Sinopsis C- Drama : Go Ahead Episode 5

 


Original Network : Hunan Tv, iQiyi, Mango TV

Ling Xiao duduk di atas atap memandangi langit malam sendirian. Kemudian Jian Jian datang bersama dengan Ziqiu dan menyelimutinya. Sehingga dia merasa hangat. Lalu mereka makan cemilan bersama dengan bersemangat sambil mengobrol.



“Ada meteor, kah?” tanya Jian Jian sambil memandang ke langit.

“Diberita bilang pukul satu subuh, sekarang belum tengah malam,” jawab Ling Xiao, menjelaskan.

“Yakin bisa melihatnya? Dua tahun lalu kita juga menunggu bintang andromeda itu, hasilnya tidak terlihat, bahkan kita di gigit nyamuk,” keluh Jian Jian.

“Kali ini berbeda. Lihat kali ini, dulu hujan sekarang cuacanya bagus. Dan sepertinya kali ini meteor leonids,. 50 tahun sekali,” balas Ziqiu dengan cukup yakin.


Jian Jian kemudian berhenti makan sebentar. Dia merasa akhir- akhir ini dia sudah terlalu banyak makan cemilan dan bertambah gemuk. Dan Ziqiu menertawainya serta menyuruhnya untuk diet. Tapi Jian Jian tidak mau, karena dia masih masa pertumbuhan.

Dengan nakal, Ziqiu mencubit lemak ditubuh Jian Jia dan tertawa. Dengan kesal, Jian Jian pun menendang nya dengan pelan.

“Meteor ini kapan datangnya?” gumam Ling Xiao, bertanya.

“Itu,” kata Jian Jian sambil menunjuk ke arah langit. “Pesawat,” candanya. Dan Ziqiu tertawa dengan keras mendengar leluconnya.

Hari semakin larut. Jian Jian tertidur sangat nyenyak. Sementara Ziqiu dan Ling Xiao masih terjaga untuk menunggu turun nya meteor.

“Hei. Kamu tidak tanya, kenapa Ibumu meninggalkanmu?” tanya Ziqiu, ingin tahu.

“Tidak. Aku sudah tahu alasannya, penasaran apa lagi,” balas Ling Xiao dengan malas. “Dia bukan meninggalkan ku, tetapi semua barang di masa lalu.”


“Ternyata kita ini barang,” gumam Ziqiu, kecewa.

Dengan perhatian, Ling Xiao menasehati Ziqiu untuk jangan berpikir terlalu banyak. Dia yakin bila He Mei kembali, He Mei pasti akan menjemput Ziqiu. Dan mendengar itu, Ziqiu mendengus. Lalu dia menanyai, bagaimana perasaan Ling Xiao saat Chen Ting datang kembali. Dan dengan jujur, Ling Xiao menceritakan bahwa dia tidak merasakan apapun, namun melihat Chen Ting hidup dengan baik, dia merasa akhirnya bebannya terlepas. Kemudian dia bertanya balik kepada Ziqiu.

“Jika dia kembali, aku minta kembali uang Ayahku, kemudian mengusirnya. Kamu kira aku itu kamu, tidak berguna,” kata Ziqiu dengan sikap pura- pura benci kepada He Mei, kepadahal sebenarnya tidak.

“Semoga begitu,” balas Ling Xiao, singkat.


Tiba- tiba meteor turun. Dan Ziqiu serta Ling Xiao secara bersamaan langsung membangunkan Jian Jian. Lalu setelah itu, Ziqiu segera melipat tangannya dan berdoa. Sementara Jian Jian berteriak dengan bersemangat sambil melambai- lambaikan tangannya.

“Ibu! Ibu! Aku disini! Sudah melihatku?” tanya Jian Jian, berteriak.


Mendengar teriakan itu, Ziqiu dan Ling Xiao hanya diam saja. Mereka berdua tampak tidak terlalu bersemangat melihat Jian Jian berteriak kepada Ibunya. Tapi Jian Jian tidak menyadari hal tersebut dan terus saja berteriak dengan bersemangat.



Chen Ting menarik Meiying untuk pergi bersamanya ke toko mie dan menemui Ling Xiao. Tapi Meiying tidak mau dan memberontak. Sebab dia tahu bahwa Ling Xiao tidak menyukai nya dan hanya peduli kepada Jian Jian saja. Juga dia mau pulang ke Singapura. Dan Chen Ting tertawa pelan, sebab mau tidak mau, mereka harus tinggal disini untuk sementara, dan mereka hanya bisa pulang setelah tahun baru. Juga dia membujuk Meiying untuk berhubungan baik sama Ling Xiao, karena mereka berdua adalah saudara. Dan akhirnya, Meiying pun mengalah dan mendengarkan bujukan Chen Ting.

“Ayo, sudah mau hujan,” ajak Chen Ting sambil menarik tangan Meiying. Dan kali ini, Meiying tidak memberontak dan mengikutinya dengan patuh.


Hujan turun dengan sangat deras. Meiying dan Ling Xiao mengerjakan PR di meja yang sama. Saat Meiying kesulitan mengerjakan PR nya, Ling Xiao menawarkan bantuan dan mengajarinya. Dan Meiying merasa sangat senang di ajari oleh Ling Xiao. Melihat itu, Chen Ting juga merasa senang.


Saat Ling Xiao memperhatikan tanda lahir di belakang leher Meiying, senyum Chen Ting menghilang. Dan kemudian dia membahas tentang masa lalu. “Tanda lahir ditempat yang sama, ajaibkan? Hari itu juga petir sebesar ini. Kamu menggedor pintu, tapi tetangga tidak mendengarnya. Sudah begitu lama, aku terus memimpikan petir ini, tidak bisa pulang, tidak menemukan jalan, basah kuyup, dingin dan gemetaran,” katanya. Dan mendengar itu, Ling Xiao teringat akan mimpi buruknya juga. “Sembuh setelah melahirkan Meiying, tidak lagi bermimpi seperti itu,” jelasnya, mengakhiri cerita masa lalu.


“Kenapa memimpikan petir?” tanya Meiying, tidak mengerti.

“Karena Ibu takut disambar petir,” jawab Chen Ting, berbohong.

“Takhayul,” gumam Ling Xiao, pelan.


Ketika Jian Jian keluar dari dapur dan melihat ke dekatan antara Ling Xiao dan Meiying, dia merasa sangat sebal serta cemburu. Dan dia meremas sayur di tangannya untuk melampiaskan emosinya. Melihat itu, Ziqiu menarik Jian Jian dengan paksa untuk masuk kembali ke dalam dapur.


Disekolah. Jian Jian merasa sangat tidak bersemangat. Dan Mingyue mengerti bahwa Jian Jian pasti mengkhawatirkan tentang Ling Xiao. Dan Jian Jian membenarkan. Dia merasa tidak nyaman, karena kedatangan Meiying. Juga dia membayangkan, jika Ibu Ziqiu juga kembali dengan membawa seorang adik. Maka dia pasti akan terabaikan, dan itu berarti seumur hidupnya ini, dia hanyalah pengganti saja. Mendengar itu, Mingyue tertawa.


Mingyue kemudian menanyai Jian Jian, apa yang Ziqiu sukai, karena ulang tahun Ziqiu akan segera tiba. Mendengar itu, Jian Jian baru teringat. Namun dia merasa aneh, kenapa Mingyue bisa tahu. Dan dengan gugup, Mingyue beralasan macam- macam. Lalu dia bertanya lagi, apa yang Ziqiu sukai. Dan mendengar itu, Jian Jian diam serta berpikir dengan keras.


Saat pulang, Ling Xiao menunjukkan headset yang dibelikannya untuk Ziqiu. Dan Jian Jian hanya ‘mmh’ kan dengan sikap acuh dan malas. Dan dengan heran, Ling Xiao memeluk bahu Jian Jian dan bertanya.

“Urus saja adikmu yang itu, untuk apa mengurusku?’ kata Jian Jian, menunjukkan rasa cemburunya. Tapi dia tidak mau mengakui bahwa dia cemburu. Lalu diapun berjalan pergi duluan. Dan dengan geli, Ling Xiao tertawa serta mengejarnya.


Saat Ziqiu sedang membantu Li Haichao memasak didapur, Ling Xiao datang untuk menggantikannya. Tapi Ziqiu menolak, karena dia tidak tahu harus bicara apa dengan Bibi kedua nya.

“Cepat pergi. Bibimu datang merayakan ulang tahunmu. Cari topik pembicaraan,” kata Li Haichao dengan tegas. “Cepat. Antarkan buah yang sudah di kupas di meja,” jelasnya juga.

Dengan terpaksa, Ziqiu pun meninggalkan dapur. Dan Ling Xiao menggantikan pekerjaan nya.


Bibi kedua bersikap sangat sopan sekali. Dia memanggil Jian Jian dengan sebutan ‘Nona Li’. Dan Jian Jian merasa tidak nyaman di panggil seperti itu, jadi diapun meminta Bibi kedua untuk memanggilnya dengan nama saja.

“Jian Jian,” panggil Bibi kedua dengan sikap lebih santai. “Kamu buat ini, tidak menunda belajarmu?” tanyanya, penasaran, melihat Jian Jian sibuk memahat kayu.

“Biasanya nilaiku sudah jelek,” jawab Jian Jian, dengan bangga dan tanpa rasa malu.

Ziqiu kemudian datang membawakan apel untuk mereka berdua. Lalu melihat Jian Jian begitu jorok, dia memperingatkan Jian Jian untuk membersihkan meja sendiri nanti. Dan Jian Jian mengiyakan. Tapi mendengar itu, Bibi kedua langsung memukuli Ziqiu dengan pelan dan menariknya untuk keluar dan berbicara.



Ziqiu membawa Bibi kedua ke dalam kamarnya. “Bibi mau bilang apa, bisa dikatakan diluar saja, kan?” tanya nya, bingung.

“Duduk,” perintah Bibi kedua. Dan Ziqiu pun menurut. “Tadi kenapa berbicara begitu pada Jian Jian?” tanyanya. Dan Ziqiu merasa bingung apa yang salah. “Kamu makan dan tinggal dirumahnya, mereka juga bayar uang sekolahmu. Kenapa jika kamu bantu bersihkan meja mereka? Sudah sering Bibi katakan padamu, dirumah orang harus lebih rajin,” katanya, menasehati dengan niat baik. Tapi Ziqiu merasa tidak nyaman. “Dengar, kamu tidak sebanding dengan Ling Xiao, Ayahnya memberikan uang, dia berbeda. Jadi kamu harus lebih pengertian,” katanya, menekankan.

Dengan tidak berdaya, Ziqiu menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Ling Heping akhirnya datang. Dia datang dengan membawakan kue ulang tahun untuk Ziqiu. Melihat itu, Li Haichao berniat untuk memanggil Ziqiu dan Bibi kedua untuk keluar dari kamar. Namun sebelum dia sempat mengetuk pintu, dia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua didalam. Dan dia merasa bersimpati kepada Ziqiu.

“Ziqiu, bantu hidangkan,” panggil Li Haichao untuk membantu Ziqiu.

Mendengar panggilan itu, Bibi kedua langsung menyuruh Ziqiu untuk segera keluar dan membantu Li Haichao diluar.


Dimeja makan. Bibi Kedua (He Lan) merasa canggung untuk makan bersama dengan semuanya. Dan melihat itu, Ling Heping menyuruh He Lan untuk jangan sungkan dan makan saja. Dan He Lan pun mengiyakan, lalu dia menuangkan Li Haichao minuman dan mengajaknya untuk bersulang. Dan Li Haichao pun mengiyakan dan bersulang.

He Lan kemudian menarik Ziqiu untuk berdiri dan bersulang dengan Li Haichao juga. Dan Ziqiu pun melakukannya. Tapi lalu He Lan malah memukulinya dan memarahinya. “Kamu ini masih belum menuangkan arak untuk Ayahmu,” katanya. Dan suasana pun menjadi agak canggung serta tidak nyaman.


“Semuanya duduk dan makanlah,” kata Ling Heping, berusaha mencairkan suasana. Dan Li Haichao pun menarik Ziqiu untuk duduk.

“Ziqiu, bersulang pada Ayah Ling,” kata He Lan, menarik Ziqiu untuk berdiri lagi. Dan Ziqiu merasa sangat tidak berdaya dan hanya bisa menurut saja.

“Sudah, sudah. Duduk, aku tidak perlu,” kata Ling Heping, segera menghentikan.


Jian Jian kemudian langsung mengalihkan pembicaraan. Dia menanyai Ling Heping, dimana ampao untuk kado ulang tahun Ziqiu. Dan Ling Heping tertawa keras. Melihat itu, He Lan merasa agak canggung dan masih saja berdiri.



Ling Heping kemudian memberikan ampao kepada Ziqiu, dan Jian Jian langsung merebutnya. “Isinya begitu banyak? Di ulang tahunku, aku baru dapat 600 yuan,” keluhnya.

“Tahun ini bertambah,” balas Ling Heping. Dan Ziqiu langsung merebut ampao nya kembali. “Ulang tahunmu nanti, juga bertambah,” janjinya.

“Benarkah?” balas Jian Jian. Dan Ling Heping mengiyakan sambil tertawa. Kemudian mereka semua bersulang besama- sama. Dan mulai makan.


Dengan canggung, He Lan duduk di tempatnya dan hanya memperhatikan semuanya makan saja.


Setelah makan- makan selesai, Li Haichao yang mulai mabuk bersikap sedikit kekanak- kanakan. Dan melihat itu, Ling Xiao serta Ziqiu langsung membantunya.

“Kalian berdua anakku, ‘kan?’” tanya Li Haichao sambil memegang tangan Ling  Xiao dan Ziqiu dengan erat. “Kalian anakku, meskipun tidak ada hubungan darah, tidak satu marga, kita tetaplah satu keluarga ya,” katanya.

“Benar. Semuanya anak kandungmu,” kata Ling Heping, menenangkan Li Haichao.


“Ling Heping. Aku sedang sedih, kamu tahu tidak? Aku sedih!” teriak Li Haichao, emosi. “Awalnya, aku merasa Tuhan sangat baik padaku. Memberiku anak- anak sebaik ini. Kemudian, aku menghargainya. Aku besarkan mereka, menjaga mereka, aku tidak tega pukul, tidak tega marah. Tetapi ada orang yang selalu mengingatkanku, aku bukan Ayah kandung, aku bukan keluarganya. Jadi dimana keluarga mereka?” tanyanya dengan sedih.

Mendengar itu, He Lan dan Ling Heping merasa agak tidak enak. Sebab Li Haichao tampak seperti sedang membicarakan tentang diri mereka.


“Neneknya memukulnya, memarahinya. Ling Xiao, setelah bertemu Ibunya, dia tidak bisa tidur, kurang tidur. Setiap hari tidak bisa tidur, aku sedih melihatnya. Siapa yang peduli? Kalian siapa yang tahu?” tanya Li Haichao, emosi. “Ziqiu kami ini, paling menderita. Semuanya selalu bilang padanya, kamu harus berbakti, kamu harus menghormatinya. Kapan Ziqiu kami tidak berbakti? Ditengah malam, mencuci baju di toilet, bantu aku mengepel dan memasak, kenapa tidak berbakti? Kamu memukulnya didepanku, kamu mencubitnya. Kamu sedang memukul ku!” bentaknya, marah. Lalu dia mulai terbatuk- batuk dan merasa tidak nyaman.

Dengan segera, semuanya segera membantu Li Haichao dengan panik, kecuali He Lan. Dia berdiri dan lalu duduk dengan canggung di tempatnya.



Jian Jian merasa tidak tega kepada Ayahnya yang terlalu menahan banyak hal sendirian. Dan Ling Xiao pun menasehati Jian Jian untuk jangan sampai seperti ini juga.

“Aku menahan apa?” tanya Jian Jian, tidak mengerti.

“Kamu membenci Xiao Chengzi (Meiying),” balas Ling Xiao, tahu.

“Aku membencinya?” teriak Jian Jian, emosi. Dan Ling Xiao langsung memberikan tanda supaya Jian Jian jangan berteriak, karena takut Li Haichao akan terbangun nantinya. “Aku benci tiga generasi keluarga Nenekmu,” tegasnya.

“Sudah mirip hamster,” balas Ling Xiao dengan sikap memanjakan. Tapi Jian Jian terus saja cemberut. “Jangan marah. Hanya sampai tahun baru,” bujuknya. Tapi Jian Jian tidak peduli.

Ketika Jian Jian dan Ling Xiao keluar dari kamar, Li Haichao membuka matanya secara perlahan dan melamun.

Flash back

Jian Jian membawa Li Haichao dan Ling Xiao ke desa untuk menjemput Ziqiu. Dan secara serius, Ling Xiao memberitahu Jian Jian bahwa Li Haichao dan He Mei tidak jadi menikah, jadi Ziqiu bukanlah kakak Jian Jian lagi, karena itu mereka tidak bisa menjemput dan membawa Ziqiu begitu saja.

“Tetapi Ayah sudah beli tempat tidurnya. Ayah sudah beli tempat tidur,” kata Jian Jian, bersikap keras kepala.



Tepat disaat itu, Ziqiu lewat. Dan Jian Jian pun langsung berlari ke arahnya sambil berteriak ‘Kakak’ dengan suara keras.

Melihat kondisi Ziqiu yang sangat susah, Li Haichao merasa sedih sekali. Dia membantu Ziqiu untuk mengangkat keranjang yang dibawanya. Dan sesampainya diladang dia membantu Nenek Ziqiu bekerja sambil mendengarkan tentang kisah hidup Ziqiu, setelah He Mei pergi meninggalkannya sendirian.


Sementara Ziqiu, Jian Jian, dan Ling Xiao, mereka bertiga bermain- main bersama di samping ladang.

Li Haichao memperhatikan anak- anak yang tampak gembira bermain  bersama. Dan dia merasa sangat tidak tega.


“Serahkan Ziqiu padaku,” pinta Li Haichao, mengejutkan Nenek Ziqiu dan He Lan. “Aku akan bawa dia ke kota, ku carikan sekolah. Aku besarkan dia,” katanya dengan tulus.


Saat Ziqiu tinggal dirumah Li Haichao, setiap malam dia selalu mencucikan baju semua orang secara diam- diam. Dan ketika Li Haichao mengetahui itu, dia merasa sedih dan juga tidak tega.


Saat makan, Ziqiu selalu hanya makan sayur saja, dan menolak untuk memakan daging. Namun Li Haichao memaksanya untuk memakan daging. Dan dengan senang, Ziqiu mengucapkan terima kasih. Mendengar itu, Li Haichao merasa sedih untuk Ziqiu.

Saat Ziqiu membantu ditoko, ada tetangga yang suka sekali mengejeknya. Mereka menanyai, apakah He Mei ada mengirim uang. Lalu mereka mengatai, bila Ziqiu tidak patuh, maka Li Haichao akan mengusir nya. Dan mendengar itu, Ziqiu merasa sangat sedih. Dan Li Haichao langsung menegur dua tetangga yang mengejek Ziqiu dengan tegas. Kemudian dia menghibur Ziqiu.


“Ziqiu jangan nangis, tidak apa. Nenek salah bicara, aku tidak akan mengusir mu, tidak akan,” kata Li Haichao, menyakinkan Ziqiu.

“Aduh. Nenek hanya bercanda, kamu sungguh menangis,” ejek si tetangga sambil tertawa.

“Makanlah. Jika tidak makan, nanti mengembang,” tegas Li Haichao, tidak senang dengan sikap si tetangga. Lalu dia membawa Ziqiu untuk menjauh.


Li Haichao kemudian kembali menghibur dan menenangkan Ziqiu untuk jangan sedih. Karena baginya, Ziqiu sama seperti Jian Jian, sama- sama anaknya. Jadi dia tidak akan meninggalkan Ziqiu. Mendengar itu, Ziqiu hanya diam saja dan menggangguk.


Suatu hari, He Lan datang dengan membawakan surat dari He Mei untuk Li Haichao. Dalam surat itu, He Mei berterima kasih banyak kepada Li Haichao, karena sudah mau menjadi Ayah bagi Ziqiu dan menolong Ziqiu. Lalu dia menjelaskan bahwa sekarang dia juga sedang sangat  kesulitan, jadi dia tidak bisa mengirim biaya apapun. Namun dia menenangkan Li Haichao untuk tidak perlu khawatir, karena Ziqiu pasti akan menjadi anak yang berbakti dan tahu membalas budi. Lalu uang yang dipinjamnya, suatu saat dia pasti akan mengembalikannya. Dan dia juga meminta maaf.

Flash back end


He Lan meminta maaf, karena sudah membuat Ayah Ziqiu marah. Dan Ziqiu menjawab tidak apa- apa, karena dia tahu He Lan mengatakan semua itu demi kebaikannya.

“Ziqiu. Berjanjilah satu hal,” pinta He Lan. “Lupakan Ibumu. Jangan cari kabarnya lagi, jangan cari dia lagi. Dia sudah pergi begitu lama. Begini lebih baik untuk kalian,” katanya, menasehati.

“Aku tidak ada maksud lain, aku hanya ingin tahu kenapa,” balas Ziqiu, berpura- pura tidak peduli dengan He Mei. Kepadahal dia sangat peduli.

“Ziqiu. Kita harus punya hati nurani. Ayahmu begitu baik padamu, jangan buat dia sedih,” pinta He Lan dengan serius dan tulus. Dan Ziqiu pun mengiyakan.


Keesokan harinya. Mingyue memberikan hadiah jam tangan kepada Ziqiu. Dan Ziqiu menerima hadiah itu dengan sikap biasa saja dan cuek. Namun walaupun begitu, Mingyue sudah merasa sangat senang.


Dicafe. Seperti biasa, Jian Jian bersikap bermalas- malasan, sementara Ziqiu dan Ling Xiao sibuk belajar dan mengerjakan tugas dengan rajin.

Sedangkan Mingyue, dia terus menatap ke arah Ziqiu. Dia memperhatikan, Ling Xiao memakai jam tangan yang sama dengan jam yang dia berikan sebelumnya kepada Ziqiu. Sementara Ziqiu sendiri tidak ada memakai jam tangan apapun, dan dia merasa agak kecewa.


Suatu hari, Meiying datang berkunjung ke rumah Jian Jian untuk bertemu dengan Ling Xiao. Dan Jian Jian menyuruh Meiying untuk duduk di tangga dan menunggu saja disana, karena Ling Xiao sedang tidak ada dirumahnya. Namun Meiying menolak dan menyuruh Jian Jian untuk membawanya mencari Ling Xiao. Jika Jian Jian tidak mau, maka dia tidak akan pergi. Dan Jian Jian tidak peduli.

“Bawa aku cari kakak ku,” kata Meiying, keras kepala. Dia memegang baju Jian Jian dengan erat dan tidak mau melepaskannya.

“Lepaskan. Jika tidak kupukul kamu,” ancam Jian Jian. “Hitung sampai tiga…”


“Kuberi 100 yuan,” kata Meiying sambil memberikan uang nya. Dan Jian Jian pun menerima uang itu dengan senang.




Jian Jian dengan sengaja membawa Meiying berkeliling, tanpa benar- benar membantunya mencarikan Ling Xiao. Dan karena Meiying bersikap agak menjengkelkan, maka dia pun sengaja berlari. Tanpa sengaja, disaat itu, Meiying malah terpeleset dan terjatuh dari tangga. Dan Jian Jian merasa sangat terkejut.


Sesampainya di rumah sakit, Ling Xiao yang panik mengabaikan Jian Jian. Dia langsung menghampiri perawat dan mengenai keadaan Meiying, lalu dia mengikuti si perawat masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaan Meiying yang mengalami patah tulang.

Sedangkan Ziqiu, dia menenangkan Jian Jian yang berdiri terpaku, karena masih merasa syok dengan apa yang terjadi.


Chen Ting memarahi Li Haichao dan Jian Jian secara habis- habisan. Dan ketika Ling Xiao memberitahu bahwa Meiying sudah siuman, barulah dia berhenti.


“Bagaimana?” tanya Li Haichao, dengan perasaan bersalah.

“Tidak apa, Ayah. Kembalilah ke toko. Disini ada aku,” jawab Ling Xiao, menenangkan Li Haichao. “Abaikan Ibuku.”



“Kak …” panggil Jian Jian, ingin bicara. Tapi tepat disaat itu, terdengar sura Meiying yang berteriak memanggil Ling Xiao. Dan Ling Xiao pun menyuruh Jian Jian untuk pulang duluan. Mendengar itu, Jian Jian merasa sedih dan juga syok.

“Ayo. Kita hanya mengganggu,” ajak Ziqiu, menarik tangan Jian Jian.



Chen Ting kembali membahas masa lalu, dan menghubungkan semuanya dengan masa lalu. Dia membahas bahwa dulu Ling Xiao sangat menyayangi Adik serta selalu menjaga Adik dengan sangat baik. Dan sekarang Meiying juga menyayangi Ling Xiao, walaupun mereka baru pertama kali bertemu. Dan Meiying adalah Adik baru Ling Xiao. Jadi Chen Ting berharap Ling Xiao bisa memberikan sedikit rasa sayang Ling Xiao ke Jian Jian kepada Meiying.

“Yang kuberikan kepada Li Jian Jian, tidak akan kubagi. Aku bukan kamu,” kata Ling Xiao dengan tegas. Lalu dia masuk ke dalam kamar rawat Meiying, dan mengabaikan Chen Ting.


Jian Jian berdiri merenung  diatas atap sambil memandang ke arah jalan. Melihat itu, Ziqiu mengerti apa yang sedang Jian Jian tunggu.

“Ayah tidak izinkan, selagi Ayah tidak ada, makanlah permen ini,” kata Ziqiu, untuk menghibur Jian Jian. “Mengabaikanku. Buka mulutmu. Ah… Ah… pintar,” pujinya, saat Jian Jian dengan patuh membuka mulutnya dan memakan permen pemberiannya.



Jian Jian menceritakan perasaannya kepada Ziqiu. Dia tahu kalau dirinya tidak bersalah, karena Meiying terjatuh bukan karenanya. Tapi setiap hari Ling Xiao selalu ke rumah sakit dan tinggal disana, dan dia sudah lama tidak bertemu Ling Xiao. Dia yakin bahwa Ling Xiao pasti merasa tidak senang.

2 Comments

Previous Post Next Post