Sinopsis Lakorn- Fah Mee Tawan Episode 4/3

 


Original Network : Channel 7

Mee serta Ting dengan bersemangat bergosip dan menceritakan tentang apa yang mereka lihat didalam lift, mereka bahkan juga sedikit menambah- nambahkan imajinasi mereka ke dalamnya. Mereka yakin kalau Nai dan Paul berciuman didalam lift. Dan Nai pasti sudah jatuh ke dalam pesona Paul.

“Jaga mulutmu P’Mee! Aku tidak percaya. Dan tidak akan percaya. Khun Nai tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, khususnya dengan Paul,” kata Patcharee.



Tepat disaat itu, Dan datang. “Ada apa dengan Nai dan Paul?” tanyanya penasaran. Dengan ngeri, semuanya langsung berhenti bergosip serta lanjut bekerja. Kemudian Dan pun mendekati Patcharee serta menanyai nya.

“Uh… setelah kerjasama dengan Amat, Khun Nai tidak terlalu ingin bekerja dengan Paul begitu banyak,” kata Patcharee, menjelaskan dengan gugup.

“Bukankan itu bagus? Nai begitu berbakat. Dia tidak membutuhkan pecundang seperti Paul untuk membantunya,” komentar Dan. Mendengar itu, Patcharee hanya tersenyum.


Net datang. “Tapi barusan aku melihat Paul dan Nai pergi bersama. Jika dia tidak ingin bekerja dengannya, dia tidak akan dekat dengannya seperti ini.”

Mendengar itu, Dan merasa cemburu.


Melihat Dan cemburu, Net merasa puas. Lalu dia memberikan nasihat kepada Dan untuk berhati- hati dan awasi Nai dengan baik, jangan sampai Nai direbut pria lain.

Mendengar itu, para karyawan mulai bergosip dengan pelan. Dan dengan gugup, Patcharee merasa ingin menghindar. Tapi sayangnya, tidak bisa.

Ketika Dan sudah pergi, Net mendekati Patcharee. “Kemana Paul dan Nainapha pergi?” tanyanya.

“Ng… mereka pergi ke… rumah produksi. Tapi ini demi pekerjaan,” jawab Patcharee dengan suara pelan.


Paramee memuji Nai dan membanggakan Nai dihadapan rekannya. Dan Singkorn yang mengikuti dibelakang merasa sangat tidak senang.


Dirumah poduksi. Ketika Ketua Produksi memuji design Nai serta menyebut Nai berbakat. Dengan jujur, Nai memberitahu bahwa design itu adalah milik Paul.


“Kamu tidak perlu memberitahu dia bahwa itu design ku,” komentar Paul, ketika mereka akan pulang.

“Aku ingin jujur. Karena aku tidak ingin orang berpikir bahwa itu adalah pencapaianku,” balas Nai.

“Aku akan jujur juga. Aku tidak peduli bila orang- orang tahu atau tidak. Karena aku sangat mengerti untuk apa aku bekerja disini,” balas Paul, bersikap rendah hati.

“Untuk uang?” tanya Nai dengan sinis.

“Siapa yang tidak mau uang?” balas Paul, bersikap acuh.


Kemudian disaat itu, Dan datang. Dia langsung mengajak Nai untuk ikut pergi dengannya. Namun Nai merasa agak ragu untuk meninggalkan Paul sendirian, karena barusan Paul yang menyentir kan mobilnya sampai ke sini.


“Pacarku ini selalu memperhatikan setiap detail kecil untuk setiap karyawan seperti sekarang ini. Jadi …” kata Dan dengan sikap sombong. Dia lalu mengambil uang dan memasukkan nya ke dalam saku baju Paul. “Ini harusnya cukup untuk ongkos kan,” katanya. Lalu dia menarik tangan Nai untuk segera pergi dengannya.



Nai merasa agak tidak senang dengan sikap Dan. Dia menasehati Dan untuk  belajar menghormati orang lain. Tapi Dan tidak mau, karena menurutnya Paul hanyalah gigolo yang menempeli Net. Juga dia yakin kalau sekarang Paul pasti juga ingin menempeli Nai.

“Kami hanya bekerja, Dan,” jelas Nai.


“Aku tahu. Karena itu aku ingin membuat dia sadar akan statusnya. Jadi dia tidak berpikir kamu mudah di dekati …” balas Dan.

“Hentikan Dan!” tegas Nai, kesal.

“Aku minta maaf ya, Nai. Aku hanya tidak ingin kamu bermasalah dengan Net. Karena barusan aku melihat Khun Net tampak tidak senang, saat Khun Net melihatmu dan Paul bersama,” balas Dan, melembutkan sikapnya.


Dirumah. Net mencengkram tangan Nai dengan kasar. Dan Net mengeluh sakit. Tapi Net tidak peduli dan tetap mencengkram tangannya dengan kuat.



Paramee kemudian datang. “Ada apa?” tanyanya.

“Tidak ada, Ayah. Aku sedang berbicara kepada Khun Net tentang diamond yang aku cek hari ini,” jawab Nai, tidak berani jujur.

“Aku sedang mendiskusikan pekerjaan dengannya,” jawab Net sambil tersenyum. Lalu dengan lembut, dia menyuruh Nai untuk beristirahat.


Ketika Nai telah pergi, Paramee menasehati Net. “Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, tapi aku beritahu kamu. Didalam matamu, kamu mungkin berpikir bahwa Nai adalah putri yang paling aku sayangi. Tapi dimata Nai, kamu adalah orang yang paling disayangin,”’ jelasnya.

Mendengar itu, Net sama sekali tidak merasa puas ataupun senang.

Paramee mendekati Nai. Dan Nai pun langsung menlap air matanya. Lalu dia berbalik menghadap Paramee.

“Jika Net mengatakan sesuatu yang buruk atau melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, kamu bisa beritahu aku,” kata Paramee, tulus.



“Aku baik- baik saja. Tidak pedli apa yang dia katakan atau lakukan, itu haknya. Hidupku sudah menjadi milik nya sejak kecelakaan itu. Aku tidak akan pernah melupakan itu,” balas Nai, bersungguh- sungguh.


Flash back end

Karena Net tidak berhati- hati saat menyetir, kecelakaan pun terjadi. Disaat itu, Paramee menyelamatkan Nai yang berada didalam mobil yang tertabrak. Lalu dia memberikan Nai kepada Net. Kemudian dia lanjut untuk menyelamatkan kedua orang tua Nai yang masih berada didalam mobil.


Ketika Nai tersadar, orang pertama yang dilihatnya adalah Net.


Paramee tidak berhasil menyelamatkan kedua orang tua Nai, karena disaat itu mobil kedua orang tua Nai sudah akan meledak. Jadi diapun menarik Net untuk segera menjauh dari mobil tersebut.

Flash back end


Mengingat kejadian itu, Paramee terdiam. Dia tidak berani memberitahukan kebenaran yang terjadi kepada Nai.

Singkorn ingin pergi ke kantor Net dan menemui Net.



Paul datang ke kantor Net. Dan dengan sikap cemburu, Net membahas tentang apa yang dilihatnya kemarin, dia ingin tahu apakah Paul dan Nai pergi bersama adalah benar- benar karena pekerjaan. Mendengar itu, Paul memegang tangan Nai dengan lembut.

“Jika aku mengatakan bahwa aku melakukan ini untukmu juga, akankah kamu mempercayaiku?” tanya Paul. “Jadi kamu bisa bangga padaku, dan tidak merasa membuat keputusan yang salah karena sudah memperkerjakan ku disini,” jelasnya.


Tepat disaat, Net ingin bermesraan dengan Paul, disaat itu Singkorn datang. Tapi Net tidak peduli dengannya dan mengajak Paul untuk makan bersama.


Singkorn benar- benar kesal kepada Paul. Lalu ketika dia mendapatkan surat dari Amat, dan membaca isi suratnya, dia mendapatkan ide.

“Apa ada orang yang sudah membaca email ini?” tanya Singkorn kepada sekretarisnya.

“Belum.”

Paul berpapasan dengan Singkorn dan Paramee. Melihat mereka berdua, dia berniat untuk berjalan pergi begitu saja serta mengabaikan mereka berdua. Tapi Paramee malah memanggilnya. Jadi diapun berhenti berjalan.


“Ketika Nai bekerja disini, dia selalu mengikuti perintahku. Singkorn juga. Orang yang memiliki bakat dan tekad suatu hari akan menjadi orang yang membuat keputusan, dan menugaskan kerjaan untuk orang lain,” kata Paramee sambil tersenyum dan memegang bahunya dengan sikap akrab.

“Aku tidak akan bermimpi sejauh itu. Selama tidak seorang pun mengambil apapun dari hidupku, itu sudah cukup,” balas Paul, menahan rasa kesalnya didalam hati.

“Kamu berbicara seperti Khun Paramee mencuri pekerjaan mu untuk diberikan kepada putrinya,” kata Singkorn dengan sengaja menambahkan garam ke luka Paul.



“Aku tidak berpikiran kecil,” balas Paul sambil tersenyum acuh. “Dalam hidupku, aku telah kehilangan sesuatu yang lebih besar dari itu,” jelasnya sambil menatap Paramee. “Aku harap kamu tidak berpikir aku berbicara seperti apa yang Singkorn pikirkan,” tambahnya sambil tersenyum.

“Aku mengerti. Karena aku juga telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku juga,” balas Paramee dengan lembut.

Paramee kemudian mengambil cek dari Singkorn dan memberikannya kepada Paul. Melihat cek tersebut, Paul teringat akan kenangan menyakitkannya. Ketika Paramee menolak untuk melihat Ibunya yang sakit, dan hanya memberikan cek kepadanya, lalu menyuruhnya untuk pergi.

“Terima kasih. Aku tidak bisa menerimanya. Lagian ini tugasku,” kata Paul, menolak. Lalu dia berjalan pergi dengan perasaan terluka.


Didalam kamar mandi. Paul mencuci wajahnya. Lalu dia menatap ke arah cermin. Dan kedua tangannya mencengkram ujung wastafel dengan erat.


Patcharee datang menemui Dr. Kashane dan membawakannya kue serta apel. Dan Dr. Kashane tidak berani memakannya, karena dia curiga dengan kebaikan Patcharee yang begitu tiba- tiba.

“Aku… aku datang untuk menagih janji mu yang terakhir kali,” kata Patcharee, mengakui secara jujur tujuan kedatangannya.

“Kamu benar- benar ingin tahu tentang Paul?” tanya Dr. Kashane sambil menghela nafas capek. “Oh, kamu menyukai dia? Itu mengapa kamu mengejarku?” tuduhnya.


“Apa kamu gila?! Aku tidak akan pernah menyukai pria dengan begitu banyak rahasia seperti itu!” tegas Patcharee.

“Berarti kamu tidak mempercayai dia,” kata Dr. Kashane dengan yakin.

Dengan gugup, Patcharee berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat. Lalu kemudian dia menjelaskan bahwa dia hanya ingin lebih tahu saja mengenai latar belakang Paul sebagai sesama rekan kerja diperusahaan yang sama. Dan Dr. Kashane menolak untuk memberitahu. Lalu dia ingin memakan kue yang Patcharee bawakan. Tapi Patcharee langsung menghentikannya.


“Jika kamu tidak tahu, maka jangan makan!” tegas Patcharee sambil menyimpan semua makanan yang ditaruhnya dimeja. Lalu diapun pergi.

Dengan kesal, Dr. Kashane mengambek dan menghela nafas keras. “Paul. Apa kamu tahu kalau ada banyak orang yang ingin tahu tentang mu?” gumamnya, mengkhawatirkan Paul.


Dan datang ke kantor dan mengajak Nai untuk berkencan serta bersantai seharian. Tapi Nai menolak, karena dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan nanti. Lalu ketika Dan mengambek, dia menasehati Dan untuk berhenti bersikap kekanak- kanakan dan coba mengerti dirinya. Mendengar itu, Dan merasa agak kesal.

Kemudian pintu lift terbuka, dan Paul berjalan keluar dari dalam lift sambil tersenyum. Melihat itu, Dan semakin merasa tidak senang. Dia menarik tangan Nai dan mengajaknya untuk segera pergi bersama.

“Dan. Aku lupa sesuatu. Tunggu aku dimobil ya,” pinta Nai. Lalu dia melepaskan tangannya dari pegangan Dan.



Nai mengejar Paul dan memanggilnya. Dia ingin tahu, apa yang Paul dan Paramee bicarakan barusan. Karena dia khawatir Paul bermasalah dengan Paramee. Mendengar itu, Paul tersenyum dan menyuruh Nai untuk tidak perlu khawatir, karena dia dan Paramee hanya membicarakan tentang pekerjaan saja. Lalu dia menyarankan Nai untuk lebih baik mengkhawatirkan diri sendiri.

Tepat disaat itu, Dan muncul. “Nai. Kamu bilang kamu lupa sesuatu. Kamu melupakan sesuatu dengan dia?!” tanyanya sambil mendorong Paul.

“Dan!” panggil Nai, menghentikan Dan.


“Dia tidak melupakan apapun denganku. Tapi itu kamu yang melupakan sesuatu denganku,” balas Paul. Lalu dia mengambil selembar uang dan memasukkan nya ke dalam saku Dan. “Aku tidak menggunakannya, jadi aku kembalikan.”

Dengan kesal, Dan menarik kerah Paul dan ingin memukulnya. Tapi Nai langsung menghentikannya. Sementara Paul hanya tersenyum saja.


Kemudian disaat itu, Mee dan Wit kebetulan lewat. Mereka berdua segera menarik Paul untuk pergi bersama mereka.


“Nai. Kamu berbohong kepadaku dan mengikuti dia ke sini?!” bentak Dan, marah dan cemburu.

“Aku mengikutinya untuk menanyai tentang dia dan Ayah. Dan aku juga sekalian akan pergi ke kantorku untuk mengambil sesuatu. Tapi kamu datang terlalu cepat,” balas Nai, menjelaskan.

“Aku akan mempercayaimu. Tapi apa kamu lihat apa yang dia lakukan kepadaku?! Jika dia memprovokasiku lagi, jangan marahi aku!” tegas Dan. Lalu dia berjalan pergi.

Melihat sikap kekanak- kanakan Dan, Nai merasa agak capek dan menghela nafas serta memutar matanya.

Patcharee mengirimkan pesan permintaan maaf kepada Dr. Kashane. Tapi Dr. Kashane tidak mau peduli. Lalu dia mulai bertanya- tanya, kenapa Patcharee berpikir Paul ada menyembunyikan sesuatu.



Dr. Kashane kemudian menggeledah isi kamar Paul untuk mencari tahu. Dan didalam kamar dia menemukan begitu banyak barang- barang bermerk.

“Apa yang kamu lakukan di dalam kamarku?” tanya Paul sambil bersandar dengan santai di pintu.

“Mencari tahu kebenaran,” jawab Dr. Kashane tanpa sadar. Lalu dia terkejut sendiri dan secara diam- diam dia mengembalikan barang yang dipegangnya ke dalam laci sambil tersenyum.


“Sekarang kamu pasti sudah tumbuh besar sekitaran umur Paul,” gumam Paramee sambil menatap foto Paul sewaktu kecil.

Ketika Net datang. Paramee langsung menyembunyikan foto tersebut ke dalam buku catatan nya.



Net protes, kenapa Paramee belum bersiap, kepadahal Paramee berjanji akan menemaninya ke rumah Madam Kanlaya. Mendengar itu, Paramee menyuruh Net untuk pergi saja sendiri, karena dia punya pekerjaan penting yang harus diselesaikan.

“Sendiri? Apa kamu tidak berpikir apa yang akan orang- orang disana pikirkan tentang ku? Kamu sudah lama belum menghadiri pesta bersama ku,” keluh Net, kesal.

“Kamu ingin aku menghadiri pesta dengan mu karena kamu takut digosipi?” balas Paramee sambil mendengus geli. “Menurutku masalah kecil ini tidak akan berdampak padamu,” ejeknya.


Paul mengintrogasi Dr. Kashane. Dan Dr. Kashane beralasan bahwa dia ada melihat tikus didalam kamar Paul, jadi dia ingin menangkapnya untuk Paul. Tikusnya sangat besar. Warnanya coklat. Namanya Mary.

“Menggelikan,” gumam Paul sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.


Kemudian disaat itu, Net menelpon. Dan Paul langsung menjawabnya. Dengan penasaran, Dr. Kashane menatap Paul.


Singkorn menelpon Net. Tapi Net langsung mematikannya.


Dr. Kashane merasa khawatir dan curiga kepada Paul. Jadi dia menanyai, siapa yang ingin Paul temui. Tapi Paul tidak mau memberitahu dan malahan balas bertanya, apakah Dr. Kashane adalah Ibunya.

“Jika aku Ibumu, aku akan mengambil sapu lidi diluar dan memukulimu!” omel Dr. Kashane. “Paul. Sejak aku bertemu denganmu, kamu bukanlah seseorang yang berbelanja secara royal.”


“Kamu masuk ke kamar ku karena ini?” tanya Paul.

“Iya,” jawab Dr. Kashane dengan jujur. “Aku ingin tahu jika rumor di Crown Diamond itu benar atau tidak. Ketika aku masuk ke kamar mu dan melihat semua barang- barang mewah tersebut, aku jadi percaya bahwa semuanya itu benar. Ketika kamu dipukuli, itu bukan karena kerjaan kan. Paul, jangan jual dirimu. Jika masalah keuangan…”

“Kamu akan meminjami ku uang?” sela Paul, bertanya.


“Aku sedang sulit juga,” jawab Dr. Kashane dengan agak malu- malu. “Tapi kita teman. Kita bisa saling membantu,” jelasnya.

“Aku tidak punya masalah keuangan,” balas Paul, menegaskan dengan jelas. “Aku akan memberitahumu ketika waktunya tiba,” tegasnya. Lalu dia mengabaikan Dr. Kashane.

Singkorn sedang memarahi sekretarisnya. Kemudian Nai dan Paul datang ke kantornya.


“Apakah kamu ada melihat pemberitahuan tentang tanggal nya di majukan?” tanya Singkorn. Dan Nai mengiyakan, juga itulah tujuan kedatangannya. “Sebenarnya ini salah sekretarisku. Email sudah lama masuk, tapi aku tidak tahu kemana email itu pergi. Hari ini kita ada menerima notifikasi yang lain,” jelas Singkorn, menyalahkan sekretarisnya.

“Tapi biasanya email itu dikirimkan ke pusat. Itu tidak akan menghilang semudah itu. Itu tidak akan terhapus dari sistem sebelum seseorang melihatnya,” balas Paul dengan yakin.

Mendengar itu, Singkorn menatap Paul dengan tidak senang. “Apa kamu ingin menfitnah seseorang?”


1 Comments

Previous Post Next Post