Sinopsis C- Drama : Go Ahead Episode 34

 


Original Network : Hunan Tv, iQiyi, Mango TV

“Kenapa dengan He Lan?” tanya He Mei, setelah Li Haichao selesai bertelponan dengan He Lan.

“Ziqiu sudah tahu semua, tentang kau dipenjara,” jawab Li Haichao.


Saat mendapatkan telpon dari Li Haichao, Jian Jian langsung menghentikan pekerjaan nya dan berlari pergi dengan buru- buru.

Ling Xiao juga sama. Dia menghentikan pekerjaannya dan berlari pergi dengan buru- buru untuk pergi menemui Ziqiu.


Ling Xiao dan Jian Jian sampai secara bersamaan ditempat Ziqiu sedang duduk merenung sendirian. Dan dengan perhatian, mereka berdua menemani nya. Mereka menjelaskan bahwa mereka takut kalau Ziqiu akan melompat ke laut.

“Begitu berlebihan,” keluh Ziqiu.


“Adikku memang anak Bibi He Mei, ambil keputusan sendiri, diam-diam lakukan hal besar,” komentar Ling Xiao dengan geli.

“Ini diam-diam melakukan hal besar? Ini diam-diam hal mematikan! Yang melakukan hal sangat mengesalkan orang ternyata ada dua di dunia ini,” komentar Jian Jian dengan kesal.

“Oh. Aku minta maaf pada kalian,” balas Ziqiu.


Mereka bertiga kemudian membahas tentang masalah He Mei. Bagi Jian Jian, dia hanya bisa mengerti sedikit saja pilihan yang He Mei buat, yaitu karena dulu Ziqiu tinggal dirumah mereka. Sedangkan Ling Xiao, menurutnya inilah perbedaan manusia. Beberapa orang menaruh harapan pada anak dan beberapa orang dari jauh melindungi. Dan Ziqiu membalas bahwa dia sebenarnya tidak terlalu mengerti. Tapi akhirnya dia tahu bahwa dia tidak ditinggalkan, karena dirinya adalah beban. Dan He Mei tidak menikah lagi serta mempunyai anak lain. Jadi dia merasa hatinya sedikit tenang dan santai. Tapi mengetahui bahwa beberapa tahun ini He Mei hidup susah, hatinya merasa sedih.



Pantas kak Ling Xiao bilang kalian sama, komentar Jian Jian. Jalan pikiran kalian sama. Seperti kau kuliah di luar negeri, kau ingin menghemat uang ayah, takut Zhao Huaguang mencelakaiku, kau sendirian memainkan drama yang begitu menyiksa,” jelasnya.

“Bisa jangan bahas lagi? Aku salah, bisa? Aku sungguh bersalah,” balas Ziqiu, merasa agak tidak tahan.

“Li Jian Jian, jangan menyudutkan,”tegas Ling Xiao sambil membuat tanda agar Jian Jian tutup mulut saja. Dan Jian Jian mendengarkannya.


Ziqiu kemudian mengalihkan pembicaraan. Dia ingin tahu, apakah Jian Jian sudah menyukai Ling Xiao sejak kecil. Karena sejak dia mengenal Jian Jian dulu, Jian Jian suka sekali mengikuti Ling Xiao dari belakang. Jika Jian Jian melakukan hal buruk, Jian Jian akan mengingatnya, karena takut Ling Xiao tahu dan marah. Lalu setiap kali Jian Jian melihat Ling Xiao, mata Jian Jian menyala seperti bola lampu.

Mendengar itu, Ling Xiao tersenyum senang. Dan Jian Jian menjelaskan dengan agak canggung. Saat itu, bukan perasaan suka itu, hanya suka bersama, jelasnya, menyangkal.

Suka bersama? Apa ada bedanya? goda Ziqiu. Lalu dia dan Jian Jian menatap Ling Xiao bersama- sama. Menjijikkan, keluh Ziqiu, saat melihat Ling Xiao tersenyum malu- malu.


Kemudian Ziqiu dan Jian Jian mulai bermain- main bersama. Dan lalu mereka menarik Ling Xiao untuk ikut bermain bersama mereka juga.


Ziqiu dan Li Haichao minum- minum bersama sambil mengobrol. Ziqiu mengucapkan terima kasih banyak karena Li Haichao sangat baik dan menyayangi nya.


Ling Xiao dan Jian Jian nonton bersama sambil berpelukan dengan mesra. Lalu saat Ling Heping pulang, mereka langsung menjauh dan duduk dengan canggung.


Ziqiu, dia baik-baik saja? tanya Ling Heping, perhatian.

Baik, dia sangat baik, jawab Jian Jian.

Oh iya, obat tradisionalmu masih dimakan? tanya Ling Heping, memperhatikan Ling Xiao. Dan Ling Xiao menjawab sudah. Kau teruskan makan. Itu jangan makan makanan yang memicu, seperti makanan laut, dan juga itu lobak, jelasnya, perhatian. Kemudian diapun pergi.




Setelah Ling Heping pergi, Jian Jian kembali bersandar dibahu Ling Xiao sambil tangannya mengetuk- ngetuk tangan Ling Xiao.

Kita menikah saja, ajak Ling Xiao, tiba- tiba. Mendengar itu, Jian Jian sangat terkejut. Bodoh. Aku cari uang beli rumah, katanya sambil menarik Jian Jian ke dalam pelukannya lagi.


Siapa yang mau rumahmu? balas Jian Jian sambil melepaskan diri dari pelukan Ling Xiao dan memakan buah.

Ibu Ming tiba- tiba datang ke rumah Mingyue. Dan Mingyue yang masih dalam perjalanan pulang merasa sangat panik sekali. Lalu diapun menghubungi Tang Can yang berada dirumah.



Ibu Ming menggeledah kamar Mingyue untuk mencari buku aktanya, tapi Ibu Ming tidak berhasil menemukannya. Karena buku akta Mingyue sebenarnya ada di kantor. Dan sialnya untuk Mingyue, Ibu Ming malah menemukan buku ujiannya, dan buku itu isinya kosong, karena Mingyue sama sekali tidak ada mempelajarinya. Juga Ibu Ming menemukan kaleng- kaleng bir kosong yang disembunyikan Mingyue dibawah tempat tidur.

Qi Mingyue, kamu segera pulang! perintah Ibu Ming, menelpon Mingyue dengan marah.


Tang Can merasa gugup berada berduaan saja dengan Ibu Ming didalam rumah. Jadi diapun mengirimkan pesan agar Jian Jian segera pulang.



Jian Jian dan Mingyue sampai bersamaan. Dan melihat Mingyue pulang, Ibu Ming langsung menanyai, apakah Mingyue selama ini ada belajar atau tidak. Dan Mingyue menjawab dengan jujur bahwa dia memang tidak ada belajar, karena dia tidak ingin mengikuti ujian pegawai sipil.

Dengan marah, Ibu Ming melemparkan buku kepada Mingyue serta ingin memukulnya. Dan Jian Jian serta Tang Can menghentikannya, juga melindungi Mingyue.


Ibu Ming mengeluhkan bahwa selama ini dia tidak pernah memukuli Mingyue dan dia membesarkan Mingyue dengan baik, tapi Mingyue malah menipunya. Dan Mingyue menjawab bahwa dia tidak ingin menipu Ibu Ming, tapi dia memang tidak ingin menjadi pegawai sipil, melainkan dia ingin menjadi wartawan dan pergi dua tahun ke Beijing. Dan Ibu Ming tidak setuju.

“Ibu, saat aku SMA, ibu yang bilang ingin aku ke Beijing, Ibu bilang banyak kesempatan di Beijing,” kata Mingyue, menjelaskan.


“Kesempatan untuk orang yang punya persiapan. Kau bisa apa?” tanya Ibu Ming, meremehkan Mingyue. “Kerja dua tahun, tak ada hasil. Kesempatan bagus ini akan disisakan untukmu? Kau tak pikirkan baik-baik. Di Beijing banyak orang hebat, kau lebih hebat dari mereka?”

“Aku tak lebih hebat, tetapi aku juga tak lebih buruk!” bentak Mingyue, marah.


“Kau kurang di psikologis! Biasanya kau masih bagus, begitu di hal penting kau gagal! Saat ujian akhir hasilmu jelek, 'kan?” sindir Ibu Ming dengan sinis. “Dulu kau mau masuk universitas hukum.”

“Ibu yang ingin aku masuk universitas itu!” teriak Mingyue, emosi. “Aku tak pernah ingin masuk universitas hukum!”


Mingyue mulai meluapkan semua perasaan yang ditahannya selama ini. Ibu Ming ingin dia jadi Pengacara, ingin dia menjadi Jaksa, itu semua keinginan Ibu Ming, tapi bukan keinginan nya. Ibu Ming selalu meremehkan nya. Contohnya dia memilih pakaian, Ibu Ming meremehkannya, dia memesan makanan, Ibu Ming meremehkannya, dia bekerja, berpacaran, Ibu Ming juga selalu meremehkan nya. Dan dia merasa tidak tahan. Hanya saat dia mendapatkan juara satu, barulah Ibu Ming mau memuji nya.

“Aku demi kebaikanmu, perhatian padamu!” tegas Ibu Ming, menjelaskan.

“Aku tak perlu. Perhatian Ibu ini sama sekali bukan yang kumau,” balas Mingyue.


“Qi Mingyue, apa kau punya hati nurani? Aku susah payah demi kau berkorban begitu banyak, memberimu makanan dan pakaian yang bagus. Aku berikan lingkungan belajar yang baik, sekarang kau bilang ini semua bukan yang kau mau? Bukan yang kau mau, saat aku tanya padamu, kau sedang apa?” balas Ibu Ming, bertanya dengan sedih dan kecewa.

“Apa Ibu pernah bertanya padaku? Ibu pernah hargai pendapatku? Di mulut Ibu bicara demokratis, tetapi yang ditunjukkan adalah autokratis,” balas Mingyue, kesal.



Dengan tatapan meremehkan, Ibu Ming menatap ke arah Tang Can. Dia mengaku bahwa dia merasa menyesal, karena dulu mengizinkan Mingyue untuk tinggal disini bersama mereka. Sebab Mingyue menjadi buruk. Mingyue mulai berbohong, membual, melawan orang tua, dan bahkan minum bir.

“Marahi aku saja, kenapa marahi temanku?” kata Mingyue, membela temannya.

“Kenapa? Tidak boleh? Apa aku salah? Dulu kau seperti ini? Besok kau pindah ke rumah. Persiapkan ujian pegawai sipil!” perintah Ibu Ming, tidak mau dibantah.



Jian Jian berusaha menenangkan Ibu Ming agar jangan marah. Dan Tang Can menenangkan Mingyue.

“Ibu, dari dulu tak pernah memahamiku. Aku memang begini. Aku selalu begini,” kata Mingyue, merasa sangat kecewa kepada Ibu Ming. “Dari kecil, aku paling ahli dalam berbohong. Ibu selalu ingin anak yang patuh, hal yang tak Ibu izinkan, aku melakukan semuanya di belakangmu. Ibu tahu kenapa nilaiku di ujian akhir menurun 50-60 poin dari uji coba? Karena aku sengaja tak menjawab selembar soal,” jelasnya, mengakui rahasianya.

“Kau berbohong,” kata Ibu Ming, tidak percaya. Dan Jian Jian serta Tang Can merasa terkejut, karena mereka tidak tahu itu.

Mingyue menegaskan bahwa dia melakukan hal bodoh itu, karena dia ingin menjadi wartawan. Dia ingin pergi ke Beijing. Dia ingin pergi keluar untuk melihat dunia. Karena dia harus jatuh, dia harus menderita, supaya dia bisa lihat bisa menjadi seperti apa dirinya. Jadi dia tidak akan patuh kepada Ibu Ming lagi.

Mendengar itu, Ibu Ming merasa sedih. “Baik. Kamu sungguh hebat,” katanya dengan kecewa. Lalu diapun langsung pergi.


Jian Jian segera mengikuti Ibu Ming untuk menenangkan nya.

Setelah mereka berdua pergi, Mingyue langsung terjatuh dan terduduk dengan lemas di lantai. Dan dengan perhatian, Tang Can memeluk serta menlapkan air matanya. Dan Mingyue mulai menangis tersedu- sedu.


Ibu Ming menuduh, apakah selama ini Jian Jian dan Tang Can sudah tahu, dan mereka berdua membantu Mingyue untuk membohongi nya. Dan Jian Jian menjawab tidak, ini pertama kalinya dia tahu tentang rahasia Mingyue. Dan dengan sedih, Ibu Ming menangis kecewa.

“Kau beri tahu dia, aku tak belikan dia rumah ini lagi. Nanti aku tarik uang mukanya. Terserah dia mau ke mana, jangankan Beijing, jika mau ke kutub utara, aku juga tak peduli! Dia dan ayahnya sungguh membuatku sedih,” kata Ibu Ming sambil menangis. Lalu dia pergi.


Jian Jian kembali dan memberitahu Mingyue tentang apa yang Ibu Ming katakan barusan. Lalu dia menanyai, apakah benar, Mingyue sengaja tidak menjawab satu lembar soal pada saat ujian akhir sekolah. Dan Mingyue mengiyakan. Kemudian dia mengambil laptopnya. Dia mengirimkan surat permohonan pemindahan yang selama ini ragu dikirimkan nya. Melihat itu, Jian Jian serta Tang Can merasa terkejut, namun mereka tidak mengatakan apapun.

“Kelak aku tetap bayar sewa, kalian sisakan kamarku saja,” pinta Mingyue kepada mereka berdua.


“Kau pasti bisa pergi?” tanya Jian Jian, khawatir.

“Pimpinan sudah bilang, asalkan aku buat laporan, langsung bawa aku pergi,” jawab Mingyue.

“Bulan berapa?” tanya Jian Jian, lagi.

“Oktober. Setelah aku pastikan, bagian berita utama akan cari orang baru. Aku serah terima dan mengajari orang baru,” jawab Mingyue.


Malam hari. Jian Jian dan Tang Can berkumpul dirumah Ziqiu dan Ling Xiao, mereka membicarakan tentang rahasia Mingyue sambil makan serta nonton bersama sekaligus. Dan Zhuang Bei juga ada disana, dia datang untuk menonton bola bersama. Tapi mereka semua tidak percaya, mereka mengira Zhuang Bei datang untuk mendengarkan tentang Mingyue. Dan Zhuang Bei merasa agak frustasi serta capek saat harus menjelaskan berkali- kali bahwa dia datang memang cuma untuk menonton bola saja.


Saat pulang, Zhuang Bei melihat Tang Can sedang duduk sendirian sambil memandangi sebungkus kacang dengan sedih. Dan dia mengira kalau Tang Can mabuk.

“Kau tahu sebungkus kacang goreng iniada berapa kalori?” tanya Tang Can. Dan Zhuang Bei membantunya melihat berapa kalorinya. “Kau tak bisa melihatnya. Setiap hari selain makanan biasa, jika kau makan sebungkus ini saja. Dalam setahun kau bisa gemuk lima kilogram,” jelasnya.

“Begitu banyak?” tanya Zhuang Bei, tidak menyangka.


“Tetapi aku sungguh sangat suka makan kacang goreng,” kata Tang Can dengan suara sedih. Dan Zhuang Bei pun membuka bungkus kacang tersebut.

“Makan saja,” kata Zhuang Bei, menawarkan. Tapi kemudian Tang Can malah mulai menangis. Dan dia merasa sangat bingung.


Tang Can sebenarnya sedang merasa sangat sedih, karena Ibu Ming tidak menyukai dan meremehkan nya. Dia sering gagal audisi, belum ada pekerjaan tetap, suka menghamburkan uang, membeli barang yang tidak berguna, termaksud baju, dan juga dia suka melawan orang tua. Dia sebenarnya juga sering meremehkan dirinya sendiri sebagai sampah. Kelebihan satu- satunya hanyalah kurus.

“Kurus termasuk kelebihan apa?” tanya Zhuang Bei, merasa geli. Dan lalu Tang Can mulai menangis lagi. “Ibu Qi Mingyue tak menyukaimu, kau juga tak suka dia, selesai, 'kan?” katanya, menghibur Tang Can. “Lihat, kau begitu baik, cantik, dan juga baik hati. Ibuku sangat menyukaimu. Kau adalah artis di matanya.”


“Kaulah yang artis! Kalian sekeluarga adalah artis! Aku paling benci dibilang artis!” teriak Tang Can, emosi. “Kau dulu juga merendahkan pekerjaanku?” tuduhnya.

“Kapan aku rendahkan? Kau memfitnahku,” balas Zhuang Bei.

“Sudahlah. Tak penting lagi,” kata Tang Can, berhenti menangis. “Aku tak boleh menangis. Di museum ada pimpinan kecil yang menyukaiku. Jika aku menangis sampai mata bengkak, besok tak bisa berdandan.”


Tang Can kemudian mengambil kacang nya dan makan. Lalu setelah itu, dia menangis lagi. Karena hari ini dia menimbang berat badan nya, dan ternyata berat badan nya telah bertambah satu kilo. Mendengar itu, Zhuang Bei membantu Tang Can memakan kacangnya. Lalu dia memainkan satu sulap untuk menghibur Tang Can.


Akhirnya Tang Can pun berhenti menangis. Tapi dia merasa jijik dengan sulap yang Zhuang Bei tunjukkan dan berjalan pergi dengan marah.


Ran dan Jian Jian sedang membahas tentang masalah seni bersama- sama. Lalu Du Juan datang membawakan paket pesanan Jian Jian yang sudah datang. Isi paket tersebut adalah bemacam- macam snack yang Jian Jian rencanakan untuk diberikan kepada Chen Ting yang sebentar lagi akan pulang ke Singapura. Dan didalam paket tersebut, ada salah satu snack kesukaan Zhou Miao. Tapi Jian Jian tidak mau memberikan itu kepada Du Juan. Dan Du Juan mengatai Jian Jian pelit.

 “Zhou Miao pergi kencan buta. Kau masih mau berbaikan dengannya?” tanya Jian Jian, heran.


“Wanita itu yang menyukainya, selalu mengusik dia. Jika salahkan, ini karena Zhou Miao sangat hebat,” balas Du Juan, membela Zhou Miao. Dan Jian Jian merasa jijik mendengar itu.

“Menurutku Kak Juan sangat baik. Berpacaran memang berapi-api, harus buta, harus keluarkan semua keberanian,” kata Ran, membela Du Juan. “Sebaliknya, aku merasa pacaranmu ini terlalu biasa, belum pernah terbakar sudah seperti suami-istri, dan beli jajanan untuk mertua masa depan,” katanya. Dan Du Juan setuju.


Malas mendengarkan mereka berdua, Jian Jian pergi menjauhi mereka untuk melihat pesan masuk di ponsel nya.



Karyawan Li mengirimkan video He Mei dan Li Haichao yang sedang makan bersama direstoran. Dia mengirimkan itu kepada Jian Jian.

Li Haichao memberikan semangkuk mie tanpa daun bawang kepada He Mei, karena dia tahu kalau dulu He Mei tidak menyukai daun bawang. Lalu dia menunjukkan foto- foto Ziqiu dulu. Dan He Mei mengucapkan terima kasih kepada Li Haichao.


“Anak ini, dulu pernah bilang padaku, mau menikah dengan Xiao Jian,” kata Li Haichao, bercerita sambil tertawa. Dan He Mei merasa terkejut mengetahui itu.

“Mereka berdua?” tanya He Mei.

“Mungkin anak ini, merasa tidak tenang. Jadi ingin masuk ke akta keluarga kami, baru bisa tenang,” kata Li Haichao, menjelaskan. “Jangan bicara ini lagi. Makanlah,” kata nya kemudian, mengalihkan pembicaraan, karena He Mei tampak tidak nyaman.

Disaat itu, Dongdong yang jarang berbicara mulai berbicara. “Enak,” katanya. Mendengar itu, He Mei serta Li Haichao sama- sama merasa senang.

Jian Jian sengaja datang ke café untuk menunjukkan video tersebut kepada Ziqiu. Dan melihat video itu, Ziqiu tidak merasa ada sesuatu yang ambigu, melainkan dia menganggap itu hanya hal biasa saja, Li Haichao dan He Mei sedang makan mie.

“Bukan makan mie, tetapi menjalin hubungan.  Kau rasakan dulu suasananya, aneh tidak?” kata Jian Jian, menjelaskan.

“Apanya yang aneh? Mereka sudah tua, apakah masih bersama untuk pacaran?” balas Ziqiu, tidak percaya.


Karena Ziqiu tidak percaya, maka Jian Jian pun mau makan saja. tapi ketika dia membuka etalase, dia hanya melihat ada dua jenis kue. Tiramisu dan roti isi.

“Karena tak ada yang beli kue buatanku,” kata Ziqiu sambil menghela nafas tidak berdaya. Lalu disaat itu, seorang pelanggan memesan dua roti isi.


Meiyang menangis ditelpon dan meminta Ling Xiao agar segera pulang. Dan Ling Xiao merasa heran, ada apa.

“Kau uruslah Ibu, dia tak mau dengarkan aku,” keluh Meiyang.

Post a Comment

Previous Post Next Post