Tuesday, October 9, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 10 - part 2

10 comments

Network : Channel 3


Setelah pulang dari Vihara. Nai mengucapkan terima kasih kepada Saeng dan Gam karena telah mengizinkan mereka berdua untuk ikut. Dan Gam membalas bahwa ini adalah sebuah kehormatan untuk bisa mengundang Nok dan Nak pergi berdoa bersama.




Kemudian karena harus memetik lotus, maka La dan Saeng pun pamit untuk pergi duluan. Namun Gam menahan La, jadi Saeng pun pergi sendirian duluan. Dan kemudian, Gam memberikan sebuah kalung sebagai hadiah ulang tahun untuk La. Dan menerima itu, La sangat bahagia sekali dan dia memeluk Gam.

Namun Nok yang melihat itu, dia tampak sedih dan seperti ingin menangis.



Di tempat istrirahat. Sambil memandangin oemandangan, Nok menlap air matanya yang tumpah. Dan melihat itu, Nai datang mendekati Nok.

“Bagus. itu membuatku teringat tentang masa kecil ku. Ayahku juga suka memberikan kejutan padaku dengan hadiah dan tinggal disisiku seperti itu. Aku harusnya tetap kecil selamanya,” kata Nok dengan sedih.

“Ayahmu masih mencintai dan mengkhawatir kan kamu,” balas Nai.


Nok menlap air matanya dan menghadap kearah Nai yang berdiri di belakangnya. Nok menjelaskan bahwa sebelum dia wisuda, Ayahnya pernah bilang, ketika dia kembali, maka mereka akan menghabiskan banyak waktu bersama untuk mengganti tahun- tahun yang hilang. Namun kenyataannya, Ayahnya malah menikah lagi.

“Khun Nok. Pagi ini kamu bertanya padaku, apa Ayahmu ada menelponku atau mengirim pesan LINE. Dan aku bilang tidak. Sebenarnya…” kata Nai sambil menunjukan apa yang ada dihapenya kepada Nok.


Dan kemudian saat Nok melihatnya. Dia baru tahu bahwa ternyata selama ini Nai selalu memberikan updated mengenai apa saja yang dia lakukan kepada Wat. Dan melihat itu, Nok protes.

“Karena itu aku tidak memberitahumu. Aku takut kamu akan menjadi seperti ini,” jelas Nai.

“Apa yang dipedulikannya? Didalam pikirannya hanya ada Istri barunya,” balas Nok.

“Jika kamu pikir begitu, maka cobalah lihatlah itu,” kata Nai.

Kemudian Nok melihat kembali hape Nai. Dia melihat semua foto yang Nai kirimkan kepada Wat. Dan lalu Nai menyarankan Nai untuk membaca chatnya juga, bukan hanya foto. Lalu Nok pun menscroll ke atas.

Apa yang Nok lakukan?

Beritahu Nok untuk memakai selimut.

Maaf untuk hanya bertanya padamu, karena akhir- akhir ini Nok tidak membalas pesanku. Bagaimanapun tolong jaga Putriku. Dan tolong beritahu dia bahwa dia sangat manis ketika berpakaian seperti ini.

Membaca semua chat yang ada. Nok mulai kembali menangis. Dan Nai pun menjelaskan bahwa Wat masih peduli pada Nok. Kemudian karena tidak tahan menahan kesedihannya, maka Nok berjalan menuju kearah kebun bunga dan menangis disana.


Nai yang mengikuti Nok, dia berdiri diam dibelakang Nok. Dan saat menyadari kehadirannya, maka Nok pun menanyakan kenapa Nai mengikutinya.

“Aku tidak bisa membiarkan kamu menangis sendirian. Ini adalah kewajibanku untuk bertanggung jawab pada perasaanmu,” jelas Nai.

“Itu janji mu pada Ayahku kan? Apapun yang tidak bisa dilakukannya, dia akan melemparkan itu kepadamu sebagai gantinya kan?  Jadi dia begitu bahagia, ketika aku bilang bahwa aku akan menikah denganmu, karena beban nya akan menghilang,” balas Nok.



Nai mencoba untuk membuat Nok mengerti, namun Nok tidak mau mengerti. Dia mengatakan bahwa Nai belum pernah merasakan perasaannya, jadi Nai bisa dengan mudah mengatakan itu.

“Tidak peduli itu mudah atau sulit. Tapi itu tergantung pada hatimu. Kamu mengkhawatirkan Ayahmu, jadi kamu menghalangin Khun Khae. Selama ini, kamu tidak mau Ayahmu menderita. Namun apa yang terjadi adalah Ayahmu terluka karena tidak memiliki Khun Khae di dalam hidupnya. Dan kamu tidak bisa menerima ini,” jelas Nai.

“Bagaimana aku bisa menerimanya? Sejak aku tahu bahwa wanita itu tidak benar- benar bagus seperti yang Ayah pikirkan,” balas Nok dengan nada sedikit kesal.

“Tapi kamu tidak pernah mencoba untuk baik padanya. Kamu telah melewati tahap pertama, yaitu menerima perceraian kedua orang tua mu. Sekarang kamu perlu melewati tahap kedua, yaitu menerima jalan baru kedua orang tua mu,” jelas Nai.


Nok tetap tidak bisa menerima itu, dia takut bahwa suatu saat bagaimana jika Khae meninggalkan Ayahnya. Dan Nai membalas bahwa itu adalah kewajiban Nok untuk menghibur Wat.

Mendengar itu, Nok merasa itu tidak adil. Karena ketika Ayahnya lemah, Nai datang untuk menghiburnya. Tapi ketika dia lemah, dia tidak bisa menghibur Ayahnya sama sekali. Dan Nok pun mulai menangis lagi. Kemudian Nai mendekati Nok dan memeluk Nok.

“Ada aku. Aku akan menghiburmu sampai hari kamu kembali menjadi kuat seperti sebelumnya. Aku akan berdiri disini. Dan menjadi penghiburmu. Menjadi keluaragamu. Tidak peduli berapa lama, selama kamu menginginkannya” hibur Nai.



Kemudian Nok mengangkat tangannya dan balas memeluk Nai. Lalu dia pun menumpahkan semua ke sedihannya didalam pelukan Nai.


Sesampainya dirumah. Wat menanyakan keberadaan Khae kepada Aff, karena mobil Khae tidak terlihat. Dan Aff pun memberitahu bahwa Khae telah pergi ke toko sejak pagi tadi, bahkan Khae tidak ada sarapan juga.

Tiba- tiba saja, disaat itu terdengar suara teriakan Phai yang berteriak meminta tolong. Dan mendengar itu, Aff serta Wat segera berlari ke arah dimana suara teriakan Phai terdengar, yaitu di ruang makan.


Ketika sampai diruang makan, Wat melihat Phai yang menangis sambil berlutut dilantai. Dia terus bergumam bahwa ini tidak benar, ini bukan Putrinya. Dan Wat pun menanyakan apa yang salah. Lalu Phai menunjukan video di hapenya kepada Wat.

Didalam video itu, terlihat Penny yang sedang melakukan hubungan suami- istri dengan seorang pria. Dan melihat itu, Wat pun tidak bisa berkata apapun.

“Tidak. Itu tidak benar,” gumam Phai, menangis.


Dimall. Saat sedang berbelanja, Pen dihubungin oleh seseorang yang membicarakan tentang video tersebut. Dan Pen menyangkalnya, dia mengatakan bahwa bisa saja itu orang lain yang terlihat sama seperti dirinya.

Pen marah kepada si penelpon, karena si penelpon ingin mengeluarkanya sebagai seorang presenter serta ingin mendenda nya. Dan dengan keras, Pen mengatakan bahwa dia akan menuntut mereka.


Lalu setelah selesai bertelponan, Pen baru sadar dengan keadaan disekelilingnya. Beberapa orang melihat ke arahnya dan berbisik membicarakan nya. Bahkan beberapa orang pria memandangnya dengan rendah, seolah dia adalah cewek yang bisa dipakai.

Dan dengan perasaan yang sangat malu, Pen pun segera berjalan dengan cepat dan pergi dari sana.


Dimalam hari. Di teras depan kamar. Nai dan Nok duduk bersama, dikelilingin beberapa lilin- lilin kecil. Dan sampai memandang langit, Nai mengatakan bahwa gelap seperti ini sangat bagus, karena begitu banyak bintang. Lalu Nok membalas bahwa gelap ini, karena mati lampu.

“Jangan merusak. Ini lagi baik sekarang,” kata Nai, mengingatkan Nok.

“Apa yang baik? Suasana nya?” balas Nok.

“Ya. Ada bintang. Ada aku. Dan ada kamu,” jelas Nai sambil tersenyum kepada Nok.


Kemudian mereka berdua sama- sama berbaring. Dan Nok pun menanyakan apa yang Nai sukai darinya, karena dimasa lalu dia tidak pernah melakukan banyak hal baik untuk Nai.

“Mungkin itu karena senyummu. Sejak aku lahir, aku tidak pernah melihat senyum yang begitu bersinar seperti seorang gadis kecil bernama Muenchanok,” jelas Nai.



Nai mengingat saat pertama kali Vi membawanya ke rumah baru, dimana dia akan mulai tinggal. “Sejak Ibuku meninggalkanku, dunia ini tidak pernah baik padaku lagi. Dimana pun aku memandang, disana hanya ada kesedihan, kesuraman, dan kedinginan.”

Hari dimana Vi membawanya, itu adalah hari dimana Nok sedang merayakan ulang tahun nya. Dan saat melihat Nok yang tersenyum bahagia di tengah kedua orang tuanya, Nai pun ikut tersenyum. “Bahkan jika aku tidak ingin mempercayainya. Tapi  dunia yang kosong dan dingin yang kupunya, itu berhenti bergerak untuk sesaat. Ketika aku sadar lagi, itu mulai terasa hangat.”


Selesai Nai bercerita. Nok memukuli Nai berkali- kali hingga Nai meringis kesakitan. Lalu Nai menanyakan alasan mengapa Nok begitu membencinya. Dan Nok pun menjelaskan bahwa sejak kedatangan Nai, hidupnya hancur, hancur, hancur.

“Sebanyak itukah?” tanya Nai.

“Apa kamu ingat, apa yang telah kamu lakukan?”




Dihari itu. Nok sangat senang sekali ketika mendapatkan sebuah boneka sebagai hadiah ulang tahunnya. Namun disaat itu, Nai datang dan membuatnya terdorong, sehingga tanpa sengaja wajah Nok jatuh di atas kue. Walaupun itu sebenarnya bukan salah Nai, karena saat Nai berdiri di dekat Nok, tiba- tiba saja seorang anak nakal berlari dan menyenggolnya.

Lalu disaat itu, boneka milik Nok hilang. Karena ternyata anak nakal tadi mengambil boneka Nok dan menaruhnya di atas tempat bakaran bbq. Sehingga boneka baru milik Nok terbakar.



Mengingat hal itu, Nai pun tertawa. “Itu lucu. Aku mulai mencintaimu, ketika kamu mulai membenciku. Tapi tidak apa- apa. Dimasa depan, aku akan mengubah pikiranmu,” kata Nai.

“Bagaimana? Membuatku mencintaimu dan kamu membenciku?” balas Nok.

“Bagaimana bisa aku membencimu? Sejak kita bertemu, kamu adalah hal paling indah di dalam hidupku. Cinta ku menunggu kamu di ujung jalan. Terserah kapan kamu akan mengikuti,” jelas Nai.

“Dan jika. Cintaku tidak bergerak kemanapun?”

“Bahkan jika aku harus menunggu seumur hidupku. Aku akan menunggu.”



Dengan sangat perlahan, karena suasana romantis yang sangat mendukung. Nai mendekatkan wajahnya kepada wajah Nok. Dan Nok tidak tampak akan menolak. Namun tiba- tiba saja, suasana itu hancur seketika, ketika terdengar suara teriakan orang yang mengatakan lampu telah menyala. Dan orang itu adalah La.

Lalu karena canggung dengan kedatangan La. Maka Nok pun beralasan bahwa dia mau pergi mandi. Dan Nai membalas bahwa tadi kan Nok telah mandi.


Ketika Nok telah pergi. Begitu juga dengan La. Maka Nai pun kembali berbaring sambil memandangin langit malam.



Ditempat lain. Khae menginap dirumah Thorsaeng dengan alasan bahwa dia ingin tidur dengan Thorsaeng malam ini. Dan walaupun awalnya Thorsaeng khawatir bahwa ada masalah antara Khae dan Wat, namun karena Khae mengatakan bahwa hubungannya dengan Wat baik- baik saja saat ini, maka Thorsaeng pun menjadi lega dan mengizinkan Khae untuk tidur bersama nya malam ini.

Kemudian dengan sikap manja, Khae mengajak Ibunya untuk pergi check-up bersama besok pagi. Karena akhir- akhir ini dia merasa sering pusing.



“Bagus. Kesehatan adalah yang terpenting. Kuat dan sehat, jadi kamu bisa punya anak untuk digendong olehku,” kata Thorsaeng. Dan dengan sedih, Khae menganggukan kepalanya sambil tersenyum seolah- olah dia baik- baik saja.



Namun saat Thorsaeng telah berjalan pergi, Khae langsung tampak sangat murung.

10 comments:

  1. Ayo dilnjutin lg udah gak sabar nich...😊😊😊😊

    ReplyDelete
  2. Ayo jgn lma2 updatey y g sabar ni

    ReplyDelete
  3. Semangat mimin lanjutannya...ditunggu...dan jangan lama2 ya 😊🙏

    ReplyDelete
  4. Semangat y kak, sinopsis selanjutnya saya tunggu

    ReplyDelete
  5. Makasih banget deh
    Soalnya pas liat sinopsis
    Jadi tau deh apa yg di omongin sama nok dan nai
    Soalnya liat d youtube wlpn ada terjemahan bahasa inggris tapi karna ga hapal semua kosa kata bahasa inggris.....berasa nonton pantomim cuma liat dari gerak tubuh sama mimik muka mereka
    Ditunggu deh kelanjutannya mudah2an sekarang sekarang ga terlalu sibuk 😊

    ReplyDelete
  6. Semangat kakak semangat kakak ☺ please jangan kelamaan,kita setia banget menanti nanti kelanjutannya sll kak

    ReplyDelete
  7. Terima kasih kakak,kita setia menanti

    ReplyDelete
  8. Lanjuttt mimin....makin seruuuu nih😍😍😍

    ReplyDelete