Sunday, March 15, 2020

Sinopsis K- Drama : Memorist Episode 1 part 2

2 comments

Original Network : tvN
"Semua karakter, organisasi, tempat, dan peristiwa adalah fiktif"


Didalam ruangan yang gelap. Seorang Ibu yang penuh dengan darah terkurung di dalam sebuah tempat kecil tanpa bisa bergerak. Didepannya dia melihat dan mendengar putranya menangis sambil memanggil- manggil. “Ibu… Ibu… Ibu…” panggil nya.
Namun Ibu tidak bisa perbuat apapun. Kemudian Ibu melihat sebuah terror, seseorang memegang palu besar dan seperti ingin memukul. Bang!!

Dong Baek terbangun. Melihat itu, Se Hoong dan Kyung Tan segera mendekati nya. Dan sambil memijit dahinya yang terasa tidak nyaman, Dong Baek memberitahu bahwa ada korban lain yang di culik dan dia ingin memberitahu Unit Investigasi Regional. Tapi sayangnya, Young Soo sudah pergi.

Young Soo memberitahu semua wartawan yang berkumpul supaya jangan menyebarkan berita apapun ke media. Dan mereka protes. “Ada kemungkinan besar korban lain telah diculik. Jika ini masuk dalam berita, korban tersebut akan tewas. Seperti itulah reaksi penjahat kejam,” jelas nya dengan tegas. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan dan mengabaikan semua wartawan yang masih ingin mendapatkan berita.



Setelah berhasil mendapatkan telpon kedua, Sun Mi langsung memberitahu semua unit untuk bergerak. “Ponsel kedua korban dimatikan saat dia menghilang dan menyala kembali setelah satu pekan. Dia bergerak, tapi tidak ada panggilan. Ada kemungkinan lebih dari 90 persen itu adalah pelakunya. Semua orang dalam radius 10 km dari Jalan Onha-ri 6, lokasi telepon saat ini, diminta untuk menuju ke sana. Kepung tersangka dan bersiaga sampai tim inti tiba. Itu saja,” katanya, mengarahkan.

Young Soo masuk ke dalam ruangan. Lalu tiba- tiba dia mendapatkan telpon dari Dong Baek, dan mendengar itu, Sun Mi langsung mendekati Young Soo dan memintanya untuk berbagi infomasi. Sebab dia mengingat perkataan Shin Woo kepadanya. Dan Young Soo pun tidak menolak, dia langsung mengangkat telpon dari Dong Baek dan menyalakan loudspeaker.

“Ada korban penculikan lain. Seorang gadis. Dia ada di rubanah. Aku melihat dua hal lain. Pertama, babi merah. Dan yang lainnya adalah palu. Yang bisa dipegang dengan satu tangan. Pelakunya memegang nya,” jelas Dong Baek. Dan selagi dia menjelaskan itu, anggota tim Sun Mi langsung sibuk untuk mencari lokasi Tersangka menggunakan informasi darinya.

“Itu saja?” tanya Young Soo. Dan saat dia menanyakan itu, anggota tim Sun Mi sudah berhasil menemukan lokasi Tersangka.


“Dimana?” tanya Dong Baek, ingin tahu juga.
“Terima kasih atas informasinya,” balas Young Soo sambil menatap Sun Mi dengan tatapan penuh arti. Lalu dia langsung mematikan telpon nya.
Dong Baek mencabut semua selang infus di tangannya dan berniat untuk pergi. Se Hoong protes, karena Dong Baek masih harus di periksa terlebih dahulu.
“Petunjuk apa yang kamu lihat soal Ye Rim?’ tanya Kyung Tan.
“Kurasa pelakunya sama. Ini firasatku,” jelas Dong Baek. Lalu dia langsung berlari pergi.
“Apa telepati tidak cukup? Sekarang kamu juga menjadi cenayang?” keluh Se Hoong.



Saat akan berjalan keluar dari rumah sakit, Dong Baek tidak sengaja menabrak bahu seseorang, dan karena sentuhan singkat tersebut dia berhasil melihat apa yang ada didalam pikirannya. Dia berhenti berjalan dan melihat pria yang di tabrak nya. Wajah pria tersebut sama dengan wajah pria yang dilihatnya didalam pikiran korban.

“Itu pelakunya. Tangkap dia!” teriak Dong Baek sambil berlari mengejar Tersangka. Dan menyadari siapa Dong Baek, Tersangka langsung berlari pergi.
Se Hoong juga ikut mengejar Tersangka.

Tersangka lari ke pusat pembelajaan yang ramai, sehingga Dong Baek kehilangan jejak nya. Untuk sesaat Dong Baek diam dan berpikir, lalu dia melepaskan jaket nya dan memberikan itu kepada Se Hoong. Kemudian dia memakai hoodie untuk menutupi dirinya.

Melihat itu, Se Hoong merasa cemas. “Kamu akan memindai semua orang? Tidak, jangan lakukan itu. Kamu benar-benar akan dipenjara. Hei, Baek,” katanya mengingatkan. Tapi Dong Baek tidak mau mendengarkan nya.

Dong Baek berjalan dengan biasa sambil sengaja menyentuh setiap orang yang dilewatinya. Dengan cemas, Se Hoong mengikutinya.


Dong Baek berhasil menemukan keberadaan Tersangka, tapi saat dia berlari untuk mengejar nya, dia tertabrak oleh mobil yang lewat. Dan Tersangka menggunakan kesempatan itu untuk kabur dengan menaiki taksi. Dan Se Hoong langsung berlari untuk menghentikan nya, tapi dia tidak sempat.
Tepat disaat Tersangka merasa senang, karena berhasil kabur. Kyung Tan muncul di depan taksinya. Kemudian dari belakang nya, Se Hoong datang dan menangkap nya.

“Kamu ditangkap atas penculikan Kim Seo Kyung. Kamu berhak mendapatkan pengacara. Kamu memiliki hak untuk membela diri. Kamu berhak untuk tidak bersaksi memberatkan dirimu. Tapi kamu tahu itu tidak ada gunanya,” kata Se Hoong, menjelaskan hukum dasar.
“Lepaskan!” teriak Tersangka.

Dong Baek datang dan memindai ingatan Tersangka. Tapi ternyata dia salah menangkap orang, Tersangka yang salah di tangkap ini adalah orang yang menguntit korban Seo Kyung setelah dicampakkan, dan dia baru di bebaskan kemarin dari lembaga pemasyarakatan. Dia dipenjarakan karena memukul Seo Kyung enam bulan yang lalu.
Mendengar itu, Se Hoong dan Kyung Tan merasa kesal. Sebab jika Penguntit tidak bersalah, jadi kenapa Penguntit malah kabur.

“Dasar anjing,” kata Penguntit dengan sinis. “Kalian hanya anjing. Anjing yang hanya melindungi orang kaya dan berkuasa. Anjing!” teriaknya.
“Orang bodoh lain?” tanya Kyung Tan, malas.
“Kamu tahu betapa baiknya Seo Kyung? Apa yang menimpa Seo Kyung adalah salah kalian! Dia diculik oleh iblis-iblis itu karena parasit seperti kalian. Seperti palu menjijikkan itu!” teriak Penguntit.
“Mungkin aku butuh pengusiran setan. Kenapa aku menarik perhatian semua orang bodoh?” keluh Kyung Tan semakin merasa malas.

Dong Baek bersikap lain. Dia yang awalnya merasa lemas langsung bangkit berdiri dan mendekati Penguntit, itu karena dia mendengar kata ‘palu’. Se Hoong tidak paham, jadi dia berusaha menghentikan Dong Baek supaya tenang.

Dong Baek mendorong Se Hoong untuk minggir. Kemudian dia mencengkram leher Penguntit. “Apa maksudmu dengan "palu"?” tanyanya. Lalu dia diam dan melihat.



Sun Mi memperhatikan para tim nya yang sedang mendekati tempat persembunyian tersangka.
Ye Rim duduk memeluk lututnya di tempat tidur sambil menangis dan mendengarkan perkataan di TV yang terus diputarkan. Lalu tiba- tiba seseorang di ruangan sebelah memanggil nya dari sebuah lubang kecil dinding. Orang yang memanggilnya adalah wanita kabur yang di temui nya pada hari dia di tangkap. Dan mendengar panggilan nya, dia langsung mendekat ke dinding.

“Siapa kamu? Dimana kita?’ tanya Ye Rim.
“Jika kamu kalah, kamu akan mati,” jawab wanita kabur. “Begitulah gadis yang berada di sini lebih dahulu…” jelas nya dan Ye Rim merasa frustasi.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Ye Rim.
“Sembilan puluh berarti lulus, jadi, kamu harus lulus.”

Tiba- tiba terdengar suara langkah kaki, dan Ye Rim pun langsung kembali ke dekat tempat tidur. Namun tanpa sengaja dia menyentuh sebuah lubang kecil yang berada di lantai dan di dalam lubang itu ada darah. Melihat itu, Ye Rim kembali menangis ketakutan.

Tersangka masuk ke dalam ruangan. "Lewati tes doktrin untuk hidup abadi. Gagal dan hadapi siksaan". Itulah kata yang diperlihatkan oleh Tersangka dihadapan Ye Rim. Kemudian dia keluar dari dalam ruangan kembali. Dan Ye Rim semakin menangis.

Tim polisi mengepung tempat persembunyian Tersangka.
Sun Mi dan semua orang yang berada di dalam kantor melihat dengan gugup. Kemudian tiba- tiba saja, semua kamera mati.

“Tim SWAT, apa yang kalian lihat?” panggil Sun Mi. Tapi tidak ada jawaban. “Detektif Lim, melaporlah kepadaku,” panggil nya.
“Kami akan masuk,” jawab Lim.

Didalam gedung. Lim merasa heran saat melihat hanya ada anak- anak SMA yang berada didalam sana. Dan Sun Mi serta yang lainnya yang melihat itu juga merasa frustasi karena perkiraan mereka ternyata adalah salah.

“Pak Kepala, seseorang melanggar embargo,” kata anak buah Young Soo, melapor kan dengan panik. Dan mengetahui itu, Young Soo merasa marah.
“Apa? Kita tidak bisa menerbitkan artikel karena embargo itu,” kata Ji Eun, protes kepada atasan nya ditelpon.
“Dua perusahaan berita daring sudah menerbitkan beritanya!”
“Kita anggota korps media. Nyawa para korban terancam,” balas Ji Eun.
“Kamu sungguh memercayai itu? Polisi bahkan tidak tahu siapa yang diculik. Setelah berita itu tersebar, tidak ada jalan kembali. Embargo tidak ada gunanya sekarang.”

“Tapi tetap saja, kita harus…” jelas Ji Eun, terus protes. Namun saat dia masuk ke dalam ruangan media, dia langsung terdiam. Dia merasa sanagt kesal melihat sikap para wartawan yang sibuk memberitakan berita tersebut tanpa rasa peduli kepada korban.


Dicafe. Seorang pria gemuk menikmati secangkir kopi nikmat nya. Dong Baek kemudian datang dan duduk di hadapan nya. Dengan ramah, dia menyapa dan memberikan kartu namanya kepada Dong Baek. Tapi sebelum Dong Baek sempat menyentuh tangannya, dia langsung meletakkan kartu nama nya ke atas meja. Sebab dia tahu siapa Dong Baek.
"Hammer Management, CEO Oh Yeon Tak"

Dong Baek membaca kartu nama tersebut dan tertawa ringan. “Kamu dipaksa pensiun, dan kini kamu menjadi germo. Kamu menipu calon artis dan menyuruh mereka melakukan hubungan seksual. Seperti yang kamu lakukan dengan Seo Kyung,” jelas nya dengan santai.
“Apa maksudmu?” balas Yeon Tak, pura- pura tidak mengerti.



Dong Baek tahu siapa Yeon Tak dari mantan pacar atau penguntit Seo Kyung. Penguntit tahu kalau CEO agensi Seo Kyung adalah orang mesum. Tapi Penguntit tidak tahu kalau CEO adalah pelaku pemerkosaan and pemerasan, seorang bedebah dengan tato palu. Jika Penguntit tahu, dia yakin Penguntit akan membunuh Yeon Tak.
“Itu cerita yang menarik, tapi tidak ada konteksnya,” kata Yeon Tak, menyangkal dengan gugup.
“Jangan memperumit keadaan. Aku mencari seorang pembunuh dan ingin memindai ingatanmu.”
Yeong Tak menolak. Dia beralasan bahwa dia dan Seo Kyung berpacaran, dan Seo Kyung duluan yang melepaskan pakaian di depan nya. Jika tidak, kenapa Seo Kyung masih mau bekerja dengan nya. Mendengar itu, Dong Baek menatap tajam Yeong Tak.

“Apa kamu juga membunuh seorang gadis 20 tahun lalu?” tanya Dong Baek, mengingat Ibu didalam ruangan gelap dan sempit.
“Dua puluh tahun lalu? Mana aku tahu? Aku bahkan tidak ingat gadis yang kugoda kemarin,” balas Yeong Tak sambil tertawa geli. “Kudengar kamu agak gila.”
Dong Baek mendesis. Dia mengakui bahwa setiap kali dia melihat seorang bedebah seperti Yeong Tak, maka dia akan menjadi gila dan kasar. Yeong Tak tidak peduli, sebab dia tahu kalau Dong Baek memukul orang lagi, maka Dong Baek akan di penjara. Mendengar itu, Dong Baek mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja.

“Semuanya, lihat,” kata Yeong Tak bertepuk tangan untuk menarik perhatian orang lewat. “Ini penyidik telepati,” panggilnya. Dan semua orang pun berkumpul.
Ye Rim menonton perkataan di TV yang masih menyala.
TV yang dinyalakan : “Kamu pikir dia tidak tahu manusia akan mengkhianatinya? Di sinilah kamu bisa menemukan kontradiksi logisnya. Tuhan entah tidak kompeten atau tidak peduli. Sejak awal sejarah, hampir semua agama membuat kesalahan besar dengan menerjemahkan nubuat secara terlalu harfiah. Dan sebagai hasilnya…”
Seseorang mengambil hp diatas meja.
Yeong Tak menantang Dong Baek, bagaimana jika dia tidak pernah membunuh, apakah Dong Baek akan meminta maaf. Dan Dong Baek membalas bahwa dia tidak pernah menuntut orang yang kencing sembarangan di jalanan. Mendengar itu, Yeong Tak tertawa.

Orang yang mengambil hp di atas meja tersebut menelpon seseorang lain sambil memegang sebuah palu ditangan nya.


HP Yeong Tak yang berada di bawah meja menyala dalam mode sedang bertelponan. Melihat itu, Dong Baek segera memukul nya untuk menghentikannya yang seperti ingin kabur.
“Buang itu,” perintah Yeong Tak.

2 comments: