Sinopsis C- Drama : Go Ahead Episode 36

 


Original Network : Hunan Tv, iQiyi, Mango TV

Ziqiu menjelaskan beberapa peraturan kepada Meiyang, jika Meiyang masih ingin mengikuti nya ke café besok. Pertama, tidak boleh makan durian. Karena saat Meiyang memakan itu, aromanya sampai ke tiga meja. Kedua, jika Meiyang duduk seharian ditempat yang sama, maka pantat Meiyang pasti pegal, dan karena dia perhatian, maka dia tidak ingin Meiyang terus duduk ditempat yang sama. Ketiga, Meiyang bukan anak kecil lagi, jadi dia menawarkan Meiyang untuk bekerja ditempatnya dan mempelajari susahnya hidup.


“Jika kamu tidak mau, besok ikut Ibu beli perlengkapan rumah,” ancam Ling Xiao.

“Kamu ingin Ibu pulang? Pikirkanlah cara,” pinta Meiyang.

“Aku bisa melakukan apa? Dia tidak pernah memikirkan perasaan ku. Jika dia sungguh peduli, aku bisa pulang ke sini lebih cepat. Kamu yang paling tahu, kan?” balas Ling Xiao. Dan Meiyang pun langsung terdiam.

Mendengar pembicaraan mereka berdua, Ziqiu merasa agak aneh dan ingin tahu apa maksud Ling Xiao sebenarnya. Dan Meiyang tidak mau membahas itu.

“Apa pekerjaanku?” tanya Meiyang, langsung.

“Membuat kopi, membuat makanan sederhana, bersih- bersih. Tidak apa, besok aku minta orang ajari kamu,” jelas Ziqiu. Lalu Meiyang pun langsung pergi.

Chen Ting merenungkan perkataan Ling Heping kemarin tentang Ling Xiao mengalami sakit secara psikologis.


Flash back

Setiap malam, Ling Xiao selalu meminum obat. Suatu hari, Chen Ting memergoki nya dan bertanya, obat apa itu. Dan Ling Xiao berbohong, dia menjawab itu adalah vitamin, dia meminumnya karena dia telalu lelah dengan kerjaan.

“Lihat dirimu sudah kurus begini. Tidak bisa hanya makan vitamin,” kata Chen Ting, menasehati. Dan Ling Xiao mengiyakan.


Kemudian di hari lainnya, ketika Chen Ting keluar dari kamar untuk mengambil air, dia melihat Ling Xiao belum tidur sama sekali, kepadahal jam sudah menunjukkan waktu subuh. Sekitar jam 3.

Flash back end


Xixi menghampiri Chen Ting yang datang ke tempat kerja. Dia menyapa Chen Ting dengan ramah. Dan Chen Ting pun membalas dengan ramah juga.

“Apa kau punya pacar?” tanya Chen Ting, ingin tahu.

“Belum punya. Dokter pria yang ada di sini, yang kurasa bagus, sudah menikah atau sudah ada pacar,” jawab Xixi sambil tertawa malu- malu.

“Jadi menurutmu Ling Xiao bagaimana?” tanya Chen Ting. Dan Xixi merasa bingung, kenapa Chen Ting bertanya, karena Ling Xiao sudah punya pacar. Dan Chen Ting berbohong dengan menjawab bahwa dia tidak tahu.

Kemudian Chen Ting meminta kontak Xixi. Jadi mereka pun bertukaran kontak.


Meiyang memulai pekerjaannya sebagai anak magang di café Ziqiu. Dengan serius, dia belajar caranya menerima pesanan dan menerima bayaran. Awalnya dia merasa sangat gugup ketika melayani pelanggan. Tapi kemudian dia mulai terbiasa.


Melihat itu, Ziqiu diam- diam memotretnya dan mengirimkan itu kepada Ling Xiao serta Jian Jian. Menyadari hal tersebut, Meiyang merasa bangga pada dirinya sendiri.


Jian Jian dan Du Juan membuka lowongan pekerjaan. Lalu disaat itu, Jian Jian menerima pesan masuk dari Ziqiu. Dan dia tersenyum geli melihat penampilan Meiyang yang cukup bagus.


Ling Xiao menunjukkan foto Meiyang kepada Chen Ting, dan melihat itu Chen Ting tertawa, tapi Ling Xiao sama sekali tidak tersenyum sedikit pun. Melihat itu, Chen Ting meminta maaf kepada Ling Xiao. Karena dia sadar bahwa dirinya serta Meiyang selalu merepotkan Ling Xiao. Dan mendengar Chen Ting berbicara seperti itu, Ling Xiao merasa tidak senang, karena Chen Ting selalu berbicara seperti itu dan membuatnya merasa tidak enak serta bersalah.


“Kau selalu begini. Apa yang ada di hatimu kau katakan saja. Saat kau pulang juga tak bilang padaku. Kau membohongiku, bilang mau menemui ayahmu. Nyatanya kau bahkan cari pekerjaan. Aku tidak mengerti, kenapa kau tak bisa katakan isi hatimu padaku? Apa yang ada di hatimu? Kau katakan saja,” keluh Chen Ting, agak emosi.

“Aku mau menikah dengan Jian Jian,” kata Ling Xiao dengan sikap tegas.


“Ini... terlalu cepat, 'kan?” tanya Chen Ting, tertegun. Tapi saat dia melihat tatapan dimata Ling Xiao, dia mengubah sikapnya. Semua keputusanmu, aku dukung. Tetapi aku hanya merasa, lihat kau sekarang tak ada mobil atau rumah, kau mau bawa Jian Jian ke mana? Begini saja, tunggu tahun depan. Aku jual rumah di Singapura, aku belikan rumah besar untukmu, begini kau ada tempat tinggal. Aku hanya ingin merencanakan semuanya untukmu agar kau tak terbebani, jelas nya dengan gugup, mencoba bernegosiasi.

Tapi mendengar itu semua, Ling Xiao hanya diam saja dan tidak menanggapi.


Mingyue dan Ayah Ming bertemu. Ayah Ming memberitahu Mingyue bahwa dia ingin bercerai dengan Ibu Ming, karena dia capek dan merasa tersiksa. Ibu Ming selalu mau mengurus semuanya sendiri, semuanya harus mendengarkan nya, dari hal kecil hingga hal besar. Paling parahnya, Ibu Ming mau membeli rumah mahal tanpa persetujuan nya terlebih dahulu. Juga saat Mingyue masih tinggal bersama mereka, dia masih merasa lumayan, karena Ibu Ming memfokuskan perhatian kepada Mingyue. Tapi saat Mingyue pindah, Ibu Ming mulai mengawasinya dan terus mengomel padanya. Bahkan Ibu Ming juga sama sekali tidak mau memasak untuknya.



Ayah, dulu sudah begini. Dia tidak jahat, hanya masalah sepele, kata Mingyue, membela Ibu Ming.

Aku sudah tak bisa tahan lagi. Aku sudah umur 50 tahun lebih, dia seperti ini lagi begitu pensiun, hanya bisa mengemis di jalan, balas Ayah Ming, sudah memutuskan.

Ayah, tak separah itu, kata Mingyue, menenangkan Ayah Ming supaya bisa berpikir jernih dan jangan sampai bercerai dengan Ibu Ming.

Sisa hidupku ini, jika ingin hidup dengan baik, hanya bisa bercerai. Jalani masing-masing, balas Ayah Ming, tidak mau mengubah keputusannya lagi. Jika kau masih kecil, demi kau, aku tak akan bercerai. Sekarang kau sudah besar, tak perlu aku khawatirkan. Aku yakin kau bisa memahamiku, jelasnya.

Setelah mengatakan itu, Ayah Ming pun pamit dan pergi.


Setelah Ayah Ming pergi, Mingyue meminjam ponsel karyawan kasir untuk menelpon Ibu Ming dan memberitahunya hal ini.

Kalian sudah sepakat mau membuatku marah, 'kan? Kau minta dia temui aku, dia mau bercerai. Baik, cerai saja, kata Ibu Ming dengan sikap keras seperti biasa. Lalu dia langsung mematikan telpon nya.

Saat Mingyue pulang, Tang Can sedang sibuk memilih baju mana yang bagus untuk dipakai untuk menemui Ibu Zhuang Bei.


Kau kenapa? tanya Tang Can, saat menyadari ekspresi murung Mingyue.

Menurutmu, aku bersikeras ke Beijing, apa terlalu durhaka? tanya Mingyue, membutuhkan pendapat.

Tidak, Kakak. Apa kau mulai goyah? balas Tang Can, khawatir. Tetapi terakhir kali kau juga setelah ketahuan ibumu baru gegabah mengirimkan surat laporan. Jika kau menyesal, masih sempat, katanya, menyarankan.



Aku bukan menyesal. Aku mengkhawatirkan ibuku. Hubungan ayah dan ibuku, ada masalah. Ayahku mau bercerai dengan ibuku, kata Mingyue, bercerita.

Tidak mungkin! kata Tang Can, sangat tidak percaya. Mereka pasti sekongkol membohongimu. Jangan sampai terjebak, jelasnya.

Setelah mengatakan itu, Tang Can kembali sibuk untuk mempersiapkan dirinya. Karena Zhuang Bei dan Ibu Zhuang sudah akan sampai sebentar lagi.


Zhuang Bei sempat terpesona melihat kecantikan Tang Can, sampai dia lupa untuk membukakan pintu mobil bagi Tang Can. Saat Ibu Zhuang mengingatkan, barulah dia teringat dan membukakan pintu mobil untuk Tang Can.


Cancan, aku sangat rindu padamu, kata Ibu Zhuang dengan perhatian dan tulus. Xiao Bei bilang kau tak olah bisnis ini lagi, hari ini kau masih bisa membantuku. Sungguh berterima kasih padamu, katanya.

Bibi mentraktirku makan, masih begitu sungkan. Kelak ada hal ini segera cari aku, balas Tang Can dengan sopan dan perhatian juga.


Sepanjang perjalanan. Ibu Zhuang dan Tang Can banyak mengobrol. Tang Can menceritakan bahwa sekarang dia bekerja di museum, tidak lagi menjadi artis, karena dengan begini kedua orang tuanya bisa merasa lebih tenang. Dan Ibu Zhuang merasa sayang, karena dia tahu kalau Tang Can sangat ingin sekali menjadi artis, juga menurutnya akting Tang Can bagus. Dia tahu karena dia dan Zhuang Bei telah menonton semua film Tang Can.

Ibuku mau nonton, jadi aku temani, jelas Zhuang bei dengan agak gugup. Oh iya, aku periksa berkasmu. Saat usiamu 19 tahun ada main drama yang berjudul "Legenda Mengejar Bulan"? Itu disutradarai sutradara besar, kenapa tak disiarkan? tanyanya, penasaran.


Ya begitu. Menjadi aktris juga perlu keberuntungan, balas Tang Can.

Sayang sekali. Aku tak tahu drama yang sudah direkam mungkin bisa tak ditayangkan, komentar Ibu Zhuang.

Meiyang sibuk mencari- cari remote TV, tapi dia tidak berhasil menemukan nya dimanapun. Lalu saat Jian Jian pulang, dia mengajukan pertanyaan, apakah Jian Jian dan Ling Xiao sudah ada tidur bersama. Dan Jian Jian mengiyakan, mereka sudah tidur bersama dari kecil sampai besar.

Kekanak-kanakan, komentar Meiyang.

Bocah. Yang bertanya begitu baru kekanak-kanakan, balas Jian Jian.


Jangan tak hargai niat baik orang. Aku tanya demi kebaikanmu, balas Meiyang. Dilihat dari posisiku, kau dan kakakku tak akan berhasil. Jadi jangan tidur bersama. Jika tidur, bertemu akan terasa canggung. Ibuku pasti, pasti tak akan setuju kalian bersama, jelasnya dengan sangat yakin.

Baik. Minta ibumu berikan 5.000.000 Yuan, aku akan pergi darinya, canda Jian Jian sambil mengulurkan tangannya.


Secara terus terang Meiyang memberitahu Jian Jian dengan serius, alasan kenapa Chen Ting tidak mau membiarkan Ling Xiao untuk pulang, ketika Ling Xiao sudah tamat sekolah dan ingin pulang. Itu karena Chen Ting sangat membenci Jian Jian, Li Haichao, dan Ling Heping. Dulu Ling Xiao tidak bisa menang melawan Chen Ting, jadi kali ini Ling Xiao juga tidak akan bisa. Bahkan dirinya juga tidak bisa menang dari Chen Ting. Karena Chen Ting adalah Ibu mereka.

Mendengar itu, Jian Jian diam dan merenung. Dia merasa agak stress.

Hongying menyadari kalau Li Haichao tidak menyukainya. Jadi mereka tidak mungkin bisa bersama. Namun Bibi Qian yakin kalau Hongying pasti bisa mendapatkan Li Haichao.



Tepat disaat itu, He Mei datang. Dan Bibi Qian memanggilnya untuk bergabung dengan dia dan juga Hongying. Lalu dia saling memperkenalkan mereka berdua.


Kemudian disaat itu, Li Haichao pulang. Dia menyapa He Mei yang sudah datang dan menunggu nya. Melihat itu, Bibi Qian dan Hongying merasa penasaran, ada hubungan apa antara mereka berdua. Dan dengan jujur, Li Haichao menjelaskan bahwa He Mei datang untuk belajar memasak makanan kesukaan Ziqiu darinya.

Pantas Kak Haichao selalu bilang kami tidak cocok. Pria, memang hanya melihat penampilan, kata Hongying, menyindir Li Haichao.


Bukan, ini Tak berhubungan dengan penampilan. Aku dan He Mei bertemu karena anak-anak, balas Li Haichao, menjelaskan dengan agak tidak nyaman.

Mendengar pembicaraan mereka berdua, Bibi Qian merasa kesal. Karena Hongying serta Li Haichao sama sekali tidak ada memberitahu nya, bila mereka berdua memang tidak mau bersama. Dan Hongying menjelaskan bahwa ini adalah salahnya, karena Li Haichao tidak menyukai dirinya. Lalu dia mulai merendahkan Li Haichao dengan agak sinis. Dan He Mei merasa agak  bersimpati kepada Li Haichao.


Jika sudah menyukai orang lain, langsung katakan saja. Aku juga bukan orang yang tak tahu diri. Lagi pula, kau dalam orang yang dikenalkan padaku, termasuk syarat yang paling sederhana. Aku hanya suka karena kau baik. Tak disangka, kau juga suka yang cantik, kata Hongying, merendahkan.

Dia memang orang baik, tak suka, juga malu mengatakannya. Itu akan melukai orang, 'kan? kata He Mei, membantu Li Haichao.

Kau! geram Hongying.

Kau suka dia karena baik, dia suka aku karena cantik. Sebenarnya sama saja, kata He Mei dengan sikap bangga. Lalu dia mengajak Li Haichao untuk pergi bersama- sama.



Dengan kesal, Hongying pun mengeluh kepada Bibi Qian. Tapi Bibi Qian tidak peduli. Dia lebih peduli untuk makan saja.


Li Haichao menceritakan kepada He Mei tentang hubungannya dengan Hongying. Menurutnya Hongying cukup baik, tapi mereka tidak cocok. Dan perjodohan ini diatur oleh Jian Jian. Karena Jian Jian ingin dia punya pasangan.

Li Jian Jian sungguh berbakti, puji He Mei.

Dia juga berharap kau dan Ziqiu baikan. Dia dengar kau ingin foto Ziqiu, langsung mencetaknya. Dan langsung kirim, tak menunda sedikit pun, kata Li Haichao, memberitahu.

Aku ingat, saat kecil dia sangat tak menyukaiku. Dan memanggilku janda cantik, balas He Mei sambil tertawa, mengingat masa lalu.


Dia bukan tak menyukaimu, dia terus ribut tidak ingin ibu tiri, jelas Li haichao sambil balas tertawa.

Jika sekarang aku jadi ibu tirinya, seharusnya tak masalah, 'kan? tanya He Mei dengan serius.

Tentu tak masalah, jawab Li Haichao, tanpa sadar. Tapi kemudian dia jadi merasa canggung sendiri. Dan melihat itu, He Mei tersenyum malu- malu padanya.


Seperti biasa, Zhou Miao datang telat untuk bekerja. Dan saat dia datang, dia mengajak Du Juan untuk berbicara diam- diam berdua. Dia menunjukkan isi artikel di koran tentang Jian Jian yang di lihatnya. Dan melihat isi artikel tersebut, Du Juan segera memberitahu Jian Jian untuk lihat.


Wawancara khusus Senior Yufei, kata Jian Jian, membaca artikel tersebut.

Apa? Lihat ini, kata Du Juan, menunjukkan bagian pentingnya. Meski "Tiga Teman Dari Kecil" dan karya "Kita Bertiga" mirip. Tetapi karya adik kelas mendapat pengaruh besar, memang meniru, tetapi pasti bukan plagiat. Apa maksudnya? Maksudnya itu karyamu meniru karyanya, keluh Du Juan, kesal.

Karyanya sudah keluar empat bulan lebih awal dari karyamu, jelas Zhou Miao, , merasa senang atas kemalangan Jian Jian. Siapa yang plagiat dilihat dari waktu munculnya. Apakah yang lebih awal plagiat yang lambat?


Inspirasi karya ini memang dari foto tiga saudara Li Jianjian, tahu tidak? kata Du Juan, membela dan percaya sepenuhnya kepada Jian Jian.

Jika ada bukti, mungkin bisa, balas Zhou Miao, pelan.

Dengan segera, Jian Jian mencoba menelpon senior Yufei. Tapi tidak ada yang mengangkat. Dan Jian Jian merasa sangat stress.

Kita keluarkan fotonya, minta koran kampus jelaskan, kata Du Juan, menyarankan. Kau baik-baik saja? tanyanya, perhatian, saat melihat Jian Jian tampak begitu stress. Sudahlah. Kau tak usah kerja. Pulanglah, aku antar pulang, ajaknya.

Tak perlu. Aku pulang sendiri, balas Jian Jian. Lalu diapun pergi.


Chen Ting menghubungi Ling Xiao, dan memberitahu bahwa sekarang dia dan Bibi Chen berada didepan apatermen Ling Xiao. Mereka mau masuk ke dalam tapi tidak bisa, karena dia lupa kata sandi nya.

Tidak bisa, tolak Ling Xiao. Di belakang perumahan ada toko kue, ada pendingin dan bisa makan, katanya, menyarankan.



Bibimu juga sengaja membawakan abalon dan teripang untukmu. Ingin memasak sup untukmu, kata Chen Ting dengan agak gugup, karena takut malu kalau Bibi Chen tahu Ling Xiao tidak mengizinkannya masuk ke dalam apatermennya. Hanya minum air dan pergi, pintanya.

Tepat disaat itu, Jian Jian pulang. Dan Chen Ting memberitahu Ling Xiao untuk tidak perlu lagi. Lalu dia meminta bantuan Jian Jian.

Ling Xiao menyuruh perawat untuk menjadwalkan pasien kepada dokter yang lain, karena dia ada hal mendesak. Lalu setelah itu, diapun langsung buru- buru untuk pulang.

Dengan ramah, Jian Jian menyapa Chen Ting dan membantunya untuk membuka pintu apatermen Ling Xiao. Lalu setelah itu, dia langsung pulang untuk mengambilkan mereka beberapa buah.


Didalam apatermen. Chen Ting dan Bibi Chen merasa sangat panas, karena ac tidak menyala, tapi mereka tidak tahu dimana remotnya diletakkan. Lalu kemudian Jian Jian datang dengan membawakan mereka beberapa buah segar. Dan lalu dia membantu mereka untuk menyalakan ac, menggunakan remot ac yang diletakkan di bawah meja.


Makan semangka, kata Jian Jian, menawarkan.

Aku tak suka semangka, balas Chen Ting dengan sikap menjaga jarak. Pergilah lanjutkan kesibukanmu. Tak perlu urus kami, usirnya secara halus.

Bibi Chen sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Dan dengan ramah, dia serta Jian Jian saling berbicang- bincang. Melihat itu, Chen Ting merasa tidak senang dan tidak nyaman.

Jian Jian, pergilah lanjutkan kesibukanmu, usir Chen Ting, lagi.

Baik. Jika ada perlu, panggil saja aku, kata Jian Jian, mengerti.


Ketika Jian Jian pergi, Bibi Chen menanyai, ada apa dengan Chen Ting. Dan Chen Ting menjawab tidak ada, dia hanya tidak ingin merepotkan Jian Jian saja.


Dengan lemas, Jian Jian berbaring disofa dan merenung dengan sedih. Lalu kemudian, Ling Xiao datang dan diapun langsung menghapus air matanya. Namun Ling Xiao masih bisa melihat dengan jelas kalau Jian Jian sedang sedih.

“Mereka di rumahku?” tanya Ling Xiao. Dan Jian Jian menggangguk. “Kau di rumah saja, jangan kemari,” tegasnya.



Ling Xiao kembali ke apartemennya sendiri. Dan dia langsung mempertanyakan, apa yang barusan Chen Ting katakan pada Jian Jian. Karena dia bisa melihat kalau Jian Jian sedih.

“Ling Xiao. Kau tak boleh begitu pada ibumu,” kata Bibi Chen, menasehati. “Katakan baik-baik.”

“Kau ingin perlakukan aku dan Chengzi seperti apa terserah. Karena kau ibu kami. Tetapi Jian Jian tak boleh, satu kata pun tak boleh!” tegas Ling Xiao dengan suara keras.



Merasa khawatir, Jian Jian langsung berlari ke apatermen Ling Xiao, dan menjelaskan kepada Ling Xiao bahwa ini hanya salah paham saja.

“Li Jian Jian, kau bilang apa ke Ling Xiao? Sekarang jelaskan, apa yang kulakukan?” tanya Chen Ting, marah.

“Tidak, Bibi Chen Ting tak melakukan apa pun, aku karena hal lain,” jelas Jian Jian sambil memegang tangan Ling Xiao untuk menenangkan nya.


“Aku tahu kau tak suka padaku, tetapi tolonglah jangan mengadu domba hubungan kami,” tuduh Chen Ting.

“Jangan balikkan keadaan!” bentak Ling Xiao. “Apakah kau bisa menyukainya? Teh dan buah sudah diberikan, dia menangis di rumah, tak ada hubungannya denganmu?” tanyanya dengan ketus.



“Ling Xiao. Emosi ibumu memang begini. Kata-katanya memang kasar, tetapi tak berniat apa-apa,” kata Bibi Chen, menghentikan Ling Xiao.

Chen Ting dan Ling Xiao kemudian mulai saling bertengkar. “Aku tahu kau membenciku. Apa pun yang kulakukan salah. Kau sangat ingin aku jauh-jauh darimu. Kenapa aku tak melihatmu membela adikmu seperti ini? Jika kau berikan perhatian pada Li Jian Jian pada adikmu sendiri. Apakah adikmu akan begitu memberontak? Begitu tak patuh?” bentak Chen Ting, emosi.

Mendengar itu, Jian Jian merasa sedih dan bersalah.



“Baik, semua salahku. Selesai?” balas Ling Xiao, capek.

“Kau tak bersalah. Semua salahku. Apa salahnya kau membenci ibumu?” balas Chen Ting dengan sikap sebaliknya, yaitu sikap tidak merasa bersalah. “Semua perhatianmu kau berikan pada ayahmu, bahkan pada tetanggamu,” ejek nya.

“Mereka menyayangiku,” bentak Ling Xiao. “Kenapa kau tak menyayangiku?” tanyanya, dengan sedih dan kecewa.

Bibi Chen berusaha menasehati Ling Xiao agar jangan bersikap seperti itu kepada Chen Ting, Ibu sendiri. Tapi Ling Xiao tidak mau tahu lagi. Dia menarik tangan Jian Jian dan membawanya pergi bersamanya.

Post a Comment

Previous Post Next Post