Sinopsis K- Drama : Tale of the Nine Tailed Episode 11 part 1


Original Network : tvN

Dari jalan yang ramai, Lee Yeon membawa Imoogi ke tempat yang sepi. “Aku menyuruhmu duduk dengan tenang, bukan?” geramnya, kesal.

“Kita bertemu lagi. Sudah berapa lama?” balas Imoogi dengan tenang.

“Aku tidak perlu menyiksa pengkhianat untuk mendapatkan jawabanku,” balas Lee Yeon dengan sikap yang sama tenang nya.

“Aku ingin dia memberitahumu di mana dan kapan bisa menemuiku.”


Melihat Imoogi yang masih bisa bersikap dengan tenang, Lee Yeon mencabut pedang yang ditusuk nya di dalam tubuh Imoogi. Dan ketika dia mencabut pedang nya, tubuh Imoogi sama sekali tidak berdarah. Dan Lee Yeon merasa agak heran.

Dengan baik hati, Imoogi menjelaskan kepada Lee Yeon jawabannya. Dahulu dia masih memakai kulit manusia, tapi kali ini tidak. Mendengar itu, Lee Yeon tertawa geli.


Imoogi kemudian maju dengan cepat dan menyerang Lee Yeon. Dan menggunakan kekuatannya, Lee Yeon membawa Imoogi berpindah ke tempat yang lebih sepi. Mereka masuk ke dalam lift kosong dan bertarung di dalam sana.

Kemudian mereka berdua berpindah lagi, kali ini mereka berpindah ke atas atap. Dan disana Lee Yeon berhasil memukul wajah Imoogi. Dan Imoogi merasa kesal.




“Nyawa adikmu, pacarmu, dan orang tuanya. Aku bisa mengendalikan mereka semua. Apa yang kamu miliki?” tanya Imoogi, menantang. “Izinkan aku memberikan penawaran yang masuk akal. Lee Yeon, jika kamu menyerahkan tubuhmu, kubiarkan yang lain hidup.”

Ji A bertanya dengan berteriak emosi kepada Pria Rang. Dia ingin mengetahui dimana kedua orang tuanya. Dan Pria Rang menjawab bahwa mereka berdua sangat dekat, tapi Ji A saja yang gagal mengenali mereka. Dan Ji A tidak mengerti dengan maksud nya. Tapi Pria Rang tidak mau memberitahu.

“Kenapa? Kenapa orang tuaku?” tanya Ji A, ingin tahu.

“Karena aku tahu hari ini akan tiba. Kamu akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan orang tuamu. Sama seperti kamu menyelamatkan ayahmu di kehidupan lampaumu, semoga kamu akan membuat pilihan yang bijaksana sekali lagi,” jawab Pria Rang sambil tersenyum puas.

Kemudian tiba- tiba saja, Ji A merasa sangat kesakitan di dadanya. Dan Pria Rang terkejut melihat itu.

Imoogi bersedia melepaskan Lee Rang dan kedua orang tua Ji A, tapi dia menginginkan tubuh Lee Yeon atau jantung Lee Yeon.

“Aku … Aku …” kata Lee Yeon dengan sikap dilema. Dan Imoogi merasa puas melihat itu. Tapi tiba- tiba Lee Yeon mengatakan, “Aku tidak mau. Karena kamu tampak seperti tipe yang membatalkan kesepakatan. Aku tidak berurusan dengan sosok seperti itu. Aku sendiri yang akan membebaskan mereka dari cengkeramanmu,” jelasnya dengan sikap arogan.

“Kalau begitu, nikmatilah menginjak-injak orang yang kamu sayangi,” balas Imoogi, kesal.

“Aku tahu pertanyaan ini tidak pantas, tapi kenapa kamu kembali?” balas Lee Yeon, bertanya. “Seakan-akan ada yang mau menyambut simbol malapetaka, wabah, dan perang.”

“Jika kamu menanyakan pendapatku soal dunia, aku tidak punya. Aku hanya menginginkan satu hal. Aku menginginkan wanita itu. Wanita yang seharusnya diberikan padaku sebagai kurban tapi akhirnya malah menyelamatkanmu dan membunuhku,” balas Imoogi sambil tersenyum. “Aku menyukainya.”

Dengan kesal, Lee Yeon maju dan ingin memukul Imoogi. Dan kali ini Imoogi yang menggunakan kekuatannya, dia membawa Lee Yeon pindah ke jalan ramai sebelumnya. Kemudian dia merapikan pakaiannya dan menjelaskan bahwa barusan dia hanya ingin menguji kekuatan Lee Yeon saja.

“Bagiku, ini hanya permulaan,” kata Lee Yeon. Lalu matanya berubah menjadi mata rubah dan langit berubah menjadi gelap serta bergumuruh keras.

“Aku ingin mati. Sekarang,” gumam Imoogi. Lalu orang- orang disekitar pada melakukan aksi bunuh diri. Melihat itu, Lee Yeon merasa sangat terkejut.

Lee Yeon mencoba untuk menyelamatkan semua orang yang ingin melakukan bunuh diri. Tapi disaat itu, tiba- tiba saja Imoogi sudah menghilang dari tempatnya. dan dia gagal untuk menyelamatkan orang- orang disana.

Rasa terkejut Pria Rang berubah menjadi kesenangan, karena ternyata Ji A benar- benar terhubung dengan Imoogi. Dan Ji A adalah cangkang bagi Imoogi. Dengan heran, Ji A menanyai, kenapa Pria Rang melakukan ini, kepadahal Pria Rang jugalah manusia.

“Aku manusia, jadi, aku tidak mau mati, dan punya banyak keinginan,” kata Pria Rang dengan ekspresi serakah. “Yang kulakukan hanyalah memimpikan dunia baru setelah terlahir sebagai manusia hina. Anak-anak, istri, dan ibuku. Yang kuinginkan adalah memastikan mereka bisa makan makanan layak. Tapi disebut pengkhianatan dan mengancam akan memenggalku. Saat itulah aku bertemu dengannya,” jelasnya, bercerita.

“Aku yakin itu tidak gratis. Apa yang harus kamu berikan agar bisa tetap hidup?” tanya Ji A, ingin tahu.

“Anak-anak, istri, dan ibuku. Keluargaku kutawarkan pada Imoogi dan aku bisa hidup sebagai gantinya,” jawab Pria Rang tanpa rasa bersalah atau menyesal sama sekali. “Kamu harus kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu,” jelasnya sambil tertawa.

“Jadi, kamu ingin aku menjual Yeon? Kamu ingin aku menjadi orang sepertimu?” tanya Ji A, kesal dan jijik kepada Pria Rang.

“Pilihan ada padamu, Ji A.”

Pria Rang kemudian memberikan sebotol obat kecil kepada Ji A dan menjelaskan bahwa Ji A hanya perlu memberikan setetes saja kepada Lee Yeon, dan Lee Yeon akan tertidur lelap. Setelah itu, Ji A akan mendapatakn kehidupan yang selalu Ji A inginkan.

Mendengar itu, Ji A merasa sangat dilema dan memegang erat obat di tangan nya.

"Bab 11: Ceplukan"

Hyeonuiong memijat bahu Taluipa dengan wajah cemberut, karena dia juga capek, tapi Taluipa tidak mau tahu. Lalu sambil memijat, Hyeonuiong jadi teringat akan putra mereka, Bok Gil. Dahulu Bok Gil pandai memijat, Bok Gil juga sering khawatir akan Taluipa, jadi secara pribadi Bok Gil mengumpulkan kulit pohon karet dan gingseng Siberia dan merebusnya untuk Taluipa. Mendengar itu, Taluipa menyuruh Hyeonuiong untuk jangan membahas putra tidak berbakti itu lagi. Dan Hyeonuiong lalu berhenti memijat.

“Jangan menyebut putraku tidak berbakti,” tegas Hyeonuiong.

“Keluar,” perintah Taluipa.

Hyeonuiong berjalan menjauhi Taluipa dan menatapnya. “Kenapa kamu terus bersikap seolah-olah hanya kamu yang terpukul karena kematian putra kita?”

“Kubilang keluar!” bentak Taluipa.

“Kamu penyebabnya. Dia tidak akan bunuh diri jika kamu tidak membunuh istrinya,” balas Hyeonuiong, kesal.

“Dia kerasukan hantu yang menyebabkan wabah. Aku tidak bisa diam saja dan melihat seluruh negeri menderita akibat wabah karena dia,” balas Taluipa dengan suara keras.

“Benar sekali. Itulah dirimu. Kamu bukan ibunya Bok Gil atau istriku. Kamu hanya penjaga gerbang Sungai Samdo. Sementara itu, aku sudah berusaha keras untuk memahamimu begitu lama, tapi kurasa aku bodoh,” kata Hyeonuiong, sangat kecewa.

“Aku bahkan tidak ingin melihatmu. Pergi saja!” teriak Taluipa.

Tepat disaat itu, Taluipa dan Hyeonuiong sama- sama mendapatkan pesan masuk. "132 orang bunuh diri di Geumran-gu, Malaikat Maut diwajibkan berkumpul di Kuil Kematian"

“Itu Imoogi, bukan?” tebak Hyeonuiong sambil menatap Taluipa.

Lee Rang menatap mobil- mobil ambulans yang banyak lewat dijalanan. “Imoogi, bedebah itu,” umpatnya, jijik. “Apa yang telah dia lakukan?” gumamnya.

Ketika Imoogi kembali ke kantor, Team Leader Choi langsung memeriksanya dari kepala ke kaki. Sebab barusan di jalan yang Imoogi lewati terjadi bunuh diri massal. Dan dia merasa khawatir kepada Imoogi. Lalu saat melihat Imoogi baik- baik saja, mereka menanyai Imoogi, dimana Ji A. Dan Imoogi menjawab bahwa barusan Ji A pulang lebih awal ke kantor. Dan semuanya merasa heran, karena mereka tidak ada melihat Ji A kembali.

Imoogi kemudian memberikan rekaman yang barusan di ambilnya. Dan rekan Pro menerima rekaman itu. Lalu dengan perhatian, Team Leader Choi menanyai Imoogi, apakah Ji A ada menyulitkan Imoogi barusan. Dan Imoogi menjawab tidak.

Dalam perjalanan. Lee Yeon menelpon Ji A. Tapi Ji A sama sekali tidak ada menjawab, dan diapun merasa khawatir.

Dirumah. Ji A merenungkan dua pilihan yang Pria Rang berikan kepadanya. Dan tepat disaat itu, Lee Yeon menelpon. Dan dia semakin merasa dilema.

Shin Joo membawa Yoo Ri ke rumahnya. Dan Yoo Ri merasa kagum melihat rumah Shin Joo yang sangat besar dan luas, juga dia senang dengan pelayanan Shin Joo.

Shin Joo menarikkan kursi untuk Yoo Ri duduk. Lalu dia membawa semua bahan- bahan belanjaan ke dapur dan mulai memasak kan makanan untuk Yoo Ri.

“Ini borscht, hidangan tradisional Rusia. Aku tahu kamu mungkin tidak tumbuh memakan ini. Tapi kupikir kamu merindukan aroma tempat asalmu,” kata Shin Joo, menghidangkan makanan buatannya.

Melihat hidangan itu, Yoo Ri merasa terharu. Dan lalu dia mengambil sendok serta mencobanya. “Aku tahu aroma ini. Aku juga menyukainya. Selain itu, ini lezat,” pujinya sambil makan dengan lahap.

“Makanlah,” kata Shin Joo dengan senang.

Lee Rang bertemu dengan Geomdoong yang di siksa oleh Ayah tirinya. Dan diapun menolong Geomdoong. “Kamu yang pilih. Kamu meminta bantuanku, akan kupastikan kamu tidak perlu melihatnya lagi. Atau aku akan pergi saja,” jelasnya, memberikan dua pilihan kepada Geomdoong.

Mendengar itu, Ayah Tiri Geomdoong merasa kesal dan memarahi Lee Rang yang mencampuri urusannya. Tapi Lee Rang tidak peduli dan menyuruhnya untuk diam, sebab dia sedang menunggu jawaban Geomdoong.

Geomdoong berpikir sebentar, lalu dia menarik ujung baju Lee Rang dengan pelan. “Jadi … Aku …”

“Soo Ho. Jawab dengan bijaksana. Mengerti?” ancam Ayah Tiri.

Mendengar ancaman itu, Geomdoong merasa takut. Dan Lee Rang mengerti serta berjalan pergi meninggalkannya. Tapi saat dia baru jalan beberapa langkah saja, dia berhenti, karena mendengar suara tangisan Geomdoong. Dia merasa tidak tega dan kembali untuk menyelamatkan Geomdoong.

Shin Joo membahas tentang Yoo Ri yang tidak punya teman ataupun keluarga. Dan mendengar itu, Yoo Ri merasa sedikit kesal. Dan Shin Joo pun menjelaskan bahwa dia ingin menjadi teman dan keluarga bagi Yoo Ri yang sesungguhnya, bukan keluarga palsu seperti pemilik pasaraya. Tepat sebelum Shin Joo sempat menyelesaikan kalimatnya yang ingin melamar Yoo Ri, disaat itu Lee Yeon pulang.

“Yeon! Sedang apa kamu disini?’ tanya Yoo Ri, terkejut.

“Aku tinggal di sini,” jawab Lee Yeon dengan acuh. Lalu dia mendekati Shin Joo. “Hei. Kamu melihat Ji A?”

“Dia tidak ada di sini. Kenapa?” jawab Shin Joo, heran.

“Dia juga tidak ada di kantor. Di mana dia?” gumam Lee Yeon, khawatir. “Teruskanlah apa pun kegiatanmu dengan pencuri kalung itu,” katanya. Lalu diapun pergi.

“Ini rumah Yeon?” tanya Yoo Ri, kesal.

“Tidak apa-apa. Rumahnya adalah rumahku,” jawab Shin Joo sambil tertawa.

Tepat disaat itu, Lee Rang menelpon Yoo Ri. Dan Yoo Ri pun mengangkatnya. Awalnya Yoo Ri merasa senang, tapi kemudian ekspresinya berubah menjadi jelek.

Sampai malam, Ji A terus memikirkan tentang dua pilihan yang Pria Rang berikan kepadanya.

Ketika Ji A keluar dari rumah untuk mencari udara segar, ternyata Lee Yeon ada berdiri didepan rumahnya. Tanpa berbasa- basi, Lee Yeon langsung menanyai Ji A, apakah ada terjadi sesuatu. Dan dengan juujur, Ji A mengiyakan. Dan Lee Yeon menjawab bahwa dia juga. Tapi pertama- tama dia mau Ji A membuka hadiah yang dibawakannya. Dan Ji A pun melakukannya sambil tersenyum kecil.

“Kamu ingat,” kata Ji A, melihat hadiah sepatu yang Lee Yeon berikan.

“Tentu saja. Aroma nasi yang baru matang, satu set lengkap sastra dunia, gimbap buatan Ayah, sepatu baru, dan aku,” jawab Lee Yeon dengan bangga.

Lee Yeon dengan perhatian memakaikan sepatu itu ke kaki Ji A. Dan Ji A memperhatikan Lee Yeon sambil tersenyum sedih. Melihat tatapan itu, Lee Yeon merasa heran dan bertanya, apakah Ji A tidak menyukai hadiah nya.

“Aku menyukainya. Aku tidak pernah menduga kata "sepatu" memiliki arti yang manis,” puji Ji A sambil mengelus Lee Yeon dengan lembut.

“Aku menyukaimu. Begitu besar hingga aku tidak akan menyesal menukar hidupku untukmu,” balas Lee Yeon.

Mendengar pernyataan itu, Ji A  semakin bertambah dilema dan sedih. “Mau jalan-jalan? Di jalan yang bagus. Bersama,” ajak Ji A sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Dan tanpa menyadari itu, Lee Yeon mengiyakan serta memegang tangan Ji A dengan erat.

Lee Rang membawa Ayah Tiri Geomdoong kepada Pria Rang. Dia menyuruh Pria Rang untuk mengubah Ayah Tiri Geomdoong menjadi ceplukan sebagai makanan darurat. Dan Pria Rang mengucapkan terima kasih. Lee Rang kemudian memperhatikan sekeliling ruang tamu Pria Rang, dan melihat kalau pohon ceplukan yang sebelumnya berada di ruang tamu sekarang sudah menghilang.

Lee Rang : “Dia memindahkan pot ceplukan itu ke tempat lain?”

“Kamu mau menonton?” tanya Pria Rang, menawarkan.

“Bolehkah kamu memperlihatkannya padaku?” balas Lee Rang sambil tertawa kecil.

“Tidak ada yang perlu disembunyikan di antara kita,” balas Pria Rang.

Pria Rang kemudian menunjukkan sebuah biji kecil hitam kepada Lee Rang. Itu adalah Biji Selot. Biji itu bisa memerangkap tubuh dan jiwa. Dan hanya Imoogi yang bisa membuat nya. Biji tersebut di masukkan ke dalam tubuh manusia, lalu secara perlahan manusia itu akan berubah menjadi buah ceplukan. Setelah itu, Pria Rang menghirup buah ceplukan tersebut.

“Jiwa yang jahat. Dia keluar masuk penjara …” gumam Pria Rang, melihat kehidupan Ayah Tiri Geomdoong yang dihisapnya. “Kamu menyelamatkan seorang anak kecil?” tanyanya, terkejut.

“Setidaknya aku butuh satu perbuatan baik untuk membela diri saat memasuki Akhirat,” jawab Lee Rang, beralasan dengan sikap sedikit gugup.

Nama Geomdoong didalam kehidupan ini adalah Soo Ho. Dan sekarang Shin Joo serta Yoo Ri bertugas untuk merawat nya. Soo Ho menceritakan kepada Shin Joo bahwa Ibunya di pukuli setiap hari dan lalu kabur dengan pria yang tidak di kenal, karena itu Ayah Tirinya sangat marah kepadanya. Jadi sekarang, dia tidak punya tempat tujuan. Mendengar itu, Shin Joo merasa bersimpati kepada Soo Ho. Sementara Yoo Ri mengeluh kesal, karena harus menjaga anak kecil.

“Makanlah,” kata Shin Joo dengan lembut kepada Soo Ho, mengabaikan keluhan Yoo Ri.

Post a Comment

Previous Post Next Post