Tuesday, November 20, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 2 - part 1

2 comments


Network : GMM One

Semua murid dari Kelas Berbakat berkumpul di dalam ruangan komputer. Didalam sana, mereka tidak ada menyala kan lampu. Dan bahkan mereka menutupi jendela. Tampak nya seperti mereka tidak ingin ada orang yang tahu dimana mereka.



Lalu seseorang mulai bicara, dia menanyakan apa semuanya sudah berkumpul. Dan Pang menjawab bahwa cuma kurang Ohm, dia merasa sepertinya Ohm sudah tidur. Kemudian orang tersebut membalas bahwa itu tidak masalah.

“Aku cuma mau tahu pendapat kalian soal Kelas Berbakat? Yang kita lihat kemarin, menurut kalian itu apa?” tanya orang tersebut.


Si Gadis berkaca mata menjawab bahwa dia merasa itu adalah sihir. Tapi si Gadis cantik tidak percaya bahwa sihir itu ada. Lalu orang tadi menjelaskan bahwa dia merasa kalau sekolah mereka menyembunyikan sesuatu. Dan yang lain menambahkan kalau tampaknya itu adalah hal yang berbahaya, sepertinya mereka dijadikan kelinci percobaan.

“Tapi Pak Pom tidak menyuruh kita melakukan hal yang berbahaya,” kata si Gadis berkaca mata, tidak setuju dengan pendapat mereka yang mengatakan sihir tidak ada dan berbahaya.

“Kalau tidak berbahaya, mereka pasti sudah bilang,” balas seorang murid Pria berkaca mata.


“Mungkin mereka menunggu sampai kita siap,” tambah dua orang murid kembar secara bersamaan. Dan lalu si Gadis cantik menanyakan pendapat Wave yang sedari tadi hanya diam saja. Lalu mereka semua menatap ke arah Wave.

Tanpa mengatakan apapun, Wave menunjukan apa yang didapatnya. Dia memperlihatkan video pengintai dari hasil meretas komputer milik Guru Pom. Dan dengan serius, mereka semua langsung melihat.

Didalam ruangan kelas. Guru Pom menjelaskan kepada kepala sekolah tentang apa yang terjadi hari ini. Wave telah menemukan bakatnya, dia jago matematika dan komputer. Setelah potensinya terbangun, Wave bisa mengendalikan komputer dan alat elektronik lewat sentuhan.

“Melalui sentuhan? Berarti, dia tidak bisa mengontrol secara jarak jauh?” tanya Kepala Sekolah.

“Dari data saat ini, hanya bisa lewat sentuhan. Tapi kalau dia menghubungkan perangkatnya, maka dia juga bisa mengontrol lewat sambungan daring,” jelas Guru Pom.

“Kalau begitu, kemungkinan besar, para murid itu sedang menguping obrolan kita,” balas Kepala Sekolah.

Mendengar perkataan itu, semua murid yang memang benar sedang menonton mereka. Semua murid langsung merasa terkejut. Dan dengan cepat ingin mematikan komputernya. Namun sembelum Wave sempat mematikan, Kepala Sekolah menyuruh untuk berhenti.

Guru Pom yang menyadari hal itu, dia langsung ingin mencabut USB asing yang tertancap di laptopnya. Tapi Kepala Sekolah menyuruhnya untuk berhenti. Jadi dia tidak jadi mencabut USB tersebut dari laptopnya.
Kemudian kamera pada laptop diarahkan kepada si Kepalas Sekolah. Tapi kamera itu hanya memperlihatkan sampai sebatas leher Kepala Sekolah. Sehingga mereka tidak bisa mengetahui bagaimana rupa Kepala Sekolah.

“Kamu cerdas sekali, Wasuthorn. Kamu bisa terhubung dengan komputer Pak Pom. Aku salut padamu,” puji Kepala Sekolah kepada Wave. “Kalau aku tidak salah, kamu bersama teman- temanmu, kan,” lanjut Kepala Sekolah. Dan mendengar itu, setiap orang menjadi tegang.


“Bagus, kalian pasti bertanya- tanya soal Kelas Berbakat. Jangan cemas. Kalian bukan kelincin percobaan,” lanjut Kepala Sekolah menjelaskan. Lalu dia menunjukan gambar mengenai teori Charles Darwin. Serta beberapa gambar lain.

“Makhluk hidup selalu berevolusi. Mereka siap berubah saat menemui hambatan. Begitupun manusia. Manusia tidak pernah berhenti berevolusi. Kekuatan special tersembunyi di dalam otak manusia. Sekolah kami menemukan cara mengirim gelombang sonik. Untuk menstimulasi otak agar mengubah polanya. Hanya beberapa dari kalian yang bisa distimulasi,” jelas Kepala Sekolah.

Mendengar itu, semua murid mengingat hari tes penempatan. Dimana setiap mereka yang terpilih, mereka merasakan sakit yang sangat dan mendengar suara yang dimana beberapa orang tidak bisa mendengar. Itu karena mereka special. Dan kepala sekolah menyakinin bahwa setelah hari ini, potensi setiap mereka akan terbangun. Dan para guru siap mendorong potensi mereka hingga batas.

“Masa depan kalian sudah pasti cerah,” jelas Kepala Sekolah. Kemudian dia mencabut USB yang tertancap di laptop. Dan video dikomputer Wave mati.


Disaat semua murid sedang dalam kondisi tegang, karena mengetahui hal itu. Ohm dengan tiba- tiba muncul dan berkata Wow… dengan sangat gembira sekali.

“Dari tadi kamu disini?”

“Ya. Aku menumpang tidur disini dan baru bangun. Jadi apa kita menjadi X-Men? Ya kan?” tanya Ohm dengan senang sekali sambil melakukan tindakan action yang sok keren. Dan dengan malas, setiap orang mengabaikannya dan pergi keluar dari dalam ruangan.
Keesokan harinya. Didalam kelas 4.2. Ohm mengambar sesuatu dibukunya dan ketika dia melihat anak- anak yang sedang membolos melalui jendela, dia pun menjadi canggung sendiri. Kemudian saat guru menyuruh mereka untuk mengumpulkan PR, Ohm pun menjadi kebingungan, karena dia baru teringat bahwa dia belum ada mengerjakannya.


Lalu saat guru mendekati mejanya, Ohm berbohong. Dia mengatakan bahwa dia lupa membawa buku PR nya. Dan karena Ohm merupakan siswa Kelas Berbakat, maka guru pun mengabaikannya yang tidak mengerjakan PR dan memarahi murid lain yang tidak mengerjakannya.


DiKelas Berbakat. Guru Pom mulai berbicara terang- terangan, karena semua murid sudah mengetahui tentang maksud Kelas Berbakat ini. Sementara Ohm yang berada dibelakang, dia tidak fokus mendengarkan, karena dia sedang mencari penanya, namun tidak ada. Dan Ohm pun memanggil Pang untuk meminjam penanya, tapi sayangnya Pang hanya membawa satu saja.
Si Gadis Kacamata yang duduk didepan dan mendengar itu. Dengan baik hati, dia meminjamkan pena nya kepada Ohm. Dan tentu saja, Ohm menerimanya dengan senang.
“Potensi berasal dari kepribadian, karakteristik, dan perilaku kalian. Apa kalian menyadari sesuatu yang unik dari teman- teman kalian? Contohnya, siswa yang selalu tidur di kelas, tapi jadi peringkat pertama. Mungkin saja siswa itu punya potensi, dimana otaknya tetap bekerja meski dia tidur. Mungkin ada yang punya kemampuan bisa mengetahui sesuatu tanpa perlu diberi tahu. Seperti ….,” jelas Guru Ohm.

“Cewek rese?” potong si Gadis cantik (Claire) menyindir si Gadis berkacamata.

“Tidak sopan berkata begitu dikelas, Claire. Bukan itu. Mungkin saja orang itu mampu mendengar suara sekecil apapun dan bisa mendengar semua yang dikatakan orang lain. Intinya, semua itu bisa jadi potensi kalian,” lanjut Guru Pom.


Sebagai mantan siswa Berbakat, Guru Pom bisa mengonfirmasi bahwa itu benar. Kemudian mendengar itu, si Gadis berkacamata mengangkat tangannya dan menanyakan potensi Guru Pom. Namun Guru Pom tidak mau memberitahu dan dia menyuruh agar si Gadis fokus saja pada potensi sendiri.

“Baiklah. Siapa yang sudah menemukan potensinya? Angkat tangan,” kata Guru Pom. Dan beberapa orang mengangkat tangan mereka. Kecuali si murid pria berkacamata dan Pang.

Murid pertama. Punn Taweesin. Dia orang yang selalu berusaha terbaik mungkin dan ada yang menyebutnya perfeksionis. Dia tipe orang yang cepat belajar. Dan akhir- akhir ini, saat dia menonton video, dia bisa langsung menirukannya. Lalu dia memberi contoh, seperti pemain basket, dia melemparkan sampah tepat ke dalam tong sampah.

Murid kedua dan ketiga. Si kembar. Jack dan Joe. Mereka tersinkronisasi. Contohnya, saat Jack dipukul, maka Joe juga bakal merasakan sakitnya.

Murid ketiga. Si Gadis berkacamata. Namtaan. Beberapa hari lalu, saat dia menyentuh sesuatu, dia melihat gambar aneh. Awalnya dia mengira itu halusinasi. Tapi kini dia tahu bahwa itu adalah kilas balik dari apa yang benda itu alami.

“Bisakah kita sebut ini sebagai potensi ‘cewek rese’? tanya si Gadis Cantik, menyindir. Dan Guru Pom memberikan tanda agar jangan begitu.


Lalu si Gadis berkacamata memberikan contoh. Dia memegang kotak pensil si Gadis cantik. “Dulu ada kata ‘Medfai’ dikotak pensil ini. Siapa Medfai?” tanya nya pada si Gadis cantik.

“Itu nama lama…” kata si murid pria berkaca mata sambil menahan tawa.

“Korn!” balas si Gadis cantik mengingatkan agar dia diam.

Murid keempat. Wave. Tanpa melakukan apapun, dia mengatakan bahwa semuanya pasti sudah tahu apa potensinya. Sekian. Dan mendengar itu, mereka semua langsung menatap ke arah Wave.

Murid kelima. Ohm, nama lengkap Wichai Sai-ngoen. Saat ditanya tentang potensinya, dia malah minta izin untuk minum karena lapar. Namun Guru Pom dengan tegas memintanya untuk memperkenalkan diri dan potensinya. Jadi Ohm melakukannya.

Ohm mengatakan bahwa dia belum menemukan potensinya. Tapi dia merasa bahwa potensinya adalah untuk membuat semua orang tertawa. Dan mendengar itu mereka memang tertawa, karena sikap konyol Ohm. Tapi dengan serius Wave menyuruhnya untuk memberikan contoh.


Lalu dengan gugup, Ohm menghabiskan minumannya sambil berpikir. Dan kemudian dia menceritakan sebuah cerita lucu yang menyangkut nama Wave (yang bisa diartikan melambai). Dan semua orang pun tertawa serta melambaikan tangan. Kecuali Wave.


Dikantin. Pang serta Ohm tertawa mengenai kejadian dikelas tadi, karena lelucon Ohm bisa membuat seorang Wave terdiam. Lalu setelah itu, Pang mengingatkan agar Ohm berhati- hari saat membuat lelucon tentang orang lain, apalagi Wave. Dan Ohm merasa dia pernah mendengar nasihat yang sama dulu, mungkin dari Ibunya, itu yang Ohm pikir.

Tepat disaat itu, Pang melihat Nack. Namun seperti berpura- pura tidak melihat, Nack pergi begitu saja. Dan dengan heran Ohm pun bertanya ada apa. Tapi Pang mengelak dan membalas bukan apa- apa.


Ohm lalu menanyakan tentang apa Pang telah mengetahui tentang potensi Pang. Dan Pang menjawab dengan jujur bahwa dia tidak tahu orang seperti apa dia sendiri.

Kemudian karena penasaran, Pang pun menanyakan mengapa Ohm yakin bahwa membuat orang tertawa itu adalah potensinya. Dan Ohm menjelaskan kalau potensi berasal dari cerminan diri mereka, dan dia merasa membuat orang tertawa itulah kekuatannya.


“Lihat Namtaan. Kekuatannya bisa tahu hal- hal soal orang lain, itu karena dia orang yang ingin tahu,” jelas Ohm. Dan tepat disaat itu, Namtaan datang. Namun untungnya, Namtaan tidak mempersalahin itu.

Namtaan datang untuk meminta pena nya yang dipinjam oleh Ohm. Tapi dengan santainya, Ohm mengatakan bahwa dia akan membelikan Namtaan pena yang baru, karena pena Namtaan hilang. Dan Namtaan pun menjadi kesal, dia mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau meminjamkan apapun kepada Ohm lagi.


Dan setelah Namtaan pergi, Pang menyarankan agar nanti Ohm meminta maaf. Tapi tanpa merasa bersalah, Ohm membalas bahwa itu kan hanya pena dan dia bisa membelikan pena yang sama nantinya.

“Kalau potensi adalah cerminan diri, kamu tidak lucu. Melainkan kamu pelupa. Waktu kamu pinjam pulpen ku, itu hilang juga,” komentar Pang.

“Tidak. Kalau itu benar potensiku, aku bakal jadi pahlawan super yang payah,” balas Ohm tidak terima. Dan sambil tersenyum Pang membalas bahwa itu benar.

Tepat disaat mereka sedang mengobrol. Folk dan teman- temannya lewat sambil berlari dengan panik. Kemudian Folk mendekati meja mereka dan menitipkan tasnya kepada Ohm, dia meminta agar Ohm mengembalikan padanya saat pulang sekolah nanti. Setelah itu dengan terburu- buru, Ohm dan teman- temannya berlari pergi.

Dengan kebingungan, Ohm memeriksa isi tas Folk. Dan dia menemukan sebuah amplop tebal yang berisikan kunci jawaban. Lalu saat melihat Bu Ladda yang datang ke kantin, Pang pun menjadi sadar kenapa Folk dan teman- temannya berlari terburu- buru. Dan kenapa Folk menitipkan tasnya kepada Ohm.


Menyadari hal itu juga, Ohm pun menjadi panik. Begitu juga dengan Pang. Lalu Pang menyarankan agar Ohm menyerahkan saja tas tersebut langsung kepada Bu Ladda dan memberitahu bahwa dia tidak sengaja menemukan tas tersebut. Tapi Ohm tidak berani melakukan itu.

Kemudian saat Bu Ladda mendekati meja mereka berdua. Pang serta Ohm langsung terdiam dengan sikap gugup. Dan lalu Bu Ladda memberitahukan kepada mereka bahwa baru saja ada murid yang mencuri sesuatu, jadi dia ingin memeriksa tas yang di pegang oleh Ohm, karena tas itu tampak mencurigakan.

Namun tentu saja, Ohm tidak berani memperlihatkan tasnya. Dan dengan tegas, Bu Ladda menyuruh agar Ohm memperlihatkan isi tasnya. Tapi Ohm tidak bergeming.

“Kamu harus bekerja sama!” kata Bu Ladda dengan tegas, karena Ohm tetap tidak memperlihatkan isi tasnya. Tapi dengan gugup Ohm hanya diam dan memegang tas nya dengan erat.

Kemudian karena tidak sabar lagi, maka Bu Ladda pun merebut tas itu langsung dari Ohm dan memeriksanya. Dan dengan cemas, Pang serta Ohm menatap Bu Ladda.

Saat Bu Ladda melihat isi tas itu, dia terdiam untuk sesaat. Lalu melihat itu, mereka berdua menjadi sedikit deg- degan. Namun tiba- tiba saja, Bu Ladda mengembalikan tas itu.

“Maaf, aku salah paham. Tasnya kelihatan mirip,” kata Bu Ladda. Dan lalu dia pergi.

Dengan heran, Ohm memeriksa isi tas tersebut. Dan anehnya, amplop yang berisikan kunci jawaban tersebut telah menghilang. Kemudian tiba- tiba saja, hidung Ohm mimisan.

“Hilang kemana?” tanya Pang. Tapi Ohm juga tidak tahu dan dia sibuk menlap darah yang keluar dari hidungnya. Namun sesaat kemudian, Ohm tersenyum.

2 comments: