Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 11 - part 2


Network : tvN Netflix

Wol Suk, Ok Geum, Myeong Sun, dan Young Ae. Mereka berempat berdandan sangat cantik dan pergi ke tempat peramal. Wol Suk menjelaskan bahwa peramal ini sangat bagus karena selama 5 tahun ini, peramal itu meramalkan kalau suami nya akan gagal di promosikan, dan semua itu benar.

Ditempat peramal. Wol Suk, Myeong Sun, dan Young Ae. Mereka bertiga masuk duluan untuk diramal. Sementara Ok Geum berjaga diluar untuk memastikan semuanya aman. Sebab si peramal sangat takut akan tertangkap, karena dua temannya sudah ada yang ditangkap.

“Tapi kamu peramal andal, kenapa tidak bisa lihat masa depan sendiri?” tanya Myeong Sun, heran. Dan Young Ae langsung menyenggol bahunya supaya diam.
“Dia melayani hantu Korea Selatan. Jadi dia tidak pandai memprediksi berbagai hal mengenai petugas kontrol dan penjara,” jelas Wol Suk. “Tapi mengenai uang, anak-anak, promosi suami, dan kesehatan, dia sangat andal,” puji Wol Suk. Dan si peramal merasa senang.

Proses ramalan di mulai. Si peramal menggoyang- goyangkan lonceng yang tidak bersuara, karena jika suara bel nya terdengar keluar, maka petugas bisa datang dan menangkap nya. Dan semuanya pun mengiyakan. Lalu setelah ritual di mulai, si peramal mulai bertingkah seperti kesurupan. “Kalian dalam masalah,” katanya dengan logat selatan. Dan mereka terkejut.

“Suamimu pergi ke tempat yang jauh,” kata si peramal. Dan mereka bertiga kaget, karena itu benar, suami Myeong Sun, yaitu Man Bok, dia benar sedang pergi ke pyongyang selama sebulan untuk menjalankan misi. “Dia bukan di Pyongyang. Dia pergi lebih jauh,” jelas si peramal dengan yakin. Lalu dia bersikap seperti anak kecil yang kaget. “Kurasa dia tidak akan kembali.”

Mendengar itu, mereka bertiga merasa kaget. Apalagi Myeong Sun. “Apa maksudmu? Kenapa dia tidak akan kembali?” tanya Young Ae dengan heran.
“Kamu sendiri punya masalah,” kata si peramal kepada Young Ae. “Akan ada pertumpahan darah di desa ini,” jelas nya.

“Aku takut. Aku mau manisan,” kata si peramal sambil merengek seperti anak kecil. Dan Wol Suk pun segera memberikan manisan di meja padanya.


Setiap orang yang berhubungan dengan Cheol Gang di tangkap. Salah satu nya adalah Kolonel Senior, yaitu suami Young Ae. Teman Cheol Gang di pyongyang. Letnan yang membebaskan Cheol Gang saat dipenjara. Mereka semua di tangkap.


Cheon membangunkan Seung Jun yang masih tidur dengan nyenyak. Dia menyuruh Seung Jun untuk segera berkemas dan pergi. Sebab Cheol Gang yang menyokong mereka sudah tertangkap. Termasuk bisnis penjagaan mereka. Lalu sekarang Cheol Gang menghilang saat akan dibawa ke penjara, tidak di ketahui apakah dia masih hidup atau tidak, karena itu semua nya di tangkap. Dan Cheon yakin kalau mereka akan mati jika tertangkap.
Mendengar itu, Seung Jun merasa panik dan bingung. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya.
“Ini karena Ri Jung Hyuk. Jika kamu tidak membantunya, Cho Cheol Gang tidak akan tertangkap,” keluh Cheon, menjelaskan.

“Kamu menyalahkanku lagi? Ini salahku?” protes Seung Jun. Tapi kemudian dia melunak. “Ini salahku. Kamu tidak akan meninggalkanku, 'kan? Hei, Kak. Jangan tinggalkan aku,” pintanya.
“Cepat kemas barangmu!” bentak Cheon.


Tepat didepan lift. Petugas datang dan menahan Cheon. Tapi sebelum mereka menangkap Cheon dan membawanya, Cheon secara diam- diam melemparkan pasport kepada Seung Jun yang bersembunyi dibelakang nya. Lalu dia memberikan tanda supaya Seung Jun cepat pergi.
Seung Jun memungut pasport yang di lemparkan padanya itu. Dan pergi melalu arah lain.
Ayah Jung membaca surat yang di tinggalkan oleh Jung Hyuk sebelum pergi ke Selatan.

Ayah. Maafkan aku terpaksa memberi tahu Ayah seperti ini.
Cho Cheol Gang, pria yang menghilang saat kecelakaan itu, dialah yang membunuh kakakku. Dia juga mengincar wanita yang kucintai. Setelah kami punya bukti bahwa dia kabur ke Selatan, aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak bisa membiarkannya melukai orang lain yang paling kucintai.
Jika terjadi lagi, aku tidak bisa memaafkan diriku seumur hidup. Tersisa satu bulan lagi sampai pergantian kompi. Aku janji akan kembali sebelum itu. Jangan khawatir.

Setelah membaca surat tersebut, Ayah Jung langsung membakar nya sampai menjadi abu.
Ibu Jung dengan cemas menanyakan kepada Ayah, apakah sudah ada kabar dari Jung Hyuk. Dan Ayah menghela nafas capek, dia menjelaskan bahwa tidak mudah untuk menemukan atau menghubungi Jung Hyuk. Kemudian dia mulai mengumpat Jung Hyuk karena membuat keluarga mereka berada di situasi berbahaya sekarang. Sebab jika Jung Hyuk sampai ketahuan, maka keluarga ini akan habis.

“Kamu hanya peduli soal itu?!” bentak Ibu Jung, emosi. “Setelah semua air mata itu, reputasimu lebih penting dari anakmu? Jangan biarkan jabatanmu membuatku kehilangan putra lagi. Jika tidak, aku akan langsung bunuh diri. Pertahankanlah jabatan tinggi itu sendiri sampai mati,” ancam nya. Lalu dia mulai menangisi Jung Hyuk.
Se Ri menukar password rumah nya dengan yang baru. Bahkan dia menambahkan sidik jari juga untuk membuka nya. Dan saat dia melakukan itu, dia meminta kepada petugas keamanan untuk menambah kan sidik jari Jung Hyuk juga.
“Aku? Tapi aku akan pergi,” kata Jung Hyuk, bingung.
“Lakukan saja.”

Ditempat parkir. Se Ri menjelaskan bahwa dia mengerti kalau Jung Hyuk akan pergi, tapi saat disini, Jung Hyuk harus selalu berada di dekatnya. Lalu dia menawarkan Jung Hyuk untuk berganti pakaian dengan yang baru. Dan Jung Hyuk menolak, sebab dia merasa itu tidak perlu. Tapi Se Ri memaksa.


Sebelum masuk ke dalam mobil. Jung Hyuk mengetuk mobil sebentar, karena dia musim dingin, biasanya akan ada hewan liar yang masuk ke dalam mesing untuk berlindung dari cuaca dingin. Dan Se Ri tertawa, sebab mereka sedang ada di tempat parkir basemen, jadi tidak mungkin ada hewan liar. Tepat disaat dia mengatakan itu, seekor kucing keluar dari dalam mobilnya. Dan mereka berdua terkejut.
“Kenapa terkejut, padahal kamu yang mengetuk?” tanya Se Ri sambil tertawa.
“Aku tidak menduga akan ada,” balas Jung Hyuk sambil tertawa juga.


“Syukurlah kau melakukannya. Mulai sekarang, aku akan mengetuk mobil di musim dingin … “ kata Se Ri sambil mengetuk mobilnya dengan pelan. Tapi kemudian dia berhenti dan Jung Hyuk merasa bingung ada apa. “Aku harus bagaimana? Kamu akan pergi, tapi aku akan ditinggal sendirian, dan mengetuk di musim dingin. Saat mengetuknya, aku akan mengingatmu karena kamu mengajariku. Saat kamu tinggal di sini, sebaiknya jangan lakukan apa pun. Jangan buat aku teringat kepadamu,” keluh Se Ri dengan sedih.
“Aku akan berusaha tidak melakukan apa pun,” janji Jung Hyuk, mengerti.


Se Ri membawa Jung Hyuk ke depatermen store. Dia menyuruh Jung Hyuk untuk mencoba beberapa baju. Dan Jung Hyuk pun mencobanya. Melihat betapa keren nya Jung Hyuk memakai baju pilihannya, Se Ri merasa sangat terpesona. Tapi kemudian pelayan toko malah dengan genit mendekati Jung Hyuk dan memuji- mujinya. Sehingga Se Ri pun merasa cemburu dan tidak jadi menjadi membeli baju yang itu.
Se Ri memberikan baju lain kepada Jung Hyuk dan menyuruhnya untuk mencoba. Dan seperti sebelum nya, Se Ri terpesona lagi oleh Jung Hyuk. Tapi pelayan toko merusak suasana hatinya lagi. Dengan posesif Se Ri menghalangi pelayan toko dari Jung Hyuk. “Tidak begitu bagus dari belakang,” komentar nya. Kemudian dia menyuruh Jung Hyuk mencoba setelan yang lain. Dan Jung Hyuk merasa sangat capek, tapi dia tetap melakukannya juga.


Saat Jung Hyuk sedang berganti pakaian. Pelayan toko mendekati Se Ri dan memuji betapa keren nya suami Se Ri. Mendengar kata suami, Se Ri merasa sangat senang, dan menjawab dengan malu- malu kalau Jung Hyuk bukanlah suami nya.
“Jadi, dia masih jadi pacarmu,” tebak si pelayan toko. Dan Se Ri tidak menyangkal. “Aku cemburu sekali. Dia tadi menatapmu dengan tatapan manis. Dia tampak sangat manis.”
“Itu…  Dia bukan pria yang semanis itu,” balas Se Ri dengan malu- malu. Lalu dia pun memutuskan untuk membeli semua pakaian yang telah Jung Hyuk coba sebelumnya. Dan beberapa kemeja juga.

Saat Se Ri akan membayari pakaiannya, Jung Hyuk merasa terkejut dan meminta Se Ri untuk jangan membeli terlalu banyak. “Sudah kubilang, aku burung layang-layang. Bukan sekadar burung. Aku burung yang mewah. Kamu petani beruntung yang menolong nyawanya. Mari mulai membuka hadiahmu dengan kartu hitam ini,” kata Se Ri dengan bangga. Lalu dia memberikan kartu nya kepada pelayan toko.



Se Ri membelikan banyak sekali pakaian untuk Jung Hyuk. Dan dia berjalan dengan bangga di sebelah Jung Hyuk sambil tersenyum senang.

Jung Hyuk membuka kan pintu mal kaca untuk Se Ri lewat. Lalu dia ingin menutupnya, tapi saat dia melihat sepasang pasangan tua ingin keluar juga, dia pun menahan kan pintu untuk mereka. Lalu dia melihat seorang Ibu dengan bayi, dan dia menahan kan pintu untuk nya juga. Begitulah seterusnya. Para wanita muda yang melihat itu dari jauh, mereka merasa sangat terpesona kepada ke tampanan Jung Hyuk dan memotret nya.

Se Ri tidak sadar kalau Jung Hyuk tidak ada di belakangnya. Setelah dia berbicara panjang lebar dan tidak ada yang menanggapi, barulah dia sadar kalau Jung Hyuk masih berdiri di dekat pintu mall. Dan dia pun langsung menghampirinya.

“Kamu sedang apa?” tanya Se Ri dengan bingung. “Ayo.”
“Tunggu sampai bayi itu keluar,” balas Jung Hyuk. Setelah itu barulah dia mengikuti Se Ri.

Dikantor. Se Ri memperkenalkan Jung Hyuk sebagai pengawal pribadi nya kepada Chang Sik dan manajer pembelian. Dan mereka berdua merasa bingung, sebab setahu mereka, Se Ri tidak suka pengawal. Dan Se Ri beralasan bahwa ini hanya untuk sementara.
“Kamu mempekerjakan pengawal pribadi, berarti dimulai lagi?” tanya Chang Sik, penuh arti. Dan Se Ri tidak mengerti. “Kencan. Memberi tahu kami lebih awal akan membantu persiapan kami.”
“Dia atlet atau selebritas? Berikan kami gambarannya,” tanya manajer pembelian juga.


“Aku tidak paham apa maksud kalian,” kata Se Ri dengan cepat. “Sampai bertemu lagi di rapat. Ayo, Hyuk,” katanya sambil mengajak Jung Hyuk untuk mengikutinya.
Didalam lift. Dengan gugup, Se Ri mencoba untuk menjelaskan kejadian tadi kepada Jung Hyuk. Dan Jung Hyuk langsung membalas bahwa dia tidak bertanya. Tapi Se Ri tetap ingin menjelaskan, hidupnya membosankan, dia tidak pernah makan bersama dengan keuarga, dan tidak punya teman untuk mengobrol, itulah sebabnya dia mulai sering dekat dengan pria.
“Baiklah,” kata Jung Hyuk, mengerti.

“Tapi … Aku tidak akan bisa melakukan itu lagi. Aku sudah jadi pemilih. Karena dirimu,” kata Se Ri sambil tersenyum. Lalu dia keluar dari lift. Dan Jung Hyuk tersenyum juga.

Kelima anggota tim Jung Hyuk terpana di depan gedung perusahaan Se Ri. Mereka sering mendengar Se Ri membanggakan kekayaan kepada mereka, tapi mereka tidak menyangka kalau Se Ri akan benar- benar sekaya itu.

“Mari kita masuk dahulu. Orang yang paling mirip orang Selatan harus masuk dahulu,” kata Man Bok. Dan dengan percaya diri, Sersan Pyo melangkah maju. Tapi sayangnya, dia harus melangkah mundur lagi, karena Man Bok memilih Letnan Park.

Saat masuk ke dalam gedung, kelima anggota tim Jung Hyuk dilarang untuk masuk. Karena mereka belum memiliki janji temu dengan Se Ri. Lalu petugas keamanan memanggil rekannya yang lain untuk memeriksa identitas kelima anggota tim Jung Hyuk, sebab dia mengira mereka berlima datang untuk wawancara kerja. Dan mendengar itu, kelima anggota tim Jung Hyuk merasa takut.

“Dengarlah. Kita bisa datang lain kali, 'kan? Adikku,” kata Sersan Pyo dengan logat Selatan. Dan mereka berempat langsung mengiyakan, lalu pergi darisana.

Saat keluar dari gedung, kelima anggota tim Jung Hyuk berjalan cepat dengan perasaan lega. Man Bok memuji betapa hebatnya Sersan Pyo dalam berbicara menggunakan logat Selatan. Dan Sersan Pyo merasa sangat bangga sambil tertawa.

Dicafe. Tiga orang teman Seo Dan menggosipi tentang kabar pernikahan Seo Dan yang kabarnya ditunda lagi. Mereka tertawa senang karena itu artinya Seo Dan di campak kan oleh Jung Hyuk. Tepat disaat itu, Seo Dan datang dan berjalan mendekati mereka dengan mengenakan pakaian yang mewah serta berjalan dengan penuh percaya diri. Sehingga itu membuat mereka bertiga langsung terdiam.



Anjing dari salah seorang teman Seo Dan menggonggong keras kepada Seo Dan. Dengan tajam, Seo Dan menatap anjing tersebut. Dan melihat itu, si anjing kecil merasa ketakutan dan langsung kencing di tubuh teman Seo Dan. Tanpa memperdulikan kepanikan temannya tersebut, Seo Dan menaruh tas kecil miliknya di atas meja dengan keras.
“Apa kabar kalian?” tanya Seo Dan, menyapa mereka bertiga.

Seung Jun merasa panik dan kebingungan. Dia tidak tahu harus pergi kemana. “Ini gila,” keluhnya.

Ketiga orang teman Seo Dan. Mereka berbicara dengan sikap seolah peduli kepada Seo Dan, tapi sebenar nya mereka menghina nya.
“Dan. Tidak perlu jaga harga dirimu di hadapan kami. Ceritakan saja. Pertunangan itu bisa dibilang dibatalkan, 'kan? Ri Jung Hyuk dari keluarga berkuasa, tapi apa artinya? Saat semua teman sekelas kita sudah menikah, kamu habiskan waktumu menunggu pria itu, dan melewati usia layak dinikahi. Tentu saja, pernikahan bukan masalah. Di rumah, ada suamiku yang mencintai dan peduli terhadapku hingga aku muak akan itu,” kata seorang teman Seo Dan dengan bangga. Dan dua lainnya setuju.


Tapi mendengar sindiran tersebut, Seo Dan hanya diam saja. Dan membiarkan temannya tersebut untuk selesai berbicara. “Jin Sook,” panggilnya, saat temannya ini sudah selesai berbicara. “Seong Deok baik-baik saja?” tanyanya.
“Dia baik-baik saja,” jawab Jin Sook dengan sangat bangga.
“Bagus. Dia pernah bilang tidak bisa hidup tanpaku, dan mati jika aku tidak menikahinya. Aku khawatir dia akan sungguh mati. Untungnya, kamu menerimanya, dan dia baik-baik saja. Aku sungguh lega,” kata Seo Dan dengan ekpresi perhatian. Dan dua lainnya tertawa. Sementara Jin Sook yang barusan menyindir, dia merasa sangat kepanasan.

Seung Jun menghubungi seorang kamerad kenalannya dan menjelaskan tentang situasinya. Dia meminta untuk diizinkan menginap di tempatnya. Tapi sebelum dia selesai berbicara, kamerad mematikan telpon nya. Dan Seung Jun merasa sangat stress.
Lalu tiba- tiba sebuah telpon masuk. Dan Seung Jun pun langsung mengangkatnya. “Halo?”


Hujan deras turun. Ketiga teman Seo Dan membanggakan suami mereka masing- masing yang sebentar lagi akan datang menjemput. Tepat disaat itu, mereka melihat Seung Jun di luar, dan mereka terpesona dengan ketampanan nya.

“Aku harus pergi,” kata Seo Dan, pamit. Lalu dia pun berjalan pergi sambil tersenyum percaya diri dan bangga.

Saat Seo Dan telah pergi. Jin Sook mengatai betapa angkuhnya sikap Seo Dan seperti biasa. Lalu dia menghina betapa menyedihkan nya Seo Dan, sebab mereka masing- masing akan di jemput oleh suami, tapi Seo Dan pulang sendirian.
“Hei, mungkin tidak begitu,” kata seorang teman sambil menatap keluar jendela. Dan Jin Soo serta teman satu lagi, mereka langsung ikut melihat keluar jendela.


Seung Jun mempayungin Seo Dan sampai masuk ke dalam mobil. Lalu dia mengedipkan mata nya kepada ketiga teman Seo Dan. Melihat itu, mereka beritga langsung sibuk untuk menyebarkan berita.

Seo Dan duduk di dalam mobil dengan ekspresi cemberut. Melihat itu, Seung Jun sadar kalau tampak nya dia baru saja menolong Seo Dan tadi. Dan dengan sinis, Seo Dan menyuruhnya untuk jangan membual. Lalu dia meminta manisan coklat atau semacamnya. Dan Seung Jun menjawab tidak punya.
Dengan tajam, Seo Dan langsung memandangi Seung Jun. Dan tepat disaat itu, petir berbunyi. Dengan ngeri, Seung Jun pun langsung mengarah ke warung terdekat untuk membelinya.

Chang Sik memanggil Jung Hyuk untuk ikut dengannya. Dan Jung Hyuk pun mengikutinya. Tepat disaat itu, petugas keamanan lewat di belakang Jung Hyuk. Salah satu dari mereka adalah Cheol Gang.

Chang Sik mengajak Jung Hyuk untuk makan bersama, karena setelah ini akan ada rapat sampai tengah malam. Dan Jung Hyuk langsung membalas bahwa dia akan makan malam bersama dengan Se Ri nanti nya. Tapi Chang Sik tidak percaya.
“Dia tidak pernah makan dengan orang lain,” kata manajer pembelian, menjelaskan. “Tampaknya dia belum tahu peraturannya,” keluh nya pada Chang Sik. Karena Jung Hyuk tampak kebingungan.
“Bu Yoon selalu makan sendiri. Dia tidak suka ditemani, atau siapa pun mengajak bicara,” jelas Chang Sik pada Jung Hyuk.
“Dia juga tidak suka warna itu. Dia membencinya,” jelas manajer pembelian.
“Dia menyukainya,” balas Jung Hyuk dengan yakin. Karena Se Ri yang memilihkan ini.
“Tidak, dia tidak suka. Kau tidak tahu apa pun soal dia,” keluh Chang Sik.
“Kurasa aku tahu sesuatu mengenainya,” balas Jung Hyuk.


Chang Sik tidak mempercayai perkataan Jung Hyuk. Dia menjelaskan bahwa Se Ri itu sangat sensitif seperti kucing. Se Ri hanya makan telur yang di rebus 8 menit 27 detik. Lebih 3 detik saja, Se Ri akan tahu dan tidak memakannya. Mendengar itu, Jung Hyuk mengingat saat Se Ri memakan telur rebus dengan sangat lahap di dalam kereta.
“Kamu harus mempelajari seleranya agar bisa bertahan lebih lama. Ini saran dari seniormu, ingat baik-baik,” kata manajer pembelian dengan perhatian pada Jung Hyuk.


Dalam perjalanan pulang. Jung Hyuk memikirkan perkataan manajer pembelian dan Chang Sik. Dia menjadi ragu kalau dirinya tahu banyak tentang Se Ri.
“Tidak ada yang lebih tahu seleraku selain dirimu,” kata Se Ri dengan yakin.
“Seperti apa selera mu?” tanya Jung Hyuk, penasaran.
“Seperti mu. Sudah kubilang saat awal kita bertemu. Wajahmu tipe kesukaanku,” jawab Se Ri sambil tersenyum menggoda. Dan Jung Hyuk tersenyum malu- malu.


Seo Dan membawa Seung Jun ke apatermen nya. Apatermen yang awalnya direncanakan untuk menjadi rumah pengantinnya. “Aku tidak tahu pria pertama yang akan memasukinya adalah dirimu,” kata Seo Dan dengan sarkatis.
“Benar. Aku juga tidak menduganya,” balas Seung Jun, setuju.

Seo Dan mengizinkan Seung Jun untuk tinggal sementara di tempatnya. Tapi dia tidak mau membiarkan Seung Jun untuk tinggal lama di tempatnya. Dan Seung Jun mengiyakan. Dia beralasan bahwa seharusnya dia ikut penerbangan hari ini, tapi karena ada sesuatu, maka dia pun harus tinggal selama beberapa hari lagi.
“Jangan tinggalkan jejak di sini. Kamu hanya boleh bernapas di sini,” tegas Seo Dan. Dan Seung Jun mengiyakan. Lalu duduk dengan santai di sofa.
“Aku akan pergi. Aku bawa mobilnya. Matikan lampunya sepuluh menit lagi. Mungkin akan ada pemeriksaan acak,” kata Seo Dan, mengingatkan.
“Kamu pergi begitu saja? Kamu tidak lapar?” tanya Seung Jun sambil menunjukkan semua mi instant di dalam koper nya. “Mau makan mi instan?”


Seung Jun dan Seo Dan makan mie bersama di temani satu lilin untuk menyinari mereka. Seperti biasa, Seung Jun berbicara dengan cerewet. Dia memberitahu Seo Dan kalau ini adalah kali pertamanya makan mie berduaan dengan seorang wanita. Lalu dia menjelaskan kalau mi instant ini memiliki banyak implikasi sosial, seperti misal nya jika ada pria yang bertanya ‘Kamu mau makan mi instan?’ , maka wanita harus menjawab ‘tidak’ dengan wajah datar. Sebab ini bukan kata yang di katakan kepada semua orang di Selatan.
“Kenapa aku harus menolak? Aku suka,” kata Seo Dan, tidak mengerti. Dan Seung Jun langsung terdiam dengan wajah kaget.

“Mi instan? Atau prianya? Ataukah… aku?” tanya Seung Jun dengan gugup. Dan Seo Dan hanya diam saja sambil tersenyum.


Karena sikap serta perkataan Seo Dan barusan. Seung Jun jadi kepikiran dan tidak bisa tidur. Dia bertanya- tanya kenapa Seo Dan tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan nya. Lalu dia pun memutuskan untuk menelpon Seo Dan. Tapi sayangnya, Seo Dan tidak menjawab. “Dia sudah tidur? Secepat ini? Mungkin dia belum pulang. Karena itukah dia tidak menjawab? Atau dia mengabaikan teleponku? Kenapa? Dia mau jual mahal? Apakah gerangan?” gumam Seung Jun, berpikir.

Sepanjang malam, Seung Jun sama sekali tidak bisa tidur dan terus memandangi hp nya. Tanpa terasa matahari sudah bersinar sangat terang. Pertanda sudah pagi.
“Jangan penasaran. Maksudku, ini bukan masalah besar. Ini karena aku tidak makan dengan baik,” kata Seung Jun didepan cermin. Dia berusaha untuk mensusgeti dirinya sendiri.

Tepat disaat itu, hp Seung Jun didalam kamar berbunyi. Dan mendengar itu, Seung Jun langsung berlari keluar dari dalam kamar mandi dan mengangkat hp nya.
Seo Dan duduk dengan tenang sambil menikmati tehnya. Dia menanyakan, kenapa Seung Jun menghubungi nya semalam. Dan Seung Jun bersikap jaim dengan mengatakan kalau dia tidak sengaja tertekan nomor Seo Dan. Mendengar itu, Seo Dan pun ingin mematikan telpon nya.

“Tunggu!” teriak Seung Jun dengan cepat. “Kamu ada kegiatan apa hari ini? Maksudku… aku harus apa hari ini?” tanyanya seperti orang linglung.
“Kenapa bertanya kepadaku?” balas Seo Dan.
“Entah harus tanya siapa. Aku tidak kenal siapa pun di sini. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. Boleh ke rumahmu?” tanya Seung Jun. Tapi kemudian dia teringat sesuatu. “Tapi agak jauh. Aku tidak punya mobil. Kamu bawa mobilnya.”
“Lalu?”
“Bagaimana kalau kamu kemari?” pinta Seung Jun. Dan Seo Dan langsung mematikan telpon.

Seung Jun mulai berpikir keras dan merasa stress lagi. “Dia menutupnya? Tidak, dia tidak bilang ‘akan kututup’. Koneksi nya terputus? Apakah sinyalnya lemah di sini? Apa yang terjadi? Ada apa dengan diriku?” gumam Seung Jun, bingung.
Myeong Eun menunjukkan gosip tentang Seo Dan dengan Seung Jun yang sudah tersebar. Dia memukuli dan menyalahkan Myeong Seok karena sudah tidak menjaga Seo Dan dengan baik. Dan Myeong Seok yang tidak tahu apapun hanya membiarkan dirinya di pukuli.

Myeong Eun dan Myeong Seok masuk ke dalam kamar Seo Dan. Myeong Eun ingin membahas tentang Seung Jun, tapi tidak berani bertanya, jadi dia menyuruh Myeong Seok yang bertanya.
“Ah. Kamu ingat pria yang paman lihat di hotel? Kamerad Alberto,” kata Myeong Seok dengan gugup. Dan dengan tenang, Seo Dan menanyakan ada apa. “Begini … Ibumu bilang dia mendengar gosip di rapat pagi hari ini,” jelas nya. Lalu dia menyenggol Myeong Eun. “Kakak yang bilang setelah ini,” bisik nya. Dan Myeong Eun langsung memarahinya dengan pelan.

“Ibu dengar kamu ingin bertemu teman-temanmu kemarin dan ada pria yang menjemputmu dengan mobil. Pria yang pamanmu lihat itu, apakah dia Kamerad Al?” tanya Myeong Eun.
“Ibu,” sela Seo Dan. “Aku harus pergi,” jelas nya. Lalu dia pergi.


Saat Seo Dan pergi, Myeong Eun menepuk tangan dengan keras, karena akhirnya dia mengerti. Dengan polos Myeong Seok bertanya, “Apa? Perselingkuhan?” tanyanya.
“Bukan, cinta. Lagi pula, Dan belum menikah dengan Ri Jung Hyuk. Perselingkuhan apanya. Jika hatinya dibawa pria itu, aku akan mendukungnya,” kata Myeong Eun dengan yakin.

“Ayolah. Kakak bahkan tidak tahu dia siapa!”
“Sejujurnya, siapa peduli, selama Alberto bukan pencuri atau penipu,” balas Myeong Eun.
Seung Jun duduk dengan lemas di tempat tidur. Ketika hp nya berbunyi, dia pun langsung bangkit dan mengangkatnya. “Halo? … kamu sudah datang?” tanya nya sambil buru- buru ke beranda.


Seo Dan memandangi Seung Jun dari bawah. “Kamu lihat apa? Turunlah.”
“Ya. Aku akan turun. Beri aku waktu sepuluh menit. Tidak, lima menit,” jawab Seung Jun dengan gugup sambil tersenyum kecil.
“Kamu dapat tiga menit.”

Post a Comment

Previous Post Next Post