Sunday, January 27, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 23 – 1

1 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 23 – 1
Images : Channel 3

Peat pergi ke rumah sakit menemui Chaya. Chaya sangat senang melihatnya dan bahkan sudah mengira kalau Peat akan melamarnya. Tapi, ternyata bukan itu tujuan kedatangan Peat.
“Aku tidak akan pernah menikah denganmu. Aku tidak pernah mencintaimu!” ujar Peat.
Hati Chaya hancur mendengarnya. Ditambah lagi, Peat mengakui kalau selama ini dia telah membohongi Chaya dan menggunakan Chaya sebagai alat balas dendamnya pada ayah dan Kiew. Dia hanya ingin membuat ayah terluka sama seperti yang di lakukannya pada ibunya.
“Lalu bagaimana denganku? Kesalahan apa yang sudah ku lakukan? Bahkan ketika aku selalu baik dan mencintaimu selama ini, aku bersedia menyingkirkan harga diriku. Bersedia membiarkan orang lain memarahiku karena aku seorang simpanan. Bersedia di maki sebagai wanita tidak tahu malu. Aku bersedia melakukan segalanya.” (kasihan si Chaya).
“Maafkan aku.”
“Hanya itu? kau mempermainkan hatiku, itu sakit dan menyiksa. Kau membuatku seperti tinggal di neraka. Tapi… yang kau katakan, hanya maaf?”
“Lalu apa yang kau inginkan agar kau bisa memaafkanku? Beritahu aku.”
“Menikah denganku. Dan bersama denganku sampai maut yang memisahkan,” tegas Chaya.
Peat menolak dan bahkan berjalan pergi. Chaya berteriak menyuruh Peat untuk mencintainya. Tapi, Peat tidak bisa dan menegaskan kalau dia hanya mencintai Kiew. Chaya menangis dan menolak hal itu. Dia tidak bisa menerimanya. Dan Peat benar-benar menegaskan kalau dia hanya mencintai Kiew.
“Aku sudah membuat banyak masalah selama ini dan menyakiti banyak orang. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah mengakui kebenarannya. Tidak menipu diri sendiri lagi!” ujar Peat.
Chaya semakin histeris. Dia menegaskan kalau dia hanya mencintai Peat dan tidak bersedia kehilangan Peat. Peat sudah membulatkan keputusannya dan akan pergi mencari Chaya.
“Peat! Bagaimana jika aku sakit? Aku sakit keras Peat. Bisakah kau tetap bersamaku?” tangis Chaya.
“Kau akan menggunakan alasan ini untuk menahanku? Jangan melakukan hal seperti ini.”
“Dokter bilang kalau aku sakit leukemia. Aku akan segera mati, Peat. Peat, tolong jangan pergi. Aku mohon! Aku takut!” ujar Chaya dan memeluk Peat.
Peat melepaskan pelukan Chaya, “Sekarang ini, aku tidak bisa mendampingimu,” tegas Peat dan keluar dari kamar Chaya.
Chaya menjerit frustasi. Peat di luar bertemu dengan Taeng. Dia meminta Taeng untuk menjaga Chaya, setelah urusannya selesai, dia akan segera kembali.
Taeng berusaha menenangkan Chaya. Tapi, Chaya benar-benar histeris dan mendorong Taeng untuk pergi. Taeng panik dan memanggi perawat. Taeng kasihan melihat kondisi Peat. (Astaga Peat, karma ada lho. Kau mempermainkan banyak orang!).
--
Kris benar-benar marah karena semua orang memihak pada Peat. Dia tidak terima dengan hal itu.
--

Peat dengan motornya berkeliling mencari Kiew. Kiew sendiri sedang berada di dalam mobilnya, sepertinya dia memutuskan untuk pulang.
--

Kris menerima telepon dari Chaya yang memintanya datang ke rumah sakit. Dan Kris langsung pergi menemuinya.
Chaya sudah memberitahu penyakitnya, dan dia yakin kalau Kris pasti senang karena dia akan segera mati. Kris membantah hal itu, dia memang marah pada Chaya, tapi dia tidak ingin Chaya meninggal. Chaya juga memberitahu kalau Peat tidak mencintainya. Dia hanya alat yang di gunakan oleh Peat. Kris benar-benar marah padanya.
“Kris, kau masih mencintaiku kan?”
Kris tersenyum dan mengangguk.
“Lalu bisa kau lakukan sesuatu untukku? Anggap ini adalah permintaan terakhirku.”
“Apa yang kau inginkan?”
“Balaskan dendamku pada Peat! Aku tidak ingin dia bahagia. Aku ingin melihatnya menderita. Dan aku ingin melihatnya kesakitan. Seperti aku sekarang ini!”
Kris menyanggupi hal itu. “Aku akan melakukannya untukmu. Rasa sakitmu harus di balaskan dengan rasa sakit mereka.”
--

Peat tiba di depan rumah Pa. Dan dia terus menunggu di depan rumah itu hingga malam.
Kiew ada di suatu tempat dan masih terus menangis mengingat kenangannya dengan Peat.
--
Esok hari,
Kiew menerima telepon dari Kris yang menanyakan dimana posisi Kiew.
Setelah tahu dimana Kiew berada, Kris langsung mengunjunginya. Dia membawakan banyak makanan untuk Kiew. Dia juga bertanya, apa Khun Nai atau orang lain tahu kalau Kiew ada di sini sekarang?
“Hanya Pa yang tahu aku ada dimana. Selain dari dia, aku tidak memberitahu siapapun. Aku ingin memberitahu ayah, tapi aku takut ayah akan kasihan dan memberitahu Peat aku ada dimana.”
“Seperti ini, bukankah Khun Nai akan khawatir?”
“Mungkin. Tapi aku mematikan ponselku. Aku tadi hendak menelpon Pa, tapi kau telepon masuk. Tapi sekarang, aku sudah mematikan ponselku.”
Kiew kemudian bertanya tujuan Kris mencarinya? Apa ada masalah? Kris membenarkan, tapi dia tidak bisa memberitahu Kiew. Hanya dengan melihat wajah Kiew, dia sudah merasa lebih baik. Kiew memuji Kris sebagai orang baik dan selalu mendengarkan orang lain.
“Aku hanya lah orang biasa. Aku bisa sisi baik dan jahat. Aku punya perasaan. Kebahagaian. Kesedihan. Kemarahan. Dan juga… dendam.”
Kiew merasa aneh dengan perkataan Kris. Tapi, Kris mengalihkan dan menyuruh Kiew untuk makan saja sebelum makanannya menjadi dingin. Tanpa curiga, Kiew menyantap makanan yang di bawa oleh Kris.
--
Katha menemui Peat karena Peat meminta bantuannya. Katha menyuruh Peat untuk bersembunyi agar Pa tidak tahu kalau mereka datang, atau nanti dia kabur. Pa mengira Peat sudah pergi, jadi dia keluar rumah.
Eh baru buka pagar, dia malah melihat mereka dan langsung mau masuk kembali. Untung Katha lebih cepat menahan Pa untuk masuk kembali. Dia meminta Pa memberitahu mereka dimana Kiew sekarang ini. Tapi Pa tetap tidak mau memberitahu.
“Bagaimana jika aku yang memohon? Aku berjanji tidak akan menyakiti perasaan Kiew lagi. Aku hanya ingin memberitahu Kiew betapa pentingnya dia bagiku. Dan aku tidak bersedia kehilangannya.”
--
Kris membawa Kiew yang sudah pingsan (karena makanan yang dia berikan mengandung obat tidur) ke dalam mobilnya dan bahkan memotretnya. Dia kemudian mengirimkannya pada Peat.

Peat langsung menelponnya dan dengan panik meminta Kris untuk tidak menyakiti Kiew. Kris memanas-manasinya. Dan Peat segera meminta Kris untuk bertemu, biar mereka yang saling menyelesaikan satu sama lain. Kris setuju, tapi Peat tidak boleh membawa orang lain.
Usai teleponan dengan Kris, Peat langsung pergi menemui Kris tanpa memberitahu Katha. Katha panik dan berteriak menyuruh Peat untuk memberitahu dimana Kris, tapi Peat terus melaju dengan ngebut.

1 comment:

  1. Setelah hampir selesai aq tetep gak tau harus membenci siapa 😃😃😃 ...

    ReplyDelete