Monday, February 24, 2020

Sinopsis J- Drama : Theseus No Fune Episode 2 - part 2

0 comments

Original Network  : TBS
Shin tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Suzu dengan Kazuko.
“Aku tidak percaya dia bilang bahwa walaupun Shin-san telah menyelamatkannya,”  keluh Suzu.
“Adiknya baru saja meninggal. Dia pasti jadi gelisah. Cobalah mengerti,” jelas Kazuko, menasehati. Tapi Suzu tidak peduli dan berharap kalau Akane meninggal saja. Mendengar itu, Kazuko langsung menampar Suzu dan memarahinya. Dengan kesal, Suzu pun berlari pergi.


Shin menghampiri Kazuko dan meminta maaf padanya. Dengan ramah, Kazuko membalas bahwa Shin tidak perlu meminta maaf, karena dia hanya sedang mendisplinkan putrinya saja. Dia lalu memperlihat kan foto keluarga mereka yang robek.



“Pada festival desa tahun lalu, kami memenangkan kompetisi keluarga. Hadiah nya adalah kepiting, sehingga Suzu sangat bersemangat,” cerita Kazuko.
“Kamu memiliki keluarga yang bahagia. Setiap orang selalu tersenyum,” komentar Shin. Dan Kazuko tertawa gembira.
“Menjadi keluarga yang bahagia adalah salah satu kualitas yang kami miliki. Tapi… selama anak- anak bisa tertawa, aku tidak akan meminta apapun lagi. bahkan jika aku tidak bisa punya kaus kaki baru.”

15 Januari 1989. Pagi.
Shin datang ke depan kamar Suzu yang masih tertutup. Dia meminta maaf kepada Suzu, karena dia telah membuat Suzu merasa buruk kemarin. Serta dia memberitahu Suzu tentang perkataan Kazuko kemarin yang berharap supaya anak- anak nya bisa tumbuh bahagia. Mendengar itu, Suzu membuka pintu kamarnya. Dan melihat itu, Shin tersenyum padanya.
Shin mengambil sesuatu dari kantongnya dan memberikan itu kepada Suzu.
Seseorang mengetikkan pesan di komputer. Mood ku hari ini sedang buruk. Aku butuh selingan. Hari ini adalah hari itu. Hari ini bagus.


Sasaki mengajak Hasegawa untuk mendiskusikan tentang pernikahan mereka. Tapi Hasegawa tidak mau dan mendorongnya. Sehingga Sasaki menabrak lemari dan terjatuh dengan kesakitan. Namun walaupun begitu, Hasegawa tidak peduli, dia mengambil kamera nya dan juga botol kaca kecil diatas meja, kemudian dia pergi.
Masashi membujuk Ayahnya, Tanaka, untuk memeriksa kan kesehatan ke dokter. Tapi Tanaka tidak mau, sebab dia tidak merasa terlalu buruk. Dan Sano pun ikut membujuk Tanaka, dia menjelaskan bahwa dia telah mengaturkan pertemuan dengan dokter. Jadi Tanaka pun akhirnya setuju. Mendengar itu, Shin menghela nafas lega.
“Baiklah, disana masih ada beberapa pekerjaan sampai sore. Aku akan memelahkan kayu bakar, okay?” kata Sano, menawarkan bantuan. Dan Masashi mengiyakan.
Sano memelahkan kayu bakar di rumah Tanaka.

Shin membantu menyiapkan makan malam sambil sesekali melihat ke arah jam di dinding.

Suzu memandangi gantungan kunci dari Akane. Dia mengingat tentang pengtengkaran nya dengan Akane dan dia merasa sedih. Lalu dia mengingat tentang perkataannya yang mengharap kan supaya Akane meninggal dan dia merasa menyesal.

Kazuko memaksa di dapur. Lalu dia melihat ke arah jam di dinding.
Dokter datang untuk memeriksa kesehatan Tanaka.
Shin berkeliling di sekitar luar rumah dan memeriksa keadaan di sekitar. “Seseorang harus mengatur kan itu di suatu tempat, jika itu pembakaran.”

Tiba- tiba terdengar sesuatu dan Shin pun merasa waspada. Dia mengambil cangkul yang di temukan nya di tanah dan pergi ke arah sumber suara. Tapi ternyata itu adalah suara kucing yang sedang mengorek kantong sampah. Melihat itu, Shin merasa lega serta lemas.

Dokter sudah pulang. Dan menurut pemeriksaan kesehatan Tanaka baik- baik saja. Tanaka kemudian ingin pergi ke kamar mandi, tapi saat berjalan, dia tidak sengaja menabrak tas Shin dan hampir saja terjatuh. Dengan panik, Masashi langsung membantu nya dan mengomelinya supaya berhati- hati. Dan Tanaka mengiyakan sambil terus berjalan.
Sano membantu mengangkat kan tas Shin yang terjatuh. Dan disaat itu, tanpa sengaja dia menemukan buku kliping milik Shin.

Saat Shin kembali ke dalam rumah, dia terkejut melihat Sano sedang memegang buku kliping nya. Jadi dia pun langsung merebut buku tersebut dan menyimpannya.

Telpon rumah berbunyi dan Tanaka mengangkatnya. “Tidak, putrimu tidak datang tapi Sano-san ada disini… aku akan memberikan padanya…”
Tanaka lalu memberikan telponnya kepada Sano.

Dengan nada khawatir, Kazuko memberitahu Sano bahwa Suzu barusan pergi untuk bertemu dengan Akane, tapi sampai sekarang Suzu belum pulang juga. Dia sudah menghubungi keluarga Akane, tapi ternyata Akane juga belum pulang.
Mendengar itu, Sano merasa sangat khawatir. “Suzu belum pulang. Akane-chan juga,” katanya, memberitahu. Dan Shin terkejut.

“Akane- chan akan menghilang besok.” Pikir Shin. Lalu dia teringat sesuatu dan mengambil gambar aneh yang di simpannya. “Sano-san, mungkinkah ini berhubungan? Ini Suzu dan Akane-chan?” tanyanya. Kemudian dia bersiap untuk pergi, “Mari cari mereka.”

“Masashi,” panggil Sano. “Kami harus pergi. Hati- hati dengan api dan jangan pergi dari rumah,” jelasnya dengan cepat. Lalu dia pergi dengan Shin. Dan dengan bingung, Masashi mengangguk.

Sano dan Shin pergi mencarai Suzu serta Akane secara terpisah. Para warga desa juga membantu mencari.
Shin bertemu dengan Hasegawa. Jadi dia pun memanggilnya. “Hasegawa-san, Suzu dan Akane-chan menghilang. Apakah kamu tahu dimana mereka?” tanyanya. Dan dengan lemas, Hasegawa menggoyangkan kepalanya tanda tidak tahu. “Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Shin heran, saat melihat sikap anehnya.

“Aku mencari Akane-chan,” jawab Hasegawa. “Aku telah mengenal dia sejak dia masih sekecil ini. Aku menggantikan popok nya. Memandikan dia. Menjaga dia,” jelas nya dengan tidak fokus.
“Apa kamu baik- baik saja?” tanya Shin, heran serta perhatian. Dan Hasegawa tidak menjawab, dia berjalan pergi dan menghilang di tengah hujan salju.


Sano menghampiri Shin dan menanyakan, apakah ada tanda. Dan Shin diam, dia mengingat tentang berita di buku kliping yuki serta gambar aneh dari buku Tanaka. “Mengapa Suzu juga?” gumamnya bertanya pada diri sendiri.
“Suzu juga?” tanya Sano, mendengar gumaman itu. “Apa maksudmu? Jangan bilang, kamu tahu sesuatu tentang ini?”
“Tidak…” kata Shin, kesulitan untuk menjelaskan. “Tapi hanya Akane-chan yang seharusnya menghilang besok. Masa lalu telah berubah.”


“Masa lalu telah berubah? Shin-san buku catatan yang kamu bawa. Bisakah kamu tunjukan itu padaku? Aku melihat isinya saat aku memungut nya barusan. Apa masa depan tertulis disana?” tanya Sano dengan penasaran.
“Aku tidak akan pernah memberitahu nya tentang masa depan nya.” 
Melihat Shin terdiam, Sano merasa yakin kalau tebakannya benar, jadi dia meminta Shin untuk menunjukkan buku itu padanya, mungkin saja di buku tersebut dia bisa menemukan petunjuk. Tapi Shin menolak. Dan Sano merasa bingung kenapa tidak boleh. Dia lalu ingin merebut tas Shin dan mengambil buku tersebut. Dan Shin melawan.
“Mengapa kamu tidak bisa menunjukkan nya padaku?! Kamu tidak mempercayaiku?!” tanya Sano. “Hidup Suzu sedang di pertaruhkan sekarang!” teriaknya marah. “Dia mungkin orang asing untukmu, tapi dia keluargaku yang berharga!” katanya frustasi.
“Aku tidak bisa menunjukkan nya padamu!” teriak Shin, menolak.
Dengan tidak sabaran, Sano memukul Shin. “Ada apa? Apa yang kamu rencanakan?! Aku tidak bisa mempercayai mu lagi.”
Sebelum Sano sempat mengambil tas Shin, seorang warga bernama Izawa Kenji, dia datang dan memanggil nama Sano dengan keras. “Suzu-chan …” katanya. Dan Sano pun segera mengikutinya.
Suzu menceritakan kepada semuanya bahwa dia janjian dengan Akane untuk bertemu di stasiun bus, tapi Akane sama sekali tidak datang. Jadi dia tidak ada bertemu dengan Akane. Mendengar itu, Kanemaru memainkan mancis di tangannya dan berpikir. Sedangkan kedua orang tua Akane merasa tambah cemas.

Kanemaru memperhatikan Shin dan mendekatinya. “Kemana kamu membawa dia? Kamu gurunya. Membujuk dia untuk keluar akan mudah kan? Atau…” katanya, lalu dia berbisik di dekat telinga Shin. “Kamu membunuhnya?”

“Aku tidak adan melakukan apapun,” jelas Shin dengan frustasi. Karena setiap orang menatap curiga padanya. Dan bahkan Sano tidak mau membantu nya. Lalu dia pun pamit untuk pergi mencari Akane.

Akane berada di dalam sebuah gudang kayu yang dikunci dengan rantai dari luar. Dia menangis. “Aku ingin pulang. Tolong! Seseorang tolong aku!” teriaknya.

Cahaya kecil yang masuk dari lubang di pintu tiba- tiba menghilang dan melihat itu, Akane pun mendekat ke arah pintu untuk melihat. Dan saat dia mengintip dari lubang tersebut, dia merasa sangat terkejut karena melihat mata seseorang disana.
“Mengapa kamu membawa ku ke sini? Keluarkan aku dari sini!” pinta Akane.


Para warga merasa cemas, karena mereka telah mencari ke setiap sudut desa, tapi mereka masih belum bisa menemukan Akane. Dan mereka berharap supaya dimalam yang dingin ini, Akane akan baik- baik saja. Lalu tepat disaat itu, Sano pulang.
“Dimana dia?” tanya Sano.
“Shin-san belum pulang.”

Shin masih mencari Akane.
Dari jauh, Kanemaru dan Kiyohiko memperhatikan tindakan Shin. Menurut Kiyohiko, Shin tampak tulus mencari Akane. Tapi Kanemaru tetap merasa curiga kepada Shin, dia yakin Shin memiliki beberapa rahasia dan dia ingin tahu.

16 Januari 1989
Shin pulang dengan lemas ke rumah Sano.
Melihat kepulangannya, Kazuko langsung keluar dari dapur dan menyambut nya. “Sarapan segera siap, mari hangatkan diri dulu,” katanya dengan perhatian.
“Tidak apa. Aku hanya kembali untuk menukar pakaian saja,” balas Shin dengan lemas.


Tepat disaat itu, Sano keluar dari dalam kamar. Dan melihat dia, Shin menghindarinya. Begitu juga dengan Sano. Dan Kazuko merasa heran ada apa.

Shin lanjut mencari Akane. “Dimana kamu Akane-chan?” pikir Shin dengan lelah. Lalu dia mengambil gambar aneh yang di simpannya dan melihat nya lagi.

Para warga dan polisi mencari Akane. Lalu disaat itu, Sano mendapatkan laporan bahwa ditemukan sepasang sarung tangan di dekat sungai Otousu.
Kedua orang tua Akane melihat sarung tangan itu dan mereka memastikan bahwa itu bukanlah sarung tangan milik Akane. Dengan sedih, Ibu Akane menangis, karena dia merasa sangat khawatir.

“Shin sensei tahu sesuatu benarkan? Itu sama dengan Chinatsu! Setiap orang bilang dia tidak bisa dipercayai! Apa yang akan kamu lakukan, Sano-chan?!” tanya Ibu Akane dengan frustasi.

Kazuko dan Suzu mendengar itu dari dalam rumah. Mereka merasa khawatir.
Shin duduk di dekat bangku taman sambil memeluk tubuhnya yang merasa kedinginan. “Apa tidak mungkin untuk mengubah masa lalu? Pada tingkat ini, Akane- chan mungkin akan…”

Kazuko datang menemui Shin. Dia memberikan segelas minuman hangat padanya. Dan Shin menerima minuman itu dan meminumnya. “Aku ingin menemukan Akane-chan sesegera mungkin. Tapi tidak peduli kemana aku pergi, aku tidak menemukan tanda keberadaannya. Dia pasti sedang kesulitan dalam cuaca sedingin ini,” kata Shin dengan cemas.
Kazuko diam dan berpikir. Lalu dia tersenyum. “Ikut dengan ku,” ajak nya.
Sano merasa sangat stress. Dia menyimpan sarung tangan tersebut ke dalam amplop. Dan kemudian dia diam sambil berpikir dengan keras.

Suzu menemui Sano. “Kamu pasti akan menemui Akane-chan kan?” tanyanya. Dan Sano mengiyakan sambil tersenyum menenangkan. Lalu Suzu lanjut berbicara lagi, “Aku tidak berpikir Shin-san adalah jenis orang yang setiap orang bicarakan. Ini,” jelas nya sambil menyerahkan sesuatu.

No comments:

Post a Comment