Wednesday, May 2, 2018

Sinopsis Thai-Drama : Ra Rerng Fai Episode 12 - 4

0 comments


Company name : Citizen Kane



Didalam ruangan. Wanita tersebut meminta agar Krit serta Yada menyerahkan hp mereka kepadanya, dikarenakan radiasi yang ada pada hp atau benda elektronik lainnya buruk untuk kesehatan Ibu dan anak yang dikandung.

Jadi dengan agak terpaksa. Yada pun menyerahkan hpnya. Sementara Krit dengan senang hati menyerahkan hpnya.


Tanpa berbasa- basi lagi, Krit langsung bertanya pada wanita tersebut, kapan mereka bisa mendapatkan hasilnya. Jadi wanita tersebut pun menjelaskan bahwa mereka akan melakukan test darah untuk lebih akurat dan hasilnya akan keluar besok. Tapi kalau test urine, hasilnya akan keluar hari ini juga.

Krit lalu memutuskan untuk melakukan test darah, biar hasilnya lebih pasti. Dan setelah itu dengan lembut, ia memegang tangan Yada serta menatapnya.
“Tidak kah kamu takut pada jarum?” tanya Krit.



“Istri lama mu yang takut jarum. Atau istrimu yang kamu ceraikan karena alergi susu. Jangan jadi bingung,” balas Yada. Sehingga membuat wanita tersebut, menjadi agak kaget dan bingung harus gimana.

Wanita tersebut lalu menawarkan agar mereka melakukan test fisik saja sekarang. Tapi Yada langsung menolak, karena ia ingin beristirahat.



“Aku capek menonton lakorn (Drama Thailand),” Kata Yada keoada Krit dengan nada yang agak sinis.

“Kamu mempunyai soerang perawat yang mempercayaimu,” balas Krit kepada Yada. Lalu kepada wanita tersebut, ia menjelaskan,”Istriku jahat tapi lucu kan.”

Wanita itu lagi - lagi menjadi kebingungan harus berkata apa. Jadi ia pun hanya bisa tertawa saja. Tapi Yada sama sekali tidak peduli dikatain seperti itu, malah dengan gaya angkuh, ia duduk dikursi roda dan menyuruh Krit mendorongnya.



“Jahat kan?” tanya Krit sambil tersenyum kepada wanita tersebut.

“Huhu… tidak! Tidak sama sekali!” balas wanita tersebut.

“Kemudian kita bisa melakukan check-up didalam kamar, kan?” tanya Krit, lagi.

“Tentu saja. Silahkan,” balas wanita tersebut.



Yada sama sekali tidak menyangka kalau Krit akan melakukan itu, tapi ia membiarkan Krit mendorong kursi rodanya. Dan setelah mereka berdua keluar dari ruangan, wanita itu langsung memandangin mereka dengan raut heran.



Didalam kamar. Dua orang perawat, duduk didekat Yada. Satu orang menanyakan data- data tentang Yada, serta satu orang lagi memeriksa badan Yada. Sedangkan Krit sendiri, ia duduk tidak jauh dari sana, memperhatikan.

Setiap menjawab pertanyaan diajukan, Yada pasti selalu melirik kearah Krit. Dan saat Yada mengira semua nya telah selesai, ia pun bangkit berdiri ingin pergi, tapi sayangnya itu semua belum selesai.

Dan Krit tersenyum menertawakan tingkah Yada yang lucu seperti itu.



Test terakhir, Yada melakukan test darah. Pada saat itu, ketika perawat mengeluarkan jarum suntik untuk mengambil darahnya, Yada tampak takut. Ia mengalihkan pandangannya dan memegang erat-erat pegangan sofa.

Dan Krit yang penuh perhatian datang mendekati Yada. Ia memegangin tangan Yada serta berusaha menenangkannya. Awalnya Yada mau menolak, tapi karena takut maka ia pun membalas genggaman Krit. Lalu saat semua nya telah selesai, Yada langsung melepaskan tangan Krit.



Krit pun mendekat ingin mencium Yada, tapi dengan cepat Yada lansung menahannya. Dan Krit pun lalu memberikan kode kepada Yada, sehingga karena takut para perawat curiga nanti.

Makanya Yada pun dengan agak sedikit terpaksa, membiarkan Krit memeluknya. Dan mereka tersenyum kepada para perawat tersebut.



Tapi tentu saja, baru sebentar, Yada ingin melepaskan dirinya, tidak mau dipeluk. Dan tentu nya, Krit tidak mau melepaskan nya. Krit tersenyum sendiri dengan tingkah Yada. Begitu juga dengan Yada, awalnya ia seperti menolak, tapi akhirnya ia pun ikut tersenyum- senyum sendiri.



Khem datang kerumah Tassana. Disana ia melihat beberapa kardus yang telah dibungkus rapi, ditaruh dihalaman serta peralatan ruang tamu yang ditutupi plastik hitam besar. Saat itu Khem mengingat akan perkataan Tassana yang akan pindah kepadanya.

Khem pergi keruangan tempat nya serta Khem menjalankan bisnis, tapi ruangan yang dulu ramai, kini kosong. Dan pada saat itu Tassana datang, ia menanyakan tujuan Khem kesini.



“Apa kamu akan benar- benar pergi?’

“Ya.”

“P’Da menghilang.”

“Mungkin Krit yang melakukannya seperti biasa,” balas Tassana, singkat sambil meminum minumannya. Lalu ia berjalan pergi melewati Khem.



Kwan memberikan minuman untuk Khem dan lalu ia berjalan pergi begitu saja. Tapi melihat itu, Khem tidak diam saja, ia berterima kasih kepada Kwan.

“Buat dirimu sendiri nyaman,” kata Kwan, singkat.


Setelah Kwan masuk kedalam rumah, Tassana keluar dan menghampiri Khem. Dia mengatakan agar Khem jangan khawatir tentang Kwan, karena Kwan bukan orang yang pendendam.

“Ya. Aku tidak sebaik Nong Kwan. Jika seseorang menyakitiku, aku memerlukan waktu,” kata Khem.


Tassana mengalihkan pembicaraan dan mengatakan mengenai Yada, Khem tidak perlu khawatir, karena ia yakin Yada bisa mengurusnya sendiri. Lalu jika Khem masih khawatir, ia akan menelpon kan Krit untuknya.

“Kamu berubah banyak,” kata Khem, melihat sikap Tassana yang lebih dingin padanya.



“Kamu ingin segalanya tetap sama? Sama seperti apa? Seperti yang kamu mau? Kamu butuh waktu, tapi aku tidak punya waktu lagi, Khun Khem,” balas Tassana.

“Ketika kamu bilang kamu mencintaiku…,” kata Khem, tampak sedikit ragu.

Saat Tassana tampak tidak terlalu peduli lagi kepadanya, Khem langsung menyimpulkan kalau Tassana terluka akan perkataannya dan tamparan yang ia berikan dulu.

“Terserah kamu,” kata Tassana, lalu masuk kedalam rumah.



Khem balik ke mobilnya diparkir. Disana dengan sedih, Khem mengingat perkataan Tassana yang tidak punya waktu untuknya lagi. Dan tepat ketika Khem baru akan membuka pintu mobil, Kwan menghampirinya. Mereka berdua lalu berpelukan.



“Kita mungkin tidak akan bisa bertemu lagi kan?” tanya Khem.

“Kamu masih mau bertemu kami?”

“Rumah ini adalah rumah yang hangat. Aku tidak akan pernah lupa. Terima kasih ya Kwan.”

“Jangan berterima kasih kepadaku. Aku hanya minta kamu untuk memaafkan P’Na, tolong ya? P’Na tidak bisa mengatakan apapun karena dia dan Krit adalah teman.”



“Aku tau. Aku sudah memaafkannya sejak lama. Tapi untuknya, aku… aku tidak tau jika dia sudah membenciku sekarang,” kata Khem dengan sedih.

“Apa kamu masih mencintainya?”

“Ini sudah terlambat Kwan,” jawab Khem, lalu menyuruh Kwan untuk masuk kedalam. Setelah itu, ia dan Kwan pun berpelukan untuk terakhir kalinya.



Dimalam hari. Yada berjalan-jalan di tempat tersebut. Ia berdiri didekat jembatan. Dan Krit menghampirinya dari belakang. Disana Yada membahas membahas tentang masalah Krit dan Ayahnya yang mungkin saja hanya salah paham.



Tapi dengan tegas, Krit mengatakan bahwa Yada sudah tau yang sebenarnya, maka Yada harus menyiapkan dirinya agar tidak kecewa kepada apa yang diperbuat Dilok.

“Jika kita punya anak. Anak kita harus mempersiapkan itu juga kan? Kamu pikir, kamu siap untuk menjadi seorang Ayah? Dan akankah bayi kita menerima Ayah sepertimu?” tanya Yada, lalu berjalan pergi, meninggalkan Krit yang terdiam.



Yada masuk kedalam ruangan dan Krit mengikutinya. Dan melihat kedatangan Krit, maka Yada pun masuk kedalam kamarnya serta menguncinya. Yada membuka lemari bajunya.



“Dia ingin akau tinggal disini selama seminggu?” keluh Yada. Lalu ia pergi ke beranda, memeriksa keadaan. Setelah itu ia memutuskan untuk lompat kebawah.

Tepat disaat itu, Krit yang berada dikamar sebelah, keluar dan melihat itu. “Tidak kah kamu khawatir tentang bayi dalam kandungan?” tanyanya.


Ternyata beranda mereka berdua itu menyatu. Jadi dengan santai Krit berjalan mendekati Yada. Dan Yada pun langsung bertanya, apa setelah hasilnya keluar besok, Krit akan membiarkannya pulang.

“Mungkin,” kata Kri, singkat.

“Mungkin. Apa maksudmu?” tanya Yada.

“Mari tunggu hasilnya dulu besok, kemudian kita akan membicarakan itu.”



Krit lalu berjalan dan masuk kedalam kamar Yada. Dan tentu saja, Yada keberatan, karena ia tidak mau tidur bersama Krit. Jadi Krit pun menjelaskan bahwa tempat mereka berada sekarang ini, suami harus menjaga istri nya 24 jam. Sehingga mereka berdua bisa lebih dekat.



Yada merasa kesal dan ingin keluar, tapi Krit langsung menarik tangannya dan mendudukan Yada diatas pangkuannya. Setelah itu dengan lembut, Krit berkata bahwa ia hanya ingin memeluk Yada saja.


Berdua mereka lalu tidur bersama dengan wajah yang saling berhadapan. Dan ketika itu dengan perlahan Krit mendekatkan wajahnya untuk mencium Yada. Jadi untuk bisa menghindari itu, maka yada pun jujur.

“Maksudmu aku tidak perlu menunggu dan mendengar hasilnya besok? Da, bisakah kamu mengatakannya dengan keras, sekali lagi?” pinta Krit.



“Aku hamil, Khun Krit,” jawab yada dengan tegas.

Kali ini saat Krit mencium pipinya, Yada membiarkannya, malah ia pun tersenyum, tampak sekali bahagia. Setelah itu, ia memberitahu Krit, bercanda kepadanya.

“Tapi aku tida tau, apa aku hamil denganmu atau tidak,” canda Yada. Lalu kembali berbaring dan tidur. Dan Krit ikut berbaring sambil memeluk Yada dari belakang.


Dengan penuh kebahagian, Krit tidur sambil tersenyum dan memeluk Krit. Dan Yada juga sama, ia tersenyum, tapi ia tidak tidur, seperti ia sedang memikirkan sesuatu.



Keesokan paginya. Ketika bangun tidur. Krit merasa heran dan panik, ketika ia melihat kalau Yada tidak lagi berada disampingnya. Tidak juga berada didalam kamar serta ruangan mereka. Bahkan Yada tidak ada di sekitar tempat ini.

Wanita kemarin yang menemani mereka ditempat itu, menanyai Krit, saat ia melihat Krit yang tampak panik.

“Khun Sharkrit!” panggilnya.

“Istriku menghilang.”

“Khun Yada?”

“Aku hanya punya satu istri! Istriku menghilang!”


Dengan panik, tanpa memperdulikan wanita itu lagi. Krit langsung mengelilingin setiap ruangan ditempat itu dan memeriksa, mencari Yada. Tapi Yada tetap tidak ditemukan. Malah yang ada ia membuat para Ibu hamil disana, merasa terkejut.

Dan wanita kemarin mengikuti Krit. Serta membantu untuk menenangkan para Ibu hamil yang merasa terkejut, karena ulah Krit.



Ditaman. Wanita tersebut mencoba untuk menenangkan Krit dan tepat disaat itu, ia melihat Yada sedang melakukan penenangan bersama Ibu hamil lainnya. Tapi Krit tidak sadar akan hal itu dan masih bersikap panik.



“Panggil semua penjaga sekarang! Aku akan menanyai mereka,” perintah Krit.

“Saya kira itu tidak perlu.”

“Kamu ingin mengabaikan tanggun jawab seperti ini?!” teriak Krit.

“Tanggung jawab apa?!” tanya wanita itu, makin heran.

“Istriku menghilang!”

“Istrimu tidak menghilang! Kamu dengan saya? ISTRI - MU - TIDAK - MENGHILANG! Khun Sharkrit! Istrimu tidak menghilang!” balas wanita itu, menekan kan kata- katanya kepada Krit, lalu dengan mulutnya,  ia menunjukan Yada yang sedang berada di tengah halaman.




Yada serta para Ibu hamil yang mendegar teriakan itu, langsung berhenti bergerak, memperhatikan mereka. Dan Krit yang akhirnya melihat keberadaan Yada. Ia langsung berlari dengan kencang menghampiri Yada dan memeluknya erat- erat.




“Da. Da. Jangan pernah melakukan ini lain kali,” tegas Krit, lembut. Dan Yada pun balas memeluk Krit. Sedangkan Ibu hamil yang lain, tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.

No comments:

Post a Comment