Wednesday, March 25, 2020

Sinopsis Lakorn : Girl Next Room – Motorbike Baby Episode 02

0 comments

 Sinopsis Lakorn : Girl Next Room – Motorbike Baby Episode 02
Images by : GMM Tv

Sky menjaga asrama asrama sambil mengerjakan PR. Dan ternyata, walau begitu-begitu, ada juga penghuni asrama yang menggoda-nya sambil membayar uang sewa. Sky balas menggoda-nya. Sepertinya, dia hampir saja mendapatkan pacar, tapi seorang pria muncul dari belakang dan bertingkah seolah-olah dia adalah pacar dari Sky. Alhasil, wanita itu jadi kabur, balik ke kamarnya.



Pria itu adalah Krathing. Jamjan juga mengenalnya. Sepertinya, mereka cukup akrab karena Krathing bertugas untuk mengajarkan matematika pada Sky. Btw, Sky ini adalah murid SMA.
==Motorbike Baby==

Hari ini, Sundae pulang dengan membawa Mo dan Cherry ke asrama-nya. Cherry memuji lantai kamar Sundae yang jauh lebih bersih daripada tempat tidurnya. Sementara itu, Mo malah sibuk selfie di kamar Sundae.


Pas Sundae mau menyusun barang-barangnya, dia baru sadar kalau ada tag name Mile di dalam tasnya. Cherry dan Mo langsung menggoda Sundae yang tampak pendiam, tapi punya banyak akal untuk mendapatkan pria. Sundae lagi serius dan tidak bercanda. Dia harus mengembalikan tag name itu. Cherry setuju karena kalau tidak, besok pagi Mile bisa di hukum karena tidak pakai tag name.
Karena hari sudah cukup larut, Sundae berencana untuk mengembalikannya besok pagi saja. Mo malah tidak setuju. Dia malah membuat Sundae cemas dengan berkata bagaimana kalau besok pagi mereka tidak bisa bertemu dengan Mile? Atau mereka di suruh berkumpul lebih pagi daripada jadwal? Maka Mile akan terkena masalah karena Sundae. Jadi, mereka harus mengembalikannya hari ini.
Sundae semakin bingung. Kampus kan juga sudah tutup dan Mile pasti juga sudah pulang. Mo langsung tertawa penuh arti dan menunjukkan rekaman live Mile yang sedang perform di sebuah klub. Mereka akan ke sana untuk mengembalikan tag name tersebut.
--
Mereka akhirnya pergi ke café tempat dimana Mile melakukan perform. Sundae merasa ragu untuk masuk dan menyuruh agar Mo dan Cherry saja yang mengembalikan. Mo tidak mau karena mereka sudah jauh – jauh kemari, jadi masuk saja. Sundae tidak mau masuk ke dalam klub. Sundae yakin akan ada banyak pria mabuk di dalam sana dan ketika mabuk, para pria itu pasti akan memegang-megang wanita. Pokoknya, tidak ada hal baik di dalam klub. Kalau mereka menari, semua orang pasti berkeringat dan saling menyentuh kan, bukankah itu menjijikan? Belum lagi kalau terjadi perkelahian, mereka bisa terluka.
Mo dan Cherry capek mendengar kekhawatiran Sundae. Mereka tidak peduli dengan semua itu dan tetap memaksa Sundae untuk masuk, dengan alasan kalau Sundae harus mengembalikan tag name Mile sendiri. Dan mereka baru mengizinkan Sundae pulang setelah mengembalikan tag name tersebut.
Cherry tiba-tiba saja khawatir kalau dia tidak akan di izinkan masuk oleh security karena dia masih belum 18 tahun. Sundae tidak khawatir akan hal itu karna usianya sudah lebih dari 18 tahun. Karena Sundae bilang begitu, Mo dan Cherry jadi penasaran kenapa Sundae terlambat masuk kuliah?
Sundae bingung menjawabnya dan mengalihkan dengan membahas mengenai masuk klub. Dia yakin kalau identitas mereka tidak akan di periksa. Dan akhirnya, mereka pun masuk ke dalam klub. Mo dan Cherry begitu bersemangat hingga meninggalkan Sundae di belakang seorang diri.

Sundae yang baru masuk, sudah merasa tidak nyaman karena bau rokok. Dia memutuskan untuk keluar, tapi malah tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria. Pria itu menggoda Sundae dan mengajak Sundae untuk hang out bersamanya. Sundae takut dan memilih untuk mencari Mo dan Cherry saja.

Mile memang ada di klub itu dan sedang perform di atas panggung. Mo dan Cherry sudah berdiri di depan panggung dan menari dengan bersemangat. Untungnya, Sundae berhasil menemukan mereka. Melihat Mile yang sedang nyanyi di atas panggung, Sundae malah senyum-senyum dan menikmati nyanyian Mile.
Mile selesai bernyanyi. Para fans berteriak histeris dan itu sangat mengganggu bagi Sundae. Dia mengeluarkan tag name Mile dari tasnya dan berusaha memberikannya pada Cherry. Dia meminta Cherry memberikan tag name itu pada Mile dan dia akan segera pulang karena tidak nyaman berada di tempat seperti itu. Sayangnya, Cherry tidak mendengarnya sama sekali.
Sebaliknya, Mile di atas panggung melihat Sundae dan langsung menyapanya dengan mic. Dia bahkan menanyakan Sundae ingin minta request lagu apa? Dan karena itu, semua mata jadi tertuju pada Sundae. Sundae jadi semakin tidak nyaman dan langsung kabur dari sana.

Tapi, pas keluar klub, Sundae malah melihat ada perkelahian sekelompok pria. Sundae jadi takut. Dan untungnya, Mile juga keluar dari klub dan menawarkan tumpangan pada Sundae. Tanpa ragu, karena takut melihat perkelahian sekelompok pemuda tadi, Sundae langsung masuk ke dalam mobil Mile.

Begitu Sundae masuk, Mile langsung tanya, kenapa Sundae pulang begitu cepat? Apa Sundae tidak menyukai lagu yang di nyanyikannya? Sundae menjelaskan kalau dia tidak suka tempat ramai, membuatnya tidak nyaman. Mile jadi penasaran, kalau begitu, kenapa Sundae ke sana? Sundae langsung teringat kalau dia ingin mengembalikan tag name Mile. Dia meminta maaf karena tidak sengaja membawa tag name tersebut. Dia takut kalau tidak segera di kembalikan, Mile bisa kena marah para senior besok.
“Kau khawatir padaku?” tanya Mile.
Sundae terdiam. Mile jadi tidak enak dan berkata hanya bercanda. Dia juga ingin tahu bagaimana tag name-nya bisa di tas Sundae? Sundae pun tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu. Sumpah.
Mile jujur memberitahu kalau dia yang memasukkan tag name itu ke dalam tas Sundae. Dia ingin punya alasan untuk bertemu Sundae. Mendengar itu, Sundae jadi canggung, tidak tahu harus bereaksi bagaimana dan akhirnya meminta Mile menurunkannya saja. Mile jadi tidak enak dan mengira Sundae marah padanya. Sundae beralasan kalau asrama-nya sudah dekat dan dia bisa jalan kaki.

Mile merasa kalau Sundae pasti mengira dirinya adalah stalker atau sejenisnya kan? Sundae membantah itu. Dia beralasan kalau dia hanya lapar dan ingin membeli sesuatu sambil jalan pulang. Mile mengerti dan akhirnya mau menurunkan Sundae. Sundae berterimakasih atas tumpangannya.


Eh, pas udah turun dari mobil Mile dan berjalan beberapa langkah, dia malah berjumpa dengan Thankun. Thankun heran melihat Sundae yang ada di jalan di malam selarut ini. Dia menawarkan diri untuk mengantar Sundae.
Flashback
Thankun dulu sering mengikuti Sundae. Karena Sundae menolak untuk di bonceng, maka Thankun mendorong sepedanya dan berjalan bersama Sundae. Sundae menghela nafas melihat Thankun yang begitu gigih. Dan tanpa ragu, Thankun menyuruh Sundae memberikan nomor teleponnya jika lelah dengannya.
“Apa kau tidak lelah mengikutiku setiap hari?” tanya Sundae kesal.
“Tidak setiap hari. Aku tidak mengikuti di hari Sabtu dan Minggu. Bagaimana bisa aku lelah. Aku sendiri yang ingin melakukannya. Dan ini, sapu tanganmu.”
Sundae menerima sapu tangannya kembali. Dan di sapu tangannya, Thankun menggambar seekor rusa. Sundae tampaknya senang tapi masih berusaha sok tidak peduli. Thankun terus mengikutinya dan tegas bilang kalau dia akan terus mengikuti Sundae sampai mendapat nomor Sundae. Mari lihat siapa yang menyerah terlebih dahulu!
Sundae terpikir sesuatu. Dia akan memberikan nomor palsu saja. Thankun seolah tahu apa yang Sundae pikirkan.
“Jika kau tidak mau memberikan nomormu, aku akan mengikutimu setiap hari seperti ini. Ini caraku untuk mendapatkanmu,” ujar Thankun.
Membuat Sundae tersenyum malu.
--
Akhirnya mereka tiba di depan rumah Sundae. Sundae langsung menyuruh Thankun untuk pergi sebelum ibunya melihatnya.
Eh, P’Sunny malah yang melihat mereka. Dia masih ingat dengan Thankun dan bertanya, apa Thankun tidak lelah seperti ini terus? Thankun tidak menjawab pertanyaan P’Sunny dan pamit pada Sundae.

Sialnya! Ibu Sundae keluar rumah dan melihat Thankun. Dia menyuruh Sundae membawa masuk Thankun. Sundae tampak panik dan memarahi Thankun yang sudah di suruh pergi dari tadi, tidak pergi.
--


Ibu bicara dengan Thankun sementara Sundae mengintip dari atas tangga. Ibu menawarkan minuman keras pada Thankun, dan Thankun menolak untuk minum dengan sopan. Ibu membahas mengenai Thankun yang dia dengar mengantar pulang putrinya setiap hari. Thankun membenarkan.
“Jangan menggoda. Kalau kau suka padanya katakan saja kau suka,” ujar Ibu.
“Ya. Aku menyukainya.”
Tidak di sangka, ibu malah menyuruh Thankun untuk minum minuman keras yang di berikannya. Thankun tetap menolak dengan alasan kalau dia masihlah murid sekolah.
“Kau mengambil ujian masuk universitas kan?”
“Ya.”
“Universitas mana yang kau tuju?”
“Aku masih belum tahu.”
“Kau tidak berani minum miras. Dan kau juga tidak tahu kemana kau akan lanjut kuliah. Kau kira aku bisa yakin padamu? Kau kira aku akan baik-baik saja membiarkan putriku keluar dengan ‘bocah’ sepertimu (jadi ibu Sundae menganggap Thankun sebagai anak-anak bukan pria)? Maaf. Kau bukan bocah ya. Kau sudah kelas 12 kan? Biar ku ubah kalimat ku tadi. Dengan orang yang bertingkah ‘bocah’ sepertimu. Kau harus fokus dalam belajar dan menemukan apa yang benar-benar kau inginka daripada mengejar seorang gadis. Itu membuatmu terlihat seperti tidak ada masa depan. Maaf jika aku terlalu kasar. Aku sedang mabuk. Hari sudah semakin gelap, kau harus pulang. Aku tidak akan mengantarmu ke depan. Keluargamu pasti sudah menunggu.”
Sundae yang mendengar dari atas, benar-benar merasa bersalah pada Thankun atas ucapan ibunya.
End

Sundae ragu untuk naik, tapi Thankun memberikan helm padanya dan menyuruhnya untuk naik saja. Sundae akhirnya mau naik ke motor Thankun. Sepanjang jalan, mereka hanya diam saja.

Sundae membayangkan kalau ini adalah masa SMA mereka, dan mereka adalah pasangan. Mereka tampak bahagia.

Flashback
Sundae berada di kamarnya. Kamarnya tampak berantakan. Sundae menulis diary dan menangis terisak-isak. Banyak pil obat yang berceceran di sekitarnya.
End
Mengingat hal itu, membuat Sundae masih menangis. Thankun khawatir karna tidak ada suara dan mengira Sundae tertidur. Sundae menjawab tidak dengan suara sengau, membuat Thankun sedikit khawatir.
--

Pas turun dari motor, Thankun langsung minta bayaran 20 baht. Sundae kaget dan mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Thankun tersenyum dan menjawab kalau dia hanya bercanda, dia tidak meminta bayaran.
Sundae akhirnya bertanya kenapa Thankun bisa jadi tukang ojek?
“Awalnya, aku berencana mencari biaya hidup dengan hanya mengantarkan makanan kucing, tapi hal itu tidak cukup. Ketika pamanku bilang dia berhenti jadi tukang ojek, aku yang mengambil alih. Kau tahu, aku mendapat lebih banyak uang dengan menjadi tukang ojek daripada mengantarkan makanan,” jelas Thankun.
Sundae senang mendengarnya dan berujar kalau Thankun pasti sudah kaya sekarang. Thankun tersenyum lebar dan menjawab kalau itu harapannya. Tapi, dia hanya mendapat cukup uang untuk hidup dan membayar biaya obat ayahnya setiap bulan.
Sundae khawatir dan menanyakan keadaan ayah Thankun. Thankun bilang kalau keadaan ayahnya masih seperti dulu. Oh ya, beberapa hari yang lalu, ayahnya baru saja membuat bubur dengan daging babi dan lobak yang Sundae sukai. Ayahnya selalu membicakan Sundae setiap kali makan itu dan selalu menangis.
“Dia begitu merindukanku hingga menangis?” kaget Sundae.
“Bukan! Dia membakar lidahnya karena makan bubur panas-panas.”
Sundae tertawa. Dia hampir saja percaya ucapan Thankun barusan. Thankun bilang kalau ayahnya beneran membicarakan Sundae, dia hanya menambahkan bagian bubur agar sedikit lucu saja. Ayahnya sering tanya, apakah dia dan Sundae masih bicara atau putus dengan buruk?
Sundae jadi memasang wajah sedih. Dia berjanji akan menemui ayah Thankun suatu hari nanti.
Mereka saling tersenyum, tapi juga tampak sedih. Sundae juga mengakhiri perbincangan dengan segera masuk ke dalam asrama.
--

di kamar asrama,
Sundae tidak bisa tidur sama sekali. Dan karena itu, Sundae meminum obat-nya dan kemudian melihat diary-nya.

Isi dari diary itu adalah :
Setelah ibuku berlaku kasar padanya hari itu, dia menghilang. Dia mungkin menyerah padaku. Tidak masalah. Aku kembali bebas lagi. Aku dapat jalan pulang ke rumah lagi daripada harus  membahayakan hidupku dengan naik sepeda tua yang dapat di tabrak mobil kapanpun. Pulang dengan jalan kaki sendiri jauh lebih aman dan tidak mengkhawatirkan.
Flashback
Walau Sundae menulis seperti itu pada buku hariannya, Sundae tetap saja menanti Thankun menyapa dan memboncengnya.
Tapi, dia seharusnya mengucapkan selamat tinggal dan mengatakan sesuatu.
Mungkin, dia benar-benar tersinggung oleh perkataan ibuku hari itu dan tidak ingin melihatku lagi. Ayolah! Aku harus berhenti menulis tentang dia sekarang. Apa aku rindu padanya? Tidak! Tidak!

Eh, Thankun muncul di sebelahnya dengan sepeda. Thankun menjelaskan kalau dia ingin menunggu Sundae di gerbang tadi, tapi dia terlambat. Maaf. Apa Sundae menunggunya? Sundae gensi mengaku menunggu dan membantah dengan tegas.
Thankun datang untuk bilang kalau dia tidak bisa mengantar Sundae pulang hari ini karena dia harus menjaga ayahnya. Ayahnya baru saja jatuh di kamar mandi tadi pagi. Mendengar itu, Sundae jadi khawatir.
--


Akhirnya, Thankun membawa Sundae ke rumahnya untuk melihat ayahnya. Saat pulang, ayah sedang tidur. Thankun membangunkannya untuk minum obat, tapi ayah tidak kunjung bangun. Thankun jadi ketakutan dan berteriak berulang kali. Eh, ayah ternyata baik-baik saja dan menyuruh Thankun untuk tidak teriak-teriak atau nanti dia tendang. Thankun lega dan juga kesal karena ayah mengerjainya.
Ayah membertahu kalau dia merasa lapar. Thankun langsung tanya, ayahnya ingin di belikan apa? Pas sekali, ayah melihat Sundae. Dan Sundae menawarkan diri untuk memasak. Thankun langsung menunjukan di mana dapurnya. Setelah Sundae ke dapur, ayah dengan antusias langsung nanya ke Thankun, apa itu pacar Thankun? Cantik!
Thankun bilang bukan. Ayah langsung menggoda Thankun dengan bilang dia ada kesempatan. Thankun langsung memarahinya untuk tidak begitu. Dia menyuruh ayah menunggu saja sementar dia membantu Sundae di dapur.

Thankun tiba-tiba berdiri di belakang Sundae dan bertanya apa yang Sundae masak? Sundae refleks berbalik dan membuat wajah mereka menjadi sangat berdekatan. Membuat keduanya sama-sama gugup.
Tapi, itu tidak berlangsung lama. Sundae berkata kalau Thankun dan ayahnya lucu. Apalagi Thankun bicara pada ayahnya seolah mereka berteman. Thankun sebenarnya khawatir pada ayahnya karena ayahnya sudah pernah jatuh dan terkena stroke sekali. Dan karena itu, dia harus sangat memperhatikan ayahnya.

Mereka asyik berbincang, hingga Sundae lupa sedang menggoreng telur. Mereka baru sadar saat tericum bau gosong.
Ayah Thankun kebetulan ke dapur karena mencium bau gosong. Dia shock melihat telur yang sangat menghitam dan berkomentar kalau dia bisa mati karena kanker. Hahahha. Sundae meminta maaf dan akan memasak orang. Ayah melarang dan menyuruh mereka menunggu di ruang tamu saja sementara dia yang memasak. Sundae merasa segan, tapi ayah menyuruh Thankun untuk membawa Sundae ke depan.
--

Hari sudah malam,
Makanan sudah siap dan di sajikan. Ayah memasak bubur. Thankun hendak memberikan sayur (aku juga tahu itu apa), tapi Sundae menolak. Dia menjelaskan kalau dia tidak makan sesuatu yang tidak di masak dengan api, seperti telur itu yang hanya di celup saus dan makanan fermentasi lainnya. Dia merasa itu tidak bersih.
Semua mengerti dan menyuruh Sundae untuk makan bubur saja.

Saat itu, adik Thankun pulang. Nama adiknya adalah Thai. Dan dia langsung terpesona melihat Sundae. Ayah dan Thanku menyuruh Thai untuk nyuci tangan sebelum bergabung makan dengan mereka.
Di saat sedang makan, Thankun mendapat telepon untuk mengantarkan makanan kucing ke rumah terdekat. Jadinya, Thankun pamit pergi sebentar dan memperingati ayahnya untuk tidak bercerita aneh-aneh pada Sundae. Ayah mengiyakan.
Tapi, begitu Thankun pergi, ayah langsung nanya pada Sundae, mau nggak dengan cerita menarik mengenai Thankun? Sundae jelas mau.
Ayah bercerita ketika dia tidak bergerak dan butuh terapi fisik (karena stroke, dulu), Thankun melakukan pekerjaan paruh waktu sebagai pengantar makanan kucing. Thankun bangun subuh untuk mengantarkan makanan kucing kemudian ke sekolah dan ketika pulang, Thankun akan mengantar lebih banyak lagi makanan kucing. Thankun tidak ada di rumah saat hari libur. Thankun bekerja di pasar. Thankun terus bekerja seperti orang gila. Bukankah itu cerita yang menarik? Sejujurnya, ayah ingin Thankun keluar dari pekerjaan tersebut, tapi Thankun tidak mau.
“Ini rahasia ya. Sebenarnya, aku sangat kaya, kau tahu? Beneran. Aku punya banyak harta. Aku tidak bilang pada anak-anakku karena tidak ingin mereka memperebutkan hartaku,” ujar ayah tiba-tiba. “Jika kau menjadi putriku, aku akan memberikan semuanya padamu. Percaya padaku.”
Sundae tertawa mendengarnya. Percaya tidak percaya. Gimana mau percaya, toh ayah malah minjam uang 200 baht dengan alibi hendak membuat kunci brangkas untuk hartanya. Sundae tertawa lebar dan semakin sulit percaya.
--

Selesai makan, Sundae membantu dengan mencuci piring. Thankun yang baru pulang tersenyum padanya dan menyuruh Sundae untuk menunggu di dalam sementara dia yang mencuci piring.
“P’, kamu sebenarnya pria yang baik,” ujar Sundae tiba-tiba.
Thankun heran karna dia hanya mencuci piring dan Sundae sudah menyebutnya sebagai pria baik. Kalau begitu, dia akan mencuci semua piring yang ada di rumah Sundae juga. Sundae tersenyum dan menjawab terserah saja. Hal itu membuat Thankun jadi penasaran apa maksud dari senyuman Sundae itu?

Dan akhirnya, mereka jadi saling main sabun cuci piring. Ayah Thankun dan Thai melihat itu dan tersenyum.
--

Begitu tiba di rumah, Sundae langsung menulis diary.
Aku suka keluarga P’Tan. Setiap kali ke sana, pipiku jadi sakit karena terlalu banyak tersenyum. Mereka saling menggoda lebih dariada keluargaku. Tetapi, mereka jadi tampak lebih dekat. Mereka sangat dekat sehingga aku tidak bisa menahan perasaan cemburuku. Jika aku punya Ayah, aku ingin dia seperti ayah P’Tan.
End

Sundae tertidur di atas meja dan begitu bangun, jam sudah sangat siang. Dia terlambat! Sundae langsung buru-buru mandi, menyiapkan barang dan pergi ke kampus.

Di depan asrama, sudah ada Thankun yang menunggu dan menawarkan tumpangan. Thankun juga menggoda Sundae yang selalu terlambat bangun. Sundae hendak pergi jalan kaki, tapi Thankun mengingatkan kalau sekarang sudah hampir jam 8 dan walaupun Sundae mampu jalan dengan sangat cepat juga tetap akan terlambat. Dia juga tahu kalau dosen Sundae hari ini akan memotong nilai para mahasiswi yang terlambat per menitnya.
Dan karena kata-kata Thankun, Sundae jadi mau menumpang di motor Thankun.
--

Mereka tiba di depan kampus tepat waktu. Karena Sundae kesulitan membuka helm-nya, Thankun membantunya membukakan.
“Sundae!” terdengar suara Mile yang berteriak memanggil Sundae.
Mile dan Thankun langsung saling menatap tajam.






No comments:

Post a Comment