Monday, March 9, 2020

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 06-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 06-1
Images by : TvN

Prolog,
Yu Ri telah menjadi arwah. Saat di rumah duka, dia menangis sedih. Tangisannya membuat arwah Sim Geum Jae, Jung Gwi Soon, Sung Mi Ja dan Kwon Man Seok jadi terganggu. Geum Jae marah-marah dan menyuruh Yu Ri untuk berhenti menangis. Di sisi lain, mereka mengerti kalau Yu Ri pasti ketakutan sekarang ini karena tidak mengerti apa yang terjadi karena menjadi arwah.
Yu Ri masih terus menangis walau para arwah berusaha menenangkannya. Yu Ri memberitahu alasannya menangis karena suaminya terus menangis. Dia merasa sedih karena hal itu.
--
Kali ini, rumah duka juga kedatangan arwah baru. Arwah Park Hye Jin yang mati bunuh diri. Dia terus menangis dan alasannya adalah karena ibunya yang terus menangis setelah dia meninggal.
Kematian adalah akhir dari waktu yang di berikan oleh Dewa untuk menikmati hidup kita sebaik mungkin, lalu pergi meninggalkan dunia ini.
Ibu Hye Jin datang ke rumah duka dan terus menangis di depan abu anaknya. Menyesal dan meminta maaf karena anaknya harus pergi begitu.
Arwah Jung Gwi Soon juga menangis sedih ketika anaknya datang. Apalagi, saat melihat anaknya menangis.
Arwah Geum Jae pun demikian ketika ibunya datang.
Semua arwah yang ada di rumah duka, menangis penuh kesedihan saat melihat kedatangan orang terkasih mereka yang menangis di depan abu mereka.
Tapi, aku menyadari sesuatu setelah meninggal. Kenyataan bahwa hidupku bukan sepenuhnya milikku saja.
-Episode 06-
Bahkan saat sekarang, keluargaku tetap nomor satu

Min Jeong pergi ke minimarket untuk membeli soju.  Dia tampak sedih karena Hyeon Jeong tidak ada di depan minimarket, jadi dia tidak punya teman. Saat lewat di depan kedai Misaeng, Min Jeong melihat ibu-ibu tetangga yang sedang berjalan ke arahnya. Takut kalau dia akan di perbincangkan karena membeli soju, Min Jeong memilih untuk masuk ke dalam Misaeng.

Hyeon Jeong dan Yu Ri sangat terkejut saat melihat Min Jeong yang datang. Hyeon Jeong berusaha tetap tenang menyapanya dan bertanya apa yang bisa di bantu? Min Jeong sebenarnya juga terkejut melihat wanita mirip Yu Ri di sana (dia belum tahu kalau itu beneran Yu Ri), tapi dia tidak mungkin keluar begitu saja setelah masuk. Jadinya, Min Jeong duduk di meja dan memesan segelas bir. Min Jeong juga menyembunyikan soju yang di belinya di bawah kursi.
Yu Ri masih terus menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Min Jeong. Dan Min Jeong masih terus melirik ke arahnya. Hyeon Jeong menghidangkan soju untuk Min Jeong dengan alasan kalau minum bir di malam hari, kalorinya tinggi.
Min Jeong akhirnya menikmati soju yang di hidangkan. Dia terus minum dan minum. Yu Ri juga yang bingung harus bagaimana, terus minum bir-nya. Hyeon Jeong yang jadi canggung harus bersikap bagaimana di antara mereka berdua.
Flashback
Saat anak-anak pulang TK, Hyeon Jeong sempat melihat Yu Ri yang menatap dari balik jendela TK dengan tatapan sedih. Hyeon Jeong kasihan padanya.
End

Tapi, Hyeon Jeong juga kasihan pada Min Jeong. Dia tahu kalau Min Jeong peduli dan menyanyangi Seo Woo.
Diam-diam, Hyeon Jeong mengirim pesan ke ponsel Yu Ri, menyuruhnya untuk tidak cemas karena Min Jeong tampaknya tidak menyadari siapa Yu Ri. Yu Ri berusaha berpikir demikian juga dan memilih untuk segera pergi saja. Tapi, sebelum itu, Yu Ri mengirim pesan pada Hyeon Jeong untuk tidak membiarkan Min Jeong minum lebih dari dua botol.
Eh, belum sempat pesan di kirim. Min Jeong tiba-tiba berujar, “Terlalu mirip. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kenapa mereka begitu mirip?”

Woah, Yu Ri dan Hyeon Jeong langsung tegang. Eh, ternyata Min Jeong membicarakan mengenai udang kering yang terhidang untuknya. Ukuran udang itu mirip. Yu Ri dan Hyeon Jeong langsung menghela nafas lega.
“Apa Seo Woo… secantik itu?” tanya Min Jeong, melihat pada Yu Ri, secara tiba-tiba.
“Tentu saja. Seo-woo sangat cantik. Dia juga baik,” jawab Yu Ri, gugup.
“Kalau begitu, kau bisa menjadi ibunya Seo-woo,” ujar Min Jeong.
Membuat Yu Ri dan Hyeon Jeong terkejut. Dan…. Byarrrr, Min Jeong langsung tertidur. Dia sudah mabuk. Yu Ri memberitahu kalau Min Jeong sudah melebihi batas minum-nya.
--
Esok hari,
Min Jeong terbangun di rumah dengan maskara yang luntur dan juga jidat yang memakai hansaplast. Penampilannya benar-benar kacau. Dan Min Jeong sama sekali tidak ingat apa yang sudah terjadi semalam.
--
Gang Hwa ada di rumah, tapi bukan di kamar melainkan di ruang kerja. Dia tampak memikirkan mengenai Yu Ri yang tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya dan juga tidak tahu bahwa Seo Woo alergi strawberry. Gang Hwa merasa bersalah padanya.
Pas lagi memikirkan itu, Min Jeong tiba-tiba masuk masih dengan penampilan acak-acakan. Gang Hwa sangat terkejut sampai menjerit kaget.
“Apa oppa memukulku?” tanya Min Jeong.
“Tidak. Kau … ada apa dengan wajahmu?”
Min Jeong juga tidak tahu. Gang Hwa pun tidak tahu karena semalam dia tidur di ruang kerja-nya. Min Jeong memberitahu kalau dia tidak ingat apapun. Gang Hwa jelas khawatir apalagi Min Jeong berbau alkohol.
--

Hyeon Jeong dan Geun Sang mengantarkan Ha Jun ke TK. Sepanjang jalan, Geun Sang memasang wajah kesal. itu karena Hyeon Jeong memakai plester di hidung. Dia ingin tahu apa yang Hyeon Jeong lakukan kemarin hingga terluka? Hyeon Jeong tidak mau memberitahu dan bilang kalau dia hanya mimisan, jadi jangan berlebihan.
Geun Sang cemas. Bukan pada Hyeon Jeong tapi pada korban Hyeon Jeong. Jika Hyeon Jeong saja terluka, maka lawan Hyeon Jeong kemarin pasti lebih parah lagi. Dia takut kalau dia akan di tuntut untuk membayar uang damai. Hyeon Jeong kesal karena dia yang kena pukul. Geun Sang tahu hal itu, tapi Hyeon Jeong itu bukan orang yang akan diam saja jika di pukuli. Dia yakin kalau Hyeon Jeong pasti menyerang balik.
Hyeon Jeong kesal. Dengan nada manis, Hyeon Jeong meminta Ha Jun menutup mata. Setelah Ha Jun menutup mata, Hyeon Jeong baru memukuli Geun Sang karena ucapannya itu. Setelah memukulinya, Hyeon Jeong baru menyuruh Ha Jun untuk membuka mata kembali.
--
Tidak hanya Min Jeong dan Hyeon Jeong yang terluka, Yu Ri juga terluka. Dia memakai plester di dahinya.
--

Di kuil,
Para arwah di rumah duka, semuanya berkumpul di sana dan mengumpat Dewa. Semua umpatan mereka keluarkan. Untuk apa? Agar mereka juga bisa di hukum seperti Yu Ri dan menjadi manusia kembali.
Hanya satu arwah yang tidak mengumpat, yaitu arwah Sung Mi Ja. Arwah ny. Sung yakin kalau mereka tidak akan di hukum seperti Yu Ri karena pasti ada alasan Yu Ri di hukum, bukan hanya karena mengumpat.
Saat itu, Midongdaek datang ke kuil. Dia kesal karena semua arwah itu berkumpul dan mengumpat Dewa. Dia segera mengeluarkan jimat dan mengusir semua arwah dari sana. Semuanya lari terbirit-birit dengan ketakutan.
--

Semua arwah kembali ke rumah duka dan Midongdaek masih mengikuti mereka. Pas di dalam rumah duka, semua arwah mulai melakukan demo.
Cara demo-nya?
Mereka memutar musik dan menari secara kompak sambil menyanyi, menyuarakan protes mereka. Hahaahha. Canggih. Keren.

Percuma! Midongdaek tidak bergeming terhadap protes mereka yang bilang dia tidak adil dan hanya memihak Yu Ri. Habis sudah kesabaran Midongdaek dan dia hendak mengeluarkan loncengya. Tapi, dia malah tidak membawa loncengnya. Para arwah jelas jadi tidak takut pada merkea.
--
Min Jeong mengantarkan Seo Woo ke TK, sambil memikirkan apa yang terjadi kemarin. Tapi, ingatannya hanya sampai saat dia berkata pada Yu Ri kalau dia bisa menjadi ibu Seo Woo (tapi tidak begitu yakin).

Dia berpas-pasan dengan Hyeon Jeong yang memakai plester di hidung. Hyeon Jeong tersenyum ramah dan menjawab kalau dia jatuh dari kasur tadi pagi. Eh, mereka juga berpas-pasan dengan Yu Ri yang memakai plester. Min Jeong yakin kalau sesuatu sudah terjadi. Tapi, belum sempat Min Jeong bertanya, Hyeon Jeong mengalihkan.
Para ibu penggosip heran melihat mereka bertiga yang memakai plester. Apa mereka bertengkar? Salah seorang dari mereka berkata kalau Yu Ri dkk itu satu team karena memakai plester yang sama persis.
--


Usai mengantarkan anak-anak, Hyeon Jeong beranjak pulang. Tapi, dia tanpa sengaja melihat Min Jeong yang belum pulang dan berdiri di dekat jendela. Dari jendela itu, Min Jeong bisa melihat Seo Woo yang bermain riang dengan Yu Ri. Tatapan Min Jeong menjadi sedih melihat itu.
Ibu-ibu penggosip melihat Hyeon Jeong dan mengajaknya untuk ikut minum kopi bersama mereka sambil membahas tentang TK dan anak-anak yang bermasalah.
“Karena aku sudah cukup bermasalah, aku tak punya waktu membahas anak-anak bermasalah,” balas Hyeon Jeong. “Benar juga. Jika kalian punya waktu, urus saja masalah kalian sendiri.”
Min Jeong mendengar ucapan Hyeon Jeong dan tersenyum tipis. Tidak di sangka, Hyeon Jeong mengajak Min Jeong pulang bersama. Ibu-ibu penggosip itu jelas jadi kesal karena merasa di permalukan.
Sambil jalan pulang, Hyeon Jeong menggerutu mengenai ibu-ibu itu yang selalu bilang mengenai anak bermasalah, padahal tidak demikian. Min Jeong membenarkan dengan sedih. Hyeon Jeong memperjelas maksud ucapannya, kalau sebenarnya tidak masalah jika anak lambat bicara atau sejenisnya, tapi para orang dewasa yang membuat itu menjadi masalah.
“Tapi, apa kemarin malam aku melakukan kesalahan? Ingatan terakhirku berada di kedaimu,” tanya Min Jeong.
“Tidak. Setelah selesai minum, kau langsung pergi.”
Min Jeong masih ragu. Dia memasukkan tangannya ke saku, dan ada banyak sekali daun di dalam sakunya. Hyeon Jeong melihat itu dan langsung memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat. Min Jeong juga langsung membuang semua daun itu dan wajahnya tampak malu.
Kenapa ada daun di saku jaket Min Jeong?
--
Di rumah duka,
Semua arwah yang sudah memberontak menerima hukuman dari Midongdaek. Apa hukumannya? Midongdaek menempelkan jimat di semua lemari abu hingga para arwah tidak ada yang bisa keluar dan berkeliaran.
--
Di TK, pihak sekolah mengundang beberapa orang dewasa untuk memberikan penyuluhan mengenai orang jahat (penculik). Dan salah satu relawannya adalah ayah Yu Ri.

Ayah Yu Ri melihat gambar anak-anak yang di tempel di dinding. Dia memuji salah satu gambar yang tampak sangat hebat dan mirip seperti lukisan Picasso. Sangat menarik perhatian. Sepertinya, anak yang menggambar itu genius?
Guru yang melihat gambar yang di puji ayah, memasang ekspresi bingung. Gambar itu sangat abstrak. Dan yang membuat gambar itu adalah Cho Seo Woo. Hahahaha, kakek memuji gambar cucunya sendiri.
--
Di dalam kelas, para relawan mengajarkan anak-anak untuk berteriak jika di ajak orang jahat dan mencurigakan. Sepanjang penjelasan, kakeknya hanya fokus melihat Seo Woo.
--


Yu Ri berkeliling TK. Dia tertarik melihat gambar yang ada di mading. Dia bahkan memuji gambar itu pada guru yang lewat. Yu Ri bilang gambar itu mirip seperi yang di gambar seorang pelukis terkenal. Sepertinya yang menggambar itu jenius.
Gambar siapa yang di puji? Gambar Seo Woo!!
Hahahaha. Guru sampai bingung. Dua orang bilang kalau gambar itu mirip pelukis terkenal.
--
Setelah di berikan penyuluhan, saatnya praktek. Harusnya, ayah Yu Ri memasang wajah seperti orang jahat, tapi pas sama Seo Woo, dia malah bersikap ramah dan terus tersenyum.

Saat itu, Yu Ri lewat. Seo Woo melihatnya dan langsung berlari untuk memeluknya. Yu Ri memeluknya dan refleks berbalik saat melihat ayahnya. Untungnya, ayah tidak sempat melihat wajah Yu Ri, jadi Yu Ri sempat kabur ke dapur.
--
Di rumah, ibu heran karena ayah tidak ada. Dia menanyakannya pada Yeon Ji, kemana ayah? Yeon Ji menjawab tidak tahu. Tapi, begitu ibu masuk ke dalam kamar, Yeon Ji langsung mengirim pesan pada ayah kalau ibu mulai curiga, jadi segera pulang ke rumah.

Sayangnya, ayah tidak membaca pesannya karna terlalu sibuk bermain dengan Seo Woo. Yu Ri diam-diam memperhatikan mereka.

Flashback
Ayah sangat senang saat tahu Yu Ri hamil. Saking senangnya, ayah menelpon semua teman, saudara dan kolega-nya untuk pamer kalau dia akan menjadi kakek sebentar lagi. Ayah dulu sampai tidak mau ke pertemuan reuni karena iri pada teman-temannya yang menceritakan mengenai cucu mereka. Dan sekarang, ayah bisa pamer kalau dia juga akan menjadi kakek.
Ayah sangat memanjakan Yu Ri yang hamil. Dia bahkan bilang pada Yu Ri, kalau Yu Ri hanya perlu melahirkan saja dan dia yang akan mengasuh anak Yu Ri. Ibu protes kalau dulu ayah saja tidak mau menjaga anak. Ayah berkelit kalau dulu kan dia sibuk kerja mencari nafkah. Tapi, sekarang tidak lagi. Lagipula, anak dan cucu itu berbeda.
Yu Ri dan Gang Hwa senang mendengarnya. Gang Hwa sampai merekam ucapan ayah itu.
--
Dan bayangkan, betapa pedihnya hati ayah saat ibu menolak menjaga Seo Woo. Dia juga berat. Tapi, jika Seo Woo tidak ada, Gang Hwa akan terus berusaha bunuh diri. Jadi, dia harus ikhlas membiarkan cucunya bersama Gang Hwa.
Ayah menangis saat itu.
End

Dan karena itu, saat ada kesempatan bertemu Seo Woo, ayah tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja.
--
Hari ini, Gang Hwa akan menjalani sidang disiplin. Geun Sang yang gugup dan menceramahi panjang lebar kalau Gang Hwa harus berpenampilan menyedihkan dan mengkhawatirkan. Baru setelah itu, Gang Hwa memohon di maafkan.
Gang Hwa malah tidak mau mendengar ucapannya.
Suster memberitahu Gang Hwa kalau dr. Jang terus mencarinya hari ini. Gang Hwa dengan santainya malah bilang akan menemui dr. Jang kapan-kapan. Huft.
--

Direktur RS, tn. Park memanggil dr. Jang ke ruangannya terkait Gang Hwa yang tidak bisa melakukan operasi karna trauma. dr. Jang berusaha keras memberikan berbagai alasan agar Gang Hwa tetap di pekerjakan. Gang Hwa sedang berusaha di obati. Dan juga, Gang Hwa pernah menjadi dokter terbaik di rumah sakit ini.
Dir. Park tidak bisa membantu lagi dan mereka hanya bisa mengikuti hasil komite di siplin hari ini. Dia mengerti kondisi Gang Hwa, tapi tidak masuk akal jika dokter tidak bisa masuk ke ruang operasi.
--

Gang Hwa ada di ruangan Geun Sang untuk di terapi. Bukannya menjalani terapi, mereka malah membicarakan Yu Ri dan Min Jeong. Pas saat itu, dr. Jang datang. Dia menyuruh Geun Sang untuk menunggu di luar.
“Pilih salah satu. Untuk kejadian lima tahun lalu, salahkan aku hingga aku dipecat, atau kau terus bersikap begini hingga dipecat. Pilih salah satu agar kau tenang,” tanya dr. Jang.
“Astaga. Kenapa kau mengungkitnya lagi?”
Flashback
Dulu, saat kematian Yu Ri, Gang Hwa begitu marah pada dr. Jang. Dr. Jang juga tidak tahu harus bagaimana melihat frustasi-nya Gang Hwa.
End

Gang Hwa akhirnya bilang kalau dia mau di obati. Karna itu, dr. Jang menyuruh agar pengobatannya di mulai. Bukan dengan Geun Sang, tapi dengan dokter lain. Karena kalau sama Geun Sang, percuma saja.
dr. Jang juga memberikan nasehat pada Gang Hwa, sama seperti Geun Sang. Menyuruhnya untuk berpenampilan menyedihkan di depan komite disiplin nanti.
--


Min Jeong ada di café. Dia malu pada dirinya sendiri karena ada banyak daun di saku jaketnya. Dia ingat saat kemarin mabuk, dia menganggap semua daun kering itu adalah uang, jadi dia mengumpulkannya dengan begitu semangat. Argh, memalukannya. Itu yang Min Jeong pikirkan.
Min Jeong ke café untuk bertemu teman-nya yang adalah suster di rumah sakit Gang Hwa bekerja. Dia meminta bantuan agar bisa kembali bekerja, tapi bukan di rumah sakit yang sama dengan Gang Hwa, tapi rumah sakit lainnya.
“Aku bisa mencari tahu, tapi bukankah anakmu masih kecil? Kau tak apa-apa?”
“Ya. Aku baik-baik saja.”
“Suamimu bekerja di sini. Pasti akan lebih mudah. Kenapa tidak? Aku mengerti. Karena tindakan disiplin suamimu? Benar juga, ada kemungkinan dia dipecat. Kita tahu hasilnya setelah hari ini.”
“Ternyata hari ini, komite disiplin...”
“Kau tak tahu? Apa ini? Ke mana Oh Min-jeong yang selalu tahu soal suaminya?”
“Entahlah. Mungkin sudah mati.”
“Pasti kalian bertengkar. Wajar suami dan istri bertengkar. Kalian tak akan bercerai.”
“Ya, aku akan bercerai,” ujar Min Jeong.
--
Para arwah berusaha untuk bisa lepas dari jimat itu, tapi percuma saja, tidak ada yang bisa mendengarkan mereka. Semua jadi saling menyalahkan karena sudah melakukan demo tadi.

Beruntung, angin bertiup dan membuat kertas jimat yang ada di depan lemari abu keluarga Pil Seung terlepas. Mereka jelas senang. Mereka ingin membantu arwah lain, tapi mereka tidak bisa karena tangan mereka tidak bisa menyentuh kertas jimat.
Jadi, mereka memutuskan meminta bantuan para manusia. Dan satu-satunya manusia yang terpikirkan adalah…


No comments:

Post a Comment