Sinopsis K-Drama : The Uncanny Counter Episode 01

 

Sinopsis K-Drama : The Uncanny Counter

Episode 01


Adegan di mulai dengan memperlihatkan sebuah keluarga kecil yang sedang berada di dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Saat itu, hari sedang hujan lumayan deras. Sang ayah, bernama So Gwon, berprofesi sebagai detektif. Sang Ibu, bernama Ha Mun Yeong, berprofesi sebagai seorang polisi. Anaknya, bernama So Mun yang mempunyai hobi menggambar. Hari itu, melalui radio di mobil, kita mengetahui bahwa hasil pemilihan wali kota Jungjin sudah keluar dan pemenangnya adalah Shin Myeong Hwi.



Dalam perjalanan, So Mun bercerita kalau dia sedang membuat buku cerita mengenai keluarga mereka yang sedang pergi liburan. Sayangnya, di gambarnya, dia pergi liburan bersama kakek dan neneknya karna ayah dan ibunya selalu sibuk dan tidak akan bisa ikut berlibur. So Gwon dan Mun Yeong tentu sedih mendengarnya dan berjanji akan bisa ikut liburan bersama So Mun. So Mun tidak percaya karna ayah dan ibunya selalu melanggar janji.


So Gwon nggak menyerah. Dengan nada lembut dan manis, dia membujuk So Mun agar memasukannya dan Mun Yeong ke dalam buku cerita So Mun juga. Kali ini, dia janji kalau mereka akan bisa liburan bersama. So Mun tersenyum senang. Dia setuju untuk menggambar ayah dan ibunya juga di buku cerita miliknya.



Dengan wajah tersenyum bahagia, So Mun mulai menambahkan sosok ayah dan ibu di gambarnya.

--




Di saat yang sama, seorang pria bernama Ga Mo Tak, sedang berada di pinggiran atap gedung. Kondisinya sedang dalam luka parah bahkan ada tusukan di perutnya. Dalam keadaan menahan sakit, Mo Tak menelpon rekannya, So Gwon.



Saat itu, So Gwon sedang berhenti di lampu merah dan bernyanyi bahagia bersama Mun Yeong dengan So Mun. Mo Tak menelpon untuk memperingati agar So Gwon berhati-hati. So Gwon bingung dengan apa yang di katakan Mo Tak dan juga dengan suara Mo Tak yang tampak menahan sakit.

“Pastikan kau bertahan! Kau harus bertahan!” teriak Mo Tak.

“Dimana kau sekarang, detektif Ga?” tanya So Gwon, khawatir.


Mo Tak tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, karna sekelompok orang mengenakan mantel hujan berwarna gelap, muncul di depannya. Dengan sisa kekuatannya, Mo Tak berusaha melawan mereka.




So Gwon semakin khawatir karna tidak ada jawaban dari Mo Tak. Dan tiba-tiba saja, sebuah truk melaju kencang, menabrak mobil So Gwon yang sedang berhenti di lampu merah. Tabrakan itu, membuat mobil keluarga So Gwon, berputar hebat di jalanan.





Mo Tak yang sedang bertarung, pada akhirnya, terjatuh dari atap gedung. Tubuhnya mendarat di atas sebuah mobil hitam.



Ketika tabrakan itu terjadi, Mun Yeong berusaha keras menggunakan tubuhnya untuk melindungi So Mun. So Mun masih sadarkan diri di detik-detik terakhir karna dia merasakan rasa sakit luar biasa di kakinya. Itu karna sebelah kakinya terjepit. Dengan suara lemah, So Mun berusaha memanggil ayah dan ibunya, tapi tidak ada jawaban.




Seorang pria turun dari truk yang menabrak mobil So Gwon. So Mun mendengar langkah kakinya dan dengan suara kecil meminta tolong pada orang itu. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, samar-samar dia melihat seorang pria mengenakan topi hitam, melihat ke arahnya.


The Uncanny Counter




7 tahun kemudian,

So Mun selamat dari kecelakaan maut itu. Dia tinggal bersama kakek dan neneknya. Kondisi neneknya tidak begitu baik. Neneknya sudah pikun. Walau begitu, So Mun tetap merawat neneknya dengan kasih sayang.



Akibat kecelakaan 7 tahun lalu, kaki So Mun menjadi pincang dan kedua orang tuanya meninggal. Tapi, walau menjadi pincang, So Mun tetap ahli menggambar. Dia suka membuat cerita mengenai superhero.



So Mun mempunyai dua orang sahabat yaitu : Im Ju Yeon dan Kim Ung Min. Mereka berdua sangat peduli pada So Mun. Mereka juga ingat kalau ini hari ulang tahun So Mun dan mengajaknya makan di sebuah restoran mie terkenal. Mereka pergi dengan menggunakan sepeda. Ung Min yang membonceng So Mun.

Sepanjang perjalanan, mereka membahas mengenai tokoh utama di komik So Mun. Ju Yeon menyarankan agar tokoh utamanya dibuat tumbuh di keluarga miskin, penghuni kontrakan bawah tanah, dengan air keran yang berwarna keruh serta bekerja part-time di warnet. Saking miskinnya, si tokoh utama sampai harus berutang demi membuat kostum pahlawannya. So Mun setuju saja dan ingin membuat karakter tokoh utamanya menjadi semakin kuat setiap kali mengalahkan musuh, seperti dalam permainan game. Jadi, setiap kali menang melawan musuh, si pahlawan akan menyerap kekuatan dari para musuh dan menjadikan kekuatan itu menjadi miliknya. Ung Min menyarankan agar si tokoh utama di buat mempunyai sifat yang pemarah. Bergolongan darah B. Dan tentu saja, dia harus mempunyai cinta sepihak.



Mereka melewati sebuah gedung yang di depannya terpampang spanduk bertuliskan : “Pembatalan Pembangunan.” So Mun berkomentar kalau gedung itu sangat tinggi hngga bisa terlihat dari Korea Utara. So Mun memotret gedung itu, karna dia akan menjadikan gedung itu menjadi referensi komiknya, sebagai markas musuh terakhir. Dari spanduk yang ada di sana, kita mengetahui bahwa walikota di Jungjin masihlah, Shin Myeong-hwi.



Saat melewati sebuah persimpangan, So Mun meminta Ung Min untuk berhenti sebentar. Itu karna So Mun melihat seorang wanita, Hui Yeong,  yang sedang membagikan selebaran orang hilang. So Mung menghampirinya dan mengambil selebaran tersebut. Ung Min dan Ju Yeon mengikutinya.



Setelah cukup jauh, Ung Min menanyakan alasan So Mun mengambil selebaran tersebut. So Mun menjawab bahwa tidak banyak yang mau menerima selebaran itu, jadi, dia mengambilnya. So Mun berpikir kalau Hui Yeong akan merasa senang jika ada yang peduli. Ju Yeon pesimis kalau orang yang hilang, yang di cari Hui Yeong masih hidup, karena sudah hilang selama setahun. Mungkin saja, orang itu sudah mati. So Mun dan Ung Min kompak memarahinya karna sudah bicara sembarangan.



Mereka akhirnya tiba di tujuan mereka : Kedai Mi Eonni. Kedai itu sangat ramai dan banyak orang yang mengantri hanya untuk bisa makan di sana. Rumornya, grup Taesin ingin membangun gedung di bekas tempat ini, tapi si pemilik menolak menjual kedainya. Ju Yeon merasa heran kenapa tempat ini bisa begitu ramai padahal hanya terlihat seperti kedai mie biasa. Ung Min berujar kalau kedai ini pasti punya resep rahasia. Dan juga, mungkin ada yang belum mencoba mie di kedai itu, tapi tidak ada orang yang hanya pernah makan sekali saja begitu sudah mencobanya.

Kedai Mie Eonni sangat terkenal melalui mulut ke mulut. Mereka tidak ada beriklan atau berpromosi melalui blog, medsos atau apapun. Kedai ini hanya di ketahui sebagian orang, tapi sangat ramai. Yang lebih aneh adalah pemiliknya. Sekilas, mereka seperti keluarga biasa, tapi terlalu aneh untuk keluarga biasa.










Salah satu pekerja di kedai itu adalah seorang wanita bernama Do Ha Na. Dia yang bertugas melayani pelanggan. Sementara yang bekerja di dapur adalah Ga Mo Tak yang bertanggung jawab memotong sayuran dan Chu Mae Ok yang bertanggung jawab membuat dan menyajikan mie.

Mo Tak adalah pria yang kekar dan kuat. Hanya dengan tangan kosong, dia bisa mematahkan pisaunya. Bukan hanya Mo Tak yang kuat, Mae Ok yang seorang ahjumma pun mempunyai kekuatan yang luar biasa.





Ha Na yang kelihatan seperti wanita biasa pun begitu kuat. Dia sanggup mengangkat 4 galon air sendirian. Ketika dia sedang mengangkat galon, dia tiba-tiba saja mendapatkan penglihatan seorang pria yang sedang membunuh dan berujar kepada korbannya : “Sayonara.”  Di penglihatan Ha Na, si korban memakai jaket biru yang di bagian dadanya bertuliskan : “Cinta Jungjin Cinta Alam.”


“Dia datang,” lapor Ha Na pada Mo Tak dan Mae Ok.

“Level berapa?” tanya Mo Tak.

“Sepertinya level dua.”


“Sepertinya?”

“Mungkin level tiga. Ku dengar level tiga memiliki dua suara. Aku tak yakin, tapi dia bicara dalam dua suara,” jelas Ha Na.

Mereka mendengarkan informasi dari Ha Na sambil bersiap-siap menukar baju mereka. Setelah itu, mereka langsung pergi keluar toko. Mae Ok menyuruh semua pelanggan yang lagi makan untuk pergi setelah selesai.



Diluar, Ung Min masih menjelaskan pada So Mun dan Ju Yeon kalau Kedai Mie Eonni hanya buka selama 3 jam saat makan siang. Saat itu, Ha Na keluar dan mengumumkan kalau toko sudah di tutup. Ung Min protes  karna mereka sudah menunggu selama 1 jam dan tinggal selangkah lagi akan mendapat giliran. Mau apapun yang Ung Min katakan, Ha Na tidak merespon. Dia dan Mae Ok bergegas masuk ke dalam mobil Mo Tak.


Dan yang paling menarik perhatian So Mun adalah Ha Na. Dia terpesona dengan kecantikan Ha Na.

--



Seorang pria, Jang Cheol Jung, ada di dalam bus. Mo Tak menelponnya dan melaporkan kalau mereka sudah menemukan satu. Ha Na memberitahu ciri-ciri si pembunuh yang di lihatnya, mengenakan jaket hitam bergambar harimau. Di dekat warnet Jungjin.

Jungjin mengerti dan berujar akan segera ke sana.

--



Begitu tiba di wilayah yang Ha Na sebutkan, mereka mulai berpencar. Cheol Jung masih belum tiba dan berkomentar kenapa roh jahat malah muncul sekarang padahal dia berniat makan mie Ny. Chu.


Cheol Jung ini, baru saja pulang dari acara pernikahan keponakannya. Moodnya lagi jelek karna di hujat selama 3 hari di acara pernikahan itu. Mae Ok malah mengejeknya dengan bilang kalau keponakan Cheol Jung pasti sudah di hujat juga karna punya paman perjaka berumur 50 tahun. Cheol Jung masih ingin bicara, tapi Mae Ok menghentikannya dengan menyuruhnya untuk bergegas. (Mereka berkomunikasi dengan earphone yang terpasang di telinga mereka).

Ketika itu, Mae Ok melihat sebuah cahaya berwarna – warni di kejauhan yang mengarah ke langit.

“Lahan kita meluas ke utara,” lapor Mae Ok.

Semua semakin bergegas untuk menangkap pria pembunuh yang sudah di rasuki roh jahat tersebut. (Nama pembunuh itu adalah Ji Cheong Sin.)



Ha Na adalah orang pertama yang menemukannya. Dia segera melaporkan hal itu pada yang lain. Sialnya, Cheong Sin menyadari kalau Ha Na mengikutinya, jadi dia langsung kabur. Ha Na berusaha mengejar, tapi Cheong Sin sangat kuat. Dia lari ke atap gedung dan dari atap, dia melompat ke atap gedung lain di seberangnya. Melihat kehebatannya itu, Ha Na semakin yakin kalau dia adalah roh jahat level 3.



Ha Na sangat hebat. Walaupun wanita, dia mampu melompat ke gedung sebelah tanpa terluka sedikitpun. Tidak hanya Ha Na, Mo Tak dan Mae Ok juga mempunyai kekuatan fisik di atas manusia rata-rata. Hanya dengan sedikit tenaga dorongan, mereka mampu melompat tinggi.

Kejar-kejaran berlangsung sangat sengit dan intens. Mae Ok yang terlalu fokus berlari, sampai tidak menyadari sebuah mobil melaju ke arahnya. Walau tubuhnya terpental, Mae Ok masih mampu berdiri dan lanjut berlari. Supir mobil yang menabraknya sampai terkejut.


Cheol Jung melapor pada yang lainnya kalau dia sudah hampir tiba di perbatasan (tempat yang ada cahaya warna warni hingga ke langit). Mo Tak menyuruhnya untuk tetap menjaga jalan di sana karna dia akan memancing si pembunuh hingga ke tempat Cheol Jung.




Cheong Sin terpojok ke jalan buntu. Dan mau tidak mau, dia harus melawan Ha Na. Dia sempat menanyakan siapa Ha Na, tapi tidak mendapat jawaban. Walaupun Ha Na kuat, tapi Cheong Sin jauh lebih kuat daripadanya. Untungnya, di saat yang genting, Mo Tak muncul dan membantunya mengajar pembunuh itu. Cheong Sin berteriak penuh amarah dan juga menahan rasa sakit, menanyakan siapa mereka? Dengan tenang, Mo Tak menjawab kalau mereka adalah Malaikat Maut.



Mo Tak berhasil melepas tudung Cheong Sin. Dan terlihat ada bekas luka yang cukup mengerikan di sisi kepala, di atas daun telinga. Mo Tak tampak tertegun melihat bekas luka tersebut. Dan hal itu, di manfaatkan oleh Cheong Sin untuk menghajar Mo Tak. Mo Tak dan Ha Na pun bekerja sama untuk mengalahkannya.






Walau sudah bekerja sama, Cheong Sin masih cukup kuat untuk menjatuhkan mereka berdua. Mae Ok yang baru tiba, segera mengambil palang dan melemparkannya ke arah Cheong Sin. Meleset! Cheong Sin mungkin sadar kalau dia akan kalah jika melawan tiga orang, jadi, dia memutuskan kabur dengan memanjat dinding, melewati rumah kosong.



Mo Tak yang masih terluka, melaporkan pada Cheol Jung kalau Cheong Sin mempunyai kekuatan psikokinesis. Cheol Jung menjadi khawatir dan menyuruh Mae Ok untuk menyingkir dari sana, karna Mae Ok bisa mati. Mae Ok tidak mau dan berkata tidak akan mati sebelum membuatkan mie untuk Cheol Jung.


Cheol Jung sudah menunggu di tempat cahaya warna-warni itu muncul. Dan Cheong Sin yang tersudut pun melewati tempatnya, di dalam sebuah terowongan. Cheol Jung memberitahu kalau pembunuh itu sudah masuk ke dalam terowongan. Mo Tak meminta Cheol Jung menunggu mereka hingga tiba dan jangan melawan sendiri.

Tapi, Cheol Jung terlalu bersemangat. Begitu Cheong Sin melewatinya, dia segera menghajarnya dan membantingnya ke tanah. Cheol Jung melapor pada Mo Tak kalaua dia bisa melawan Cheong Sin di wilayah mereka dan akan menahannya sampai Mo Tak tiba.


Cheong Sin tidak menyerah dan terus melawan Cheol Jung. Kekuatan mereka imbang. Sama-sama kuat. Tidak, kekuatan Cheol Jung mungkin sedikit di atas Cheong Sin. Cheol Jung yakin kalau dia bisa mengalahkannya seorang diri. Tapi, karna kesombongannya, dia lengah hingga Cheong Sin bisa mengambil tongkat besi yang ada di tanah dan memukulkannya kepada Cheol Jung. Untungnya, Cheol Jung berhasil merebut tongkat itu dan memuli Cheong Sin.



Sialnya, sinar warna warni yang ada di sana, perlahan menghilang. Mo Tak dang yang lain masih dalam perjalanan ke sana. Mereka meminta Cheol Jung untuk menahan pembunuh itu sebentar lagi karna mereka sudah hampir tiba.



Sinar warna-warni itu sudah lenyap. Kekuatan Cheol Jung juga menjadi lebih lemah di bandingkan sebelumnya. Sekarang, dia bahkan tidak bisa memukuli Cheong Sin. Cheong Sin sudah sangat marah karna mereka mengikutinya. Saking marahnya, dia memukuli Cheol Jung terus-menerus dengan tongkat besi yang berhasil di rebutnya kembali. Dan seolah tidak puas, dia menusuk, Cheol Jung dengan tongkat itu dari arah belakang hingga menembus tubuhnya.


Mo Tak dan yang lain sudah memasuki terowongan dan berteriak memanggil Cheol Jung. Mereka memintanya untuk bertahan sebentar lagi dan jangan mati. Semuanya bisa merasakan ada hal buruk terjadi pada Cheol Jung.



Cheong Sin tersenyum melihat tubuh Cheol Jung yang bersimbah darah. Dia mulai mendekatkan wajahnya dan menghisap roh Cheol Jung. Mata Cheong Sin berubah menjadi berwarna merah. Dia tertawa senang. Terdengar seperti ada dua suara yang keluar dari mulutnya yang berujar : “Ini adalah yang terenak sejauh ini.”



Tapi, tiba-tiba saja, tubuh Cheol Jung bercahaya dan seorang wanita tua keluar dari tubuh Cheol Jung dan mulai terbang ke langit. Cheong Sin terkejut melihat itu dan tampak ketakutan, mulai kabur dari sana.

Roh wanita tua itu, Wi Gen, berterbangan di langit.


Mo Tak dan yang lainnya tiba terlambat. Saat mereka tiba di sana, Cheol Jung sudah meninggal. Mau upaya apapun yang mereka lakukan untuk menyelamatkannya, semuanya sia-sia. Mo Tak berteriak frustasi. Mereka bertiga, menangis histeris.


Wi Gen masih terbang ke seluruh penjuru kota. Dia harus mencari seseorang yang sedang dalam keadaan koma.


Sementara itu, Ung Min, Ju Yeon dan So Mun, jadinya pergi ke restoran tteokbokki untuk merayakan ulang tahun So Mun. Saat mengambil sayuran, Ju Yeon diam-diam bicara dengan Ung Min. Dia membahas luka di wajah Ung Min yang sebenarnya adalah pukulan dari preman sekolah yang meminta uang. Ju Yeon menyuruh Ung Min untuk melaporkan penindasan itu ke polisi, tapi Ung Min tidak mau. Mereka berdua, menyembunyikan hal itu dari So Mun.


Mereka makan dengan begitu lahap. Apalagi, So Mun yang mentraktir.


Ketika dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja, roh Wi Gen melewati tempat mereka. Dan roh itu, masuk ke tubuh So Mun. Tubuh So Mun mendadak terangkat ke langit, matanya berbinar kebiruan dan kemudian, terjatuh kembali ke tanah dengan keras. Ung Min dan Ju Yeon sangat kaget dan berteriak memanggil So Mun yang pingsan.



Wi Gen yang masuk ke dalam tubuh So Mun, juga sangat terkejut karna merasuki tubuh orang yang tidak dalam keadaan koma. So Mun terbangun tanpa merasa sakit. Dia hanya merasa seperti ada yang merasukinya. Ung Min malah mengejek So Mun yang mungkin tersambar petir.



Masih belum cukup terkejut dengan So Mun yang tiba-tiba melayang dan terjatuh tadi, mereka malah melihat rambut So Mun yang berubah. Jadi, rambut So Mun yang awalnya lurus, tiba-tiba melompat-lompat dan menjadi keriting. Macam popcorn. So Mun berteriak kaget dan ketakutan karna rambutnya tiba-tiba jadi keriting.

--


So Mun tiba di rumah waktu sudah malam. Dan saat tiba, kakeknya sudah menunggunya dengan sebuah kue ulang tahun. Nenek juga ada tapi ketiduran. Dengan bahagia, Kakek menyanyikan lagu ulang tahun untuk So Mun. So Mun sangat bahagia dan meniup lilin, tapi nenek juga terbangun dan ikutan meniup lilin. Penyakit pikun nenek kambuh dan dia malah mengira So Mun hendak mengambil kue ulang tahun cucunya, So Mun.




So Mun memberitahu neneknya kalau dia adalah So Mun, cucu yang neneknya bicarakan. Tapi, Nenek tidak percaya dan malah memukulkan kue itu ke wajah So Mun. So Mun kesal bukan karna wajahnya di pukul dengan kue, tapi karna walkman milik ibunya jadi kotor kena kue. Walau begitu, mereka tetap tertawa bahagia.

--



So Mun mencuci rambut dan wajahnya. Tapi, tetap saja, rambutnya keriting. So Mun jadi stress karna rambutnya tiba-tiba berubah seperti itu. Dan yang lebih anehnya lagi, di telapak tangan sebelah kanan, ada sebuah titik di masing-masing jari dan di tengah telapak tangan.



So Mun mengira kalau itu kotoran, jadi, dia berusaha mencucinya dengan sabun. Tapi, sabunnya malah hancur saat dia memegangnya. Bukan hanya sabun, tapi juga gagang sikat gigi. So Mun tentu heran, tapi dia tidak ambil pusing.




Pada akhirnya, mau sekeras apapun dia berusaha menghapur tanda di jarinya, tanda itu tidak bisa hilang. Dia mulai bertanya-tanya, apakah tanda itu muncul karna dia tersambar petir? Tidak, rasanya seperti bukan petir. Rasanya seperti air es dan dia bisa merasakannya melalui pembuluh darah, ujung tangan dan kakinya. Setajam itu. Terasa begitu jelas. Kepalanya terasa segar seperti berada di dalam air es.


Ketika So Mun sedang memikirkan apa yang di rasakannya saat sesuatu masuk ke tubuhnya, dia tiba-tiba saja terbangun di tengah lautan. Sangat aneh.


Dan tiba-tiba, sebuah tangan meraih pundaknya. Ketika dia berbalik, dia melihat seorang nenek berambut perak yang cantik, tersenyum padanya dan memberitahu kalau namanya adalah Wi Gen.


Saking terkejutnya, So Mun terbangun dari mimpinya.

--


Esok harinya,

So Mun berada di perpustakaan dengan Ju Yeon. Dia menceritakan mengenai mimpinya kemarin malam. Tapi, rasanya seperti bukan mimpi. Sentuhan wanita itu (Wi Gen) terasa begitu nyata dan dia masih ingat rasanya.


Mendengar cerita So Mun, Ju Yeon malah mengira So Mun bermimpi kotor. So Mun menjelaskan bukan mimpi aneh dan juga wanita di mimpinya sepertinya berusia sekitar 50-an. Ju Yeon malah mengejeknya mesum.




Saat So Mun hendak mengembalikan buku di tangannya ke rak, dia malah melihat, di balik raknya berdiri sekarang, Ung Min sedang di peras oleh Jeong Geun Yeong dan Lee Cheon Jung. Ung Min meminta mereka memberikannya waktu sehari lagi dan dia akan membawakan uangnya besok. Cheon Jung malah kelewatan. Dia tahu kalau orang tua Ung Min menjalankan penginapan, jadi dia menyuruh Ung Min untuk menyewakan kamar untuk 15 orang selama tiga malam. Dia dia akan melepaskan Ung Min.

Ung Min tidak bisa mengabulkan permintaannya itu. Cheon Jung jadi emosi dan hendak memukul Ung Min. Geun Yeong segera menghentikannya dan menyuruhnya tidak memakai kekerasan. Di saat mereka menindas Ung Min, siswa-siswa lain yang ada di sana, tidak berani membantu sedikitpun. Mereka tidak berani karna Cheon Jung dan Geun Yeong adalah anak buah dari Shin Hyeok-U, putra walikota.



So Mun tidak bisa diam saja melihat temannya di tindas. Dia menghampiri Ung Min dan mengajaknya pergi. Cheon Jung dan Geun Yeong menjadi lebih marah dan melampiaskannya dengan memukuli wajah Ung Min. So Mun marah dan meminta mereka untuk berhenti.

“Jangan kemarin, Mun,” pinta Ung Min. “Pergilah.”


Tapi, Geun Yeong malah semakin kuat menampar pipinya. So Mun menjadi semakin marah dan akhirnya berteriak menyuruh mereka berhenti!! Cheon Jung marah dan mencengkeram kerah baju So Mun. Hyeok U yang melihat itu, tertawa seolah menonton sebuah pertunjukan menarik.


Geun Yeong terus dan terus menampar pipi Ung Min. Dia mengejek So Mun untuk mendekat kalau mau menolong Ung Min. So Mun sangat-sangat-sangat marah. Dia menampik tangan Cheon Jung dan berteriak keras menyuruh mereka untuk berhenti. Teriakannya terdengar hingga ke penjaga perpus. Dia menghampiri mereka dan menanyakan apa yang terjadi. Ju Yeon menangis dan menunjuk ke balik rak. Geun Yeong dan Cheon Jun akhirnya berhenti dan pergi seolah tidak melakukan apapun.


“Kau cukup menarik,” ujar Hyeok U, penuh arti. Tatapannya tampak jahat.


Penjaga perpus harusnya tahu kalau ada hal yang nggak beres, tapi alih-alih menanyakan apa yang terjadi, dia malah menyapa Hyeok U dengan ramah. Dia juga menyuruh semua siswa untuk kembali belajar.


Ung Min malu karna So Mun melihatnya di tindas. Karna itu, dia membalikkan badan dan pergi tanpa menatap So Mun.

--



Seorang pria tua, Choi Jang Mul, tiba di sebuah gedung duka. Penampilannya yang mewah dan berwibawa menunjukkan betapa kayanya dia. Dia bahkan memesan begitu banyak papan bunga untuk di letak di depan ruang duka. Jang Mul adalah CEO dari Retail Jangmul.




Dan rumah duka yang di kunjuginya adalah untuk pemakaman Cheol Jung. Para penyambut, berbisik-bisik kalau Cheol Jung bekerja di retail Jangmul. Yang lebih mengejutkan mereka, Jang Mul memberikan uang duka sebesar 1.000.000.000 won!

--



Mae Ok, Mo Tak dan Ha Na juga sangat berduka dengan kematian Cheol Jung. Mereka meletakkan foto Cheol Jung di meja dan di depan foto itu adalah semangkok mie tanpa jamur, seperti yang di minta Cheol Mung terakhir kali. Di ujung meja, duduklah Jang Mul.


“Ini hari terakhir untuk kita mengenangnya. Kita tak pantas menangisinya sebelum kita tangkap bedebah itu, agar Cheol-jung tenang di sana. Kalian mengerti?” ujar Jang Mul.

“Dia level tiga. Dia memakai psikokinesis,” beritahu Mo Tak.

“Artinya dia sudah cukup lama naik ke level tiga,” respon Jang Mul.

“Kenapa kita tak tahu apa-apa sampai dia menjadi level tiga?”  tanya Mo Tak.

“Terkadang, kita bertemu dengan yang tak terduga. Bisa temukan lokasinya? Kuyakin kau membaca pikirannya,” tanya Jang Mul pada Ha Na.

Ha Na menggelengkan kepala. Dia tidak bisa membaca pikiran Cheong Sin. Yang paling Mo Tak khawatirkan adalah Cheong Sin yang menahan roh Cheol Jung. Semua jadi kepikiran hal itu.


Mae Ok kemudian menanyakan mengenai Wi Gen. Jang Mul teringat dan memberitahu kalau dia mendengar kabar Wi Gen berhasil menemukan pria hebat dan berhasil bertahan secara dramatis. Pria itu sangat luar biasa karena tidak dalam keadaan koma tapi Wi Gen bisa merasukinya.

“Apa orang yang tak koma juga bisa menjadi counter?” tanya Ha Na, penasaran. Pertanyaan itu membuat kita tahu kalau mereka semua dalam keadaan koma sebelum menjadi counter.


Jang Mul membenarkan. Wi Gen bilang kalau bocah itu begitu berenergi. Saat masuk ke dalam tubuhnya, Wi Gen bahkan tidak bisa menyerap semua energinya. Pria itu (So Mun) di liputi amarah dan gairah. Tidak ada yang bisa menahannya saat emosinya meledak.


“Mo Tak, cobalah untuk memanfaatkannya. Kita tangkap pemangsa Cheol Jung itu. Kita butuh bocah itu. Mari kita lakukan,” saran Jang Mul.

--



Kasus pembunuhan yang korbannya di bunuh oleh Cheong Sin, menjadi tanggung jawab detektif Pyo. Masalahnya, bukan hanya detektif Pyo yang ingin menangani kasus tersebut, tapi juga detektif Kim Jeong Yeong. Hubungan keduanya tidak baik. Jeong Yeong protes karna kasus di tutup tanpa penyelidikan lebih lanjut. Dia tidak percaya kalau pria itu bunuh diri. Kalau bunuh diri, kenapa begitu banyak bukti yang tersisa? (yang di angkut anggota detektif Pyo).


“Kau ingin mengumpulkan semua bukti itu? Atau mau menghancurkannya?” tanya Jeong Yeong, sarkastik.

Detektif Pyo beneran kesal dan ingn menghajarnya jika anggotanya tidak menahannya. Semua anggota det. Pyo tidak ada yang menyukai Jeong Yeong. Mereka memperingati Jeong Yeong untuk tidak ikut campur dalam kasus mereka. Mereka juga menyebutnya pencuri perhatian.



Mau apapun yang mereka katakan, Jeong Yeong tetap masuk ke gedung TKP walaupun semua barang bukti sudah di ambil det. Pyo. Ketika melihat sekeliling, dia melihat ada sebuah foto tertinggal di lantai. Di foto itu, si korban berfoto dengan seorang pasien anak perempuan.

--



Walikota Shin Myeong Hwi melewati sebuah kain yang di bentangkan di pinggir jalan, di depan gedung balai kota. Di kain itu bertuliskan : “KOTA JUNGJIN MEMBUNUH PUTRIKU.” Tapi, tidak ada orang yang berdiri di belakang kain itu.


tn. Shin menghela nafas panjang. Dia menanyakan pada asistennya, Jang Hye Kyeong, mengenai orang yang sering protes dengan kain yang di bentangkan tadi. Nn. Jang memberitahu kalau orang itu adalah CEO Kwon Jin Seung dari Cinta Jungjin. CEO Kwon bunuh diri karna kondisi mentalnya tidak stabil.

(CEO Kwon Jin Seung adalah korban yang di bunuh Cheong Sin).

Nn. Jang menyuruh tn. Shin untuk tidak usah mempedulikan masalah itu karna dia sudah memastikan masalah bunuh dirinya terbungkus rapi dan tidak akan mempengaruhi bisnis mereka. tn. Shin masih cemas.


Dan begitu turun dari mobil, Nn. Jang memberikan perintah pada para security untuk membersihkan semua atribut yang CEO Kwon pakai untuk berdemo biasanya yang masih ada di pinggir jalan.


Bukan hanya itu, Nn. Jang juga menghancurkan dokumen yang berisi laporan “Tingkat Radioaktif di Kota Junjin” yang di keluarkan oleh Cinta Jungjin.

--


So Mun melaporkan mengenai Ung Min yang di tindas kepada guru. Begitu selesai menemui guru, Ung Min menemui So Mun dengan marah. Dia marah karna So Mun ikut campur dan tidak pergi ketika dia menyuruhnya. Kenapa So Mun membuat semuanya menjadi rumit?




Bukan hanya Ung Min yang marah, tapi juga So Mun. Dia marah karna mereka menyembunyikan masalah ini darinya. Mereka mulai saling berdebat.

Ung Min tidak mau So Mun ikut campur karna menurutnya, di pukul berdua atau satu, rasanya sama saja.


“Sakit karena dipukul adalah hal kecil. Aku takut. Aku takut dipukul. Aku ketakutan saat dipukul dan tidak… bahkan setelah dipukul. Tapi yang lebih menakutkan adalah saat mereka memukulimu juga. Itu yang paling kutakuti!” jujur Ung Min. Dia tidak ingin So Mun juga di pukuli.

“Sejak kapan? Sejak kapan mereka lakukan ini padamu?” tanya So Mun, sedih melihat luka di wajah Ung Min.

“Beberapa waktu lalu.”



So Mun sangat marah pada dirinya sendiri karna tidak tahu apapun dan selalu dilindungi sama Ung Min dengan Ju Yeon. Dia merasa malu. Dia butuh waktu sendiri karna itu dia ingin pulang sendiri. Ju Yeon tidak mengizinkan dan khawatir kalau Hyeok U dan gangnya akan mencegat So Mun di jalan. Tapi, So Mun tidak mengindahkannya.



Saat So Mun sudah pergi, Ju Yeon menanyakan apa yang guru katakan mengenai penindasan yang Ung Min terima. Ung Min menjawab kalau guru akan membantunya berdamai dengan mereka. Ju Yeon emosi mendengarnya karna harusnya para penindas itu di hukum. Ung Min berujar kalau hal itu mustahil karna salah satu penindasnya adalah Hyeok U, putranya walikota. Yang ada, dia yang di pindahkan sekolah.

Ju Yeon sangat marah. Hyeok U sudah punya segalanya, tapi kenapa malah menindas anak lainnya!

--


Apa yang Ju Yeon takutkan terjadi. So Mun di cegat saat pulang sama gang Hyeok U. Mereka merebut tongkat So Mun dan mempermainkannya. Hyeok U bahkan bersikap keterlaluan dengan menginjak kaki So Mun yang pincang dan mengejeknya karna ikut campur tadi. Geun Yeong yang merebut tas So Mun, menemukan sebuah walkman jadul di dalam tas So Mun.





So Mun menjadi marah dan berteriak menyuruh mereka untuk tidak memegang walkman-nya. Dengan terpincang-pincang, So Mun berusaha merebutnya. Tapi, Hyeok U malah memperingatinya untuk tidak melihatnya dengan tatapan mata seperti itu atau dia akan membunuh So Mun. Karna dia sadar kalau walkman itu sangat berharga bagi So Mun, dia pun mau membanting walkman itu ke tanah.


Beruntungnya, Ha Na tiba dan menolongnya. Dia meminting tangan Hyeok U, merebut walkman dan mendorong Hyeok U. Dia menanyakan nama So Mun dan saat melihat tag name di baju So Mun, dia nggak jadi nanya. So Mun ternyata masih mengingat Ha Na sebagai wanita cantik yang dilihatnya di kedai mie Eonni.



Ha Na mengambilkan tas So Mun dan menyuruhnya ikut dengannya. Dia juga mau mengambil tongkat So Mun, tapi Cheon Jung malah menginjak tongkat itu. Mau tidak mau, Ha Na pun menghajar mereka semua. Ha Na juga sempat memegang leher Hyeok U.



“Lagakmu seperti raja di sekolah, padahal tak ada yang menganggapmu manusia di rumah,” ujar Ha Na setelah memegang leher Hyeok U.


Ketiga pria itu menjerit kesakitan. Memalukan! Padahal mereka berlagak kuat dan menindas anak-anak lemah, tapi malah kalah oleh seorang wanita.

--



Ha Na membawa So Mun ke kedai mie Eonni dengan naik taksi. Di dalam taksi, So Mun bertanya untuk memastikan. Dia menanyakan kalau Ha Na adalah wanita pekerja di kedai mi, bukan? Ha Na membenarkan. So Mun nanya lagi, Ha Na mau membawanya kemana sekarang?

“Ke dunia lain,” jawab Ha Na.

“Hah?!” kaget So Mun.

“Mimpimu aneh, bukan? Terasa seperti mimpi, tapi bukan, tapi tetap terasa seperti mimpi. Kau bertemu wanita berambut perak. Dia Wi-gen.”

“Bagaimana kau tahu?”



Ha Na menunjukkan telapak tangannya. Di telapak tangannya juga ada titik-titik di setiap ujung jari dan sebuah titik di tengah telapak tangan, sama seperti yang So Mun milik. “Itu dunia lain,” beritahunya.



Supir taxi yang mendengarkan daritadi perkataan Ha Na, tentu bingung dan takut. Ha Na yang tahu kalau supir taxi mendengarkan, bersikap ramah dan berujar kalau semua ucapannya tadi hanyalah bercanda dan dia bukanah orang aneh.

--


Mereka akhirnya tiba di kedai mie Eonni. Saat masuk, di dalam sudah ada Mae Ok dan Cheol Jung yang sedang membersihkan ikan asin. Mo Tak beneran kaget saat tahu Wi Gen ternyata merasuki seorang siswa SMA dan siswa itu pincang.


So Mun beneran bingung karna tidak ada yang menjelaskan apapun padanya. Ha Na juga hanya membawanya ke sana. Dengan ramah, Mae Ok menyuruh So Mun untuk duduk dulu. Suasana beneran canggung karna Mae Ok bingung harus menjelaskan darimana mengenai diri mereka.



Setelah diam beberapa saat, Mae Ok akhirnya berujar kalau mereka adalah kelompok pengurus alam baka. So Mun diam dan memperhatikan sekeliling dengan bingung karna yang dilihatnya, semua hanyalah manusia biasa. Mae Ok menjelaskan lebih lanjut kalau mereka bisa disebut sebagai malaikat maut. Dan So Mun akan menjadi anggota baru mereka.

“Hah?!” seru So Mun, kaget + bingung.

Mae Ok berusaha menjelaskan tapi dia hanya bilang mengenai arwah yang kabur dan harus di tangkap. Tentu saja, So Mun bingung dengan apa yang Mae Ok bicarakan. Apalagi, Mo Tak meragukan kemampuan So Mun karna So Mun terlihat sangat lemah.


Eh, tapi entah kenapa, dia merasa wajah So Mun terlihat familier. Dia menatap So Mun dan bertanya, apakah So Mun mengenalnya? So Mun sedikit takut dan menjawab tidak. Mae Ok menegur Mo Tak agar tidak menakui So Mun. So Mun meminta mereka untuk tidak bertengkar. Tujuannya datang karna tanda di telapak tangannya dan Ha Na bilang kalau mereka akan memberitahunya arti tanda itu.

“Tanda ini adalah pintu menuju alam baka,” ujar Mae Ok.


So Mun kaget. Mae Ok dan Mo Tak menunjukkan telapak tangan mereka dan mereka juga mempunyai tanda yang sama. Mae Ok menyuruh So Mun untuk pergi ke alam baka sekarang. So Mun makin kaget dan bingung. Mae Ok tidak menjelaskan lebih lanjut dan hanya meraih tangan So Mun dan meletakkan telapak tangan So Mun di dada So Mun sebelah kanan. Dia menyuruh So Mun memenjamkan mata dan bertahan lebih dari tiga detik.

“Tidak. Bukan begitu. Aku datang…,” ujar So Mun, panik. Pasti dia merasa kalau mereka adalah sekumpulan orang aneh.


“Ssttt. Ayolah,” pinta Mae Ok.

“Ini mungkin terdengar gila, tapi cobalah. Tidak ada ruginya,” ujar Ha Na.


So Mun akhirnya mau melakukannya. Sebelum So Mun memenjamkan mata, Mae Ok berjanji akan menyembuhkan kaki So Mun jika So Mun mau bergabung dengan mereka.

So Mun sangat-sangat bingung. Walau begitu, dia melakukan seperti apa yang mereka katakan. Dia meletakkan telapak tangannya yang memiliki tanda di dada kanannya, kemudian memenjamkan mata dan menghitung sampai 3.


Pada detik ketiga, So Mun sudah memasuki alam lain. Dia masuk ke alam baka. Dan kali ini, dia melihat Wi Gen dengan jelas.


“Ini adalah alam baka?”

“Ini adalah batas antara alam baka dan hidupmu, yang disebut Yung. Tempat di mana yang hidup dan mati dapat bertemu,” jelas Wi Gen.

“Tidak terlalu berbeda dari duniaku.”

“Saat seseorang dari dunia mengunjungi Yung, orang tersebut akan melihat tempat ini sebagai tempat tersembunyi di alam bawah sadar mereka. Seperti mimpi.”

“Kalau begitu, kau orang yang sudah meninggal?”

“Apa terdengar aneh?”


“Ya, terlebih lagi karena kau tak tampak seperti orang mati. Kehidupan di sini tak banyak berbeda. Ada orang baik, ada pula orang jahat. Satu-satunya perbedaan di sini adalah yang baik dihargai, dan yang jahat mendapat ganjaran untuk kejahatannya.”

“Perbedaan yang signifikan.”


Wi Gen kemudian mengajak So Mun untuk ikut dengannya ke tempat lain. Sebelum mengikutinya, So Mun menanyakan, apakah di tempat ini dia bisa bertemu dengan ayah dan ibunya? Kedua orangtuanya sudah meninggal. Wi Gen meminta maaf karna hal itu tidak bisa dilakukan.


So Mun tidak bertanya lagi dan mengikuti Wi Gen. Dengan kekuatan Wi Gen, sebauh pintu putih muncul di hadapan mereka. Begitu pintunya di buka, mereka sudah berpindah ke sebuah gang yang gelap dan sepi. So Mun merasa takjub apalagi setelah mereka keluar dari pintu tersebut, pintu langsung tertutup dan lenyap begitu saja.



Wi Gen menjelaskan kalau tugas So Mun adalah menangkap roh jahat. Hanya ada satu cara bagi roh jahat untuk datang ke dunia dan hidup bersama manusia. Mereka harus merasuki manusia dan tinggal di dalamnya. So Mun menyimpulkan kalau roh jahat dapat hidup jika menemukan inang mereka, yaitu manusia.

“Roh jahat dapat hidup asalkan mereka diberi makan oleh inang mereka.”

“Diberi makan oleh inang mereka?”


“Pembunuhan. Saat si inang membunuh seseorang, mereka memangsa jiwa si korban. Itu berarti mereka harus pandai memilih inang. Yaitu seseorang yang pernah membunuh atau yang memiliki hasrat kuat untuk membunuh,” jelas Wi Gen. “Roh jahat mengawasi orang-orang yang menyukai kekerasan seperti mereka.”

Saat itu, di hadapan mereka, terlihat pasangan yang sedang bertengkar. Si pria memperlakukan si wanita dengan kasar dan memaksa ingin melihat ponselnya. Si wanita tidak mau memberikannya dan meminta si pria berhenti. Si pria sangat marah dan meraih batu yang ada di pinggir jalan dan hendak memukulkannya kepada si wanita.



Melihat hal itu, So Mun refleks berlari (di dalam alam baka, kaki So Mun tidak pincang) dan berusaha menghentikan pria tersebut. Tapi, waktu tiba-tiba berhenti seperti membeku. So Mun juga tidak bisa memegang tubuh pria itu. Tangannya menembus.

Wi Gen menjelaskan padanya, kalau yang sekarang So Mun lihat adalah kejadian masa lalu yang direkam oleh daerah ini. Ini adalah sejarah.


Dengan sentuhan jari dari Wi Gen, waktu kembali berjalan. Di depan matanya, So Mun menyaksikan pembunuhan. Dan si pembunuh bukannya merasa ketakutan atas perbuatannya, tapi malah tertawa.

“Roh jahat merasuki manusia yang dipenuhi oleh hasrat akan kekerasan dan memicu mereka untuk membunuh. Makin sering si inang membunuh, makin kuat roh itu. Pada akhirnya, dia akan mengambil alih tubuh si inang. Setelah itu, dia mulai membunuh sesuka hatinya,” jelas Wi Gen.

Setelah si wanita tewas, si pria yang sudah di rasuki oleh roh jahat, menghisap roh si wanita. Matanya memerah dan tertawa bahagia karna mendapatkan kekuatan.

So Mun sangat terkejut melihat hal yang terjadi di depan matanya. Dia merasa ragu akan bisa melakukan tugas menangkap roh jahat.


“Kau harus berusaha. Kami memberikanmu kekuatan luar biasa yang tak dimiliki orang lain, tapi kau dapat terbunuh di tengah misi, dan kesakitan sepanjang waktu. Pada hari Minggu, di tempat yang tak jauh dari posisimu saat itu, partnerku tewas.”

“Jadi, aku bisa mati saat bertugas?” tanya So Mun, serius.



“Aku tak memaksamu untuk bergabung.”

“Jadi, aku punya pilihan untuk menolak?”



Saat kembali ke dunia nyata, So Mun memberitahu pada Mae Ok dan yang lain kala dia tidak mau bergabung. Mae Ok protes karna So Mun nggak mau gabung. Tapi Ha Na bisa mengerti kalau So Mun menolak.

“Aku mengerti. Maksudku, kita bisa tetap hidup karna dia datangi kita dalam kondisi koma. Tapi, dia tidak dapat apapun,” ujar Ha Na.


Mae Ok dan Mo Tak baru teringat hal itu. Saat Wi Gen merasuki So Mun, So Mun tidak dalam keadaan koma. Mo Tak  menanyakan pada So Mun, apa yang Wi Gen katakan saat So Mun menolak menjadi counter? So Mun menjawab kalau Wi Gen menyuruhnya mempertimbangkannya lagi dan dia akan menemuinya 1 bulan lagi.

Tapi, So Mun sudah memutuskan. Dia tidak bisa menjadi counter. Semua jadi penasaran dengan alasannya menolak.

“Kudengar, aku bisa mati saat bertugas,” jawab So Mun.

Mo Tak menggerutu kenapa pula Wi Gen harus memasuki tubuh So Mun. Ha Na lebih penasaran kenapa So Mun tidak mau mencobanya.


“Aku tak boleh mati sebelum kakek dan nenekku. Sama sekali. Aku tak akan melakukannya. Aku tak ingin melukai hati mereka lagi.”



Setelah mendengar jawaban itu, semua terdiam. Mereka tidak bisa memaksanya lagi. Sebelum pergi, So Mun bertanya, kalau dia mau mencoba mie mereka, dia harus datang jam berapa? Dia akan datang lagi.

Ha Na malah membahas kalau mereka harus menghapus ingatan So Mun karna So Mun tahu soal markas dan identitas mereka. Mae Ok langsung mencegah dan meminta Ha Na dengan Mo Tak memberikan waktu bagi So Mun. Wi Gen kan memberikan waktu 1 minggu bagi So Mun untuk memikirkan jawabannya.

“Baik. Aku tidak akan menceritakan ini pada siapapun. Jangan khawatir. Sampai jumpa,” pamit So Mun.


Setelah So Mun keluar pintu, Mo Tak mulai mengemukakan pendapatnya, apa mungkin So Mun sedang jual mahal? Semua jadi curiga.



So Mun baru pergi beberapa langkah, tapi dia sudah mendapat telepon dari Ung Min. Ung Min sedang di bully sama Hyeok U, Geun Yeong dan Cheon Jung. Dan mereka memaksa Ung Min untuk menelpon So Mun. Ung Min tidak mau melakukannya. Jadi, Cheon Jung merebut ponselnya dan memerintahkan So Mun untuk datang ke ruang olahraga sekolah sekarang juga! Jika So Mun melapor ke polisi, mereka akan menghabisi Ung Min. Hyeok U juga memberitahu agar So Mun membawa wanita yang bersamanya tadi.


So Mun tanpa berpikir dua kali, segera bergegas kembali ke sekolah. Mae Ok dan Mo Tak kaget karna So Mun mendadak berputar arah dan berjalan terburu-buru. Ha Na yang mempunyai pendengaran tajam dan mendengar apa yang dibicarakan So Mun di telepon, memberitahu Mae Ok dan Mo Tak kalau So Mun pergi untuk di pukuli lagi.

--


Ung Min benar-benar babak belur di hajar Hyeok U and the gang. So Mun yang baru tiba, berteriak marah. Tapi, mereka bertiga lebih galak lagi karna So Mun datang sendirian. Walau sudah babak belur, Ung Min menyuruh So Mun untuk tidak mendekat. So Mun tidak bisa dan tetap mendekat untuk menolong Ung Min.


Dia meminta maaf karna sudah salah. Jadi, tolong lepaskan Ung Min. Dia juga minta maaf untuk pukulan wanita tadi. Jika mereka terluka, dia akan membiayai pengobatannya. Dia benar-benar minta maaf.


Hyeok U tidak suka mendengarnya. Dia mulai menghajar So Mun dan memaksanya untuk memberitahu siapa wanita tadi. So Mun tetap mengunci rapat mulutnya, tidak mau memberitahu. Ung Min sangat panik dan menahan kaki Hyeok U untuk tidak memukuli So Mun lagi. Dia juga berteriak menyuruh So Mun memberitahu siapa wanita yang Hyeok U tanyakan, jika tidak So Mun bisa mati di pukuli Hyeok U.

Cheon Jung dan Geun Yeong memukuli Ung Min lagi. Hyeok U mendekat dan melayangkan tinjunya ke wajah So Mun.



Jlab!!! So Mun berhasil menahan tinju Hyeok U. Hyeok U juga tampak kesakitan karna tangannya di cengkeram sangat kuat sama So Mun. Antek-anteknya dan Ung Min tampak terkejut.


“Sudah kubayar kau dengan harga penuh! Brengsek!!’ ujar So Mun, penuh kemarahan.

 

 

Post a Comment

Previous Post Next Post