Sinopsis C- Drama : Go Ahead Episode 30

 


Original Network : Hunan Tv, iQiyi, Mango TV

Jian Jian bantu mengambilkan sepatu Ziqiu yang terlepas, dan memakai kan itu dikakinya. Merasakan itu, Ziqiu merasa terharu dan langsung memeluk Jian Jian dengan erat. Dan Ling Xiao mengingatkan Ziqiu bahwa Jian Jian merasa tercekik. Lalu Ziqiu pun melepaskan pelukannya.


Kemudian tepat disaat itu, Li Haichao dan He Mei datang.


Li Haichao menceritakan tentang Huaguang kepada Jian Jian dan Ling Xiao. Huaguang sudah mempunyai anak, umurnya 5 tahun, karena itu Huaguang tidak memerlukan Ziqiu lagi.


Kenapa orang dewasa mau lahirkan banyak anak? Jelas-jelas tak suka anak-anak,” tanya Jian Jian, tidak mengerti.

“Meski tak suka, tetapi berguna. Untuk menaruh harapan, juga bisa meneruskan generasi, atau untuk merawatnya di hari tua,” kata Ling Xiao, menjelaskan.

Disaat mereka bertiga sedang mengobrolkan itu, tiba- tiba terdengar suara kaca pecah. Dan dengan khawatir, mereka langsung pergi untuk melihat.


Didalam ruangan. Ziqiu meluapkan emosi dan perasaannya kepada He Mei. Disaat sulitnya, dia tidak memohon kepada Huaguang, bahkan dia berusaha keras supaya dia tidak perlu sampai memohon kepada Huaguang. Tapi tiba- tiba He Mei datang dan ikut campur dalam urusannya. Jadi dia ingin tahu kenapa He Mei ikut campur dalam urusannya. Dia tidak membenci He Mei ataupun Huaguang, tapi dia hanya merasa malu, sangat malu, karena kenapa hanya dia terus yang dibuang. Mendengar itu, He Mei sama sekali tidak bisa menjawab dan tidak berani untuk menatap Ziqiu.


“Kenapa selalu aku? Apa ada masalah denganku? Aku terus berpikir… Aku terus berpikir, tetapi aku tak mengerti,” kata Ziqiu dengan sedih.

Ziqiu kemudian menceritakan tentang keinginan sederhananya. Disaat paling sulitnya, disaat dia paling menyedihkan, disaat dia perlu pulang ke rumah, selalu Jian Jian dan Li Haichao yang menerimanya. Jadi setelah lulus, dia tidak langsung pulang, melainkan dia bekerja keras untuk mencari uang. Karena dia mau membuka café kesukaan Jian Jian supaya Jian Jian bisa memakan kue sebanyak mungkin dan itu tidak ada habisnya. Dia mau memberi semua yang terbaik kepada Jian Jian dan Li Haichao, dua orang yang tidak pernah membuangnya. Dia mau semua orang tahu, dia hidup dengan baik, sungguh sangat baik. Dia tidak mau dikasihani. Karena itulah, dia ingin He Mei tidak ikut campur dalam urusannya dengan Huaguang.

“Maaf,” kata He Mei, merasa sedih dan bersalah.


“Jangan minta maaf!” bentak Ziqiu, marah. “Aku mohon. Kau punya keluarga baru, dan juga ada hidupmu, kau jalani saja kehidupan yang kau mau, kau hiduplah dengan baik. Jangan menyesal. Aku mohon,” pinta Ziqiu, memohon dengan sangat.


Ketika Ziqiu membuka pintu ruangan, dia melihat Jian Jian, Ling Xiao, dan Li Haichao yang berdiri di depan pintu. Melihat mereka, Ziqiu berusaha untuk bersikap tegar dan kuat.

“Ayo,” kata Ziqiu sambil menarik Jian Jian dan Ling Xiao untuk pulang bersama- sama.


Didalam ruangan. He Mei menlap air matanya dan menatap Li  Haichao dengan sikap tegar juga. “Pergilah. Maaf merepotkanmu. Tidak akan lagi,” katanya.

Mendengar itu, Li Haichao tidak mengatakan apapun dan berbalik pergi.

Setelah semuanya pergi, He Mei terduduk di lantai dan menangis dengan sangat keras sambil tersedu- sedu sedih.



Didalam taksi. Jian Jian duduk ditengah dan menggenggam tangan Ziqiu serta Ling Xiao yang duduk di samping kanan- kiri nya. Sedangkan Li Haichao duduk didepan dan diam merenung.


Didalam kamar. Li Haichao masih merenungkan semuanya.

Secara diam- diam, Jian Jian menaruh hasil gambar nya dibawah pintu Ziqiu. Kemudian dia langsung kembali ke dalam kamar nya.



Pagi hari. Seperti biasa, Li Haichao membuatkan sarapan untuk semuanya. Lalu Jian Jian yang sudah siap, datang dan membantu nya didapur.



Ketika Ziqiu bangun dan menemukan gambar yang Jian Jian tinggalkan dibawah pintu kamarnya, dia tertawa senang. Itu adalah gambar mereka sekeluarga sedang duduk bersama- sama di meja makan,  dan mereka semua tampak bahagia. Ling Heping, Ling Xiao, Jian Jian, Ziqiu, dan Li Haichao.


“Cepat mandi, makanan segera siap,” kata Li Haichao, saat Ziqiu sudah keluar dari kamar. “Oh ya, panggil Ling Xiao.”

“Kak makan tomat,” kata Jian Jian sambil memasukkan satu tomat ke dalam mulut Ziqiu. Dan Ziqiu memakan nya dengan senang.


Ziqiu kemudian mengambil sapu. Dan mengetuk atap rumah menggunakan itu. Seperti yang dulu sering dia lakukan untuk memanggil Ling Xiao.

Mendengar itu, Ling Xiao segera cepat- cepat menyelesaikan menyikat giginya.



Saat sarapan, Li Haichao ingin membahas masalah semalam. Tapi Ziqiu tidak mau membahas itu lagi. Namun Li Haichao tetap mau membahas itu sambil sekaligus melakukan intropeksi diri.

“Aku gagal menjadi seorang Ayah. Selain memasak untuk kalian, apa pun tak bisa,” kata Li Haichao.

“Mulai lagi. Mulai lagi,” sindir Jian Jian.


“Jangan menyela. Dengarkan sampai habis,” tegas Li Haichao. “Aku ini… memang agak bodoh. Banyak masalah aku merasa bisa berlalu. Jika tak bisa, tahan. Tahan dan lalui, pasti bisa berlalu. Jadi, beberapa tahun ini kalian bertiga sampai tak berhubungan. Aku yang berada di tengah, tak melakukan apa pun,” jelasnya, melakukan intropeksi diri.


“Ayah mau lakukan apa? Salahkan aku, sifatku tak baik. Aku introspeksi,” kata Jian Jian, sedikit bercanda supaya Li Haichao tidak terlalu menyalahkan diri sendiri.

“Kau tak baik, itu juga salahku,” balas Li Haichao. Dan Jian Jian langsung terdiam dengan malu. “Ibumu pergi terlalu cepat, aku selalu merasa bersalah padamu. Meski kau bersalah, aku juga tak rela memarahimu. Orang dewasa tak seberani anak kecil, bahkan tak berani mengakui kesalahan,” jelas nya.



Suasana menjadi agak suram dan sedih. Lalu Li Haichao menjelaskan bahwa Ziqiu boleh tidak memaafkan He Mei. Karena He Mei memang melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Tapi dia ingin Ziqiu tahu bahwa He Mei tidak berniat buruk ketika menghubungi Huaguang dan ikut campur semalam. Juga saat mereka berdua minum- minum, mereka banyak berbincang.


Flash back. 1999.

Saat He Mei bekerja di mall. Seorang wanita datang dan menamparnya. Wanita tersebut menyebut He Mei sebagai rubah dan penggoda suami orang lain. Hal itu menimbulkan kekacauan besar. Dan dilihat oleh banyak pengunjung mall.



Kemudian He Mei dipecat oleh suami wanita tersebut. Dan He Mei merasa itu tidak adil. “Pertama, aku tak bilang ingin bersamamu. Kedua, kau tak pernah bilang kau sudah menikah. Aku punya anak yang harus kubiayai. Kau ini memaksaku untuk mati,” protes He Mei, marah.


“Kau juga sudah lihat keadaanku. Kau tak perlu bekerja lagi, aku biayai kamu,” balas suami wanita tadi sambil menyentuh bahu He Mei.

“Dasar brengsek!” teriak He Mei sambil menghindari nya dan menamparnya. Lalu dia berjalan pergi dengan marah.

“Kau dipecat! Ambil gajimu dan pergi!”

Ketika He Mei pulang. Dia melihat dinding bangunan dipenuhi dengan coretan tentang dirinya. “Siluman! Tak tahu Malu!”


Lalu saat He Mei bertemu dengan pemilik bangunan, dia langsung menjelaskan bahwa dia akan membersihkan dinding nya nanti. Tapi pemilik bangunan tidak peduli dengan itu, dia ingin He Mei untuk pergi dari tempat nya, karena keberadaan He Mei memberikan pengaruh buruk.

Dengan lelah dan sedih, He Mei memohon. “Tetapi kontrak ku…”

“Dulu aku merasa kau sendiri sulit merawat anakmu. Tak kuduga, kau jadi simpanan orang lain. Kau begitu cantik, pria apa pun bisa menyukaimu. Manusia harus lakukan hal yang baik,” ejek Nyonya pemilik bangunan, memarahi He Mei. “Cepatlah pindah,” usir nya.

Flash back end


Selesai sarapan, Ziqiu duduk merenung. Dan melihat itu, Ling Xiao menyuruh Jian Jian untuk agak siangan saja ke studio nanti nya dan temani Ziqiu untuk berbincang, karena hari ini dia tidak  bisa mengambil libur dan menemani Ziqiu. Dan Jian Jian mengerti serta menyuruh Ling Xiao untuk bekerja dengan tenang dan jangan sampai telat. Lalu Ling Xiao pun pergi.


Sambil berjalan bersama, Ziqiu bercerita kepada Jian Jian. Dulu saat He Mei meninggalkannya, He Mei mengatakan bahwa itu demi kebaikan mereka. Saat itu, dia ingin tahu alasannya. Tapi sekarang dia menyadari bahwa alasan itu tidak penting.

“Tidak pentingkah?” tanya Jian Jian, heran.

“Meski tahu alasannya kau juga tak bisa ubah hasilnya,” balas Ziqiu. “Dia hidup dengan baik, punya keluarga baru dan juga anak. Dia bahkan tak pernah menyesal meninggalkanku. Dulu aku mengira, dia mungkin ingin menemuiku. Kemudian aku sadar, itu hanya harapanku saja,” jelas nya.


Jian Jian berusaha menghibur Ziqiu. Namun Ziqiu sama sekali tidak merasa terhibur. Dia menghentikan taksi dan mendorong Jian Jian untuk masuk ke dalam nya. Dan Jian Jian merasa sangat heran.



“Biarkan aku tenang dulu, ya?” pinta Ziqiu. “Pak, jalan Ningxia,” katanya kepada supir. Lalu dia langsung menutup pintu.

Dengan heran, Jian Jian menjulurkan kepalanya dari jendela dan menatap Ziqiu yang semakin menjauh darinya.


He Mei bermimpi bertemu dengan Ziqiu. Tapi kemudian Ziqiu tiba- tiba saja menghilang dan dia merasa sangat panik.

“Ziqiu! Ziqiu, kamu dimana?” tanya He Mei sambil mencari- cari.

He Mei kemudian terbangun dari mimpi buruk nya sambil berkeringat sangat banyak. Tepat disaat itu, Mrs. Luo datang membawakan makanan untuk nya.



“Kau demam, kenapa begitu parah?” tanya Mrs. Luo, perhatian. “Jika bukan Li Haichao memintaku untuk memeriksamu, kau ini… mati sendiri di rumah pun tak ada yang tahu,” keluh nya.

“Saat aku muda, begitu menderita juga tak mati. Jika aku mati karena demam, itu baru hidup yang seperti lelucon,” balas He Mei.

Dengan penasaran, Mrs. Luo menanyai, kenapa dulu He Mei tidak menyukai Li Haichao, kepadahal Li Haichao sangat baik. Dan He Mei menjawab bahwa ini adalah nasib.

“Menurutku kalian sekarang lajang, bagaimana kalau kau pikirkan lagi?” goda Mrs. Luo, menyarankan.

“Dulu aku mencelakainya begitu parah, jika sekarang aku bersamanya, itu sungguh tak tahu malu,” balas He Mei, menolak ide Mrs. Luo. “Lagian dia mengira aku menikah lagi dan memiliki Dongdong.”


Mrs. Luo sama sekali tidak mengerti, kenapa He Mei tidak jujur saja memberitahu Li Haichao tentang Dongdong. Lalu kenapa He Mei menyusahkan diri untuk membantu Ziqiu.

“Kak Hong, kau tak mengerti. Masalah ini bagi Ziqiu, tak akan berlalu begitu saja. Aku memang telah berhutang padanya. Tak bisa kubayar, juga tak bisa kutebus. Seumur hidup ini aku dan dia hanya bisa begini,” kata He Mei dengan rasa bersalah dan sedih.



Saat Ling Heping pulang dan datang ke restoran, Li Haichao memberitahu bahwa ada dua hal yang mau dia bahas. Satu tentang Ziqiu, dan satu lagi tentang Ling Xiao. Dan dia menanyai, mana yang ingin Ling Heping dengar lebih dulu. Dan Ling Heping menjawab yang baik dulu.

“Kalau yang baik…” gumam Li Haichao dengan ragu. “Ling Xiao bilang padaku, dia dan Xiao Jian, mereka… “

“Kenapa dengan mereka?” tanya Ling Heping, tidak mengerti.

“Mereka berpacaran,” jawab Li Haichao.

“Maksudmu, akhirnya mereka berpacaran?” tanya Ling Heping, memastikan. “Hal bagus! Hal bagus! Sudah kubilang air bagus tak mengalir ke sawah orang,” katanya dengan senang sambil tertawa.



Ling Heping merasa senang. Tapi Li Haichao tidak terlalu senang. Sejujurnya dia sangat suka pada Ling Xiao, tapi Chen Ting pasti tidak suka pada Jian Jian. Dan dia tidak ingin Jian Jian di tindas oleh mertua.

“Tidak akan, kau berlebihan,” kata Ling Heping, menenangkan. “Mm.. Kenapa aku merasa hal ini ada yang salah? Anakku berpacaran, kenapa dia beri tahu kau dulu?” tanyanya, heran.



“Apa ini perlu dijelaskan? Dia akrab denganku,” balas Li Haichao sambil tertawa dengan bangga.

“Aku selalu bekerja di luar, aku memang tak sempat mendekati anak. Makanya, kau tak ada waktu menemani anak,” kata Ling Heping, membela diri.

“Jangan salahkan anak tak dekat denganmu,” balas Li Haichao.

“Baiklah, tidak dekat. Hanya akrab denganmu,” kata Ling Heping, tidak ingin membahas itu lagi.


Ling Heping kemudian menanyai tentang Ziqiu. Dan Li Haichao pun menceritakan segalanya. Dimulai dari Ziqiu dan He Mei sudah bertemu. He Mei menelpon Huaguang, dan Huaguang ternyata sudah mempunyai anak. Sampai seterus nya setelah itu.

Zhuang Bei dan Mingyue bertemu dicafe. Dengan gugup, Zhuang Bei menjelaskan bahwa tadi saat dia menunggu Mingyue, dia ada menulis sesuatu untuk Mingyue.

“Baik, kirim padaku, aku lihat apa bisa kubantu,” kata Mingyue. Dia mengira Zhuang Bei ingin meminta bantuan.



Yueliang, saat SMA aku tak memperhatikanmu. Tetapi saat pertama kita bertemu lagi, aku langsung jatuh cinta. Aku tak pernah menduga akan bertemu seseorang yang kusukai. Kau cantik, terbuka dan baik hati. Semakin aku memahamimu, semakin aku menyukaimu.

Selesai membaca pesan itu, Mingyue merasa sangat terkejut dan canggung. Lalu saat Zhuang Bei ingin memperkenalkan diri, dia menghentikan Zhuang Bei untuk jangan berbicara, karena dia tidak mau tahu.

“Senior, bagaimana boleh seperti ini? Kau jelas tahu Tang Can menyukaimu, aku sahabat Tang Can, kau malah mengatakan ini,” kata Mingyue, memarahi Zhuang Bei dengan kesal.

“Aku tak ada apa-apaa dengan Tang Can. Aku sudah jelaskan padanya. Terlebih lagi, yang kusukai itu kamu,” jelas Zhuang Bei dengan cepat.




Tiba- tiba Tang Can menelpon, dan Mingyue merasa sangat gugup. “Tang Can, aku baru kembali ke kantor. Ada apa?” tanyanya dengan cepat.


“Yueliang, ada film yang mencariku. Produsernya yang langsung meneleponku. Dia bilang sutradaranya suka padaku, ingin menemuiku,” kata Tang Can dengan sangat senang. “Aku ceritakan lagi di rumah. Aku beli dua baju dulu,” katanya.

“Baik, cepat pergi,” kata Mingyue, merasa senang untuk Tang Can.




Ling Heping mengirimkan pesan kepada Ling Xiao. Aku dengar dari Ayah Li, kau berpacaran dengan Jianjian. Aku sangat senang, dan sangat mendukung. Mendoakan kalian bahagia. Berharap kita yang dua keluarga ini bisa menjadi satu keluarga utuh.

Membaca pesan itu, Ling Xiao merasa tersentuh. Terima kasih, Ayah, sudah merawatku begitu lama, Ayah sudah bekerja keras. Masa depan Ayah juga akan penuh kebahagiaan.

Membaca balasan pesan dari Ling Xiao tersebut, Ling Heping tertawa dengan keras dan bahagia.


Saat pulang, Xixi menawarkan tumpangan untuk mengantarkan Ling Xiao pulang. Tapi Ling Xiao  menolak, karena Jian Jian sudah datang untuk menjemputnya.


“Tak heran Ling Xiao dua hari ini kelihatan bahagia. Kalian dari saudara jadi pasangan, apa begitu lancar?” tanya Xixi, berkomentar biasa.

“Kami memang dari kecil sudah baik. Sekarang keluarga juga mendukung,” jawab Ling Xiao dengan senang.

“Semoga Kak Xixi segera lepas lajang,” kata Jian Jian dengan tulus.

Ling Xiao dan Jian Jian membahas mau makan dimana. Jian Jian sebenarnya ingin menjemput Ziqiu dan mengajaknya untuk makan bersama juga. Tapi menurut Ling Xiao, lebih baik Jian Jian memberikan waktu kepada Ziqiu.

“Tapi… Bukankah saat ini harus membuatnya merasakan kehangatan keluarga?” tanya Jian Jian, heran.

“Dia tak akan merasa nyaman, dia akan merasa dunia ini sangat ribut,” jawab Ling Xiao, menjelaskan. “Ayo makan hotpot,” ajak nya.


Mingyue merasa takut untuk pulang dan bertemu dengan Tang Can. Lalu saat Zhuang Bei mengirimkan pesan kepadanya. Dia langsung memblokir nomor Zhuang Bei.


Tepat disaat itu, Jian Jian dan Ling Xiao pulang. Dan itu membuat Mingyue melompat terkejut. Melihat reaksi nya, Jian Jian tertawa geli.

“Kau kira siapa?” tanya Jian Jian. Dan Mingyue tidak berani menjawab, karena ada Ling Xiao. Menyadari itu, Ling Xiao pun masuk duluan.



Setelah Ling Xiao pergi, Mingyue berbisik di telinga Jian Jian. Dan mengetahui apa yang terjadi, Jian Jian berkomentar bahwa menurutnya Mingyue tidak salah, jadi tidak perlu takut.

“Saat Ling Xiao menyukaimu, kau berani bilang padaku?” sindir Mingyue, mengingatkan.

“Berdasarkan pengalamanku, hal ini tak bisa disembunyikan,” jelas Jian Jian. Lalu dia teringat sesuatu. “Kau tahu hari ini Tang Can suasana hatinya sangat baik?” tanyanya.

“Aku tahu. Dia meneleponku, dia bilang produser mengajaknya,” jawab Mingyue.


“Selagi dia senang, beri tahu padanya, cepat lalui. Ayo,” ajak Jian Jian sambil menarik Mingyue untuk masuk bersama nya.

“Bagaimana ini?” keluh Mingyue, takut.

“Ada aku.”

1 Comments

  1. ❤💕💕💕💕💕

    ReplyDelete
Previous Post Next Post