Monday, March 26, 2018

Sinopsis C-Drama : Die Now (Episode 1 : Menghilang) part 3

0 comments


Network: Sohu TV



Melihat Xia Chi yang meragukan diri sendiri, membuat Meng Qin tertawa girang karena berhasil mengerjai nya.

“Aku hanya bercandalah. Kau begitu imut, saat kau tak bisa berkata-kata,” aku Meng Qin sambil memegangin pipi Xia Chi dengan gemas.




Dan menyadari hal itu, Xia Chi pun menjadi kesal dan melepaskan tangan Meng Qin dari pipinya. Lalu dengan serius, Meng Qin menyebutkan bahwa ia memilki bukti bahwa Qing Zhi itu nyata.




Kembali keasrama. Meng Qin membuka rekaman syuting mereka dan memperlihatkan itu kepada Xia Chi. Tapi alangkah kagetnya, saat ternyata wanita yang berada dalam rekaman itu bukanlah Qing Zhi.

“Shu Shi Yan? Mustahil. Ini tidak mungkin! Kita sudah mengenal Qing Zhi sejak lama. Bagaimana mungkin dia tidak nyata?” kata Meng Qin, tidak percaya.




“Kau bilang ini bukti kuat. Jadi berkencan dengannya, menyatakan cinta padanya. Itu semua hanya delusiku?” kata Xia Chi dengan tidak percaya juga. Dan pada saat itu sebuah koin terjatuh dari sakunya.


Melihat koin tersebut, Xia Chi menjadi teringat. Dulu Qing Zhi pernah memberikan hadiah kepadanya, yaitu koin tersebut.




“Ini koin untuk membuat permohonan. Ada dua. Aku sudah simpan yang satunya di sumur permohonan. Katanya, kalau kau menyimpannya, kau akan selalu mendapat nasib baik. Sampai permohonanmu dikabulkan,” jelas Qing Zhi.

Mendengar itu Xia Chi mengembalikan koin itu dan meminta agar Qing Zhi saja yang menyimpannya, tapi Qing Zhi menolak. Karena permohonanya telah terkabul.

“Permohonan apa?” tanya Xia Chi penasaran.

“Rahasia,” balas Qing Zhi.




Setelah mengingat semua itu, Xia Chi dengan yakin berkata pada Meng Qin bahwa mereka tidak sedang berdelusi. Karena Qing Zhi itu nyata. Dan sambil memutar koin itu ditangannya, Xia Chi mendapatkan ide.



“Ji Lu. Qing Zhi mengatakan lewat telpon, kalau dia menerima surat dari Ji Lu. Aku tanya, apakah kasus Ji Lu itu kisah nyata?” tanya Xia Chi langsung.

“Tentu saja. Aku melihat sendiri dalam berkas pamanku,” jawab Meng Qin dengan yakin.




Malam hari. Berdua, Xia Chi serta Meng Qin pergi menemui paman di kantor. Dan walaupun heran kenapa mereka tiba-tiba ingin melihat itu, tapi paman tetap mencarikan dan memberikannya pada mereka.



“Isi surat ini benar-benar sama dengan informasi yang kita punya. Kelihatannya kuncinya adalah kode angka ini. Dan dikartu ini. Tapi tidak ada nama dikartu ini,” jelas Xia Chi, membuat kesimpulan.

“Petunjuk utama kita sekarang hanyalah kode angka ini,” tambah Meng Qin.




Dengan lirikan mata saja, Meng Qin langsung mengerti maksud Xia Chi. Jadi sambil berpura-pura haus dan tidak tau arah, Meng Qin mengajak pamannya untuk pergi bersama.

Dan saat Meng Qin serta paman telah pergi keluar ruangan, maka dengan cepat Xia Chi memotret semua barang yang ada, satu persatu.



“Kalau kau datang kembali karena kejadian aneh ini, aku benaran akan memberitahu ayahmu,” ancam paman pada Meng Qing. Yang tentu saja dengan cepat Meng Qin berjanji bahwa ia tidak akan kembali lagi.






Tampaknya ada seseorang yang mengawasi mereka berdua, Xia Chi dan Meng Qin. Terlihat dari sebuah layar, Meng Qin berbicara sendiri serta membungkuk berkali-kali. Dan Xia Chi berdiri diam disebelahnya.

Sedangkan paman sama sekali tidak ada di dalam rekaman itu.




Setelah pergi dari gedung kantor pamannya, Meng Qin menjelaskan kepada Xia Chi. Yaitu bahwa selama ini belum ada satupun orang yang  berhasil memecahkan teka-teki itu, bahkan tim pamannya juga.



“Tak ada yang tak bisa kita pecahkan,” kata Xia Chi dengan tenang.

“Xia Chi adalah yang terbaik!” puji Meng Qing.




Dengan serius, Xia Chi memperhatikan surat serta kertas teka-teki yang difotonya tadi. Dan pada saat itu, ia menyadari bahwa dalam surat Ji Lu, ada tiga spasi sebelum setiap baris.

“Tiga spasi? Didepan setiap baris? Apa maksudnya?” tanya Meng Qin sambil ikut memperhatikan surat tersebut.




Xia Chi membuat kesimpulan jika setiap huruf pada surat berhubungan dengan teka-teki angka yang ada. Jadi angka tiga adalah kuncinya. Lalu Xia Chi mulai mengubah setiap huruf yang ada menjadi sebuah angka.



Pada saat itu, seperti sebuah layar besar. Angka itu muncul dan tampak timbul dihadapan mereka berdua. Sehingga Meng Qin menjadi kaget karena heran.

“Apa yang terjadi ini?” tanya Men Qin.




Sedangkan dengan masih tenang. Xia Chi menarik angka-angka yang banyak itu kebawah, sehingga tinggalah angka 162111220. Lalu Xia Chi mengubah angka-angka tersebut menjadi huruf alfabet. AFBAAABB0.

“Apa ini? Lebih buruk dari angka,” kata Meng Qin kebingungan.





Dengan lebih serius, Xia Chi kembali berpikir keras. Dan akhirnya ia mengerti, lalu dengan tenang ia mulai memisahkan setiap angka dari belakang menjadi dua tanggal. 1, 6, 2, 11, 12, 20. Sehingga terbentuklah huruf AFBKLT.

“Ah.. tidak bisa melepaskan.. dua hari?” kata Meng Qin tampak mulai mengerti sedikit.

“Ini pergeseran sandi Caesar,” jelas Xia Chi, singkat.




Setelah mengerti dengan maksud Xia Chi, maka Meng Qin mulai mengubah setiap huruf itu, sesuai dengan sandi caesar, yaitu memilih huruf dan memindahkannya tiga urutan dalam alfabet.

A adalah D. F adalah I. Dan seterusnya, sehingga akhirnya terbentuklah kata DIE NOW.




Ketika akhirnya mereka berdua telah berhasil memecahkan teka-teki, tiba-tiba saja dihadapan mereka muncul sebuah pintu yang tampak seperti lambang sesuatu.




Dan dengan agak ragu, Meng Qin memasukan satu tangannya. Lalu setelah itu ia menarik tangannya kembali dan menjadi terpukau,”Wah, Pintu kemana saja.”

“Bukan. Kupikir ini seperti lorong ruang-waktu. Mungkin Qing Zhi berada didalamnya,” kata Xia Chi, setelah itu dengan berani, ia masuk kedalam nya.





Dan melihat itu, maka Meng Qin mengikutinya masuk kedalam pintu itu juga. Pada saat itu, tampak ada sebuah kamera CCTV didekat tempat itu.

Dilayar, terlihat Meng Qin yang menghilang begitu saja ketika sedang berjalan. Dan pintu itu sama sekali tidak terlihat didalam kamera.




Ketika telah melewati pintu itu, dengan kebingungan Meng Qin bertanya-tanya dimana mereka sebenarnya saat ini. Dan bukannya menjawab, Xia Chi malah pergi meninggalkan Meng Qin.

Dan menyadari hal itu, Meng Qin segera mengikutinya.




Saat mereka berdua masuk kedalam sebuah bar. Disana ada seorang pelayan wanita yang menyapa mereka. Tapi tanpa berbasa-basi Xia Chi langsung menunjukan foto Qing Zhi di hpnya dan menanyakan apa pelayang tersebut pernah melihat gadis dihpnya.




“Apakah Anda memiliki kartu anggota?” tanya pelayan tersebut dengan sopan, tapi tegas.

“Tidak. Ini kali pertama kami ke sini,” jawab Xia Chi, jujur.

“Maaf, aku belum pernah melihat gadis ini,” balas pelayan itu.



“Hei, maksudmu kalau kami punya kartu anggota, maka kamu akan mengenali dia?” tanya Meng Qin, nampak heran.

“Aku tidak pernah berkata seperti itu,” balas pelayan, tenang.

“Kalau begitu bisakah kami membuat kartu anggota sekarang?” tanya Meng Qin lagi.

“Maaf, toko ini tidak punya kartu anggota,” balas pelayan tersebut.




Meng Qin menjadi emosi karena pelayan tersebut berbohong kepada mereka, padahal baru saja pelayan tersebut menanyai hal itu. Dan karena tidak mau mencari masalah, Xia Chi langsung menenangkan Meng Qin.

Setelah itu, pelayan tersebut memberikan buku menu pada mereka. Dan alangkah kagetnya Meng Qin saat melihat harga minuman yang ada dimenu, sehingga ia mulai mengomel lagi.




Sedangkan Xia Chi sendiri tidak mau melihat menu, malah ia tampak tertarik dengan bar tersebut. Lalu saat Meng Qin menjadi marah kembali, Xia Chi langsung menenangkannya lagi.

“Itu karena mereka tidak berniat menjalankan bisnis,” jelas Xia Chi. Lalu setelah itu, ia bertanya kepada pelayan tersebut. Dan pelayan tersebut mempersilahkan dia.




“Kemana perginya ruang yang hilang? Saat aku diluar, tempat ini terlihat cukup besar. Tapi saat kami masuk, jelas sekali tempat ini tidak seluas kelihatannya. Jadi aku ingin bertanya, dimana ruang yang hilang?” tanya Xia Chi dengan serius.

Dan pelayan tersebut tersenyum, lalu ia memencet bel dimejanya. Setelah itu sebuah pintu terbuka untuk mereka masuki.




“Kamu boleh memilih untuk tidak masuk,” jelas pelayan itu singkat. Dan tanpa ragu, Xia Chi melangkah kearah pintu itu.

Sebelum masuk, Xia Chi meminta agar Meng Qin tetap menunggunya. Dan jelas saja, Meng Qin menolak dan tetap mau ikut bersama Xia Chi.




“Kau duluan,” kata Meng Qin tiba-tiba dengan serius, sehingga Xia Chi tersenyum melihatnya. Lalu akhirnya mereka berdua pun masuk kedalam. Sedangkan diluar, lampu didalam serta luar bar tampak berkedip-kedip.





Didalam pintu, ada begitu banyak tangga panjang yang berputar-putar. Dan dengan pelahan, mereka melangkah turun bersama. Dan akhirnya tibalah mereka di suatu ruangan berbentuk bulat dan tertutup oleh kaca besar.

“Selamat datang. Selamat datang di Die Now,” sambut seorang wanita berambut pendek.

No comments:

Post a Comment