Sinopsis C- Drama : Go Ahead Episode 37

 


Original Network : Hunan Tv, iQiyi, Mango TV

Tidak tahan berdebat dengan Chen Ting lagi, maka Ling Xiao pun pamit dan pergi dengan menarik tangan Jian Jian untuk ikut bersama dengan nya.



Saat mereka masuk ke dalam apatermen, Ling Xiao langsung memeluk Jian Jian dengan erat dan meminta maaf. Mendengar itu, Jian Jian menjelaskan bahwa dia menangis barusan benar- benar bukan karena Chen Ting. Dan Ling Xiao membalas bahwa dia hanya tidak suka Jian Jian bertemu dengan Chen Ting, jadi kelak jika Jian Jian melihat Chen Ting, maka Jian Jian harus segera menjauh.

“Aku merasa dia kelak akan lebih membenciku. Awalnya, aku ingin membuatnya senang, bagaimana pun aku lebih muda,” kata Jian Jian dengan agak sedih.

“Ingin dihormati, harus jadi orang tua yang baik dulu,” balas Ling Xiao.

“Kita tak boleh begini. Dia adalah ibumu,” kata Jian Jian, menasehati Ling Xiao.


Bibi Chen mencoba menghibur Chen Ting agar jangan sedih. Lalu dia menasehati sikap Chen Ting yang barusan memang agak terlaluan kepada Jian Jian. Kemudian dia mengomentari bahwa Jian Jian ini menurutnya memang tidak baik, karena di depan, Jian Jian bersikap baik kepada Chen Ting, tapi di belakang, Jian Jian malah mengadu kepada Ling Xiao.


Mendengar itu, Chen Ting tampak lebih membenci Jian Jian lagi. Karena menurutnya komentar Bibi Chen itu ada benarnya.

Mingyue datang ke kantor Ibu Ming untuk membahas apakah Ibu Ming dan Ayah Ming beneran akan bercerai. Tapi Ibu Ming sengaja mengabaikannya.

“Jangan marah lagi,” pinta Mingyue, merasa sedikit frustasi. “Jumat nanti kalian sungguh akan bercerai?” tanyanya, memastikan.

“Aku kabulkan keinginan kalian. Kalian mau ke mana pergi saja, tak perlu membohongiku terus,” balas Ibu Ming, penuh emosi.


Mingyue merasa sangat frustasi. Dia berteriak meminta maaf kepada Ibu Ming. Dia mengakui bahwa tindakannya dulu memang sangat kekanak- kanakan. Dan dia merasa sungguh menyesal, karena terus melawan Ibu Ming, dan sengaja tidak mau mendapatkan nilai bagus. Mendengar itu, Ibu Ming langsung memarahi Mingyue. Dan sambil menangis, Mingyue mengakui bahwa dirinya memang bersalah dan dia merasa seperti ingin kembali ke masa lalu serta menampar dirinya sendiri.




“Sekarang juga aku beri kau tamparan!” teriak Ibu Ming, lalu dia menampar dirinya sendiri. Melihat itu, Mingyue menangis semakin keras dan memeluknya. “Kenapa kalian begitu membenciku? Kenapa begitu padaku? Sebenarnya, apa salahku? Beri tahu aku. Seumur hidupku ini hidup demi kalian. Kalian dengan mudahnya bilang tak menginginkanku,” kata Ibu Ming sambil menangis sedih.


Setelah Ibu Ming agak tenang, Mingyue dengan sikap tegas menjelaskan bahwa dia memang ingin pergi ke Beijing. Dia ingin menjadi wartawan, karena dia menyukai pekerjaan ini. Dia bukan hanya ingin masuk ke siaran lokal, menerima telpon rakyat, mendamaikan, tapi dia ingin melakukan berita langsung, berita kehidupan. Dia ingin menjadi wartawan dokumenter. Inilah impiannya.

Mendengar itu, Ibu Ming memberikan senyum kepada Mingyue. Lalu mereka kembali berpelukan lagi.


Jian Jian menceritakan masalah nya kepada Ling Xiao. Saat pertama kali dia membuka studio, Senior Yufei datang untuk melihat- lihat, dan saat itu buku sketsa nya dia letakkan di meja begitu saja. Senior Yufei mengambil itu dan melihat. Lalu sekarang, siapa sangka kalau Senior Yufei itu akan menjiplak karyanya dan menfitnah dirinya.


Gambar dibuku sketsa itu sama seperti foto mereka bertiga dulu. Yang dipotret menggunakan kamera Mingyue dulu. Saat kuliah, Jian Jian bermain kapsul waktu dengan teman, dan menguburkan foto tersebut. Dulu tanah tempat mereka mengubur kapsul waktu masih merupakan tanah kosong. Tapi sekarang tanah itu sudah jadi pusat gedung- gedung besar. Jadi dia tidak bisa menemukan foto itu lagi.


“Oh ya. Dia juga mencetaknya untukmu dan Kak Ziqiu, 'kan? Mana fotomu?” tanya Jian Jian, teringat.

“Aku tak tahu taruh di mana,” jawab Ling Xiao, pelan. “Kita cari Ziqiu saja, dia menyimpan barang lebih baik,” katanya, menyarankan. “Ayo,” ajaknya sambil memegang tangan Jian Jian.


Melihat Meiyang bekerja dengan sangat baik, Ling Xiao memujinya. Dan dengan sikap jaim, Meiyang berpura- pura tidak peduli.

“Jika senang tersenyum, berlagak keren,” komentar Ziqiu sambil memegang kepala Meiyang. Dan Meiyang tersenyum kecil.


Setelah mendengarkan permasalahan Jian Jian, Ziqiu menceritakan dengan sedikit menyesal. Saat dia pergi meninggalkan Huaguang, dia sedikit terburu- buru, jadi banyak barang yang tidak dia ambil. Jadi dia tidak tahu, jika foto mereka dulu masih ada atau tidak. Lalu dia menyarankan Ling Xiao untuk mencari foto yang ada pada Ling Xiao. Mendengar itu, Meiyang memotong pembicaraan mereka bertiga. Dan Ling Xiao berusaha untuk menghentikannya.

“Aku tak tahu barangnya yang lain, tetapi albumnya aku tahu. Sudah digunting oleh ibuku tiga tahun lalu. Semuanya digunting,” kata Meiyang, memberitahu Ling Xiao dan Jian Jian.


“Sudah berlalu, jangan bahas lagi,” balas Ling Xiao, memperingatkan Meiyang. Tapi Meiyang tidak mau diam dan tetap lanjut menceritakan semuanya.

Flash back

Meiyang : “Kakakku akan segera tamat kuliah. Saat itu keadaan ibuku cukup baik, Kakakku ingin kembali.”



Ling Xiao ingin pulang ke China. Tapi Chen Ting merasa keberatan, dan dia menyarankan Ling Xiao untuk cepat mencari pekerjaan tetap di Singapura. Saat itu, Meiyang belum terlalu mengerti banyak hal yang ada didalam dunia orang dewasa, jadi dengan polosnya dia mengatakan bahwa dia tidak mau ke China, karena dia sudah tinggal hampir 20 tahun di Singapura, jadi dia sudah terbiasa dan semua temannya juga ada di Singapura.

“Ibu, sekarang Ibu sudah bisa mandiri, fasilitas Singapura juga bagus, Xiao Chengzi sudah besar, tak perlu dikhawatirkan. Jadi aku pikir ingin pulang dan bekerja di sana,” kata Ling Xiao, tetap ingin pulang ke China.

“Ling Heping meneleponmu?” tanya Chen Ting, tidak senang.

“Tidak,” jawab Ling Xiao dengan jujur.


Chen Ting berpura- pura masih lemah. Dia menjelaskan bahwa dia masih butuh kursi roda. Jika dia jatuh, Meiyang tidak akan mampu menopang nya. Jika Meiyang sakit, dia tidak akan bisa membawa Meiyang ke rumah sakit. Dan dia mempertanyakan Ling Xiao, pada saat itu dia harus bagaimana. Tanpa sadar perkataan itu, menjadi beban tambahan bagi Ling Xiao.

“Aku sudah tanya dokter, jangan khawatir,” kata Ling Xiao, menyakinkan Chen Ting.

“Dia dokter bisa mengurus semuanya? Dia tidak cacat, dia tahu aku yang cacat ini sesulit apa? Dia berbicara tanpa memahaminya. Ling Heping dia mau apa? Dia belum tua, juga masih bisa berjalan, kenapa rebutan denganku?” balas Chen Ting, memekik dengan emosional.

“Ibu, jangan emosi. Aku berdiskusi denganmu,” pinta Ling Xiao.

“Tak perlu diskusi. Jika kau tanya aku, aku tak akan setuju,” bentak Chen Ting, bersikap sangat keras kepala.



Saat Chen Ting pergi ke kamar. Meiyang meminta Ling Xiao untuk jangan pulang ke China dan meninggalkan nya sendirian disini bersama dengan Chen Ting, karena emosi Chen Ting kadang- kadang agak buruk. Mendengar itu, Ling Xiao merasa sangat terbebani dan diam.

“Tolonglah, Kak. Bisakah kamu jangan pergi?” pinta Meiyang, merengek. Dan Ling Xiao merasa sangat stress sekali.


Malam hari. Didalam kamar. Ling Xiao melihat- lihat album foto nya untuk menghilangkan rasa stress. Kemudian tiba- tiba saja, Chen Ting masuk ke dalam kamarnya. Dan diapun langsung menyembunyikan album foto nya.

“Foto apa? Biar aku lihat juga,” kata Chen Ting, ingin tahu.

“Aku mau tidur. Ketuklah sebelum masuk,” balas Ling Xiao, menolak.

Setelah Chen Ting keluar dari kamar, Ling Xiao langsung mengunci pintu kamar nya. Dan Chen Ting merasa kecewa.



Keesokan harinya, pada saat Ling Xiao pulang sekolah, dia melihat sepatu hadiah dari Jian Jian untuknya yang berada dirak sepatu telah menghilang. Dan ternyata, Chen Ting yang telah membuang sepatu tersebut. Juga Chen Ting menggunting semua foto di dalam album fotonya. Melihat itu, Ling Xiao merasa sangat marah.

“Kau sudah mau pulang, 'kan? Setiap hari bisa melihat mereka. Untuk apa simpan foto ini lagi?” kata Chen Ting dengan suara datar.

“Bisa jangan begini?” pinta Ling Xiao sambil menahan emosinya.


“Kau mau aku bagaimana? Mereka pasti mengejekku di belakang. Setiap hari memarahiku, untuk apa aku simpan foto mereka, dipajang?” ejek Chen Ting. “Maaf, aku tak sanggup. Pergi saja. Tak usah pedulikan aku. Aku juga tak ingin merepotkan kalian. Aku tak ingin jadi beban kalian. Seharusnya aku mati bersama Ayah Chengzi,” teriaknya, emosi.

“Jangan begini, Ibu,” pinta Meiyang, takut.

“Jangan pedulikan aku. Jika aku mati semuanya selesai, 'kan? Tidak akan merepotkan kalian lagi. Pergilah,” usir Chen Ting. Kemudian dia mulai menangis. Dan Meiyang pun ikut menangis juga.

Melihat sikap mereka berdua, Ling Xiao makin merasa stress dan terbebani. Tanpa mengatakan apapun, dia meninggalkan gunting yang barusan Chen Ting pegang di atas meja. Lalu diapun pergi untuk mencari sepatu nya.

Meiyang mengambil gunting tersebut dan mengikuti Ling Xiao. “Kak, jangan pergi lagi,” pintanya, memohon.

“Itu hadiah pemberian orang. Aku harus ambil kembali,” balas Ling Xiao.

“Aku tahu, sepatu itu sudah kuambil kembali diam-diam. Ada di tasku,” kata Meiyang, memberitahu.

Mendengar itu, Ling Xiao merasa lega. Lalu dia pergi ke tangga darurat untuk bersembunyi dan menangis. Dan Meiyang merasa sangat khawatir padanya.

Flash back end

Meiyang duduk sendirian, bersembunyi didapur. Dan lalu Ziqiu datang serta mendekatinya. Kemudian Meiyang mulai mengakui rasa bersalah nya. Saat Ling Xiao baru tamat dan ingin pulang ke China, dia yang memohon kepada Ling Xiao supaya jangan pergi, karena dia takut sendirian bersama dengan Chen Ting. Sejak saat itu, Ling Xiao tidak pernah tertawa lagi, juga tidak berbicara, tidak bersemangat, dan tidak tahu memikirkan apa.



“Sebenarnya wajar kalau kau takut. Karena kau masih anak kecil,” komentar Ziqiu sambil duduk disebelah Meiyang.

“Saat itu aku berusia 14 tahun. Setiap hari berpikir, aku tak boleh seperti ibuku. Tetapi yang kulakukan apa bedanya dengannya?” balas Meiyang, merasa sangat bersalah.

“Bedanya adalah, 14 tahun masih umur bergantung pada orang lain. Tetapi usia 50 tahun bukan,” balas Ziqiu, menjelaskan. “Coba pikirkan, saat 14 tahun, belum bisa menghidupi diri. Itu bergantung pada orang, 'kan? Jadi, kau yang 14 tahun, kemanjaan yang seperti itu, sangat bisa dimengerti. Tetapi kau juga bilang, kakakmu tak pulang sebagian besar alasannya karena kamu. Kenapa bilang kakakmu tak menyayangimu?” tanyanya.


“Tetapi Li Jian Jian begitu membenciku. Begitu kakakku pulang, ayahnya dan keluarga kalian terus menjelekkan kami,” balas Meiyang, mengeluh.

Tunggu. Kau dengar dari siapa? Ibumu?” tanya Ziqiu, heran.

“Saat kecil, aku…  Intinya Li Jian Jian sangat membenciku,” balas Meiyang sambil cemberut.

Mendengar itu, Ziqiu tertawa. Dia tahu alasan Meiyang berpikir seperti itu. Itu pasti karena dulu Meiyang pernah berbohong dengan mengatakan bahwa Jian Jian yang mendorong nya jatuh dari tangga. Jadi Meiyang merasa bersalah dan mengganggap Jian Jian membeci dirinya. Mendengar itu, Meiyang hanya diam saja.

“Kau harus langsung minta maaf,” kata Ziqiu, menyarankan.

“Aku tak mau. Dia pasti menertawakanku,” balas Meiyang, berpikiran negatif.

“Lihat, kau bilang tak ingin seperti ibumu. Tetapi sebenarnya cara berpikir kalian sama. Kau selalu berpikir buruk tentang orang lain,” balas Ziqiu. Dan Meiyang langsung menutup mulut nya. “Kuberikan 10 menit, persiapkan dirimu, kembali bekerja,” jelasnya sambil mengetuk pelan kepala Meiyang. “Cepatlah sampai ke dunia orang dewasa,” gumamnya.


Ziqiu merasa sangat ragu untuk menelpon Huaguang. Tapi pada akhirnya, dia tetap menelpon Huaguang.

“Saat aku tinggal di rumahmu, ada barang yang tak kubawa, sudah kau buang?” tanya Ziqiu langsung, tanpa berbasa- basi.

“Barang apa?” tanya Huaguang, agak bingung. “Harusnya di ruang bawah tanah,” jelasnya.


“Ada beberapa foto, harusnya ada di dalam buku. Tak perlu repot, foto dan kirimkan ke aku saja. Dan juga kirimkan nomor rekeningmu, aku kembalikan uangmu,” kata Ziqiu dengan cepat.

“Kau pakai saja,” balas Huaguang dengan lembut. “Kakekmu sakit, datanglah dan kunjungi dia,” pintanya. “Kanker paru-paru. Sudah merokok seumur hidup, tinggal beberapa bulan lagi. Kau datang kunjungi dia. Dia ingin menemui cucunya.”

Ziqiu menolak untuk menjenguk kakek nya. Tapi Huaguang memohon supaya Ziqiu mau datang berkunjung, sebagai gantinya dia akan mencarikan foto Ziqiu.


Zhuang Bei datang menjemput Tang Can dan mengajaknya untuk makan bersama sambil menonton bersama juga sekaligus.

Melihat Zhuang Bei membawakan tiket film "Secret Love In Peach Blossom Land", dengan bangku di barisan pertama, Tang Can merasa tertarik dan setuju untuk makan dan nonton bersamanya.


Selama makan, Tang Can banyak membicarakan masalah akting. Dia sangat menyukai akting. Walaupun sekarang dia tidak mungkin menjadi artis, tapi dia sudah puas untuk menjadi penonton saja.

“Jadi kenapa kau tak coba drama panggung?” tanya Zhuang Bei, menawarkan.

“Aku tidak bisa,” jawab Tang Can. “Aktris drama lebih hebat dari aktris drama TV. Bagaimana aku bisa?” jelasnya dengan pesimis.

“Lihatlah. Pemikiranmu ini salah. Kau ingin jadi aktris, harus berjuang di garis awal,” balas Zhuang Bei, menyemangati.

“Sudahlah. Pemikiranku memang tak bagus, tidak percaya diri lagi. Aku baru putuskan untuk mundur, masih penuh luka. Kau ingin aku maju lagi. Jika aku berharap lagi, ibuku akan memukulku sampai mati,” balas Tang Can.

“Baik. Tak bahas, makanlah,”kata Zhuang Bei, mengerti.


Jian Jian merasa stress dan kesal, saat membaca komentar- komentar negatif untuk dirinya di Internet. Lalu disaat itu, Ran menelpon.

“Jangan putus asa. Jangan lihat pembahasan mereka,” kata Ran, perhatian. Dia percaya bahwa Jian Jian past tidak ada menceplak karya orang lain.

“Sedang lihat,” balas Jian Jian, tanpa semangat.

“Jangan lihat. Abaikan orang bodoh itu. Kau cepat cari foto, aku cari informasi lain. Kita balas dia,” balas Ran, memberikan dukungan nya.


Setelah Ran selesai menelpon, Du Juan menelpon. Dia menyuruh Jian Jian untuk cepat mencari foto Jian Jian itu, karena hari ini dia sudah menerima banyak We Chat dari teman- teman yang mempercayai Senior Yufei.

“Besok kita bicarakan,” pinta Jian Jian, capek sekali. “Tutup dulu, sampai jumpa,” katanya dengan tenang. Lalu setelah itu, dia merengek stress.


Setelah selesai menonton film kesukaan nya, Tang Can merasa sangat puas sekali. Lalu dia menuduh, apakah Zhuang Bei memberikan tiket ini untuknya, karena ingin dia membantu hubungan antara Zhuang Bei dan Mingyue. Dan Zhuang Bei menyangkal itu.

“Kelak, kita adalah sahabat,” kata Tang Can dengan bersemangat.

“Siapa mau jadi sahabatmu. Cukup ada Ziqiu,” balas Zhuang Bei, tidak puas.

“Sahabat Ziqiu itu Ling Xiao,” balas Tang Can dengan tegas.

“Ling Xiao itu keluarga, itu berbeda,” balas Zhuang Bei, menjelaskan.

“Jadi kau ini jangan menganggap tinggi dirimu. Coba pikir, kau dan Ling Xiao sama-sama jatuh ke air. He Ziqiu akan menolong siapa?” tanya Tang Can, memberikan perumpamaan.

“Mati tenggelam saja,” balas Zhuang Bei, kesal.

“Tenang, aku akan menolongmu,” kata Tang Can dengan serius. Dan Zhuang Bei tersenyum senang.


Zhuang Bei tiba- tiba mendapatkan telpon dari temannya. Dan dia mengajak Tang Can untuk ikut bersama- sama dengan nya ke ruang latihan drama untuk bertemu dengan temannya.



Dengan serius, Tang Can memperhatikan akting para aktor dan aktris yang sedang melakukan latihan di atas panggung.



Setelah latihan selesai, Zhuang Bei memperkenalkan Tang Can kepadanya. Teman Zhuang Bei ini adalah sutradara dalam drama barusan. Dia menawarkan Tang Can untuk berakting di dalam drama nya, karena menurutnya Tang Can cocok dengan peran di dalam drama nya.

“Bukan aku membual. Dari kecil sudah berakting.  Usia delapan tahun, menangis dalam satu detik,” kata Zhuang Bei, membanggakan Tang Can kepada temannya. “Kami hanya tak ada pengalaman drama panggung. Tetapi cepat dalam menghafal skrip. Di museum, bahan setebal ini, setebal ini. Hafal dalam satu minggu, sudah jadi narator,” jelas nya.


“Kau bisa diam dulu? Biarkan kami bicara,” balas si Sutradara sambil tertawa. Lalu dia memberikan skrip drama nya kepada Tang Can.

Melihat skrip tersebut, Tang Can merasa tertarik, tapi dengan menyesal dia menjelaskan bahwa dia sudah berhenti berakting dan bekerja di museum. Juga dia tidak pernah berakting diatas panggung, jadi takutnya akting nya akan jelek.

“Tak masalah. Lihat dulu skripnya, pertimbangkan. Besok sebelum siang kabari aku, bisa, 'kan?” kata si Sutradara, menawarkan.

Mendengar itu, Tang Can menatap ke arah Zhuang Bei. “Kau cobalah, tak menunda hal lain,” kata Zhuang Bei, menyemangati. Dan akhirnya Tang Can pun menggangguk kan kepalanya.



Setelah hanya tinggal berdua saja, Tang Can menanyai pendapat Zhuang Bei, apakah dirinya beneran bisa berakting dengan baik nantinya. Dan Zhuang Bei mengiyakan dengan yakin.

“Bagaimana aku bilang pada ibuku?” tanya Tang Can, bingung.

“Aku tak memikirkannya. Aku hanya merasa sejak kau tak jadi aktris lagi, tidak begitu senang,” balas Zhuang Bei dengan tulus.



“Terima kasih telah membantuku,” kata Tang Can, bersyukur.

“Dalam buku "Sang Alkemis" ada satu kalimat. Saat kau memutuskan melakukan sesuatu, seluruh dunia akan membantumu,” kata Zhuang Bei, menyemangati.

“Setelah 18 tahun aku hanya tahu, saat aku ingin ke suatu tempat, seluruh dunia menghalangiku, sungguh tak terima,” kata Tang Can, pesimis. Lalu dia menatap skrip dihadapannya dan berpikir keras. Kemudian dia menetapkan keputusannya dan mengambil skrip tersebut serta membaca nya.

Melihat iu, Zhuang Bei tersenyum kecil.

Post a Comment

Previous Post Next Post