Sinopsis K- Drama : When The Weather Is Fine Episode 1 - part 2


Original Network : jTBC Viki
Hae Won mengeringkan dirinya dengan handuk.
Dengan perhatian, Eun Seop menyeduhkan segelas kopi hangat dan memberikan itu kepada Hae Won. Serta dia mendekatkan pemanas ke dekat Hae Won.

“Aku tidak tahu kamu punya toko buku. Aku juga tidak tahu ini toko buku sungguhan,” komentar Hae Won.
“Ya, sudah sekitar tiga tahun,” balas Eun Seop.
Hae Won kemudian berdiri dan melihat buku- buku di tempat Eun Seop. “Kamu juga menjual buku bekas?” tanyanya sambil melihat tanda nama yang di pasang di setiap buku.
“Beberapa orang yang datang ke sini membaca beberapa halaman dan meninggalkan penanda di antara buku-buku. Seperti wiski atau anggur. Ini agar lebih banyak orang mengunjungi toko buku dengan nyaman. Kamu juga bisa melakukannya jika ada buku yang kamu suka,” jelas Eun Seop. Dan Hae Won mengangguk mengerti.

Dengan penasaran, Hae Won menanyakan, kenapa nama toko buku Eun Seop dinamai Toko Buku Good Night. Dan Eun Seop menjelaskan bahwa makan dan tidur dengan baik sebenarnya lebih sulit dari dugaan. Itu adalah hal mendasar tapi orang- orang masih kesulitan, jadi karena itulah dia menamai tempat ini dengan harapan orang- orang bisa makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak.

“Makan dan tidur dengan baik?” gumam Hae Won, berpikir. “Apakah hanya itu kehidupan?”
“Lalu ada apa lagi?” tanya Eun Seop, tidak mengerti.

Hae Won melihat lampu di rumah nya menyala. Jadi diapun pamit. Dengan perhatian, Eun Seop memberikan mantelnya untuk digunakan oleh Hae Won. Dan sebelum Hae Won sempat menolak kebaikannya, Eun Seop kembali duduk di tempat nya dan membaca buku.

Sebelum pergi, Hae Won memandangi Eun Seop sebentar. Dia mengingat kalau dia pernah mendengar perkataan yang sama. “Makan dan tidur dengan baik.”

Didalam kelas. Hae Won membaca tulisan di buku yang berada di atas meja dekat jendela.
“Karena tidur nyenyak adalah hal yang baik. Bangun dengan nyaman, makan dengan lahap, bekerja dengan baik, dan beristirahat dengan baik. Jika kamu tidur nyenyak pada malam hari, itulah yang kamu sebut hidup yang baik. Jadi, selamat malam, Semuanya.”

“Hae Won, ayo!” panggil teman Hae Won dari luar kelas. Dan Hae Won pun mengiyakan. Dia segera keluar dari dalam kelas. Tepat disaat itu, dia berpapasan dengan Eun Seop.
Ketika Eun Seop berdiri. Hae Won segera keluar dari rumahnya.
Eun Seop memperhatikan Hae Won yang pergi dari rumahnya.
Hae Won memakai mantel tebal yang di pinjamkan oleh Eun Seop dan lalu dia pulang.

Pagi hari. Hae Won bersiap- siap dengan bersemangat. Dia memberitahu Myeong Yeo bahwa dia akan membersihkan gudang hari ini. Dan Myeong Yeo menghela nafas lelah tanpa menghentikannya.

Hae Won memakai masker dan mulai membersihkan gudang. Dia melemparkan semua barang- barang yang ada didalam gudang keluar.
Myeong Yeon memperhatikan Hae Won dengan cemas. Tapi dia hanya bisa menghela nafas saja.
Hwi memberitahu Ibu dan Ayah Eun bahwa Eun Seop sudah punya pacar dan namanya adalah Irene. Dan sebelum Hwi berbicara lebih jauh, Eun Seop menyuapkan nasi ke dalam mulutnya supaya dia diam.
“Eun Seop belum berusia 30 tahun. Ibu belum siap melepasnya,” canda Ibu Eun. Dan semuanya tertawa. “Omong-omong, Eun Seop. Kamu punya waktu siang ini? Ibu rasa akan lebih baik jika menjual tteokbokki dari rumah kaca. Kamu mau berbelanja dengan ibu?” tanyanya.


“Tteokbokki terdengar lezat. Tteokbokki adalah menu terbaik untuk arena seluncur es. Bisnis sedang lesu. Itu akan meningkatkan penjualan,” kata Ayah Eun, setuju.

Eun Seop merasa bingung harus menjelaskan bagaimana, sebab mobil Ibu Eun sedang di pinjamkan nya kepada Hae Won. Setelah bimbang sesaat, dengan jujur dia pun memberitahu kalau dia meminjamkan mobilnya kepada seseorang. Dan Hwi langsung menebak, apakah Eun Seop meminjamkan mobil tersebut kepada Irene.
“Bukankah dia membutuhkan SIM internasional?” tanya Ayah Eun, bersemangat.
“Tidak, ini tidak seperti yang Ayah pikirkan,” jelas Eun Seop dengan cepat. Tapi Ayah Eun tidak mendengarkan dan sibuk membicarakan Irene dengan Hwi.

Selesai bekerja, Hae Won beristirahat dengan meminum segelas air.

Kepala guru menyuruh Hae Won untuk berpura- pura menjadi murid dan mendaftar selama sebulan diakademi lain. Dan mendengar itu, Hae Won merasa ragu dan ingin menolak.

“Nona Mok. Kamu tidak berpikir ini mata-mata, bukan?” tanya kepala guru tanpa memberikan kesempatan untuk Hae Won bisa menolak. “Itu konyol. Ini hanya penelitian. Kamu tidak mengerti maksudku?” jelas nya. Dan Hae Won hanya bisa diam.

Hae Won menyamar menjadi murid di akademi lain. Kepala guru disana memuji kemampuan bermain Hae Won yang sangat bagus. Dan dengan gugup, Hae Won diam sambil memperhatikan nya.


Hae Won mendengarkan pembicaraan kedua murid nya yang sedang membicarakan tentang kepala guru di akademi lain. Saat kedua murid nya berbicara, dia hanya diam dan tertawa saja untuk menanggapi mereka.
Namun tepat disaat itu, dia baru menyadari kalau kepala guru dari akademi lain ada di dekat mereka. Dan mendengarkan pembicaraan mereka.

Kepala guru mengomeli Hae Won dengan kesal. Karena Hae Won ketahuan dan itu membuatnya merasa tidak nyaman, sebab kepala guru dari akademi lain jadi benar- benar meremehkannya. Mendengar itu, Hae Won hanya diam saja sambil memegang erat bukunya untuk menahan emosinya.

“Nona Mok, aku mengawasimu. Metode mengajarmu juga cukup membosankan. Kamu harus menemukan hal-hal menarik agar anak-anak bisa menikmati pelajaranmu. Pelajaranmu terlalu kaku dan teoretis. Karena itu aku menyuruhmu pergi ke akademi lain dan belajar beberapa hal. Berusahalah. Bukankah seharusnya kamu menonton acara seperti "Gag Concert"?” keluh kepala guru.

Hae Won memperhatikan pelajaran di kelas lain. Disana guru memakai kostum untuk menarik perhatian para murid. Dan dia merasa tidak nyaman.

Hae Won kesulitan untuk tidur.

Telpon rumah berbunyi dan Hae Won mengangkatnya. Orang ditelpon ingin memesan tempat dan dengan bersemangat Hae Won langsung mengiyakan. Tapi Myeong Yeo langsung mematikan telpon.
“Siapa bilang kamu bisa menerima pemesanan?”
“Kita harus menerima pemesanan untuk menghasilkan uang,” kata Hae Won dengan bingung.
“Kita tidak perlu menghasilkan uang,” jelas Myeong Yeo dengan tegas. “Bibi melaporkan bisnis ini ditutup setahun lalu. Itu menjawab pertanyaanmu, bukan?”

“Tapi kenapa… Siapa bilang Bibi bisa lakukan itu?” keluh Hae Won, tidak mengerti.
“Itu keinginan bibi. Lagi pula, bibi pemilik rumah ini.”
Hae Won tidak mengerti dengan tindakan Myeong Yeo. Sebab ini adalah penginapan yang di kelola oleh nenek sepanjang hidupnya. Serta Myeong Yeo masih berusia 48 tahun. Dan Myeong Yeo menjawab bahwa karena usia itu lah, dia merasa lelah.

“Lalu bagaimana bibi akan mencari nafkah mulai sekarang?”
“Rumah ini bukan lagi urusanmu. Bibi akan mengurusnya mulai sekarang.”
Hae Won tidak bisa menerima keputusan Myeong Yeo. Dia menjelaskan bahwa dia khawatir kepada Myeong Yeo. Dan dengan ketus, Myeong Yeo membalas bahwa itu adalah omong kosong, karena Hae Won tidak pernah mengkhawatirkannya.

“Apa maksud Bibi?”
“Bukankah kamu melakukan itu untuk mengalihkan pikiranmu? Kamu lari dari kenyataan dan melepaskan emosi. Tapi kamu harus menyibukkan diri, jadi, itu yang kamu lakukan. Apa bibi keliru, Mok Hae Won?” jelas Myeong Yeo dengan tepat dan tegas.


“Tidak, Bibi benar,” jawab Hae Won, merasa terluka. “Tapi haruskah bibi mengatakan kepada orang bodoh bahwa dia bodoh?” keluhnya.
Myeong Yeo mengabaikan Hae Won dan masuk ke dalam kamar.
Dengan sedih, Hae Won berdiri diam di tempatnya.
Hae Won keluar dari rumah untuk mencari udara segar.

Eun Seop keluar dari rumah dengan secangkir minuman hangat. Dan tepat disaat itu, dia melihat Hae Won.
Hae Won mengalihkan tatapan nya dari Eun Sop. Dia menyembunyikan wajah sedihnya.

Eun Seop berdiri diam menatap Hae Won.

Post a Comment

Previous Post Next Post