu dan bicara berdua.
“Ibu mertuaku dan mantan pimpinan, Bu Han Yong-seol, yang membangun Geosung hingga seperti ini. Aku juga melakukan yang terbaik. Aku habiskan empat bulan tiap tahun bergadang di rumah sakit. Aku tak pernah dapat peluang membesarkan Jun selayaknya ibu yang baik. Dan aku keguguran dua kali setelah Jun. Aku mengorbankan semua untuk Geosung. Ibu mertuaku dan aku yang bekerja keras untuk Geosung. Jadi, kenapa penting suamiku bukan putra biologis bapak mertuaku? Apa yang dilakukan ayahmu untuk Geosung? Dia tergila-gila pada seorang wanita dan kabur seperti pengecut. Jadi, kenapa aku harus menyerahkan Geosung walau ibu mertuaku dan aku yang bekerja keras untuk ini? Jun bekerja sangat keras. Tapi kau tiba-tiba muncul entah dari mana. Dan hanya karena kau putra Lee Jae-hun, kau pikir kau berhak mengambil semua dari kami? Kau pikir ini masuk akal?” tanya Ny. Yoon dengan suara menggebu-gebu (oh, jadi ny. Yoon diam ketakutan karena Kang pasti waktu itu menelpon, memberitahu kalau dia sudah tahu bahwa ayahnya adalah pewaris sah Geosung. Sementara tn. Lee bukan anak sah dari kakeknya, melainkan anak dari perselingkuhan nenek -menurutku ya-).
“Kurasa ini tak masuk akal. Menurutku absurd dan tak adil aku menjadi pemilik Geosung hanya karena aku putra Lee Jae-hun. Aku bersungguh-sungguh. Geosung milik mereka yang mengorbankan hidupnya. Aku bahkan tak tertarik. Namun, itu berlaku hanya selama kau berjanji takkan menyingkirkan sanatorium,” tawarin Kang.
Ny. Yoon terkejut, tidak menyangka akan jawaban tersebut.
--

Kang menelpon Jun dan memberitahu perjanjian yang di buatnya dengan Ny. Yoon. Jun sampai berkomentar kalau Kang pasti gila karena menggunakan posisi pimpinan sebagai jaminan mempertahankan sanatorium. Dan jika ny. Yoon setuju, dia akan menyimpan rahasia itu. Kenapa?
Kang menjawab bahwa apa yang Ny. Yoon katakan adalah benar. Ayahnya tidak melakukan apapun untuk Geosung. Jun sampai mengumpat kalau Kang benar-benar gila. Dia kemudian penasaran akan suatu hal.
“Saat kau dipindahkan ke sanatorium karena tanganmu, kukira entah kau menolak atau kau berusaha kembali ke rumah sakit. Tapi kau terima lebih mudah dari dugaanku. Kenapa begitu?” tanya Jun.
“Begitukah? Kurasa bukan begitu. Aku mengunjungi Nenek dan banyak mengeluh,” jawab Kang.
“Kau lelah, 'kan? Kau ingin berhenti, 'kan? Kau lega memiliki orang lain yang menghentikanmu, 'kan? Dan kurasa orang-orang di sana akhirnya malah mengubahmu.”
Kang diam. Apa yang di katakan oleh Jun adalah benar. Berada di sanatorium dan bertemu dengan para pasien dan semua yang ada di sana, telah mengubah Kang.
Selesai bicara dengan Kang, Jun merenung. Dia mengingat bagaimana dia bisa tiba di sanatorium adalah karena Hui Ju. Hingga akhirnya, dia berakhir di sana untuk menjalani hukuman kerja sosial. Dan kemudian, dia mulai melihat bagaimana Cha Young yang terus berusaha untuk hidup walau kehidupannya sangat sulit.
Mengingat semua itu, Jun sadar bahwa bukan hanya Kang saja yang berubah karena sanatorium itu, tapi juga dia.
Kang keluar dari ruang kerjanya dengan langkah percaya diri.
“Jangan tunggu aku, Nenek. Aku tak akan kembali. Aku tak akan pernah kembali… ke neraka yang kalian semua tinggali,” narasi Kang.
--
Yeong Sil berada di kamar mandi dan menangis terisak-isak. Dia sudah tau kalau Dae Sik berada di sanatorium ini karena sakit bukan karena menjadi relawan. Dan itu, membuatnya sangat sedih. Dia menyeka wajahnya dengan air dan berusaha menghentikan tangisnya. Namun, sulit.
Dae Sik sedang duduk di taman. Dan Yeong Sil menghampirinya. Sebelum memanggil Dae Sik, Yeong Sil berulang kali memeriksa make-up nya agar dia tidak tampak seperti habis menangis. Dae Sik tampak bingung harus bersikap seperti apa. Dia tidak berani menatap Yeong Sil.
“Lihat aku. Kubilang lihat aku. Katamu ingin pacaran denganku. Kalau begitu kau harus menatap mataku dan lakukan yang terbaik untuk memenangkan hatiku. "Yeong-sil. Aku tahu dahulu aku preman, tapi aku sudah berhenti. Aku mulai lagi dari awal. Bisa kau pikirkan lagi? Kumohon? Kau tak pernah bisa berpacaran dengan pria seksi dan tampan sepertiku. Ini kesempatan sekali seumur hidup bagimu. Jadi, lupakan kenyataan bahwa dahulu kau mengganti popokku dan mulai anggap aku sebagai lelaki."”
“Aku datang kemari untuk mengatakannya. Tapi aku sadar tak punya banyak waktu,” tangis Dae Sik.
“Bicara apa kau? Kau masih bernapas sekarang. Kau bisa bicara. Jantungmu berdetak dan kuat di suhu hangat 36,5 derajat Celsius,” ujar Yeong Sil, berusaha menahan tangisnya.
“Seharusnya aku datang lebih awal. Seharusnya aku datang tahun lalu. Seharusnya aku datang enam bulan lalu.”
“Kau belum terlambat. Semua orang sudah ditakdirkan mati sejak saat mereka dilahirkan. Mereka terkadang lupa bahwa mereka hidup. Siapa tahu? Aku mungkin mati lebih awal darimu.”
“Tidak!” teriak Dae Sik. “Kau harus hidup lama. Seseorang yang sebaik dirimu harus panjang umur. Dengan begitu yang tak bisa masuk surga tahu bahwa malaikat sungguh ada,” tangis Dae Sik, dan memeluk Yeong Sil dengan erat.
“Astaga. Ini terlalu cepat. Pesonamu baru saja naik satu poin,” ujar Yeong Sil, menangis dan memeluk Dae Sik.
--

Kang pulang ke rumah. Dia merapikan rumahnya yang berantakan dan mulai memasak berdasarkan buku resep mendiang ibunya. Dia akan memasak makanan istimewa untuk Cha Young yang datang ke rumahnya hari ini.
Cha Young juga sedang bersiap membuat kue spesial untuk Kang.
Di saat sedang memasak, Cha Young mendapat telepon. Dari ibu-nya. Ibu yang meninggalkannya dan sudah lama di carinya. Dan tentu saja, Cha Young terkejut karena ibunya tiba-tiba menelponnya.
Kang sudah selesai menyiapkan masakannya. Terlihat enak dan lezat. Dia tidak sabar menanti kehadiran Cha Young. Saat ada yang mengetuk pintu, Kang sangat bersemangat mengira yang datang adalah Cha Young, tapi ternyata yang datang adalah pengantar paket.
--
Hari sudah cukup larut,
Kang sudah menghias rumahnya dengan berbagai pernak-pernik. Dia merasa malu sendiri karena merasa cukup norak. Tapi, dia tetap bahagia, menunggu kedatangan Cha Young. Dia cemas karena Cha Young belum datang. Dia takut kalau Cha Young lupa akan janji mereka.

Tidak lama, Cha Young tiba. Dia meminta maaf karena datang terlambat. Dia datang dengan membawa kue buatannya dan juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Kang. Mereka saling tersenyum manis.

No comments:

Post a Comment