Sunday, March 15, 2020

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 07-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 07-1
Images by : TvN
Prolog,

Tahun 2013,
Yu Ri, Gang Hwa, Geun Sang dan Hyeon Jeong melakukan kencan ganda dengan pergi berkemah. Saat Geun Sang sibuk menyiapkan makan malam, Yu Ri dan yang lain sibuk membahas mau kemana mereka nanti saat berusia 60 tahun.
Mereka saling adu pendapat. Mau ke Hongkong, Islandia atau Himalaya.
Sambil berbincang, Yu Ri juga memperhatikan Gang Hwa. Dia memakaikan krim wajah pelembab ke wajah Gang Hwa. Hyeon Jeong yang melihatnya, kesal dengan Gang Hwa yang tidak bisa merawat diri sendiri jika tidak ada Yu Ri.
Setelah perbincangan panjang, Geun Sang akhirnya siap menyiapkan makan malam. Dia meletakkannya di meja dan sibuk memotret makan malam yang di buatnya itu. Dan juga, dia ikutan nimbrung dengan pembicaraa nmereka. Dia tidak setuju pergi kemanapun saat usia 60 tahun, lagipula, hal itu masih sangat lama.
Yu Ri heran melihat Geun Sang yang sudah duduk santai padahal bilang akan menyiapkan makan malam. Dengan santainya, Geun Sang bilang kalau dia sudah selesai memasak. Masakan yang di buat Geun Sang adalah makanan mewah dengan porsi yang sangat sedikit untuk 4 orang.
Gang Hwa yang panik dan mulai membongkar tas, mencari makanan lain. Tapi, tidak ada apapun sama sekali. Geun Sang tidak ada membawa nasi instan maupun ramyeon. Daging pun tidak ada.
Langsung saja, Yu Ri, Hyeon Jeong dan Gang Hwa menghajarnya habis-habisan. Mereka akan kelaparan malam ini.
Di antara banyaknya manusia di dunia ini, kita bertemu bagaikan takdir, lalu menjalin hubungan yang erat. Ada masanya dimana hidupku seperti bunga yang baru saja mekar.

Yu Ri menonton acara TV bersama keluarganya dan tertawa terbahak-bahak. Tampak bahagia.
Namun, sekarang, ayah dan ibu serta Yeon Ji yang menonton acara “New Journey to the West” (salah satu acara favorit ku juga) tidak dapat tertawa sama sekali.
--
Ada juga masa dimana Yu Ri bertemu teman-teman sekolahnya dengan riang.
Dan kemudian, pertemuan itu tidak lagi di hadirinya.
--
Ada juga masa dimana Yu Ri bekerja giat membuat seni kaca.
Dan kini, ruang kerja tersebut telah kosong setelah kepergiannya.
Tapi, bunga yang kupikir kuat dan kokoh ini, terlalu cepat berguguran.

Dan kepergiannya, membuat kesedihan mendalam bagi Gang Hwa, Hyeon Jeong dan juga Geun Sang.
-Episode 07-
Tempat bunga-bunga bermekaran dan berguguran


Yu Ri berpas-pasan dengan Seo Woo dan Min Jeong di penyemberangan lampu merah. Melihat Yu Ri, Seo Woo langsung berlari ke arahnya dan Yu Ri langsung memeluknya. Melihat itu, Min Jeong menghampiri mereka dan mengambil kembali Seo Woo dari gendongan Yu Ri.
“Aku bisa melakukannya?” tanya Yu Ri, membuat Min Jeong berbalik menatapnya.
--
Hyeon Jeong sudah menutup toko Misaeng. Pikirannya tidak tenang mengingat pembicaraannya tadi dengan Yu Ri.
Flashback
Hyeon Jeong memberitahu kalau Min Jeong sepertinya akan menceraikan Gang Hwa. Jadi, Hyeon Jeong menyuruh Yu Ri untuk tidak memikirkan hal lain dan pikirkan serta utamakan diri sendiri.
“Gang Hwa tidak boleh bercerai,” tegas Yu Ri. “Tidak boleh!”
Mendengar itu, Hyeon Jeong jadi penasaran. Apa alasannya Gang Hwa tidak boleh bercerai? Dia tahu Yu Ri pasti menyembunyikan sesuatu. Jadi, dia menyuruh Yu Ri menatap matanya dan memberitahunya apa yang di sembunyikannya.
End
Hyeon Jeong masih memikirkan hal tersebut. Dia yakin kalau pasti ada sesuatu. Yu Ri bahkan tahu batas minum Min Jeong. Darimana Yu Ri bisa tahu kebiasaan Min Jeon? Kenapa Yu Ri seperti sudah sangat mengenal Min Jeong?
--

Gang Hwa juga sedang resah dan duduk di depan minimarket sambil minum. Geun Sang menemaninya sambil menceramahi Gang Hwa yang pasti sudah akan di pecat kalau bukan karena bantuan dr. Jang. Di tambah lagi, Gang Hwa adalah dokter bedah toraks yang sulit membuka praktek sendiri. Jika Gang Hwa sampai keluar dari RS maka apa yang akan Gang Hwa lakukan?
Bukannya mendengarkan nasehat Geun Sang, Gang Hwa malah menyuruhnya untuk pulang saja. Dia merasa sakit kepala hanya dengan mendengarkan Geun Sang. Tidak hanya itu, Gang Hwa bahkan menyumpal telingannya dengan kertas tissue agar tidak bisa mendengarkan Geun Sang. 
Geun Sang menarik sumpalan telinga Gang Hwa dan mengomel kalau dengan minum-minum, tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Gang Hwa langsung membalas kalau Geun Sang harusnya bilang pada orang di sebelahnya saja.
Geun Sang baru ngoleh dan baru ngeh kalau ternyata Hyeon Jeong sedang duduk di pinggir jalan, di dekatnya sambil makan cumi kering dan minum bir. Geun Sang benar-benar terkejut sampai menjerit kaget.

Hyeon Jeong tampak kesal. Dia ingin memberitahu Gang Hwa mengenai Min Jeong yang berniat menceraikan Gang Hwa. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya. Mungkin, karena dia merasa kalau itu bukanlah urusannya.
Gang Hwa akhirnya memilih pergi saja daripada mendengarkan ocehan Hyeon Jeong dan Geun Sang.
“Kau tak perlu memaksakan diri. Sudah kubilang jangan memaksakan atau menekan dirimu sendiri. Kau bukan orang seperti itu,” peringati Hyeon Jeong dengan nada kesal dan juga marah.
“Memangnya aku... orang seperti apa?” tanya nya balik. Tapi, dia tidak menunggu jawaban Hyeon Jeong dan langsung pergi begitu saja.

Melihat sikap Gang Hwa, Hyeon Jeong menjadi semakin kesal. Karena sikap Gang Hwa yang seperti itulah, membuat pendampingnya merasa kesepian. Geun Sang jadi bingung, kenapa Min Jeong kesepian?
Eh, Hyeon Jeong malah balik tanya, siapa yang akan Geun Sang pilih : Cha Yu Ri atau Oh Min Jeong? Geun Sang kesal mendapat pertanyaan tak masuk akal begitu. Itu sama saja seperti pertanyaan : Pilih Ayah atau Ibu?
“Aku pilih Yu Ri. Sudah pasti dia,” yakin Hyeon Jeong.
--
Yu Ri dan Min Jeong akhirnya pergi ke café untuk berbincang. Ada Seo Woo juga di sana.
Ternyata, maksud prkataan Yu Ri tadi adalah melamar perkejaan menjadi pengasuh untuk Seo Woo. Min Jeong merasa akan sulit bagi Yu Ri melakukannya karena Yu Ri kan juga bekerja sebagai asisten dapur di TK. Dan juga apa alasan Yu Ri? Yu Ri beralasan kalau pekerjaan di dapur sudah selesai sebelum anak –anak pulang, jadi dia bisa menunggu dan menjemput Seo Woo pulang. Dan juga, di bandingkan orang lain, dia merasa lebih baik jika dia yang melakukannya.
“Darimana aku bisa tahu? Kita tidak saling mengenal,” ujar Min Jeong.
Yu Ri tidak bisa menjawab karena apa yang Min Jeong katakan ada benarnya. Min Jeong terus menatapnya dan menanyakan, apakah dia sudah melakukan kesalahan tanpa sadar? Kemarin, saat di kedai Misaeng pun, Yu Ri menghindari menatapnya dan tampak merasa bersalah.
“Maafkan aku. Itu... Dahimu, aku... yang melukainya, bukan? Aku sudah ingat semuanya.”
Yu Ri menyentuh hansaplast di dahinya, “Aku tidak apa-apa. Walaupun suaranya cukup keras, tapi dahiku sangat kuat, jadi, tidak terasa sakit. Lukamu lebih parah dariku. Kau punya dua luka. Pasti sakit sekali.”


Min Jeong tanpa sadar juga meyentuh luka di dahinya. Dia dan Yu Ri melakukan hal yang sama, jadi tanpa sadar, mereka saling tertawa. Seo Woo yang melihat mereka berdua, jadi tersenyum.
--
Saat perjalanan pulang, Min Jeong menanyakan pendapat Seo Woo. Apakah dia menyukai bibi tadi? Seo Woo tersenyum lebar dan menjawab kalau dia suka bibi cantik.
“Kau tak pernah tersenyum begitu kepada ibu. Ibu sedikit kecewa.”
“Aku lebih suka ibu,” ujar Seo Woo sambil mencium tangan Min Jeong.
Diam-diam, Yu Ri mengikuti mereka dari belakang. Tatapannya tampak sedih.
--

Pagi hari,
Min Jeong membuatkan jus sayur. Sementara Gang Hwa baru siap mandi dan rambutnya basah. Min Jeong heran karena Gang Hwa selalu saja mengerikan rambut di kamar mandi. Gang Hwa membenarkan dan itu karena jika di keringkan di luar kamar mandi, rambut yang rontok akan berserakan. Dan juga, Min Jeong tidak perlu membuatkannya jus sayur karena itu merepotkan Min Jeong.

Seo Woo baru saja bangun. Min Jeong langsung ingin membawanya mandi, tapi Gang Hwa segera menghalangi dan berkata dia yang akan mengurus Seo Woo. Walau tersenyum, raut wajah Min Jeong terlihat sedih.
--

Selesai memandikan Seo Woo dan sedang bersiap, Min Jeong menemuinya dan bilang ingin membicarakan sesuatu. Dia menunjukkan hasil test Seo Woo dan juga menjelaskan kalau dia melakukannya karena orang-orang bilang Seo Woo agak berbeda dan di sarankan melakukan test. Dan hasil pemeriksaan psikologis Seo Woo kurang baik. Sepertinya, ada beberapa masalah.
Bukannya merasa khawatir pada Seo Woo, Gang Hwa malah menyuruh Min Jeong untuk tidak peduli terhadap lembaga seperti itu karena cenderung melebih-lebihkan masalah. Jadi, tidak usah cemas. Anak tumbuh dengan berbagai cara. Ada yang cepat dan lambat. Tidak perlu cemas.

Min Jeong tampakya tidak menyangka reaksi seperti itu.
Min Jeong kemudian memberitahu kalau dia berencana untuk kembali bekerja. Dan karena itu, dia ingin mencari bibi pengasuh lagi.
“Kau ingat asisten dapur yang bekerja di TK Seo-woo? Asisten dapur yang masih muda. Dia ingin mengasuh Seo-woo.”
“Begitu?” Gang Hwa berusaha tetap tenang walaupun jelas dia terkejut dan gugup. “Apa kau menerimanya?”
“Kubilang akan kupertimbangkan. Apa pendapatmu?”
“Itu... Ya... Apa pendapatmu?”
“Aku pertimbangkan.”
“Begitu. Baiklah. Terserah kau saja,” jawab Gang Hwa.
--

Yu Ri ada di sebuah keluarga apartemen dan mengeluh kesal karena keluarga Pil Seung terus mengganggunya hingga dia kesulitan tidur. Arwah ibu Pil Seung malah menyuruh Yu Ri untuk tidak tidur karna waktu Yu Ri kan sangat terbatas. Mereka sudah menentukan permintaan mereka. Daripada mereka kelamaan berpikir dan malah dapat jatah terakhir, jadi, mereka meminta lebih cepat.
Arwah kakak Pil Seung memberitahu kalau setelah Yu Ri pergi dari rumah duka hari itu, rumah duka menjadi sangat sunyi. Itu karna semua sibuk berpikir, permintaan apa yang harus mereka minta tolong pada Yu Ri. Semua sangat menderita karna Yu Ri hanya mengabulkan satu permintaan saja.

Lagi asyik menunggu, terlihat Pil Seung keluar dari kamar apartemennya dengan mengenakan seragam. Yu Ri lebih terkejut karna Pil Seung ternyata bukan pengangguran. Arwah ayah Pil Seung pamer kalau putranya adalah seorang pilot.
Setelah Pil Seung pergi, Yu Ri masuk ke dalam kamar apartemen. Dia terkejut karna rumah apartemen Pil Seung sangat berantakan seperti kandang babi. Melihat itu, Yu Ri jadi tidak mau membersihkannya. Permintaan juga ada batasnya. Dia itu mau mengabulkan permintaan bukannya jadi babu!
Arwah ibu Pil Seung langsung menangis karena Yu Ri menyebut anaknya seekor babi. Yu Ri berkata kalau ucapannya kan hanya perumpamaan. Arwah keluarga Pil Seung malah terus berakting menangis karena Yu Ri tega menyebut Pil Seung babi.
--
Min Jeong mengantarkan Seo Woo ke TK. Dia sedikit heran karna Yu Ri tidak kelihatan. Guru TK memberitahu kalau Yu Ri hari ini cuti setengah hari.
--


Rumah duka kedatangan penghuni baru. Arwah dari Kim Pan Seok, yang berprofesi sebagai supir. Walau begitu, keluarga supir Kim selalu datang ke rumah duka untuk menyapa. Arwah supir Kim tentu sedih melihat mereka tapi juga senang karena keluarganya ingat padanya.
Eh, tapi, arwah Pimpinan supir Kim yang tidak suka. Dia terus saja merendahkan makanan yang di bawa oleh keluarga supir Kim hingga bilang kalau anjing yang ada di rumahnya pun tidak akan mau memakan makanan itu. Walau begitu, supir Kim terus saja bersikap hormat padanya.
Arwah Pimpinan Baek Sam Dong begitu membenci supir Kim karena dia meninggal karena kecelakaan mobil yang waktu itu di supiri oleh Supir Kim. Dia bahkan mengatakan kalau Supir Kim sudah membunuh orang tak bersalah.
Arwah nenek Jung dan Ny. Sung yang kesal melihat tingkah Pimpinan Baek yang masih saja merendahkan Supir Kim. Di tambah lagi, abu Pimpinan Baek berada di samping abu Supir Kim. (tempat penyimpanan abu Pimpinan Baek sangat panjang dan luas dan juga di penuhi plakat penghargaan).
--

Arwah Gang Bin ada di tempat Midongdaek. Midong membawanya agar Gang Bin membantunya dalam meramal. Biasanya, arwah bisa melihat aura orang-orang, jadi dia ingin Gang Bin membantunya biar dia bisa membuat orang itu membayar mahal padanya. Tapi, Gang Bin ternyata tidak bisa melihat apapun. Saking kesalnya, Midong melarang Gang Bin untuk makan di tempatnya.

Pelanggan selanjutnya yang datang adalah Geun Sang. Gang Bin terkejut karena dia mengenali Geun Sang yang dulu sempat mengobatinya (saat episode 01). Hahahha, kali ini Gang Bin berguna bagi Midong. Midong langsung berpura-pura seolah adalah dukun sakti yang bisa tahu pekerjaan Geun Sang. Geun Sang sangat terkejut dan jadi percaya penuh pada Midong.
Tapi, sebelum memberikan konsultasi, Midong menyuruh Geun Sang untuk membayar terlebih dahulu. Geun Sang yang yakin kalau Midong adalah dukun sakti, jadinya, membayar dengan cukup banyak uang.
Setelah bayar, Geun Sang baru memberitahu masalahnya. Temannya yang telah meninggal, hidup kembali. Meninggalnya lima tahun lalu dan abunya ada di rumah duka dekat sini, tapi kemudian hidup kembali.
Mendengar itu saja, Gang Bin bisa tahu kalau yang Geun Sang bicarakan adalah Yu Ri.  Midong juga terkejut tidak menyangka yang datang adalah kenalan Yu Ri. Tapi, dia berusaha tetap tenang.
--
Geun Sang sudah selesai konsultasi dengan Midong. Tapi, pikirannya malah jadi semakin bingung.

Flashback
“Mungkin saja terjadi. Kadang terjadi,” ujar Midong.
“Mungkin terjadi? Terkadang? Orang yang telah meninggal terkadang hidup kembali?”
“Tentu saja. Semua orang pasti punya satu teman yang hidup kembali. Kau juga ada, bukan?”
“Apa? Ya.”
“Aku juga ada. Semuanya punya.”
“Benar juga. Tapi...”
“Jangan mendatangi dukun lain dan menanyakan hal seperti itu,” potong Midong. “Itu konyol.”
End
Midong sebenarnya kesal karna Yu Ri membuat banyak masalah untuknya. Tapi, dia juga ragu, apa Geun Sang beneran dokter? Kenapa begitu bodoh? Dan juga, kemana Gang Bin pergi?
Eng ing eng. Gang Bin mengikuti Geun Sang.
--

Akhirnya, karna kasihan, Yu Ri mau juga membersihkan rumah Pil Seung. Arwah keluarga Pil Seung bercerita kalau bibi yang bekerja di rumah ini, tidak pernah bertahan lebih dari sepekan. Yu Ri langsung menimpali kalau dia bahkan akan berhenti di hari pertama.


Yu Ri merasa heran juga melihat ada banyak makanan yang di biarkan begitu saja, tapi kenapa tidak busuk dan tidak ada serangga sama sekali? Dengan bangga, mereka bercerita. Ternyata, keluarga Pil Seung menggunakan kekuatan arwah mereka (menghembuskan hawa dingin) ke semua sampah makanan itu, sehingga sampah-sampah itu menjadi beku gitu.
Yu Ri memarahi mereka untuk tidak seperti itu. Kalau terus seperti itu, Pil Seung tidak akan pernah berubah dan akan tetap jorok. Arwah Ibu Pil Seung tidak bisa, karena Pil Seung menderita atopi dan akan berbahaya jika ada serangga. Dan walau begitu, dia bahagia karena masih bisa berguna untuknya. Dia tidak berharap punya 49 hari seperti Yu Ri, hanya punya sehari saja. Dia ingin bisa menjadi manusia 1 hari saja. Sebenarnya, dia merasa bersalah karena tidak ada apapun yang bisa di lakukannya saat anaknya tumbuh besar. Dia ingin membuatkan makanan sekali saja. Selama 20 tahun, Pil Seung tidak pernah menyantap makanan rumahan. Mungkin, bagi orang lain itu hal yang sederhana, tapi bagi anaknya, itu … keluarga Pil Seung tidak sanggup lagi bercerita.
Mendengar cerita mereka, Yu Ri jadi ikut sedih.

Flashback
Tahun 1999,
Ayah dan ibu baru saja menjemput kakak Pil Seung dari sekolah, baru menuju ke sekolah Pil Seung. Ibu sangat bangga bercerita pada ayah mengenai guru yang terus saja memuji Young Shim (nama kakak Pil Seung) yang pintar. Ayah sangat senang mendengarnya. Young Shim bercerita juga kalau ibunya adalah ibu tercantik di sekolahnya. Keluarga mereka bercengkerama dengan begitu bahagia, hari itu.
Saat di lampu merah, mereka melihat Pil Seung yang sudah menunggu di depan gerbang TK. Ayah tertawa karena Pil Seung berdiri begitu tegap di sana sesuai perintahnya. Mereka memuji Pil Seung yang sangat penurut.

Lampu lalu lintas sudah berubah hijau, tanda kalau mobil boleh berputar. Jadi, ayahpun memutar mobil. Di saat itulah, kecelakaan tersebut terjadi. Sebuah truk yang melanggar lalin, menabrak mobil mereka dengan begitu keras. Braaak!!!
Mobil remuk. Hancur berantakan. Pil Seung berdiri kaku melihat hal tersebut. Semua masyarakat berkumpul. Pil Seung menangis, berjalan mendekat ke mobil.
Ayah dan Young Shim meninggal. Ibu masih membuka matanya dan melihat Pil Seung yang berdiri menangis ketakutan. Air mata ibu menetes.
“Anakku,” ujarnya dengan terbata-bata. “Pergilah.”
Dan kemudian, dia menutup matanya selama-lamanya. Begitulah bagaimana keluarga Pil Seung meninggal dan meninggalkan Pil Seung seorang diri.
End

Ibu Pil Seung melihat tatapan Yu Ri dan menyuruhnya untuk tidak perlu merasa kasihan. Mereka sama saja. Yu Ri membenarkan. Mana ada arwah yang tidak menyedihkan. Ibu Pil Seung berkata kalau Yu Ri beruntung karena setidaknya bisa menyentuh anaknya. Akan tetapi, dia tidak iri sama sekali. Jika dia di suruh memilih menjadi manusia selama 49 hari lalu reinkarnasi, atau melihat putranya selamanya, dia akan memilih yang terakhir. Dia ingin melihat anaknya menikah dan menjadi ayah. Dia ingin melihatnya selamanya.
Young Shim yang sedih berusaha mengalihkan dengan menyuruh Yu Ri untuk mulai berberes.
--


Saat jam makan siang, Gang Hwa sangat tidak fokus dan terus saja menghela nafas. Para rekannya yang frustasi melihatnya. Bukan hanya Gang Hwa saja yang aneh, tapi juga Geun Sang. Geun Sang bahkan bertanya, apakah mereka punya kenalan yang sudah meninggal dan hidup kembali? Gang Hwa sampai tersedak mendengar pertanyaan tersebut. Tapi, untungnya, para rekan mereka memilih pergi saja daripada mendengarkan omongan tidak masuk akal Geun Sang.

Setelah tinggal berdua, Gang Hwa memberitahu Geun Sang kalau Yu Ri mau menjadi pengasuh Seo Woo. Geun Sang langsung menjerit kaget. Dia tidak mengerti apa yang di pikirkan Yu Ri. Hal itu tidak boleh di biarkan. Apa yang Yu Ri lakukan hanya membuat orang-orang di sekitarnya menjadi cemas saja.
--

Yu Ri sudah selesai berberes dan beristirahat di ruang tamu sambil bercerita. Dia ingin menjadi pengasuh di rumah karena ingin mengusir hantu penunggu yang ada di rumah itu. Saat masih jadi arwah, dia sudah mengusir hantu itu berulang kali, tapi terus saja masih kembali. Dia sudah menyingkirkan semua hantu yang ada di TK, tapi tidak bisa mengusir yang di rumah karena tidak bisa masuk ke dalam rumah.
Arwah Young Shim bisa mengerti hal itu. Jika ada hantu di rumah, maka semua usaha Yu Ri akan sia-sia saja. Akan tetapi, arwah ayah Pil Seung punya pendapat lain. Dia mendengarkan cerita Yu Ri sebagai seorang pria, jadi dia mencoba membayangkannya. Jika Yu Ri melakukan ini, sama saja menyiksa suami sendiri. Dengar. Gang Hwa sudah punya istri baru, tapi mendadak istri lama datang dan ingin masuk ke dalam rumah. Jika dia yang mengalaminya, dia pasti akan gila.
Yu Ri tahu hal itu. Dia sudah memikirkannya beberapa kali. Tapi, dia harus bagaimana? Hanya dia yang bisa melindungi Seo Woo. Arwah ibu Pil Seung mendukung keputusan Yu Ri. Jangan pikirkan orang lain dan pikirkan diri sendiri. Jika di biarkan, Seo Woo bisa kerasukan.
Lagi asyik berbincang, malah terdengar suara orang menekan password pintu rumah.


Yass! Pil Seung pulang. Ternyata, dia hari ini harusnya libur, tapi salah melihat jadwal dan malah berangkat kerja. Dan tentu saja, saat dia masuk ke dalam rumah, dia terkejut karena rumahnya menjadi sangat bersih dan bahkan ada makanan di atas meja.

Dimanakah Yu Ri? Yu Ri sedang bersembunyi di dalam lemari baju.
--


Keluarga supir Kim datang lagi. Dan lagi-lagi, pimpinan Baek menggerutu melihat keluarga supir Kim yang datang begitu ramai. Tapi, tentu saja, tidak ada arwah yang memihak pimpinan Baek. Sebaliknya, arwah nenek Jung dan Ny. Sung menceramahinya dan memarahinya.
“Lihatlah ini. Kau hanya arwah muda, bahkan mengunyahmu tak ada gunanya. Apa yang sudah kau makan sampai punya ego sebesar ini? Haruskah kucongkel matamu dan kusentil dengan jariku? Atau perlukah kutarik ususmu dan kujadikan lompat tali? Bahkan darah di kepalamu masih basah. Kau hanya arwah bau kencur,” marahi arwah Ny. Sung. “Hei!  Jika dihitung dari berapa kali kita memakai toilet, angkaku lebih tinggi darimu. Dasar bedebah.”
“Apa kalian tahu siapa aku?” teriak arwah Pimpinan Baek.
“Kau adalah arwah. Kau sudah meninggal, bukan pimpinan lagi. Bisakah kau menggunakan kekayaanmu yang berlimpah itu? Hidup kita sama saja.”
“Apa? Aku adalah orang yang menyelamatkan ekonomi negara ini. Aku adalah orang yang diakui oleh dunia. Aku meninggalkan kekayaan yang luar biasa, tapi pria ini hanya meninggalkan utangnya! Apa? Kau bilang hidupku sama dengannya?”
“Tentu saja, Pak. Mana mungkin hidupmu sama denganku. Tolong tenanglah,” ujar supir Kim.
“Hidup siapa yang sedang kau bicarakan? Asal tahu saja. Siapa yang bisa menjamin hidup Raja Sejong lebih berharga daripada Pak Kim? Siapa yang bisa menilai bahwa Pak Kim tidak sederajat dengan Sultan? Nilai saja hidupmu sendiri. Lupakan dunia dan materinya. Untuk apa hidupmu diakui oleh dunia? Pak Kim, luruskan pundakmu!” omel Nenek Jung.
“Kekayaan yang kutinggalkan sangat banyak. Berapa jumlah kekayaanku?”
“Satu triliun won?”
“Benar. Kekayaanku hingga triliunan won.”
“Astaga. Benarkah begitu, Pimpinan? Maafkan aku tidak mengenalimu. Kalau begitu, silakan kembali ke altarmu yang luas itu. Kenapa kau tidak masuk ke dalamnya?” ejek Ny. Sung.
“Untuk apa punya banyak uang?” tambah nenek Jung.
Pimpinan Baek semakin kesal, tapi arwah nenek Jung dan Ny. Sung sudah langsung pergi.
--

Dan Pimpinan Baek harus menghadapi kenyataan yang terjadi. Tempat abunya mendapat stiker kuning dari pihak rumah duka. Itu adalah tanda peringatan tunggakan biaya sewa dan pihak keluarga tidak bisa di hubungi.



No comments:

Post a Comment