Sunday, February 23, 2020

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 01-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 01-1
Images by : TvN


Tahun 2006, Gang Hwa dan Yu Ri, Usia 24 tahun
Malam hari, di sebuah kampus,
Dua orang pria muda sedang bertengkar. Sebabnya, karena Gye Geun Sang ingin membawa Gang Hwa pergi ke café untuk menonton sepak bola Piala Dunia bersama dengan pacarnya, yang juga membawa seorang temannya. Gang Hwa tidak mau ikut karena besok mereka akan menghadapi ujian, jadi dia ingin belajar, apalagi mereka kuliah jurusan kedokteran.
Geun Sang tidak mau menyerah dan membawa lari tas Gang Hwa, hingga mau tidak mau, Gang Hwa terpaksa mengikutinya.
--

di Café,
Dua wanita cantik mengenakan pakaian merah dan bando berbentuk tanduk, sedang asyik menonton sepak bola. Ketika sudah nonton, Hyeon Jeong baru memberitahu Yu Ri kalau akan ada dua pria mahasiswa kedokteran yang bergabung bersama mereka. Yu Ri langsung mau pulang saja. Tapi, Hyeon Jeong menahannya dengan mengambil tas Yu Ri sembari menekankan kalau mereka hanya nonton bersama bukan mau pacaran.
Geun Sang dan Gang Hwa tiba di café tersebut. Gang Hwa masih terus mengomel kesal karena di paksa ke sana.
Tapi, omelannya kesal-nya berhenti saat dia melihat wajah Yu Ri. Yu Ri juga terpaku melihat Gang Hwa.
Kita saling mengenal dan jatuh cinta dalam tiga detik.

Mereka berdua saling tersenyum malu-malu.
Saat keadaan tak terprediksi, cinta datang menghampiri kita.
Di tengah kerumunan orang, mereka saling jatuh cinta.
--

Dan sejak hari itu, mereka mulai saling bertemu. Menjadi dekat. Hingga akhirnya berpacaran. Banyak hal mereka lalui bersama layaknya orang pacaran dan sedang kasmaran. Keduanya tampak bahagia.

Yu Ri adalah orang yang blak-blakan dan agresif, dia selalu lebih aktif di banding Gang Hwan, terlihat dari bagaimana dia dengan malu-malu memberitahu Gang Hwa kalau dia sudah berbohong pada orang tuanya kalau dia hari ini akan menginap di rumah Hyeon Jeong.
Dua tahun berpacaran,

Konflik mulai terjadi. Gang Hwa membawa sebuket bunga dan berlutut di hadapan rumah Yu Ri meminta maaf. Saat Yu Ri bertanya, apa Gang Hwa tahu kesalahannya? Gang Hwa tidak bisa menjawab hingga membuat Yu Ri semakin marah.
Tiga tahun berpacaran,
Hubungan mereka semakin kuat.
Waktu bertahun-tahun yang kita lewati terasa seperti sekejap. Setelah bersama selama itu, kami yakin takdir tak akan berubah.

Tahun 2010, Gang Hwa dan Yu Ri, Usia 28 tahun
Hari ini, Yu Ri menonton pertandingan Piala Dunia 2010 di café. Dia menunggu Gang Hwa yang terlambat datang. Saat datang, Gang Hwa langsung meminta maaf dengan panik dan menjelaskan kalau saat dia mau datang, tiba-tiba ada pasien yang harus di operasi.

Yu Ri sudah kesal and menuang soju ke gelasnya. Yu Ri bisa melihat ujung baju Gang Hwa yang kotor dan kancingnya hampir lepas. Dia sampai bergumam kalau dia sudah tidak tahan lagi. Gang Hwa panik dan terus meminta maaf.
Saat Yu Ri mulai bicara, saat itu, malah Park Ji Sung mencetak gol hingga membuat semua penonton bersorak girang dan membuat suara Yu Ri tenggelam.
Padahal, Yu Ri sudah berujar : “Mari kita… menikah saja.”
Gang Hwa berteriak menanyakan apa yang Yu Ri katakan tadi?
“Aku mau hidup denganmu! Nikahi aku, Cho Gang Hwa!” teriak Yu Ri.
Senyum lebar langsung tersungging di bibir Gang Hwa. Dia mau menikah dengan Cha Yu Ri.
--

Hari Pernikahan,
Di acara pernikahan, Gang Hwa menyanyikan lagu untuk Yu Ri. Dia benar-benar bahagia bisa menikah dengan Yu Ri. Kemudian, giliran Yu Ri yang menyanyi untuk Gang Hwa. Senyum bahagia tidak lenyap dari bibir mereka.
Mereka berdua, resmi menikah.
Kami percaya kebersamaan kami selama 13 tahun bagaikan gelas yang tak mudah pecah,
--

Saat ini, Tahun 2019, Gang Hwa dan Yu Ri, Usia 37 tahun
Di sebuah rumah, tampak foto sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak perempuan (wajah ayah dan ibunya tidak di perlihatkan).

Anak perempuan itu, masih berusia 5 tahun dan bernama Cho Seo Woo. Dia sedang bermain seorang diri di ruang tengah. Saat itu, anak itu melihat kabel yang terlepas dan sudah terkena air yang tumpah dari gelas minumnya. Anak itu masih belum mengerti bahaya. Dia mengambil colokan kabel yang sudah basah itu dan hendak mencolokkanya ke lubang colokan.
Terdengar suara seorang wanita, yang panik dan berteriak melarang Seo Woo untuk tidak melakukan itu. Wanita itu bahkan berujar, “Ibu akan marah.” Seo Woo tidak mendengarnya dan tetap ingin menyolokkan ujung yang basah ke lubang colokan yang ada di dinding.


Cha Yu Ri yang berteriak dari tadi, langsung berlari berusaha menghentikan Seo Woo. Dan tepat saat itu, seorang wanita lain, Oh Min Jung, menahan Seo Woo dan memarahinya. Dia menggendong Seo Woo dan membawanya ke meja makan untuk sarapan. Yu Ri menghela nafas lega tapi memandangi tangannya.
Dan kita di perlihatkan foto keluarga yang tertempel di dinding adalah : Cho Gang Hwa, Cho Seo Woo dan Oh Min Jung.
Namun, hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan dan tak ada yang bisa memprediksi perpisahan kita.
-Episode 01-
Hidup penuh kejutan yang tak di sangka

Oh Min Jung membawa Seo Woo ke tempat penjemputan anak. Yu Ri (yang adalah arwah) mengikutinya sambil mengomeli Min Jung karena membiarkan ada air di lantai dan hampir membahayakan Seo Woo.
Dia bicara di depan Min Jung, dan tiba-tiba Min Jung berhenti dan mengibaskan tangannya. Membuat Yu Ri sedikit terkejut dan bertanya-tanya, apa Min Jung bisa melihatnya? Tapi, dia yakin tidak bisa.
Yu Ri dengan ceria berjalan memanggil nama Seo Woo dengan riang. Dia terus saja bicara walaupun Seo Woo tidak bisa melihatnya.
Aku adalah arwah. Arwah yang tak terlihat oleh manusia.
Ada sesuatu yang tak diketahui manusia saat mereka masih hidup. Salah satunya, bukan hanya manusia yang hidup di dunia ini. Walau tak terlihat, sebenarnya dunia ini tempat bagi banyak kehidupan.


Gang Hwa dalam perjalanan ke kantor, dan dia melihat ada orang yang membuang botol yoghurt sembaranga. Gang Hwa yang melihat itu, langsung memungut botol itu dan melemparkannya ke Geun Sang yang berjalan di belakangnya. Geun Sang jelas menggerutu kesal.
Geun Sang dan Gang Hwa kerja di satu rumah sakit yang sama.
Termasuk para arwah.



Min Jung dan Seo Woo berdiri di taman bersama dengan ibu dan anak lain, menunggu bus penjemputan ke TK. Yu Ri masih terus mengikuti Seo Woo dan mengajaknya berbincang walaupun Seo Woo tidak bisa mendengarnya. Yu Ri melihat wajah Seo Woo yang mengeryit karna terkena sinar matahari, jadi Yu Ri berusaha menggunakan tangan-nya untuk menghalangi matahari itu mengenai Seo Woo. Percuma saja. Seo Woo sendiri memilih memeluk Min Jung.
Tidak jauh dari mereka, seorang wanita memperhatikan dengan tatapan kasihan.
Bus datang. Seo Woo naik ke dalam bus dan Yu Ri melambaikan tangan dengan riang.
Para ibu-ibu mengajak Min Jung untuk minum kopi bersama mereka dan mengobrol. Min Jung dengan dingin menolak dan bahkan berujar kalau dia tidak suka pergi dengan banyak orang. Para ibu itu jelas menggerutu.
Yah, layaknya para ibu-ibu yang kalau sudah berkumpul, pada umumnya akan bergosip (ada juga yang tidak). Mereka mulai membicarakan Min Jung dan memberikan nama julukan Oh Man Jeong karena Seo Woo tidak menyukainya. Mereka juga membahas mengenai Seo Woo yang masih usia 5 tahun tapi sudah ikut les seni, Inggris dan ballet. Sibuk dengan banyak les.
Yu Ri bergabung dengan mereka dan ikut berkomentar seolah menjadi bagian dari mereka. Para ibu membahas kalau Min Jung bukan ibu kandung dari Seo Woo. Ayah Seo Woo menikah lagi setelah istri pertamanya meninggal (Yu Ri). Dan karena kesulitan merawat anak, makanya Min Jung memberikan banyak les untuk Seo Woo. Mereka jadi kasihan pada Seo Woo dan bahkan menyebut Seo Woo sangat pemurung dan aneh.
Seorang ibu yang tadi memperhatikan dengan tatapan kasihan, langsung menghampiri mereka dan memarahinya. Dia adalah Hyeon Jeong. Dia menegur mereka untuk berhati-hati dengan ucapan mereka, karena pada akhirnya, semua orang akan mati. Mereka juga bisa mati kapanpun.
--

Misaeng,
Yu Ri pergi ke kedai dan curhat pada wanita di sana yang sedang mengupas bawang bombai. Dia kesal karena anaknya di sebut pemurung dan aneh, padahal anaknya sangat riang. Saat Yu Ri mengomel, wanita itu sempat merespon, membuat Yu Ri mengira wanita itu melihatnya, tapi wanita itu mulai mengomeli hal lainnya (sepertinya, dia memang bisa melihat Yu Ri).
Di salah satu dinding, ada banyak foto Yu Ri dan Gang Hwa juga saat pacaran. Sepertinya, itu tempat kerja Yu Ri sewaktu hidup dulu.
--

Gang Hwa sedang memeriksa pasiennya. Gang Hwa adalah dokter bedah toraks. Gang Hwa memberitahu kalau pasiennya itu mengidap aritmia jantung dan butuh operasi. Operasinya sederhana dan dokter yang lebih ahli dari nya yang akan mengoperasi.
Setelah pasien itu keluar, Gang Hwa menelpon suster dan memberitahu kalau pasien yang baru keluar dari ruangannya akan di tangani oleh dokter Jang.

Di luar ruangan, sedang terjadi kehebohan karena seorang pasien dalam kondisi mabuk, berteriak-teriak kalau dia kesakitan dan ingin bertemu dokter. Gang Hwa jelas mendengar teriakan itu, dan secara diam-diam, dia malah keluar meninggalkan ruangannya. Dan secara sengaja, dia menyuruh seorang junior-nya yang hendak ke ruang komputer untuk lewat di depan ruangannya. Walau bingung, junior-nya itu menurut. Dan benar saja, saat lewat di depan ruangan Gang Hwa, dia melihat pasien mabuk itu dan langsung berusaha menenangkannya. Melihat itu, Gang Hwa tersenyum. Tampaknya, dia memang ingin menghindar menenangkan pasien mabuk tersebut.

Seorang suster lewat dan begitu melihat Gang Hwa, dia langsung memberitahu kalau dr. Jang mencarinya. Gang Hwa langsung bertanya, bagaimana nada bicara dr. Jang mencarinya? Apakah terdengar ramah? Atau berteriak dan memaki? Suster menjawab, berteriak dan memaki.
Mendengar itu, Gang Hwa tidak pergi menemui dr. Jang melainkan lari ke ruangan Geung Sang, yang berprofesi sebagai Neuropsikiatri.


Geun Sang sedang menangani pasien-nya yang adalah atlet bisbol terkenal. Dia memberitahu hasil pemeriksaan kondisi mental pasiennya yang normal. Dan di sela memeriksa, Geun Sang malah lebih fokus melihat jam tangan yang di kenakan pasiennya. Pasiennya jelas kesal.

Begitu Geun Sang selesai menerima pasien, Gang Hwa langsung masuk ke ruangannya. Sebelum itu, Geun Sang sempat curhat kalau jam tangan yang di pakai atlet tadi adalah jam tangan limited edition. Dia sudah menunggu selama setahun untuk membelinya, tapi gagal!
Gang Hwa datang untuk meminta Geun Sang untuk membuat surat rujukan karena dr. Jang mencarinya. Geun Sang sampai menggerutu mau sampai kapan Gang Hwa seperti ini? Seharusnya, Gang Hwa jujur saja dan melakukan pengobatan.
Lagi di bicarakan, dr. Jang tiba-tiba muncul di ruangan Geun Sang. Dia menatap Gang Hwa dengan marah apalagi sudah tiga hari ini dia mencari Gang Hwa, tapi tidak pernah ketemu. Dengan gugup, Gang Hwa berbohong kalau dia mengurus banyak pasien, jadi sangat sibuk.
“Omong kosong! Jika mengutamakan pasien, kenapa hanya menerima pasien rawat jalan? Dokter lainnya bekerja siang dan malam di kamar operasi! Apakah kau tak merasa kasihan? Kau tak akan lolos. Bulan depan, kau harus mulai operasi. Jika tidak mau melakukan operasi, kenapa masuk ke rumah sakit ini? Buka praktik sendiri!” marah dr. Jang.
Gang Hwa malah menjawab kalau dia membuka praktik sendiri, dia pasti gagal. Dan juga, dia bukannya tidak mau mengoperasi pasien, tapi dia kan sudah memberi surat rujukan mengenai kondisinya yang tidak memungkinkan untuk di operasi.
dr. Jang langsung meminta Geun Sang menunjukkan laporan mengenai kondisi Gang Hwa. Geun Sang tanpa banyak komentar, langsung menunjukkannya pada dokter Jang.
 "Kesulitan berkonsentrasi karena hidup tidak teratur dan insomnia. Gejala tremor tangan dan gangguan bipolar. Tampak lesu dan tertekan di pagi hari, tapi suasana hatinya membaik setelah pukul 18.00.”,” baca dr. jang. “Aku juga lesu dan depresi ketika berangkat kerja, dan senang saat pulang kerja. "Saat minum merasakan kebahagiaan ekstrem, keesokan harinya merasakan sakit kepala." Sakit kenapa?”
“Pengar,” jawab Geun Sang.

“Kau sebut ini hasil pemeriksaan?” marah dr. Jang dan meremas kertas laporan itu dan melemparnya ke Geun Sang. “Ini hasil pemeriksaan teman! Dasar... Bedebah gila!”
Gang Hwa juga kesal karena Geun Sang membuat laporan ngacau seperti itu.
--

Jam pulang kerja,
Gang Hwa melewati ruang operasi. Wajahnya terlihat berbeda. Sepertinya, dia mempunyai trauma hingga tidak bisa melakukan operasi.
--
Gang Hwa pulang dengan mengendarai mobil. Dan sepanjang jalan, sambil menyetir, dia bernyanyi dengan riang dan bahkan sesekali menari.
--


Seo Woo sedang menonton acara kartun di ruang tamu, sementara Min Jung menyiapkan makan malam. Gang Hwa pulang tidak lama kemudian dan langsung menanyakan keadaan Seo Woo. Arwah Yu Ri langsung menyambutnya sambil melapor kalau Seo Woo sangat sibuk dengan sekolah, les seni, les balet. Tidak ada waktu bersenang-senang sama sekali.
Gang Hwa bertanya pada Min Jung, kalau tidak ada masalah kan? Min Jung menjawab tidak ada. Arwah Yu Ri protes karena tadi Seo Woo hampir saja tersengat listrik dan ‘menyusul’-nya.
Walau sudah marah-marah, begitu melihat Seo Woo, arwah Yu Ri langsung tampak bahagia dan ikut nonton kartun bersama Seo Woo.
Dan dari sebuah ruangan, searwah memperhatikan mereka.
--

Satu keluarga makan bersama. Arwah Yu Ri juga ikutan duduk di meja makan dan sibuk melihat wajah Seo Woo dan Gang Hwa.

Flashback
Saat masih hidup, Yu Ri juga suka memperhatikan wajah Gang Hwa saat makan. Gang Hwa sampai ge-er dan menyebut dirinya begitu tampan hingga Yu Ri tidak bisa berpaling. Yu Ri tertawa mendengar ucapannya dan meluruskan kalau dia melihatnya sekarang karena tidak akan memandang Gang Hwa lagi. Nanti, setelah anak mereka lahir, dia akan lebih sibuk memandang wajah anaknya. Jadi, Gang Hwa juga harus lebih sering memperhatikan wajahnya.
Mereka tampak sangat bahagia dan bersenang-senang.
End

Saat makan, Gang Hwa memarahi Seo Woo karena menumpahkan makanan. Dia menyurhu Seo Woo memungut nasi dan sayur yang tumpah dan memakannya. Min Jung membela kalau Seo Woo masih kecil, jadi wajar begitu. Gang Hwa tidak peduli karena Seo Woo sudah 5 tahun dan harus bisa makan sendiri.
Arwah Yu Ri juga kesal dan memarahi Gang Hwa karena bersikap seperti itu pada Seo Woo.
--

Arwah Yu Ri berkeliaran di jalan. Dia masih kesal dan menggerutu kalau Gang Hwa juga masih menggunakan popok saat usia 5 tahun. Rasa kesal Yu Ri berubah menjadi rasa sedih dan iri saat melihat sepasang ibu dan anak berjalan bersama. Hal yang tidak mungkin bisa di lakukannya, karena dia adalah arwah dan tidak terlihat.
--
Esok hari,
Hari ini, di lakukan pemakaman untuk seorang atlet bisbol bernama Gang Bin yang di temukan wafat di rumahnya beberapa hari lalu. Dari hasil penyelidikan, Gang Bin bunuh diri karena rumor kecurangan skor dan skandal homoseksual.
--

Malam hari,
Arwah Gang Bin yang sudah di makamkan, menangis sedih di pojok ruangan abu. Karena tangisannya, dia membuat arwah-arwah yang ada di rumah abu jadi mengelilinginya. Ada yang masih tua dan muda. Semua sangat tertarik pada Gang Bin apalagi saat tahu Gang Bin adalah atlet terkenal. Gang Bin yang masih belum terbiasa, tampak ketakutan karena di kerubungi banyak arwah.
Banyak arwah itu yang adalah fans dari Gang Bin. Tapi, rasa fans itu berubah menjadi benci saat tahu kalau Gang Bin meninggal karena bunuh diri dan nama aslingya adalah Gang Sang Bong. Arwah yang lebih tua bahkan menyuruh Gang Bin untuk bermain dengan arwah wanita yang juga bunuh diri.

Di saat itu, seorang wanita tiba-tiba muncul dengan kerennya. Syuuut! Eh, udah muncul keren, dia malah terpeleset dan jatuh ke lantai dengan keras. Para arwah langsung mengejeknya dan menyuruh memeriksa apakah lantainya pecah atau tidak.

Wanita itu adalah Midongdaek dan bertugas untuk mengantar para arwah ke ‘atas’ untuk renkrenasi. Midongdaek lagi kesal karena searwah pria tua, pak Choe, yang bersedia naik ke surga setelah memberi salam perpisahan pada keluarganya, malah mengingkari janji dan tidak mau naik ke ‘atas.’

Alasannya? Karena saat pak Choe menemui keluarganya dengan bentuk kupu-kupu berwarna kuning, dan sedang memberikan nasehat, putranya malah menepuk-nya dan menggerutu karena serangga bisa masuk ke dalam rumah mereka.
Jadinya, pak Choe merasa sedih karena seperti di bunuh dua kali.
Midongdaek marah-marah karena para arwah tidak menepati janji untuk naik ke ‘atas’ padahal dia sudah melapor ke ‘atas’ kalau ada arwah yang akan naik. Karena mereka, performanya jadi nol persen!


Yu Ri baru saja kembali dan dia berusaha untuk menghindari Midongdaek, tapi tetap saja tertangkap. Apalagi, Midongdaek mempunyai tongkat lonceng, yang membuat arwah-arwah tidak berdaya.
“Performamu nol persen bukan salah kami! Ini semua karena aturan siklus reinkarnasi. Ini semua karena kebijakan aneh yang kalian buat! Kau tak tahu kehidupan di zaman kami,” protes Yu Ri.
“Ya! Yu-ri benar! Zaman sekarang sudah berubah!” dukung arwah lainnya.
“Karena kalian tidak mau reinkarnasi, populasi dunia semakin berkurang! Sedangkan populasi arwah terus meningkat! Ini penuh sesak! Kalian masih bilang kebijakannya aneh?”
“Seharusnya dari pertama jangan beri kita pilihan! Seperti zaman dahulu, kirim malaikat pencabut nyawa saja! Katamu arwah juga punya hak! Katamu kita bisa memilih mau reinkarnasi atau tidak. Sekarang, saat tidak ada yang mau pergi, kau memaksa kami pergi?” balas Yu Ri.
“Dewa sama saja dengan manusia. Saat atasan diganti, aturan juga berubah. Kebijakan selalu berubah,” tambah arwah lainnya.
“Kalian akan menerima hukuman! Jangan sembarangan berbicara! Semua ada maksudnya. Para atasan...” marah Midongdaek.
“Omong kosong. Jujur saja, tak ada yang ingin pergi ke atas. Dia menangis setiap hari karena anaknya bangkrut (tunjuk Yu Ri pada seorang arwah wanita paruh baya). Dia sangat khawatir karena anaknya kembali mengidap kanker (tunjuk lagi pada arwah lain). Kita tidak bisa pergi sekarang. Kau tahu itu!” jelas Yu Ri.
Midongdaek yang kesal, langsung berteriak menyuruh semuanya untuk bubar.
Para arwah langsung bubar dengan sedih teringat dengan keluarga mereka.
Midongdaek menghampiri Yu Ri dan menanyakan alasan Yu Ri tidak bisa pergi ke ‘atas’? Tidak ada yang perlu Yu Ri khawatirkan lagi karena suami Yu Ri sudah menikah lagi. Apa Yu Ri tetap ingin di samping anaknya?! Yu Ri tidak bisa melawan, memilih masuk ke tempat abunya (tertulis lahir 16 Nov 1983 – 23 Des 2015).
Midongdaek menegaskan kalau Yu Ri tidak boleh berada di sekitar anaknya dan naik saja dengan tenang ke atas.
Krik.krik.krik. Tidak ada jawaban dan respon sama sekali.
Midongdaek sebenarnya bisa mengerti kesedihan mereka semua karena pasti sulit meninggalkan keluarga mereka yang masih hidup.
--


Seo Woo sedang menonton TV di ruang tamu. Saat itu, searwah (karena dia arwah) pria lewat, dan Seo Woo langsung menoleh ke samping, bisa merasakan ada yang lewat.
--
Esok hari,
Yu Ri bangung dengan bahagia karena hari ini adalah hari peringatan kematiannya dan dia akan menyantap makanan enak (makanan di altar untuk dirinya).
Arwah seorang anak SMA merasa iri karena peringatan kematiannya masih 6 bln lagi. Arwah seorang ibu tua memberitahu kalau tidak semuanya akan menyenangkan.
Kenapa?
--

Gang Hwa bersiap berangkat kerja. Wajahnya tampak murung saat melihat tanggal hari ini adalah hari peringatan kematian Yu Ri sekaligus hari ulang tahun Seo Woo.
--
Orang tua dan adik Yu Ri pergi ke kuil untuk berdoa bagi arwah Yu Ri sekaligus memperingati kematiannya.


Arwah Yu Ri juga ada di kuil dan menyantap makanan di altar khusus untuknya. Dia makan dengan sangat lahap. Midongdaek juga ada di sana dan bisa melihat Yu Ri yang makan lahap dan bahkan minta di berikan soju.

Acara peringatan kematian sudah selesai. Ayah dan ibu mulai berberes. Ayah menangis sedih saat melihat foto Yu Ri dan merasa kasihan karena Yu Ri harus pergi begitu cepat. Sementara ibu, menggerutu agar ayah tidak sedih. Dan juga, mereka yang lebih menderita karena di tinggalkan anak mereka.
Yu Ri bisa merasakan kesedihan di ucapan ibunya yang tampak dingin.


Ibu pergi ke toilet dan Yu Ri mengikutinya. Yu Ri meminta maaf dan meminta ibu untuk tidak galak pada ayahnya. Ucapan Yu Ri terhenti saat melihat ibu membuka keran di wastafel dan menangis terisak-isak. Ibu sengaja melakukannya agar tidak ada yang mendengar suara tangisannya.
Yu Ri yang biasanya tampak bahagia, juga jadi sedih. Kehidupannya terlalu cepat berakhir.
--
Usai menangis, ibu kembali memasang wajah dinginnya, seolah tidak merasakan apapun. Yeon Ji (adik Yu Ri) kaget melihat wajah ibu yang basah. Ibu berbohong kalau dia mencuci muka tadi karena mengantuk.
Yeon Ji kemudian membahas, apakah kakaknya akan senang saat tahu Gang Hwa sudah menikah lagi? Ayah yang menjawab kalau Yu Ri adalah wanita hebat. Alih-alih merasa sedih, Yu Ri akan ikut berbahagia.
“Ibu seharusnya lebih ramah kepada Gang-hwa,” komentar Yeon Ji.
“Berisik! Dia bukan keluarga kita lagi. Hidupnya sudah bahagia. Untuk apa kemari?” marah ibu.


No comments:

Post a Comment