Wednesday, January 9, 2019

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 12 - part 2

0 comments

Network : GMM One


Punn berhasil memecahkan bilangan biner yang tertulis di kertas dokumennya untuk mencari keberadaan lencana. Dan setelah menemukan tempatnya, dia meminta Claire untuk menggantikannya menyelesaikan semua soal yang ada, lalu memberitahu dia lokasi nya.

Kemudian setelah itu, Punn pun pergi untuk mengambil lencana di lokasi yang di pecahkan nya. Dan Joe segera mengikutinya.



Sementara Pang dan Wave mereka sibuk berdiskusi. Pang mengajak Wave untuk segera menjalankan rencana mereka saja, karena saat ini dia tidak memiliki lencana. Dan juga karena, rencana mereka ini bisa membuat mereka di keluarkan juga, jadi tidak masalah bila mereka tidak memiliki lencana.



Ohm dan Namtaan menghampiri mereka berdua dan menawarkan bantuan, tapi Pang menolak. Pang menjelaskan kepada Namtaan dan Ohm bahwa dia serta Wave tidak akan mengikuti ujian, karena mereka ada urusan penting.

“Urusan penting apa? Bilang saja,” kata Ohm.

“Ya. Apa yang lebih penting dari masa depan mu? Kamu bisa dikeluarkan!” tambah Namtaan.

“Aku tahu. Tapi ini penting sekali. Aku nggak bisa bilang sekarang. Tapi aku janji, kalau kami berhasil, akan ku katakan semuanya. Percayalah,” jelas Pang.



Namtaan mempercayai Pang, tapi dia tidak mau kalau Pang sampai dikeluarkan. Kemudian Ohm pun menyuruh agar Pang mengurus urusan penting itu saja, dan masalah lencana, mereka berdua yang akan mencarikannya untuk Pang.

Dan Pang pun berterima kasih kepada mereka berdua. Lalu karena waktu nya sudah sempit, maka Pang serta Wave pun segera berlari pergi untuk menjalankan rencana mereka.


“Apa sih yang mereka lakukan?” tanya Ohm dengan heran. Kemudian dia teringat akan sesuatu,” Berarti kita harus menemukan lencana buat Wave juga?” tanya Ohm. Dan Namtaan menganggukan kepalanya.

“Oh… sialan!!” keluh Ohm, merasa lelah.



Didalam ruang rapat. Direktur menjelaskan tentang peningkatan prestasi yang di dapat disekolah ini. Lalu setelah itu, dia mulai membahas tentang para Murid Kelas Berbakat. “Usaha kami mengembangkan potensi mereka membuat mereka makin bersinar,” jelas Direktur.

Murid pertama. Punn. Dia berbakat di bidang matematika, dan lebih cepat belajar dari siswa lain.


Didalam kelas. Punn melompat diatas kursi untuk mencapai bohlam lampu, dimana sebuah lencana terdapat disana. Dan dia berhasil mendapatkan lencana tersebut.


Claire yang mendengar suara kursi terjatuh dari telpon, dia mengomeli Punn agar jangan nekat, jika tidak maka Punn bisa terluka. Dan dengan santainya, Punn mengatakan bahwa dia baik- baik saja, karena dia pernah melihat Mon melakukannya.

“Oke. Pergi lah ke kelas 2. Panel di belakang kelas,” kata Claire menjelaskan lokasi selanjutnya.



Tanpa sengaja, Pena Claire terjatuh, jadi Claire pun menunduk untuk mengambilnya. Dan tepat disaat itu, Claire melihat laptop milik Wave. Lalu seperti terpikirkan sesuatu, dia tersenyum senang.



Murid kedua. Jack dan Joe. Si kembar. Mereka berbakat dalam bidang kimia, dan karena mereka kembar, maka perkembangan mereka cukup serupa. Mereka seakan memiliki koneksi psikis.


Joe menghubungin Jack dan menyuruhnya agar memecahkan soal dari bawah, karena jika memecahkan soal dari atas, maka mereka tidak akan sempat mengejar, karena selalu kedahuluan oleh Punn. Lalu saat berada diruangan selanjutnya, Joe akhirnya berhasil menemukan satu lencana.



Kemudian mengikuti arahan dari Jock, maka Joe pun masuk ke dalam ruangan lain, tapi saat masuk, tanpa sengaja kepalanya terantuk sesuatu, sehingga dia pun terjatuh. Dan Ohm memakai kesempatan itu untuk mengambil lencana yang Joe dapatkan.


Ternyata diatas pintu ruangan kelas, Ohm menempelkan tongkat sapu, dan menggunakan potensinya, dia membuat tongkat sapu itu tidak terlihat. Sehingga karena itu lah Joe terjatuh.

“Teima kasih ya, Khun Joe!” kata Ohm sambil tertawa, lalu melarikan diri.

“Brengsek! Kamu melanggar peraturan!” teriak Joe.

“Salah sendiri! Kamu yang menabraknya,” balas Ohm.



Diruangan Guru Pom. Wave menggunakan potensinya untuk mencari tahu dimana Guru Pom melalui CCTV sekolah. Dan lalu Pang yang mengetahui lokasi tempat Guru Pom, dia langsung mengajak Wave untuk kesana.



Namun karena sebuah pesan tiba- tiba masuk ke hape nya, maka Wave menyuruh agar Pang pergi saja duluan. Ternyata pesan tersebut berasal dari Claire, dia memegang laptop Wave, dan menulis pesan Ada yang mau kutunjukan. Tas siapakah ini?

“Sialan!” keluh Wave.


Didalam gudang. Guru Pom membakar satu persatu data yang dimiliki nya mengenai Chanon. Dan terakhir, dia mau membakar folder milik Chanon juga. Tapi dia berhenti, dan tidak jadi membakar itu, ketika mendengar suara langkah seseorang.



Dengan manis. Claire menyapa Wave dan menanyakan rahasia apa yang ada di dalam tas Wave, lalu menggunakan potensinya Claire bisa melihat ketakutan Wave. Dan dia pun mengetawai Wave. Lalu dia mengulurkan tangannya, meminta lencana milik Wave.



“Lencana ini pasti sangat penting bagimu,” kata Wave sambil berjalan perlahan mendekati Claire.

“Tentu saja,” balas Claire.



“Tapi tak ada artinya bagiku,” kata Wave, lalu dia melemparkan lencana nya sendiri ntah kemana, dan dengan cepat merebut tas miliknya di tangan Clare. Kemudian Wave segera berlari, “Kalau mau, ambil sendiri!” teriak Wave.

“Wave!!!” balas Claire dengan kesal.


Guru Pom tampak sangat kesakitan. Dia tiba- tiba saja teringat akan kejadian di masa lalu nya. Kejadian dimana Chanon di ikat dan dipaksa duduk oleh beberapa orang. “Pom, suatu saat kamu akan mengerti alasanku melakukannya,” kata Chanon.



Pang datang dan menghancurkan alat metronom milik Guru Pom, sehingga Guru Pom tidak bisa menggunakan kekuatannya. Dan Guru Pom pun menanyai Pang, sejak kapan Pang mengetahui soal metronom tersebut.


Pang menceritakan. Ketika dia melihat video rekaman kamarnya, dia melihat Guru Pom masuk ke dalam kamarnya membawa alat metronom, dan keluar membawa alat itu juga. Mengetahui hal itu, Guru Pom memuji Pang yang sangat pintar.



“Tolong berikan folder nya. Tanpa metronom, Bapak tidak bisa apa-apa,” kata Pang.

“Benar. Memang tidak ada metronom. Tapi bukan berarti, Bapak tidak bisa apa- apa,” balas Guru Pom. Lalu dia menyalakan metronom yang ada di app ponsel nya. Dan sebelum Pang bisa berbuat apapun, Guru Pom langsung menjentikan jarinya.




Selama sesaat, semuanya menjadi gelap. Dan ketika semua nya kembali menjadi terang, tampak Pang yang terdiam mematung, dan Guru Pom mau menyentuh kepalanya.

No comments:

Post a Comment