Tuesday, August 21, 2018

Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 07-5/5

0 comments


Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 07-5/5
Images by : Channel 3
Wawancara sudah selesai. Dan Touch bertanya hasilnya pada Rita. Rita menjawab kalau dia tidak lolos, tetapi dia di pekerjakan di bagian penjahitan. Touch tidak terima. Tetapi, Rita memberitahu kalau dia senang bisa bekerja di bagian penjahitan. Dia kemudian pamit pulang karena sudah selesai wawancara.
Saat Khun Nee keluar, Touch langsung protes karena ibunya berpikir negatif mengenai Rita. Tetapi, kenapa Khun Nee masih mempekerjakan Rita?
“Jadi kalian berdua akan selalu berada dalam pengawasanku!” jawab Khun Nee.
--
Malam hari,
Prim, Boot dan Rita berpesta di rumah untuk merayakan Rita yang mendapat pekerjaan tetap. Mereka juga merayakan perusahaan Wat dan Boot agar sukses. Dan juga agar Prim segera bertemu dengan ayahnya.
Mereka juga membicarakan mengenai Khun Barami yang belum menemui Prim untuk memberikan hadiah karena sudah mengajar putrinya. Prim memberitahu kalau dia sudah mempunyai rencana lain.
--
Esok hari,
Mereka bertiga pergi ke sekitar kantor Khun Barami. Prim memberitahu kalau dia sudah menyelidiki kalau Khun Barami hari ini akan pergi menemui klien dan akan kembali ke kantor sekitar jam 1 siang. Prim kemudian memberitahu rencananya.
Jadi, ketika Khun Barami tiba di kantor. Dia akan berpura-pura pingsan dan Rita serta Boot harus langsung menghampirinya. Dan dengan suara keras memanggil namanya agar Khun Barami bisa dengar.
Dan Khun Barami yang mendengar pasti akan menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi. Maka, Boot harus berbohong kalau Prim kelelahan karena mengajar Vicky membuat sepatu.kemudian, Rita harus menambahi kalau dia bahkan sampai kurang tidur dan makan untuk menyiapkan bahan ajar. Terus, Prim akan menjawab kalau dia rela mengajar Vicky hinggga kelelahan.
Khun Barami jadi tidak enak, dan akan menawarkan bantuan. Saat itulah, Prim akan menunjukka foto ibunya dan desain sepat u yang di buat ayahnya dan memintanya menemukan ayahnya, yang sebelumnya bekerja sebagai manager security di Diamond mall (yang hanya perkiraan Prim).
Boot dan Rita mengerti mendengar arahan Prim.  
--
Khun Pat membawa Pong untuk bekerja di mall dan menyerahkannya ke Khun Samorn untuk di ajar. Khun Samorn memuji Pong yang sangat baik dan mau membantu Khun Pat dengan bekerja.
Tetapi, saat Khun Pat sudah tidak ada, Khun Samorn malah menyebar gossip kalau Khun Pat mengirim putranya, Pong, untuk bekerja karena Pong membuat masalah lagi. Dia terus menyebarkan berita seperti itu.
--
Prim, Boot dan Rita melihat mobil Khun Barami yang sudah tiba di parkiran. Prim segera masuk dan hendak berakting.
Sialnya, dia malah bertabrakan dengan Angie dkk yang menghalanginya masuk ke dalam. Khun Barami sudah turun dari mobil. Prim langsung berteriak memanggilnya. Rita berteriak memanggil Prim karena meninggalkan amplopnya. Angie melihat amplop itu dan langsung merebutnya. Dia melihat isinya adalah desain sepatu. Perkelahian memperebutkan amplop itu tidak terelakkan lagi.
Dan sialnya, desain sepatu itu terlempar ke dalam mobil bak yang hendak keluar parkiran. Boot langsung mengejarnya di ikuti oleh Prim dan Rita. Untunglah, desain itu bisa di dapatkan kembali walau kertasnya jadi kusut.
--

Angie menemui Khun Samorn dan bersama-sama menghadap Khun Pat. Dia melaporkan kedatangan Prim yang membawa kertas desain sepatu high heels dan ingin memperlihatkannya pada Khun Barami. Khun Samorn memanasi kalau pasti Prim ada hubungan dengan Khun Barami. Angie setuju apalagi zaman sekarang banyak istri muda. Khun Samorn menawarkan bantuan pada Khun Pat.
“Tolong aku dengan tutup saja mulut kalian,” ujar Khun Pat ketus. “Kembali bekerja sana! Aku mengenal suamiku dengan baik. Dia mencintaiku dan anakku. Dia tidak akan mengkhianatiku. Dan mengenai desain itu, itu mungkin berhubungan dengan Vicky yang sedang belajar membuat sepatu dari Prim. Dan jika aku mendengar kalian membicarakan suamiku lagi, aku akan memecat kalian!”
Khun Samorn dan Angie jadi takut dan segera pamit keluar.
Saat mereka sudah keluar, Khun Pat jadi curiga, kertas desain apa itu?
--
Rita menghibur Prim untuk tidak usah sedih karena rencananya gagal. Mungkin ada rencana dari Tuhan yang lebih baik. Prim tersenyum mendengarnya.
--
Pong sedang melayani pelanggan. Pelanggan mencoba banyak sepatu tetapi tidak jadi membeli karena tidak suka. Pong menggerutu kesal karena sudah coba banyak tapi tidak beli.
Seorang wanita berdiri di depannya. Dan saat Pong mendongak, yang sedang berdiri di depannya adalah Vee.
Pong membawa Vee keluar mall dan bertanya dengan kasar kapan Vee datang ke Thailand? Vee menjawab kalau dia datang tadi pagi, dan menunggu di depan rumah Pong, kemudian dia melihat mobil Khun Pat keluar, jadi dia mengikutinya menggunakan taksi. Vee bertanya balik ke Pong, kenapa dia tidak pernah menghubunginya sama sekali? Dia selalu menunggu tiap hari, dan karena Pong tidak kunjung menghubunginya, makanya dia memutuskan untuk datang mencari Pong.
Pong bertanya bagaimana dengan ayah Vee? Vee memberitahu kalau dia tidak memberitahu ayahnya. Pong langsung marah karena Vee datang tanpa izin dari ayahnya. Vee memberitahu kalau dia datang dengan memakai uang yang Khun Pat berikan padanya. Itu karena dia merindukang Pong.
Vee memeluk Pong tetapi Pong melepaskannya. Vee marah dan bertanya apa Pong sudah tidak mencintainya dan anak mereka lagi? Pong tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya menyuruh Vee untuk pergi sekarang juga, jika ada yang melihat dan melapor pada Khun Pat, dia akan terkena masalah.
Vee menangis dan memberitahu kalau dia tidak mengenal siapapun di Thailand, dan dia datang ke sini karena ingin tinggal bersama Pong. Pong menyarankan Vee untuk pulang ke Amerika dan dia akan membelikan tiketnya. Vee menolak, jika dia pulang sekarang, ayahnya pasti akan membunuhnya. Pong tidak peduli dan menyuruh Vee pergi kemana saja asal jangan mencarinya.
Vee menahan Pong dan meminta Pong jangan memperlakukannya seperti itu. Pong menepis tangan Vee sehingga membuat Vee terjatuh. Dan setelah itu, Pong terus masuk ke dalam mall.
Vee yang terjatuh, pingsan. Kebetulan, Prim dkk lewat dan melihat Vee yang pingsan. Mereka berusaha menyadarkannya, tetapi tidak ada reaksi. Karena itu, mereka membawanya ke rumah sakit.
--
Dokter memeriksa Vee dan memberitahu Prim dkk kalau Vee pingsan karena kelelahan dan tubuhnya lemah. Dokter kemudian bertanya hubungan Prim dkk dengan Vee. Prim memberitahu kalau mereka tidak punya hubungan apapun, mereka hanya menemukan Vee yang pingsan di jalan.
“Aku ingin menyampaikan kepada keluarganya, untuk lebih menjaganya. Karena jika tubuhnya lemah seperti ini, itu akan berbahaya untuk bayi di perutnya,” beritahu dokter.
“Bayi?” ujar Prim dkk terkejut.
“Ya, pasien ini sedang hamil.”
Prim dkk menjaga Vee hingga sadar. Saat Vee sudah sadar, dia tentu heran melihat orang - orang di depannya. Prim memperkenalkan dirinya dan temannya sedang menjelaskan situasi yang terjadi. Vee berterimakasih atas bantuan mereka.
Boot menawarkan untuk menelpon keluarga Vee agar di jemput. Vee menangis dan memberitahu kalau dia tidak punya siapapun di Thailand, dia baru saja dari Amerika dan berniat tinggal di sini. Tetapi, dia di usir. Pria itu sudah tidak mencintainya.
Prim dkk jadi tidak tega.
--
Akhirnya, mereka membawa Vee untuk tinggal bersama di rumah Prim. Vee jelas sangat berterimakasih. Dia berjanji tidak akan tinggal lama. Dia akan mencari pacarnya lagi dan menyelesaikan masalah mereka. Boot menyuruh Vee untuk tidak usah terburu-buru, Prim juga tidak keberatan jika Vee tinggal lama di sini.
Prim memperlakukan Vee dengan sangat baik. Rita kemudian melihat boneka yang Vee bawa dan memujinya sangat lucu. Vee memberitahu kalau itu adalah hadiah dari pacarnya saat mereka pertama kali pacaran.
Phu datang dan Prim langsung keluar menyambutnya dan memberikan sepatu Vicky yang sudah selesai di buat heels-nya oleh Unc. Dam. Phu menerimanya dan kemudian bertanya, apa Prim benar-benar akan membiarkan Vee tinggal di rumahnya? Dia mendengarnya dari Rita dan merasa khawatir karena Prim belum mengenal Vee, tetapi sudah mengizinkannya tinggal.
“Kamu takut kalau Nong itu adalah penipu atau kriminal atau sejenisnya?” tebak Prim.
“Aku juga tidak ingin menilai orang lain dengan buruk. Tapi… aku mengkhawatirkanmu.”
“Kau tidak perlu khawatir. Jika kau mengenal Nong Vee, kau akan tahu kalau dia bukan orang jahat.”
Phu mengerti.
--
Phu pergi ke rumah Vicky dan memberikan sepatu yang tadi di berikan Prim padanya. Vicky melihatnya dengan senang dan Phu menyarankannya untuk mencoba sepatu buatannya itu. Phu membantu memasangkan sepatu tersebut. Vicky mencobanya dan merasa sangat senang menggunakan sepatu buatannya sendiri. Khun Barami melihat mereka dan tersenyum senang melihat senyum Vicky.
Vicky kemudian meminta Phu untuk memfotonya menggunakan sepatu itu karena dia ingin meng-uploadnya ke instagram.
--
Khun Barami sedang melihat foto yang waktu itu dikirimkan Prim. Dia masih memikirkan desain sepatu yang terpajang di foto itu dan merasa tidak asing. Phu menghampirinya karena pembantu tadi bilang kalau Khun Barami ingin bertemu dengannya.
Khun Barami membenarkan. Dia kemudian bertanya, bukankah Phu pernah ke rumah Prim? Phu membenarkan. Khun Barami kemudian memperlihatkan foto yang sedang di lihatnya, dan bertanya apa Phu pernah melihat desain sepatu yang terpajang?
Phu gugup dan malah berbohong kalau gambar yang terpajang, adalah desain yang Prim ambil dari majalan. Wajah Khun Barami menunjukkan kekecewaan. Phu bertanya, ada apa dengan gambar itu? Khun Barami menjawab tidak ada apa-apa, dia hanya mengira kalau itu gambar desain yang pernah di buatnya dulu.
Phu berusaha mengalihkan dengan bertanya apa Khun Barami sudah melihat sepatu buatan Vicky? Khun Barami tersenyum dan memuji Prim yang berhasil mengajari putri-nya membuat sesuatu. Phu setuju, Prim adalah wanita yang menakjubkan.
--
Prim menyiapkan makanan untuk Vee. Dan saat dia hendak memberikannya pada Vee, tanpa sengaja dia mendengar Vee sedang menelpon seseorang dan memohon agar orang itu memberikan nomor Pong padanya. Dan Vee juga berteriak marah karena ternyata Pong sudah menelpon semua temanya untuk tidak memberikan nomornya pada Vee. Prim juga kaget mendengar nama Pong.
Vee sangat kecewa dan melempar ponselnya. Dia juga memukuli perutnya dan bereriak tidak ingin mempunyai bayi itu. Prim berusaha menenangkannya.
“Vee, kau seorang ibu. Jika seperti ini, kau tidak akan bisa melihat wajah anakmu,” tenangi Prim.
“Itu lebih baik membiarkan anakku mati. Jadi bayi itu tidak akan tahu kalau ayahnya tidak menginginkannya lagi. Mati! Mati!”
“Jangan lakukan hal itu. Berhenti menjadi egois!” marah Prim.
Dia menunjukkan foto ibunya yang ada di samping tempat tidur. “Lihat wajah wanita ini. Dia juga hamil tanpa ayah bayi itu juga! Tetapi, dia tidak pernah egois! Tidak pernah berpikir membuang bayinya. Atau berpikir untuk membiarkan bayinya mati untuk menyelesaikan masalah! Tetapi, sebaliknya, dia membesarkan bayi itu dengan seluruh kemampuannya. Dia hanya berkata bahwa dia tidak melakukannya karena itu tanggung jawabnya, tetapi karena dia mencintai bayi-nya. Darah dagingnya yang lahir dari tubuhnya. Jika kau tidak mencintainya, jika kau membunuh bayimu, itu sama saja kau membunuh dirimu sendiri. Lalu apa, Veeree? Kau tidak punya cinta untuk bayimu?”
Vee menangis mendengar perkataan Prim. Prim duduk di sampingnya.
“Vee, kesalahan sudah terjadi, kita tidak bisa mengubahnya. Tapi, kita bisa membuat diri kita tidak melakukan kesalahan lagi,” nasihat Prim.
Vee mengerti. Prim memeluknya untuk memberikan kekuatan. Dia kemudian mengajak Vee untuk makan bersama setelah Vee mandi.
Saat Vee pergi mandi, Prim melihat buku Vee yang terjatuh. Dia mengambilnya dan terkejut melihat foto Pong.
Dia segera memanggil Vee dan menunjukkan foto itu. Apa pria di foto ini adalah ayah dari bayi Vee?
“Ya. P’Pong adalah pacarku. P’Prim mengenalnya?”
“Ahh… wajahnya terlihat familiar,” bohong Prim karena terlalu terkejut.


No comments:

Post a Comment