Sunday, March 22, 2020

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 16-2

0 comments

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 16-2
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI
Soo Ah pergi ke kejaksaan dan menyerahkan semua bukti kejahatan Jangga seperti korupsi, penggelapan dana, saham palsu dsb (yang di episode 15. Soo Ah kan mengajukan resign dan ada ngasih hard disk berisi kejahatan Jangga yang sudah di kumpulkannya selama 10 tahun ini. Itu sepertinya hanyalah hard disk copy dan yang asli masih ada di tangannya. Dan dia menyerahkannya kepada kejaksaan).
Tidak butuh waktu lama bagi Jangga untuk mulai hancur. Kejaksaan mulai melakukan penyelidikan terhadap Jangga.
Berita mengenai Kejaksaan yang melakukan penggeledahan menyeluruh di Perusahaan Jangga atas kasus penyuapan, penggelapan dan korupsi sudah mulai di siarkan. Kejaksaan juga sudah mengeluarkan larangan untuk Presdir Jang keluar negeri. Dalam pekan ini, Presdir Jang akan di panggil ke kejaksaan. Setelah meneliti data-data yang di berikan oleh karyawan Jangga sendiri, kejaksaan akan fokus mencari jumlah dan aliran dana yang di gelapkan dan di korupsi.
--


Sae Ro Yi sudah mulai pulih setelah menerima perawatan intensif. Yi Seo, Hyun Yi, Seung Kwon dan Tony sangat lega dan bahagia melihat hal tersebut.
--
Sek. Kim menemui Presdir Jang di kediamannya. Dia memberitahu berita yang menimpa Jangga adalah hubungan dengan preman, percobaan pembunuhan dan penculikan dan juga pembocoran rahasia oleh Kepala Tim Oh Soo Ah, korupsi hingga penggelapan uang, sedang di periksa oleh kejaksaan.
Geun Soo yang ada di sana memberitahu lebih lanjut kalau surat geledah pun sudah keluar dan mereka tidak mungkin lolos. Sepertinya, Presdir Jang harus ke Kejaksaan.
“Lempar saja semua kesalahan padaku,” perintah Presdir Jang. “Ada yang lain?”
“Para pemilik cabang... meminta pembatalan kontrak, serta kompensasi,” jawab Sek. Kim.
“Olimpiade akan segera digelar. Kita hanya perlu bertahan sampai saat itu…,” ujar Presdir Jang, masih percaya kalau Jangga akan kembali bangkit.
“Perusahaan ini di ambang kebangkrutan,” ujar Geun Soo, memberitahu faktanya. “Dewan direksi sedang membahas untuk menjual perusahaan.”
“Apa? Menjual perusahaan? Jika dijual sekarang, kita akan merugi. Apa mereka tak punya otak?”
“Satu perusahaan menawarkan untuk mengambil alih dengan harga baik,” beritahu Geun Soo.
--

di Penjara Chungcheong,
Ho Jin pergi mengunjungi Geun Won yang kembali masuk ke penjara karena semua kejahatannya. Geun Won tidak mengenalinya namun merasa wajah Ho Jin familier. Ho Jin memberitahu namanya, Lee Ho Jin.
“Aku manajer keuangan IC. Sebelumnya, aku manajer keuangan Direktur Kang Min-jung. Lalu sebelum itu, aku siswa kelas 12-1 SMA Gwangjin. Aku pembeli rotimu.”
“Kau... Si cengeng itu?” kaget Geun Won, tapi dengan ekspresi masih seperti menghina.
“Bagaimana kau bisa lupa? Padahal awal masalahmu dan Saeroyi adalah aku. Aku yang bertugas untuk mengakhiri ini.”
“Apa maksudmu?”
“Jangga akan masuk dalam tahap ambil alih.”
“Apa maksudmu ambil alih?”
“Hati-hari yang sama sekali tak diingat olehmu itu... "Jang Geun-won adalah peraturannya." (ini yang Geun Won katakan, di episode 01). Dukungan Jangga yang membuatmu bisa mengatakan itu. Aku ingin lihat kau kehilangan dukungan itu. Semua korupsi Presdir Jang telah terkuak dan dia akan segera ditangkap.”
“Beraninya kau...,” emosi Geun Won.
“Tak usah cengeng,” ujar Ho Jin padanya, menghina. Itu adalah apa yang dulu sering Geun Won katakan padanya. “Selesai sudah. Aku akan memaafkanmu.”

Ho Jin langsung pergi dari sana. Geun Won emosi dan berteriak memanggilnya, tapi Ho Jin tidak berbalik sama sekali. Ho Jin sudah tidak takut lagi padanya. Sebaliknya, Geun Won yang tidak berdaya. Saat dia menggila berteriak memanggil Ho Jin, polisi langsung menahan agar dia tidak mengacau.
--

Hye Won dan det. Oh (sebenarnya bukan detektif lagi sih dari dulu, cuma aku sudah kebiasaan) pergi ke rumah dir. Kang dan melihatnya yang akan pergi. Dir Kang akan ke Seoul karena perlu menangani sesuatu. Dia akhirnya akan kembali ke kantor pusat.
“Berarti sekarang... kita tak bisa sering bertemu,” ujar det. Oh, merasa sedih.
“Itu tergantung keputusanmu. Kunjungi aku setiap saat kau ke Seoul,” balas dir. Kang, penuh arti.
“Bagaimana aku bisa melakukannya?” malu det. Oh, merasa minder karena dia hanya seorang pekerja biasa.
“Begitukah? Kalau begitu, kita tak bisa bertemu,” ujar dir. Kang.
“Astaga. Ayah sangat payah,” ejek Hye Won.
“Sampai jumpa, Hye-won. Jaga dirimu.”
“Tunggu... Direktur Kang!” teriak det. Oh.
“Kau bukan karyawanku. Kenapa kau panggil aku begitu? Panggil saja namaku.”
“Baiklah. Bu Min-jung,” ulang det. Oh. Hye Won dan dir. Kang speechless karena det. Oh manggil pakai embel-embel ‘bu’.
“Aku... Apa kau tak bisa pergi dengan mobilku?” tanya det. Oh.
“Mobil itu tentu lebih nyaman,” ujar Hye Won menunjuk mobil sedan dir. Kang.
“Diam saja kau,” suruh det. Oh pada Hye Won. Hahahha.
Dir. Kang diam sejenak. Dan dia mau naik mobil truk det. Oh. Dia menyuruh supir dan sekretarisnya untuk pergi duluan karena dia akan naik mobil det. Oh. Akhirnya, hubungan mereka berkembang cuy.
--
Soo Ah datang ke perusahaan untuk mengambil barang-barangnya. Dia berjumpa dengan sek. Kim di lobby Jangga. Sek. Kim tidak mengerti dengan keputusan Soo Ah membocorkan rahasia perusahaan. Apa yang Soo Ah lakukan, akan membuat Soo Ah tidak bisa bekerja di perusahaan manapun. Kenapa dia melakukannya?
“Bagaimana denganmu? Kenapa kau berusaha keras... demi Jangga dan Presdir Jang?” tanya Soo Ah, balik.
“Alasanku? Karena aku... hanya karyawan biasa.”
“Aku belajar banyak darimu,” ujar Soo Ah tanpa menjawab pertanyaan sek. Kim sebelumnya.
--
Presdir Jang di ruangannya bersama Geun Soo. Dia masih belum menyerah terhadap Jangga dan tidak ingin Jangga di ambil alih oleh IC. Dia berusaha membujuk para pemegang sahamnya dan pendukungnya, tapi semua mengabaikan teleponnya dan bahkan saat dia masih bicara, mereka mematikannya.
“Tak ada cara lagi cara untuk lolos. Presdir Jang. Maksudku, Ayah. Pepatah yang paling Ayah suka. "Yang kuat memangsa yang lemah." Seperti kata-kata itu, kita yang lemah ini... menjadi mangsa,” ujar Geun Soo, mengatakan faktanya.

Akan tetapi, Presdir Jang tidak bisa menerima hal tersebut. Dia tidak suka mendengarnya dan memerintahkan Geun Soo untuk keluar dari ruangannya. Geun Soo mengerti. Dia menundukkan kepala sejenak memberi hormat dan berjalan keluar.
--

Ibu Yi Seo datang ke rumah sakit menemui Sae Ro Yi. Dia marah-marah. Walaupun Sae Ro Yi adalah mantan napi dan hanya lulusan SMP (karena Sae Ro Yi di keluarkan sebelum lulus SMA, dan sebelum bisa ikut ujian penyetaraan, dia sudah masuk penjara), dia masih bisa menerima hal itu. Akan tetapi, dia tidak bisa menerima mengenai Yi Seo yang di culik.
Sae Ro Yi berlutut hormat di atas tempat tidur. Dia menundukan kepala dan meminta maaf. Ibu masih terus mengomel dan marah, tidak bisa mempercayakan Yi Seo pada Sae Ro Yi.
“Aku benar-benar minta maaf. Akan kupastikan ini tak terjadi lagi.”
“Tentu saja. Aku akan perhatikan kau sampai akhir. Kau harus bertanggung jawab!”
“Tentu saja, aku akan... Baik, Bu,” ujar Sae Ro Yi.
Yi Seo senang mendengar kalau Sae Ro Yi akan bertanggung jawab padanya. Dia langsung mengajak ibunya untuk pergi. Ibu sama saja dengan Yi Seo, dia senang karena Yi Seo akan bertanggung jawab pada Yi Seo, jadi dia akhirnya mau pergi. Dia bahkan menyuruh Sae Ro Yi untuk segera sembuh.
“Terima kasih, Omonim (Ibu). Hati-hati di jalan,” ujar Sae Ro Yi.
"Ibu"? Aku senang mendengarnya,” ujar ibu Yi Seo, senang.
Setelah ibu Yi Seo pergi, Sae Ro Yi baru bisa berhenti berlutut. Yi Seo menemaninya dan mengingatkan kalau Sae Ro Yi sudah bilang akan bertanggung jawab padanya. Sae Ro Yi menegaskan kalau itu bukan omong kosong.
“Kau suka padaku?” tanya Yi Seo.
“Tidak, aku mencintaimu,” ujar Sae Ro Yi. Awh.
Yi Seo senang dan meminta Sae Ro Yi mengulang ucapannya barusan. Dengan malu dan sok cuek, Sae Ro Yi mengulangnya dan langsung jalan cepat. Yi Seo berlari mengejarnya sambil berujar kalau dia juga mencintai Sae Ro Yi
--

Presdir Jang sudah benar-benar terpojok. Dia akhirnya menelpon nenek Tony untuk meminta bantuan. Dia meminta maaf atas perilakunya dulu. Dia berjanji tidak akan mengganggu Sae Ro Yi lagi. Nenek Tony tertawa mendengarnya karna Presdir Jang bukannya tidak akan menganggu Sae Ro Yi, tapi tidak akan bisa mengganggunya lagi. Presdir Jang berusaha membujuk nenek agar membantunya dengan berkata kalau mereka sudah saling mengenal selama 40 tahun.
“Untuk apa kau menelepon?” tanya Nenek Tony, tidak mau berbasa basi lebih panjang.
“Aku tak tahu apa kau pernah dengar, hidupku di dunia... tidak akan lama lagi. Jangga menjadi besar berkat bantuanmu. Aku tak bisa biarkan hancur begini. Tolong aku sekali lagi dan...”
“Berkat bantuanku?” potong nenek Tony. “Sebelumnya, kau pernah berkata. Kau berbisnis agar keluargamu tak kelaparan. Apa kau masih berpikiran sama?”
“Tentu saja. Tentu aku berpikir itu,” bohong Presdir Jang.
“Kalau begitu, bila Park Saeroyi yang memimpin Jangga, apa keluargamu akan kelaparan? Apa alasanmu berbisnis sekarang?”
“Aku tak pernah membuatmu rugi. Bila kau tolong aku sekali lagi...”
“Pada akhirnya, kau hanya ingin hubungan yang menguntungkanmu. Bila nilaimu turun, hubungan kita otomatis berakhir.”
“Bila kau seperti ini, aku harus bagaimana?”
“Bagaimana? Sepertinya kau tak bisa berpegang padaku. Ada orang lain yang bisa mengurus hal itu,” ujar nenek Tony.
--

Presdir Jang akhirnya memutuskan untuk datang ke DanBam cabang Itaewon menemui Park Sae Ro Yi dan Yi Seo. Park Sae Ro Yi menyambut kedatangannya.
Para pelayan kedai DanBam heran melihat Presdir Sae Ro Yi yang sampai datang kemari untuk melayani presdir Jang. Para pelayan itu tidak mengenali presdir Jang dan hanya merasa presdir Jang terlihat familier.
Sae Ro Yi ada di dapur dan memasak sebuah hidangan untuk Presdir Jang. Selesai memasak, dia mengantarkannya sendiri pada Presdir Jang. Yang di buat oleh Sae Ro Yi adalah sundubujjigae.

Presdir mencoba hidangan tersebut. Ah, entah kenapa melihat Presdir yang tampak kesulitan makan, jadi kasihan gitu. Sambil presdir Jang makan, Sae Ro Yi memberitahu rencananya untuk mengambil alih Jangga dan akan membiarkan dir. Kang yang memimpin Jangga selanjutnya. Dan karena reputasi Jangga sedang tidak bagus dan dia juga membenci nama tersebut, dia berpikir untuk mengganti nama Jangga.
“Dari siapa... kau belajar membuat ini?” tanya Presdir Jang.
“Dari ayahku.”
“Manajer Park? Aku berpikir rasanya mirip. Tapi ini memiliki rasa akhir yang unik.”
“Kami punya resep sendiri untuk sausnya. Aku beri perhatian penuh pada bubuk kacang kedelai fermentasi.”
“Perhatian penuh?”
“Saat cuaca dingin, kehangatannya menyebar di tubuh,” jelas Sae Ro Yi. “Bukankah itu enak?”
“Aku setuju. Aku sudah disajikan makanan enak, tapi maafkan aku. Aku tak bawa uang. Apakah aku boleh berikan yang lain?” tanyanya.
Sae Ro Yi hanya diam. Presdir Jang bangkit dari kursinya. Dia berdiri diam untuk beberapa saat dan …
Presdir Jang berlutut pada Sae Ro Yi.
“Jangga sudah runtuh. Tidak ada gunanya mengambil alih perusahaan itu. Semua itu kesalahanku,” ujar Presdir Jang.
“Ini bukan hanya karena benci. Aku lihat Jangga adalah perusahaan bagus.”
“Hidupku tak lama lagi. Aku tak melakukannya untuk kebaikanku. Aku benar-benar... minta maaf padamu. Aku banyak bersalah... pada Manajer Park dan dirimu. Aku bersalah. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu,” ujar Presdir Jang dan tampak menyesal serta menangis.
Presdir Jang berlutut dengan kepala mengenai tanah. Astaga. Tidak sangka sama sekali.
“Ini hal yang kuharapkan. Namun, aku tak merasa senang,” ujar Sae Ro Yi. “Angkatlah kepalamu.”
Sae Ro Yi jongkok di hadapan Presdir Jang yang sudah mengangkat kepalanya.

“Apa kau menganggapku... mudah dipengaruhi? Aku ini... seorang pebisnis. Permintaan maaf karena proses ambil alih... apa gunanya bagiku? Mari berbisnis, Presdir Jang,” tegas Sae Ro Yi, tidak terpengaruh.
Presdir menangis. Air matanya jatuh. Tidak ada lagi jalan baginya untuk mempertahankan Jangga.
Sae Ro Yi dan bahkan Yi Seo langsung pergi dari sana.
Presdir Jang masih tetap berlutut di sana dan menangis terisak-isak. Benar-benar terisak-isak.


No comments:

Post a Comment