Sunday, January 19, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 9 - part 2

0 comments

Network : tvN Netflix

Se Ri menikmati mi kuah buatan Ibu Jung. Dan dia memuji nya sangat enak, sebab rasanya sama seperti apa yang pernah di masak oleh Jung Hyuk. Mendengar itu, Ibu Jung sedikit terkejut, dan bertanya apakah Jung Hyuk pernah membuatkan mie ini untuk Se Ri. Dan Se Ri mengiyakan, serta dia juga menyukai kopi buatan Jung Hyuk.
“Dia pasti dapat kebaikan hatinya darimu,” puji Se Ri.

Ibu Jung diam. Dia mengingat saat mereka makan malam bersama dengan keluarga Seo Dan. Saat itu Jung Hyuk bersikap dengan sangat kaku, seolah Jung Hyuk sedang menjalankan perintah. Namun bersama dengan Se Ri, menurutnya Jung Hyuk tampak lebih hangat. Dan dia senang.
“Dahulu, Jung Hyuk begitu manis, tapi dia berubah. Dia menjadi dingin dan tidak mau ditemani siapa pun. Tapi kamu bilang dia baik. Aku senang mendengarnya,” jelas Ibu Jung sambil tersenyum. Dan Se Ri  balas tersenyum kepadanya.

Sesampainya dirumah. Jung Hyuk langsung berlari masuk dan menemui Ayahnya. Lalu dia menanyakan, dimana Se Ri.
Mendengar itu, dengan cemas Se Ri bertanya kepada Ibu Jung, dimana dia harus bersembunyi. Sebab dia sudah terlalu banyak menyusahkan Jung Hyuk, maka dari itu dia tidak mau menemui Jung Hyuk lagi. Serta dia khawatir dia akan menangis nantinya.

Ibu Jung diam sambil memegang lengan Se Ri dengan erat. Supaya Se Ri jangan pergi ataupun bersembunyi.
“Apakah dia sudah mati? Ayah membunuhnya?” tanya Jung Hyuk. “Katakan!” teriaknya tidak sabaran.

Dengan serius, Ayah Jung bertanya, apakah Jung Hyuk tidak mencemaskan masa depan. Dan Jung Hyuk menjawab bahwa tentu saja dia mencemaskan masa depan, karena itulah dia begini, dia tidak mau mengenang hari ini dan menyesalinya di kemudian hari. Seperti berpikir ‘Andai cepat, aku bisa melindungi.’ ‘Andai aku lebih baik, dia bisa selamat.’ Dan Ayah Jung diam.

“Ayah tahu betapa menyedihkannya menjalani hidup seperti itu,” teriak Jung Hyuk. Dan Ayah Jung teringat pada hari kematian Mu Hyuk. Saat itu dia merasa sangat sedih.

“Pada saat pulang, aku kesulitan bernapas. Aku cemas akan membahayakannya. Jika sesuatu terjadi kepadanya, aku akan hidup di neraka sampai aku mati,” jelas Jung Hyuk.

Mendengar itu, Ibu Jung langsung keluar dan menyuruh Jung Hyuk untuk bernafas. Lalu dia memarahi Ayah, dia meminta supaya Ayah tidak membiarkan putra mereka hidup menderita. Kemudian dia menarik keluar Se Ri dan mempertemukannya dengan Jung Hyuk.

“Jung Hyuk. Kamu pandai berbicara. Aku tidak pernah melihatmu banyak berbicara,” komentar Se Ri dengan mata berkaca- kaca.

Jung Hyuk mengelap air matanya, dan berjalan mendekati Se Ri. Dan Se Ri pun juga berjalan mendekati Jung Hyuk. Ketika jarak mereka berdua sudah cukup dekat, dengan perhatian Se Ri mempertanyakan, apa yang terjadi dengan wajah Jung Hyuk. Dan seperti biasa, Jung Hyuk menjawab bahwa dia tidak apa- apa.
“Siapa yang melakukan ini kepadamu?” tanya Se Ri sambil menangis.
“Maaf, aku terlambat,” balas Jung Hyuk.


Ibu Jung memperhatikan mereka berdua dengan senang. Karena Se Ri perhatian kepada putranya. Sementara Ayah Jung memperhatikan mereka berdua dengan heran, karena mereka berdua tampak seperti sepasang kekasih yang sedang berada di dunia sendiri.
“Jangan bilang begitu. Aku yang harus minta maaf. Ini semua karena aku. Aku pembawa masalah,” balas Se Ri, menyalahkan dirinya sendiri.
“Kamu bukan masalah.”
“Andai aku tidak kemari …”
“Jangan bilang begitu. Itu tidak benar,” kata Jung Hyuk dengan lembut sambil mengelap air mata Se Ri. Dan Ayah Jung merasa sangat stress.

Setelah Jung Hyuk dan Se Ri selesai saling melepas rindu. Mereka duduk menghadapi Ayah dan Ibu Jung. Dengan ketus, Ayah Jung bertanya, apakah Jung Hyuk sudah lega setelah meneriakinya. Dan seperti anak kecil, Jung Hyuk diam dan menundukkan kepalanya sambil bermain dengan tangannya karena merasa bersalah.

“Kamu harus minta maaf kepada ayahmu. Kamulah yang membuat masalah. Jangan meneriaki ayahmu begitu. Tidak sopan,” kata Se Ri dengan pelan.
“Kini kamu memihaknya?” tanya Jung Hyuk, merajuk. Dan Ayah Jung langsung memarahi Jung Hyuk yang sama sekali tidak meminta maaf.

Jung Hyuk membela diri dan menyalahkan Ayah karena tidak memberitahunya. Dan Ayah menanyakan, apakah, jika dia mengatakan nya, Jung Hyuk akan membiarkan dirinya bertemu dengan Se Ri. Lalu dia memarahi Jung Hyuk, sebab Jung Hyuk telah menyembunyikan Se Ri serta mengancam keselamatan keluarga mereka. Mendengar itu, Se Ri merasa sangat bersalah. Dan Jung Hyuk langsung membela nya, dia memberitahu bahwa dialah yang telah salah.


“Tapi dia bilang, ini semua salahnya. Katanya dia mengancammu, agar kamu tidak bisa laporkan dia ke Badan Keamanan,” kata Ayah, tidak mengerti.
“Apa …” kata Jung Hyuk, terkejut sambil memandanng Se Ri. “Itu tidak benar. Aku tidak peduli soal ancamannya. Tidak melaporkannya merupakan keputusanku,” jelasnya.
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin dia terluka. Aku tidak percaya Badan Keamanan. Entah apa yang akan terjadi saat dia di sana. Dia mungkin dilukai, digunakan, atau menghilang begitu saja. Aku ragu itu tidak akan terjadi. Sebab itu aku tidak membawanya ke sana,” jelas Jung Hyuk. Dan Se Ri merasa terharu.

Melihat Jung Hyuk dan Se Ri yang saling bertatapan seolah dunia milik berdua seperti tadi. Ayah Jung merasa tidak nyaman dan menyuruh mereka berdua untuk pergi. Dan tanpa ragu, Jung Hyuk memegang tangan Se Ri lalu menarik nya untuk pergi bersama. Dan Ayah Jung merasa terkejut.
Dengan segera, Ibu Jung berdiri dan menghentikan mereka berdua. Dia mengajak mereka berdua untuk makan malam bersama. Dan Jung Hyuk pun menarik tangan Se Ri untuk mengikuti Ibu.
“Astaga,” umpat Ayah Jung, merasa kesal.

Seung Jun dan Seo Dan bertemu di pub. Saat Seo Dan memandang wajahnya, Seung Jun menjelaskan bahwa dia baik- baik saja, lalu sekarang dia sudah tidak bisa kembali ke pondok tamu, jadi dia pun tinggal di hotel. Dan dengan sikap dingin, Seo Dan menjawab bahwa dia tidak bertanya.

Seung Jun kemudian ingin memesan makanan, karena dia sangat lapar. Sedangkan Seo Dan tidak, dia hanya meminum bir khusus saja. Bir yang kalau dinyalakan api diatasnya, apinya akan tetap menyala. Melihat sikapnya ini, Seung Jun pun merasa ngeri.
“Kamu tahu kapan kali pertamaku bertemu Jung Hyuk?” tanya Seo Dan.
“Tidak, aku tidak tertarik. Sungguh. Aku tidak bertanya, tidak berminat,” jawab Seung Jun dengan gugup. Lalu dia ingin memesan makanan, tapi Seo Dan mulai berbicara lagi. Jadi dia pun tidak jadi memesan.
“Saat usiaku 17 tahun. Kami satu sekolah.”

Flash back
Sebagai ketua kelas, Seo Dan memperhatikan dan mengarahkan teman- temannya yang sedang bekerja memoles lantai kayu menggunakan lilin. Kemudian tiba- tiba seseorang meneriakan nama Jung Hyuk, dan mendengar itu semuanya langsung berhenti bekerja serta pergi ke dekat jendela untuk melihat.

Jung Hyuk sedang bermain basket di luar. Dan bagi semua orang itu adalah hal yang langka. Namun Seo Dan tidak mengenal siapa Jung Hyuk, jadi dia pun bertanya. Lalu seorang teman menjelaskan bahwa Jung Hyuk mendapatkan tiga hadiah di Kompetisi Seni Nasional dan sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi Tchaikovsky. Karena itulah menurut mereka Jung Hyuk begitu luar biasa dan keren.

Jung Hyuk berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring. Dan mendapatkan skors untuk timnya. Melihat itu, Seo Dan merasa terpana dan tersenyum padanya. “Sejak itu, dia tidak bisa lepas dari pikiranku.”

Setiap kali berpapasan dengan Jung Hyuk di sekolah. Seo Dan selalu merasa malu dan berusaha terlihat cantik. Tapi Jung Hyuk hanya selalu tersenyum sopan dan berjalan melewati nya. Namun walau begitu, Seo Dan tetap merasa senang.
“Walau kami tidak pernah mengobrol, aku yakin kami saling kenal.”

Seo Dan pergi ke Swiss sendirian untuk pertama kalinya. Dan dia tampak sangat kaku karena tidak terbiasa serta tidak familiar dengan negara tersebut.
“Lalu keluarga kami mengatur pertunangan kami, dan aku terbang ke Swiss dengan penuh semangat, ke tempat Jung Hyuk belajar.”


Saat melihat Jung Hyuk sudah keluar dari kelas. Seo Dan merasa senang. Dengan segera dia berkaca dan merapikan penampilannya sebelum dia mendekati Jung Hyuk dan menyapa nya. Tapi sayang nya, Jung Hyuk tidak mengenalinya.
“Jung Hyuk,” panggil Seo Dan.


“Ah, Seo Dan?” tanya Jung Hyuk. Dan Seo Dan mengangguk dengan senang. “Aku pernah dengar dari Ayahku,” jelas nya.
“Kita satu SMA …”
“Senang bisa bertemu,” sela Jung Hyuk sambil mengulurkan tangannya. Dan Seo Dan pun menyalami tangan nya dengan canggung.
“Senang bisa bertemu?”
Flash back end

“Itu bukan kali pertamanya dia melihatku. Bahkan anjing di jalan akan mengenali orang yang sering melewatinya,” keluh Seo Dan dengan sedih. “Aku kenal dia lebih dahulu. Aku kenal Jung Hyuk sebelum Se Ri. Aku yang menemui dan menyukainya lebih dahulu. Tidak pentingkah itu?” tanyanya seperti meminta dukungan Seung Jun.
“Kamu bodoh. Hal semacam itu tidak penting,” balas Seung Jun.
Seo Dan mengambil gelas nya dan minum lagi. Seung Jun pun menghentikannya, sebab Seo Dan sudah terlalu banyak minum. Namun tiba- tiba Seo Dan malah berkata kasar kepadanya dan dia juga memuji bahwa Seung Jun ternyata tidak sebodoh itu. Mendengar itu, Seung Jun merasa ngeri dan ingin berkomentar. Tapi Seo Dan malah menghentikan nya dengan kata kasar.
“Aku tidak paham,” gumam Seung Jun.
“Apa maksudmu?” tanya Seo Dan yang sudah cukup mabuk.


“Kenapa Jung Hyuk tidak suka wanita menawan sepertimu?” jelas Seung Jun dengan suara keras. “Jangan pernah menghina. Itu tipe kesukaanku. Kamu membuatku berdebar-debar,” jelas nya kemudian dia mengambil gelas Seo Dan.
“Matamu cukup jeli, ya? Lumayan juga,” puji Seo Dan sambil memandang Seung Jun.
“Ya, 'kan? Aku lumayan,” kata Seung Jun dengan senang.
“Tapi apa gunanya? Kamu dicampakkan wanita itu. Jika kamu tidak dicampakkan, pasti tidak akan seburuk ini,” komentar Seo Dan. Dan Seung Jun merasa tidak terima. Tapi Seo Dan tidak mau mendengar kan nya dan meminum bir nya lagi.
Seung Jun mengendong Seo Dan pulang. Sesampainya dirumah, Seo Dan berteriak bahwa Seung Jun boleh menginap di tempatnya. Dan Ibu pun langsung memarahi Seo Dan, sebab semua tetangga bisa mendengar nantinya dan itu tidak baik.
Lalu Myeong Eun pun berniat untuk menutup pintu. Tapi sebelum dia menutup pintu, dia memergoki penjaga lift serta memperhatikannya. Jadi dia pun segera mendekati si penjaga lift.

“Aku yakin kamu melihat sesuatu,” kata Myeong Eun dengan ramah kepada si penjaga.
“Ya, aku melihat sesuatu,” jawab si penjaga dengan jujur. Tapi saat Myeong Eun memberikan selembar uang kepadanya, dia langsung mengubah perkataannya. “Aku tidak ingat apa yang kulihat.”
“Kau mungkin tidak ingin mengingatnya,” jelas Myeong Eun dengan ketus.

Sebelum Myeong Eun keluar dari dalam lift. Si penjaga mengungkit tentang tunangan Seo Dan, yaitu Jung Hyuk. Dan mendengar itu, Myeong Eun pun memberikan beberapa uang lagi kepadanya.
“Aku tidak ingat apa pun,” kata si penjaga dengan cepat.

Myeong Eun masuk kembali ke dalam rumah. Dan dia merasa heran, dimana Seung Jun. Dia memeriksa rumahnya, tapi dia tidak menemukan dimana Seung Jun.

Seung Jun berjalan pulang dengan sempoyongan. Dia merasa pinggang nya sangat sakit sekali sehabis dia menggendong Seo Dan pulang. Lalu tiba- tiba hp nya berbunyi dan dia pun mengangkatnya.
“Ya, ini aku … apa?”
Se Ri tidak bisa tidur. Dan saat Jung Hyuk masuk ke dalam kamar, dia langsung bangun dengan gugup. Dia menjelaskan kepada Jung Hyuk bahwa karena dia berada di kamar dan dirumah orang lain, maka dia merasa gugup serta tidak nyaman.

“Kamu merasa gugup dan tidak nyaman, jadi, memainkan piano semalaman?” tanya Jung Hyuk.
“Ibumu bilang kepadamu?” balas Se Ri, terkejut. “Itu … Ada banyak yang aku pikirkan. Saat merasa depresi, aku menenangkan diri dengan seni. Itu kebiasaanku,” jelas nya. Dan Jung Hyuk hanya tersenyum.

Se Ri kemudian duduk lebih mendekat kepada Jung Hyuk. Dia bertanya, apakah Jung Hyuk ingin menjadi pianis. Dan Jung Hyuk menjawab bahwa itu semua adalah masa lalu. Se Ri lalu berjalan ke arah piano, dia menjelaskan bahwa ini adalah lagu yang dimainkan nya semalam dan dia ingin tahu apakah Jung Hyuk tahu lagu itu. Sambil tersenyum Jung Hyuk pun diam dan mendengarkan.

Se Ri mulai memainkan piano nya. “Aku tanyakan semua orang yang paham soal musik, tapi tidak ada yang tahu,” jelas Se Ri. Lalu dia lanjut bermain. Dan Jung Hyuk merasa terkejut mendengar nada itu.
“Kamu tahu lagu ini dari mana?” tanya Jung Hyuk sambil mendekat ke Se Ri.
“Aku dengar seseorang memainkannya saat aku di Swiss. Aku suka lagunya, jadi, kuhafalkan. Tapi aku tidak tahu itu lagu siapa,” jelas Se Ri. “Tempat itu penuh salju dekat danau indah. Apa namanya?” pikirnya mengingat- ngingat.
“Iseltwald,” jawab Jung Hyuk. Dan Se Ri terkejut, karena itu benar.

Jung Hyuk diam dan duduk di samping Se Ri. Lalu dia mulai memainkan piano tersebut. Dan Se Ri kagum sebab itu benar lagu yang di ingatnya. Dengan bersemangat, Se Ri pun menanyakan siapa nama penulis lagu tersebut dan apa judul nya.

“Saat itu di sore hari. Dan tempatnya berkabut,” kata Jung Hyuk, mulai bercerita. “Aku mau meninggalkan Swiss setelah mendengar kabar kematian kakakku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku menulis lagu untuk kakakku, dan aku memainkannya di danau untuk yang pertama dan terakhir,” jelas Jung Hyuk. Dan Se Ri merasa tidak menyangka.

Jung Hyuk kemudian mulai memainkan musik tersebut dengan lincah nya. Dan Se Ri duduk diam disamping nya serta mendengarkan permainan nya. Dia mengingat bahwa ini adalah lagu yang sama persis yang didengar nya pada hari itu, saat dia berada di Swiss. Lalu akhirnya dia pun mengingat bahwa orang yang memainkan lagu tersebut, orang itu benar adalah Jung Hyuk.




Se Ri merasa kalau dirinya seperti kembali pada saat itu. Begitu juga dengan Jung Hyuk. Dan disana mereka berdiri diam sambil saling bertatapan. Semakin lama jarak mereka semakin dekat.

“Maksudmu, kamulah orang yang memainkan lagunya pada hari itu?” tanya Se Ri, masih tidak menyangka. Dan Jung Hyuk menganggukan kepalanya. “Bagaimana bisa… Sulit kupercaya. Pada hari itu, aku sungguh kesepian. Aku sungguh berharap mati saat itu. Aku ingin pergi ke tempat yang indah dan menghilang diam-diam, agar aku tidak mengganggu orang lain. Sebab itulah aku ke sana. Tapi kamu... ada di sana. Bahkan saat kamu tidak mengetahuinya, kamu menyelamatkanku,” kata Se Ri sambil tersenyum dan menangis dengan bahagia.
“Dengar baik- baik. Besok kamu akan pulang,” balas Jung Hyuk dengan tegas. Dan senyum Se Ri menghilang.

Cheol Gang pergi ke lapangan tenis dan menunggu sampai Direktur Militer selesai bermain tenis.

Cheol Gang memberikan data tentang mobil yang menculik Se Ri kemarin kepada Direktur Militer. Dia menjelaskan bahwa dia sudah memeriksa mobil tersebut. Dan ternyata mobil tersebut menggunakan plat nomor sementara, saat mereka mencoba melacaknya, mobil tersebut pergi ke arah Seojaegol dan lalu menghilang. Disanalah tempat tinggal Direktur Biro Politik Umum.

“Anggaplah wanita itu naik mobil ke sana. Kita tidak tahu apakah dia masih di sana. Dia mungkin sudah dibunuh,” kata Direktur Militer, berkomentar.
“Petugas keamanan di Seojaegol merupakan teman kampusku, jadi, aku sudah menyelidiki nya. Kudengar ada mobil yang masuk, tapi tidak ada yang keluar,” jelas Cheol Gang. “Pak. Jika ke sana sekarang, kamu bisa menyingkap kabar besar,” katanya menyakinkan Direktur Militer.

Direktur Militer dan Cheol Gang serta para pasukannya. Mereka datang ke rumah tempat tinggal Ayah Jung. Sebelum masuk, Direktur Militer menghubungi Ayah Jung dan memberitahu nya bahwa dia ingin bertemu serta dia sudah berada di depan rumah Ayah Jung.


Didalam rumah. Direktur Militer bersikap hormat kepada Ayah Jung. Dia meminta maaf karena sudah datang tiba- tiba. Dan dengan tenang, Ayah Jung meminum teh nya, lalu dia memandang ke arah Cheol Gang yang berdiri di samping Direktur Militer.
“Kita pernah bertemu, 'kan?” tanya Ayah Jung.
“Ya, Pak. Kita bertemu di bangsal Ri Jung Hyuk,” jawab Cheol Gang.

Ayah Jung kemudian mempertanyakan, kenapa mereka berdua datang bersama. Dan Direktur Militer menjelaskan bahwa Cheol Gang melaporkan kepadanya kalau ada sesuatu yang aneh. Yaitu orang yang sedang dicari oleh Badan Keamanan sedang berada di rumah Ayah Jung. Jadi dia ingin memeriksa apakah itu benar atau tidak.
“Maksudmu, kamu mau menggeledah rumahku?” tanya Ayah Jung.
“Tidak. Aku tidak akan berani. Tapi jika orang itu bersembunyi di sini, orang itu bisa melukaimu. Itu bisa berakibat fatal,” jawab Direktur Militer dengan penuh maksud.
“Terima kasih sudah mencemaskanku,” balas Ayah Jung dengan tenang.
Cheol Gang menunjukkan surat permohonan darurat dari Badan Keamanan kepada Ayah Jung. Dan dia meminta izin untuk memeriksa rumah Ayah Jung. Dan Ayah Jung hanya diam saja.
Para petugas yang dibawa oleh Cheol Gang mulai pergi ke sekeliling rumah dan memeriksa satu persatu tempat serta ruangan yang ada disana. Bahkan Cheol Gang juga ikut memeriksa.
Sersan Pyo merasa sulit percaya dengan pergantian darurat untuk kompi mereka. Ju Meok juga merasa kan hal yang sama, dia mengira karena Jung Hyuk merupakan putra dari petinggi, maka mereka akan mendapatkan keuntungan, tapi yang mereka dapatkan malah ini. Dan dia merasa kecewa. Eun Dong juga merasakan hal yang sama, karena seharusnya mereka mulai bertugas pada musim semi depan.
“Hei. Kita ditipu Kapten Ri,” kata Sersan Pyo dengan kesal. “Pikirkanlah. Jika dia sungguh putra Direktur Biro Politik Umum, kenapa dia ditembak di jalan dan dipenjarakan? Dia mungkin berbohong karena harapan pribadinya, bahwa di kehidupan berikutnya, dia ingin terlahir menjadi putra Direktur Biro Politik Umum, dan kita semua tertipu olehnya,” jelasnya. Dan Ju Meok serta Eun Dong percaya padanya.

Sementara Letnan Park, dia tampak sangat malas mendengarkan obrolan mereka semua. Menyadari itu, Ju Meok pun bertanya, kenapa Letnan Park diam saja, apakah Letnan Park ada mendengar sesuatu dari Jung Hyuk. Dan Letnan Park diam.
Para Ibu- ibu berkumpul dirumah Young Ae dan bergosip. Disana Young Ae memberitahukan permintaan aneh Jung Hyuk kepada suaminya.

Flash back
“Aku ingin meminta bantuanmu,” kata Jung Hyuk.
“Baiklah. Apa itu? Katakan saja,” tanya Letkol Senior dengan senang.
“Tolong masukkan kompiku ke pergantian darurat,” kata Jung Hyuk dengan tegas.
Flash back end
Para Ibu- Ibu merasa heran, kenapa Jung Hyuk meminta hal seperti itu. Kepadahal ini adalah musim dingin. Dan mereka pun mulai bertanya- tanya, apakah mungkin Jung Hyuk sudah menjadi gila setelah masuk ke dalam penjara.

Cheol Gang tidak bisa menemukan apapun.



Letnan Park menjelaskan kepada semuanya bahwa Jung Hyuk akan membawa Se Ri ke garis perbatasan. Oleh karena itu, Jung Hyuk meminta pergantian darurat. Sehingga Se Ri bisa kembali ke tempat asalnya. Dan mereka semua akhirnya pun mengerti alasan Jung Hyuk.
“Kurasa kamu ada benarnya. Tidak ada yang paham daerah itu selain kita. Maksudku, kita juga menjaga posnya,” komentar Sersan Pyo.
“Kita menyapu daerah itu, dan Kapten Ri penanggung jawabnya,” tambah Eun Dong.
“Daerah itu merupakan daerah kita,” kata Eun Dong menegaskan.
Jung Hyuk bersiap- siap.
Jung Hyuk bersama anggota kompinya memasuki daerah perbatasan.

Direktur Militer merasa gugup, karena mereka tidak bisa menemukan apapun. Dan dia meminta maaf kepada Ayah Jung. Kemudian dia menendang kaki Cheol Gang dan memarahinya dengan kesal.

“Bukankah Jung Hyuk mengunjungimu? Bukankah dia menyembunyikan wanita itu?” tanya Cheol Gang dengan berani.
“Hei!” bentak Direktur Militer.


Ayah Jung menggaruk kepalanya. Dan lalu dia bertanya, apakah Cheol Gang belum dengar kabar terbaru tentang adanya pertukaran kompi darurat di karenakan pembelot di Garis Perbatasan. Jadi sekarang Jung Hyuk sedang ada disana sebagai kapten kompi nya.
Mendengar itu, Direktur Militer langsung meminta maaf sekali lagi kepada Ayah Jung.
“Itu tempatnya. Dia ke garis perbatasan untuk kembalikan wanita itu ke Selatan,” kata Cheol Gang, menebak dengan benar. Tapi Direktur Militer sudah tidak percaya padanya dan menyuruhnya untuk diam. “Aku pasti benar. Kemungkinan mereka memasuki zona demiliterisasi,” jelas nya dengan sangat yakin kepada Direktur Militer.

Direktur Militer langsung memukuli kepala Cheol Gang supaya dia diam. Kemudian dia meminta maaf kepada Ayah Jung dan memerintahkan anak buah nya untuk membawa Cheol Gang pergi. Lalu dia pun pamit kepada Ayah Jung dan pergi juga darisana.


Jung Hyuk bersama empat anggota kompinya berjalan bersama dengan Se Ri ke tempat mereka. Yaitu tempat dimana menginap selama bertugas disana. Disana Sersan Pyo mengeluarkan alkohol yang disembunyikan nya, dan dia ingin meminumnya dengan alasan itu adalah obat.
“Sersan Kepala Pyo,” tegur Jung Hyuk, memperingatkan. Dan Sersan Pyo pun tidak jadi meminum alkohol tersebut.

No comments:

Post a Comment